Chapter sebelumnya...

Tuan Park mondar-mandir dengan ponsel yang berada digenggaman tangannya. Diikuti dengan pandangan gelisah dari sang istri, Nyonya Park. Raut wajahnya terlihat sangat pucat, dan keringat yang sebesar biji jagung pun terlihat disekitar dahinya.

"Bagaimana? Apakah sudah mendapat kabar dari orang suruhanmu?" tanya Nyonya Park dengan menampakkan raut yang sama gelisahnya dengan sang suami. Tangannya ia katupkan didepan dadanya tanda ia sangat gelisah.

Cklek

Laki-laki dengan baju berwarna serba hitam itu masuk dan segera membungkukkan tubuhnya dihadapan Tuan Park.

"Maaf tuan, kami mendengar kabar bahwa tuan muda Baekhyun datang ke club malam di daerah Myeongdeong. Tapi saat saya mengecek kesana, ternyata dia sudah tidak ada disana."

Mata Tuan dan Nyonya Park membelalak kaget. Apa? Club malam? Sejak kapan Baekhyun-nya suka menginjakkan kakinya di tempat seperti itu?

"Lalu sekarang dia dimana?" tanya Tuan Park dengan nada Khawatir.

"Saya tidak tahu, Tuan. Tapi saat saya bertanya pada bartender disana, mereka menjawab bahwa Tuan Baekhyun dibawa pergi oleh teman sekolahnya." Jawaban itu mendapat helaan napas berat dari pria setengah baya itu.

"Ya sudah, kau boleh pergi." Perintah Tuan Park dan dipatuhi oleh laki-laki yang berada dihadapannya itu.

"Bagaimana ini, bagaimana mungkin Baekhyun pergi kesana? Dia bahkan anak yang penurut dan baik. Tidak mungkin dia pergi kesana." Kata Nyonya Park yang semakin khawatir dengan keadaan Baekhyun. Tuan park hanya menatap istrinya dengan tatapan yang sedih, ia bahkan juga tak percaya jika Baekhunnya akan pergi ketempat yang seperti itu.

"Sudah, sekarang aku akan meminta Chanyeol untuk menanyakan siapa yang membawa Baekhyun. Siapa tahu Chanyeol tahu." Nyonya Park hanya mengangguk setuju dengan ucapan suaminya.

"Lebik baik sekarang kita istirahat. Kau harus tidur." Ajak Tuan Park dengan menggandeng lengan istrinya pelan menuju kamar mereka.

Disudut sana, tepat disebuah pintu kamar yang terletak dipojok rumah, Kris menghela napas lelah. Tangannya merogoh saku celana dan segera mengetik beberapa angka di atas layar ponselnya. Tatapannya masih terarah kearah pintu kamar kedua orang tua nya. Sedikit senyuman menghiasi wajah dinginnya.

"Ayah dan Ibu bisa saja menyembunyikan sebuah kenyataan dari Baekhyun dan Chanyeol. Tapi dengan ku tidak, aku sudah tau semuanya Ayah, Ibu. Aku akan memberitahu Baekhyun secepatnya." Gumam Kris yang segera masuk kedalam kamarnya.

Dont Hate Me Anymore

.

By : Huang Han Jong

New Present

.

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Kim Jongin

Do Kyungsoo

Oh Sehun

And Other Cast

.

Drama, sinetron, bahasa penuh keALAYan, tidak sesuai EYD, Typo's everywhere (Nggak ada acara edit mengedit, oke?), Cerita nggak jelas alurnya. But this is my own brain works.

.

Happy Reading

Pagi menjelang, matahari dengan malu mengintip kedalam kamar dari celah gorden. Kamar itu begitu remang-remang karena minimnya cahaya. Baekhyun mengerjap-erjapkan mata sipitnya dengan bibir yang mengerucut lucu. Dengan linglung ia melihat-lihat kamar yang ia tiduri semalaman.

"Ini kamar siapa?" tanyanya pada dirinya sendiri dengan linglung. Ia mencoba untuk bangun dari rebahannya. Namun rasa pening segera menyerangnya dengan tiba-tiba sehingga membuat ia mengerang pelan. Membawa jemarinya untuk memijat kepalanya sejenak, Baekhyun merasakan sesuatu mendesak ingin keluar melalui mulutnya. Dengan segera menyibak selimut yang membungkus tubuhnya, Baekhyun keluar dari selimut dan berlari menuju kamar mandi seraya menutup mulutnya.

