Aku menahan jeritan kaget ketika tubuhku terbangun di ranjang asing pagi ini. Kuarahkan pandanganku ke sekitar, tiba-tiba merasa waspada dan takut dalam satu waktu. Pikiran aneh melayang bebas dalam pikiranku.
Benar. Ini tempat asing!
.
.
.
Bonus Chapter
.
.
.
Ini bukan kamar penginapanku bersama Jaemin. Semua sudut dan benda-benda di kamar ini begitu asing bagiku. Kewaspadaanku meningkat tajam, namun logikaku dengan bijak menenangkanku dan mengajak kompromi. Kupejamkan mataku sejenak, mencoba menggali memori-memori yang tertinggal tadi malam.
Berada di pantai bersama Mark sampai tengah malam.
Lalu hujan turun.
Ah benar!
Senyum lega menghiasi wajah bodohku menyadari bahwa ini adalah kamar Mark. Hatiku terasa hangat menyadarinya, dan perutku terasa tergelitik memikirkannya. Kujatuhkan tubuhku kembali ke ranjang dan memekik kecil bahagia sambil memainkan kedua kakiku ke udara, mendendang-nendang dengan lincah.
Ya Tuhan, aku bahkan sudah berumur 28 tahun!
Demi apapun! Aku sudah beberapa kali menjalin hubungan. Dan sekarang aku bertingkah layaknya gadis-gadis remaja yang tengah jatuh cinta! Sadarlah Haechan! Kau sudah dewasa!
Itu peringatan dari otakku. Namun sepertinya otakku sudah tidak bisa mengambil alih tubuhku sekarang. Nyatanya aku masih betah menendang udara sambil tersenyum geli setelah memikirkannya.
Tidak apa-apa bertingkah layaknya remaja yang dirundung jatuh cinta. Itu normal kan? Hatiku berkata.
Namun kesenanganku tidak berlangsung lama. Aku langsung melotot ketika menyadari bahwa kakiku tidak memakai celana!
Buru-buru kutarik kakiku ke dalam selimut. Aku baru sadar bahwa aku hanya memakai kemeja putih saja. Ini pasti punya Mark! Kewaspadaanku kembali meningkat.
Mungkinkah?!
Tidak! Itu tidak mungkin!
Aku tidak ingat bahwa tadi malam aku dan Mark melakukan hubungan yang lebih dari sekedar menggenggam tangan dan berciuman. Kami masih dalam logika yang benar tadi malam.
Tapi ada apa dengan kemeja ini?
Lagi-lagi otakku kupaksa untuk menggali memori-memori yang mungkin terpecah-pecah disana. Mencari kebenaran yang aku harap bukan seperti dugaanku sebelumnya.
Berada di pantai bersama Mark sampai tengah malam, lalu hujan turun. Kami berdua kehujanan dan Mark memutuskan membawaku kepenginapannya, karena yang paling terdekat dari posisi kami. Baju kami basah kuyup.
Ah benar.
Aku bahkan masih ingat bagaimana aku menggigil kedinginan setibanya disini. Mark mencoba memberikan kaosnya, namun ia mendapati kaosnya tidak ada yang cocok untukku. Kaos yang ia bawa kesini rata-rata tidak bisa menutupi pantatku. Tidak mungkin aku berkeliaran dengan kaos seperti itu disini. Alhasil yang bisa aku pakai hanya kemeja kerjanya yang besar bukan main menurutku.
Lagi-lagi gelitikan aneh terjadi diperutku. Darahku terasa dipompa dan terpusat diwajahku, merah padam dan terasa hangat dalam satu waktu. Kututupi wajahku dengan selimut. Malu menyadari pikiran anehku dan fakta yang ada.
"Kau sudah bangun?"
Aku tergelak kaget mendengar suara Mark. Buru-buru aku bangun, berdiri dan menatapnya sealami mungkin, walaupun sepertinya malah terlihat aneh.
"Y-ya."
Sialan! Demi apapun! Kenapa aku malah gugup seperti ini? Aku bahkan pernah melakukan yang lebih dari sekedar ini bersama Lucas.
