Disclaimer: Masashi Kishimoto
Author: zephyrus 123
Warn: AU, dark future, somewhere on what-imagination-calls-it, friendship
.:Empat Penjuru Mata Angin:.
Bab 2: Permulaan
Pagi datang dengan kilauan keemasan yang memantul di kaca jendela suatu flat lima lantai. Sebagian kecil spektrum itu berhasil menyelinap melalui celah gorden yang tidak tertutup sempurna. Terus menjalar hingga melumuri wajah mereka yang masih beristirahat. Tidak perlu memakan waktu lama untuk mereka mengurung langit-langit kusam flat di kedua mata yang telah terbuka.
Karin memandang ke asal munculnya cahaya. Ujung gorden menari pelan ditiup angin pagi yang masih membawa hawa embun. Jendelanya memang tidak pernah ditutup, kecuali jika ia sedang pergi.
Kemudian tangan kanan itu bergerak meraba permukaan nakas sebelah ranjangnya. Memastikan ponsel lipatnya masih tergeletak di sana.
Tidak terlalu berbeda dengan hari-hari sebelumnya, tidak ada e-mail yang mampir di kotak surat. Ia mendesah pelan. Uangnya tidak akan mampu bertahan lebih dari dua minggu jika pekerjaan tidak datang pada mereka.
Di atas kamarnya, Juugo baru saja menarik kepalanya dari bantalan buku di atas meja. Ia tidak mengingat apapun yang dibaca semalaman suntuk jika saja matanya tidak tertuju pada halaman buku yang masih terbuka.
"Uh..."
Telapak tangan kanannya menumpu sebelah kepala yang terasa berdenyut. Aktivitas yang berlebihan juga tidak disusul dengan jam istirahat yang cukup, membuat kepalanya terkadang berdenyut. Bukan keinginannya untuk terus membiasakan diri bertahan dari rasa kantuk. Ia ingin tertidur dalam damai layaknya dirinya sebelum mengecap perang, sayangnya ia tidak bisa melakukannya lagi. Ia tidak pernah ingat bagaimana caranya. Pikirannya telah terjebak dalam labirin tanpa jalan keluar.
Juugo menengok ke arah jendela yang berada tidak jauh dari ujung kanan mejanya. Dari sana, ia dapat mendengar ketukan halus yang menyentuh kaca jendela.
"Sudah kuduga itu kalian," gumamnya setelah membuka jendela.
Dua ekor burung kecil bergerak lincah di atas permukaan kosen, berkicau ria seperti sedang menyenandungkan sesuatu. Juugo cukup mengerti untuk memberikan reremahan roti yang ia miliki. Ia tersenyum melihat satu per satu burung datang mendekati jendelanya. Setidaknya, ia masih mengingat cara untuk tersenyum.
Di balik bilik penuh buku itu, Suigetsu baru terbangun ketika cahaya matahari benar-benar menyengat tubuhnya yang terbuka. Dalam posisi masih terbaring, ia bergerak mendekati ujung ranjang. Sebuah botol berisi penuh air menjadi sasaran tangan kirinya. Dengan agak sedikit menaikkan tubuh, ia menelan cairan itu hingga hanya tersisa setengahnya.
Jika ia tidak ingat pada sekolah, ranjang akan dikuasainya tanpa batasan waktu. Namun, hingga sekarang pun, ia belum berniat untuk memisahkan punggungnya dari kasur. Tempelan kertas di dinding selalu menyedot segala perhatiannya ketika pikirannya masih melayang-layang di langit-langit.
Tempelan itu telah ada beberapa minggu setelah mereka membentuk tim Taka. Satu kalimat yang terukir membuatnya terus mengejar sumber uang yang akan membawanya terbang melintasi dunia negara ketiga ini. Mimpi itu telah menggantung di langit-langit kamar. Hanya berusaha lebih keras lagi agar mimpi itu melayang jatuh di wajahnya.
.:123:.
Sekolah itu berada di pinggiran Sektor Empat yang termasuk ke dalam daerah Horizon. Bukan termasuk sekolah elit, hanya sebatas bangunan tua yang mencoba untuk terus berdiri. Di sinilah mereka dapat bersekolah jika tidak ingin dibebani dengan biaya tinggi.
Setiap kota di negara ini memang dibuat bersektor-sektor. Dari sektor satu hingga tujuh. Dari daerah Calestial hingga daerah Earth. Sektor Satu dan Sektor Dua berada di Calestial, Sektor Tiga dan Sektor Empat berada di Horizon, sisanya tergabung dalam Earth. Jika ditilik dari atas, batasan itu tidak akan kentara terlihat. Namun jika digambarkan, maka akan jelas tergurat lingkaran di dalam lingkaran yang menjadi partisi kehidupan setiap daerah.
"M-maaf."
Mereka berhenti ketika senada suara menelusup masuk ke pendengaran. Menoleh, mendapati seorang gadis pemilik rambut gelap keunguan membungkuk dalam.
"Izinkan aku bergabung di tim Taka."
