Title : IN MY DREAM

Author : V.D_Cho

Cast : Siwon, Kyuhyun, dan masih banyak lagi.

Genre : Fantasy, Horror, Romance

Length : 2/ 4

Rate : T+

Warning : as usual as you see in the other fanficts ^^

Summary : Aku tidak pernah suka mendengar suara keributan. Apa lagi jika kedua orang tuaku sudah bertengkar. Kalau sudah begitu, aku akan lebih memilih untuk mengurung diri dikamar dan tidur agar tak mendengar apapun. Tapi, yang jadi masalah sekarang adalah aku tidak bisa bangun dari tidurku…

Part 2 : HELPING ME BACK

.

.

.

Aku ingin kembali. Dunia ini bahkan tidak lebih aman dibandingkan duniaku yang sebenarnya.

.

.

.

Karena aku yang tak kunjung bergerak, Kyuhyun dengan sigap menarik tanganku dan membawaku ke lantai 2, tepatnya masuk kekamarku yang bernuansa gothick itu.

"jangan pernah mengabaikan perintahku." Ujarnya dingin.

"aku tidak mengabaikanmu. Memang tak ada siapa-siapa disana. Dan lagi, aku bosan terus menerus berada dikamar ini."

"kau tahu, kalau aku tidak cepat, mungkin kepalamu sudah menggelinding dilantai."

"a-apa?"

Oh, astaga! Ini bahkan lebih buruk. Aku tidak tahu Kyuhyun hanya bermain-main atau jujur. Yang jelas, kalau sampai kepalaku menggelinding dilantai… astaga, aku tidak bisa membayangkannya.

"diam disini, dan jangan keluar sebelum aku panggil."

Apa yang sebenarnya sedang terjadi padaku? Aku tidak pernah melakukan ritual apapun sebelumnya ataupun menerima kutukan dari orang lain. Dari sekian banyak manusia didunia ini, kenapa harus aku yang terjebak disini?

Aku mengedarkan pandangan keseluruh sudut kamar. Walaupun didominasi oleh warna hitam, tapi kamar ini tidak memberikan kesan mengerikan bahkan lebih terkesan nyaman. Aku menatap lurus pada tirai berwarna hitam dengan motif kartu bridge yang menjadi penutup jendela kamarku, yang kata Kyuhyun tidak boleh dibuka. Sebersit rasa penasaran menghinggapiku. Kira-kira, apa yang bisa terjadi jika aku membuka tirai itu?

Akhirnya, perlahan aku berjalan menuju kearah tirai dan mulai membuka tirai tersebut. tepat setelah seluruh tirai terbuka, detak jantungku serasa terhenti akibat puluhan pasang mata berwarna hitam kelam yang entah bagaimana bisa menempel pada kaca jendela kamar. Mata-mata itu memandang penuh rasa amarah padaku, kemudian tirai kembali menutup dengan cepat. Siapa yang menutupnya? Itu Kyuhyun.

.

.

.

Kyuhyun bilang dia akan membantuku. Aku akan segera keluar dari sini.

.

.

.

"kenapa kau selalu mengabaikan perintahku?!" bentak Kyuhyun.

"aku…"

"hh~ sudahlah. Besok kau harus ikut denganku kesuatu tempat. Dan untuk malam ini, kau tidur dikamarku." Ujarnya.

"lalu kau?"

"dikamarku juga tentu saja."

"jadi?"

"kau disofa, dan aku diranjang."

"kukira kita akan seranjang…" kataku dengan nada kecewa yang dibuat-buat.

"jangan coba-coba Siwon." Desisnya.

.

.

.

Sofa bed ini nyaman, hanya saja kurang panjang untuk tubuh tinggiku. Kyuhyun kulihat masih tetap mengenakan kacamata hitamnya walaupun dirinya sudah berbaring diatas ranjangnya.

"eung… Kyuhyun, bukankah sebaiknya kau-" seolah tahu apa yang ingin kukatakan, Kyuhyun langsung memotong perkataanku.

"tidak. Aku tidak pernah melepaskan kacamataku kecuali ketika aku mandi."

"kenapa?"

"mereka akan melihat."

"kenapa kau bersikap sok misterius padaku?"

