DISCLAIMER:
Kuroko no Basuke © Fujisaki Tadatoshi
[A]LONE © crowdstroia
TIME:
After Winter Cup
WARNING:
Beberapa karakter dalam suatu kesempatan akan terlihat OOC. Saya berusaha buat keep them in character. But, it's just not as easy as it sounds it would be.
.
.
.
Ichi
.
.
.
.
.
Setidaknya, sekali dalam seminggu Kise akan mengikuti gadis itu pulang menuju rumahnya.
Baiklah, itu dusta. Ia melakukannya hampir setiap hari.
Kata kuncinya: hampir.
Karena mungkin, di saat itu ia sedang ada latihan basket tambahan, atau, ia ada jadwal pertandingan untuk kejuaraan tingkat SMA seperti biasa.
Selebihnya dari kegiatan di atas, bisa ia singkirkan sejenak hanya untuk mengikuti gadis itu pulang.
And yeah, Kise Ryouta pun sukses dicap oleh kapten basketnya sebagai seorang stalker unggul.
Namun, wajib Kise klarifikasi bahwa pernyataan Kasamatsu itu tidak benar. Kise tidak dan tidak akan pernah menguntit orang lain. Asal tahu saja, kegiatan Kise ini cuma berdasarkan niat mau menghilangkan rasa penasaran. Ia cuma ingin memastikan bahwa gadis itu selamat sampai tujuan. Walau itu berarti harus mengikutinya pulang setiap hari, dan terpaksa melewati sesi pemotretannya beberapa waktu, lalu dikuliahi selama satu jam oleh manajernya.
Nah, lihat, kan? Kise itu jelas-jelas bukan seorang stalker seperti yang Kasamatsu pikirkan. Ia cuma penasaran kok. Sekali lagi, cuma pe-na-sa-ran.
Dan yakin saja, Kasamatsu pasti menghadiahinya dengan jitakan berkali-kali jika saja ia tahu tentang pikiran Kise ini.
Selama Kise mengikuti gadis itu pulang, terkadang, Kise akan menemukan hal-hal baru di tiap pergantian hari. Rupanya gadis itu suka bersenandung ketika tak ada orang lain di sekitarnya. Tak jarang pula ia melihat gadis itu membawa pulang hewan yang terluka di jalan untuk diobati. Mata gadis itu melembut acapkali mendapati binatang-binatang yang terlantar dibuang oleh pemiliknya. Ia pun segera mengambil binatang buangan itu untuk dipiara di rumah, tapi ada juga yang langsung ia lepas begitu sudah diobati. Dan entah sudah berapa banyak hewan yang sekarang mendiami kediaman gadis itu. Kise tak mau ambil peduli.
Sore ini, pemuda itu tersenyum lembut kala mendapati bahwa gadis itu tengah mengelus-elus kepala anjing kecil yang terletak di dalam kardus bekas. Anjing itu sudah dibuang. Tangan gadis itu melingkari tubuh si anjing untuk mengangkatnya ke atas udara, membuat rambut hitam kuncir kudanya sedikit bergoyang oleh gerakannya. Ia menciumi puncak kepala anjing itu lalu berujar, "Tenanglah, kau akan kubawa ke rumah dan bertemu teman-temanmu. Jadi kau tak perlu lagi merasa sendirian di tempat ini,"
Kise terhenyak.
Nada yang dipakai gadis itu… terdengar pilu.
Karena, Kise tahu bagaimana rasanya
Dan ia sudah pernah mengalaminya.
Maka, ia pun cepat mengerti.
Segera paham.
Bahwa gadis itu pernah sendirian dalam hidupnya.
.
.
.
.
.
Ia tak bisa memperkirakan kapan tepatnya ia mulai tertarik dengan gadis ini. Mungkin di bulan awal tahun ajaran baru, di mana jam pelajaran olahraganya bergabung dengan kelas tetangga. Karena di saat itulah, ia baru sadar akan keberadaan gadis itu.
Kise mendapatkan olahraga sebagai jam pelajaran pertamanya pada hari Rabu. Di tengah-tengah perjanan menuju lapangan outdoor, Kise menghela nafas bosan. Nilai A+ berturut-turut sudah kelewat sering ia dapatkan di bidang olahraga. Rasanya melewati pelajaran ini dengan santai-santai di kantin tak akan menjadi masalah. Toh juga ia bisa mengejar ketertinggalannya dalam waktu singkat.
