Let's Rock until Dawn
Sequel of Lost in Lust
Kaisoo fanfiction
GS! Rated M!
Oneshoot
A/N :
Ide cerita murni hasil pemikiran sendiri. Jika ada yang mirip itu hanya faktor ketidaksengajaan. Mian kalo masih banyak typo dan ceritanya kurang greget. And warning, it's GS area. If you don't like, so don't read. And last, Don't forget to review.
rerudo95
Jongin terbangun karena merasa seseorang tengah mengawasinya. Benar saja, ketika ia membuka mata Kyungsoo-lah yang ia lihat pertama kali. Sahabatnya itu tengah menontonnya tidur dengan senyum tipis menghiasi bibirnya. Ia sedikit bingung, terlebih melihat bahu telanjang Kyungsoo, sampai akhirnya potongan-potongan kejadian tadi malam tersusun rapi di otaknya. Jongin menghela napas dan meraih Kyungsoo ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepala Kyungsoo dan menggumamkan ucapan selamat pagi dengan suara seraknya.
" Jam berapa sekarang? " tanya Jongin, masih berusaha melawan rasa kantuknya, Kyungsoo balas memeluk Jongin dan membuat kulit telanjang mereka saling bergesekan. Keduanya diam-diam tersenyum senang dengan sensasi berdebar yang mereka rasakan.
" Jam enam. " jawab Kyungsoo. Sahabatnya yang kadang memiliki jiwa usil ini mengecupi dada bidang nya, membuat Jongin bergerak resah. Ia tak boleh terpancing, jika hal itu sampai terjadi Jongin pastikan mereka akan membolos hari ini. Disamping itu ia tak mungkin melakukannya lagi. Pertama karena ia tak punya pengaman lagi, dan kedua Kyungsoo pasti masih merasa nyeri. Jadi Jongin lebih memilih menfokuskan diri pada pertanyaan yang belum terjawab sejak semalam.
" Katakan padaku siapa yang mempengaruhimu? "
" Mempengaruhi apa? " tanya Kyungsoo malas. Jongin meraih dagu Kyungsoo dan membuatnya mendongak.
" Siapa yang membujukmu melakukan itu? " tanya Jongin lagi tanpa menjelaskan apa yang ia maksud. Ia tahu Kyungsoo pasti mengerti apa yang sedang ia bicarakan.
" Kau berpikir seperti itu? Kalau ada orang lain yang menghasutku? "
" Jadi bukan? " tanya Jongin kaget. Ia masih tidak mengerti bagaimana Kyungsoo bisa berpikiran seperti itu. Seks remaja lebih rumit dari pelajaran fisika, karena sekali mereka mencoba mereka akan ketagihan. Efeknya hampir sama dengan narkoba dan Jongin tak bisa menyimpulkan hal ini bisa dianggap positif atau negatif.
" Dasar tidak peka. Minggir, aku mau mandi. " lontar Kyungsoo yang tampak benar-benar kesal. Sadar dari kekagetannya, Jongin menarik kembali Kyungsoo yang hendak pergi kekamar mandi hingga Kyungsoo kembali pada posisinya berbaring. Jongin berpindah menjadi di atas Kyungsoo, mengunci lengan Kyungsoo di atas kepalanya.
" Kenapa? "
" Kau masih tanya kenapa? " Kyungsoo menyipit kearahnya dan Jongin benar-benar merasa kebingungan.
" Hhh. Jonginnie yang katanya pintar. Aku jelaskan padamu, pertama ini adalah inisiatifku sendiri. Kedua tidak ada orang yang mempengaruhiku atau memaksaku melakukannya. Mengerti? " jelas Kyungsoo seperti tengah berbicara dengan anak TK.
" Kenapa? " tanya Jongin lagi seolah hanya kata itu yang bisa ia ucapkan. Kyungsoo menghela napas lelah dan menatap tepat pada mata Jongin. Ia sedikit kesal karena Jongin tiba-tiba menjadi bodoh.
