POLAR

.

.

a story by minseokmyass

www asianfanfics com/story/view/1016240/polar-mingyu-seventeen-meanie-wonwoo-meaniecouple

Disclaimer : I do not own this story. I got the permissions to translate and post the fic here.

Rate : T

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

and the others SVT members

Happy reading!


#2 Bestfriends


"Kenapa wajahmu memerah?"

.

.

Kejadian yang memalukan itu terulang kembali di ingatan Wonwoo selagi ia bergerak kesana-kemari di tempat tidurnya, tidak berhasil tidur dengan tenang. Ketua Kelas itu kehilangan ketenangannya, dan berteriak di bantalnya. Keadaan kamarnya gelap, dan satu-satunya hal yang bisa ia lihat dengan jelas adalah jam di sebelah tempat tidurnya. Jam 00:13. Wonwoo mengerang karena sadar ia hanya punya waktu 6 jam untuk tidur, Ia mencoba untuk tidur, ia benar-benar mencobanya. Tapi setiap kali ia menutup matanya, wajah Mingyu muncul.

Setelah kejadian 'itu', Mingyu bangun, dan melepas jas sekolahnya, memperlihatkan kemeja putih yang terlihat pas di tubuhnya. Wonwoo tetap diam di lantai, terkejut dan matanya terpaku pada yang lebih tinggi yang sejujurnya, cukup menyita perhatiannya. Akhirnya, Wonwoo kembali ke kesadarannya dan dengan cepat bangkit dari lantai. Mingyu terkekeh sambil melipat jasnya, dan menyampirkannya di bahu, merapikan rambutnya yang basah, dan dengan santai melanjutkan kegiatan membersihkan jendela mereka. Wonwoo bingung dengan seluruh situasinya, tapi ia juga melanjutkan pekerjaannya. Untuk setengah jam selanjutnya, mereka berdua tidak saling berbicara dan membersihkan jendela dalam keheningan. Wonwoo membersihkan dengan cukup cepat, berharap tugas ini akan segera selesai jadi ia bisa pulang ke rumah. Ketika mereka berdua sudah selesai, mereka mengembalikan peralatan yang sudah mereka gunakan, dan berpisah menuju rumah mereka masing-masing. Saat berpisah, mereka hanya bertukar satu atau dua kata,

"Dah." Wonwoo berkata dengan malu-malu, dan dengan cepat berjalan ke arah rumahnya.

"Hati-hati di jalan." Jawab Mingyu.

Wajah Wonwoo kembali memerah ketika mendengar itu, dan Wonwoo benar-benar bersyukur karena ia sedang memunggungi Mingyu.

Wonwoo mengacak rambutnya di tempat tidurnya karena rasa malu dan frustasi. Ia lalu menutup matanya, dan akhirnya tertidur saat jam menunjukkan pukul 00:20. Ketika alarmnya berbunyi pukul 6 pagi, ia dengan lelah menekan tombol "off", dan bersiap-siap ke sekolah seperti mayat hidup. Ketika ia sampai di sekolah, ia disadarkan oleh Jun.

"Ya! Ketua Kelas!" ucapnya sambil memukul punggung Wonwoo, dan mulai berjalan di sampingnya.

"Jangan sekarang. Ini masih terlalu pagi." Ucap Wonwoo dengan suara bangun tidurnya.

"Tidak ada kata 'terlalu pagi' dalam kamusku~" Jun berkata, sengaja ingin membuat jengkel sahabatnya.

Mereka berdua berjalan bersisian di gedung sekolah. Ketika mereka berbelok di koridor yang menuju kelas mereka, mereka menyadari kerumunan kecil di depan pintu kelas dan kerumunan itu saling berbisik satu sama lain. Tapi, sebenarnya tidak bisa dibilang berbisik karena setelah mendengarkan selama beberapa detik, Jun dan Wonwoo mengerti apa yang sedang menjadi bahan perbincangan. Mereka saling bertatapan, dan akhirnya mulai bergerak menerobos kerumunan dan masuk ke dalam kelas. Dan setelah mereka masuk, mereka bisa melihat apa yang tengah menjadi perbincangan kerumunan tadi. Di sebelah kiri bangku Wonwoo, bangku yang biasanya selalu kosong, kini terisi. Semua teman-teman sekelas mereka membicarakan tentang Mingyu, yang untuk pertama kalinya semenjak sekolah dimulai, hadir saat jam pelajaran pertama. Wonwoo bahkan terkejut, dan dengan perlahan berjalan ke arah bangkunya, mencoba tidak menimbulkan suara yang bisa membuat Mingyu berbalik. Menyadari apa yang sedang temannya coba lakukan, Junhui berteriak,

"KIM MINGYU~!"

Yang membuat seisi kelas terdiam. Semua bisikan-bisikan itu berhenti, dan Wonwoo juga membeku di posisinya, menatap Jun dengan kemarahan di matanya. Mingyu, yang sedang tertidur, dengan perlahan mengangkat kepalanya ke arah datangnya suara teriakan yang memanggil namanya. Junhui hanya tersenyum saat ia dan pembuat masalah di sekolahnya itu saling bertatapan. Mingyu menatap Jun, lalu menatap Wonwoo yang sedang membeku dengan posisi yang aneh, dan lalu kembali lagi melanjutkan tidurnya. Jun lalu berjalan ke arah Wonwoo, dan mendapatkan tinju dari Ketua Kelas itu.

"Ya! Kau pikir apa yang sudah kau lakukan?" Wonwoo bertanya dengan marah.

"Apa? Aku hanya bersemangat dan senang karena dia ada di kelas sepagi ini." Junhui mengatakan itu sambil memasang senyum jahil di wajahnya.

Wonwoo meninju tangan Jun sekali lagi, dan mereka menuju ke bangku mereka masing-masing. Wonwoo dengan canggung duduk di sebelah Mingyu yang sedang tertidur, dan mulai mengeluarkan bukunya. Ia melirik ke arah Mingyu yang sedang tertidur dengan tenang, lalu dengan cepat menggelengkan kepalanya saat ingatan tentang hari kemarin memenuhi kepalanya. Bisikan-bisikan di sekitarnya bertanya-tanya kenapa Mingyu ada di kelas sepagi ini, dan sebenarnya si Ketua Kelas-pun penasaran. Jadi, ia mengatakan sesuatu,

"U-uhm. Mingyu-ssi... K-kenapa kau masuk sepagi ini?" Wonwoo bertanya hati-hati, tergagap karena gugup.

Mingyu perlahan membuka matanya, dan menatap ke arah Wonwoo, tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya yang sempurna.

