Possessive Man!

Jaemin x Renjun

NCT DREAM

BxB! Yaoi

.

.

.


"Ingatlah posisimu Renjun... jangan melakukan hal bodoh lagi atau ada nyawa lain yang melayang."

Dalam sisa-sisa deru napas yang masih bersahutan mengisi gaung keheningan, Jaemin berbisik pelan walau bagi Renjun suara Jaemin seperti lonceng kematian yang kapan saja siap memburunya. Renjun meringis untuk kesakitan di bawahnya, untuk pedih yang mengores hatinya dan untuk kebodohannya.

Karena Renjun terlalu bodoh untuk bisa lepas dari jeratan Na Jaemin.

.

.

.

.

.

.

Flashback

Jaemin menatap jengah jamuan membosankan yang membawanya turut serta ke dalam acara penuh dengan ajang pamer kesombongan dan keangkuhan. Kudapan menggiurkan yang tersaji di hadapannya dibiarkan begitu saja tanpa tersentuh sedikit pun sebagai bentuk dari penolakkan atas ajakan paksa orang tuanya ke acara pesta kaum bangsawan.

Dari dulu Jaemin selalu membenci cara orang tuanya melebih-lebihkan kekayaan mereka sendiri di acara seperti ini. Begitu juga orang-orang yang menanggapi pembicaraan orang tuanya dengan berusaha terlihat memiliki kedudukan yang setara. Sungguh memuakkan. Tak bisakah orang-orang seperti ini mengalami kebangkrutan seketika hingga mereka sadar sebenarnya mereka semua adalah pecundang.

"Jaemin..." itu suara ibunya (berpura-pura) memanggil dengan lembut. Tangannya yang dipenuhi emas layaknya harta berjalan mengibas-ibas, mengisyaratkannya untuk mendekat.

Jaemin memang membenci semua hal yang ada di pesta ini termasuk niat terselubung ibunya yang sedang berusaha mengenalkannya dengan anak koleganya.

"Nah ini putraku satu-satunya, ayo perkenalkan dirimu..." seorang wanita paruh baya yang mungkin hampir seumur dengan ibunya mendorong pemuda berbadan mungil ke hadapannya. Dia menundukkan kepalanya dalam-dalam, poni rambutnya pun ikut menjuntai semakin menutupi wajahnya sendiri.

"Namaku Renjun." Ujarnya sangat cepat. Bahkan Jaemin tidak dapat mendengar jelas suara yang seperti cicitan tersebut. Ada sentakan yang membuat pemuda di hadapannya mengangkat kepala di saat itu pula jaemin dapat melihat wajah polos yang semakin cerah terpantul cahaya lilin.

"Annyeonghaseyo, namaku Huang Renjun." Dia mengulangi lagi perkenalannya dengan lebih jelas dan di akhiri senyum yang terpatri di wajah yang sangat cantik. Untuk kali pertama Jaemin memiliki ketertarikkan memperhatikan seseorang termasuk bibir cherry yang bergerak pelan demi sebuah senyuman tipis.

"Namaku Jaemin, senang berkenalan denganmu Renjun."


.

.

.

.


Sepasang mata untuk melihat.

Banyak hal yang dapat dilakukan di dunia fana ini namun tidak semua hal tersebut bisa dilakukan dengan mudah. Setidaknya ada cost yang cukup besar untuk melakukan semua hal yang tampak menarik untuk dikerjakan. Layaknya sepasang mata yang digunakan tepat untuk melihat objek yang benar-benar nyata di depan mata. Namun bagaimana jika matamu ingin melihat di tempat lain secara bersamaan juga sementara kau hanya memiliki sepasang mata yang menempel di ragamu saat ini.

Ketika Renjun bilang Jaemin tahu segalanya dia tidak pernah bohong. Hidup selalu berdekatan selama hampir dua tahun sedikit banyak memberikan gambaran perilaku seorang Na Jaemin dengan sangat jelas. Na Jaemin selalu tahu apapun yang Renjun lakukan dan kerjakan meski itu di luar set photography; tempat keduanya saling bertemu (lagi) dalam ikatan pekerjaan.

