Disclaimer: Kalo Naruto punya saya, saya ga akan nulis fanfic ini. LOL.
Warning: OOC, mature theme, and a lil bit erotica in the later chapter. lol.
As usual, don't like, ya don't read lah yaa.
Chapter 2
Hinata
Gaara dapat merasakan napas hangat itu menggelitik wajahnya. Meskipun matanya masih terpejam, ia tahu saat itu masih sangat pagi dan belum waktunya ia terbangun. Sensor tanda bahaya dalam otaknya pun tak memberitahukan bahwa ia dalam keadaan terancam. Tapi... napas hangat milik siapa ini?
Dengan malas Gaara membuka kelopak matanya dan langsung terbelalak ketika sepasang mata pucat menatap balik kearahnya. Ia tersentak kaget ketika menyadari pemilik mata tersebut sedang duduk diatas perutnya sambil membungkuk dan mengamatinya seakan-akan ia preparat dalam praktikum biologi.
Gaara balas menatap gadis dihadapannya itu. Wajahnya sangat pucat seperti matanya, dan meskipun gadis itu sudah duduk diatasnya selama beberapa menit, Gaara sama sekali tak merasakan beban tubuhnya. Gadis itu sangat kurus seperti penderita anorexia.
"Apa yang kau lakukan diatasku?"
Gadis itu menelengkan kepalanya ke samping sambil tersenyum lemah, namun tetap membisu. Kemudian perlahan-lahan ia menurunkan kepalanya hingga bibir kedua orang itu berada pada jarak yang mengkhawatirkan. Gaara harus menahan rona merah yang hendak muncul di wajahnya saat ia merasakan dada gadis itu yang hanya tertutup kaos tipis bersentuhan dengan dadanya.
"Kamu siapa?" Suaranya serak, tapi lembut. Dari jarak sedekat itu Gaara dapat mencium bau napasnya, bau tajam yang sangat mirip bau... darah.
Tanpa menjawab pertanyaannya, Gaara meraih wajah gadis itu, kemudian membuka mulutnya dengan hati-hati. Dan benar saja, bau darah semakin tercium ketika ia membuka mulutnya. Namun tak ada tanda-tanda gigi yang patah.
Gusinya berdarah?
"Gusimu berdarah?"
Gadis itu terdiam sejenak, ia terlihat seperti menimbang-nimbang. Dengan wajah ragu-ragu ia mengangguk.
Gaara menghela napas kemudian bangkit perlahan. Ia sepenuhnya sadar bahwa tubuh gadis itu melekat padanya. Kemudian dengan hati-hati ia menggendong gadis itu dilengannya lalu membawanya ke kamar mandi di luar kamar.
Di dalam kamar mandi, Gaara mendudukkan wanita itu diatas dudukan kloset yang tertutup. Setelah itu ia mengambil gelas kosong, kemudian mengisinya dengan air kran.
"Kumur-kumur dulu dengan ini." perintahnya pada gadis itu.
Sementara gadis itu berkumur-kumur dengan patuh, Gaara mencari obat kumur antiseptik di kotak P3K-nya. Ia sebenarnya bukan tipe pria yang menyimpan obat kumur antiseptik dalam kamar mandinya, namun begitu kau menjadi adik dari seorang Temari Sabaku, kau akan menemukan banyak benda-benda aneh lain tersedia dalam rumahmu.
Gaara menemukan obat antiseptik itu, kemudian menyuruh si gadis misterius berkumur-kumur dengannya. Begitu selesai, gadis itu tersenyum.
"Rasanya enak."
"Bagus kalau begitu."
Gadis itu perlahan-lahan berdiri. Saat itu Gaara menyadari, tinggi perempuan itu hanya mencapai lehernya.
"Kau siapa?" tanya gadis itu lagi, "Apa yang kaulakukan disini?"
"Namaku Gaara." Gaara tidak menyodorkan tangannya atau apapun, dan kelihatannya gadis itu tak keberatan. "Ini rumahku."
"Gaa... ra." Gadis itu mengetes nama Gaara di lidahnya berulang kali, hingga akhirnya Gaara menggendongnya lagi di lengannya dan membawanya kembali ke kamar.
Begitu Gaara mendudukkannya di tempat tidur, gadis itu tersenyum lalu berkata, "Namanya yang mudah diingat."