Dia mengangkat satu alisnya membuatku menggigit bibir kikuk.
Bau sabun menggelitiki hidungku. Ah aku baru sadar kalau dia habis mandi. Rambutnya bahkan masih basah dan kaos putihnya mencetak jelas dada bidangnya. Handuk kecil terselempang manis dilehernya. Entah kenapa melihatnya malah membuatku susah payah menelan air ludahku. Kupejamkan mataku sejenak, mencoba menyingkirkan pikiran yang semakin aneh saja diotakku.
"Kau bisa memasak?"
"Eh?"
Tentu aku kaget dengan pertanyaannya yang menurutku aneh dan terkesan mendadak.
"Kau ingin kita makan diluar atau memasak sendiri? Jujur saja, aku tidak bisa memasak."
Aku meringis menyadari bahwa pertanyaannya tidak aneh sama sekali. Tentu Mark lapar dan sebagai tuan rumah tidak mungkin Mark makan sendiri bukan?
Kumantapkan hatiku, "Aku akan memasak."
"Sebagai ucapan terima kasihku." Lanjutku setelah melihatnya menatapku dengan tatapan sedikit tidak percaya.
"Kau ingin makan apa?" dengan sigap aku melangkahkan kakiku ke almari es di sudut kamar dan menemukan almari es itu kosong, tidak ada apapun disana selain dua botol air mineral dan beberapa kaleng soda. Sontak saja aku membeku melihatnya.
"Sudah kubilang aku tidak bisa memasak."
Aku kehabisan kata-kata. Memangnya apa yang kuharapkan? Melihat Mark membantuku menyiapkan sarapan dan melakukan romantisme di pagi hari saat memasak?
Tuhan memang adil.
Mungkin dia lebih dalam ketampanan dan kepribadian, namun kemampuan memasak bukan untuknya sepertinya. Lagipula dia laki-laki metropolitan, makanan cepat saji mungkin kesehariannya. Dan memasak juga menyita banyak waktu. Tentu Mark adalah laki-laki sibuk. Dia pasti lebih sering makan diluar. Jadi aku pikir itu bisa dimaklumi.
"Aku akan keluar membeli sesuatu."
Aku bisa melihat ia nyaris melotot mendengarku berkata begitu.
Memangnya kenapa?
Aku rasa sah-sah saja kalau aku yang akan membeli bahan-bahan untuk memasak. Lagipula itu sebagai bentuk terima kasihku. Malah jika Mark yang melakukannya, aku menjadi tidak enak. Aku memang tamu disini, tapi bukan berarti aku harus merepotkannya bukan?
"Dengan baju seperti itu?"
Mulutku terkatup rapat.
Aku baru sadar bahwa aku hanya memakai kemeja besar ini.
Aku menggigit bibirku dan kemudian meringis, malu akan diriku sendiri.
"Aku akan keluar. Kau tinggal saja di dalam kamar."
Kuanggukkan kepalaku dengan kikuk sambil menautkan kedua tanganku layaknya anak kecil yang tertangkap basah melakukan kesalahan dan tengah diberikan hukuman oleh orangtuanya.
"Sepertinya aku masih punya beberapa cemilan di meja. Kau bisa memakannya." Aku ikuti arah pandangannya ke meja dan menemukan beberapa biskuit dan snack.
"Kau suka sandwich?"
Kuanggukkan kepalaku lagi. Sandwich tidak terlalu berat untuk pagi hari. Cocok untuk perutku yang sedikit sensitif.
"Aku pergi."
Setelah memakai jaket dan mengambil dompet, Mark pergi.
Nafasku terhembus pelan setelah kepergiannya. Sedikit tidak rela ia keluar. Bisakah mereka berdua melewatkan sarapan dan hanya berduaan saja pagi ini?
Aku menggeleng keras dengan pikiranku. Bagaimana bisa aku berpikir konyol seperti itu?