"Mingyu-ssi?" Mingyu bertanya, menaikkan alisnya, dan tertawa saat mendengar teman sekelasnya berbicara formal, dan canggung padanya.

"Mingyu saja," lanjutnya. "Dan, aku ada di sini untuk alasan yang sederhana. Hari ini, pelajaran pertama kita adalah Sains."

"A-Ah~." Ucap Wonwoo. Ia merutuki dirinya sendiri dalam pikirannya karena terus-terusan tergagap dan gugp di sekitar teman sekelasnya.

Meskipun Wonwoo selalu jadi yang nomor satu di kelasnya, dan Mingyu selalu jadi yang terakhir, dalam pelajaran Sains, Mingyu secara konstan menempati peringkat ke-2 saat ada ujian, tes, dan bahkan praktek. Seisi kelas terkejut ketika itu pertama kali terjadi, karena mereka tidak pernah melihat nama Mingyu dimanapun selain di peringkat terakhir. Bahkan Wonwoo benar-benar terkejut ketika melihat nama yang tidak pernah ia lihat atau ia akui berada sangat dekat dengan namanya. Kadang-kadang, Mingyu dan Wonwoo bahkan hanya berbeda beberapa poin saja.

Wonwoo memiringkan kepalanya bingung, dan mengulang percakapannya,

"Tunggu- bagaimana kau tahu pelajaran pertama hari ini adalah Sains?" tanyanya. Tersenyum dalam hati karena kali ini, ia tidak tergagap. Mingyu menatap matanya selama beberapa detik sebelum menjawab,

"Pengumumannya ada di papan mading di depan kelas kita." jelas Mingyu.

Percakapan yang kaku itu terinterupsi oleh Wen Junhui yang kelewat bersemangat.

"Apa yang sedang kalian bicarakan?"

Mingyu dan Wonwoo menatap pria yang sekarang berdiri di depan mereka berdua, tangannya bersandar di kedua meja itu. Mingyu memalingkan tatapannya karena tidak peduli, dan Wonwoo memberikan tatapan yang mengatakan, "Really? Sekarang? Seriuously? Seperti itu?" kepada sahabatnya itu.

Sebelum Wonwoo sempat memberitahu apa yang sedang mereka bicarakan pada Jun, Jun berjalan di depan meja Mingyu dan mengulurkan tangannya. Mingyu melihat tangan itu, lalu menatap wajah Junhui.

"Hai! Aku Junhui." dengan senyum yang -walaupun terlihat dipaksakan- bersahabat. Mingyu mengabaikan uluran tangan itu, dan hanya mengangguk mendengar perkenalan Jun.

"Tch. Tidak asik." Ucap Junhui, yang mendapat tatapan tajam dari Wonwoo. Jun melingkarkan tangannya di sekitar leher Wonwoo, dan berbagi tempat duduk di kursi Wonwoo dan berkata,

"Maaf, tapi aku sahabatnya. Jika kau ingin bicara dengannya... anggap saja kami ini satu paket."

Mingyu mulai tertawa ketika ia melihat Wonwoo berusaha untuk melepaskan tangan Jun dari lehernya,

"Bahkan barang yang dijual satu paket pun bisa dijual terpisah... Hanya saja harganya lebih mahal." Mingyu menjawab dengan cerdik.

Jun menatap tajam Mingyu, dan yang lebih tinggi juga melakukan hal yang sama.

Jun dengan sengaja "berbisik" keras supaya Mingyu bisa mendengarnya, dan membungkuk ke arah telinga Wonwoo untuk berkata,

"Aku tidak menyukainya."

Ia lalu kembali ke bangkunya ketika guru mereka memasuki kelas. Dan memang, pelajaran pertama hari itu adalah sains. Kelas lalu dipenuhi dengan murid-murid yang sedang mencatat. Gurunya beberapa kali akan memanggil beberapa orang untuk menjawab pertanyaan. Ia bahkan memanggil Mingyu, dan semua orang terkejut ketika Mingyu menjawab dengan benar, dan bahkan menyertakan informasi tambahan pada jawabannya. Wonwoo menganggap sisi Mingyu yang seperti itu cukup menarik. Ia menikmati melihat sisi perilaku Mingyu yang tidak begitu dingin dan menyukai kekerasan, melainkan hanya tertarik pada pelajaran ini. Selama pelajaran, Wonwoo merobek selembar kertas dan menuliskan pesan di atasnya, dan melemparkannya ke meja Mingyu, memastikan agar tidak ketahuan.

'Maaf soal Junhui tadi.'

Mingyu menatap pesan itu, membaliknya, dan mulai menuliskan balasannya.

'Tidak apa-apa. Sahabatmu cukup menarik.' Tinta pulpennya terlihat belepotan, karena Mingyu kidal.

Wonwoo menatap kata yang ada di kertas kecil itu. "Sahabat."

.

3 tahun lalu, pada hari pertama Wonwoo sekolah, ia bertabrakan dengan seseorang di gedung sekolahnya.

"Maaf!" Wonwoo yang saat itu berstatus sebagai anak baru dengan gugup berkata dan membungkukkan tubuhnya 90 derajat. Ia mendengar suara orang tertawa. Ia mengangkat kepalanya dan melihat seorang anak remaja yang terlihat seusianya.

"Tidak apa-apa! Kau tidak harus membungkuk." anak itu berkata sambil tersenyum manis. Senyum yang terlihat bersahabat itu membuat Wonwoo sedikit lebih santai, dan ia juga tersenyum.

"Apa kau juga anak baru?" Anak itu bertanya. Wonwoo mengangguk, yang membuat anak di hadapannya berkata,

"Bagus! Aku juga! Mau berjalan bersama?" Ia berkata sambil menunjuk jalan di hadapannya.

"Oke!" Wonwoo berkata, dan berjalan di sebelah teman barunya dan mereka berdua mulai berjalan.

"Aku Jeon Wonwoo." Ia memperkenalkan dirinya, anak di sebelahnya tersenyum dan berkata,

"Aku Wen Junhui!"

Kedua anak itu menghabiskan sisa perjalanan mereka dengan saling mengenal satu sama lain. Mereka menyadari kalau mereka berdua sama-sama menyukai musik, mereka berdua menyukai matematika dan tidak begitu menikmati sais. Juga, olahraga kesukaan mereka adalah basket, warna kesukaan mereka adalah biru, dan mereka berdua sama-sama menyukai sushi dan ayam goreng. Kedua anak itu bersemangat dan senang karena menemukan seseorang yang mirip dengan satu sama lain, dan dengan cepat menjadi teman dekat. Ketika mereka sampai di sekolah, mereka mengetahui kalau mereka sama-sama masuk ke kelas yang sama, dan mereka berdua langsung memutuskan untuk duduk bersebelahan. Sejak saat itu, mereka berdua tidak bisa dipisahkan, dan mereka bisa dibilang bersama hampir setiap saat. Sampai-sampai, tersebar rumor di sekolah mereka kalau mereka berdua berkencan, yang mana tidak benar, tapi kadang-kadang Jun bercanda dan mengatakan ya, lalu menggenggam tangan Wonwoo. Mereka berdua tahu segalanya tentang satu sama lain, dan memberitahu satu sama lain segalanya. Apapun itu, mereka akan menceritakannya kepada satu sama lain. Ikatan mereka tumbuh sangat kuat selama 3 tahun, sampai mereka berada di batas lovers.

