A/N : Hola minna! Chapter dua kali ini akan dibuat olehku synstropezia, semoga kalian suka ya! Riview terus cerita Toki-chan and Toki-kun, arigato!

Kriiing...kriiing...kriiing...

"Hoamzzz...emmm..." dalam keadaan setengah sadar, iris caramelnya melirik kesana-kemari, mematikan jam weker yang sedari tadi terus berdering

"Aaaa berisik sekali! Biarkan aku tidur lebih lama sialan!" teriak seorang lelaki berambut raven yang berada tidak terlalu jauh, membulak-balikkan badan seperti cacing kepanasan

Ada yang tidak beres di sini, dengan cepat Lucy dapat menyadari hal tersebut dan mulai mencari tau. Saat melirik ke sebelah kanan ranjang matanya terbelalak melihat seorang pemuda tanpa sehelai pakaian apapun tertidur lelap, bahkan saking kagetnya Lucy terjatuh dari tempat tidur, membuat lelaki tersebut bangun dan langsung menunjukkan ekspresi marah.

"Kau...apa maksudmu masuk ke dalam apartemenku, huh?!"

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa kau tidak salah masuk, tuan hentai?" kenapa dijuluki seperti itu? Ya karena dia tidak memakai baju dan terkesan seperti orang mesum

"Tuan hentai?! Julukan macam apa itu? Jelek sekali, apa maksudmu nona? Jelas-jelas kamu yang salah masuk"

"Lihatlah ini, lihatlah!" bentak Lucy menunjuk-nunjuk pelat nomor apartemennya, sang pemuda yang kala itu masih dalam keadaan setengah sadar ikut membelalakan mata

"..."

"Aku sedang bermimpi, kan...?"

"Ini kenyataan! Bukalah mata dan balik ke tempatmu sekarang juga!"

Tok...tok...tok...

Lucy POV

Ya ampun, kenapa hari ini sangat kacau? Seorang teman baikku mengatakan pagi yang baik adalah awal dari kesuksesan, karena itulah aku selalu bangun lebih awal, mempersiapkan segala hal dengan baik, mengecek jadwal dan merencanakan kegiatan selanjutnya, aku hanya ingin hari-hariku berjalan dengan lancar tanpa kendala apapun. Sudah lima menit berlalu sejak kami saling berdebat satu sama lain, membuang waktuku saja... padahal dalam kesempatan itu seharusnya aku sudah sikat gigi dan mandi.

Tok...tok...tok

Kembali ketukan pintu sebanyak tiga kali kembali terdengar, membuat jantungku berdebar tidak karuan. Jam baru menunjukkan pukul lima tepat, tidak mungkin aku terlambat lalu dijemput oleh karyawan sendiri. Itu adalah aib bagi seorang presedir sepertiku! Pemuda itu hanya diam termangu dan masih berada dalam posisinya yang semula, apa dia tidak bisa berpikir di saat-saat genting seperti ini?

"Kenapa diam saja? Cepatlah bersembunyi di dalam lemari bajuku atau tempat manapun yang aman" bisikku terdengar kesal, tanpa kompromi lagi ia langsung membuka lemari pelan lalu masuk ke dalam sana

"Lucy, ayah masuk ya!"

Ayah, apa yang beliau lakukan di sini?! Dari semua orang kenapa harus dia? Aku segera bersiap-siap di depan meja tata rias, menyisir rambut dan memoleskan bedak seperti yang biasa kulakukan setiap hari, namun agak sedikit kacau karena biasanya aku melakukan ini setelah memakai jas kerja dan stocking. Dengan seutas senyum ayah menyapaku hangat, tetapi aku pura-pura tidak peduli dan sibuk sendiri untuk mengalihkan perhatian.

"Ohayou, Lucy-chan"

"Ada perlu apa ayah datang pagi-pagi begini? Aku tidak akan terlambat pergi ke kantor"

"Bukan karena itu, ayah hanya ingin mengajakmu makan pagi di luar tetapi sepertinya kamu masih bersiap-siap"

"Lagipula masih jam lima lewat sepuluh, apa ayah terburu-buru pergi ke sini dan lupa melihat jam?"

"Ya lebih cepat lebih baik, ayah sengaja datang lebih pagi karena jam enam nanti ada jadwal penting"

"Lalu untuk apa mengajakku makan pagi di luar? Itu hanya membuang-buang waktu..."

"Kamu sudah mandi?" gawat...kenapa ayah harus menanyakan hal itu?!

"Tentu saja sudah! Kalau tidak mana mungkin aku berdandan"

"Baju kerjamu belum dipakai?"

