The Miracle Pendant
Chapter 2
By Sunrisehime
Chapter sebelumnya
"Tuhan… apakah aku memiliki orang tua? Apakah aku disayangi oleh orang tuaku? Aku ingin seperti anak-anak lainnya. Aku tahu mengeluh itu dosa tapi aku apakah salah untuk gadis seusiaku ini menginginkan kasih sayang orang tua." Keluh gadis pirang berusia 7 tahun itu sambil memegang sebuah liontin.
"Aish… kenapa aku harus mengeluh! Aku tidak boleh mengeluh! Aku masih memiliki baa-chan yang telah merawatku! Aku harus semangat! Ya! Aku harus semangat dan membuat baa-chan bangga denganku! Akan kubuat baa-chan bangga dengan memiliki cucu sepertiku" ujar gadis itu sambil tersenyum dan kemudian dia mencium liontin itu. Liontin yang berisi ukiran nama dia N Naruto.
6 Tahun kemudian…
Di sebuah atap sekolah terdapat sepasang remaja berusia tiga belas tahun yang kini sedang bergandengan tangan sambil menikmati langit biru yang tampak begitu cerah.
"Hey, Naru! Ada yang ingin aku katakan padamu" ujar pemuda itu sambil memandang kekasihnya itu.
"Katakan saja," ujar gadis itu lembut tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Kau tahu, kan kalau kita sudah berpacaran selama 2 tahun ini." ujar pemuda berambut nanas itu dengan hati-hati.
"Iya, aku tahu itu! Shika? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?" tanya gadis itu dengan menatap kekasihnya.
"Tidak ada… Hanya sajaa…" Shikamaru pemuda yang memiliki rambut nanas itu bingung bagaiamana memberitahu kekasihnya tentang dirinya yang akan pergi meninggalkan Jepang karena harus mengikuti orang tuanya untuk pindah ke luar negeri.
"Kau tahu kan aku sangat mencintaimu, Naru," ujar Shikamaru putus asa dengan nada yang lirih.
"Hey, kamu kenapa, Tuan Pemalas? What happen to you?" ujar naru lembut sambil memegang pipi kekasihnya.
"Minggu depan aku akan pergi meninggalkan Jepang, Naru." akhirnya dengan berani Shikamaru mengucapkan kata itu tanpa berani menatap manik-manik mata Naru.
"Kenapa?" tanya Naru dengan pelan dan suara yang serak.
"Ayahku sedang ingin mengembangkan perusahaannya di luar Jepang, maka dari itu kami sekeluarga harus pindah meninggalkan Jepang."
"Berapa lama?" suara serak itu kini berubah menjadi isakan.
"Aku tidak tahu, Naru." Ujarnya lemah.
"Apa kau akan kembali?" tanyanya dengan air mata yang terus mengalir di kedua pelupuk matanya.
"Aku akan kembali, Naru! Aku akan kembalis pastinya!" ujar pemuda itu sambil memeluk gadis yang merupakan kekasihnya dan mencium kening gadis itu.
"Kau harus kembali, rusa pemalas! Kau harus berjanji padaku!" teriak Naru disela tangisnya itu sambil mendongakkan kepalanya untuk menatap Shikamaru.
"Kau bisa pegang janjiku, hime!" janji Shikamaru kemudian dia menarik dagu Naru dan menciumnya dengan lembut.
"Hei, Naru! Kita hanya tinggal memiliki waktu 1 minggu lagi. Apa kau tidak ingin menghabiskan waktu lebih denganku ini?" tanya Shikamaru.
"Kau seharusnya tahu jawabanku, Shika! Tentu saja aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak denganmu! Mari kita buat kenangan sebanyak-banyaknya sebelum kau pergi dan ketika kau kembali kita buat lagi kenangan sebanyak-banyaknya! Bukankah itu indah?" jawab Naru sambil tersenyum manis meskipun hatinya masih merasa sedih namun dia ingin membuat kenangan yang indah sebelum Shikamaru pergi.