.

'Haha, yeah! Dia memang aneh, tapi dia adalah sahabatku, tidak peduli seberapa menjengkelkannyapun.' Wonwoo menulis kembali, di selembar kertas yang baru.

Mingyu membaca pesan itu dan bibirnya membentuk sebuah senyuman, lalu menulis balasannya.

'Aneh? Benarkah? Menurutku dia mirip denganmu.'

'Ya, memang. Aku pikir itu alasannya kami bisa berteman selama ini... Apa temanmu juga mirip denganmu?' Tulis Wonwoo.

Mingyu menulis jawabannya sedikit lebih lama kali ini, tapi jawabannya pendek.

'Aku hanya punya satu. Dan, sejujurnya, dia sama sekali tidak memiliki kesamaan denganku.' Wonwoo membaca pesan yang dikirimkan Mingyu, dan melirik ke sebelah kirinya. Ia menyadari senyum sedih yang terdapat di wajah Mingyu -yang sedang menatap ke papan tulis. Wonwoo merasa sedikit bersalah, tapi rasa penasarannya kali ini menang dan ia menulis pesan lain.

'Lalu bagaimana kalian bisa berteman?' Mingyu tertawa pelan melihat balasan Wonwoo.

'Apa kau pernah dengar kalau yang berlawanan itu biasanya saling tarik menarik?'

'Aku pernah mendengarnya. Tapi jujur saja, aku tidak pernah percaya itu. Aku tidak mengerti bagaimana orang yang sama sekali berlawanan bisa saling berteman' balasan Wonwoo datang. Dan sebelum Mingyu bisa menjawabnya, guru mereka berbalik dan mulai memberikan tugas praktek yang bisa dilakukan secara individual atau berpasangan. Begitu mendengar kata 'pasangan', Jun dan Wonwoo langsung saling berpandangan dan tersenyum sambil mengacungkan jempol. Seperti biasanya, Mingyu memilih untuk bekerja sendiri. Setelah pelajaran sains selesai, Mingyu meninggalkan kelas sambil membawa tasnya, dan Wonwoo menebak kalau yang lebih tinggi tidak akan kembali sampai keesokan harinya. Jujur saja, Wonwoo tidak pernah melihat Mingyu bersama orang lain. Ia tidak pernah bekerja sama dengan siapapun, atau berbicara dengan siapapun di kelas. Selama ini, Wonwoo tidak pernah melihat Mingyu tersenyum sampai kemarin, dan bertanya-tanya kenapa dia tidak memiliki kekasih. Ada berbagai macam gosip tentang Kim Mingyu. Kebanyakan dari gosip-gosip itu melibatkan narkoba, atau kekerasan. Tapi, ada juga gosip kalau Mingyu adalah seorang playboy, dan ia bolos sekolah untuk pergi ke tempat karaoke, bar, dan... Wonwoo menggelengkan kepalanya saat bayangan yang menjijikan muncul di pikirannya. Pikiran Wonwoo terhenti dengan Jun yang menggeser kursi di sebelah Wonwoo dan mulai mengeluh,

"Jujur saja, aku tidak menyukai pria itu." Ucap Jun, menunjuk bangku di sebelah kiri Wonwoo.

"Sahabatku tidak seharusnya berbicara dengan seseorang yang seperti itu." lanjutnya. Wonwoo baru akan mengatakan sesuatu ketika Junhui memajukkan tubuhnya mendekat dan memasang senyum -yang menurut Wonwoo- menyeramkan di wajahnya,

"Jadi~ Apa yang kalian bicarakan di surat itu?"

Mata Wonwoo melebar,

"Tunggu. Kau melihatnya?" Ia bertanya, terkejut.

"Well, duh." jawab Junhui.

"Dan dari sudut pandangku, obrolan kalian kelihatannya menyenangkan." lanjutnya, "jadi ceritakan padaku."

Wonwoo menatap sahabatnya dan menjelaskan dengan singkat apa yang ia bicarakan dengan Mingyu.

"Ah~. Tunggu, jadi maksudmu dia memang punya teman?" Junhui bertanya dengan terkejut, dengan wajah yang sedikit aneh. Wonwoo memukul bahunya dan memarahinya,

"Ya, sepertinya mereka cukup dekat." jawab Wonwoo.

"Tidak mungkin... Memangnya ada orang yang mau berdekatan dengannya?! Dia bahkan tidak bersahabat, atau baik! Dan, lebih parahnya, dia benar-benar menyeramkan dan suka kekerasan. Satu tatapan tajam darinya bisa membuat anak kecil menangis dan mengompol di celana." Junhui berkata dengan nada yang tidak percaya.

"Ya! Apa kau tidak terlalu kasar?" Wonwoo berkata, percaya kalau apa yang dikatakan sahabatnya itu benar-benar tidak penting.

"Aku hanya berkata..." Junhui berkata dengan suara rendah, sambil memutar bola matanya dan mengalihkan pandangannya.

.

.

Hari itu, Junhui berkunjung ke rumah Wonwoo untuk mengerjakan tugas sains mereka. Mereka harus melakukan riset tentang Astrologi dan mempresentasikannya di depan kelas. Karena Junhui dan Wonwoo adalah dua orang terbaik di kelas mereka, mereka memutuskan untuk melakukan presentasi tentang tata surya. Tidak terlalu mudah, dan tidak terlalu sulit, karena deadlinenya hanya 2 hari lagi. Selama 2 hari itu, Mingyu tidak bisa ditemukan dimanapun. Yang membuat Wonwoo lebih kaget, ia bahkan tidak masuk saat pelajaran sains, tapi ia menganggap alasannya adalah karena Mingyu sudah tahu kalau 2 hari selanjutnya hanya akan digunakan untuk mendiskusikan tugas mereka.

