Baby, I'm Not A Monster..!

Fandom: Naruto

Disclaimer: masashi kishimoto

Pairing: SasuFemNaru slight GaaFemNaru -tapi kayaknya belum terlalu kelihatan deh-

Genre: Romance& hurt/comfort

Rate: T

Warning: AU, OOC abis, typo, abal,tema dipertanyakan, gaje, don't like don't read. No flame please.

Baby, I'm Not A Monster..!

Marah. Satu kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Sasuke saat ini. Di saat seperti inilah keegoisan dan keposesifan Sasuke semakin menjadi. Jika sihir atau ninja merupakan hal yang normal dan muskil, mungkin saat ini mata Sasuke sudah berkilat berwarna merah serta tangannya mengeluarkan petir yang siap mencabut nyawa siapapun. Sasuke manatap Gaara seolah ia adalah seorang pemuda aneh yang menggendong labu berisi pasir berdesir yang menurut Sasuke cukup menjijikkan.

Tanpa fikir panjang lagi, Sasuke melangkah cepat ke arah meja yang saat ini tengah ditempatu oleh Naruto dan Gaara. Ia kesal, ia marah, ia kecewa. Entah setan apa yang sudah merasukinya sehingga ia tak mengindahkan resiko yang akan muncul nantinya.

Braak…!

Sasuke menggebrak meja bernomor sembilan itu. Ia tak menghiraukan tatapan aneh para pengunjung yang seolah-olah berkata dia-kerasukan-setan-apa? Seketika Naruto berjengit. Matanya membulat tak percaya akan sosok di hadapannya. Bukan karena kehadiran Sasuke, tetapi lebih pada tatapan nyalang yang ia berikan. Tatapan tajam penuh intimidasi khas uchiha.

"apa yang kau lakukan di sini Naruto..?!" ucap Sasuke penuh penekanan pada tiap katanya. Nafasnya memburu seiring detik-detik yang berlalu tanpa jawaban dari Naruto. Naruto terdiam, tangannya gemetaran di sisi tempat duduknya. Ia tak berani menatap mata Sasuke yang saat ini tak beralih sedikitpun darinya. "jawab aku uzumaki Naruto..!"

"jangan bentak dia, uchiha—"

"diam ! aku tak bicara padamu…" potong Sasuke cepat. Ia benar-benar tak mau Gaara ambil bagian dalam hal ini. Dia memang tak menyukai keberadaan pemuda merah itu. Apalagi setelah malam ini, mungkin dia akan menjauhkan Naruto dari Gaara. Sejauh mungkin.

"a-aku…maafkan aku Sasuke…" jawab Naruto lirih. Sebisa mungkin ia menahan air mata yang mulai mendesak keluar dari pelupuk matanya. Tidak! Ia tidak mau menangis di depan Sasuke.

"sejak kapan kau berbohong padaku? Kenapa kau tidak bilang kau pergi dengan pemuda sialan ini, hah?!" bentak Sasuke.

"sudah ku bilang jangan bentak dia Uchiha…!" sergah Gaara cepat. Kali ini ia mulai menunjukkan emosinya.

"diam brengsek..!"

Buakh….!

Telak. Satu pukulan telak mendarat tepat di sudut bibir Gaara. Seketika Gaara terhuyung dan terjatuh membuat meja makan mereka berantakan. Gaara bangkit dan mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah. Ia menatap nyalang pada Sasuke.

"hentikan Sasuke…! Kumohon hentikan...!" Naruto memeluk Sasuke dan menahan tangannya yang sudah terkepal di udara. Ia hendak memukul Gaara lagi.

"jangan pernah kau menyentuh kekasihku, atau kau akan menyesal, brengsek!" Sasuke menarik tangan Naruto dan membawanya pergi.

Gaara menyeringai, ia kembali mengusap sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah. Tangannya mengusap jasnya yang berantakan. Ia tak memperdulikan tatapan penuh tanda tanya dari pengunjung food court. Ia mengambil dompet yang tersimpan di saku belakang celananya dan mengambil beberapa uang yang terbilang lebih dari cukup untuk membayar makanan yang sejatinya belum tersentuh oleh tangannya sedikitpun.

