Switch
Pair:
Park Jimin x Min Yoongi
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rate: T
Length: Parts
Summary:
A little change in your life can change your life forever. For example like, switching your house with a stranger? / MinYoon and VKook. BL, AU.
Warning:
BL, AU. Inspired by 'The Holiday' movie.
.
.
.
.
.
.
.
Part 1: I just wanna get out from here!
_Seoul, Korea Selatan_
Yoongi membenturkan kepalanya dengan cukup keras ke meja kayu di studionya.
Dia lelah. Sangat lelah.
Bahkan rasa sakit akibat membenturkan kepalanya ke meja tidak sebanding dengan rasa sakit dan lelah yang menjalari seluruh tubuhnya. Sungguh, Yoongi ingin istirahat, dia sangat ingin beristirahat.
Tuntutan pekerjaan sebagai produser dan penulis lagu membuat Yoongi begitu sibuk dan terus-menerus mengurung diri dalam studionya selama dua bulan terakhir. Bahkan Yoongi lupa kapan terakhir kalinya dia tidur di tempat tidurnya di apartemen.
Aah, Yoongi rindu kenyamanan bantalnya karena selama dua bulan terakhir Yoongi menghabiskan waktu tidurnya yang amat sangat sedikit itu di studio. Huft.
Dunia memang kejam, industri musik memang kejam untuk Yoongi. Apalagi disaat dia sedang minim inspirasi seperti ini.
Cklek
"Hyung, Taehyung sudah datang. Kau mau menemuinya di ruang rekaman atau di sini?"
Yoongi mengerang keras saat mendengar suara salah satu staff di gedung ini yang mengatakan kalau Taehyung, idol yang sedang dia bantu mengerjakan lagu, sudah tiba di gedung agensi tersebut.
Staff itu mengerutkan dahinya saat mendengar erangan putus asa Yoongi, "Hyung?"
"GYAAAAA! AKU BISA GILAAAA!" teriak Yoongi keras dan membuat staff yang sedang berdiri di ambang pintu itu terjatuh karena kaget mendengar teriakan Yoongi.
.
.
.
.
.
.
_Gangwon, South Korea_
Sret Sret Sret
Suara gesekan antara pensil dan kertas terdengar memenuhi sebuah ruangan mungil dengan keseluruhan dinding dan lantai yang terbuat dari kayu tebal. Seorang pria terlihat tengah duduk menghadap meja yang ada di ruangan itu dan suara pensil terus terdengar dari arah meja.
"Hmm.."
Jungkook mengetuk-etuk kertas gambarnya dengan pensil yang sejak tadi digunakannya untuk menggambar. Dia menatap keseluruhan gambarnya yang sudah terpampang, sketsanya sudah rapi, dia hanya perlu menambahkan tone, sedikit arsiran di sana-sini, dan memberi warna, maka gambarnya akan selesai.
Tapi entah kenapa Jungkook merasa sangat tidak puas dengan gambarnya. Seolah-olah ada sesuatu yang kurang dan otak Jungkook sudah buntu memikirkan apa kiranya yang kurang dari gambar tersebut.
Kepala dengan rambut berwarna hitam kelam itu bergerak ke arah kiri dan kanan seolah mencari apa kiranya yang kurang dari gambar tersebut. Namun setelah bermenit-menit mengamati, Jungkook masih tidak bisa menemukan apa yang salah dari gambarnya.
"AAAH! AKU KESAAAALL! KENAPA INSPIRASI TIDAK JUGA DATANG PADAKUUU!" raung Jungkook seraya meremas kertas gambarnya dengan brutal menjadi bola kemudian melemparnya ke sudut ruangan yang sudah penuh dengan gumpalan kertas yang sama.
Jungkook menghempaskan kepalanya ke meja dan menggerakkan jari telunjuknya membentuk gambar-gambar abstrak di meja. "Aku ingin pergi mencari inspirasi.."
.
.
.
.
.
.
.
_Seoul, South Korea_
"Yo, Hyung! Apa kabar?" sapa Taehyung ceria saat wajah Yoongi yang terlihat lebih pucat dari warna kulitnya yang sudah pucat itu muncul dari balik pintu.
"Apa lagi sekarang?" tanya Yoongi dengan nada jengah.
"Kenapa reaksimu begitu, Hyung? Aku kan datang untuk mendiskusikan lagu. Kau sudah melihat lirik yang kutulis? Bagaimana menurutmu?"