"Ya, semua orang juga bilang begitu." sahut Gaara sebelum mendudukkan dirinya sendiri disamping gadis itu.
Untuk kategori korban penyiksaan, gadis ini terlihat sangat mudah percaya pada orang lain. Padahal tadi malam Gaara sudah menduga kalau-kalau gadis ini bangun ia akan histeris dan mencoba untuk melukainya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Gadis ini sangat tenang dan terkendali, meskipun masih sangat lemah.
"Apa yang kulakukan di rumahmu, Gaara?"
"Aku menemukanmu terbaring di trotoar semalam." Inilah pertanyaan yang dari semalam mengganggu pikirannya, "Apa sebenarnya yang terjadi padamu?"
"Yang... terjadi... padaku?" Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, kemudian menundukkan kepala. "Aku... Aku... tak begitu ingat..." Ia mengernyit lalu memegang kepalanya, "A-Aneh... Rasanya... Aku... Aku mengetahui banyak hal. Tapi... Mereka seakan-akan tertahan dan menolak m-menunjukkan diri padaku."
Ini aneh, pikir Gaara. Semalam ia terlihat mengetahui apa yang seharusnya ia ketahui. Atau jangan-jangan... Semalam itu ia hanya meracau?
"Temanku melakukan check-up padamu kemarin... dan ia menemukan bekas penyiksaan diseluruh tubuhmu. Apa kau benar-benar tak bisa mengingatnya?"
Kerutan diantara alis gadis itu makin dalam. Ia menarik kakinya kemudian memeluknya. "Aku... Aku yakin aku tahu... Tapi aku bingung... Bayangan di kepalaku semua... terlihat... kabur..."
Apa dia sangat trauma sampai-sampai amnesia?
Gaara menghela napas. Semua ini sia-sia, pikirnya. Mungkin gadis ini perlu dihipnotis agar bisa mengingat semuanya. "Tidak apa-apa." Dengan hati-hati ia menyentuh bahu gadis itu, "Istirahatlah. Mungkin nanti setelah tenagamu pulih, kau akan bisa mengingat kembali." kata Gaara berbohong. Dari pengalaman, Gaara tahu kalau orang yang hilang ingatan karena trauma, kemungkinan mereka bisa mengingat kembali setelah beristirahat sangat kecil mendekati nol.
"Ya... Se-Semoga saja..." Ia tersenyum manis pada Gaara sebelum membiarkan pria yang tak dikenalnya itu membaringkannya di tempat tidur.
"Ngomong-ngomong, apa kau bisa mengingat siapa namamu?"
Gadis itu tersenyum lemah, "Ya, syukurlah aku masih mengingatnya dengan jelas." Ia meraih tangan Gaara, "Namaku Hinata... Itulah satu-satunya yang bisa kuingat."
Hari itu hari Sabtu, akhir pekan yang selalu ditunggu Gaara sepanjang minggu. Meskipun setiap saat handphonenya bisa berbunyi dan memberinya pekerjaan, tapi ia bahagia karena tak harus bangun pagi dan pergi ke kantor. Hanya saja akhir pekan itu sepertinya tak akan menjadi akhir pekan idamannya kali ini.
Semuanya karena seorang gadis yang sekarang terbaring di kamarnya.
"Dia terbangun dan gusinya berdarah?" Sakura, tetangga Gaara yang datang untuk membuatkan sarapan, bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari bubur yang sedang ia masak.
Pria berambut merah yang duduk di kursi meja makan dibelakangnya menjawab, "Ya, aku memberinya obat kumur... kemudian menanyainya. Ia tak ingat apapun kecuali namanya."
"Trauma." kata Sakura itu sebelum mematikan kompor. Ia mengangkat panci kecil itu kemudian menuangkan isinya kedalam sebuah mangkok. "Apa kepala gadis itu berdarah saat kau menemukannya semalam?"
"Aku yakin tidak." sahut Gaara. "Mungkin kita harus membawanya ke rumah sakit begitu ia terbangun."
"Ya. Aku akan menelepon Tsunade-sama. Dia pasti tahu apa yang harus dilakukan." Sakura memindahkan mangkok tersebut ke atas nampan kemudian membawanya ke meja makan. "Apa kau sudah melaporkannya ke kantormu?"