Aku tidak bisa menahan mataku untuk tidak menjelajahi kamar Mark. Untuk ukuran seorang pria, Mark sepertinya termasuk ke dalam kategori pria yang suka akan kerapian. Semuanya tertata dengan rapi dan apik. Kecuali bagian tempat tidur. Aku meringis, buru-buru kurapikan tempat tidur yang berantakan. Itu ulahku. Jadi aku akan bertanggungjawab dengan merapikannya kembali.
Setelah mataku, kini kakiku yang tidak bisa kutahan untuk tidak berkeliling di penginapan kecil ini. Tadi malam aku belum sempat menelusuri penginapannya karena terlalu sibuk dengan Mark.
Aku berjalan ke jendela, membuka gorden, mencoba melihat keadaan diluar. Dan itu bukan pilihan yang salah. Selera Mark memang bagus. Dia bisa melihat pantai dari sini tanpa harus susah-susah keluar penginapan. Jarak penginapan Mark dengan pantai begitu dekat.
Dan kemudian aku beralih ke koper yang tergeletak manis di dekat ranjang yang tak sengaja mataku tangkap. Semua barang pria itu tertata dengan rapi di dalam koper yang sedikit terbuka. Dia benar-benar akan pergi?
Bibirku merengut sedih. Aku masih ingin menghabiskan waktu yang lebih lama lagi bersama Mark. Kemanakah dia akan pergi setelah ini? Kanada lagi? Atau tempat yang lain? Sepertinya dia pria yang benar-benar sibuk?
Aku menghirup nafas dalam. Meyakinkan diriku bahwa pria itu sudah mau tinggal bersamanya, mengenyampingkan urusan pria itu. Itu sudah patut disyukuri Haechan. Lagipula kita sudah bertukar nomor. Aku dan Mark tentu bisa bertemu kembali. Itu kata hatiku yang bijak.
Ngomong-ngomong, seharusnya malam kemarin aku sudah kembali ke Seoul. Tapi aku membatalkannya. Kukatakan pada Jaemin bahwa aku bertemu dengan teman lama disini, aku belum ingin kembali. Awalnya dia tidak setuju, kenapa aku harus repot-repot tidak bekerja hanya karena bertemu dengan teman lamaku? Aku bilang kita sudah sangat lama sekali tidak bertemu. Lagipula aku juga masih ingin mengelilingi pulau Jeju lebih lama lagi. Sebenarnya itu hanya sebuah alasan.
Dia masih tetap bersikukuh kalau kita harus kembali malam ini. Tiket sudah dipesan dan mereka tidak punya alasan kuat untuk membolos kerja. Bagaimana kalau mereka dipecat? Jaemin parno sendiri memikirkannya. Aku kembali merayunya, kita jarang berlibur dan kita juga jarang bolos kerja. Banyak pegawai yang membolos beberapa kali dan masih tenang-tenang saja di dalam kubikel milik mereka. Aku mengajaknya untuk membolos kali ini saja.
Dan dia mulai curiga!
Aku bukan tipe orang yang mudah membolos, aku wanita yang terkenal taat akan peraturan. Dia memberondongku dengan banyak pertanyaan. Siapa temanku itu? Teman yang bagaimana? Laki-laki atau perempuan? Laki-laki bukan? Kau sedang mencoba move on ya?
Aku membantahnya berulang kali. Dia hanya teman lama, kataku. Karena kami sudah lama sekali tidak bertemu, maka dari itu kami ingin menghabiskan waktu bersama lebih lama lagi.
Dia tetap tidak percaya. Ia menyimpulkan kalau temanku adalah laki-laki. Walaupun itu memang benar, aku tetap membantahnya. Aku tidak pernah menceritakan tentang Mark kepada siapapun. Dan aku juga sedikit malu. Aku jadi terkesan seperti wanita murahan yang habis dicampakkan oleh pacarnya, kini tengah melakukan pendekatan terang-terangan pada pria lain.
Kami berdebat lama, hingga akhirnya aku menyerah dan menceritakan siapa Mark, bagaimana kita bertemu dulu sampai akhinya bertemu kembali dan terdampar dipenginapannya.
Ia tertawa keras. Aku kesal setengah mati mendengar reaksinya lewat telepon. Dia menggodaku tak henti-henti. Dan terus melantunkan nama Mark dengan nada yang menyebalkan ditelingaku.