Yang tak ia duga, ia justru malah bertemu dengan gadis itu di pojokan sekolah.
Lima orang gadis yang lebih tinggi mengelilingi gadis itu dengan tatapan mencemooh. Tangan mereka dibuat bersedekap atau bertolak pinggang untuk menggambarkan otoritas. Kise sudah memiliki dugaan kalau gadis itu mau di-bully. Tapi praduganya kurang kuat. Pasalnya, gadis berkuncir itu tidak terlihat ketakutan ataupun gugup dengan situasi yang diterimanya. Ia hanya berdiri dengan tenang, membebaskan wajahnya dari segala macam ekspresi yang mungkin akan keluar.
And the drama will start from here.
"Aku memperingati kalian," suara jernih yang terdengar seperti suara polos anak-anak keluar dari mulut si gadis berkuncir kuda. Nadanya stabil, tak ada pergolakan emosi di dalamnya. "Jangan pernah ganggu Kensuke Aya. Tak perlu kuancam juga pasti kalian mengerti apa maksudku,"
Si gadis berwajah pongah yang berambut ikal—keriting gantung, tepatnya—melangkah maju. "Dan, kenapa kami harus menuruti kata-katamu, Pecundang? Sayang sekali kecantikanmu harus ikut pudar hanya karena bergaul dengan pecundang payah semacam Kensuke."
Gadis itu terdiam sejenak. "Kalian tidak berhak menjelek-jelekan Aya." Ia memicingkan mata, menatap dingin. "Lebih baik kalian minta maaf."
"Kalau kami menolak, bagaimana?"
"Bisa dipertimbangkan. Tapi yang penting kalian tidak pernah mengganggu ataupun mencela Aya lagi."
"Heh," si gadis pongah itu mendengus. "Sombong sekali. Padahal pecundang sepertimu tidak berhak bicara seperti itu pada padaku. Lagipula, aku menolak untuk tidak mengganggunya. Teman pecundangmu itu terlalu menyebalkan. Mana mungkin aku melepasnya begitu saja,"
Si gadis berkuncir itu memutar bola mata, jengah. "Itu tadi bahkan bukan sebuah permintaan, Ojou-chan."
"Cih, tidak tahu diri. Apa kau mau berakhir seperti teman pecundangmu itu juga? Akan kubuat wajahmu babak belur sampai tidak lagi dikenali orang lain,"
"Ojou-chan, apa kau tidak mendengarku? Kubilang, itu tadi bahkan bukan sebuah permintaan."
"Oh ya? Aku tidak peduli, tuh." Gadis itu tersenyum sinis. "Aku tidak suka berurusan dengan teman Kensuke si Pecundang. Cepat kalian habisi dia."
Empat perempuan yang merupakan sidekick dari gadis pongah itu bergerak maju dan mulai pasang posisi. Tangan mereka sudah siap untuk memukul gadis itu. Kise yakin dalam bahwa hitungan detik, tempat ini akan menjadi saksi bisu atas perlakuan kekerasan dan penindasan dari sang senior.
Ara~
Apakah ini saatnya Kise Ryouta harus turun tangan sambil bersikap layaknya pangeran berkuda putih di negeri dongeng?
Pemuda itu menyisir rambutnya dengan jemari. Baju olahraganya yang sedikit tertekuk ia luruskan dengan rapi. Ia berdehem-dehem kecil, berusaha menstabilkan suaranya agar terdengar semaskulin mungkin. Dan tepat ketika ia mulai melangkah untuk menyelamatkan si gadis berkuncir, ia malah dibuat membatu di tempat akibat gerakan menghindar dari gadis tersebut.
Langkahnya anggun dan ringan. Tubuhnya kecil sehingga memudahkannya untuk bergerak lebih fleksibel. Dan ketika gadis itu menghindar dari serangan bertubi-tubi dengan sekali gerak, Kise berani bersumpah bahwa ia seperti melihat orang menari.
Tak perlu waktu lebih dari lima menit bagi gadis itu untuk mengalahkan keempat sidekick tersebut dengan tangan kosong. Gadis itu cuma menyerang titik lemah yang tidak menyebabkan luka fatal. Selesainya, ia cuma berjalan tenang ke arah pemimpin mereka sambil berkata, "Ojou-chan, turuti saja kata-kataku barusan apabila kau tak ingin berakhir sama seperti teman-temanmu." Dan usai itu, ia segera berjalan keluar dari tempat tersebut.