Na Jaemin yang selalu tahu gerak-gerik apa yang Renjun perbuat dan siapa saja orang-orang yang bertemu pemuda mungilnya. Na Jaemin memiliki sepasang mata lain, kameranya pun tidak hanya bekerja saat di set tapi juga bekerja di balik pilar kokoh tempatnya bersembunyi untuk mengamati keseluruhan aktivitas dari Huang Renjun.

Jaemin selalu tahu.

Bahkan ketika Renjun memutuskan untuk mengambil pilihan yang salah bermain dengan orang lain di tempat terlarang.

"Ck! Apa yang kau pikirkan?!" Jaemin berdecak keras di balik meja kerjanya. Beberapa foto digital tampak menunjukkan gambar seseorang yang di kenalnya dalam ruang remang-remang. "Jangan mengujiku lagi Huang Renjun!"

Sekilas ekor mata Jaemin melirik kardus kosong di bawah mejanya. Pekerjaan tidak akan menghalanginya untuk menjemput dia yang sudah membangunkan jiwa iblis Jaemin.

"Aku tidak peduli."

Jaemin melenggang pergi ke luar ruangannya. Setiap pijakkan kakinya begitu tergesa-gesa berjalan di sepanjang lorong menuju luar gedung walau beberapa orang tampak berhenti sejenak untuk memberikan sapaan hormat. Jaemin tidak peduli. Sampai pemuda bersurai pirang dengan tinggi sedikit di atasnya menghampiri pula.

"Malam Tuan Na Jaemin." Dia membungkuk hormat untuk atasannya yang tetap memasang wajah datar.

Kaki Jaemin berhenti melangkah, netranya masing memandang ke depan tajam, "Jisung,"

Nada suara penuh ketegasan menyentak Jisung untuk segera menatap segan pada atasannya yang sedingin es di kutub utara.

"Ambil scan-an pemotretan kemarin di rumahku sekarang."

"O... Oh... iya, baik Tuan." Jisung kembali memberikan tunduk penghormatan pada perintah jaemin. Pemuda dengan wibawa yang terkenal tegas dan tidak berbelas-kasih pada bawahannya segera melanjutkan langkahnya lagi meninggalkan Jisung yang bisa melepaskan napas tertahan sejak aura Jaemin menguar di sekelilingnya.


Renjun terkekeh—mungkin lebih kepada mencibir dirinya sendiri yang memiliki setengah keberanian untuk menguji nyawanya sendiri. Terakhir kali ia menantang maut, teman yang diajaknya itu masuk ke rumah sakit selama beberapa hari. Ya menantang untuk sekadar berjalan bersama sebenarnya. Entahlah untuk kali ini mungkin Renjun akan merasa berdosa. Ini kesalahannya sendiri, tapi apa boleh buat. Sesekali Renjun ingin mendobrak pagar yang mengekang kehidupannya.

"Kau sepertinya sedang dalam masalah berat..." ujar Minhyung sembari memperhatikan ekspresi Renjun yang cukup menyeramkan—dia termenung sedih lalu kembali tertawa setelah menenggak minumannya.

"Ya begitulah."

"Ada apa? Kau bisa ceritakan padaku..."

Renjun melirik Minhyung melalui ekor matanya. Menelisik wajah rupawan Minhyung yang terlihat tenang-tenang saja, bebas layaknya burung yang berterbangan kesana-kemari tanpa mengkhawatirkan pemburu yang tengah membidiknya. Padahal perasaan Renjun sudah was-was setengah mati sejak menginjakkan kakinya di sini.

"Aku... tidak senang berceri—"

"Lepaskan saja, mungkin bercerita dapat menghilangkan bebanmu." Sela Minhyung mendengar kalimat yang akan berujung penolakkan.