Tapi kabar baiknya setelah aku bercerita, dia dengan senang hati ikut membolos bersamaku. Ia bilang ia juga ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi dengan Jeno, karena ia tidak ingin kalah dariku. Demi apapun?! Temanku ini memang memiliki masalah dalam otaknya.
Tiba-tiba aku tidak bisa menyembunyikan tawaku memikirkannya. Menurutku liburanku kali ini lucu sekali. Penuh dengan kejutan yang tak terduga.
Aku kembali berkeliling. Kuhentikan langkahku di depan cermin almari yang besar sehingga menampakkan seluruh tubuhku dari kepala sampai kaki.
Kedua sudut bibirku tidak bisa kutahan untuk tidak tertarik. Aku terus tersenyum melihat pantulan diriku sendiri. Merasa sangat bahagia bisa memakai kemeja besar milik Mark ini. Kuputar tubuhku beberapa kali. Mencoba berpose secantik mungkin. Dan berakhir melompat-lompat kecil sambil tertawa geli.
Bolehkah aku menyimpan kemeja ini?
Aku menyukainya. Sangat menyukainya.
Akhirnya aku sudahi sesi bercermin. Kulabuhkan diri ke kamar mandi. Saat pertama kali masuk, hidungku tidak bisa menahan untuk tidak mencium aroma sabun Mark yang menguar di kamar mandi. Perutku lagi-lagi tergelitik. Aku suka semua yang berhubungan dengan Mark.
Kupandangi perlengkapan mandi miliknya yang berjajar rapi.
Haruskah aku juga mandi? Dengan sabun yang sama?
Aku memekik kecil memikirkannya.
Aku bahkan akan memeluk botol sabun itu dan mengajaknya berputar ria di dalam kamar mandi. Namun rencana konyolku itu harus gagal.
Suara bel menginterupsiku.
Mark? Itu tidak mungkin kan? Dia yang menyewa penginapan ini. Jadi dia pasti punya kuncinya. Pasti orang lain. Tidak mungkin Mark masuk kepenginapannya sendiri dengan menekan bel walaupun ada orang didalam.
Bel itu kembali menyapa pendengaranku. Haruskah aku membukanya? Tapi aku hanya memakai kemeja sependek ini. Pahaku bahkan tidak tertutup dengan sempurna.
Belum selesai aku berpikir, bel lagi-lagi terlantun. Mungkin itu pegawai penginapan yang ingin menawarkan sesuatu atau ada perlu. Jadi tanpa ragu lagi akhirnya aku membukakan pintu.
"Kau siapa?"
Itu kata pertama yang aku dapatkan ketika kepalaku menyembul dari balik pintu. Aku berkedip bingung.
Tiba-tiba saja otakku berhenti bekerja. Aku tidak tahu harus merespon apa pada nenek yang ada didepanku. Untuk apa seorang nenek di pagi hari mengunjungi penginapan Mark? Apa nenek ini salah penginapan? Disini banyak penginapan, tentu seperti itu, nenek ini salah tempat.
"Aku bertanya sekali lagi, kau siapa?"
Suara nenek itu terdengar tidak ramah, membuat mataku melebar kaget dan juga takut. Aku diam kebingungan meresponnya, apakah jika aku mengatakan namaku, nenek ini akan mengenalku? Adakah suatu manfaat jika ia mengetahui namaku?
Aku akan mengatakan namaku ketika tiba-tiba saja tanpa kusangka nenek itu menarik pintu hingga terbuka lebar dan menampakkan diriku yang hanya mengenakan kemeja. Aku tentu saja kaget dan tidak nyaman. Tatapannya mengintimidasiku dan aku juga malu jika seseorang yang lewat melihatku berpakaian seperti ini.
"Ya Tuhan! Cucu kurang ajar!"
Aku semakin kaget. Mungkinkah?
"Nenek?!"
Kupejamkan mataku erat-erat dan kemudian mundur teratur ke dalam. Nafas beratku berkali-kali kubuang. Frustasi dengan situasi yang tengah menimpaku. Aku benar-benar tidak punya muka sama sekali sekarang.