Hari presentasi akhirnya tiba, dan semua orang duduk bersama pasangannya masing-masing. Lalu, pintu kelas terbuka, dan semua orang di kelas mengalihkan perhatiannya pada pria tinggi yang sedang memegang papan bristol dengan satu tangan, dan tangan yang lainnya berada di saku celananya. Semua orang mulai berbisik lagi ketika mereka menyadari luka dan memar baru yang ada di wajah Mingyu. Mingyu dengan santai berjalan ke bangkunya, dimana di sebelah kanannya ada Wonwoo dan Junhui yang duduk bersama. Beberapa saat setelah itu, guru mereka masuk, dan presentasinya segera dimulai. Setelah presentasi Junhui dan Wonwoo yang sudah dipersiapkan dengan baik, seisi kelas bertepuk tangan dan beberapa komentar terdengar,

"Seperti yang diharapkan dari top duo!", atau "Mereka berdua benar-benar tidak bisa dikalahkan jika sudah bersama." yang membuat mereka berdua membungkuk berterima kasih dan tersenyum. Selanjutnya, adalah Kim Mingyu. Mingyu bangkit dari duduknya, dan berjalan ke depan kelas, membawa posternya. Yang membuat teman-temannya tidak menyangka, poster yang dibuat Mingyu terlihat menarik, dan tertata rapi, latar belakangnya adalah galaksi yang indah. Presentasi Mingyu berkisar tentang hubungan manusia dengan zodiak manusia. Mingyu memulai dengan memberikan penjelasan tentang sejarah zodiak, lalu ia menjelaskan tentang bagaimana kepribadian manusia, dan dengan siapa manusia berhubungan bisa ditentukan dari sisi zodiak, dan pada akhir presentasinya, ia menjelaskan tentang bagaimana zodiak bisa jadi tidak akurat ketika sudah berhubungan dengan hubungan manusia yang sesungguhnya. Mingyu menyelesaikan presentasinya, dan seisi kelas benar-benar terkejut dengan presentasinya yang luar biasa, teman-temannya mulai bertepuk tangan ketika guru mereka mulai bertepuk tangan, menyadarkan seisi kelas dari keterkaguman mereka. Mingyu membungkuk sopan, membawa kembali posternya dan kembali ke bangkunya. Wonwoo dan Junhui menatap pria di sebelah kiri mereka dengan mata yang melebar.

"Ya. Apa kau sebenarnya pintar?" Junhui bertanya tanpa berpikir. Wonwoo memukulnya pelan, dan hanya berkata,

"Presentasimu tadi bagus." yang dibalas Mingyu dengan anggukan.

"Ya, dia memujimu. Kau tidak akan mengucapkan terima kasih?" ucap Junhui.

Mingyu menatap Wonwoo yang sudah akan berteriak pada Junhui, dan tersenyum.

"Thanks." lalu kembali mengalihkan perhatiannya ke presentasi di depan kelas. Jantung Wonwoo mulai berdetak kencang saat melihat senyum manis yang baru diberikan Mingyu. Ia merasakan kalau wajahnya mulai terasa hangat, dan ia menutupi wajahnya dengan tangan karena malu. Mingyu dengan cepat melirik ke arah Ketua Kelas, dan tersenyum lalu mulai tertawa. Junhui menatap temannya, khawatir, dan menaikkan nada bicaranya saat berbicara pada Mingyu,

"Ya! Apa yang kau lakukan padanya?"

Mingyu hanya mengedikkan bahu, dan tetap mempertahankan senyum sombong di wajahnya, dan melanjutkan memperhatikan presentasi.

Selama sisa hari itu, perhatian Wonwoo teralihkan dengan terus-terusan memikirkan presentasi Mingyu. Hubungan, manusia, dan kesamaan. Jadi, keesokan harinya, sebelum kelas sains dimulai, ia memutuskan untuk bertanya pada Mingyu.

"Mingyu!" suara rendahnya berkata, menghentikan Mingyu yang sedang berjalan di koridor. Dari pintu kelas mereka, Junhui memperhatikan keduanya. Dan setelahnya, teman-temannya yang lain menyadari interaksi keduanya. Bisikan-bisikan dari kelas mengatakan kalau mereka berdua terlihat tidak cocok satu sama lain, yang membuat Jun merasa sedikit senang.

"Jadi, aku sudah memikirkan tentang presentasimu kemarin, dan aku penasaran... apakah itu tentang sahabatmu?" ucap Wonwoo, yang membuat Mingyu memandangnya terkejut. Yang lebih tinggi tertawa, dan tersenyum sambil mengatakan,

"Aku pikir kau terlalu menganggapnya serius. Itu hanya presentasi astrologi biasa." ucap Mingyu. Tapi, Wonwoo tidak puas dengan jawaban Mingyu, jadi ia berkata lagi,

"Benarkah? Kau yakin?" tanya Wonwoo.

Selagi mendengarkan, Mingyu menangkap sosok Jun sedang memandang mereka berdua dari dalam kelas, "Karena, menurutku, presentasimu terlihat seperti sedang menceritakan sebuah pesan tentang hubungan, dan kau pernah bilang kalau kau dan sahabatmu-"

Wonwoo tiba-tiba berhenti bicara ketika wajah Mingyu saat ini tiba-tiba hanya berjarak beberapa sentimeter darinya, seperti hari itu. Matanya melebar, dan jantungnya mulai berdegup kencang lagi.

"Ngomong-ngomong tentang sahabat..." Mingyu membuat kontak mata dengan Jun yang sekarang terlihat kesal. Ia lalu memajukan wajahnya semakin dekat ke telinga Wonwoo dan berbisik,

"Sepertinya, sahabatmu tidak terlalu menyukaiku." lalu berjalan ke dalam kelas, sedikit menabrakkan bahunya dengan Junhui.

.

.


#3 Dark Knight


Setelah berjalan memasuki kelas, Mingyu dengan santai duduk di bangkunya, dan mulai tertidur, Wonwoo masih berada di luar, membeku karena terkejut. Ia berdehem, membalikan wajahnya, dan disambut oleh sapaan Jun, yang menutupi rasa marah dan cemburunya dengan senyum palsu. Melihat wajah ceria Junhui -meskipun palsu- menyadarkan Wonwoo dari rasa terkejutnya. Mata Wonwoo kembali fokus dan membentuk bulan sabit saat tersentum ke arah Jun.

"Ya!" Ucap Jun.

Bibir Wonwoo membentuk senyuman.

"Hei!" Sang Ketua Kelas membalas, dan berlari kecil ke dalam kelas untuk bergabung dengan sahabatnya.