"HUWEK! HUWEK! HUWEK!"

Keringat sebesar biji jagung segera menghiasi wajah Baekhyun. Tangannya dengan erat memegangi pinggiran kloset. Matanya terpejam merasakan sesuatu keluar melalui mulutnya. Perutnya terasa kaku, dan itu sangat tidak nyaman. Rasa pening itu semakin menjadi dan membuat Baekhyun mengeluarkan airmatanya.

Dirasa rasa mualnya sudah menghilang, Baekhyun menyiram kloset dan menyenderkan tubuhnya yang lemas di dinding. Kakinya seperti jelly, dan perutnya masih kaku.

BRAK

"Baekhyun? Kau dimana?!" suara itu membuat Baekhyun menolehkan wajahnya kearah pintu kamar mandi.

"Di kamar mandi." Serunya lemas. Suara derap langkah terdengar terburu-buru. Dan disana Baekhyun melihat Kyuhyun dengan raut wajah yang khawatir. Mungkin takut jika Baekhyun hilang.

"Kau baik-baik saja?" tanya Kyuhyun yang di anggguki kepala oleh Baekhyun.

Kyuhyun membantu Baekhyun berdiri dan menuntunnya keluar kamar mandi. Mendudukannya di ranjang tempat tidur dan menyodorkan segelas air putih.

"Terimakasih, Hyung." Kyuhyun mengangguk.

"Oh iya, tadi bibi Kim membuatkan sup yang bisa mengurangi rasa mual mu. Makanlah selagi masih hangat, aku akan keluar dulu." Kyuhyun beranjak dari duduknya.

"Hyung,"

"Ya?"

"Gomawo." Kyuhyun tersenyum.

0o0

Baekhyun membuka matanya lagi didalam kamar yang sama. Hanya saja, cahaya matahari yang agak terik membuatnya terbangun. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membuang sesuatu yang merangsek segera ingin di keluarkan.

"Ahhh, leganya." Gumamnya dengan helaan napas yang begitu lega. Keluar kamar mandi, Baekhyun bergegas keluar dari kamar yang ia duga adalah kamar tamu. Matanya menelusuri setiap sudut rumah Kyuhyun yang lumayan besar untuk ditinggali Kyuhyun, satu pembantu dan satu tukang kebun.

"Astaga!" Baekhyun menopang tubuhnya yang terhuyung kebelakang. Terkejut dengan pemandangan yang ada didepan matanya.

Disebrang sofa sana, seseorang tengah bergumul dengan panas tanpa sehelai benang pun. Alias naked, alias telanjang, alias tidak pakai baju. Wajah Baekhyun terasa terbakar, dengan tanpa suara ia segera membalik tubuhnya dan masuk kembali kedalam kamar.

"Bagaimana bisa sesama laki-laki berbuat seperti itu?"

Baekhyun mengusap peluh sebesar biji jagung yang ada di keningnya. Bayangan akan Kyuhyun dan kekasihnya-mungkin- atau siapapun itu sedang bergumul diatas sofa dan suara desahan terlintas dipikiran Baekhyun, membuat wajah laki-laki itu memerah.

"Apakah tidak sakit saat itu- Yak, apa yang kupikirkan?!" Baekhyun histeris sendiri saat tak sengaja mengingat bagaimana sesuatu keluar masuk di 'itu' milik Kyuhyun.

"Aish, lupakan lupakan lupakan lupakan. Pergi dari pikiranku, pergi dari pikiranku. Hush hush hush!" Baekhyun melambaikan tangannya seakan mengusir nyamuk diatas kepalanya.

Tak puas dengan kegiatannya, Baekhyun berjalan kearah tempat tidur dan mengacak-acak selimut.

"Baekhyun? Kau tidak apa-apa?" Kyuhyun berjalan kearah Baekhyun yang menghentikan tingkah anehnya.

Sedangkan yang ditanyai hanya nyengir dengan tanpa dosa dan sedikit melirik kearah bagian bawah Kyuhyun.

"E-em, i-itu anu, ak-ku t-tidak apa-apa, hehe." Cengir laki-laki itu dengan meremas selimut didepannya. Sedangkan Kyuhyun hanya tersenyum. Tau jika laki-laki mungil di hadapannya baru saja melihat ia dan kekasihnya melakukan sesuatu di sofa depan tadi.