Mark mendekat sambil membawa sekantung plastik belanjaan, wajahnya juga menyiratkan kekhawatiran dan keterkejutan. Neneknya tampak marah sekali. Ah tentu saja. Jika aku menjadi neneknya mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama. Tapi tetap saja ini kesalahpahaman!
"Apa yang nenek lakukan disini?"
Nenek melirik tajam Mark dan aku hanya bisa membisu ditempatku.
Nenek tidak menjawab dan masih betah menatap Mark dengan tajam, tentu Mark merasa tidak enak, dengan segera ia mengajak masuk neneknya baik-baik. Awalnya neneknya tidak mau, namun Mark memaksanya dan menariknya ke dalam penginapan, tanpa kekerasan tentunya.
Setelah pintu ditutup, aku tahu waktu penghakiman telah tiba.
.
.
.
Bonus Chapter
.
.
.
"Kau pikir apa yang kau lakukan huh?!" nenek meninggikan suaranya. Mark nyaris melotot saking kagetnya.
"Aigoo... nenek tidak pernah berpikir seperti ini. Ternyata cucu kesayangan nenek begitu nakal diluar."
"Nenek bertanya-tanya kenapa tadi malam kau tidak bisa datang di acara nenek? Sekarang nenek tahu jawabannya."
"Aku kecewa sekali."
"Semua anggota keluarga berkumpul, dan cucu kesayangan nenek malah bersenang-senang di ranjang?!"
"Bagaimana bisa?"
"Kenapa kau melakukan ini pada nenek huh?"
Dari tadi Mark mencoba menjawab dan menjelaskan semua, tapi neneknya terus saja menghakiminya tanpa ampun dan menyelanya.
Aku juga mencoba menjelaskan, namun neneknya tidak mau mendengar sama sekali.
Tiba-tiba saja neneknya mengalihkan pandangannya padaku dan menunjukku sekilas. "Jika kau menyukainya, bawa dia ke rumah, perkenalkan pada kami. Bukannya malah membawanya ke ranjang!"
Aku meneguk ludahku. "I-ini ti-tidak seperti yang nenek bayangkan. A-aku dan Mark~"
"Diam saja disana nona! Aku sedang berbicara dengan cucuku."
Mulutku langsung mengatup rapat. Wah, nenek Mark benar-benar tidak bisa ditentang. Tipikal nenek superior dan kolot.
"Dengarkan aku nek, ini tidak seperti yang nenek bayangkan."
"Lalu bagaimana?!" dagu nenek terangkat setelah Mark mengatakannya, aku hanya bisa diam ditempat menyaksikan situasi yang aneh dan menegangkan ini.
"Tadi malam kita kehujanan, dan aku membawanya kesini untuk bermalam karena rumahnya jauh dari sini. Jadi aku memakaikan kemejaku karena bajunya basah kuyup. Itu saja. Tidak lebih."
"Kau pikir nenek bisa begitu saja percaya dengan ceritamu itu huh?"
Aku bahkan hampir menjambak rambutku sendiri karena frustasi dengan situasi ini.
"Tapi itu memang kebenarannya, nek." Bahkan suara Mark pun menyiratkan kefrustasian sekarang. Kenapa semua bisa menjadi sangat rumit seperti ini? Memangnya aku melakukan kesalahan apalagi? Apakah ini hanya karena membolos kerja? Hingga aku mendapatkan karma seperti ini? Ya Tuhan, hidupku menyedihkan sekali!
"Ada apa ini?"
Aku panik karena tiba-tiba seorang pria masuk. Mark dengan sigap langsung menutupiku dengan tubuhnya yang jauh lebih tinggi dan lebih besar dariku, walaupun tidak sebesar Lucas namun cukup untuk menyembunyikan diriku. Kurapatkan kakiku dan kudekatkan tubuhku di balik punggungnnya agar tidak begitu terlihat.
"Kau membawa seorang wanita?" pria itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya juga, namun terdengar seperti terkejut bahagia.