"lebih baik kau hanya mengetahui sedikit daripada tidak sama sekali."

"tapi aku bahkan tidak mengetahui apapun, Kyuhyun."

"bagus. Sekarang, tidurlah. Jangan banyak tanya lagi."

"tapi…"

"kau ingin aku membantumu bukan?"

"iya."

"kalau begitu, tidurlah! Pukul 3 dini hari nanti kita sudah harus berangkat."

"apa? Pagi sekali…" protesku.

"jangan protes dan tidur sekarang."

"apa kacamatamu tidak patah jika kau bawa tidur seperti itu?" tanyaku iseng. Jujur, aku belum mengantuk.

"Siwon, tidur!"

"tapi aku belum…"

"tidur, atau aku tidak akan membantumu." Ancam Kyuhyun.

"baik. Tapi…"

"Siwon…" desis Kyuhyun.

"baik, baik, aku tidur."

Dan perlahan, aku mulai memejamkan mataku. Mencoba untuk memasuki mimpi di alam mimpi ini.

.

.

.

Aku kembali ke pohon oak tempat terdamparku. Tapi sepertinya ini tak akan mudah. Kalau awalnya saat aku tiba pertamakali disini aku hanya diabaikan, sekarang, semua manusia bermata hitam itu ingin membunuhku dan Kyuhyun!

.

.

.

Kyuhyun membangunkanku yang rasanya baru tidur beberapa menit dan melemparkan satu set pakaian padaku yang masih dalam posisi duduk dan setengah sadar.

"keluarlah. Aku ingin berganti pakaian." Ujarnya. Saat itu barulah aku sadar, kalau Kyuhyun saat ini hanya mengenakan sehelai handuk berwarna biru tua untuk menutupi tubuhnya dan jangan melupakan kacamata hitamnya. Rambutnya digulung keatas sedemikian rupa membuat lehernya terekspos jelas.

Kuakui Kyuhyun terlihat sangat indah sekarang. Tapi ini bukan waktunya untuk memikirkan hal seperti itu. Kyuhyun mengikuti dari belakang saat aku berjalan menuju pintu kamarnya. Sesaat sebelum pintu ditutup, aku mendapatkan sebuah ide jahil diotakku. Kutarik ujung handuk yang dikenakan Kyuhyun dan tepat saat pintu tertutup, seluruh handuk itu sudah berada ditanganku. Tenang saja, aku tidak melihat apa-apa. Kalaupun terlihat, juga tidak apa-apa. Hahaha…

Ku ketuk pintu kamar Kyuhyun yang langsung dibuka dengan cepat oleh pemiliknya. Kyuhyun bersembunyi dibalik pintu kamarnya yang hanya terbuka beberapa senti saja.

"apa kau kehilangan sesuatu?" tanyaku sambil menyeringai. Kyuhyun langsung menyambar handuknya yang berada ditanganku.

"terimakasih!" kemudian dia membanting pintu dihadapanku. Seketika tawaku pecah. Wajah kesalnya sangat lucu.

.

.

.

Sudah kukatakan kalau ini adalah dunia mimpi. Logika tidak berlaku sebagaimana mestinya disini. -Kyuhyun-

.

.

.

Aku merasa familiar dengan jalanan yang tengah kulalui bersama dengan Kyuhyun. Sebelum keluar apartemen, Kyuhyun juga memberikanku sebuah kacamata hitam yang jika dipakai maka semua yang kau lihat akan berwarna hitam saking gelapnya kacamata itu.

"Siwon, kau bisa melakukan bela diri?" tanyanya.

"bisa. Aku memegang sabuk hitam taekwondo. Ada apa?"

"bagus, karena itu sangat dibutuhkan saat ini."

Aneh, memangnya ada apa?

"dalam hitungan ketiga, kita lari. Lari sekencang-kencangnya."

"eh? Tunggu-"

"3!" Kyuhyun menarik tanganku dan entah darimana kulihat Kyuhyun sudah memegang sebuah samurai ditangannya.

"Kyuhyun, sejak kapan kau membawa samurai itu?"

"aku baru saja mengeluarkannya dari tasku."

"mana mungkin! Tasmu itu kecil sekali untuk samurai sepanjang itu."