"Aku tau kau melihatnya. Maaf, seharusnya tadi aku-"

"Tidak! Aku tidak melihat, m-maksudku a-aku itu, anu," melihat Baekhyun yang gelagapan dan wajahnya yang merona, Kyuhyun yakin anak itu melihat kegiatan 'olahraga'-nya dengan sang kekasih.

"Lagipula, tidak apa-apa jika kau melihat. Kecuali kau homopobhia." Kyuhyun mengangkat bahunya ringan. Tidak mempermasalahkan tingkah Baekhyun.

Baekhyun hanya menyengir canggung. Rasanya tidak nyaman dengan topik pembicaraan seperti ini. Baekhyun tidak menyangka jika Kyuhyun, seniornya disekolah ternyata mempunyai orientasi yang menyimpang. Dan dengan mata kepala Baekhyun sendiri melihat bagaimana Kyuhyun dan kekasihnya melakukan 'itu'.

"M-maaf, Hyung. A-aku tidak s-sengaja, itu... M-melihat-"

"Tidak apa-apa. Seharusnya aku tidak melakukan itu di ruang tengah." Kyuhyun mengangkat bahunya acuh. "Tapi, bisa kau rahasiakan masalah orientasiku?" Baekhyun refleks menganggukkan kepalanya.

"Memangnya, i-itu tidak-" Baekhyun melirik bagian bawah Kyuhyun dan kembali menatap kyuhyun yang ikut melirik kebawah, "S-sakit?"

Kyuhyun terkekeh mendengar pertanyaan canggung Baekhyun. Dengan sedikit agak meringis, Kyuhyun menggeser duduknya mendekat kearah Baekhyun. "Pada awal melakukan memang sakit. Tapi-" Kyuhyun sedikit memajukan wajahnya, "Itu akan membuatmu mengerang dengan- uhh!"

Baekhyun berjingkat kaget. Refleks ia berteriak nyaring saat Kyuhyun sengaja meniup telinganya. Oh, ya ampun!

"Yak! Kau mesum, Hyung!" Wajah Baekhyun memerah sampai telinganya.

Sedangkan Kyuhyun hanya tertawa dengan nistanya. Poor Baekhyun.

0o0

Chanyeol baru saja meletakkan jaket kulitnya dengan sembarangan. Dengan gusar mengusap wajahnya yang terlihat lelah dengan kantung mata yang terlihat mengerikan. Rambutnya ia acak asal dan membanting tubuhnya ke atas kasurnya yang empuk.

"Brengsek! Kemana perginya pria sialan itu?! Menyusahkan saja!" gerutunya dengan menatap langit-langit kamarnya.

Semalam, setelah mengantarkan istrinya tidur, Tuan Park menemui Chanyeol yang tengah asik bermain game dikamarnya. Chanyeol hanya melirik sekilas saat Ayahnya berjalan menghampiri dirinya.

"Ada apa?" tanya Chanyeol waktu itu.

"Bisa kau cari tau dimana Baekhyun? Sudah jam segini ia tak dirumah, dan ada kabar kalau ia mengunjungi bar di-"

"APA?! BAR?" Chanyeol refleks membanting stick PS nya dan melotot kaget kearah Ayahnya yang juga terkejut dengan teriakannya.

"Iya, tapi kata orangku dia sudah dibawa oleh teman sekolahnya. Mungkin kau tau dimana Baekhyun, atau paling tidak kau tau siapa temannya yang membawa dia-"

"Memangnya aku babysitter-nya yang harus tau dia punya teman siapa? Dia selalu suka berada dimana? Memangnya aku siapanya?" potong Chanyeol, "Ayah tidak pernah mengkhawatirkan aku sedikit pun. Meskipun aku anak kandung ayah, aku darah daging ayah, aku anak dari istri ayah, tapi kenapa ayah selalu memikirkan anak sialan itu, hah? Selalu mengkhawatirkan Baekhyun? Anak ayah itu AKU atau Baekhyun?"

"Bukan begitu, Chanyeol-ah. Ayah-"

"Terserah kau saja!"

Chanyeol mengusak wajahnya kasar. Ia melirik ponselnya yang berdering diatas nakas mejanya dan mengambilnya.

"Hm." Chanyeol bergumam menanggapi panggilan di seberang telepon sana.

'Aku tau keberadaan Baekhyun.'

"Dimana?"

0o0

Kyungsoo baru saja keluar dari apotik, membelikan obat untuk Ibu nya yang diare. Laki-laki itu berjalan dengan wajah datar andalannya saat beberapa orang memandanginya –Lebih tepatnya pantatnya- dengan tatapan lapar.

