Title: Once Again, Can I?

Cast: Jin, Taehyung, Jimin, Namjoon, Yoongi #TaeJin #VMin #NamJin #YoonJin

Lenght: Mini Chapter

Rating: 15+

Author: Tae-V [Line KTH_V95, Twitter KTH_V95]


Setibanya Taehyung di Seoul malam itu, ia langsung dipanggil oleh ayahnya ke dalam ruang kerja ayahnya yang ada di dalam rumah mereka yang sangat besar dan mewah itu.

TOK TOK!

Suara ketukan pintu terdengar.

"Masuklah~" sahut Mr Kim.

"Ada apa, appa?" tanya Taehyung sambil menahan kantuknya.

Taehyung selalu harus terlihat sempurna dihadapan ayahnya.

Ayah Taehyung selalu memarahinya setiap Taehyung terlihat lemah atau berbuat kesalahan.

Mr Kim menatap wajah Taehyung beberapa saat lamanya, tatapan seolah sedang mencoba menilai Taehyung.

"Kau sedang berkencan dengan siapa?" tanya Mr Kim.

DEG!

"Darimana appa tahu?" sahut hati kecil Taehyung.

"Jawab appa sekarang, kau sedang menjali hubungan dengan siapa, Kim Taehyung?" Nada bicara Mr Kim mulai meninggi.

"Eobseo, appa..." sahut Taehyung, mencoba berbohong.

"Kau pikir appamu yang sudah tua ini bisa kau bohongi?" bentak Mr Kim.

Taehyung memejamkan matanya, mencoba menenangkan dirinya.

Mr Kim membuka laci mejanya dan melemparkan foto-foto itu ke atas meja.

"Kau pikir appa ini bodoh? Lalu kau pikir pria di foto ini hanyalah seseorang yang mirip denganmu, huh?"

Entah darimana asal foto itu, namun Taehyung bisa melihat dengan jelas bahwa foto-foto itu pasti diambil secara diam-diam ketika ia dan Jin sedang berkencan minggu lalu di Jeju Island.

"Kim Seokjin.. Bekerja di sebuah kafe kecil sebagai assisten chef, dan setiap sabtu dan minggu malam bekerja part time sebagai tukang delivery fried chicken... Kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan lima tahun yang lalu, karena itulah ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke universitas dan harus bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari..." sahut Mr Kim dengan nada dingin.

DEG!

"Da... Darimana appa tahu ini se.. Semua..?" sahut Taehyung, terkejut akan kecepatan ayahnya mendapatkan informasi mengenai kekasihnya itu.

"Kau pikir kau layak menjalin hubungan dengan pria berkasta rendah ini? Menjadi asistenmu saja ia tidak layak, dan kau justru berkencan dengannya?" sahut Mr Kim, menatap Taehyung dengan tatapan penuh amarah.

"Ia pria yang baik, appa..." Taehyung berusaha membela Jin, namun yang terjadi justru Mr Kim menggebrak meja sekenacang-kencangnya.

"Tinggalkan dia, atau hidupnya akan kubuat berantakan!" bentak Mr Kim.

.

.

.

Taehyung membanting tubuhnya di atas kasurnya.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 02.20 AM.

Dan ia tentu saja tidak bisa tertidur mendengar ancaman ayahnya.

"Apa benar appa akan mengganggu kehidupan Jin hyeong?" tanya Taehyung dalam hatinya.

Taehyung berbaring dan menatap langit-langit kamarnya.

Semua saat-saat indah yang sudah dilaluinya bersama Jin seolah seperti sebuah film, terputar di benaknya. Dan tanpa sadar Taehyung tersenyum mengingat itu semua.

"Andwe! Aku tak bisa meninggalkannya!" sahut Taehyung.

Taehyung mengambil handphonenya dan mengirim chat kepada Jin.

"Selamat malam, hyeongku tercinta... Saranghae..."

Taehyung menunggu beberapa menit dan tak ada balasan.

"Cih~ Ia pasti sudah tertidur lelap hmmm... Saatnya aku beristirahat juga..." gumam Taehyung.