"Sudah kukatakan kalau ini adalah dunia mimpi. Logika tidak berlaku sebagaimana mestinya disini."

Langkah kami terhenti saat kami tiba di pohon oak tempatku terdampar beberapa waktu lalu. Aku awalnya bingung. Tapi rasa bingung itu seketika berubah menjadi waspada saat kami dikepung oleh banyak manusia bermata hitam yang sampai sekarang pun aku tak tahu apa namanya.

"kita sudah dikepung oleh Soul Eater. Bersiaplah, kita akan berperang."

"kau bercanda? Kita hanya berdua dan mereka ada banyak sekali jumlahnya."

"kita berdua saja sudah cukup. Kau mau kembalikan? Kalau begitu kalahkan mereka."

Kyuhyun mulai menyerang satu per satu Soul Eater tersebut. tak mau kalah dengan wanita, aku juga bergerak untuk membantu Kyuhyun. Sialnya, jumlah mereka lebih banyak dari yang kuperkirakan. Mereka terus bergerak bagaikan mayat hidup dan menyerang kami silih berganti.

"Kyuhyun, sebenarnya mereka ini apa?"

"kau masih sempat bertanya hal seperti itu disaat seperti ini Siwon?" balas Kyuhyun dari arah seberang. Kami terpisah dengan jarak yang cukup jauh.

"jawab saja."

"mereka Soul Eater. Mereka adalah makhluk pemakan jiwa manusia. Dan sekarang mereka sedang mengincar jiwamu."

"untuk apa?"

"untuk memiliki tubuhmu yang berada didunia nyata sana. Mereka bisa hidup dengan cara memakan jiwa korbannya. Kalau kau mati disini, maka tubuhmu disana akan menjadi milik salah satu dari mereka."

"berhati-hatilah!" lanjut Kyuhyun.

Baru saja aku ingin membalas, tubuhku sudah terlebih dahulu dihantam oleh salah satu Soul Eater yang menyerangku sehingga membuatku terlempar cukup jauh dan menghantam batang pohon oak dibelakangku.

"ugh!" rintihku.

"Siwon!" pekik Kyuhyun.

Kyuhyun berlari kearahku. Tapi, dia juga terkena pukulan sehingga kacamatanya terlepas. Dan disanalah aku menyadari bahwa Kyuhyun tidak bermata hitam kelam seperti mereka. Tapi tidak juga sepertiku. Matanya berwarna perak mengkilat. Kyuhyun bangkit dan terus berlari kearahku. Saat dia sudah sampai ditempatku, dia tersenyum lembut kepadaku kemudian menciumku tepat dibibir. Saat itu aku merasakan kalau tubuhku meringan dan pandanganku mengabur.

"kembalilah Siwon. Tempatmu bukan disini. Aku tidak mau kau berakhir sepertiku. Selamat tinggal."

Itulah perkataan terakhir Kyuhyun yang bisa kudengar sebelum semuanya menggelap.

.

.

.

Aku berhasil kembali. Dan ternyata aku selama ini berada dirumah sakit dalam keadaan koma.

.

.

.

Perlahan aku mulai membuka mataku dan berusaha untuk menyesuaikan retinaku dengan cahaya putih yang masuk. Sedikit demi sedikit semuanya mulai jelas. Mulai dari seorang dokter dan dua orang suster yang tengah mengecek kondisiku, kedua orang tuaku, juga sepupuku yang tinggal bersamaku, Donghae.

"akhirnya kau sadar juga, Siwon."

"ya. aku sadar." Kataku menimpali perkataan Donghae.

"ini adalah sebuah mukjizat. Semuanya stabil. Dia sudah kembali sehat tuan dan nyonya Choi." Ujar sang dokter. Ibu berjalan kearahku dan memelukku.

"maaf kan ibu Siwonnie. Jangan tinggalkan ibu lagi, ya?"

"hahaha… eomma, aku baik-baik saja sekarang. Aku tidak akan meninggalkan kalian lagi, asal kalian tidak bertengkar lagi."

"baik." Kali ini ayah yang menjawab. Aku tersenyum bahagia begitupun dengan yang lain.

"terimakasih Kyuhyun. Terimakasih."

.

.

.