"Menjijikkan sekali mereka." Gumamnya sambil terus berjalan. Menghiraukan orang-orang yang memandanginya tak berkedip.

"Aku tau jika aku seksi, tapi kenapa sampai meneteskan air liur begitu? Rasanya aku ingin muntah." Ucapnya lirih sambil melirik paman-paman tua yang sudah beristri.

Kyungsoo menaikkan penutup kepala di Hoodie nya yang kebasaran dan semakin menurunkan bagian bawah hoodie agar menutupi bagian pantatnya. Kyungsoo tau jika dirinya laki-laki yang binal, tapi jika di lihat seperti itu rasanya tidak nyaman juga.

"Hei anak manis, kenapa jalan sendirian?"

Suara berat itu membuat Kyungsoo tersentak. Tangannya yang memegang plastik berisikan obat mengepal erat. Ia mendongakkan kepalanya, melihat orang yang tengah menghadang jalannya. Kepalanya celingukan dengan tatapan bingung.

'Mati aku. Ini jalanan sepi. Kenapa siang-siang begini tidak ada orang yang lewat?' batin Kyungsoo nelangsa.

"Aku tidak sendiri kok paman. Ada temanku yang menunggu di ujung jalan sana." Kyungsoo inginnya berjalan dan melewati paman itu begitu saja, namun saat Kyungsoo berjalan kearah kiri paman itu juga ikut kearah kiri.

"Bisa kau minggir paman? Kau menghalangi jalanku." Kyungsoo sedikit menyentak, membuat pria tua didepannya mendecih.

"Beginikah caramu berucap pada orang yang lebih tua? Tidak sopan sekali! Akan ku buat mulutmu lebih sopan, nak!" Pria paruh baya itu mencengkeram tangan Kyungsoo dan menyeretnya dengan kasar. Kyungsoo tentu saja berontak, namun karena postur tubuh yang lebih kecil membuat Kyungsoo susah untuk sekedar menendang benda berharga milik laki-laki tua itu.

"Yak, Paman! Lepaskan tangan temanku."

Langkah kaki yang terburu-buru tadi terhenti. Laki-laki yang mencekal tangan Kyungsoo menolehkan kepalanya, juga dengan Kyungsoo. Mata Kyungsoo membulat melihat siapa yang akan menolongnya mungkin?

"Siapa kau?" laki-laki paruh baya itu menghampiri seseorang yang baru saja menghentikan langkah kakinya.

"Aku? Aku temannya laki-laki yang kau seret itu. Kenapa?" Baekhyun –laki-laki itu berjalan mendekati pria paruh baya itu dengan wajah datar. Dengan cepat ia meraih tangan Kyungsoo dan menarik kearahnya.

"Kau itu sudah tua, Paman. Sepetinya kau juga sudah beristri, kenapa kau mencari yang lebih muda? Apa Lubang istrimu sudah terlalu longgar untukmu? Oh, atau kau perjaka tua? Astaga Paman, maaf mulutku terpeleset!" Baekhyun menyeringai kecil saat perkataannya membuat laki-laki paruh baya itu terpancing emosinya.

"Ah, karena mulutmu tepeleset, sini akan paman perbaiki dengan memasukkan milik paman kedalam mulutmu."

"A-akh!" tanpa Baekhyun sadari laki-laki itu sudah menariknya dengan kasar hingga terperosok kedalam gang kecil. Kyungsoo agak terkejut saat melihat Baekhyun yang sudah terpojok.

Dengan agak kebingungan, memilih menyelamatkan Baekhyun dengan mengorbankan dirinya atau menyelamatkan dirinya sendiri dengan membiarkan Baekhyun, akhirnya Kyungsoo berlari meninggalkan Baekhyun dengan pria tua itu.

"Lihat, temanmu meninggalkanmu. Jadi, karena kau sudah merusak rencana ku untuk 'memakan' temanmu, bagaimana jika kau saja yang menggantikan, hm? Disini juga sepi." Pria itu mengelus pipi sebelah kiri Baekhyun dengan pelan. Membuat Baekhyun sedikit bergidik ngeri.

Pasalnya ia tadi juga tidak tau apa yang dia lakukan, dan mendapat keberanian dari mana untuk mengeluarkan kata-kata yang provokatif begitu. Rasa-rasanya Baekhyun ingin mati saja jika dihadapkan oleh keadaan seperti ini.