Taehyung memejamkan matanya dan tak lama ia tertidur pulas.

.

.

.

Jin, seperti biasanya, berdiri di samping meja dapur itu, bersiap untuk memulai harinya dengan senyuman manis di wajahnya.

"Ooooouw~ Hari yang indah lagi, hyeong?" sahut Namjoon, sang petugas kasir di kafe tempat Jin bekerja, yang juga merupakan salah satu sahabat terbaik yang dimiliki Jin.

"Oh, kau sudah datang, Namjoon a?" sapa Jin.

Namjoon menganggukan kepalanya. "Senyummu setiap pagi inilah yang menjadi semangatku untuk bekerja, hyeong.."

"Aigoo~" sahut Jin sambil memukul pelan bahu Namjoon yang berdiri disampingnya.

"Jinjja ya~ Anmido?" sahut Namjoon.

"Geumanhae, Namjoon a~ Aigooooo~" sahut Jin sambil menyentil kening Namjoon.

Jin tahu Namjoon sering menggodanya sejak dulu. Dan Namjoon sering mengatakan bahwa ia sangat menyukai Jin, tapi Jin selalu menganggapnya sebagai godaan semata.

Memang, Namjoon itu sangat playfull dan easy going, jadi Jin sering tidak menganggap serius semua ucapan Namjoon saat menggodanya.

Buktinya? Hampir semua pengunjung yang datang digoda oleh Namjoon dengan senyuman maut berlesung pipinya saat memesan dan membayar di meja kasir yang dijaga olehnya.

"Hoahhhhm~ Pagi semuanyaaaa..." sahut pria bertubuh mungil yang sangat mudah mengantuk itu ketika ia berjalan masuk ke dalam kafe.

"Kau selalu mengantuk, Yoongi a~" sahut Jin. "Pagi~"

"Pagi, hyeong~" sapa Namjoon.

Yoongi, yang juga merupakan sahabat Jin dan Namjoon, adalah anak dari pemilik kafe itu, dan sejak beberapa bulan yang lalu setelah ia lulus kuliah, ia yang dipercayai orang tuanya untuk menjalankan kafe itu.

Walaupun kafe itu bukanlah kafe yang besar dan terkenal, tapi suasana disana sangat nyaman dan banyak pengunjung yang sengaja kesana hanya demi melihat senyuman manis Namjoon, sang kasir, ataupun untuk melihat betapa coolnya sang pemilik kafe yang bernama Min Yoongi.

Sebenarnya, Jin juga tak kalah populer dengan wajah manisnya itu, namun karena ia assisten chef dan bekerja di dalam dapur, jadi jarang ada yang menyadari keberadaan Jin di kafe itu.

"Oke, kita mulai briefing singkat sebelum kafe ini dibuka..." sahut Yoongi, mengumpulkan semua pekerja di kafe itu dan melakukan briefing harian seperti biasanya, lalu semua pekerja kembali ke tempat masing-masing dan siap untuk memulai pekerjaan mereka.

Namjoon berdiri di meja kasirnya dengan senyuman di wajahnya, bersiap melayani para pengunjung yang sudah mulai berdatangan.

Sementara Yoongi masuk ke dapur dan mengajak bicara Jin.

"Kau selalu tersenyum seperti itu, hyeong... Senyumanmu menggangguku, jinjja.." sahut Yoongi sambil tersenyum, menatap wajah Jin.

"Satu lagi tukang gombal mulai beraksi, huft~" sahut Jin sambil memukul pelan bahu Yoongi.

Yoongi tertawa. "Namjoon sudah menggodamu duluan tadi?"

Jin menganggukan kepalanya.

"Oke, aku kalah cepat, huft~" sahut Yoongi sambil berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan kaca kecil yang ber-AC, di dalamnya terdapat satu meja kerja, tiga kursi, satu set komputer, sebuah laptop, dan beberapa peralatan kerja lainnya.

Ruangan khusus Min Yoongi, sang pemilik kafe yang swag dan mudah mengantuk. Itulah yang selalu dikatakan Jin dan Namjoon mengenai ruangan kaca itu.