Sementara di lain sisi, Kise Ryouta masih terperanjat dengan adegan yang barusan ia lihat. Gadis kecil itu, dengan tangan kosong, berhasil mengalahkan empat perempuan yang semuanya bertubuh lebih besar darinya! Ah, tidak. Sebenarnya bukan itu yang membuatnya benar-benar terperanjat. Tapi gerakan luwes gadis itu ketika menghindari serangan bertubi-tubilah yang membuatnya tercengang. Gerakannya ringan, anggun, seperti menari dalam ruang waktu dimana orang-orang di sekitarnya bergerak dengan keadaan slow-motion.
Dan Kise terpesona.
Lagi, dengan menjadi seorang Kise Ryouta, tentu saja ia dapat meng-copy gerakan itu dalam sekejap. Tapi, yah… gerakannya itu… terlalu anggun, terlalu cewek banget. Kise tak mau mempertaruhkan image-nya hanya untuk meng-copy gerakan tersebut.
Kise yang masih terperangah baru menyadari bahwa gadis itu sudah pergi beberapa saat yang lalu. Ia mencari keberadaannya tapi gadis itu tak kunjung ditemukan. Pemuda berambut keemasan itupun menghela nafas bosan, malas kalau harus kembali lagi ke lapangan. Akhirnya, ia hanya berjalan-jalan di sekitar taman sekolah yang tak diisi murid di jam-jam ini.
Tapi dugaannya melenceng.
"Kise-san! Ke mana saja kau? Sensei mencarimu dari tadi!"
Teman sekelas Kise yang berambut coklat pasir itu berlari menghampirinya. Kise menelan ludah. Segelintir alasan sudah ia persiapkan dalam otak jika saja ada bertanya perihal kehadirannya. Tapi sebelum ia mulai membuka mulut untuk memberikan alasan palsu, temannya itu segera menyeretnya berlari menuju lapangan futsal.
"Oi, oi, kau tidak bertanya kenapa dari tadi aku menghilang?" Tanya Kise.
"Itu tidak penting, Kise-san. Sekarang ini aku lebih khawatir jika kau tidak sampai ke lapangan tepat pada waktunya."
"Hah?"
"Hari ini Marui-sensei tidak menggunakan lapangan outdoor-nya untuk berlatih sepak bola. Tapi malah menggunakannya untuk pertandingan estafet antar kelas kita dan kelas 1-D!"
"Bertanding?! Tapi kita kan baru saja di minggu pertama masuk sekolah-ssu!"
"Aku tahu! Maka dari itu kami butuh Kise-san untuk berlari di start terakhir!"
Kise mengernyit. Ia sama sekali tak habis pikir dengan guru olahraga barunya itu. Masih di minggu pertama dan mereka sudah disuruh bertanding? Entah apalagi yang akan diperbuat sensei-nya di masa yang akan datang.
Sesampainya di lapangan, Kise segera berlari menuju start terakhir yang ditunjukkan oleh temannya barusan. Tim kelasnya lebih telat beberapa meter daripada tim kelas 1-D. Kise berlari menuju start keempat—start terakhir—dengan sedikit tak sabaran. Sementara di belakang sana, si pelari ketiga dari kelasnya masih terengah-engah untuk berlari menuju start Kise.
Kise segera pasang posisi begitu ia sampai di start miliknya—start keempat. Pemuda itu berdiri membelakangi pelari di belakangnya sambil mengulurkan tangan kirinya di bawah pinggang untuk menerima tongkat tersebut (aturan main estafet ini: para pelari tidak boleh melihat pelari di belakang mereka). Pemuda itu tak mau kehilangan konsentrasi, jadi tak peduli siapapun lawan di sampingnya untuk track ini, ia yakin, ia pasti akan mengalahkan si pelari terakhir.
Pasti.
Si pelari terakhir yang menjadi lawan Kise baru muncul di detik selanjutnya. Pemuda itu bahkan baru sadar bahwa sedari tadi tidak ada orang yang menempati start lawan karena matanya terlalu terfokus pada track lari. Akibat penasaran, Kise pun menoleh, ingin tahu dengan siapa ia dipasangkan.
Dan itu adalah keputusan buruk.
Kenapa?