Sudah kuduga akan jadi seperti ini, jika aku membuka lemari baju maka ayah akan melihat pemuda asing itu dan berpikiran aneh, tetapi kalau aku tidak segera mengambil baju bisa-bisa membuat beliau curiga. Hanya ada satu cara.

"Aku akan ganti baju, ayah keluarlah"

"Baiklah"

"Bagus-bagus, berjalan sesuai rencana! Inilah yang dinamakan kesempatan dalam kesempitan!"

BRAKKKK!

Terlambat, ayah sudah terlanjur melihat pemuda berambut raven tersebut dan jelas beliau sangat marah! Apa dia tidak bisa bersembunyi dengan benar?! Kalau saja dia adalah pegawaiku mungkin sudah dipecat dari beberapa menit lalu, sekarang bagaimana caraku menghadapi pertanyaan dari ayah?!

"Jelaskan semua ini, Lucy"

"Ah eto...dia salah masuk kamar dan aku...baru menyadarinya saat bangun tidur tadi" tidak ada gunanya berbohong, lagipula itu perbuatan terlarang dan merupakan dosa

"Apa kalian tidur berdua kemarin malam?" ayah semakin mempertajam tatapan matanya, membuatku bergidik ketakutan begitu juga dengan pemuda tersebut

"Tidur berdua? Benar juga saat menyadarinya dia sudah berada disebelahku, tidak bisa dipungkiri hal itu benar!"

"Dugaan ayah barusan benar rupanya, kau benar-benar membuat keluarga Heartfilia malu!"

"Jangan berpikir terlalu jauh, dia tidak menghamiliku atau semacamnya ini kecelakaan!" ucapku memberi perlawanan, sudah cukup ayah, sudah cukup...!

"Kecelakaan?! Tetap saja hal ini sangat membahayakan, ayah mendengar sekilas jika kalian berdua sempat meributkan hal tersebut, dan tetangga lain pasti sudah mendengarnya"

Untuk sesaat aku memalingkan muka dari tatapan ayah, memang benar kecelakaan kali ini dapat membuat nama baik keluarga Heartfilia tercoreng, bahkan jika beliau masih marah aku bisa saja dianggap bukan lagi bagian dari keluarga. Banyak prediksi buruk yang bisa terjadi dan kemungkinan besar ayah sedang mencari solusi tepat namun tidak membahayakan.

"Sudah ayah putuskan, kalian harus menikah"

"A-apa, menikah?! Ayah bercanda kan? Aku masih muda dan ini terlalu awal!"

"Diam, patuhi perintah ayahmu Lucy"

"Perintah...? Kejam, kenapa... kenapa ayah selalu begitu terhadapku, ibu dan Kagura-chan?! Padahal aku selalu menuruti keinginanmu, tetapi saat anakmu ini meminta sesuatu sama sekali tidak dikabulkan!"

"Jangan egois! Semua ini demi kepentingan keluarga kau tau kan?!"

"Aku sangat, sangat mengetahuinya dengan jelas. Keluarlah dari kamar, aku ingin ganti baju!"

Kenapa...kenapa jadi seperti ini? Diam-diam aku menangis di pojok ruangan sambil meringkuk, menikah dengan seseorang yang belum kamu kenal dan terjadi karena kecelakaan, ini tidak lucu! Aku...aku membencinya...

Gray POV

Entah kenapa masalahnya menjadi serumit ini, sudah sekitar satu menit paman terus menatapiku, menunjukkan bahwa ia sangat kesal terpaksa menikahkan putrinya dengan seorang sepertiku, ya lagipula bukan hanya dia saja yang tidak menerimanya.

"Siapa namamu?"

"Gray Fullbuster, nama paman sendiri?"

"Jude Heartfilia, saya adalah ayah dari Lucy. Soal pernikahan itu apa kamu menerimanya?"

"Mau bagaimana lagi, ini semua salah saya masuk ke apartemen anak paman lalu tidur disebelahnya, maaf" memang aku anak nakal, tetapi tetap saja kita harus lebih sopan terhadap yang lebih tua

"Kita bahas lain kali saja, ayo pergi Lucy"

Wanita bernama Lucy itu sempat menatap kearahku sebelum pergi menaiki lift. Daripada memikirkan hal tersebut lebih baik aku pergi minum-minum di tempat Gajeel sekarang.

KRIING...

"Yo Gajeel, aku pesan wine yang sama seperti kemarin"

"Air mukamu tidak terlalu baik, apa yang terjadi?" bahkan Gajeel pun mengetahuinya...sesaat aku terdiam sambil memalingkan muka darinya, berada di antara rasa bimbang dan takut untuk menceritakan kejadian barusan

"Karena kemarin minum terlalu banyak, aku salah masuk apartemen dan tidur dengan seorang wanita, parah bukan?"