"Belum... Belum secara resmi. Tapi aku sudah menanyakan Shikamaru di bagian pencarian orang hilang apa mereka menerima laporan."
"Lalu apa yang akan kau lakukan seandainya memang ada yang mencari gadis itu? Siapa saja bisa melakukan penyiksaan itu padanya. Termasuk orang yang mencarinya."
Gaara terdiam sejenak. "Kau benar. Ada banyak kemungkinan disini. Bisa saja gadis itu diculik oleh seseorang sebelum disiksa..."
Sakura menyelanya, "Tapi kalau begitu... pasti sebelumnya keluarganya sudah melaporkan penculikannya."
"Ya," Gaara mengangguk setuju, "Tapi Shikamaru bilang beberapa bulan terakhir ini tak ada laporan yang mencari gadis itu..."
Sakura menghela napas. "Jadi kemungkinan besar, keluarganya-lah yang melakukan hal itu padanya..."
Gaara tak berkomentar. Ia melirik mangkok bubur di meja makan. "Apa kau akan mengantarkan bubur itu atau kau mau menunggunya sampai dingin?"
Wajah Sakura memerah mendengar sindiran Gaara. "Iya, iya, aku akan mengantarnya sekarang." Ia bergegas menuju kamar tidur dengan nampan di tangannya. "Kau mau ikut?"
"Tidak... Aku harus menelepon seseorang." dan Sakura pun pergi meninggalkan Gaara sendirian di dapur.
Gaara berjalan menuju telepon cordless di ruang depan, kemudian memencet beberapa nomor. Ia sedang menunggu orang disisi lain menjawab saat suara bingung Sakura terdengar dari arah kamarnya.
"Gaara? Mana gadis itu? Kau bilang dia masih tidur?"
Kedua alis Gaara terangkat, dan tanpa pikir panjang langsung menutup teleponnya. Selama sedetik tadi ia bisa merasakan jantungnya berhenti berdetak juga berbagai pikiran buruk berkelebat dalam benaknya.
Ia menghampiri Sakura yang masih membawa nampan di kamarnya, dan benar saja kata perempuan itu, tempat tidurnya kosong.
"Sialan," umpatnya.
Apa ada yang menyelinap tanpa aku sadari?
Gaara langsung lari ke balkon, namun tak ada tanda-tanda jendelanya sudah dibuka paksa. Seseorang tak mungkin menyelinap masuk ke kamarnya. Lalu, apa gadis itu melarikan diri? Tak mungkin. Jika gadis itu keluar dari kamar, Gaara pasti bisa mendengarnya.
"Sakura, cari ke seluruh apartemen." katanya. Walaupun tidak yakin, Gaara berjalan keluar balkon dan melihat ke bawah. Ia bernapas lega ketika tak melihat tanda-tanda bahwa gadis itu loncat dari lantai delapan ini.
Mengikuti Sakura, Gaara pun ikut mencari ke seluruh apartemen. Ia mengecek kloset pakaian, dapur, kolong meja, dibalik sofa, namun gadis itu tak ada dimana pun.
"Gaara!" Suara Sakura tiba-tiba terdengar, "Cepat kesini!"
Gaara langsung mengikuti arah suara gadis itu, dan menemukannya di kamar mandi. Matanya terbelalak ketika menemukan gadis yang mereka cari terbaring telanjang di dalam bath tub yang penuh terisi air.
Dengan cepat Gaara langsung mengangkat gadis itu keluar dari air. Sakura memberikan handuk untuk membungkus tubuh telanjangnya. Untuk kedua kalinya pagi itu, Gaara membopong tubuh si gadis misterius Hinata kembali ke kamarnya.
"Bagaimana dia bisa sampai disana? Kalau sampai dia mati tenggelam kita bisa jadi tersangka utama."
Gadis dilengannya mendadak terbatuk-batuk keras, memuntahkan air dan membasahi kaos pria yang menggendongnya. Gaara membaringkan gadis itu di tempat tidurnya. Sakura pun dengan sigap langsung menangani gadis itu, memijat dadanya untuk mengeluarkan air yang masuk ke paru-parunya.
"Mungkin ia melakukannya tanpa sadar. Atau sesuatu mungkin mendorongnya untuk menenggelamkan dirinya sendiri."
"Maksudmu dia gila?"
"Kemungkinan itu selalu ada."