" Karena aku menyukaimu. Aku ingin kau melihatku sebagai seorang wanita, bukan sebagai sahabat atau adik kecil yang perlu kau lindungi. " suara Kyungsoo memelan di akhir kalimat. Memandang ragu-ragu Jongin dari balik bulu matanya. Kyungsoo mencoba menebak apa yang Jongin pikirkan, tapi ekspresi Jongin terlalu datar. Ekspresi pemuda itu ketika sedang marah.
" Aku takut kau berpaling dariku. Kau tahu sendiri aku tidak cantik atau seksi seperti gadis-gadis yang mendekatimu di sekolah. " mendengar penjelasan Kyungsoo, Jongin hanya bisa mengacak rambutnya yang memang sudah berantakan. Ia kembali menatap Kyungsoo yang sedikit takut, maka dari itu ia melembutkan ekspresinya.
" Kau hanya tidak tahu. " kalimat Jongin tak berlanjut. Ia hanya bisa mengatakannya dalam hati tentang bagaimana sulitnya saat ia berusaha melindungi Kyungsoo dari otak kotor teman-teman mereka di sekolah. Kyungsoo sangat cantik, dengan ekspresinya yang polos dan tubuhnya yang mungil namun berisi di tempat-tempat yang tepat Kyungsoo adalah bahan fantasi liar lebih dari setengah polulasi penduduk sekolah berjenis kelamin pria.
" Tidak tahu apa? " tanya Kyungsoo penasaran. Jongin menelan dengan gugup, ia tak akan mengatakan hal itu pada Kyungsoo. Jadi ia memutuskan menyusun kalimat yang selama ini hanya tertahan di dalam otaknya.
" Aku menyukaimu lebih dari yang kau tahu. Bukan, aku benar-benar jatuh cinta padamu. Aku tak akan mungkin berpaling darimu. Meskipun banyak gadis cantik di luar sana, bagiku hanya kau yang cantik. Hanya kau yang ku inginkan. "
" Sungguh? "
" Ya. Aku berani bersumpah. " jawab Jongin yakin. Senyum lega terlukis di wajah Kyungsoo membuat Jongin jatuh cinta lagi dan lagi. Setelah mencuri satu kecupan di bibir Kyungsoo, Jongin kembali berpindah ke tempatnya semula dan menutup tubuhnya dengan selimut.
" Kau mau mandi kan? Duluan saja, aku mau tidur lagi. Bangunkan aku jika kau sudah selesai. " ucap Jongin yang teredam selimut. Kyungsoo tertawa sambil menggumam betapa malasnya seorang Kim Jongin. Meski ia tahu Jongin melakukannya karena pemuda itu menahan diri terhadapnya.
Ya Tuhan. Betapa Kyungsoo mencintai orang aneh ini.
...
Dua bulan berlalu sejak malam itu, tak ada yang berubah antara Jongin dan Kyungsoo. Mereka tetap menjadi sepasang 'sahabat' yang sering berangkat dan pulang bersama, bersaing ketat meraih peringkat pertama disetiap mata pelajaran, dan juga tetap menjadi pasangan 'sahabat' yang di gilai seluruh siswa di Senyang High School. Entah itu yang mendukung mereka sebagai pasangan real, atau malah menjadikan masing-masing dari mereka sebagai obsesi pasangan ideal oleh penggemar mereka.
Setidaknya begitulah yang orang-orang lihat. Mereka melewatkan beberapa perubahan penting dari interaksi mereka.
Kini Jongin dan Kyungsoo sering melakukan skinship di depan umum. Menggandeng, merangkul, bahkan Jongin tak sungkan memberikan kecupan dipipi Kyungsoo setiap kali mereka akan sibuk dengan kegiatan belajar masing-masing, mengingat mereka berada di kelas yang berbeda. Juga tatapan mata yang mereka lemparkan satu sama lain, hal sering membuat teman-teman satu kelompok mereka menjadi iritasi dan mengeluh. Jongin tak pernah melepaskan tatapannya pada Kyungsoo setiap kali gadisnya itu berada di sekitarnya, begitu pula sebaliknya. Dan kadang tatapan mereka memang sedikit nakal.
