you
kuroko no basuke {c} fujimaki tadatoshi
an; Saya memutuskan untuk menjadikan sebuah koleksi ficlet, anda bisa membacanya secara terpisah atau menjadi cerita bersambung yang simpel dan pendek. Saya suka sekali dengan kombinasi mereka!
Terima kasih banyak untuk review anda semua di chapter sebelumnya. Saya sangat senang dan menghargai apresiasi kalian semua!
.
.
.
{O}
1.
#pergi
karena setiap pertemuan pasti ada perpisahan.
"Aomine-kun lihat Imayoshi-san?"
Momoi melihat ke sekeliling, anak kelas tiga seperti lautan manusia disni. Tinggi tubuh yang tidak memadai, dan Aomine menjadi satu-satunya dimana Momoi bisa mendapat bantuan untuk mencari orang.
Aomine mengernyit dan menengok kanan-kiri, menemukan sesosok berkacamata yang tak disangka bisa meraih penghargaan nilai ujian tertinggi, menerima beberapa nasihat dari guru.
Ya, sekali lagi Aomine hanya tidak menyangka. Lelaki itu, kaptennya sekaligus orang yang tak bisa ditebak. Cara berpikirnya, kelakuannya, lalu maksimalnya penggunaan kecerdasan yang ia miliki. Aomine selalu kalah bermain poker dengan Imayoshi. Ralat, nermain game apapun kecuali basket.
"Tuh, di barisan paling depan." Aomine menunjuk arahnya, "Buruan, orang itu lagi populer sekarang, nanti dia keburu pergi,"
"Ah terima kasih! Aomine-kun pulang duluan saja, ya tidak usah menungguku lagi!"
Aomine heran.
Ada urusan apa Momoi mencari Imayoshi?
.
"Selamat ya Imayoshi-san untuk penghargaannya!"
Momoi merapatkan jasnya. Cuaca hari ini cerah tapi angin sebaliknya. Bekas-bekas musim dingin masih tersisa, ditambah upacara pelepasan siswa kelas tiga. Artinya, Imayoshi, Susa dan Wakamatsu... akan pergi.
Imayoshi tersenyum mendengar ucapan tulus manajer klub Touou. "Terima kasih, Momoi-san," dari semua ucapan selamat yang menghujaninya, Imayoshi tahu, ucapan Momoi yang paling ikhlas dan menyenangkan.
"Imayoshi-san mau lanjut kemana?"
Imayoshi membenarkan letak kacamatanya dan tersenyum. Raut wajah Momoi kecewa dan tidak rela. Dan Imayoshi suka. Suka karena berarti Momoi mengkhawatirkannya bukan yang lain, hanya Imayoshi.
"Ara..." Imayoshi terkekeh, "Aku diterima di Todai,"
"Hebatnya..." prediksi Momoi benar. Sekolah prestisius bukanlah masalah untuk Imayoshi. Tapi membayangkan dirinya sendiri yang harus bersaing dengan ratusan orang, ratusan ribu orang, hanya untuk masuk ke fakultas yang sama dengan Imayoshi, membayangkannya pun Momoi tak sanggup. Besok dia akan mencari les tambahan. Belajar lebih giat.
Supaya bisa masuk ke Todai juga.
Supaya bisa bersama Imayoshi lagi.
"Dan pasti Imayoshi-san sibuk," Momoi tertawa, tapi bukan berati ia bahagia, "Sibuk dan melupakan kami,"
Sangat menyedihkan apabila semua itu terjadi, Imayoshi melupakannya.
"Aku tidak akan melupakan kalian terutama Momoi-san," Imayoshi pintar untuk menyadari, membaca ekspresi, mendengar suara parau Momoi, Imayoshi tahu dan paham, tahu dan mengerti, "Aku akan sesekali main kesini,"
Justru Momoi-san yang akan selalu kuingat.
Karena dia juga sama. Sama seperti Momoi. Dia juga tidak mau berpisah tapi Imayoshi ada untuk masa depan. Imayoshi punya tujuan dan punya keinginan.
"Besok kalian sudah tidak ada disini lagi," ada kesedihan yang tersirat jelas, "Klub pasti sepi..."
"Nanti anak kelas satu yang baru masuk," Imayoshi menghibur, "Aku yakin Momoi-san memberi tes macam-macam pada mereka,"
"Tidak ada kapten seperti Imayoshi-san,"
"Pasti nanti ada anak kelas satu yang hebat. Aomine juga bisa menjadi kapten,"
"Tapi bukan Imayoshi-san,"
"Hmm?"
"Kalau bukan Imayoshi-san..." kalimat Momoi terhenti oleh jatuhnya airmata di pipinya sendiri. Oh tidak, kenapa ia tiba-tiba menangis? Bukannya bagus jika Imayoshi bisa diterima di universitas yang bagus seprti itu? Kenapa Momoi harus bersedih?
"Kenapa?"
Momoi menggeleng. Dia juga tidak tahu. Bisa-bisanya merusak hari pertama musim semi dengan cengeng seperti ini. Imayoshi buru-buru mengelap lelehan airmata Momoi dengan punggung tangannya,
"Kenapa menangis?" kenapa harus menangis?
Momoi terisak pelan,
"Aku hanya memikirkan nanti ...aku pasti akan sangat merindukan Imayoshi-san,"
Imayoshi terpaku. Momoi akan sangat merindukannya.
Mereka tidak tahu, Aomine mendengarkan keduanya diantara keramaian orang-orang dan mendengus kasar—jelas saja, dia tidak akan pulang tanpa Momoi.