Tak terasa waktu seminggu berlalu dengan cepat. Kepergian Shikamaru membuat pertahanan Naru yang selama ini simpan kini jebol. Untuk pertama kalinya dia membolos pelajaran. Untuk pertama kalinya Naru kabur dari sekolahnya berjalan menuju taman bermain yang selama ini menjadi tempat berduaan dia dan Shikamaru. Tanpa sadar dia duduk di sebuah bangku yang merupakan bangku favorit mereka berdua.
Flashback
"Kau tahu, Naru! Aku senang sekali duduk berduaan denganmu disini! Kau selalu tampak cantik di mataku!" puji Shikamaru sambil memegang tangan Naru. Naru yang mendengar pujian dari kekasihnya itu membuat dirinya merona dan malu.
"Diam kau, rusa pemalas!" teriak Naru sambil memukul kepala nanas Shikamaru.
"Dasar tukang marah! Tsundere!" gerutu Shika.
"Apa yang kau bilang Shikamaru? Bisa kau ulangi lagi? Hmm?" perintah Naru dengan nada yang sangat manis membuat Shikamaru keringat dingin.
Flashback End
Tanpa Naru sadari dia telah menangis mengingat kenangan tentang dirinya dan Shika. Dia pegang liontin yang bertengger manis di lehernya meminta kekuatan agar kuat. Selalu seperti ini , ketika dia sedih atau butuh kekuatan dia pasti akan memegang liontin itu seraya mencari kekuatan dan itu selalu membuatnya merasa tenang.
"Deep within each child" bunyi nada dering dari handphone Naru membuat Naru tersadar dari lamunan. Segera dia hapus air matanya dan mengangkat telponnya.
[Halo?]
[Apa anda Akomoto Naruto?]
[Iya, benar. Anda siapa?]
[Maafkan kami Nona Akomoto Naruto namun saat ini Nyonya Akomoto Haruka sedang berada di rumah sakit. Apakah Anda bisa datang kerumah sakit Kyoto Hospital]
[Baik, saya akan segeran kesana]
"Ya Tuhan, semoga tidak ada yang terjadi denganmu Baa-chan" doa Naru sambil mencium liontinnya kemudian bergegas pergi ke rumah sakit.
Kyoto Hospital
"Permisi, kamar no berapakah atas nama Akomoto Haruka" tanya Naruto pada resepsionis.
"Nyonya Akomoto Haruka masih dioperasi, Nona." Jawab resepsionis itu.
"Bisa kau antarkan saya. Saya ingin menunggu Nenek saya!" pinta Naruto pada resepsionis itu. Resepsionis itu menganggukan kepalanya dan langsung mengantar Naruto ke ruang operasi.
"Ya Tuhan… Selamatkanlah Baa-chan. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Hanya dia keluarga satu-satunya yang aku punya! Tuhan ambilah nyawaku jangan ambil nyawa Baa-chan." doa Naru sambil menagis seraya memegang liontinnya.
Ceklek….
Pintu kamar operasi terbuka. Seorang dokter lelaki berusia 20-an keluar dari ruang operasi itu. Wajah lelah sangat terlihat jelas di dirinya. Naruto segera melangkah menuju dokter itu. Ditatapnya dokter itu dan dokter itu hanya bisa menghela nafas menatap gadis remaja di depannya ini. Dia tidak tega mengatakan bahwa sang pasien tidak bisa diselamatkan.
"Dokter? Bagaimana dengan baa-chanku? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Naru dengan suara bergetar. Namun sang dokter hanya diam tidak membalas ucapan Naruto.
"Dokter? Katakan padaku?" teriak Naruto sambil menangis.
"Maafkan kami, Nona! Kami telah berusaha semaksimal mungkin tapi kami tidak bisa memaksa kehendak Tuhan! Maafkan kami, Nona." jawab dokter itu dengan wajah simpati pada gadis itu.