Kau kira ini sudah berakhir? Belum. Ini belum berakhir. Malah semakin memburuk.

.

.

.

Terhitung sudah seminggu aku keluar dari rumah sakit. Sekarang aku sedang berada di kafetaria kampus. Sejak aku keluar dari rumah sakit, teror mimpi buruk selalu menggangguku. Aku bahkan terserang insomnia karenanya. Setiap malam aku pasti selalu bermimpi tentang para Soul Eater bermata hitam yang ingin membunuhku, atau tentang Kyuhyun yang terbunuh dengan mengenaskan atau sejenisnya.

Membicarakan tentang Kyuhyun, aku penasaran dengan keadaannya sekarang dan siapa dia sebenarnya. Aku juga belum mengucapkan terimakasih padanya. Tapi setidaknya, aku masih bisa merasakan bibirnya yang sempat menciumku walau hanya sebentar.

Setiap kali aku teringat tentang Kyuhyun, konsentrasiku pasti akan kacau. Dan itulah yang terjadi saat ini. Dan kebetulan jadwalku sedang kosong hari ini. Jadi kuputuskan untuk pulang dan beristirahat.

.

.

.

Aku tiba dirumah, dan rumahku sedang dalam keadaan kosong karena semua penghuninya sedang berada diluar mengurusi urusan mereka masing-masing. Kubaringkan tubuhku diatas ranjang dan mulai menutup mata. Tapi baru beberapa menit mataku terpejam, mimpi buruk itu datang lagi dan membuatku terbangun.

Kali ini aku bermimpi tentang Kyuhyun yang meminta pertolongan padaku dan perlahan mata Kyuhyun berubah menghitam seperti para Soul Eater. Apa aku harus menolongnya? Tapi bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tahu dimana keberadaannya.

"kenapa manusia selalu berpikiran rumit. Kalau aku tidak tahu, maka aku akan mencari tahu." Kata seseorang yang kurasa berada disekitarku karena suaranya jelas sekali, hanya saja aku idak bisa melihat wujudnya.

"siapa disana?"

"aku adalah penjaga gerbang mimpi."

"tunjukkan wujudmu."

"tidak bisa, kecuali kau sedang bermimpi." Balas suara tersebut.

"apa maumu?"

"saat ini digerbang antara dunia mimpi dan dunia nyata, para Soul Eater tengah berkumpul. Semua itu akibat kedatanganmu yang tak disengaja beberapa waktu lalu."

"lalu? Kenapa kau menyalahkanku? Aku sendiri bahkan tidak tahu bagaimana caranya aku bisa terdampar disana."

"Kyuhyun membutuhkanmu. Kau harus segera menolongnya."

"bagaiamana caranya?"

"temukan dia."

"kau gila? Korea… tidak, Seoul ini luas."

"di dunia mimpi, logika tidak berlaku sebagaimana mestinya. Selamat berjuang Siwon."

"hei, tunggu! Kau masih disini, penjaga?"

Tapi hening, tak ada jawaban dari penjaga gerbang mimpi itu. Di dunia mimpi, logika tidak berlaku sebagaimana mestinya. Apa maksudnya aku harus mencari Kyuhyun di dunia mimpi?

.

.

.

Mulai hari itu, setiap ada waktu untuk tidur, maka aku akan berusaha untuk tertidur dan mencari Kyuhyun disaat aku sedang bermimpi.

.

.

.

Aku tidak bisa berhenti. Semakin lama, keinginanku untuk menemukan Kyuhyun mulai berubah menjadi sebuah obsesi. Aku tidak lagi memikirkan tentang kepentinganku didunia nyata, yang aku tahu hanya mencari dan mencari.

Entah kenapa, setiap kali aku hampir menemukan petunjuk besar, petunjuk itu hilang begitu saja dan membuatku nyaris putus asa. Tapi aku juga tidak bisa berhenti begitu saja.

Kyuhyun saat ini adalah prioritas utamaku. Dan aku harus menemukannya.

.

.

.

Teror-teror itu semakin gencar terjadi padaku. Tapi, aku merasa kalau ada seseorang atau sesuatu yang berusaha melindungiku.

.

.

.