Ada beberapa orang yang mulai curiga, tapi mereka sama sekali tak mau ambil pusing. Jongin dan Kyungsoo pun sepertinya tidak terlalu peduli dengan anggapan orang lain tentang hubungan mereka. Yang terpenting mereka berdua tahu jika kini hubungan mereka lebih dari sekedar sahabat. Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu pasti tentang hal ini. Yaitu sahabat Kyungsoo, Luhan dan Baekhyun, juga sahabat Jongin yang juga berstatus sebagai kekasih dari sahabat Kyungsoo, Sehun dan Chanyeol.
Namun sayang kemesraan pasangan 'sahabat' itu mulai jarang telihat. Bukan karena hubungan mereka sedang dilanda masalah, tapi mengingat ujian akhir yang hanya tinggal menghitung hari membuat mereka memutuskan untuk mengurangi kegiatan bersantai mereka dan fokus untuk belajar. Ada di satu hari dalam seminggu mereka sama sekali tidak bisa bertemu, perbedaan kelas dan jadwal les lah penyebabnya. Jadi hari setelahnya, ketika mereka bertemu Kyungsoo dan Jongin akan terus menempel seperti di rekatkan dengan lem.
Layaknya hari ini.
Baekhyun dan Luhan sudah beberapa kali mengeluh tentang Kyungsoo yang duduk menempel pada Jongin dan terus memeluk lengan pemuda itu seperti koala. Tentu saja keluhan mereka tidak diambil pusing oleh keduanya. Saat ini mereka memang tengah berada di atap menikmati istirahat siang mereka bersama pasangan masing-masing, sehingga tidak banyak yang melihat interaksi berlebihan yang dilakukan Kyungsoo pada Jongin. Dari tiga pasangan itu hanya Jongin dan Kyungsoo yang terlihat menempel. Sedangkan dua pasangan lain tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Luhan dan Baekhyun yang berkutat dengan tugas laporan kimia, sedangkan Sehun dan Chanyeol sedang bertanding game tak jauh dari tempat Luhan dan Baekhyun duduk.
" Kyung, aku bersumpah akan menjambak rambutmu jika kau tidak kesini dan menyelesaikan tugas kita. " ancam Baekhyun saking kesalnya. Tapi Kyungsoo hanya menoleh dan mengerjapkan matanya polos.
" Selesaikan besok saja, Baek. Lagipula laporannya di kumpulkan akhir minggu nanti. Aku benar-benar lelah. "
Ekspresi polos Kyungsoo memang selalu bekerja pada siapapun dan kapanpun. Mungkin jika ini cerita fiksi, Baekhyun akan percaya jika Kyungsoo mempunyai kemampuan kompulsi pikiran.
" Makanya jangan make out tiap malam. " sindir Baekhyun yang langsung di lempar penghapus oleh Kyungsoo dan tepat mengenai kening Baekhyun yang tertutup poni.
" Kami tidak melakukannya, Byun. " Kyungsoo tidak berbohong. Mereka hanya melakukan itu dua kali, yang pertama saat ulang tahun Kyungsoo dan yang kedua saat ulang tahun Jongin yang berarti hanya berselang satu hari. Setelah itu mereka sama sekali tidak melakukannya karena sibuk.
" Sudahlah, kalian ini kalau tidak adu mulut pasti adu fisik. " komentar Luhan yang di sahut kekehan dari Jongin. Mereka sudah biasa dengan pertengkaran Kyungsoo dan Baekhyun. Mereka tidak akan berhenti sebelum salah satu dari mereka menjadi sangat kesal atau bahkan marah.