Tas Karin hampir saja kehilangan pegangan. Suigetsu menghentikan kunyahan terhadap sandwich yang belum sempat ia makan di flat. Tidak tahu harus menanggapi dengan ekspresi apa, Juugo berdeham. Senyum yang tadi sempat menaunginya meluntur seketika. Tampak guratan ketidakpercayaan dari mereka bertiga.
"Kami bukan tim Taka," ujar Suigetsu dengan suara yang dibuat sedatar mungkin. Ia kembali melangkah memasuki gerbang sekolah diikuti dua temannya.
Kepala gadis itu masih menunduk. Belum terpikir untuk melakukan apa, ia meremas pegangan tas sekolahnya.
Jauh di depannya, mereka masih menyisiri paving block menuju pintu masuk sekolah. Angin masih menari membawa beberapa pasir ringan terbang bersama mereka. Kali ini Suigetsu tampak lebih berhati-hati.
"Kenapa dia bisa tahu?" Karin menghancurkan kegemingan aneh yang tercipta di antara mereka.
"Entahlah… aku juga tidak percaya dia bisa tahu," respons Juugo.
"Pasti ada yang salah di sini." Suigetsu melihat pada kedua temannya.
"Jangan bilang kau mencurigai kami atau Sasuke." Karin menginterupsi. Terdengar intonasi meninggi melantun bersama nada kekesalan.
"Hei, aku tidak bilang begitu, bukan?"
"Tapi tatapanmu itu jelas mengatakan begitu!"
Juugo mendesah. "Sudahlah, kalian."
.:123:.
"Bisa bahaya kalau ada orang lain yang tahu pekerjaan kita." Karin membuka percakapan sambil tangannya sibuk menyimpan beberapa buku di bawah laci.
Pagi baru saja menyingkir digantikan matahari siang yang lumayan menyengat kelas tanpa pendingin ruangan itu. Pergantian pelajaran sedang terjadi. Di kelas yang hanya ditempati oleh lima belas siswa, suara ribut selalu mendominasi setelah guru melangkah melewati pintu.
"Bukan berarti dia tahu kita setim, maka dia juga tahu apa yang kita kerjakan." Suigetsu menginterupsi. Tangannya mencari sesuatu di dalam tasnya. Botol minuman.
Karin mendelik tajam.
"Bagaimana menurutmu, Sasuke?" Juugo yang duduk di depan Karin bertanya dengan harapan dapat menghentikan adu argumen Suigetsu dan Karin yang akan terjadi.
"Aku belum memikirkannya." Itulah jawaban singkat yang ia beri.
Sasuke tidak tertarik untuk sekadar melirik ketiga temannya. Sangat berbeda dengan ketiganya yang mengharapkan ekspresi yang dapat menghasilkan sebuah jawaban. Pandangannya berjalan ke arah bawah melintasi partisi bening jendela kelas lantai tiga.
"Aku belum pernah melihatnya sebelum ini." Karin membenarkan letak kacamatanya yang agak merosot dari fokus mata.
"Dia anak baru. Mungkin baru sebulan lebih. Kelas satu. Tapi aku tidak tahu siapa namanya." Suigetsu kembali melantunkan deretan kalimat yang tersimpan di pusat ingatan. Mulut botol menyatu pada bibirnya kemudian.
"Jika benar dia tahu apa yang kita kerjakan, sepertinya dia memiliki potensi."
Karin memandang Juugo yang baru saja mengatakan kalimat yang menurutnya tidak harus dikatakan.
"Kita tidak menerima anggota baru. Itu akan mengurangi penghasilan kita."
"Aku pikir dia juga memiliki potensi." Suigetsu melanjutkan kalimat Juugo dengan mengabaikan Karin. "Hanya saja aku tidak suka perempuan lemah sepertinya." Suigetsu melirik ke arah Karin yang kini tubuhnya agak dicondongkan ke arah pemuda itu.
"Apa maksudmu itu aku?!"
"Berhentilah mencurigai setiap kalimatku, Perempuan." Suigetsu memandang ke arah lain. Mencoba menyembunyikan sesuatu yang telah jelas terbongkar.
"Mungkin... dia hanya mencari tameng." Sasuke bersuara. Ketiga temannya menoleh. "Ya, kurasa begitu." Ia mengalihkan pandangan lurus ke depan, meninggalkan diorama di bawah sana.
Tidak lama guru pelajaran berikutnya memasuki kelas. Pembicaraan berhenti seketika, menggantungkan sejuta kalimat pertanyaan di benak ketiga temannya. Sasuke memang selalu penuh tanda tanya. Mungkin akan selalu begitu, tapi mereka masih dapat menerimanya.
Jauh di bawah kelas mereka, gadis berambut gelap keunguan itu baru saja terhempas di tanah lapangan. Dorongan dari seorang gadis yang lebih besar darinya membuatnya tidak dapat menahan berat tubuh yang limbung. Dua gadis di dekatnya tertawa senang. Yang lain hanya bisa melihat tanpa dapat mengulurkan tangan.
Satu per satu menjauhkan diri dari lapangan tandus itu. Meninggalkan gadis itu sendiri yang mencoba bangkit dari keterpurukannya.