PRANGG…

Untuk yang kesekian kalinya aku selamat dari percobaan pembunuhan yang dilakukan entah oleh siapa. Kali ini sebuah pot bunga dijatuhkan dari atas lantai 2 kampusku dengan sasarannya adalah aku. Tapi, sebelum pot itu mengenaiku, aku merasa seperti ada seseorang yang mendorongku untuk menghindar.

Aku tidak terlalu mempedulikan tatapan kaget dari orang lain yang melihat kearahku. Yang aku pedulikan adalah sesosok perempuan yang memanduku hingga sampai ke lokasi yang seharusnya menjadi tempat kecelakaanku barusan.

Perempuan bergaun merah menyala itu menghilang dibelokan koridor kampus dan aku harus segera mengejarnya sebelum aku kehilangan jejaknya. Dan benar saja, aku kehilangan perempuan itu dan malah berhenti didepan sebuah ruangan yang memang sudah ditutup sejak bertahun-tahun yang lalu. Semacam gudang, hanya saja tak terawat.

Saat aku hendak berbalik, aku mendengar suara senandung dari dalam ruangan tersebut. aku menoleh kearah kiri dan kanan, sepi. Tentu saja, ini sudah hampir jam 6 sore dan nyaris tak ada satu mahasiswapun yang berkeliaran di kampus, terutama didaerah ini.

Akhirnya aku memilih untuk menjauh dari tempat itu. tapi tepat saat aku berbalik, perempuan bergaun merah itu sudah berada dihadapanku. Bahkan jarak wajah kami hanya berkisar 5 senti lagi!

Dari jarak sedekat itu, aku mampu melihat wajahnya yang hancur seperti habis di sayat oleh sesuatu dan aku juga menyadari, bahwa warna merah digaunnya bukanlah warna asli dari kain yang dikenakannya melainkan karena darahnya yang terus menerus mengalir dari luka besar yang terbuka lebar pada bagian lehernya. Jujur saja, aku ingin pingsan saat ini.

"Siwon…" suara perempuan itu nyaris seperti hembusan angin saking pelannya. Tapi aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.

"apa maumu?" aku memberanikan diri untuk bertanya sembari melangkah mundur untuk menciptakan jarak aman antara aku dengan si gaun merah tersebut.

"Kyuhyun…"

Dan seketika itu pula aku merasa kalau pandanganku menggelap. Aku tak sadarkan diri.

.

.

.

Gelap. Hanya gelap tanpa ada satupun titik cahaya.

.

.

.

Saat aku sadar, aku sudah berada disalah satu ranjang rumah sakit. Aku mencoba untuk merubah posisiku menjadi duduk. Kepalaku terasa sangat pusing dan hal terakhir yang aku ingat adalah saat si gaun merah menyebutkan nama Kyuhyun.

"anda sudah siuman, tuan? Bagaimana perasaan anda?" tanya seorang suster.

"aku baik. Hanya sedikit pusing. Siapa yang membawaku kemari?"

"tadi ada seorang pria yang membawa anda kemari dia juga sempat menunggui anda disini, tapi sepertinya dia sudah pergi."

"apa dia memberitahukan namanya?"

"maaf tuan, dia tidak mengatakan apa pun."

"baik. Apa aku masih harus diperiksa?"

"iya tuan. Untuk memastikan kondisi anda. Kalau hasilnya anda baik-baik saja, anda bisa pulang hari ini juga."

"baiklah. Terimakasih suster."

.

.

.

Aku dinyatakan sehat dan diperbolehkan untuk pulang. Semua administrasiku juga sudah ditangani oleh penolong misteriusku.

Aku terus berjalan melewati lorong rumah sakit menuju pintu keluar. Tapi saat aku melewati salah satu kamar rawat, ada perasaan lain yang menghinggapiku. Jadi kuputuskan untuk mundur dan mengintip sedikit keadaan kamar rawat bernomor 0302 tersebut dari jendela kecil yang terdapat dipintunya.

Aku menemukannya!

.

.

.

Aku menemukan Kyuhyun!

.

.

.

Aku berhasil mengumpulkan beberapa informasi dari beberapa perawat yang kutemui.