.

.

.

Handphone Jin berbunyi ketika jam istirahat tiba.

Khusus di kafe itu, setiap pukul 02.00 PM - 03.00 PM kafe tutup sementara agar semua pekerja disana bisa beristirahat selama satu jam, dan tentu saja Yoongi akan selalu tertidur setelah selesai makan siang bersama Jin dan Namjoon.

Biasanya Yoongi baru bangun tidur sekitar pukul 04.30 PM. Maklum, pemilik kafe, jadi ia bebas tidur sampai jam berapapun.

"Annyeong, chagiya~" sahut Jin, menjawab telepon dari kekasihnya itu.

Namjoon dan Yoongi yang sedang makan siang bersama Jin saling menatap satu sama lain, lalu menggelengkan kepalanya.

"Orang kaya itu benar-benar merusak impian kita..." bisik Namjoon kepada Yoongi.

Yoongi menganggukan kepalanya. "Majjayo~ Huft..."

Apa impian Namjoon dan Yoongi? Tentu saja, menikahi Jin!

Namjoon dan Yoongi sudah menyukai Jin sejak Jin pertama kali bekerja di kafe itu dua tahun yang lalu.

Namjoon yang sudah bekerja lebih dulu disana, dan Yoongi yang saat itu selalu harus mampir ke kafe sepulang kuliah untuk persiapannya mengurus kafe itu, terpana ketika pertama kali Jin diperkenalkan sebagai assisten chef baru disana.

Dan mereka bertiga akhirnya bisa bersahabat dekat, dengan satu tujuan, sama-sama ingin bersaing secara adil untuk mendapatkan hati Jin.

Namun impian mereka rasanya hancur berantakan ketika Jin berkencan dengan Taehyung enam bulan yang lalu.

Pertemuan pertama Jin dengan Taehyung dikarenakan Jin menolong Taehyung tengah depresi saat itu.

Tujuh bulan yang lalu, sepulang bekerja, Jin melihat Taehyung ada di Mapo Bridge, jembatan yang dikenal sebagai tempat bunuh diri itu.

Jin tengah menaiki mobil Yoongi malam itu, karena Yoongi bersikeras untuk mengantar Jin pulang.

Hujan sangat deras malam itu sehingga Jin mengiyakan ajakan Yoongi untuk pulang bersama, padahal biasanya ia lebih suka pulang ke rumah dengan menaiki bus.

Jin memang tidak suka merepotkan orang lain, termasuk sahabatnya.

Dan saat itulah Jin melihat Taehyung terlihat sedang berusaha memanjat tepi jembatan untuk bunuh diri, dan Jin meminta Yoongi menghentikan mobilnya.

Di tengah hujan lebat itu, Jin segera berlari, menarik tubuh Taehyung hingga mereka berdua terbanting ke tepi jembatan, dan Jin menahan tubuh Taehyung yang memberontak.

Sejak saat itulah, Jin yang awalnya berniat untuk menyelamatkan nyawa Taehyung, yang awalnya berusaha mendekati Taehyung agar ia tidak berniat bunuh diri lagi, justru jatuh cinta pada Taehyung.

Begitu juga dengan Taehyung, yang akhirnya jatuh cinta kepada Jin yang telah menyelamatkan hidupnya dan memberinya warna baru dalam hidupnya.

Dan hanya butuh waktu sebulan bagi mereka berdua untuk menyadari perasaan masing-masing. Dan mereka akhirnya berkencan, dan hal ini tentu saja membuat Namjoon dan Yoongi ingin merutuki Taehyung setiap mereka melihat wajah Taehyung.

.

.

.

Jin terlihat sangat bersemangat sesorean itu, setelah menerima telepon dari Taehyung.

"Cih~ Perasaanmu selalu terlihat jelas di wajahmu, hyeong.." gerutu Yoongi yang agak kesal melihat betapa cerianya wajah Jin karena Taehyung berjanji akan menjemputnya malam itu setelah kafe tutup.