'kau yang akan menyesal Uchiha karena sudah berani bermain dengan seorang Gaara...' batinnya sebelum meninggalkan tempat itu dengan langkah yang penuh kemenangan.

0o0o0o0o0o0o0o0

Sasuke menggenggam erat tangan Naruto, ia menulikan pendengarannya sekalipun Naruto meronta kesakitan karena pegangan Sasuke yang terlampau kuat. Naruto yakin, esok tangannya akan terdapat memar berbentuk genggaman tangan Sasuke. Sasuke melepaskan Naruto dan membukakan pintu mobil untuknya. Naruto tak bergeming, ia tetap mematung di tempat dan menimbang-nimbang pilihan untuk tetap tinggal atau kabur dari Sasuke saat itu juga.

"masuk..." perintah Sasuke dingin. Yang diperintah hanya bergerak ragu.

"..."

"masuk...!" perintah Sasuke lagi, kali ini penuh dengan penekanan. Matanya yang berkilat menatap tajam ke arah Naruto. Naruto hanya menatap sendu pada Sasuke. Ia tak mampu menyimpulkan arti tatapan mata itu. Entahlah, antara marah, kesal, jengkel dan-...kecewa? entahlah, Naruto terlalu takut untuk menyimpulkannya.

"ba-baiklah..." akhirnya Naruto menuruti perintah Sasuke. Ia menggerakkan badanya dengan gemetar. Setelah Naruto masuk, barulah Sasuke beranjak dari tempatnya berdiri tadi. Setelah itu Sasuke hanya diam.

Tak seberapa lama mobil sport biru tua itu melaju dengan kecepatan tinggi. Kedua penumpangnya hanya diam dan bergumul pada pikiran masing-masing. Mereka tak peduli situasi yang saat ini tengah terjadi. Tak ada yang angkat bicara sekalipun sekedar menjelaskan atau munta penjelasan. Atau memang belum? Entahlah.

Naruto hanya menatap lurus pada jalanan yang membentang di hadapannya. Ia tak menoleh sedikitpun pada Sasuke yang semakin cepat mengemudikan mobilnya. Padahal biasanya ia selalu marah-marah setiap Sasuke mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan. Tapi rasanya hal ini tak akan berpengaruh sekalipun ia berteriak-teriak tepat di telinga sang kekasih. Toh, sepertinya kali ini Sasuke menulikan pendengarannya sejenak.

Naruto tahu dan ia benar-benar sadar bahwa kali ini Sasuke benar-benar marah padanya. Ia paham akan hal itu. Sasuke tak pernah menerima penjelasan. Ia sadar bahwa semua ini salahnya. Salahnya yang tak kunjung mendapat taksi saat itu. Salahnya yang tak dapat menolak ajakan sang bos untuk makan malam bersama saat mereka tak sengaja bertemu di depan kantor. Salahnya yang dengan bodohnya memilih membohongi Sasuke karena takut kalau nantinya Sasuke akan marah. Namun, kesalahan terbesar yang saat ini diyakini oleh Naruto adalah bahwa Sasuke benci dibohongi dan yang paling penting Sasuke tak menyukai bosnya. Bisa dibilang, Sasuke mebenci pemuda bertato ai itu.

Namun, mau dikata apa lagi, semua sudah terjadi. Apapun itu, Naruto sudah siap dengan segala resiko kemarahan Sasuke. Toh, ia yang salah. Dia yang menyulut api di hati Sasuke. Jadi wajar jika pada akhirnya Naruto harus mendapat amarah dari bungsu uchiha kesayangannya.

Lain halnya dengan Sasuke yang saat ini tengah mencoba merasionalkan pemikirannya. Otaknya sedang berpikir keras mencoba mencari alasan tepat yang menyebabkan Naruto harus berada di tempat itu bersama pemuda saus yang paling dibencinya. Mungkin dia sedang membicarakan bisnis? Ah, tidak, tak ada berkas apapun di sana. Atau mereka tak sengaja bertemu? Ah, tidak, Naruto tak mungkin makan di tempat yang cukup jauh dari tempat kerjanya. Apalagi di depan kantornya ada food court yang cukup untuk mengisi perutnya. Lalu apa? Rasanya Sasuke benar-benar hampir gila dengan keadaan ini.