Ternyata Kyuhyun sudah berada dirumah sakit ini hampir satu tahun lamanya. Tak ada yang tahu apa penyebabnya sehingga dia bisa mengalami koma seperti saat ini. Semua aktifitas tubuhnya normal, hanya saja dia koma.

Salah seorang suster mengatakan, bahwa setiap 2 hari sekali, seorang pria akan datang menjenguk Kyuhyun. Para suster yang biasanya penjaga Kyuhyun juga kurang mengetahui dengan jelas seperti apa rupa pria itu karena dia selalu mengenakan masker untuk menutupi wajahnya.

Tapi yang jelas pria itu masih muda, dan para suster tersebut mengira kalau pria tersebut adalah kekasih Kyuhyun.

Aku sempat berpikir, apa mungkin Kyuhyun mengalami hal yang sama sepertiku? Dia terjebak didalam dunia mimpi dan tidak bisa kembali sehingga berakhir seperti ini.

Saat ini aku benar-benar sangat ingin tertidur dan bertemu dengan Kyuhyun. Tapi, ngomong-ngomong, wanita bergaun merah darah itu tidak mengikutiku. Apa maksudnya dengan 'Kyuhyun' ? dia menginginkan tubuh Kyuhyun?

Ya tuhan, apa tidak ada maslaah yang lebih rumit dari ini? Kenapa harus aku?

.

.

.

Sepertinya Tuhan mendengarkan perkataanku, dan membuat masalahnya menjadi semakin rumit. Nice….

.

.

.

Suster Nam mengatakan kalau hari ini adalah jadwal kunjungan pria yang diduga kekasih Kyuhyun itu. jadi, aku memutuskan untuk datang kerumah sakit dan mengamati kamar tempat Kyuhyun dirawat.

Tepat jam 10 pagi, seorang pria berpakaian kasual dengan masker hitam memasuki kamar Kyuhyun dengan sebuket bunga krisan ditangannya. Pria itu terus berada didalam kurang lebih selama setengah jam, kemudian pergi setelahnya sembari berbicara di telepon dengan seseorang.

Setelah memastikan bahwa pria itu sudah benar-benar pergi, aku pun memasuki kamar Kyuhyun. Perlahan aku berjalan mendekati ranjang Kyuhyun dan duduk dikursi yang sudah disediakan tepat disebelahnya.

Kyuhyun memang cantik. Tapi di sini, wajahnya terlihat sangat pucat. Kugenggam tangan Kyuhyun yang terasa agak dingin.

"hai, ini aku Siwon. Kau masih mengingatku? Apa kau bisa mendengarku?" aku mulai bermonolog dengan Kyuhyun yang tengah terbaring koma.

"…"

"aku ingin bertemu denganmu. Kata si penjaga gerbang kau membutuhkan bantuanku."

"…"

"tapi kau sendiri tahu kalau untukku, mencarimu di alam yang sama sekali tidak kuketahui bukanlah perkara mudah."

"…"

"biar bagaimanapun, aku senang karena bisa menemukanmu disini. Aku berjanji akan terus berusaha untuk menemukanmu."

"…"

"aku-"

"maaf, anda siapa?" perkataanku terpotong oleh suara pria dari arah belakangku. Refleks aku melepaskan genggaman tanganku dari tangan Kyuhyun dan menoleh kebelakang. Si pria bermasker itu kembali lagi ternyata.

"namaku Siwon. Aku… teman Kyuhyun?" jawabku ragu. Pria itu tampak mengerutkan dahinya.

"aku baru mendengar namamu." Balasnya. Aku mengusap tengkukku kikuk. Aish… bagaimana caraku menjelaskannya?

"aku ini teman yang baru saja ditemuinya beberapa waktu yang lalu dengan cara yang tidak bisa kau bayangkan dengan akal sehat." Jelasku sebisanya.

Dia menatapku curiga, kemudian dia melepaskan maskernya dan berjalan mendekatiku. Aku mulai memasang sikap waspada, siapa tahu dia mau berbuat macam-macam padaku.

Pria itu mengulurkan tangannya padaku.

"Kibum. Aku kakaknya Kyuhyun." Ujarnya. Aku membalas uluran tangannya.

"Siwon." Setelah itu dia melepaskan jabatan tangannya.

"duduklah."