"Sangat parah bahkan, jadi kalian terpaksa menikah?"

"Begitulah, kamu lebih cocok menjadi peramal dibandingkan bartender"

"Jangan meledekku Gray, bukankah sebaiknya kamu menabung uang yang ada untuk biaya pernikahan nanti?"

"Tidak perlu, pasti hal itu sudah diurus oleh ayah dari wanita tersebut. Lagipula ini adalah kecelakaan"

"Kamu benar-benar tidak bertanggung jawab, Gray..."

Jawaban dari Gajeel sukses membangkitkan amarahku, tanpa pikir-pikir lagi aku pergi dari bar dan membanting pintu keras. Dia sempat berteriak untuk membayar minumannya sebelum pintu benar-benar tertutup, salah siapa membuatku kesal hingga kabur begitu saja. Sekarang apa yang harus kulakukan? Bosan sekali...

Normal POV

Sementara itu di kantor Lucy...

Semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, begitu juga dengan Lucy yang sedari tadi melihat dokumen-dokumen penting tentang proyek selanjutnya. Namun dia tidak terlalu fokus karena masalah tadi pagi, tanpa sengaja secangkir kopi hangat yang berada di atas meja tumpah mengenai lantai dan untungnya tidak mengenai berkas file.

"Biar saya saja yang membersihkannya" ucap Sting menawarkan diri, mengambil pel dari tempat terdekat dan melaksanakan perkataannya

"Terima kasih, padahal kamu bisa meminta petugas untuk melakukan hal tersebut"

"Tidak apa-apa, lagipula ini hanya hal kecil"

"Kembalilah bekerja" perintah sang presedir terlihat lemas, membuat Sting yang entah mengapa khawatir

"Apa terjadi sesuatu? Anda tidak seperti biasanya"

"Urusan pribadi tidak boleh dibawa-bawa, cepatlah bekerja!"

Teriakan tadi kembali menyegarkan pikiran Sting, tanpa banyak omong lagi ia segera menyelesaikan tugas yang diberikan, secepat mungkin namun tidak banyak salah di sana sini. Dengan begitu presedir akan mengakuiku, mungkin hubungan kami pun bisa menjadi lebih dekat, tekad Sting dalam hati mungkin tanpa dia sadari telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Ketika jam pulang kantor...

Nunaningnangningninung...(A/N : Ini ringtone HP Lucy)

"Halo"

"Halo Lucy, ini ayah"

"Ada perlu apa lagi, bisa kita bicarakan nanti saja? Aku lelah" balas Lucy to the point, merasa malas harus mengangkat telepon apalagi itu dari sang ayah

"Ini penting, berkaitan dengan pernikahanmu dengan Gray"

"..."

"Akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat ini, maaf tetapi ayah akan langsung menikahkah kalian tanpa proses pacaran, jadi..."

"Baiklah, baiklah, ayah urus saja aku akan mengikuti permintaanmu!"

"Lu..."

Tut...tut...tut...

Belum sempat menyelesaikan kalimat barusan, Lucy langsung menutup telepon dan melangkahkan kaki kembali menuju apartemennya. Jadi ini bukan mimpi ya...? Apa tidak bisa dibatalkan saja? Iris caramelnya menerawang langit-langit kamar, saat mengenai cahaya lampu terlihat berkilau namun berkaca-kaca.

"Hiks...hiks..."

Tangisan itu mulai terdengar setelah ayahnya mengirimkan SMS perihal pernikahan Lucy dengan Gray, tinggal tiga minggu lagi sebelum semua prosedur usai diurus...

Bersambung...

A/N : Oke, chapter tiga akan dibuat oleh temanku, cc Dzena! Tunggu lanjutannya, makasih.

Naz : Oke, Naz hanya akan mengucapkan Arigatou gozaimasu karena telah membaca ff milik kami berdua. Buat SR arigatou ne, tanpa kalian kami tidak bisa melanjutkan ff ini, buat Reviewers Hountoui ne arigatou ne, kalian menjadi api yang telah membakar tugu semangat author, hehe dan buat semuanya saja, Arigatou gozaimasu

Syn : Eh,aku juga ! #angkat tangan# Salam Manis dariku untuk kalian semua ! Arigatou ne...^_^

Naz : Yosh ! Chapter 3 besok Naz akan bikin sebaik mungkn, dan Naz nggak akan kecewaiin kalian sama seperti di chapter 1 kemarin, untuk itu Review sangat dibutuhkan, Review ? Please !

Syn & Naz : Nah Review Minna-san ! Please !#Puppy eyes.