Ia melirik Naruto dengan ekor matanya. Naruto tampak sendu dengan kepala yang tertunduk. Di saat seperti ini, ingin sekali Sasuke memeluk Naruto dan menenangkannya. Tapi sayangnya itu tak bisa ia lakukan. Ia sedang marah dengan wanita blonde di sampingnya. Mana mungkin seorang Sasuke diam sajs saat melihat sang kekasih bersama pemuda lain, tertawa-tawa seperti itu? Rasanya ia ingin mencekik pemuda bernama Gaara yang sudah lancang membawa kekasihnya pergi.

Ckiiiittttt..!

Suara deciatan ban mobil Sasuke memekakkan telinga. Sasuke mengerem mendadak sehingga membuat tubuh Naruto hampir terjungkal dan terantuk kaca depan jika saja ia tidak memasang sabuk pengamannya dengan benar.

"aw...ittai...!1" Naruto menggeram sambil mengusap dahinya yang sedikit nyeri.

"aku meminta penjelasan..."

"sa-Sasuke...?"

"sekarang..." Sasuke tak sedikitpun melirik ke arah Naruto yang menatapnya dengan tatapan tak percaya. Tiba-tiba Naruto tertunduk, terlihat ia menahan tangisnya.

"maafkan aku...aku tidak bermaksud-.."

"membohongiku...? hn?" nada Sasuke terdengar sarkastik dan penuh intimidasi.

"tadi aku tak kunjung mendapat taksi..."

"kenapa tak menelfonku? Atau Tou-san?"

"aku tak mau mengganggumu...lagipula Tou-san tak mengangkat telponku Sasuke...maaf..." Naruto terlihat semakin tertunduk isak tangis mulai terdengar dari bibirnya. Tubuhnya bergetar kecil.

"kenapa ada Gaara?"

"e-eto..."

"kenapa tak bisa menjawab?" Tanya Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya pada Naruto. Ia lebih memilih memperhatikan lampu jalan tampat mereka berhenti. Apanya yang menarik?

"aku bertemu dengannya di depan kantor, dia menawarkan mengantarku pu-pulang..." jawab Naruto takut-takut. Sasuke tampak mengerutkan alisnya. "aku mau dan dia mengajakku makan terlebih dahulu...maaf Sasuke..."

"kenapa tak menolak?"

"a-aku tak enak padanya..."

"dan karena kau tak enak padanya lah, lama-lama kau jadi terbiasa pergi dengannya nantinya. Dan lama-lama kau jadi sering membohongiku..."

"cukup Sasuke...! cukup kau seperti ini..!"

"kau..." ucapan Sasuke menggantung.

"sudah cukup dengan semua keposesifan tak beralasanmu selama ini...!"

"Naruto...! bagaimana aku bisa diam sementara Gaara brengsek itu menyukaimu, hah?! Dia menyukaimu bodoh...!" Sasuke setengah berteriak. Sekarang mereka berdua berhadapan. Mata Naruto tampak membulat mendengar pernyataan Sasuke itu. Mana mungkin seorang Gaara menyukai wanita macam Naruto? Tidak mungkin. Batin Naruto tak percaya.

"sa-Sasuke..."

"baru tahu eh?! Dimana saja kau hah?! Aku sudah tahu kalau dia menyukaimu Naruto. Jadi wajar kan kalau aku marah kau bersamanya..?"

"ta-tapi itu tidak mungkin..."

"nothing impossible..." jawab Sasuke dingin.

"tapi itu tak akan merubah apapun Sasuke. Sekalipun dia menyukaiku, aku tetap mencintaimu. Kau harus percaya itu..."

"aku tak bisa jamin jika kau masih berada di perusahaan miliknya..."

"jangan egois Sasuke. Aku ingin bekerja, posisiku sudah matang di sana. Aku tak mungkin melepaskannya begitu saja. Bersikaplah dewasa..."