" Lebih baik kita bagi tugas saja. Baek, kau mengerjakan termokimia. Kyungsoo, kau kerjakan tirtrasi asam basa dan aku akan mengerjakan laporan untuk uji protein. "
" Kau maunya yang mudah saja. " gerutu Kyungsoo sambil menerima berkas praktikum dari tangan Luhan. Gadis asal China itu langsung melotot dan menahan kertas di tangannya sebelum benar-benar berpindah ke tangan Kyungsoo.
" Protes atau kau mengerjakan semua laporannya? " Kyungsoo langsung memasang cengiran lebarnya hingga matanya menyipit lucu. Salahkan Kyungsoo yang terlalu punya banyak pesona hingga banyak orang yang tak bisa lama-lama marah terhadapnya.
" Tidak, Luhanie. Aku mengerjakan ini saja. " Luhan mendengus kesal kemudian menyerahkan berkas itu. Mereka memutuskan untuk mengerjakannya di rumah dan menikmati sisa waktu istirahat mereka dengan bersantai di atap. Chanyeol dan Sehun sudah menyelesaikan game mereka, kini mereka duduk di samping pasangan masing-masing dengan tak kalah mesra dari Jongin dan Kyungsoo. Chanyeol merangkul pundak Baekhyun, sedangkan Baekhyun sendiri memilih bersandar lelah di bahu lebar Chanyeol. Lalu Sehun, pemuda dengan wajah sok cool yang sangat berbanding terbalik dengan sifat aslinya, ia menyelipkan jari-jarinya pada tangan Luhan dan mengecup punggung tangan kekasihnya itu berkali-kali.
" Ku dengar setelah ini kita akan di pulangkan. " perkataan Chanyeol berhasil menarik perhatian lima orang lainnya.
" Memang kenapa? "
" Kalau tidak salah karena rapat untuk ujian minggu depan. " jawaban itu membuat semuanya menghela napas. Antara lega dan kuatir.
" Tak terasa ya sebenatar lagi kita akan ujian kelulusan. Padahal rasanya baru kemarin kita masuk ke sekolah ini. " kenang Luhan. Mereka mengangguk bersamaan sebagai tanda persetujuan. Benar kata orang, masa-masa di sekolah menengah atas memang yang paling menyenangkan. Sekalipun pelajaran bertambah sulit dan tanggung jawab yang semakin besar, kenangan bersama teman-teman sanggup menjadi hal yang di rindukan ketika mereka lulus nanti. Bahkan juga guru yang super menyeramkan.
" Lebih cepat lebih baik. Aku sudah lelah belajar dua puluh jam dalam sehari. " keluh Sehun yang di tertawai oleh yang lain.
" Bagaimana kalau hari ini kita nonton. Hitung-hitung sebagai pelepas penat sebelum ujian. " usul Baekhyun. Disaat yang lain menyorakkan persetujuan, Kyungsoo hanya terdiam sambil menatap Jongin yang tengah berkutat dengan ponselnya.
" Ada apa Kyung? " tanya Luhan yang menyadari keterdiaman Kyungsoo.
" Aku sih bisa ikut. Tapi Jongin. " mendengar namanya disebutkan, Jongin menunduk untuk menatap Kyungsoo. Memang dari antara mereka berenam Jonginlah yang paling sibuk. Disamping pelajaran tambahan untuk ujian, Jongin juga memiliki pelajaran khusus tentang bisnis. Sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarga Kim, Jongin di tuntut untuk menguasai bisnis sedini mungkin agar siap membantu ayahnya kapanpun di butuhkan.
" Kita akan pergi. " perkataan Jongin malah membuat Kyungsoo menyipit kearahnya. Memandang curiga Jongin yang tersenyum maklum.
" Kau tidak memboloskan? "
" Tidak sayang. Guru lesku mengirim pesan untuk membatalkan kelas hari ini. Bacalah. " Jongin menyerahkan ponselnya pada Kyungsoo. Tak lama senyum Kyungsoo kembali merekah, ia menatap teman-temannya dengan mata berbinar yang lucu.
" Ayo kita pergi. "
...