Gaara memberi temannya pandangan sangsi. "Tapi dia terlihat normal saat aku bicara padanya tadi."
"Itulah yang tak kumengerti Gaara..."
Gaara tak berkata apapun. Ia menurunkan pandangannya saat matanya tanpa sengaja menatap tubuh telanjang gadis itu. Rupanya semalam Sakura lupa memberitahunya bahwa dada dan perut gadis tersebut juga dipenuhi luka sayatan.
Siapapun yang melakukannya pada gadis itu pasti orang gila.
"Kita betul-betul harus membawanya ke Tsunade-sama."
Dari luar klinik itu memang kecil. Papan nama bobrok yang tulisannya sudah pudar pun tak mendukung imej klinik tersebut. Namun, papan nama tersebut memang tak dibutuhkan lagi. Karena semua orang sudah tahu siapa dokter yang praktek di klinik tersebut.
Termasuk Gaara.
Polisi berambut merah itu duduk di kursi panjang di ruang tunggu. Ditangannya terdapat sebuah kotak styrofoam yang berisi mie ramen. Tadi pria itu tak sempat sarapan karena harus langsung membawa Hinata ke klinik itu. Akibatnya ia membeli ramen dari kedai yang tak jauh dari klinik tersebut dan memakannya saat dokter Tsunade memeriksa Hinata.
Saat Gaara menyeruput lembaran mie terakhir, saat itu pula pintu ruang pemeriksaan terbuka, dan keluarlah seorang wanita cantik berambut pirang. Sekilas orang-orang mungkin tertipu dengan penampilan muda wanita itu. Namun, pekerjaannya yang sukses membuatnya berhasil melakukan operasi plastik termahal di luar negri dan membuatnya tetap terlihat cantik meskipun usianya sudah lewat setengah abad.
Gaara berdiri dari tempat duduk dan menghampiri wanita itu. "Bagaimana keadaannya?"
Ekspresi di wajah Tsunade tak menandakan ia memiliki kabar bagus. "Aku tak menyangka akan bertemu kasus seperti ini... di jaman sekarang."
"Maksud anda?"
"Ayo masuk," Tsunade mengajak Gaara masuk ke ruang pemeriksaan. Dibalik tirai di tengah-tengah ruang tersebut terdapat sebuah tempat tidur dimana Hinata terbaring lemah. Sejak menemukannya hampir tenggelam di kamar mandi, gadis itu tak kunjung siuman. Gaara pun tak membuang-buang waktu lagi dan langsung menggendong gadis itu ke mobil untuk mengunjungi Tsunade-sama. Namun, pada detik-detik terakhir, saat seharusnya Sakura ikut dengan Gaara untuk membawa Hinata, gadis itu ditelepon orang tuanya yang mengharuskannya untuk pulang ke rumah keluarga Haruno secepat mungkin, meninggalkan Gaara sendirian.
"Luka-luka disekujur tubuh gadis itu menandakan dia sudah disiksa cukup lama," Ya, Gaara sudah tahu itu. "Tak hanya disiksa, ia juga diperkosa berulang kali."
"Saya tahu," sahut Gaara. "Dan dia tergolong tenang untuk orang yang disiksa seperti itu."
"Kondisi mentalnya itu terjadi karena ia tak sadarkan diri saat semua itu berlangsung."
Gaara mengangkat sebelah alisnya mendengar fakta baru ini. "Aku tak tahu hal itu bisa terjadi."
"Coba kutanya kau Nak, apa reaksi pertamamu ketika seseorang memukulmu?"
Gaara tak perlu berpikir untuk menjawabnya, "Menghajarnya balik."
"Duh!" Tsunade memukul dahinya, "Bukan, bukan, sebelum menghajarnya kau pasti melakukan sesuatu..."
"Mempertahankan diri?"
"Tepat sekali!" Tsunade menjetikkan jarinya. "Mempertahankan diri, itulah yang dilakukan gadis ini. Tubuhnya ingin sekali menghindari semua siksaan tersebut hingga otaknya secara otomatis menghentikan segala aktivitas organnya hingga ia tak sadarkan diri. Begitulah reaksi pertahanan gadis ini."
Gaara tertegun mendengar penjelasan Tsunade. "Maksud anda... Karena ia terlalu sering menerima siksaan seperti itu sehingga otaknya terus-terusan shut-down dan membuat ingatannya berantakan hingga dia amne..."