Yoongi meremas rambutnya yang berwarna abu-abu, "Entahlah, Kim Taehyung. Kepalaku sakit, rasanya ingin pecah."
Taehyung menepuk bahu Yoongi pelan, "Hyung, kau oke?"
"Tidak!" bentak Yoongi langsung. "Aku capek, astaga! Rasanya aku ingin pergi dari Seoul! Ah, brengsek! Aku benci Seoul!"
Taehyung meringis pelan saat Yoongi mulai memaki-maki dan mengeluh soal betapa lelahnya dirinya. "Eer.. Hyung, kenapa kau tidak pergi berlibur saja?"
"Bagaimana caranya?!" raung Yoongi. "Aku tidak mau pergi berlibur dalam kondisi seperti ini! Pekerjaanku banyak dan inspirasi habis! Sungguh, rasanya aku ingin mati saja."
Taehyung menepuk-nepuk bahu Yoongi dan mencoba menyemangati, "Semangat, Hyung. Bagaimana kalau malam ini kau pulang saja ke apartemenmu? Bahkan tetanggamu yang seorang idol ini saja bisa pulang ke apartemennya secara rutin, kenapa dirimu tidak bisa?"
Yoongi melirik Taehyung yang sedang tersenyum lebar, "Tidak bisa, aku sibuk."
"Kau akan berlumut di studio kalau kau tidak segera keluar dari sana, Hyung."
"Aku sudah menjadi fosil di sana."
Taehyung terkekeh saat mendengar komentar sinis Yoongi, "Makanya pulang, Hyung. Atau kau mau pulang ke rumahku dan menginap untuk sementara waktu? Kurasa suasana baru akan membuat otakmu lebih segar."
Yoongi menoleh ke arah Taehyung dengan cepat, "Ya! Itu dia! Aku harus mencari suasana baru!"
Taehyung terlonjak kaget saat tiba-tiba saja Yoongi berdiri dan melangkah keluar dari ruang tempat mereka berbicara tadi.
"Ada apa dengan orang itu?" ujar Taehyung sambil menggaruk kepalanya.
.
.
.
.
.
.
.
_Gangwon, South Korea_
Tok Tok Tok
Jungkook mengangkat kepalanya saat dia mendengar suara ketukan dari jendela yang berada di hadapannya dan saat dia menatap ke jendela, dia melihat seorang pria berambut oranye terang tengah tersenyum lebar seraya melambaikan tangan padanya.
Jungkook berdiri dan bergerak membuka jendelanya, "Jimin Hyung, ada apa?"
"Kau tidak mau bermain di luar, Jungkook-ah? Saljunya bagus."
Jungkook melirik keluar kemudian dia menggeleng pelan, dia ingin bermain, tapi pekerjaannya benar-benar menumpuk dan dia tidak bisa meninggalkannya begitu saja. "Tidak, Hyung."
"Kenapa tidak?"
"Pekerjaanku masih banyak dan deadlinenya tidak lama lagi." Jungkook mengeluh sedih.
Jimin tertawa pelan dan menepuk-nepuk kepala Jungkook, "Jangan terlalu stress memikirkan pekerjaanmu. Memangnya kali ini kau sedang membuat ilustrasi untuk buku apa?"
Jungkook melirik ke arah gumpalan-gumpalan kertas berisi sketsanya yang gagal di sudut ruangan, "Buku cerita soal petualangan. Aku kesulitan menentukan gambar wajah pria baik hati yang membantu anak-anak di cerita. Lagipula, rasanya selalu ada saja yang kurang dari gambarku."
"Hmm? Gambar wajah pria? Kenapa tidak menggunakan wajahku saja? Aku pria baik hati, kok." Jimin berujar dengan nada penuh percaya diri sambil menepuk dadanya.
Jungkook menunjukkan ekspresi seolah-olah dia ingin muntah, "Euw, kau menjijikkan. Kau tetangga paling aneh dan paling narsis sepanjang masa."
Jimin tertawa keras, "Hei, biar bagaimanapun juga aku ini satu-satunya tetanggamu."
"Ya, tentu saja. Rumahmu memang yang paling dekat dengan rumahku."
"Jadi, mau keluar sebentar? Kau tahu, kau harus keluar rumah. Jangan terus-menerus mengurung diri di rumah, tidak heran inspirasi tidak pernah datang padamu."
"Hmm? Apa aku harus keluar dari rumah untuk mendapatkan inspirasi?"