Hari ini mereka sangat bersenang-senang, meninggalkan beban pikiran tentang ujian dan kepenatan mereka selama beberapa bulan ini. Mereka menonton, bermain di wahana, mengunjungi Namsan, hingga pergi ke kuil untuk berdoa. Namun mereka tetap konsekuen dengan waktu, mereka semua kembali ke rumah mereka masing-masing tepat sebelum jam makan malam.
Jongin memarkirkan motor besarnya di depan halaman Kyungsoo dan membantu kekasihnya turun dari motor. Ia mengernyit melihat pekarangan rumah Kyungsoo yang sepi. Jongin beralih memandang kekasihnya itu, menaikkan sebelah alisnya saat Kyungsoo tak kunjung menyerahkan helm dan malah memeluknya erat di depan dada. Kyungsoo terlihat sedang berpikir keras.
" Hei, ada apa? " tanya Jongin. Tangannya terulur untuk mengusap pipi Kyungsoo yang dingin karena terkena udara malam.
" Ehm. Apa kau mau makan ramyun sebelum pulang? " alis Jongin naik lagi hingga garis rambutnya. Perlahan salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk seringaian yang mematikan. Kilatan nakal sepintas terlihat di manik mata Jongin.
" Tentu saja. " Kyungsoo tersenyum gugup kemudian menyerahkan helm yang tadi di peluknya kepada Jongin. Kyungsoo tidak menunggu pemuda itu turun dari motornya, ia berjalan terlebih dulu untuk membukakan pintu.
" Masuklah. " Jongin menutup pintu di belakangnya kemudian menguncinya dari dalam. Jongin mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan dan tak menemukan tanda-tanda kehidupan lain selain dirinya dan Kyungsoo. Seperti yang ia duga mereka hanya berdua di rumah ini.
" Tunggu sebentar, aku akan memasak ramyunnya. " ucap Kyungsoo tanpa menoleh, ia menyatukan rambutnya keatas dan menyanggulnya asal-asalan sambil berjalan menuju dapur. Jongin sendiri menaruh tasnya di atas sofa, tak berhenti di situ saja kini Jongin juga melepaskan kemejanya hingga kini ia bertelanjang dada. Ia menyusul Kyungsoo menuju dapur, mengamati kekasih mungilnya yang sibuk dengan panci dan bungkusan ramen. Tapi ia tahu Kyungsoo bahkan tidak menyalakan kompornya.
Jongin perlahan mendekati Kyungsoo yang tetap tak berbalik kearahnya. Ia memeluk Kyungsoo dari belakang, meremas payudara Kyungsoo sambil lalu sedangkan tangannya yang lain menelusup ke dalam rok seragam Kyungsoo. Menggoda kewanitaannya dari balik celana dalam, Jongin bisa merasakan kelembapannya disana.
Jongin tersenyum menang saat Kyungsoo mendesah dengan keras dan bersandar padanya. Seolah memang inilah yang Kyungsoo inginkan dan nantikan. Kyungsoo menggenggam tangan Jongin yang berada di perut ratanya dan menariknya menuju payudaranya. Meminta secara tersirat pemuda itu untuk mengerjai payudaranya juga. Kepala Kyungsoo condong kesamping untuk memberi akses lebih Jongin yang tengah mencumbunya.
" Kau sudah basah, sayang. "
" Aku merindukanmu. " bisik Kyungsoo di sela cumbuan Jongin pada titik-titik sensitifnya. Bahkan kini tangan Jongin telah masuk kedalam celana dalamnya, menggosok klirotisnya naik turu secara langsung. Tubuh Kyungsoo bergetar hebat sehingga ia harus berpegangan erat pada meja kompor agar tidak terjatuh.
" Aku lebih merindukanmu. " balas Jongin. Ia menarik tangannya dari tubuh Kyungsoo hanya untuk membalik tubuh gadisnya, membawanya duduk di atas meja makan. Bibir dan lidah Jongin mencium Kyungsoo dengan begitu rakus. Menumpahkan semua rasa rindunya pada Kyungsoo. Tangannya meraba dan meremas apapun yang ia pegang tanpa terlewat. Sedangkan Kyungsoo kini tengah berusaha melepas ikat pinggangnya. Dentingan keras terdengar ketika benda itu jatuh kelantai.