Renjun menarik napas dalam-dalam, jari telunjuknya mengusap pinggiran gelas tinggi yang ia pandangi. "Aku ingin bebas."

"Kalau begitu kau harus melepaskan diri." Minhyung menjawab dengan enteng yang mengundang kekehan disertai senyum miring dari Renjun.

"Sayangnya tidak akan pernah bisa..."

"Kenapa?"

Kerutan di dahi Minhyung semakin tercetak jelas kala Renjun hanya diam tidak menjawabnya—memberikan kesan kebingungan dari senyum tipis yang Renjun tunjukkan.

Renjun menatapi diam jari-jari di tangan kirinya. Benda keperakan yang ditimpa sedikit cahaya dari kerlap-kerlip malam menambah kilau yang semakin mempercantik cincin sederhana yang tersemat di jari manisnya. Jemari kanannya menarik pelan benda tersebut hingga terlepas dari tempatnya. Berharap pula pada hal yang sama akan menimpanya.

"Jika semudah melepas cincin ini, mungkin aku sudah terbang bebas sekarang."

.

.

.

.

Sepasang mata yang menyorot tajam pada dia yang tengah terkulai. Sesaat sebelum kedatangannya, cukup banyak serangga mengganggu yang mengerubungi bunga cantiknya yang diam-diam menebarkan aroma harum ke penjuru di sekitarnya. Ya ada beberapa hal yang harus Jaemin selesaikan secara jantan sebelum bisa mengangkut Renjun. Kehadiran pemuda mungilnya di sana lumayan mengundang banyak orang-orang bejat yang ingin menyentuhnya.

"Ck! Siapapun yang membawamu ke tempat terkutuk ini akan mati!" Jaemin memukul keras kemudinya lalu menoleh pada Renjun yang sudah kehilangan kesadarannya di kursi penumpang. "Meski dia modelku sendiri."

Meski itu hanya seekor kelinci putih kecil tidak berdosa. Well, mungkin bagi Jaemin apapun—yang bukan darinya—itu bisa saja berakhir tragis. Karena telah lancang mendapatkan sentuhan dan perilaku lembut yang Renjun berikan.

Warna kemerahan gelap bercampur helai putih yang kini nampak menjijikkan di terpa cahaya bulan. Jaemin memandangi kedua telapak tangannya dengan seringai yang membumbung tinggi tercetak di raut wajahnya.

End of flashback


"Kau bertengkar lagi dengan ibumu"

Entah nada suara yang keluar itu dapat diartikan lebih sebagai pernyataan dibanding pertanyaan. Dalam keheningan yang menggigit, di tengah badannya yang meringkuk dengan tangis, Renjun mengangguk meski di sisi lain Jaemin tidak melihatnya.

"Aku tidak suka!" Jaemin menolehkan kepalanya pada pemuda yang semakin menggulung dirinya. Wajahnya tersembunyi di balik kedua tangan yang menjadi tameng penghalang.

Tidak hanya lengan sekurus ranting yang menghalangi pandangan tajam Jaemin pada wajah yang selalu indah diterpa cahaya rembulan juga helaian rambut coklat madu menutupi wajahnya. Jaemin mengelus pelan rambut halus itu—menyingkirkan helaian yang menghalanginya.

"Kau harus menerima kenyataan Renjun, tidak ada tempat untukmu lari dariku..."

Renjun bergidik ketika bisikan halus Jaemin menembus raganya membuat hatinya bergetar penuh kegusaran. Lagi Renjun menjadi pihak pasif menerima perilaku Jaemin begitu saja yang memasangkannya pengikat mereka berdua. "Jangan pernah melepas cincin pertunangan kita!" begitu juga gelangnya yang kembali di pasang.

Setelah beberapa detik berlalu, Jaemin mengangkat cepat kepala Renjun untuk terbangun. Di tekannya tengkuk Renjun untuk saling mempertemukan kedua belah bibir dimana bibir sang dominan memagut tak sabaran milik submisifnya.