Aku bisa mendengar Mark mendesis. Memangnya kenapa?
Pria itu tertawa. "Akhirnya kau membawa seorang wanita, Mark-ah!"
Kini neneknya yang mendesis. Aku mengintip dari balik punggung Mark dan menemukan nenek memukul pria itu karena kesal. Mata kami bertemu, dan pria itu tampak berpikir melihatku.
"Ah kau gadis di kereta itu bukan?"
"Eh?" aku bingung, kenapa dia tahu aku?
"Nenek, kukatakan padamu. Kau harus merestui mereka. Mark sudah menyukai gadis itu lama sekali. Tujuh atau mungkin delapan tahun lamanya setelah pertemuan mereka!"
"Hentikan itu."
Aku tersenyum mendengar penjelasan pria itu dan melihat Mark yang kesal. Ah dia benar-benar menyukaiku. Bagaimana ini? Perutku terus tergelitik aneh, rasanya banyak sekali kupu-kupu diperutku.
"Dia bahkan tidak pernah membawa wanita manapun keapartemennya, aku berani bersumpah nek! Dia menjaga ranjangnya untuk gadis kereta itu."
"Aku bilang hentikan."
Aku tidak bisa menahan tawaku. Aku ingat. Pria itu adalah kakaknya Mark. Aku lupa namanya, tapi sepertinya dia pria yang menyenangkan dan sekaligus kakak yang menyebalkan bagi Mark.
"Nenek lihat? Dia marah! Dia marah karena itu kebenarannya!"
"Hyung!"
Aku tidak bisa untuk tidak kembali tertawa di balik punggung Mark. Baru kali ini aku merasa kupu-kupu terbang di dalam perutku. Mulas dan tergelitik dalam satu waktu.
"Hei gadis kereta."
Itu bukan suara kakaknya Mark, tapi itu suara nenek!
Dengan sedikit takut, aku menyembulkan kepalaku dan menatap nenek Mark.
"Siapa namamu?"
Aku berkedip tak percaya. Dan nenek terus menatapku, menunggu jawabannku. Aku buru-buru keluar dari balik punggung Mark dan membungkuk hormat padanya. "Ah maafkan saya. Perkenalkan nama saya Lee Donghyuck."
Setelah aku selesai, Mark dengan sigap menutupi pahaku dengan jaketnya. Raut wajahnya kesal bukan main dan aku hanya bisa menggigit bibirku tidak enak sambil menundukkan wajahku.
Lagi-lagi kakak Mark tertawa menggoda. Pipiku merah padam. Aku benar-benar tak punya muka sama sekali sekarang.
"Baiklah Lee Donghyuck~ssi.."
Aku mendengarkan perkataan nenek dengan seksama. Nenek terlihat terdiam sebentar dan kemudian mengambil nafas pelan setelahnya.
"Katakan pada orang tuamu. Kami ingin menentukan tanggal pernikahan."
.
.
.
END
Beneran end ini xD gue udah nyerah kalo masih ada sequel lagi. Mohon pengertiannya ya, udah mentok. Sebenernya ini gue ragu sik mau ngepos. Gue agak gak sreg sama bagian akhir . tapi ide mentok segitu. Mohon maap ya...
Berhubung masih suasana lebaran (?) *ditabok
Gue minta maap ya kalo ada salah ^^
.
.
.
Thank you so much and best love buat ai selai strawberry, JIICHUUCHA, Hayns, Ahnyona, Suika Rii, Mamahmertuamark, Dindch22, Damalinia ovis, markeuchan.
Damalinia ovis, gue mikir yang pendapat kamu yang pertama, yang mereka ketemuan di kantor itu. Tapi gue pikir kayak mainstream gituk sik, akhirnya gak jadi. Eh yang pendapatmu yang kedua gue jadi mikir pengen buat gitu, tapi kan udah jadi xD lol. Tapi bagus sik imajinasimu, mending kamu buat cerita ajah ^^ biar tambah rame, hehe. Eh buat akun donk, biar bisa komunikasi lewat message :D
Dan makasih juga buat yang udah favs dan follow ^^
Sayang semua :*