" Sialan. " umpat Jongin ketika Kyungsoo membelai kejantanannya dari luar. Ia membantu usaha Kyungsoo dengan membuka kaitan dan resleting celananya, memberi akses bagi Kyungsoo untuk menggenggam kejantanannya secara langsung. Tak ingin menjadi satu-satunya yang di kerjai, Jongin juga memainkan kewanitaan Kyungsoo. Dua jarinya berada didalam Kyungsoo, mengocoknya seirama dengan kocokan tangan Kyungsoo pada kejantanannya, ibu jarinya menekan klirotis Kyungsoo dan menggodanya dengan gerakan melingkar. Kecipak ciuman mereka dan kecipak gerakan jari Jongin pada kewanitaan Kyungsoo yang basah membuat suasana menjadi semakin panas.
" Jongin, masuki aku. "
" Kita tidak punya pengaman disini. "
" Tidak perlu. Aku sedang tidak dalam masa suburku. " Jongin meloloskan geraman rendah, mengantisipasi percintaan tanpa pengaman yang akan mereka lakukan kali ini. Tubuhnya panas dingin membayangkan dirinya merasakan Kyungsoo secara langsung, tanpa penghalang apapun.
Tak ingin berfantasi lebih lama lagi, Jongin menarik tangannya dari dalam Kyungsoo. Ia tidak cukup sabar untuk melepas sisa pakaian mereka. Jadilah Jongin hanya melepas celana dalam Kyungsoo dan mengantonginya. Kemudian ia beralih pada dirinya sendiri, mengeluarkan kejantanannya dari dalam celananya. Ia mengangkat satu kaki Kyungsoo keatas meja, membuat Kyungsoo begitu terbuka untuknya.
Keduanya menggeram ketika proses penyatuan mereka berlangsung. Sensasi tanpa pelindung ini membuat mereka merasa seperti terbang ke awang-awang. Kyungsoo tak bisa melukiskan bagaimana rasanya saat kejantanan Jongin menggesek langsung dinding kenawitaannya. Ia menjatuhkan keningnya di bahu Jongin dan bernafas dengan keras. Mungkin ia akan melakukan saran Baekhyun untuk mengkonsumsi pil agar ia bisa merasakan sensasi ini lagi.
" Astaga, kau sangat nikmat. " Kyungsoo tersenyum mendengar pujian Jongin. Ia mengangkat kepalanya dari bahu Jongin untuk melihat wajah kekasihnya itu. Mata Jongin terlihat sayu, bibirnya sedikit terbuka untuk mengambil napas dengan rakus sedangkan wajahnya memerah sempurna dengan peluh membasahi keningnya. Jongin sangat tampan, ia tak meragukan itu.
" Setubuhi aku. " Kyungsoo mengecup bibir Jongin sekali.
" Dengan cepat dan keras. Jangan menahan diri. " setelah mendapat lampu hijau, Jongin mendesaknya dengan cepat dan keras, tepat seperti apa yang ia mau. Kyungsoo mendongakkan kepalanya, bertumpu diatas meja dengan kedua tangannya. Mulutnya tidak bisa berhenti meloloskan desahan keras saat Jongin menghujam titik terdalamnya tanpa ampun. Sedangkan payudaranya di kerjai habis-habisan dengan tangan dan mulut Jongin. Ia bahkan tak sadar kapan Jongin membuka kancing kemejanya dan meloloskan payudaranya dari cup bra nya.
Ia tak ingin ini segera berakhir, tapi sensasinya terlalu banyak untuk bisa ia tanggung. Kyungsoo bisa merasakan klimaksnya hampir tiba. Jadi ia mengetatkan otot dibawah sana, mengepal erat kejantanan Jongin dan ikut bergerak melawannya. Ia hanya tersenyum, atau lebih tepatnya menyeringai, saat mendengar umpatan-umpatan Jongin, ia tak menyangka kalimat kotor yang Jongin lontarkan malah membuatnya semakin bergairah. Napas Jongin yang bertambah berat dan erangan kasarnta menjadi tanda jika Jongin juga akan segera sampai.