"apa hubunganmu dengan Kyuhyun?" tanya Kibum.

"seperti yang sudah kukatakan, aku dan Kyuhyun adalah teman."

"kau juga bertemu dengannya di dalam mimpi?"

"eh? Iya, secara tak sengaja."

"kalau begitu bisa aku meminta bantuanmu, Siwon?"

"ha?"

"tolong bawa Kyuhyun kembali." Ujar Kibum.

'Kenapa semua orang meminta bantuan kepadaku menyangkut Kyuhyun?!' rutukku frustasi dalam hati.

"aku akan membantumu." Lanjut Kibum.

'bantuan?' gumamku dalam hati.

"baiklah." Jawabku.

.

.

.

Sebuah telepon misterius yang datang dengan mengatasnamakan Kyuhyun.

.

.

.

Hari ini jadwal kuliahku sedang kosong dan aku memutuskan untuk menjenguk Kyuhyun dirumah sakit. Tapi saat sedang dalam perjalanan, ponselku berdering dan dilayarnya tertera nomor yang tak dikenal. Aku menepikan mobilku dan menjawab panggilan tersebut.

"ya?"

"ini aku Kyuhyun." Kata suara diseberang line. Aku terdiam beberapa saat.

"Kyuhyun?"

"iya. Kyuhyun."

"jangan bercanda. Kyuhyun sedang koma. Kalaupun ini benar dirimu Kyuhyun, tidak mungkin kau bisa meneleponku dari alam mimpi sana. Kecuali kalau kau sudah sadar dari komamu."

"aku benar-benar Kyuhyun!"

Suaranya memang mirip seperti suara Kyuhyun. Tapi…

"sudahlah. Jangan bercanda. Aku tutup teleponnya sekarang." Tapi, sesaat sebelum aku memutuskan sambungan, seseorang disana yang mengaku-ngaku sebagai Kyuhyun menahanku.

"tunggu!"

"apa lagi?" ujarku malas.

"Kyuhyun sekarat. Kau harus cepat… Siwon."

'Apa lagi ini?' pikirkku.

Tak lama kemudian, aku tersentak karena mendengar suara tawa mengerikan dari ponselku. Dan aku teringat bahwa sambungannya belum kuputuskan. Buru-buru aku memutuskan sambungan telepon tersebut dan melaju menuju ke rumah sakit. Perasaanku tentang Kyuhyun sangat tidak baik sekarang.

.

.

.

Aku langsung bergerak menuju ke kamar rawat Kyuhyun setibanya dirumah sakit. Saat aku masuk, kulihat Kibum sudah berdiri disamping ranjang Kyuhyun. Ini bukanlah jadwalnya untuk menjenguk Kyuhyun, seharusnya besok dia baru datang.

"selamat pagi, Kibum." Sapaku. Kibum hanya berbalik sebentar, menatapku dengan tatapan tajam menusuk nan dinginnya, kemudian kembali terfokus pada Kyuhyun.

"ada apa, Kibum? Bukankah seharusnya kau baru menjenguk Kyuhyun besok?" tanyaku.

"pihak rumah sakit menghubungiku tadi." Ujar Kibum. Aku diam mendengarkan kelanjutan perkataan Kibum.

"mereka bilang…"

"… jantung Kyuhyun sempat berhenti berdetak selama beberapa menit." Lanjut Kibum yang membuatku terkejut.

"benarkah? Lalu bagaimana keadaannya sekarang?"

"dia sudah baik-baik saja. Apa kau sudah berhasil bertemu dengannya?"

"belum. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi mencarinya." Keluhku.

Aku berkata jujur. Ibu dan ayahku sampai menceramahiku karena kebiasaan baruku, yaitu tidur secara berlebihan. Aku selalu memilih untuk tidur dari pada mengurusi hal yang tidak penting demi mencari Kyuhyun. Dan setiap kali aku bermimpi, aku selalu merasa ada hal aneh, seperti ada sesuatu yang mengikutiku. Tapi entah apa.

"terimakasih, Siwon. Aku menghargai bantuanmu."

"sama-sama. Aku mau melakukannya karena Kyuhyun juga pernah membantuku sebelumnya." Ujarku tulus.