"Hahaha~" sahut Jin dengan tawa kecilnya, memamerkan betapa bahagianya ia sore itu.

"Namjoon a~ Jin hyeong mulai gila..." teriak Yoongi dari dapur.

"Pukul kepalanya dengan panci yang besar saja, hyeong!" teriak Namjoon dari meja kasir.

Jin tertawa melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.

Waktu terasa cukup lama bagi Jin, yang sudah tak sabar akan bertemu kekasihnya itu.

Akhirnya jarum jam menunjukkan pukul 08.00 PM. Saatnya kafe tutup.

Namun Taehyung belum juga terlihat ada disana, padahal biasanya jam delapan kurang ia sudah ada di depan, menunggu di dalam mobilnya.

"Taehyung belum datang?" tanya Namjoon sambil menatap Jin.

Jin menganggukan kepalanya. "Mungkin masih ada kerjaan yang penting..."

"Sudah kau hubungi handphonenya?" tanya Yoongi.

"Tak diangkat... Apa ia dalam perjalanan ya? Atau masih meetingkah?" sahut Jin sambil memiringkan kepalanya.

Namjoon dan Yoongi menemani Jin menunggu Taehyung hingga pukul 08.35 PM, namun Taehyung belum juga bisa dihubungi.

"Lebih baik aku pulang dulu, kalau ada kabar dari Taehyung, aku akan menyuruhnya ke rumahku saja.." sahut Jin.

"Kau mau kuantar pulang?" tanya Namjoon.

Jin menggelengkan kepalanya. "Gwenchana, aku naik bus saja.."

"Kalau kuantar hyeong? Pasti juga tidak mau.." sahut Yoongi.

"Kau sudah tahu jawabannya kan? Hehehe~" sahut Jin.

Akhirnya mereka berpamitan dan kembali ke rumah masing-masing.

Dan dalam perjalanan Jin menuju halte, hujan deras turun tiba-tiba.

Jin berlari agar bisa secepatnya sampai di halte bus, namun tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang menuju tepat ke arah Jin saat ia menyeberang jalan.

Kondisi jalanan dan daerah sekitarnya cukup sepi, hanya ada Jin yang tengah menyeberang jalan.

DUG!

CIIIIIIIIIIT!

BRAK!

Tubuh Jin terpental beberapa meter ke depan, dan darah mulai mengalir dari kepalanya, mengalir ke jalanan disekitarnya bersamaan dengan aliran air hujan yang tengah turun dengan derasnya.

Mobil itu segera pergi secepat kilat.

Untung saja saat itu Namjoon, yang tengah mengendarai motornya, melintas di tempat Jin terkapar itu.

Dan Namjoon langsung menepikan motornya, menghampiri tubuh Jin yang terkapar dengan berlumuran darah.

"Hyeooooooooong!" Namjoon berteriak melihat kondisi Jin.

Namjoon segera menghubungi Yoongi dan juga ambulans.

Setelah ambulans tiba, mereka segera menemani Jin ke rumah sakit terdekat.

Dan di saat bersamaan, di dalam mobil yang menabrak Jin itu, Taehyung duduk di kursi belakang, terus berusaha meronta dan menggumam tidak karuan.

Tubuhnya terikat dan mulutnya tertutup kain yang diikat di mulutnya.

"Appa bahkan bisa melakukan hal yang jauh lebih keji dari ini kepadanya jika kau masih bersikeras ingin mengencaninya..." sahut Mr Kim yang duduk tepat disamping Taehyung.

Taehyung terus merutuki ayahnya yang begitu tega menyakiti kekasihnya, tepat di hadapannya, namun hanya gumaman yang terdengar karena mulutnya tertutup kain.

"Sekarang kau pikirkan baik-baik.. Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu, Kim Taehyung, calon pewaris dari V&Kim Mart..." sahut Mr Kim dengan senyuman di wajahnya.

.

-TBC-


reply for review:

dewiaisyah: we meet again dewi :) whooaaa~ thx for liking my ff :) iya taejin manis2 gimana gitu ya wi wkwkw :) kamu juga semangat ya wi :)