Mereka berdua berjalan masuk, dan secara tidak sengaja menatap ke arah orang yang sama. Mingyu duduk di bangkunya, kepalanya berada di atas meja. Ia mungkin sedang tidur lagi, Wonwoo mengambil kesimpulan. Wonwoo memandang Mingyu yang sedang tenang tertidur dengan mata yang penuh rasa penasaran, dan sedikit antisipasi. Sedangkan Jun, memandang Mingyu dengan mata yang penuh kebencian dan rasa cemburu. Tanpa menyadari tatapan satu sama lain, Wonwoo dan Jun diam di bangku Jun selama jam makan siang mereka. Menghabiskan waktu di meja Jun adalah keinginan Jun, tapi Wonwoo kali initidak keberatan atau menolak. Sejujurnya, ia sedang tidak ingin duduk di sebelah Mingyu setelah apa yang terjadi. Jun duduk dengan nyaman di bangkunya, sedangkan Wonwoo duduk dibangku di sebelah Jun, di ujung kelas, yang memang kosong. Itu adalah bangku kosong yang belum terisi di kelasnya. Kedua sahabat itu berbincang seperti biasanya, dan mereka membicarakan tentang rencana mereka bermain hari ini sepulang sekolah. Mengobrol bersama Jun membuat Wonwoo melupakan pria yang baru-baru ini masuk ke kehidupannya dan mengganggu pikirannya, dan membuat Wonwoo senang dan tenang. Sekitar 2 menit lagi sebelum bel masuk berbunyi, rencana mereka sudah selesai. Sepulang sekolah, Wonwoo akan pergi ke rumah Jun, dan mereka hanya akan menonton anime, makan, dan bermain beberapa video games. Mereka berdua merasa senang dengan rencana mereka karena sudah cukup lama mereka tidak bermain bersama, karena mereka berdua sudah memasuki kelas tiga. Sedangkan Junhui, memiliki motif lain untuk melaksanakan rencana mereka. Setelah menyadari hubungan yang tiba-tiba, dan terlihat tidak cocok diantara temannya, dan seorang berandalan sekolah yang tidak tahu aturan, ia memutuskan kalau hari ini adalah saatnya.

Setelah jam makan siang berakhir, guru sains mereka masuk, dan sekarang Mingyu sudah bangun, dengan buku tulis yang sudah rapi di bawah tangan kirinya yang sedang memutar-mutarkan pensil. Wonwoo kembali ke bangkunya di sebelah Mingyu,. Di belakang guru mereka, ada seorang anak lelaki yang mengikutinya, berhenti di tengah kelas. Ia adalah orang asing di kelas itu, yang membuat teman-temannya mulai berbisik satu sama lain. Anak lelaki itu memiliki rambut berwarna biru permen karet yang menutupi dahinya. Ia memiliki penampilan yang terlihat innocent dan imut.

"Anak-anak! Ini adalah teman baru kalian," ucap gurunya, sembari mempersilahkan anak baru tersebut.

Anak lelaki itu membungkuk 90 derajat, membuat rambutnya terjatuh menutupi matanya. Setelah menegakkan tubuhnya, ia lalu melemparkan senyuman manis pada teman-teman barunya.

"Halo. Namaku Xu Minghao." Ia memperkenalkan dirinya sendiri. Gadis-gadis langsung memekik pelan ketika Minghao mengedipkan sebelah matanya ke sekumpulan gadis yang sedang saling berbisik setelah ia memperkenalkan diri. Anak baru itu baru akan melangkah ke satu-satunya bangku kosong di kelas, ketika Mingyu tiba-tiba berdiri. Wonwoo menatap ke sebelah kirinya, dan mengamati pria itu yang sedang memasang senyum jahil di wajahnya.

"Minghao-ya!" Mingyu berkata dengan nada ceria.

Mata Minghao melebar, lalu hampir menghilang ketika ia tersenyum dan berkata,

"Mingyu-ya!" dan mereka berdua berjabat tangan lalu saling berpelukan sebentar.

Wonwoo bertanya-tanya bagaimana mereka berdua bisa saling mengenal, karena ia tidak pernah melihat Mingyu tersenyum selepas itu, dan memiliki teman. Tapi, sejujurnya, mereka berdua terlihat sangat dekat, dan itu membuat bisikan-bisikan di kelas semakin keras. Minghao berjalan ke bangkunya, setelah saling bertukar sapa dengan Mingyu, lalu duduk. Gurunya sedikit kesal karena pelajarannya terganggu, tapi juga sedikit senang karena Minghao sudah mengenal seseorang, dan berharap tidak akan terlalu sulit untuknya beradaptasi. Pelajaran Sains terlewati dengan cepat, dan kali ini Mingyu tidak lagsung meninggalkan kelas begitu bel berbunyi. Melainkan ia tetap tinggal dan meninggalkan bangkunya untuk berjalan menuju bangku Minghao, yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang penasaran. Perhatian Wonwoo sepenuhnya teralih pada pria tinggi yang sekarang berjalan semakin menjauh darinya. Lalu pandangannya terhalang sepenuhnya oleh wajah yang sudah biasa ia lihat.

"Anak baru itu cukup keren," Jun berkata sambil duduk di sebelah Wonwoo. Tapi Wonwoo tidak mendengarkan, dan masih memperhatikan sekumpulan siswa -termasuk Mingyu, sekarang- yang mengerubungi Minghao. Bedanya, Mingyu kini duduk di meja Minghao, dan mereka berdua benar-benar terlihat dekat. Bahkan dari bangku Wonwoo, ia dan Jun bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan di kerumunan itu.

"Minghao-ssi, kau pindahan darimana?" tanya seorang gadis yang penasaran.

"Aku pindahan dari Sekolah Kirin," Minghao berkata sambil mengangguk. Lalu siswa lain bertanya lagi,

"Kenapa kau pindah?" yang membuat Mingyu tertawa begitu mendengar pertanyaan itu. Minghao dengan cepat membekap mulut Mingyu selagi ia juga mencoba menahan tawanya. Anak baru itu berdehem lalu berkata,

"Aku dikeluarkan dari sekolah lamaku karena melakukan..." ia menatap Mingyu yang sudah berhenti tertawa dan sekarang memasang wajah serius, "sesuatu." jawab Minghao.

"Minghao-ssi, bagaimana kau bisa mengenal Mingyu-ssi?" seorang siswa bertanya hati-hati sambil menatap Mingyu dan Minghao.

"Sejarahnya di jalanan benar-benar gila." Minghao berkata yang lalu mendapat pukulan pelan dari Mingyu.

"Jangan mau dibodohi oleh penampilannya... Sejarahnya di jalanan juga tidak bisa dianggap remeh." Mingyu berkata, sambil menatap kerumunan yang sedang menginterogasi anak baru itu..

"Tunggu, Minghao-ssi, kau... juga suka berkelahi?" siswi lain bertanya.