" Datang bersamaku. " bisik Jongin. Dalam beberapa gerakan terakhir mereka sampai dengan keras. Meneriakkan nama masing-masing sebagai pelampiasan. Kepala dan tubuh Kyungsoo terasa ringan seperti kapas, pandangannya menjadi putih dan telinganya tiba-tiba menjadi tuli. Mereka bertahan di posisi yang sama untuk sementara waktu. Memulihkan dari mereka dari sensasi klimaks ternikmat yang mereka alami barusan.
" Sepertinya setelah ini aku harus mengkonsumsi pil. " gumam Kyungsoo di sela napas mereka yang mulai normal. Jongin mengernyitkan keningnya, berhasil menangkap tubuh Kyungsoo yang hampir jatuh berbaring ke meja marmer yang dingin.
" Kenapa? "
" Aku ingin merasakan dirimu tanpa pelindung mulai sekarang. " Jongin terkekeh dan mengecup puncak kepala Kyungsoo beberapa kali. Setelah yakin Kyungsoo mampu bersandar pada tubuhnya sendiri, ia melepaskan miliknya dari dalam Kyungsoo. Rasa dingin menyergapnya ketika tautan mereka terlepas, tapi membiarkan Kyungsoo dalam posisi itu terlalu lama hanya akan membuat tubuhnya sakit. Ia beralih mengambil tissue untuk membereskan kekacauan yang mereka buat. Kyungsoo juga melakukan hal yang sama dengan dirinya sendiri. Ia melompat turun dari meja dan merapikan pakaiannya.
" Aku menantikan hal itu. " ujar Jongin setelah membenarkan celananya. Ia kembali meraih tubuh Kyungsoo, mencium bibir kekasihnya itu dengan ciuman lembut. Menyampaikan rasa sayangnya yang setiap hari semakin bertambah besar. Terlepas dari seks yang mereka lakukan, Jongin sangat mencintai Kyungsoo dengan segenap jiwa dan raganya.
" Mana celana dalamku. " Kyungsoo menengadahkan tangannya pada Jongin yang hanya di balas seringaian olehnya. Ia mengamati tubuh Kyungsoo dari atas kebawah dengan tatapan sensualnya.
" Ku rasa kau tak perlu memakainya malam ini. "
" Ya sudah. Sekarang lepaskan aku, aku ingin memasak ramyun. " Jongin menaikkan sebelah alisnya lagi dan membuat Kyungsoo tertawa.
" Aku lapar Jongin. Jangan berpikir macam-macam. "
" Aku juga lapar sayang. " sahut Jongin dalam artian yang berbeda. Satu pukulan pelan mendarat pada pucuk kepala Jongin dan tentu saja itu ulah Kyungsoo. Ia tengah memasang ekspresi galaknya yang gagal karena senyum enggan pergi dari bibirnya.
" Sejak kapan kau jadi semesum ini. " keluh Kyungsoo pura-pura. Ia mendorong Jongin pelan kemudian kembali ke kompornya. Meninggalkan pemuda itu yang hanya mengendikkan bahu dan berjalan ke arah ruang tengah. Kali ini ia benar-benar menyalakan kompor dan bersiap memasak ramyun, sesi percintaan mereka tadi membuatnya merasa lapar. Sambil menunggu ia berbalik untuk melihat Jongin yang tengah memakai kaos. Memandang otot punggung Jongin yang meregang karena gerakannya membuat daerah kewanitaannya berkedut mendambakan sentuhan Jongin. Oh, ia tak tahu mengapa ia begitu ketagihan dengan Jongin dan hanya Jongin.