"E-em, begini, Paman. Sebenarnya itu tadi aku hanya bercanda. Jangan dianggap serius paman. Perkataanku jangan diambil hati, aku tadi hanya berlatih dialog saja, jadi aku tidak betul-betul untuk berkata begitu-"

Tatapan lapar yang dipasang oleh laki-laki tua itu membuat Baekhyun semakin merangkak kebelakang dengan mata yang menatap awas ke arah laki-laki didepannya.

"Ah, sayangnya aku menganggap perkataanmu serius. Bagaimana? Rasanya aku ingin memasukkan -akh"

Tiba-tiba saja sebuah batu bata sudah melayang kearah belakang kepala lai-laki tua hingga membuatnya mbruk. Baekhyun berteriak kaget.

"Kau tidak apa-apa?"

"Kau siapa?"

"Aku-"

Belum sepenuhnya mendengar sahutan orang yang menolongnya, pandangan Baekhyun sudah menghitam saja.

0o0

Kyungsoo masih berlari dan sesekali menoleh kebelakang. Ia melihat beberapa meter didepan pagar rumahnya sudah terlihat. Tangannya dengan gusar merogoh saku hoodienya guna mengambil ponselnya.

"Aish, susah sekali mencari nama keparat itu?" tangannya yang masih agak gemetar berusaha mencari nama yang mungkin bisa menolong Baekhyun.

"Chanyeol?"

"Hm."

"Aku tau keberadaan Baekhyun." Kyungsoo menetralkan nafasnya.

"Dimana?"

"Dia tadi menolongku didekat supermarket rumahku. Dia sekarang sedang di –di itu, di –aish pokoknya ia mungkin sekarang digarap oleh laki-laki keparat yang akan me –Yak! Halo? Chanyeol?! Aish keparat itu!" Kyungsoo memasukkan ponselnya lagi dan menoleh kebelakang sekali.

"Semoga kau selamat Baekhyun. Maaf meninggalkanmu."

Setelahnya Kyungsoo masuk kedalam pagar rumahnya dengan cepat.

0o0

"Baekhyun? Byun Baekhyun?"

Orang yang disebut namanya mengerjapkan kedua matanya. Mencoba membiasakan kedua retina matanya menerima cahaya yang sedikit silau. Matanya bergerak acak melihat sekelilingnya yang asing. Ia langsung duduk dan menolehkan kepalanya, menemukan seorang pria muda tengah duduk sambil menatapnya.

"Kau berada di apartement ku. Aku Taehyung. Kau Byun Baekhyun, benar?" Baekhyun menganggukkan kepalanya.

"Kau siapa?" Baekhyun memundurkan tubuhnya saat Taehyung mendekat kearahnya. Ia menundukkan tubuhnya guna mensejajarkan wajahnya dengan wajah Baekhyun.

"Aku –Kembaranmu, mungkin?" Seringai tipis terpampang di bibir tipis Taehyung.

"Kembaran? Bagaimana mungkin kau kemb –mph" tak lama mata Baekhyun terpejam dengan perlahan saat sapu tangan dengan bau menyengat menyapa panca inderanya dan membuat kepalanya pening serta matanya memberat. Baekhyun terkulai di hadapan Taehyung.

"Kau lemah sekali, Hyung!" Taehyung mendecih sambil menatap wajah Baekhyun yang tak sadarkan diri. "Maaf, hyung, aku harus melakukan ini."

Taehyung membuka satu persatu kancing baju Baekhyun, mendekatkan wajahnya pada perpotongan leher Baekhyun dan menyesap kulit leher itu hingga meninggalkan bekas keunguan yang kentara di kulit Baekhyun yang putih. Hisapannya mulai turun ke bagian dada Baekhyun dan membuat dada itu mempunyai tanda yang sama seperti yang ada di leher.

Taehyung dengan tidak sopannya segera menelanjangi Baekhyun sepenuhnya dan menindih tubuh putih bak porselen. Taehyung tidak menyangka bahwa tubuh seorang laki-laki bisa seputih dan semulus ini. Dengan cepat Taehyung mengecup seluruh tubuh Baekhyun yang hanya terdiam.

Taehyung mengambil ponselnya dan memotret tubuh Baekhyun. "Lumayan bisa dilihat saat aku tidak ada kerjaan."

"Maafkan aku."