Minghao tertawa sebentar, dan berkata "Minghao saja tidak apa-apa. Dan, sepertinya kalian bisa menganggapku begitu... tapi, ada banyak hal yang terjadi yang membuat orang-orang tidak menyadari... jadi, ya. Tapi, tidak seperti dia," Ia menunjuk Mingyu yang memasang wajah bingung.,

"Aku tidak pernah membolos pelajaran. Aku juga tidak pernah menempati peringkat terakhir," Minghao mengejek, dan Mingyu menyentil kepalanya.

"Tch, terserah," Ucap Mingyu sambil menyampirkan tasnya dan turun dari meja, berjalan menuju pintu.

"Yah! Kau mau kemana?" Minghao berteriak. Mingyu tidak berbalik dan hanya melambaikan tangannya sambil berkata,

"Suatu tempat!" lalu meninggalkan kelas.

"Dia tidak akan kembali lagi, kan?" tanya anak baru itu, dan seluruh orang yang ada di kerumunan di depannya menggelengkan kepala mereka bersama-sama.

Wonwoo dan Jun mengalihkan pandangan mereka dari kerumunan itu, dan mulai saling mengobrol. Keduanya merasa tidak tertarik setelah Mingyu pergi.

"Tch, bagus. Aku menyukai Minghao, tapi sekarang aku tahu kalau ia berteman dekat dengan Mingyu." Jun berkata, terdengar kesal.

"Ya. Kenapa kau sangat membenci Mingyu?" Wonwoo bertanya.

Junhui memikirkan jawaba apa yang harus ia kaakan, dan bagaimana jika ia mengatakan yang sejujurnya. Tapi, ia hanya menjawab,

"Dia duluan yang memulainya! Dia tidak menjabat tanganku, dan tidak pernah bicara padaku." Junhui mengatakannya dengan sedikit aegyo yang membuat Wonwoo meringis. Setelah itu, sisa hari mereka terlalui dengan lancar, dan sebelum mereka menyadarinya, sekolah sudah hampir selesai.

.

Sebagai Ketua Kelas, Wonwoo harus mengumpulkan berkas-berkas dari beberapa murid dan menyumpannya di ruang guru, dan Junhui menunggunya di pintu masuk. Wonwoo bergerak secepat mungkin, dan menemui Jun, lalu mereka berdua berjalan menuju rumah Jun. Ketika mereka sampai, Wonwoo menyapa kedua orang tua Jun yang sudah ia anggap sebagai orangtuanya sendiri, lalu mereka berdua menuju kamar Jun. Wonwoo menjatuhkan tasnya di lantai dekat pintu, dan melompat ke atas kasur, menyamankan dirinya sendiri. Jun melepas seragamnya, dan menggantinya dengan baju yang lebih santai. Ketika ia berbalik, ia melihat Wonwoo yang sudah melepas seragam atasnya lalu bertanya tentang bajunya yang akan Wonwoo pinjam. Jun merasa sedikit gugup, tapi lalu menyembunyikan ekspresinya. Ia melemparkan kaus yang cocok pada sahabatnya. Ukuran baju mereka hampir sama, jadi mereka sering berbagi pakaian. Setelah mereka selesai berganti pakaian, mereka duduk di atas tempat tidur Jun dengan sekotak pizza, dan mulai menonton anime. Mereka berdua berbaring dengan nyaman, lampu kamar dimatikan supaya kegiatan menonton mereka terasa lebih menyenangkan. Plus, Jun tahu kalau Wonwoo senang menonton dalam gelap, jadi ia mematikan lampunya begitu matahari terbenam.

Jam menunjukkan pukul 9 malam, dan mereka berdua masih menonton di atas tempat tidur. Selain menonton, mereka juga bermain beberapa video game. Selama mereka menonton, Wonwoo menyandarkan kepalanya di bahu Jun, dan melanjutkan acaranya menonton. Jun menatap sahabatnya yang menggunakan bahunya sebagai bantal. Ia memperhatikan rambut hitam legam Wonwoo yang membingkai wajahnya, dan menutupi dahinya. Matanya membentuk bulan sabit. Hidungnya sempurna. Lalu, mata Jun beralih ke arah bibir Wonwoo. Bibirnya sedang tersenyum karena anime yang sedang ditontonnya. Wonwoo merasa sedang diperhatikan, lalu menatap Jun dari balik bahunya, bertatapan mata dengan sahabatnya.

"Jun-ah. Ada apa?" Ia beranya dengan suaranya yang dalam.

Lalu, Junhui tidak bisa menahan diriya lagi. Jun memegang kedua sisi wajah sahabatnya dan menekan bibir mereka bersamaan. Wonwoo tidak membalas ciuman Jun, karena sebenarnya ia sedang membeku. Ia tidak tahu harus melakukan apa terhadap ciuman tiba-tiba dari sahabatnya itu. Ketika ciuman mereka terlepas, Wonwoo langsung menaruh tangannya yang bergetar di bibirnya, dan bangun dari tempat tidur itu. Ia berlari keluar kamar Jun, menuruni tangga, dengan Jun yang berteriak memanggil namanya dari belakang. Wonwoo bahkan tidak sempat mengganti bajunya, ia pergi dengan menggunakan baju Jun. Ia bahkan mengabaikan ibunya Jun yang bertanya ada apa ketika ia berlari keluar pintu, dan tidak memandang ke belakang sekalipun.

Setelah ia pergi, Jun juga berlari menuruni tangga, dan berulang-ulang meneriakkan nama Wonwoo dari depan pintu rumahnya. Wonwoo melarikan diri dari rumah yang sudah ia anggap rumahnya sendiri selama 3 tahun ini. Air mata berlomba-lomba menuruni wajahnya, meskipun ia tidak tahu alasannya. Apakah karena marah? Merasa terkhianati? Terkejut? Ia tidak tahu, tapi terus berlari, tanpa arah yang jelas. Ketua Kelas itu terus berlari, pikirannya kacau. Air matanya membuat pandangannya mengabur, yang menyebabkannya berlari menabrak sekumpulan remaja yang lebih tua. Tabrakan yang cukup keras dengan tubuh lain itu membuat Wonwoo sadar, dan lalu membungkuk meminta maaf. Ia hanya ingin terus berlari, dan menjauh dari rumah itu sejauh mungkin, tapi pergerakannya terhenti ketika seseorang memegang tangannya. Ia adalah pria yang tadi ditabraknya.