Jaemin mengunci pemberontakan tangan Renjun langsung dengan satu tangannya sementara tangan lainnya semakin memperdalam dorongan terhadap tengkuk Renjun. Benda lunak tak bertulang milik Jaemin mengetuk-etuk keras lipatan bibir Renjun yang terkatup. Sedikit gigitan di ujung membuat Renjun membuka mulutnya tanpa disadari—mempersilakan lidah Jaemin menginvasi seluruh rongga mulut yang menjadi kepemilikkannya sekarang.

Drrt drrt...

"Hen—hmmppp—tikan Jaem—"

Dengan enggan Jaemin melepas pagutannya. Ia mengumpat dalam hati terhadap ponsel yang mengganggu kegiatannya dengan Renjun.

Tangan Renjun sedikit bergetar mengangkat ponselnya yang berdering. Tanpa melihat siapa pemanggilnya, Renjun segera menempatkan ponsel tersebut di daun telinganya.

"Ha—halo..."

"Oh Renjun ada yang ingin ku katakan padamu."

Renjun diam-diam melihat Jaemin yang sedang berpakaian. Pemuda itu nampak acuh tak acuh membiarkannya menerima panggilan telepon. Asisten Jaemin meneleponnya.

"I—Iya apa itu Jisung?"

"Emm... maaf sebelumnya tapi aku menemukan hal aneh ketika mengambil berkas di kamar Tuan Jaemin kemarin malam"

Deg...

Ruangan yang cukup hening membuat suara penelepon di sebrang sana terdengar jelas meski Renjun tidak me-loudspeakernya. Renjun melirik Jaemin di samping sana yang terhenti tiba-tiba pergerakkannya.

"Renjun aku melihat banyak sekali fotomu terpajang, entahlah ada berapa tapi benar-benar sangat banyak sekali, aku pikir itu sangat mengerikan—"

Brakk

"Renjun... Renjun...!? Apa yang terjadi? Renjun?"

Renjun menatap nanar ponselnya yang dilempar dengan mudahnya oleh Na Jaemin. Meski ponselnya tampaknya tidak hancur tapi Renjun tidak bisa melewatkan kilatan mata Jaemin yang tiba-tiba menggelap.

Gerakannya tak dapat terbaca ketika Jaemin sudah melempar ponselnya dan kini punggung Renjun menabrak head-bed kala Jaemin semakin menyudutkannya. Entah apa yang dilakukannya, Renjun hanya merasakan kepala Jaemin berhenti di samping kepalanya sendiri.

"Kau mau lihat kamar rahasiaku?" tepat di telinganya, Jaemin berbisik. bisikan menggetarkan pertahanan keberaniannya yang mulai terkikis. Sekilas Renjun menolehkan kepalanya dan menangkap seringai aneh di wajah Jaemin.

Renjun terhenyak.

'Benar-benar tidak akan bisa lari'


Percuma.

Tenaga yang Renjun keluarkan semuanya sia-sia. Untuk apa memberontak dalam seretan Jaemin di saat tidak satu pun keluarga, orang tua atau pelayan yang mungkin menolongnya dari Na Jaemin. Yah tidak ada. Apalagi secara terang-terangan orang tua terlebih ibunya sendiri sudah menjualnya terhadap keluarga Na dengan embel-embel pertunangan.

Mereka tidak peduli tentang apapun yang sudah Na Jaemin lakukan padanya meski itu termasuk merenggut harga diri yang selama ini Renjun pertahankan. Karena bagi keluarga Renjun (pantaskah Renjun menyebutnya keluarga sekarang?) pertunangan yang mengikatnya sudah lebih dari cukup untuk menjembatani kerja sama yang kedua kolega ini lakukan.

Renjun masih terseret-seret pula di kediaman keluarga Na. Walau Renjun tetap berteriak di sini, sama saja tidak ada satu pun yang berani mengganggu aksi Na Jaemin.