0o0

Chanyeol melihat tubuh Baekhyun yang terkulai lemas dengan baju yang berantakan di ujung gang sempit tempat yang tak jauh Kyungsoo beritahu padanya beberapa jam yang lalu. Sebelum menemukan Baekhyun, Chanyeol mengelilingi tempat yang salah. Ia tak terlalu mendengar alamat yang Kyungsoo berikan karena ia terlalu khawatir pada Baekhyun.

Khawatir, huh? Seorang Park Chanyeol khawatir pada laki-laki yang ia anggap sebagai anak haram itu? sepertinya kiamat akan segera datang.

'Aku panik karena Ibu, Ibu yang menyuruhku membawa bocah sialan itu pulang. Aku tidak khawatir padanya.' Ucapnya dalam hati saat ia berkeliling mencari Baekhyun.

Dan sekarang, saat Chanyeol melihat Baekhyun tak sadarkan diri dengan baju yang berantakan. Dan matanya juga melirik bekas keunguan di leher Baekhyun. Matanya menatap tajam tanda itu.

"Kissmark?" saat Chanyeol melihat dengan jelas melihat tanda itu. tangannya tanpa sadar mengepal dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Dengan cepat ia menggendong Baekhyun di punggungnya. "Ck, kau merepotkan."

Beberapa menit kemudian, Chanyeol sampai disebuah apartement. Memasukkan sandinya dan memasuki apartemen itu. membawa tubuh digendongannya menuju kamar yang ada dan membaringkannya.

Chanyeol menghembuskan napas saat melihat sekali lagi keadaan Baekhyun yang masih tak sadarkan diri. Wajah pria itu terlihat pucat karena kurang tidur. Bawah matanya terlihat menghitam dan bibirnya agak memucat. Namun, alisnya menukik tanda ia sedang memikirkan sesuatu.

"Apa aku harus mengganti bajunya?" pikir Chanyeol yang masih menatap Baekhyun.

Dengan ragu Chanyeol membuka kancing baju Baekhyun. Dengan pelan menampakkan tubuh bagian depan Baekhyun yang putih tetapi berhiaskan noda berwarna keunguan yang tidak akan hilang selama beberapa hari kedepan. Tangannya tanpa sadar(lagi) menggenggam erat baju Baekhyun. Dengan menelan ludah guna menahan emosinya, Chanyeol melanjutkan membuka baju Baekhyun serta celananya. Dengan cepat memakaikan baju ganti yang sudah ia siapkan ke tubuh Baekhyun.

Namun, saat akan memakaikan celananya, Chanyeol melihat bekas cairan putih yang mengering di bagian paha dalam Baekhyun. Dengan bersungut, Chanyeol menutup bagian bawah Baekhyun dengan selimut lalu berjalan keluar kamar. Tepat setelah pintu kamar tertutup dengan kasar, Baekhyun membuka matanya. Mengerjap beberapa kali dan melihat ruangan yang begitu asing namun erbeda dengan ruangan yang ia ingat tadi.

Saat merasakan kain yang menutupi bagian bawahnya menggesek bagian yang sensitif, Baekhyun segera terduduk dan mengintip bagian bawahnya yang tak tertutypi apapun kecuali selimut.

"AAAAAA!" Baekhyun berteriak dengan menggulung selimut mengitari pinggangnya. Matanya terasa panas saat sekelebat bayangan tentang seseorang yang mengaku sebagai kembarannya tiba-tiba membekap mulut dan juga hidungnya dengan sapu tangan. Ia melihat sekitarnya dengan seksama lagi. Ia turun dan meraih celana yang teronggok dilantai. Memakainya dengan cepat dan berlari keluar kamar dengan menahan rasa sakit di bagian pinggangnya.

"Mau kemana kau?" suara berat itu membuat Baekhyun berjingkat kaget. Berniat segera lari dari apartement itu, namun tubuhnya sudah dibalik menghadap seseorang yang berada dibelakangnya tadi.

"C-chan-yeol?" mata sipit Baekhyun terbelalak melihat laki-laki tinggi dihadapannya adalah Chanyeol. Laki-laki yang selalu membuatnya merasakan sakit dan membuat hari-harinya terlalu sulit untuk di lewati. Laki-laki yang akan tertawa disaat dirinya menderita.

"Jadi, kau yang membuatku mengalami semua ini?" Chanyeol mengernyit dengan pertanyaan Baekhyun.

"Apa maksudmu?" tanya Chanyeol dengan alis yang mengernyit.