Dunia Naru hancur ketika mendengar perkataan dokter itu. Dia berjalan menuju ruang operasi itu. Dilihatnya sang Nenek yang telah merawatnya kini berwajah pucat. Seketika itu Naru berteriak memohon agar sang Nenek bangun namun takdir tidak menghendaki itu.
Pemakaman Nenek Naru hanya dihadiri oleh para tetangga, teman-teman Naru, dan sensei dari sekolah Naru. Nenek Naru hanya memiliki Naru seorang. Setibanya di kediaman rumahnya, Naru merenung memikirkan nasibnya sekarang ini. Kini, dia sebatang kara tidak memiliki keluarga.
"Kumohon kuatkan aku Tuhan" pinta Naru dalam hati sambil menangis dang memegang liontinnya. Tiba-tiba terdengar sebuah ketukan pintu. Dengan segera Naru menghapus air matanya dan membukakan pintu rumahnya.
Ceklek…
"Dokter? Ada apa kemari? Silahkan masuk." Ujar Naru sambil menawarkan dokter itu untuk masuk dalam rumahnya.
"Terimakasih! Ah aku turut berduka cita atas kematian Nenekmu. Maafkan aku yang tidak bisa menyelamatkannya!" ujar dokter itu sedih.
"Tidak apa-apa, dokter. Ini sudah takdir! Tuhan mungkin menginginkanBaa-chan untuk menemani-Nya." ucap Naru.
"Ah, aku belum memperkenalkan namaku. Namaku adalah Akasuna Sasori. Aku kesini ingin memberitahumu mengenai pesan terakhir Nenekmu. Sebelum dia meninggal dia mengatakan padaku bahwa dia ingin kau membaca surat yang dia taruh di lemari bajunya. Kata beliau dia ingin kau membacanya. Dan dia menginginkanku untuk…" ucap Sasori terputus sambil menelan ludahnya.
"Untuk?" tanya Naruto.
"Untuk mengangkatmu menjadi adikku. Aku tidak memaksamu untuk langsung menerima tawaranku tapi aku harap kau mau. Nenekmu sangat khawatir padamu apabila kau tinggal sendirian. Jika kau menjadi adikku, aku berjanji aku akan menjagamu seperti adikku sendiri!"
"Aku… aku mau Nii-san!" ujar Naru lirih kemudian memeluk Sasori yang kemudian menjadi kakak angkat Naruto.
Sementara itu di keluarga Namikaze, sang Nyonya Namikaze Kushina tiba-tiba terjatuh ketika hendak menuju ruang keluarga. Minato, Kurama, dan Menma yang mendengar bunyi jatuhnya Kushina langsung menghampiri sang Nyonya Namikaze.
"Kushina? Apa kau tidak apa-apa?" tanya Minato panik sambil mengecek tubuh Kushina apabila terjadi luka-luka.
"Okaa-san tidak apa-apa?" tanya Kurama melihat ibunya yang terjatuh di lantai.
"Aku tidak tahu! Tiba-tiba saja terasa perih di sini (menunjuk dadanya) dan aku langsung terjatuh! Aku tidak tahu ini pertanda apa yang jelas ini terasa sakit Minato!" ujar Kushina sambil terisak-isak dengan turunnya air matanya.
"Aku juga merasakan sakit itu, Kushina!" ujar Minato sambil memeluk Kushina erat.
"Okaa-san , Otousan aku juga merasakan sakit itu. Di sini!" ujar Menma sambil menunjuk dadanya.
"Aku juga!" kali ini Kurama yang berbicara.
TBC
Hey, guys :)
Terimakasih bagi para pembaca yang telah membaca The Miracle Pendant :)
Apabila ada komentar, saran dan kritik mohon disampaikan :)
Terimakasih :)
Mohon maaf bila ada salah kata dalam cerita.