Tangisannya sudah tidak mampu Renjun keluarkan. Karena Jaemin tidak akan luluh dan bersikap lebih lembut terhadap titik air mata yang mengalir di pipinya.

Renjun dihempaskan kasar ketika memasuki pintu tinggi berwarna coklat yang cukup mengkilat. Ruangan yang kelihatan pengap dan gelap namun jika ditilik lebih jelas, Renjun dapat melihat seluruh dinding yang mengitari penuh pajangan foto-foto dirinya. Pembuktian terhadap perkataan Jisung padanya beberapa menit lalu.

"Bagaimana hmm? Indah bukan?" Jaemin berjongkok di depan Renjun yang menutup mulutnya sendiri. Dia menggeleng-gelengkan kepala atas pertanyaan Jaemin. Tampak jejak air mata masih mengalir bebas di pipinya yang sedikit gembil.

"Kenapa Renjun? Hmm... ini semua bukti cintaku padamu..." suara Jaemin terdengar memelas walau sangat jelas disengaja.

"KAU POSESIF! AKU MEMBENCIMU!" Renjun berteriak tepat di depan wajah rupawan Jaemin. Dadanya naik-turun bergemuruh karena emosinya yang memuncak.

Jaemin mengeluskan tangannya pada sisi kiri rambut Renjun pelan, ia merasakan getaran yang timbul dari tubuh Renjun saat tangannya menyentuh, "bagaimana ini, aku posesif juga karena dirimu sayang."

"Bajingan!"

"Pssttt! Sayang~ jangan mengumpat, lelaki cantik sepertimu tidak baik mengumpat."

Renjun semakin gemetar saat bisikan dan elusan menggerayangi tubuhnya. Walau mereka pernah melakukannya tapi kali ini perasaannya berbeda. Rasa takutnya terhadap Na Jaemin semakin besar setelah melihat obsesi gila pemuda itu pada dirinya.

"Seharusnya kau tidak menentang ibumu ketika mendiskusikan pernikahan kita sayang. Sehingga kau tidak perlu tahu hal ini tapi memang salahmu, sudah ku bilang kan jangan pernah mencoba untuk bermain dengan yang lain."

Jaemin mencengkeram lagi rahang Renjun, membawa wajah penuh jejak air mata itu menatap mata elang Jaemin. "Jangan menentang lagi! Aku benci bertengkar denganmu. Dengar! Ikuti saja semuanya oke!"

"I—Iya." Jawab Renjun terbata-bata. Di tengah ketakutan yang mengancamnya, Renjun mengingat kembali apa yang menyebabkan ia semakin membenci ibunya. Ya ibunya yang begitu bersemangat membicarakan pernikahannya dengan Na Jaemin sebentar lagi. Renjun tidak ingin bersama seorang yang posesif seperti Jaemin. Tidak!

"Bagus. Ingat aku mencintaimu Huang Renjun. Kau milikku."

"Karena sejauh apapun kau mencoba lari, pada akhirnya kau hanya akan kembali padaku. Aku yang mencintaimu, tolonglah buka perasaanmu untukku." Renjun tidak memiliki pendengaran yang buruk. Di awal perkataan Jaemin sangat jelas kalimat kepemilikkan namun di akhir dia memohon.

Na Jaemin memohon.

Haruskah Renjun membuka hati untuk dia yang terobsesi padanya?

Lagi Jaemin menciumnya namun berbeda dari semua ciuman yang pernah mereka lakukan.

Ini ciuman manis tanpa tuntutan. Haruskah Renjun luluh atau...

Membiarkan tidak adanya jalan keluar bagi Renjun untuk bebas selain menerima kenyataan.

.

.

.

.

Jangan tanya sequel lagi wkwk

Crosspost dari Wattpad

Kritik dan saran selalu terbuka lebar
Aku di sini masih butuh belajar dan panduan
Siapa tahu masih banyak kesalahan dalam penulisanku
Jadi sok di review aja ehe

Sekian dan Terima kasih