"Huh? Kau bertanya apa maksudmu? Aku tidak percaya ini?!" Baekhyun berdecih, "Sebegitu bencinya kau padaku?"

"Ya, aku membencimu sampai ingin rasanya aku membunuhmu." Chanyeol yang masih bingung dengan pertanyaan Baekhyun tadi hanya menjawab sekenanya.

"Jika kau membenciku, kenapa tidak kau bunuh saja aku? Kenapa kau harus menyuruh orang untuk memperkosa ku, hah? KENAPA KAU MELAKUKAN SEMUA INI PADAKU?! BUNUH SAJA AKU, BRENGSEK!" Baekhyun histeris dihadapan Chanyeol yang termangu dengan perkataan Baekhyun. Apa maksudnya Baekhyun diperkosa?

"Kau –diperkosa?" tanya Chanyeol lagi membuat Baekhyun segera meninju wajah Chanyeol. Ekspresi Chanyeol yang seperti meyakinkan bahwa ia diperkosa membuat Baekhyun yakin bahwa itu adalah orang suruhan Chanyeol.

Baekhyun yang selesai meninju wajah Chanyeol langsung keluar apartement. Meninggalkan Chanyeol yang meringis saat wajahnya nyeri dan juga bagina selangkangannya berkedut sakit karena Baekhyun sempat bersentuhan dengan lutut Baekhyun dengan keras.

"S-sialan, s-sakit sekali!" Ringis Chanyeol seraya memegangi bagian bawahnya.

0o0

Baekhyun masih berlari hingga kakinya mati rasa. Keringat yang mengaliri keningnya mengalihkan air matanya yang ikut terjatuh dari matanya. Ia tidak menyangka bahwa Chanyeol sebegitu membencinya hingga tega berbuat semacam ini padanya. Menyuruh orang untuk memperkosanya? Baekhyun pikir ini sudah keterlaluan.

Baekhyun berhenti di sungai Han. Matanya menatap kosong kearah air yang berayun tenang. Rasa dingin ia halau hanya dengan kaos tipis berlengan panjang serta celana training yang tipis. Ia mengabaikan sesuatu yang sebentar lagi keluar melalui hidungnya. Matanya terpejam menikmati rasa dingin yang menerpanya dan menusuk kulit hingga ke tulang.

"Kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang mengalami ini? KENAPA HARUS AKU SIALAN?!" teriakan frustasi Baekhyun membuat beberapa orang disana menoleh dengan cemohan yang mengiringi.

Beberapa kilasan memutar di pikiran Baekhyun, bagaikan rol kaset rusak yang berputar-putar secara otomatis tanpa bisa di berhentikan.

Baekhyun baru saja keluar dari rumah Kyuhyun untuk mencari tempat tinggal sementara karena ia memutuskan untuk pergi dari rumahnya. Ia berjalan hingga sampai didepan cafe yang biasa ia gunakan untuk bersantai sambil membeli minuman favoritnya.

Ia memasuki cafe itu dan memesan minuman yang seperti biasa ia beli dan mencari tempat duduk yang biasa ia duduki juga. Kursi di pojok ruangan yang menghadap kearah jendela. Ia bisa melihat lalu lalang orang berjalan. Sesekali ia akan tesenyum saat melihat sesuatu yang lucu. Tapi terkadang ia merasa iri saat orang lain bisa berjalan dengan teman, bercanda, tertawa bersama, melakukan hal gila dan menikmati masa remaja dengan tingkah yang bisa diceritakan di masa depan.

Berbeda dengan dirinya yang seluruh hidupnya hanya diisi dengan hal-hal yang membosankan. Masa remaja yang saat ini juga tidak ada yang baik. Warna hidupnya hanya berwarna abu-abu. Tidak seperti orang lain yang berwarna pelangi.

"Bisa kau rahasiakan ini dari siapapun? Hanya aku dan kau saja yang mengetahui." Sebuah suara yang familiar di telinga Baekhyun membuat lamunannya buyar seketika. Ia sedikit menoleh untuk melihat siapa yang berbicara.

Ternyata, Kris, kakaknya.

"Jangan beritahukan ini pada siapapun, terutama Baekhyun."

Ada apa denganku? Kenapa Kris hyung menyuruh orang itu mengrahasiakan sesuatu dari semua orang terutama dirinya? –pikir Baekhyun saat itu. ia dengan cepat memutar kepalanya lagi dan menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi guna memperjelas suara yang terdengar.