" Kau yang memancingku duluan. "
" Aku hanya merindukan kekasihku. Apa itu salah? "
" Tentu saja tidak. " sahut Jongin cepat dengan senyum lebarnya. Ia menarik kursi di meja counter dan duduk disana. Mengamati tubuh mungil Kyungsoo yang tampak luwes di dapur.
" Oh ya, dimana ajumma dan ajussi? "
" Mereka berangkat ke Canada tadi pagi. Ngomong-ngomong, eomma pasti akan mengomel kalau mendengarmu memanggil mereka dengan panggilan itu. "
" Aku masih bingung kenapa orang tuamu ingin di panggil eommoni dan abeoji tiba-tiba. " Jongin meringis membayangkan ibu Kyungsoo yang melotot karena dia salah menyebutkan panggilan untuknya.
" Tidak tahu, tanya saja sendiri. Sekarang waktunya makan. " seru Kyungsoo sambil membawa panci berisi ramyun panas. Aromanya membuat perut Jongin tiba-tiba berbunyi, sepertinya ia juga merasa lapar. Kyungsoo berbalik lagi untuk mengambil sumpit dan mangkuk kecil di lemari bawah. Jongin menelan dengan susah payah karena melihat rok Kyungsoo yang tersingkap. Ingatkan dia jika saat ini Kyungsoo tak memakai apapun dibalik rok seragamnya.
" Akan lebih enak jika aku memakanmu. " gumaman pelan Jongin rupanya masih terdengar oleh Kyungsoo. Dengan cepat ia berbalik dan menuding Jongin dengan sumpit. Dan tidak lupa memberikan tatapan mautnya yang malah membuatnya bertambah imut. Jongin mengangkat tangannya tanda menyerah.
Keduanya makan dalam diam. Atau lebih tepatnya hanya Jongin yang makan. Kyungsoo memilih memandangi Jongin yang makan dengan lahap. Ia sengaja memasak dua ramyun dan hanya memakan sedikit. Membiarkan sisanya dihabiskan oleh Jongin, ia tahu belakangan ini Jongin tidak makan dengan baik. Lagipula ia butuh tenaga Jongin malam ini.
Perlahan sudut bibir Kyungsoo tertarik keatas, membentuk satu senyum misterius yang tak Jongin lihat. Mungkin jika ia mempunyai ekor di belakang tubuhnya, benda itu akan berkibas cepat karena terlalu bersemangat.
' It's show time baby. Let's rock until dawn baby. '
The End
Haihaihai... sequel is up
Mian kalo ceritanya jelek, gak jelas, amburadul, ngebosenin. Aku sudah coba yang terbaik tapi gak tau deh nih.. TT
Btw, curhat sedikit..
Kenapa di cerita ini aku bawa pelajaran kimia? Itu karena aku tibatiba kangen sama guruku kimia yang super duper galak. Waktu ujian praktek dulu beliau marah karena aku cuma dapet uji protein. Padahal beliau pengennya aku dapet yang lebih susah, kayak tirtrasi atau elektrolisis. heuheuheu
And then, sebenernya ide cerita yang ini muncul lebih dulu daripada lost in lust. Tapi kenapa yg aku posting duluan bukan ini? Aku juga bingung, hahaha
Aku baru tahu kalo di Korea sana kalo ada cewe yg nawarin ramyun buat pasangannya sebelum pasangannya itu pergi, itu juga berarti si cewe ngajakin nges*x, hohoho. Inilah asal muasal ff ini bisa terbuat... ( fanacc EXO CBX fansigned ). Kenapa aku buat Soo yg agresif disini? Karena aku terinspirasi sama omongan Soo sendiri yg bilang kalo dia gak sepolos kelihatannya, dia tahu apa yang harusnya diketahui orangorang seumurannya.
So, cukup sekian aja. Jangan lupa review guys, aku butuh saran kalian tentang part NCannya buat menunjang projek dua ff ku yg lain...
Thankyou yg udah baca, review, fav an follow chap sebelumnya... aku sayang kalian guys :* :')
Akhir kata
annyeong , see you next time...