"Kenapa menangis, cantik?" Pria itu berkata sambil memajukan wajahnya ke arah wajah Wonwoo. Wonwoo menatap ke sekitarnya dengan panik, dan menyadari kalau ia sudah dikepung oleh teman-teman pria itu. Pria itu mencengkeram wajah Wonwoo dan berkata,

"Aw~. Teman-teman, lihat. Dia menangis. Haruskah kita membuatnya melupakan kesedihannya?" Ia berkata sambil memaksa wajah Wonwoo membentuk senyuman. Saat ini, Wonwoo sudah menangis karena ketakutan dan panik. Ia mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria menyeramkan itu, tapi gagal, karena sekarang ia diseret dua pria lainnya ke sebuah gang gelap.

"C'mon, little guy! Ayo kita ubah kesedihanmu..." Ketua geng itu melangkah mendekat, "jadi kesenangan!" Ia menyeru sambil mengangkat Wonwoo lalu membantingnya, membuat Wonwoo mendarat dengan punggungnya di atas tanah. Wonwoo mengerang kesakitan, dan berusaha melindungi dirinya ketika ia dikepung oleh geng itu.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah pukulan yang bertubi-tubi, tunjuan, dan tendangan. Wonwoo hanya bisa berbaring di tanah, memegangi perutnya kesakitan. Hidungnya berdarah, dan berbagai luka memenuhi sekujur tubuhnya. Ia tidak bisa melindungi dirinya sendiri, karena ia lemah dan hanya menghabiskan waktunya untuk belajar. Sembari pukulan dan tendangan itu terus berlanjut, ia mulai menangis semakin keras, dan menutup matanya. Yang bisa ia pikirkan saat itu hanyalah seseorang yang selalu berada di sisinya setiap saat,

"Jun-ah."

Wonwoo mulai kehilangan kesadarannya, tapi sebelum itu, ia mendengar suara yang terdengar tidak asing dari ujung gang, yang benar-benar gelap karena kurangnya pencahayaan.

"Ya." Suara itu berkata.

"Ya?! Kau pikir kau sedang bicara dengan siapa?" Ketua geng itu akhirnya berhenti memukuli Wonwoo sebentar.

"Aku akan memberimu 3 detik." ucap suara itu dengan tenang.

Ketua geng itu geram, dan menyuruh salah satu anggotanya untuk mengurus gangguan itu.

"3." Ucap suara itu, ketika mereka mendengar suara tubuh yang terjatuh ke tanah. Sang ketua mengutus salah satu anggotanya lagi,

"2." Suara yang sama berkata, dan tubuh lain jatuh di atas tanah. Sang ketua jadi sedikit gugup dan memutuskan untuk berjalan ke bayangan itu sendirian.

"1."

Lalu muncullah seseok pria tinggi dengan kedua tangannya di dalam saku. Setelah melakukan pengamatan lebih dekat, sang ketua yang tidak tahu aturan itu melebarkan matanya ketika ia menyadari siapa pria yang muncul dari kegelapan itu. Wonwoo mengangkat kepalanya sedikit untuk melihat apa yang sedang terjadi, tapi karena darah dan air mata, ia tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria itu. Sang ketua geng itu mundur sedikit, tersandung kakinya sendiri. Ia menatap ke belakang pria tinggi yang ada di depannya dan menyadari kalau dua anggotanya yang ia kirim, berada di tanah dan tidak sadar.

"Jangan khawatir, mereka tidak mati." Suara dalam dan rendah itu berkata.

"K-Kim Mingyu." Sang ketua itu berkata, tergagap karena ketakutan.

Wonwoo membuka matanya sekali lagi saat ia mendengar nama yang tidak asing. Kesadarannya belum sepeunhnya kembali. Wonwoo mendengar suara kaki mendekat, dan ia kembali panik karena berpikir ia akan dipukuli lagi. Bukannya dipukuli, Wonwoo merasa tubuhnya diangkat dengan hati-hati dan sekarang ditopang oleh sesosok tubuh tinggi. Mingyu mengalungkan lengan Wonwoo di lehernya, memegangi pinggangnya untuk menopangnya dan membantunya berjalan.

"M-maafkan aku... Aku tidak tahu kalau kau mengenalnya. D-dia sangat lemah dan-dan," ketua geng itu terbata-bata.

Mingyu hanya mengeluarkan tatapan tajamnya, dan berjalan tanpa berkata apapun.

Mereka berdua keluar dari gang itu, hampir seluru berat Wonwoo ditopang oleh Mingyu. Mingyu membantunya berjalan, dan mereka sampai di trotoar yang cukup ramai. Mingyu memegang wajah Wonwoo, dan menggerakannya ke kanan-kiri, mengamati wajahnya. Mingyu menyadari air mata yang berkumpul di mata Wonwoo sudah hampir terjatuh, dan dengan refleks, ia mengusapnya. Tangan Mingyu terasa kasar, akibat dari seringnya ia berkelahi, tapi gerakannya terasa gentle saat ia menggunakan ibu jarinya untuk mengusap air matanya. Wonwoo menatap mata Mingyu, yang sedang fokus memperhatikan bagian-bagian wajah Wonwoo, mencari dimana lagi ia terluka. Setelah selesai mengamati wajahnya, Mingyu beralih pada bagian tubuh Wonwoo. Melihat kaki dan tangannya yang lecet.

"Apa yang kau pikirkan dengan memakai kaus dan celana pendek tengah malam begini?" Mingyu bertanya, dengan nada yang terdengar marah.

"Ini milik Jun." Wonwoo berkata dengan suara rendah, dan mengalihkan pandangannya.

Mingyu menghela napas, "Kau bisa jalan?" ia bertanya.

Wonwoo mencoba berjalan, dan meringis kesakitan setiap ia menggunakan kaki kirinya. Mingyu menghembuskan napas keras, melepas jaket yang dipakainya, dan menyampirkannya di tubuh Wonwoo. Tidak seperti pakaian Jun, jaket Mingyu terlihat kebesaran di tubuh sang Ketua Kelas.

"Disini dingin, bodoh." ucap Mingyu, lalu ia berjongkok di hadapan Wonwoo. Wonwoo menatap Mingyu bingung dan tetap berdiri di sana. Mingyu lalu membalikkan wajahnya untuk menatap Wonwoo,

"Kau tidak akan naik?" tanyanya.

"Huh?" Wonwoo bertanya, terkejut.

"Kau tidak bisa berjalan. Jadi, naik saja, dan biarkan aku mengantarmu pulang." Ucap Mingyu.

Wonwoo ragu-ragu, dan Mingyu berpura-pura berdiri dan berkata,

"Baiklah, semoga selamat sampai rumahmu."

Tapi, sebelum Mingyu bisa berdiri dengan tegak, ia merasakan dua tangan melingkari lehernya, dan seseorang bersandar di punggungnya.

"Ayo~" ucap Wonwoo, tertawa sedikit.