"Memangnya apa yang harus kurahasiakan?" tanya seseorang yang ada dihadapan Kris.

"Ini tentang Ibu kandung Baekhyun, bisa kau cari dimana keberadaannya?" tanya Kris dengan memajukan tubuhnya.

"Ibu kandung Baekhyun? Bukankah dia adikmu?" bingung dengan perintah Kris. Baekhyun adalah adik kandung Kris, lalu kenapa ia harus mencari Ibu kandung Baekhyun?

"Dia bukan adik kandung ku. Sewaktu aku masih kecil dan juga Chanyeol, ayahku menemukan Baekhyun bayi didepan pintu rumah. Dia adalah anak yang dibuang oleh Ibunya. Sebenarnya ia tidak buang, anggap saja ibunya menitipkan Baekhyun pada keluargaku. Sewaktu kecil, kita bertiga sangat akrab. Terutama Chanyeol dan Baekhyun. Mereka berdua bagaikan sepasang anak kembar, tidak bisa dipisahkan. Hingga sesuatu terjadi, Baekhyun dituduh mencuri ponsel Chanyeol dan mengirim hal aib Chanyeol keseluruh kontak handphone. Hal itu membuat Chanyeol berang. Dengan kesalahpahaman karena mendengar percakapan dan pertengkaran Ayah dan Ibu, Chanyeol mulai membully dan melukai Baekhyun dengan kata-katanya."

Ucapan Kris membuat Baekhyun mengingat hal sewaktu dirinya kecil. Kesalahpahaman dan tuduhan tak beralasan membuatnya menderita sampai sekarang. masih menyenderkan tubuhnya pada sandaran kursi, Baekhyun mendengarkan cerita Kris kembali.

"Hingga beberapa hari yang lalu, aku membaca surat yang aku temuka di gudang saat aku menari barang-barangku yang lama. Sebuah surat yang sudah sangat lama." Kris melanjutkan ceritanya.

"Apa isi surat itu?"

"Sesuatu yang membuatku terkejut setengah mati." Baekhyun mendengarkan dengan seksama. "Surat yang ditinggalkan Ibunya, berisi bahwa Ibunya hanya menitipkan Baekhyun sampai Ibunya menjemput Baekhyun kembali. Disana juga dituliskan, bahwa anak itu harus diberi nama 'Byun Baekhyun' agar Ibunya mudah mencarinya."

Teman Kris menganga mendengar cerita Kris. Sama seperti Baekhyun, laki-laki mungil itu sungguh tidak menyangka bahwa ia benar-benar bukan anak dari orang yang selama ini ia anggap sebagai keluarganya.

Baekhyun menghela napas(lagi). Semua kejadian pada hari ini sedikit banyak membuat kepalanya sakit. Juga rasa sakit dipinggangnya membuat Baekhyun mengernyit tidak nyaman. Tubuhnya terasa sangat dingin, darah yang keluar dari hidung tak kunjung berhenti. Dengan gerakan kasar, ia mengusapnya dengan bajunya. Meninggalkan jejak darah yang begitu kentara.

"Rasanya aku ingin mati saja." Gumam Baekhyun dengan menatap air sungai Han dengan tatapan yang selalu kosong.

"Jika ingin mati, kenapa tidak langsung menceburkan diri saja disana?"

Baekhyunmeoleh dengan cepat. Matanya membelalak dan langsung mengambil langkah mundur.

"Tae-taehyung?"

.

.

.

T B C

Or

E N D

.

.

.

Hai? Masih inget? Maaf ya kalo updatenya lama juga ceritanya nggak panjang. Ini udah di usahain update kok. Lagi sibuk magang akhir-akhir ini. Bahkan sempet keteteran buat belajar UTS di sekolah. Mohon dimaklumi ya kalo ceritanya alurnya kecepetan atau apa. Otak dipaksa banyak mikir. Dan mood juga lagi nggak bagus tiap mau ngelanjutin ff ini. Jadi banyak kendala lah buat ngelanjutin ff nya. Mungkin lanjutannya juga bakalan ngaret lama, itupun kalo masih ada yang minta lanjut.

Juga Thanks yang udah mau ngefavorit, nge follow, nge review. Gue doain hidupnya adem ayem^^

Thanks buat kalian yang udah ngeluangin waktu buat ngeriview :

'myzmsandraa99, cici fu, valsxid, Lussia Archery, mashiroseeca, danactebh, jj, adorahttr, Jung Minjii'

.

Salam HuangHanJong