Kepalanya menengadah mencari sosok yang tadi sempat mengintipnya dari atas sana. Namun ia tidak dapat menemukannya lagi. Memang hanya sepersekian detik, mungkin tidak lebih dari bayangan semata.
.:123:.
Bel pulang baru saja berdering mengisi koridor yang tadinya masih senyap. Di salah satu kelas, anggota tim Taka mulai membereskan perlengkapan belajar dari atas meja. Walaupun satu demi satu siswa mulai tereliminasi dari kelas, mereka tampak tidak terlalu meletakkan atensi pada situasi yang menyepi. Malah terlihat menunggu situasi itu untuk mulai membuka mulut.
"Tidak ada permintaan lagi," ujar Karin dengan tangan kanannya yang sibuk dengan ponsel.
"J-jangan sekarang, Karin!" tegur Juugo dengan raut keterkejutan yang jelas tergurat. Ia segera merampas ponsel itu. "Masih ada orang di sini..." Begitu bisikan yang keluar kemudian.
"Aku juga tidak buta, Juugo. Mereka tidak akan tahu aku memegang ponsel. Lihat, mereka bahkan akan keluar."
Karin mengulurkan tangannya. Juugo dengan gerakan skeptis memberi ponsel kembali pada Karin.
Ponsel memang dilarang, begitu juga dengan internet. Hanya penduduk yang tinggal di daerah Calestial yang dapat menggunakannya, namun tidak semua memiliki hak yang sama.
"Apa itu artinya kita tidak dapat uang lagi?" Kalimat Suigetsu melayang bersama angin. Mereka cukup mengerti untuk tidak menangggapi.
"Seseorang memintaku untuk mencari tahu tentang seorang wanita yang bekerja di bar Sektor Enam."
Suigetsu melirik singkat pada Sasuke, sang pemilik suara, sebelum kembali dalam aktivitas meminum airnya. "Apa tidak ada pekerjaan yang lebih menangtang lagi?" tanyanya setelah meneguk beberapa mili air.
"Seharusnya kau bersyukur kita dapat pekerjaan." Karin memasukkan ponselnya ke dalam tas hitamnya. "Setidaknya penghasilan nanti cukup untuk menunjang kehidupanku beberapa hari ke depan."
Suigetsu berkilah, "Ya, tidak masalah jika kita tidak ditipu seperti kemarin sore. Dua jam terbuang sia-sia hanya untuk menunggu para pemberontak yang katanya akan muncul. Jangankan wujud, ujung rambut mereka pun tidak kelihatan."
Karin menggeleng, "Kau salah. Bedakan antara permintaan membuntuti seseorang dengan isu yang tersebar di bar-bar. Kalau hanya sebatas perkataan dari orang yang tidak jelas seperti kemarin, tentu berita yang kita cari juga tidak akan jelas."
"Oh, begitukah?" Nada olokan terdengar dari pertanyaannya. Namun Suigetsu dengan cepat mengalihkan arah pembicaraan ke topik Sasuke. "Kalau memang begitu adanya, apa boleh buat."
Sasuke menarik tasnya dari atas meja lalu bergerak menyempitkan jarak antara dirinya dengan pintu kelas. Yang lain mengikuti langkahnya.
Ketika tiba di lantai dasar, mereka berhenti. Jika saja gadis yang sempat muncul tadi pagi tidak menahan langkah, mereka tidak akan acuh pada keeksistensiannya.
"Ada apa?" tanya Sasuke langsung, namun ia tidak terlalu berharap gadis itu menjawab kecuali menyingkir dari jalurnya.
Gadis itu membungkuk dalam. "Izinkan aku bergabung dengan kalian."
"Maaf, Nona. Kau menghalangi jalan kami," gumam Juugo khawatir jikalau ada yang mendengar kalimat gadis itu.
"Izinkan aku—"
"Tidak. Kau salah orang," ujar Karin sambil membenarkan letak kacamatanya.
"S-setidaknya—"
"Jangan ganggu kami lagi kalau kau ingin hidup lebih tenang," gumam Suigetsu kemudian.
Ia melangkah melewati gadis itu. Sasuke dan Karin juga mulai meninggalkannya. Juugo yang terdiam cukup lama, akhirnya bergerak mengikuti ketiga temannya yang telah duluan mencapai loker.
"Apa yang dikatakan Suigetsu benar, Hyuuga Hinata," gumamnya pelan ketika melewati gadis yang sedang tertunduk itu.
Raut gadis itu berubah. Ia membisu cukup lama hingga ia sadar suasana hening hampir mendominasi seluruh koridor. Ia berbalik, mereka telah sempurna menghilang dari penglihatannya.
"J-Juugo...?"
Saat itulah ia terbangun dari pikirannya. Ia pernah mengenal pemuda itu seperti pemuda itu mengetahui namanya. Tapi ia tidak begitu ingat. Pikirannya terkurung oleh sesuatu.
Tsuzuku, To be Continued, Bersambung—
A/N: Tidak tahu harus menulis apa. But, I have to thank Rizue22 who RnR-ed the previous chapter.