"aku sudah bersikap sangat dewasa menyikapi kedekatanmu dengan bosmu itu. Kau pikir aku tak tahu, kau tidak hanya sekali pergi dengannya..." ucap Sasuke tajam. Ia menatap lekat mata Naruto. Sejenak Naruto tampak terkejut.

"ma-maaf, aku tak akan mengulanginya lagi...maaf..."

"sekarang siapa di sini yang tidak bisa menjaga perasaan hah?!"

Naruto diam. Ia akui bahwa ia sudah beberapa kali menerima ajakan sang direktur untuk pergi bersama sekedar minum kopi atau lunch di kafe depan kantor. Tapi ia fikir itu hanya acara untuk mengakrabkan diri antara karyawan dengan atasan. Tak pernah terlintas sedikitpun anggapan bahwa semua ini ada maksud tertentu. Lagipula ia tak terlalu mempermasalahkan desas-desua yang berkembang di kalangan karyawan di perusahaan itu.

"ma-af..." maaf, satu kata yang saat ini masih bisa di keluarkan oleh Naruto. Selebihnya ia tak tahu harus berkata apa. Pembelaan apapun tak akan membuahkan hasil. Mungkin saja hal itu akan menambah rumit masalah yang timbul. Masalah ini saja sudah cukup membuatnya pusing.

"kau yang tidak bisa bersikap dewasa. Kau yang tidak bisa memposisikan dirimu sendiri. Kau terlalu membuka diri pada orang-orang itu. Sedangkan kau tak pernah punya waktu untuk dirimu dan aku...!"

"jangan terus menerus menyalahkanku Sasuke! Kau sendiri tak pernah ada waktu untukku! Dimana kau waktu aku butuh kehadiranmu di sampingku? Kau selalu sibuk dengan urusanmu! Kau tak pernah ada waktu untukku. Apa salah jika aku mengakrabkan diriku dengan mereka?" Naruto menelungkupkan tangannya di wajah. Ia menangis sejadinya. Sudah cukup ia menahan air mata yang sejak tadi mendesak untuk dibebaskan.

"kau tahu, aku direktur, Naruto. Kau tahu itu. Dan aku tidak hanya menaggung hidupku sendiri, tapi ribuan karyawanku. Kau seharusnya paham akan hal itu. Aku tak mungkin meninggalkan urusanku...!" Sasuke membela dirinya. Ia juga punya alasan yang kuat untuk melawan semua argumentasi yang diberikan oleh sang kekasih.

"yamette. Yamette. Yamette..." Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya keras dan menutup telinganya seolah tak ingin mendengar apapun yang dikatakan oleh Sasuke. Air matanya masih mengalir deras melewati pipinya.

Sasuke terdiam. Tangannya terangkat untuk merengkuh tubuh sang kekasih. Naruto masih menangis dipelukan Sasuke. Tubuh Naruto bergetar sekalipun Sasuke sudah merengkuh erat tubuhnya. sesekali Naruto memukul dada Sasuke. Kemeja Sasuke basah oleh leleran air mata Naruto yang tak jua berhenti. Perasaannya tak menentu untuk saat ini. Ia marah, tapi ia tak bisa melihat Naruto meneteskan air mata barang setetespun. Ia menyesal karena ia telah membuat Naruto menangis sekalipun ia tahu bahwa Naruto yang lebih dulu mencari masalah. Tapi Naruto menangis karena bentakan demi bentakan yang dilontarkan oleh Sasuke.

"tenanglah..." ucap Sasuke mencoba menenangkan Naruto yang tangisannya tak jua berhenti.

"hiks...kau...hiks...jahat...hiks..."

"maafkan aku...maafkan aku Naruto..."

"jangan begitu lagi...aku tak akan melakukan apapun..."

"aku percaya padamu. Berhentilah menagis, aku tak mau melihatmu menangis..." Sasuke mengecup puncak kepala Naruto dan mengusap punggung Naruto lembut. Naruto sudah mulai tenang, nafasnya tak lagi tersengal-sengal, isaknyapun sudah tak lagi terdengar.