"Ya, mencari suasana baru. Dengan sedikit sentuhan suasana baru, aku yakin inspirasi itu akan datang ke dalam kepala mungilmu itu." Jimin mengetuk dahi Jungkook pelan.
Jungkook meringis pelan seraya mengusap dahinya, "Suasana baru ya.."
.
.
.
.
.
.
.
_Seoul, South Korea_
Yoongi berjalan menuju meja kerjanya yang berisi komputer dengan tangan yang sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Pria berkulit pucat itu berdehem pelan kemudian duduk di kursinya dan mulai mengaktifkan komputernya yang dalam keadaan sleep.
Mata sipit Yoongi mulai bergerak menelusuri layar hingga akhirnya dia membuka aplikasi browser. Dia mendengarkan saran Taehyung untuk pulang ke apartemen mewahnya malam ini dan untungnya dia berhasil menolak ide gila tetangganya itu untuk berpesta sampai pagi malam ini.
"Hmm, suasana baru. Kira-kira apa yang kubutuhkan untuk suasana baru?"
Jemari Yoongi mulai bergerak menari di atas keyboard dan mengetikkan kata-kata di kolom browsernya. Dia mengamati setiap link yang muncul dan berulang kali menggeleng saat melihat kalau sebagian besar link itu mengatakan kalau suasana baru bisa didapat dengan mencari kekasih baru.
"Cih! Aku tidak butuh kekasih untuk suasana baru. Selama ini aku bisa bekerja dengan baik walaupun aku lajang. Dasar website bodoh!" rutuk Yoongi.
Jemari Yoongi bergerak lagi dan kali ini matanya berhenti di sebuah kalimat website. "Hmm? SwitchYourHome? Website bodoh macam apa ini?" ujar Yoongi sebelum akhirnya dia membuka website tersebut.
Yoongi membaca deskripsi yang tertera dan mengangguk-angguk pelan, "Aah, jadi website ini menyediakan fitur untuk bertukar rumah kepada dua orang asing. Cih, apa bagusnya? Itu sama saja seperti membuka kesempatan pada pencuri, kan?"
Yoongi menelusuri kalimat-kalimat lainnya dan akhirnya dia terhenti saat melihat kolom bertuliskan 'Sign Up'.
"Apa bertukar rumah itu adalah ide bagus? Tapi bertukar rumah jelas akan memberikan suasana baru, kan?"
Jemari Yoongi bergerak mengetuk-etuk permukaan mejanya dan akhirnya setelah empat menit bergelut dengan pikirannya sendiri, Yoongi memutuskan untuk membuka kolom 'Sign Up' itu.
.
.
.
.
.
.
.
_Gangwon, South Korea_
Jungkook berjalan menuju meja yang berisi komputer miliknya dengan tangan yang membawa satu gelas cokelat hangat. Dia meletakkan mug tersebut di sebelahnya dan mulai menyalakan komputer miliknya.
"Oke, ayo kita cari bagaimana caranya mendapatkan suasana baru.."
Jungkook meregangkan jemarinya kemudian dia mulai bergerak mengetik keyword di kolom yang tertera. Matanya bergerak menelusuri tiap kalimat dan dia tidak menemukan satu kalimat yang menarik perhatiannya.
"Kenapa sarannya sama semua?" keluhnya.
Jungkook membuka halaman berikutnya dan kali ini dia terhenti saat melihat sebuah website yang menawarkan jasa untuk bertukar rumah bagi dua orang asing. "Hmm? Kelihatannya website ini menarik."
Jungkook membuka website tersebut dan membaca deskripsi yang tertera, "Wah, dia benar-benar akan membuat dua orang bertukar rumah? Hebat sekali." Jungkook menatap sekeliling ruangannya, "Tapi apa akan ada orang yang mau bertukar rumah dengan rumahku?"
Mata Jungkook kembali menatap ke arah monitor, dia menggigit bibirnya ragu."Tapi aku yakin bertukar rumah adalah cara paling tepat untuk mencari suasana baru. Aduh, bagaimana ini?"
Bermenit-menit berlalu dengan keheningan sampai akhirnya Jungkook menarik napas dalam dan mengangguk. "Oke, aku akan mendaftar dulu di website ini dan aku akan menjelaskan kondisi rumahku nanti pada siapapun yang akan bertukar rumah denganku!"
Dengan penuh keyakinan Jungkook membuka kolom 'Sign Up' di website tersebut.
.
.
_Seoul, South Korea_
"Oke, aku sudah mengisi semua data yang dibutuhkan. Aku hanya perlu menunggu kabar."
.