Ekspresi di wajah Tsunade membuat Gaara seketika menghentikan omongannya. "Dasar anak bodoh! Jangan samakan otak dengan komputer! Walaupun terus-terusan shut-down," Ia memeragakan tanda kutip dengan jari-jarinya, "...seperti kau bilang, tapi saat sadar gadis itu tetap merasakan sakitnya. Rasa sakit itulah yang menjaga ingatannya."
"Lalu bagaimana dengan amnesianya?"
Ekspresi Tsunade berubah menjadi serius... Sangat serius hingga membuat Gaara sedikit menciut. "Itulah keunikan dari kasus ini." Ia menghampiri Hinata, kemudian membalik tubuh gadis itu.
Gaara menahan napasnya saat melihat puluhan, atau mungkin ratusan bekas luka dipunggung gadis itu. Namun, yang menarik perhatian adalah pinggang gadis itu. Dipinggang gadis itu terdapat beberapa bekas timbulan membujur, seperti beberapa benda ramping seperti jarum diselipkan dibawah kulitnya.
Jari-jari Tsunade menekan bagian membujur yang timbul tersebut. "Kau tahu apa ini?"
Gaara mengangkat bahu. "Entahlah. Sakura bilang itu jarum."
"Ah, Sakura memang pintar." Sakura Haruno adalah salah satu murid Tsunade. Ia belajar semua dasar-dasar medis dari dokter itu, dan bercita-cita menjadi sekaliber dirinya. "Dia benar, ini memang jarum, tapi bukan sembarang jarum."
"Ini adalah sebuah seni ilmu hitam yang sangat tua. Sangat kuno dan jahat, hingga orang-orang mulai meninggalkannya. Terakhir kali ilmu semacam ini dipakai adalah pada tahun 1879 di daerah Afrika. Suku yang terakhir kali memakainya musnah karena perang saudara. Karena itulah aku sangat kaget ketika menemukannya... apalagi di abad ini."
Ilmu hitam yang sangat tua... Semakin Gaara mengetahui fakta tentang gadis ini, semakin banyak pula hal yang ia tak tahu.
"Jadi... Jarum itu membuatnya lupa ingatan?"
"Jika pengguna ilmunya berkehendak seperti itu. Kurasa jarum-jarum itu ditanam disana agar apapun yang gadis ini tahu tak bisa diketahui orang lain, bahkan oleh gadis ini sendiri. Siapapun yang menggunakan ilmu ini padanya tahu betul apa yang ia lakukan. Dan jika ia sampai bersedia melakukan sejauh ini untuk menyegel ingatan gadis ini, itu artinya..."
"...apapun yang dia ketahui merupakan kunci kejatuhan dari orang yang menyegel ingatannya."
Tsunade mengernyit sebentar, "Aku tak suka jika orang menyelaku. Tapi kau kumaafkan, karena apa yang kau katakan persis seperti apa yang hendak kukatakan."
"Jadi, jarum itu jugalah yang membuatnya bertindak seperti orang gila..." Gaara bergumam pada dirinya sendiri.
"Apa maksudmu, Nak?"
"Sebelum saya membawanya kesini, saya menemukannya hampir tenggelam dalam bath-tub kamar mandi. Saya tak mengerti bagaimana ia bisa sampai kesana."
Tsunade berpikir sajenak. Tangannya berada di dagunya. "Mungkin saja. Jarum itu mempengaruhi pikirannya untuk membunuh dirinya sendiri. Tapi aku tak begitu yakin. Jika dia memang mau bunuh diri, mengapa ia tak melakukannya sejak ia bangun pertama kali?"
Tsunade benar, pikir Gaara. Gadis itu tak melakukan apapun untuk membunuh dirinya saat ia bangun pertama kali. Malahan dia menunggu sampai Gaara bangun.
Gaara menggertakkan gigi, gadis ini benar-benar sebuah teka-teki sulit.
"Apa anda bisa mengeluarkan jarum itu, Tsunade-sama?" Gaara tak bisa menahan keinginannya untuk menyentuh tempat dimana jarum itu berada di bawah kulit Hinata. Dan benar saja, bagian itu memang terasa keras, seperti benda solid dibawahnya.