Mingyu tertawa mendengar nada suara Wonwoo yang seperti anak kecil, lalu berdiri dari posisinya, dan mulai berjalan sambil menggendong Wonwoo.

Selama di perjalanan, mereka hanya berbicara, bukan tentang hal serius. Semakin lama, Wonwoo merasa lelah, dan menumpukan dagunya di bahu Mingyu.

Ketika mereka sampai di rumah Wonwoo, Mingyu menurunkannya dengan hati-hati, dan membantunya sampai pintu rumahnya.

"Apa orangtuamu tidak akan terkejut?" Mingyu bertanya sembari mengamati yang lebih pendek, dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Mereka bisa mengerti, jadi aku yakin jika aku menceritakan apa yang terjadi, segalanya akan baik-baik saja." Wonwoo meyakinkan Mingyu. Mingyu menatap sekeliling lingkungan tempat Wonwoo tinggal dan berkata,

"Oh ya. Apa yang kau lakukan semalam ini? Aku pikir yang dilakukan Ketua Kelas sepulang sekolah hanyalah belajar." Mingyu mengejek.

Wonwoo berpikir apakah ia seharusnya memberitahu Mingyu atau tidak. Dan tepat sebelum ia membuka mulutnya untuk menjawab, pintu rumahnya terbuka, memperlihatkan ibunya. Ibunya memekik ketika melihat tubuh anaknya yang babak belur, lalu menariknya ke dalam rumah. Mingyu membungkuk sopan, dan tersenyum canggung sambil melambaikan tangan pada Wonwoo yang masih mencoba untuk menenangkan ibunya. Ia melambaikan tangan pada Mingyu dan berkata dengan cepat,

"Sampai jumpa besok!"

Ketika Wonwoo masuk ke dalam rumah, ia diserang oleh pertanyaan-pertanyaan ibunya yang khawatir dan menanyakan apa yang sudah terjadi. Wonwoo menceritakan semuanya, juga menceritakannya pada ayahnya ketika ayahnya menuruni tangga, khawatir. Wonwoo memastikan melewatkan bagian tentang Jun, dan hanya berkata kalau ia tadi sedang pergi ke supermarket, dan Mingyu kebetulan menyelamatkannya. Setelah mengurus kedua orangtuanya, Wonwoo membersihkan tubuhnya dan masuk ke kamar. Di atas kasurnya terdapat jaket kulit, yang bukan miliknya, tapi milik seseorang yang misterius. Wonwoo jatuh tertidur begitu kepalanya menyentuh bantal, setelah mengalami hari yang berat.

.

.

Keesokan harinya, Wonwoo berjalan masuk ke kelas, menghindari Jun sebisa mungkin, tapi ia tidak bisa menghindarinya ketika Jun menyerangnya dengan pertanyaan seperti "apa yang terjadi pada wajahmu?" dan sebagainya. Wonwoo benar-benar sedang tidak ingin bicara dengannya, karena masih merasa canggung dengan kejadian kemarin, tapi ia memberitahu kalau ia diserang oleh sekelompok geng, dan berkata untuk tidak usah mengkhawatirkannya karena ia baik-baik saja sekarang. Jun mulai sedikit lebih tenang, tapi segalanya jadi semakin memanas ketika Mingyu masuk ke kelas, dengan tangannya yang diperban.

"Seberapa kerasnya dia memukul orang-orang itu kemarin?" Wonwoo berpikir.

Dan tanpa pikir panjang, Jun membuat asumsi yang salah. Ia berlari ke arah Mingyu dan menarik kerah seragamnya.

"Apa?! Jadi kau yang melakukan itu pada Wonwoo?" Jun berteriak di wajah Mingyu. Mingyu menatapnya bingung, lalu menatap Wonwoo, dan kembali menatap Jun.

"Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan." Mingyu menjawab, dengan tenang dan mencoba untuk melepaskan cengkeraman Jun di bajunya.

"Jangan mencoba mengelak dari ini." Jun menjawab dengan marah. "Kalau begitu, jelaskan kenapa wajah Wonwoo babak belur, dan buku-buku jarimu memar? Huh?"

"Jun, itu tidak ada hubungannya dengan-" Wonwoo mencoba untuk mengklarifikasi,

"Jangan ikut campur kali ini, Wonwoo." Mingyu berkata supaya Jun tidak bertambah marah, tapi efeknya ternyata berkebalikan dengan perkiraannya.

"Oh. Jadi kau sekarang mengaturnya, supaya dia tidak mengatakan apapun tentangmu? Dan kenapa kau datang saat pelajaran pertama, huh? Untuk memastikan kalau ceritamu dan cerita Wonwoo sama?" Junhui saat ini terdengar gila, dan bahkan Wonwoo terkejut melihat perliaku sahabatnya.

Jun tidak bisa mengeluarkan kemarahannya dalam bentuk kata-kata lagi, lalu ia melayangkan tinjunya, yang mendarati di wajah Mingyu. Mingyu memutar bola matanya, dan mengusap wajahnya. Mingyu yang sudah terlatih itu lalu melayangkan pukulan balik, dan tepat saat itu, guru mereka menangkap basah kejadian itu. Mingyu tetap melayangkan tinjunya, yang membuat Jun terlempar ke arah bangku-bangku. Seisi kelas melihat kejadian itu dengan tidak percaya, dan saling berbisik tentang apakah Mingyu benar-benar memukuli Wonwoo.

"Cukup, Kim Mingyu!" ucap guru Matematika mereka, "Kau diskors selama 1 minggu!" Gurunya berkata marah.

Mingyu berdecih, mengambil tasnya dan dengan kasar menyampirkannya di bahunya. Ia lalu bergerak cepat ke luar kelas, dan membanting pintu kelasnya.

Mata Wonwoo mulai menatap ke sekeliling ruangan, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia merasa bertanggung jawab, jika saja ia tidak melarikan diri dari Jun, ini tidak akan terjadi. Jika ia bisa melindungi dirinya sendiri, Mingyu tidak harus menyelamatkannya. Merasa kalau Mingyu diskors karena kesalahannya, Wonwoo mengutuk pelan.

"Fuck."

.

.

.

To Be Continued...


WOW... Ini panjang ya HAHA

jadi ini seharusnya 2 chapter... tapi dijadiin satu karena...

chapter yang Bestfriends itu lumayan pendek dan... kalian kayanya kaget pas aku bilang ini 40 chapteran ya? hahaha

engga 40 chapter kok... 36 chap doang kalo gasalah._. HEHE

ini super ngebut ngetiknya karena lagi free dan gabanyak kerjaan... selanjutnya diusahain cepet lagi ya:-)

So,

Read n Review?

seulgibear