.
.
_Gangwon, South Korea_
"Selesaaaiii! Kira-kira siapa ya yang akan bertukar rumah denganku?"
.
.
.
.
.
.
Sementara itu, di sebuah kantor tempat server website itu berada, terdengar bunyi dentingan pelan yang menandakan ada pengguna baru yang masuk ke dalam website. Dan entah karena takdir atau bukan, server tersebut memutuskan bahwa kedua orang yang masuk dalam waktu bersamaan itu, akan bertukar rumah untuk satu bulan.
.
.
.
.
.
.
.
_Gangwon, South Korea_
Jungkook berjalan menghampiri meja berisi komputernya dengan posisi menggigit roti panggang di sela bibirnya. Dia bergerak menyalakan komputer itu dan duduk di kursinya selagi menunggu komputernya menyala.
Giginya terus bergerak mengunyah roti panggang di tangannya kemudian saat komputernya menyala, Jungkook segera membuka akun email miliknya dan dia terkejut saat melihat notifikasi email baru yang berasal dari website SwitchYourHome yang kemarin baru saja dikunjunginya.
"Oh, aku sudah mendapatkan respon. Secepat ini?" ujar Jungkook takjub.
Mata Jungkook bergerak menelusuri kalimat yang berada di email tersebut, "Hmm, congratulation, Mr. Jeon Jungkook. Our server already found a perfect person to switch your home with. Here is the information.." Jungkook menatap sebuah kalimat berisi informasi mengenai orang yang nantinya akan bertukar rumah dengannya.
Jungkook menaikkan sebelah alisnya, "Mr. Min Yoongi from Seoul? Oh, ada nomor ponselnya." Jungkook melirik ponselnya yang berada di sebelahnya, "Apa aku harus menghubunginya?"
Jungkook menatap ponselnya dengan ragu hingga dua menit kemudian dia meraih ponselnya, "Yah, kurasa tidak ada salahnya kalau aku menghubunginya lebih dulu, kan?"
Jungkook menekan-nekan layar ponselnya dan memasukkan nomor Mr. Min Yoongi kemudian menekan tanda 'Call'. Jungkook menggigit bibirnya gugup saat mendengar nada sambung yang menghubungkan panggilannya dengan Mr. Min Yoongi.
Trek
"Hallo?"
"Hai, aku Jeon Jungkook." sapa Jungkook saat akhirnya panggilannya diangkat.
.
.
.
.
.
.
.
"Hyung, bagaimana keadaanmu? Sudah jauh lebih baik karena sudah tidur di rumah, kan?"
Yoongi melirik Taehyung dengan malas, "Hn.."
"Aish, apa-apaan reaksimu itu? Seharusnya kau berterima kasih karena idol seperti diriku mau memperhatikanmu. Kau tahu? Seluruh wanita di Korea mendambakan perhatianku!"
Yoongi memutar bola matanya, "Ya, ya. Terserah."
Taehyung menarik sebuah kursi dan duduk di dekat Yoongi yang sedang sibuk bekerja. "Hyung, apa kau sudah menuruti saranku untuk mencari suasana baru? Bagaimana menurutmu? Saranku bagus, kan? Aku jenius, kan?" ujar Taehyung dengan mata berbinar.
Yoongi menatap Taehyung sinis, "Berhentilah menunjukkan tatapan berbinar seperti itu, Kim Taehyung. Kau membuatku mual."
Taehyung mendengus, "Enak saja! Ini aegyo, tahu! Aegyo!"
"Ya, ya. Aegyo." Yoongi menyahut acuh dengan tangan yang tetap sibuk menyelesaikan lagu.
Drrt Drrt Drrt
Taehyung menoleh ke arah ponsel Yoongi yang bergetar, "Hyung, ponselmu."
Yoongi melirik ke arah ponselnya, "Dari siapa?"
Taehyung mengintip ke layar ponsel Yoongi, "Entahlah, kau tidak menyimpan nomornya."
"Kalau begitu biarkan saja."
"Hei! Mana bisa begitu, Hyung!"
Yoongi memutar bola matanya malas, "Tentu saja bisa. Itu hakku sebagai si pemilik nomor, kan?"
"Aish, kau jahat sekali. Seharusnya kau tetap menjawab panggilan itu!" Taehyung meraih ponsel Yoongi dan mengangkat panggilan itu kemudian merubah modenya ke loudspeaker.
Yoongi mendelik ke arah Taehyung tapi karena Taehyung terus memberi isyarat untuk bicara, Yoongi menghela napas pasrah dan membuka mulutnya. "Hallo?"