"Aku bisa saja membelah pinggang gadis ini. Namun aku takut itu akan membahayakan jiwanya. Sesuatu yang dimasukkan dengan ilmu hitam harus dikeluarkan dengan ilmu hitam. Dalam kasus ini, aku harus minta maaf karena aku tak bisa menolongmu. Ini diluar kemampuanku sebagai seorang medik."
"Saya mengerti..." Gaara mengernyit sambil menatap wajah tidur Hinata. Gadis itu terlihat sangat polos. Ia menghela napas.
Tsunade, sebagai orang yang lebih berpengalaman dalam hidup mengetahui bahwa Gaara sedang terlibat dalam konflik dalam dirinya sendiri.
"Ada masalah, Nak?"
"Entahlah... Saya tak tahu apa yang harus saya lakukan. Mengapa orang mau berbuat seperti itu padanya? Tidak mungkin hanya karena kesenangan. Dia pasti sudah melakukan suatu kesalahan."
"Kesalahan apapun yang ia lakukan, menyiksa orang dan mempraktekkan ilmu hitam seperti ini adalah tindakan kriminal, Nak. Dan sebagai seorang polisi..."
"Aku harus menghentikan mereka?"
"Kau menyelaku lagi... Tapi kau benar. Kesalahan apapun yang dilakukan gadis ini, dia tetaplah seorang korban sekarang. Dan sekarang semuanya keputusanmu. Kau akan menolongnya atau tidak?"
Gaara tak menjawab pertanyaan Tsunade. Ia sudah terbiasa dengan mafia narkoba atau gembong pengedar, tapi bukan ilmu hitam. Selama ini ia tak pernah percaya dengan sesuatu berbau metafisika, tapi begitu melihat hasil prakteknya di depan mata... perasaannya tak menentu.
"Aku tahu Nak, ini bukan keahlianmu... Bagaimana kalau kau menyerahkan gadis ini pada temanmu dari divisi yang menangani korban kejahatan HAM?" Tsunade menyarankan.
Itulah yang sejak tadi ia pikirkan. Sisi rasionalnya menjerit-jerit menyuruhnya untuk menyerahkan gadis ini pada bagian yang lebih berpengalaman.
Namun, sebuah sisi lain dalam dirinya berkata dengan tenang untuk tetap menjaga gadis ini sampai ia menemukan ingatannya kembali.
Dan saat matanya kembali terpaku pada wajah polos gadis itu, Gaara tahu sisi mana yang sudah memenangkan kendali atas pikirannya.
Gaara menutup pintu dibelakangnya, sebelum berjalan untuk meletakkan gadis di lengannya itu di kamar tidur. Akhir-akhir ini menggendong gadis itu menjadi sebuah kebiasaan bagi Gaara. Ia pun tak mengerti apa yang membuatnya mau melakukan semua hal ini. Mungkin sebagai orang yang menemukannya, Gaara merasa gadis ini berubah menjadi tanggung jawabnya.
Setelah membaringkan dan menyelimutinya, Gaara meletakkan kantong plastik yang berisi obat-obatan di meja samping tempat tidur. Tsunade memberinya beberapa kapsul dan tablet untuk Hinata, serta beberapa macam salep untuk menyembuhkan lukanya.
Gaara menggertakkan gigi ketika Tsunade menyuruhnya menebus obat-obat tersebut di apotek. Ditambah lagi obat-obat tersebut tak berharga murah. Namun Gaara mencoba mengikhlaskan uangnya dengan pikiran kalau bukan dia yang membeli obat gadis ini, lalu siapa lagi yang mau?
Setelah yakin Hinata tak akan terbangun, Gaara bergegas menuju kamar mandi. Saat itu sudah hampir jam satu, namun Gaara sama sekali belum mandi. Kekacauan pagi itu betul-betul menyita waktunya. Ia mengambil handuk kemudian masuk ke kamar mandi, namun tak mengunci pintunya.
Gaara menanggalkan pakaian sebelum masuk ke bawah pancuran. Ia mendesah lega ketika air dingin pertama menyentuh wajahnya lalu merilekskan semua otot-ototnya. Dalam hati ia bersyukur masih bisa menikmati saat-saat menenangkan seperti ini tanpa memikirkan wanita yang sedang tertidur pulas di kamarnya.
Tiba-tiba Gaara mendapat perasaan tak enak, rasanya seperti seseorang sedang memperhatikannya. Dahinya mengerut dan ia pun menengok ke belakang.