Setelah cukup lama berbincang dengan Kibum, yang ternyata walaupun bertampang dingin tetapi bawel, aku memutuskan untuk naik keatas atap rumah sakit untuk melihat-lihat pemandangan dari sana.

"Siwon…" aku memutar tubuhku kebelakang saat mendengar ada suara yang memanggilku. Dan seketika itu pula tubuhku rasanya membeku saat mengetahui bahwa yang memanggilku itu ternyata adalah hantu wanita bergaun merah yang pernah membuatku tak sadarkan diri dikampus.

Wanita itu tersenyum mengerikan kearahku. Dari sudut-sudut bibirnya mengalir darah segar dan membasahi gaunnya. Luka dilehernya juga tampak semakin mengerikan.

"a-apa maumu?" tanyaku sambil perlahan-lahan berjalan mundur dan sesekali melirik kebelakang untuk memastikan bahwa aku masih berada dalam jarak aman dari pinggir atap rumah sakit. Atau, bisa dipastikan aku akan terjatuh dengan keadaan yang mengenaskan dari lantai 7 rumah sakit.

"hihihihihi~…"

"apa maumu?" tanyaku sekali lagi.

"hihihi~ Kyuhyun sekarat. Dia akan… MATI!" teriaknya.

Dan secara mengejutkan, wanita bergaun merah itu tiba-tiba menyerbu kearahku dan aku pun terdorong kebelakang. Hukum gravitasi mulai berlaku. Aku terjatuh dari lantai 7.

.

.

.

Sleep… sleep… dream… dream… tic…toc…tic…toc… time's moving… nobody can help you…

.

.

.

Aku membuka mataku perlahan dan bersiap untuk merasakan rasa sakit yang akan menghujam tubuhku setelah terjatuh dari lantai 7. Tapi anehnya, tak ada rasa sakit. Aku hanya pusing. Aku mengubah posisiku menjadi duduk. Perlahan aku mulai mengenali tempatku berada saat ini.

"Siwon, kita bertemu lagi." Sebuah suara yang sangat kukenal menyapa pendengaranku. Aku tersenyum saat melihat sosok sang pemilik suara.

"ya. kita akhirnya bertemu lagi, Kyuhyun…"

.

.

.

To Be Continued…

Author's Note : jjang jjang…. Ini part 2-nya… gimana? Bagus? Kurang panjang? Atau yang lainnya? Kalau iya, utarakan pendapat kalian lewat review-an kalian oke? See you at part 3 ^^

Review Reply:

Shin Min Young: iya, ini udah dilanjut. Kyuhyun itu apa? Kenapa Siwon bisa terdampar disana? Itu bakalan di ungkapkan di part selanjutnya. Review lagi, oke? ^^

Cassia Cinnamon: oke, ini udah dilanjut. Review lagi ne? ^^

Saya WonKyu Shipper: aku juga WKS, hahaha XD. Penasaran ya? ini next chap nya… review lagi, ne? ^^

Cho-I Eun-Ya: iya, Kyuhyun jadi cewek disini. Menurut chinggu gimana? Kyuhyunnya manusia juga apa bukan? Review lagi ya? ^^

Guest: hei, tell me you name… makasih buat review-nya. Review lagi ya? ^^

Meotmeot: kira-kira disini udah jelas belum kenapa Kyuhyun suka make kacamata item? Kalau belum, ikutin terus ya next part-nya. Mereka itu sedang berada didalam dunia mimpi. Review lagi ne?^^

Evil Kyu: ini pertanyaannya banyak banget… tapi tenang, bakalan djawab satu-satu kok. Iya, Siwonnya lagi mimpi. Mimpi apa? Mimpiin Kyuhyun. Kenapa membingungkan? Aku juga bingung. Siapa "mereka"? mereka itu Soul Eater. Sisanya udah dijawab semua di atas oke? Review lagi ne? kalau bisa reviewnya lebih panjang dari ini. Aku seneng ngebacanya. ^^

Drakyura: yoi, eonni… aku ngupdet FF baru dan ini part 2-nya. Tapi yang ini baca dulu baru di review ya… jangan ninggalin jejak doang. Review lagi ne? ^^

Thaks to all readers and silent readers. If you don't mind, review pleaseeeee…