Karena Kise Ryouta jadi terperanjat sampai-sampai ia lupa bahwa ia harus berlari begitu mendapatkan tongkatnya.
Semua penonton yang tadinya sibuk menyoraki Kise bahkan langsung terdiam saat melihat ace tim basket Kaijou membatu di start miliknya, membiarkan lawan lari begitu saja tanpa mengejar.
Lapangan hening. Hanya ada suara langkah lari dari gadis yang baru saja Kise jumpai.
Butuh waktu beberapa detik bagi Kise untuk mencerna semuanya.
Dan butuh waktu sepuluh detik bagi Kise untuk kalah.
Kalah.
Melawan perempuan.
Cuma karena ia terlalu kaget mendapati gadis itu sebagai lawannya.
Dan itu…
Itu…
Rasanya Kise ingin ada gempa bumi yang retakannya langsung menelannya hidup-hidup di detik itu juga.
.
.
.
.
.
Pada akhirnya, Kise tentu saja berhasil mengejar gadis itu. Tapi ia telat tiga detik. Walau ia mampu mengejar ketertinggalannya dalam sekejap mata, tetap saja; kalah ya, kalah. Tidak ada pertandingan ulang karena semuanya sudah bermain sesuai aturan yang tertera. Kise sadar, timnya jadi kalah karena ulah bodohnya. Dan baru pertama kali dalam sejarah hidup Kise Ryouta, ia kalah dengan sebegini mengenaskan.
Ia kalah oleh kebodohannya sendiri.
Kise berani bersumpah, bahwa kekalahannya itu adalah kekalahan paling konyol sepanjang abad!
Kembali ke masa kini, pemuda berambut keemasan itu memandangi punggung kecil di depannya dengan seksama. Anjing terbuang yang sekarang digendong gadis itu melolong pelan sambil menatap Kise. Yang ditatap pun hanya melambaikan tangan sambil tersenyum cerah, lalu menempelkan telunjuknya di bibir seakan anjing itu akan mengerti apa maksudnya.
Sampai kemudian anjing tersebut malah menggongong keras pada Kise.
Refleks, Kise segera bersembunyi di balik tiang listrik di dekatnya. Ia tidak mau gadis itu tahu bahwa selama ini Kise selalu mengikutinya pulang ke rumah—mengikuti lho, ya, bukan menguntit—dan menganggapnya seperti stalker, padahal bukan.
(walau sebenarnya iya)
Pemuda itu terus bersembunyi, menekan dirinya melawan tembok agar bisa memperkecil potongan tubuhnya yang terancam terlihat.
"Hei, kau kenapa? Tiba-tiba mengonggong keras begitu. Tidak usah khawatir anjing kecil, di belakang sana tidak ada siapa-siapa kok. Kau bisa tenang bersamaku."
Suara polos nan jernih itu memasuki indra pendengaran Kise, diterima otak dan diingat terus dalam memorinya.
Kise sangat suka suara ini.
Sangat, sangat suka.
Ia pasti betah mendengarnya lama-lama.
Dan itupun langsung memunculkan pertanyaan: bagaimana bila nanti gadis itu menyebutkan nama 'Kise'?
Atau, kalau lebih ekstrimnya lagi, 'Ryouta'?
Kontan saja, pemuda itu membenturkan kepala pelan ke tiang di depannya. Malu dengan pikirannya sendiri.
Tapi kemudian ia disadarkan oleh langkah kaki dari orang di depannya. Kise pun segera melangkah keluar dari persembunyian, dan pelan-pelan mengikuti langkah si gadis untuk pulang ke rumah.
Gadis itu langsung masuk dan mengunci pintu begitu ia masuk ke dalam rumahnya. Kise tetap terdiam di tempat favoritnya yang sukar terlihat. Biasanya, gadis itu akan sampai di kamar yang ia bagi bersama adik tertuanya, lalu menutup tirai, dan melaksanakan ritual malamnya.
Mata topaz Kise masih menatap, memperhatikan setiap detail terkecil yang bisa ia dapatkan.
Bersamaan dengan itu, sebuah kenangan akan tetap terpatri di otak Kise.
Memori tentang pertemuan pertama mereka dulu.
Pertemuan yang bahkan setelah berbulan-bulan berlalu, tetap tak bisa membuat pemuda itu berhenti penasaran akan gadis tersebut.
[].