Namun tak menemukan apapun.
Mungkin hanya imajinasiku saja.
"Air..."
"HOLY SHIT!" Gaara mengumpat keras ketika ia mendengar suara bisikan tersebut dibelakangnya. Ia pun langsung berputar, "WHAT THE HELL?" dan terbelalak ketika menemukan tak lain dan tak bukan Hinata dalam posisi merangkak persis di luar pancuran.
APA YANG DILAKUKANNYA?
Gaara pun secara otomatis meraih handuk yang tadi ia gantung untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Dimatikannya air pancuran, lalu ia berjongkok untuk menolong Hinata agar berdiri dengan kakinya.
Mungkin gadis ini memang tak merestuinya untuk memiliki waktu santai sebentar saja.
"Apa yang kau lakukan disini Hinata?" tanya Gaara saat ia berhasil membuat gadis itu berdiri. Namun ketika Gaara melepaskan pegangannya pada gadis itu, tubuhnya lunglai dan ia hampir jatuh kembali sehingga Gaara menahan pinggang gadis itu dengan sebelah tangannya. Sebelah tangannya yang lain menjaga agar handuknya tak lepas.
"Airnya..." bisik Hinata di telinga Gaara. "Kenapa airnya berhenti?"
"Kau haus?"
"Aku mau air..."
"Kalau kau mau minum bukan disini," Gaara membimbing Hinata keluar dari pancuran. Namun gadis itu sengaja menjatuhkan badannya ke lantai, seakan-akan menolak untuk meninggalkan pancuran.
"Aku mau air..."
Gaara memberikan pandangan ganjil pada gadis itu. Tingkahnya aneh. Apa ini juga merupakan salah satu efek dari jarum-jarum itu?
Hinata mengerucutkan bibirnya, kemudian berkata, "Gaara-kun, keluarkan airnya seperti tadi lagi..."
Gaara mengangkat kedua alisnya. Sekarang ia mengerti. Gadis ini juga mau mandi.
"Kau mau mandi?"
Ia menggelengkan kepala. "Aku mau air."
Jawabannya membuat Gaara menghela napas. "Itu sama saja." Mengacuhkan Hinata yang terus merengek minta air, Gaara mengangkat tubuh gadis itu kemudian membawanya keluar kamar mandi. Tindakannya tersebut membuat Hinata meronta-ronta dan mereka berdua hampir terjatuh.
Namun pada akhirnya Gaara berhasil membawa perempuan itu ke ruang depan dan mendudukkannya di sofa. "Kalau kau mau mandi, kau harus melepas pakaianmu. Mandi dengan pakaian basah... Kau mau kena TBC?"
Hinata tak menjawab pertanyaannya. Malahan wajahnya merengut dan bibirnya menekuk ke bawah.
Gaara memutar bola matanya melihat tingkah kekanakan perempuan itu. "Aku akan menelepon kakakku. Dia akan membantumu mandi."
Wew, saya kaget liat bayaknya reviews di inbox saya. Padahal ini baru first chapter, tapi sambutan para pembaca sekalian sudah begitu hangat. Saya jadi senang, hehehe.
Mengenai Hinata yang "diperkosa secara reguler" itu maksudnya Hinata diperkosa setiap hari; mungkin itu tiga kali sehari (emang minum obat?), setiap pagi, setiap siang, setiap malam, pokoknya secara teratur. (kasian Hinata-chan). Tentang siapa pelakunya, saya akan memberitahunya di chapter mendatang, dan saya yakin saya pasti akan mengagetkan (bahkan mungkin menjengkelkan) kalian semua. harharhar.
Hubungan antara Sakura dan Gaara... hmm... mungkin akan saya jelaskan kapan-kapan (kapan yaa?), pokoknya ni cerita pairingnya GaaHina dah, ga bakalan berubah. (So, jangan harap bakal ada GaaSaku. hehehe).
Saya sangat berterima kasih atas reviews yang sudah kalian tulis untuk mensupport fic ini. Membaca tulisan kalian merupakan kesenangan sendiri bagi saya. harharhar. Akhir kata, saya sangat menanti reviewan kalian di chapter ini, terutama opini kalian mengenai karakter Gaara dan Hinata pada chapter 2 ini. hehe.
See you guys in the next chapter! *lambay-lambay*