"aku mencintaimu..." ucap Naruto seraya mendongakkan kepalanya menghadap Sasuke. Ia menatap Sasuke lembut dan dibalas senyuman tulus dari Sasuke. Sasuke mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto sampai sebuah kecupan lembut mendarat di bibir merah Naruto. Sasuke tersenyum.

"aku juga sangat mencintaimu..."

"jadi kta baikan kan, ice prince?" kata Naruto sambil mengancungkan jari kelingkingnya dihadapan wajah Sasuke.

Sasuke menyambutnya dengan mengalungkan jari kelingkingnya di jari kelingking Naruto. "kita baikan, idiot..." ucap Sasuke sembari mencuri satu ciuman di bibir Naruto. Si empunya bibir menggeram kesal sambil memanyunkan bibirnya. Merajuk.

"kau curang, berani-beraninya kau menciumku, hah!" sergah Naruto seraya berkacak pinggang.

"kalau begitu, ku kembalikan..." Sasuke kembali mencium Naruto, membuat wanita blondie itu tersipu.

"dasar gila...!"

Sasuke terkekeh pelan, ia menyukai ekspresi Naruto yang cemberut seperti itu. Cukup jarang melihat Naruto merajuk setelah kesibukan mulai mengungkung mereka berdua. Bukankah ini bisa disebut langka sekarang?

"well, kita pulang sekarang..."

"oke boss..!" ucap Naruto dengan mengancungkan tangannya seperti sikap hormat.

"dasar..." Sasuke mengacak rambut Naruto sejenak sebelum akhirnya terhenti karena cubitan maut dari sang kekasih.

Mobil hitam itupun melaju kembali tanpa menyadari bahwa sebuah mobil berwarna merah darah tengah mengekor di belakang mereka.

0o0o0o0o0o0o0o0o0o0o0

"sudah sampai..." Sasuke menghentikan mobilnya tepat di depan apartemen Naruto. "kau yakin tak mau pulang ke rumah Tou-san?"

"tenang saja, aku tak apa-apa..."

"yakin...?"

"u-um..." Naruto mengangguk keras layaknya anak kecil. Membuat Sasuke terkekeh pelan melihat kelakuan kekasihnya.

"baiklah, kalau begitu aku pulang dulu..."

"kau tak mampir dulu Sasuke?"

"sepertinya sudah terlaru larut, aku tak mau mengganggu istirahatmu..."

"oh, baiklah. Hati-hati di jalan.."

"hn...oyasumi naru-chan..." ucap Sasuke seraya mengecup kening Naruto lembut.

"oyasumi Sasuke-kun...aishiteru..."

"aishiteru yo..."

Naruto segera turun dari mobil Sasuke setelah mengecup bibir pemuda tampan di sampingnya. Lambaian tangan Naruto mengantarkan kepergian mobil itu hingga menghilang di belokan. Naruto segera melangkah memasuki apartemennya. Sesekali ia menggerakkan lehernya yang terasa kaku karena kesibukan sehari ini, ditambah lagi dengan pertengkaran hebohnya dengan Sasuke. Cukup menguras energinya. Sepertinya ia harus segera beristirahat untuk pekerjaan yang menumpuk esok hari. Ia memasuki pintu lobi apartemen, tak sadar jika sejak tadi gerak-geriknya tak lepas dari perhatian pemuda bersurai merah yang sejak tadi duduk di balik kemudi mobil merah darah yang tertutup oleh gelapnya malam.

'lihat saja kau akan jatuh dalam genggamanku, Naruto. Tunggulah, dan aku akan melepaskanmu dari jerat monster uchiha brengsek itu...' batin sang pemuda seraya menyeringai menyentuh sudut bibirnya yang membiru.

To be continue

Balesan review:

Dwidobechan : inilah kelanjutannya. Semoga tidak kecewa.

Princess tarry : kita lihat saja di chapter depan.#smirk

Dobe hilang : udah lihat reaksinya kan? Ini mah belum seberapa...#senyum2 gaje.

Aikawa jasumin : arigatou ne...

Wokeh, inilah kelanjutan fic gaje dari saya, semoga tidak mengecewakan. Amin.

Don't forget to review yah, review anda sangat berarti bagi saya#puppy eyes.

Akhir kata, wassalam...

= review =