"Hai, aku Jeon Jungkook."
"Maaf, siapa?" tanya Yoongi.
"Uhm, aku mendapatkan notifikasi kalau aku akan bertukar rumah denganmu. Boleh aku tahu dimana rumahmu?"
"Rumahku di apartemen, salah satu unit apartemen di Gangnam."
"Ah, benarkah? Rumahku ada di desa di provinsi Gangwon. Apa kau tidak keberatan?"
"Bukan masalah, aku hanya ingin keluar dari sini untuk sementara."
Yoongi melirik Taehyung yang menatapnya dengan kerutan di dahi tapi dia mengacuhkannya. "Kapan kau ada waktu untuk membahas ini?"
"Ah, maafkan aku, aku tidak bisa pergi meninggalkan Gangwon dalam waktu dekat. Bagaimana jika kita berkomunikasi lewat ponsel terlebih dahulu? Nanti akan aku kabari jika aku ada waktu untuk bertemu denganmu."
"Sure, just keep me posted."
"Absolutely."
"Well, kurasa aku harus kembali bekerja. Senang berkenalan denganmu, Jeon Jungkook-ssi."
"Oh ya, begitupun denganku, Min Yoongi-ssi."
Yoongi menjauhkan ponselnya setelah Jungkook memutus panggilan teleponnya.
"Siapa dia?" tanya Taehyung.
"Aku menurutimu untuk mencari suasana baru dan orang tadi adalah orang yang akan bertukar rumah denganku."
"Bertukar rumah?" tanya Taehyung bingung.
"Sudahlah, sebaiknya kau keluar dari studioku dan jangan ganggu aku. Aku memiliki banyak pekerjaan yang harus dibereskan sebelum kabur dari Seoul."
"Hyung, aku tidak mengerti."
"Itu karena kau bodoh." Yoongi berujar sadis seraya mengibaskan tangannya mengusir Taehyung.
"Hyung!" ujar Taehyung tidak terima.
"Aish, cepat keluar Kim Taehyung. Aku sibuk."
Taehyung mendengus keras kemudian dia berdiri dan berjalan keluar dari studio milik Yoongi.
Yoongi menghela napas pelan dan kembali melanjutkan pekerjaannya, "Gangwon ya? Sepertinya tidak buruk juga."
.
.
.
.
.
.
.
_Gangwon, South Korea_
Jungkook meletakkan ponselnya kembali di meja setelah dia selesai menghubungi Yoongi. Dia tersenyum puas kemudian menatap ke sekeliling ruangan.
"Kurasa aku harus membereskan beberapa hal sebelum aku bertukar rumah dengannya." Jungkook berdiri dari posisinya dan mulai merapikan rak bukunya yang berantakan.
"Hmm, Seoul ya? Kurasa ini akan menjadi sangat menyenangkan." Jungkook tertawa senang dan kembali sibuk membereskan rumahnya.
To Be Continued
.
.
.
.
Huft, akhirnya!
Haah, aku sudah memikirkan untuk menulis cerita ini sejak dua-tiga minggu lalu dan akhirnya bisa terlaksana juga.
Duh kadang aku suka kesal sendiri dengan inspirasi yang terus muncul disaat otakku memerintahkan untuk tetap mengerjakan tugas kuliah. Haaah T-T
Dan soal film itu, aku masih agak bingung sih judulnya apa. Tapi ada beberapa reader yang bilang judulnya 'The Holiday' jadi ya anggap saja ini memang terinspirasi dari sana. Hehe ^^v
Habisnya aku benar-benar lupa judul filmya apa. Hahaha
Aku juga bingung kenapa tiba-tiba terlintas ide untuk membuat cerita yang terinspirasi dari film yang bahkan aku lupa judulnya, tokohnya, dan jalan ceritanya. Yang aku ingat cuma masalah 'tukar rumah' itu. Hahaha
Yah, mungkin otakku memang aneh, tiba-tiba saja dia menemukan inspirasi dari sisa-sisa ingatan lama yang mungkin sudah berdebu di dalam kepalaku. Huahahaha
Oke! Semoga kalian suka dengan chapter pertama ini.
Dan lagi-lagi, maaf karena aku sendiri tidak bisa memastikan kapan aku akan update chapter berikutnya. Kuliahku benar-benar tidak bisa ditinggal. Huhuhu T^T
.
.
.
.
Review? :D
.
.
.
Thanks
