Tittle : Always, Luhan

Author : nebula

Length : Chaptered

Main Cast :

Luhan (GS)
Sehun

Summary :

Luhan seharusnya sadar, betapa pentingnya untuk selalu berkata cinta kepada orang yang dicintainya, seperti tidak akan ada lagi hari esok yang menjelang. Dan bahwa mungkin memang ada seseorang yang selalu menjadi sebagian jiwanya dan tentang seseorang yang selalu ia cintai-through times.

"Beri satu alasan kenapa kamu lebih memilih Sehun."
"Karena mungkin kami berjodoh."

This fanfic based on Andi Eriawan novel, but this story is belong to me.

Dilarang keras mengcopy, memperbanyak, atau menyalin sebagian kecil, setengah atau keseluruhan dari ff ini tanpa seijin penulis.

- Happy Reading -

Seoul, 2007

Diluar jendela kelas, jalanan basah oleh rintik gerimis yang turun tadi pagi. Kelopak-kelopak bunga yang tumbuh di dekat tiang bendera terlihat menguncup. Padahal sekarang adalah awal Maret, musim semi semestinya mulai berlangsung dan bunga-bunga bermekaran.

Entah mengapa Luhan jadi memikirkan cuaca. Mungkin gara-gara paying hitam yang sejak beberapa hari kemarin ia simpan di kolong meja. Pemiliknya meninggalkan paying itu begitu saja di tepi jalan dekat sekolah. Seorang laki-laki, wajahnya tidak jelas, sama-sama tingkat pertama SMA dan satu gedung sekolah. Juga tukang intip, pikirnya. Kalau tidak, kenapa lelaki itu berlari sewaktu Luhan hendak menyapanya? Atau sangat pemalu?

Chapter 1 : Namaku Lulu

Oh Sehun terbangun bukan oleh dering alarm, tapi ketukan ibunya di pintu kamar. Ia melirik jam dinding. Baru pukul lima pagi dan suara ibunya terdengar sepuluh kali lebih semangat daripada dirinya sendiri.

"Sehun, cepat bangun!" seru ibunya. "Ibu tidak ingin kau terlambat."

Dengan malas, ia bangkit dari tempat tidur, menyambar handuk dan keluar menuruni tangga. Di depan kamar mandi ia berpapasan dengan ayahnya. "Ayah ikut mengantar juga?" Tanya Sehun.

Ibunya yang sudah berada di dapur yang menyahut, "Tidak, Sehun. Ayah harus ke Jepang."

"Rencana perginya bukan minggu depan?"

Ayahnya menjawab, "Ada perubahan. Dan mungkin kali ini akan lebih lama."

"Baguslah," candanya, berusaha menghindari tatapan galak ayahnya yang dibuat-buat.

Pukul 05.45–Sehun yang kembali mengantuk sudah berada di dalam mobil tua milik ibunya, Sungmin. Empat puluh lima menit lagi adalah upacara penyambutan untuk murid baru tingkat SMA, dan Sungmin tidak ingin anaknya yang selalu santai-santai itu terlambat. Dalam dua hari ini Sehun akan menjalani masa orientasi di sekolah barunya dengan masih memakai seragam lamanya-celana pendek khas anak SMP. Sungmin sudah tidak sabar melihat anak semata wayangnya memakai seragam SMA. Tapi ia harus menunggu hingga hari ke tiga.

Pukul 06.25–kedua anak-ibu itu tiba di taman-sebuah tempat rekreasi keluarga, yang tidak berada jauh dari sekolah. Tinggal dua ratus meter menuju sekolah. Dari sini Sehun harus berjalan kaik ke sana, tapi ia tampak masih meringkuk dengan nyenyak di bangku belakang. Bangku itu penuh dengan tubuhnya. Sungmin tersenyum saat memandangi anak itu. Matanya berkaca-kaca.

Pernahkah Ibu katakana kalau Ibu sangat menyayangimu, Sehun? Kamu terlahir dari rahim Ibu dan kini telah tumbuh menjadi anak SMA. Kamu akan menjalani masa-masa tiga tahun paling menyenangkan dalam hidupmu, Sehun. Dan yang terpenting… kamu pasti akan jatuh cinta. Menemukan orang yang tepat untuk kamu cintai adalah kebahagiaan kedua yang harus kamu dapatkan dalam hidup ini.

"Sehun…, sudah sampai," kata ibunya sambil menggoyang-goyangkan bahu Sehun.

Butuh waktu satu menit untuk Sehun terbangun dari lelapnya. Ia rapikan rambut dan kemejanya yang kusut. Tak lama kemudian, ia telah sadar sepenuhnya dan siap berpamitan. Setelah mencium pipi ibunya dengan lembut, ia kemudian turun dari mobil ibunya.

Sehun berjalan dengan santai seperti sedang menikmati langkah demi langkahnya. Angin pagi yang dingin memeluk dirinya, tapi Sehun tak peduli. Saat ia tengah mencermati taman hiburan dan terkenang masa kecilnya dulu, ada yang menarik perhatiannya di seberang jalan. Sehun tidak akan pernah melupakan apa yang ia lihat pagi itu–seorang perempuan setengah berlari menuju arah yang sama dengannya.

Wajah perempuan itu luar biasa cantik, Ibu… rambutnya panjang hitam terawatt. Kulitnya putih. Sepintas kulihat matanya seperti mata rusa. Sungguh manis… Tinggi badannya hamper setinggi aku. Ibu tidak akan menemukan perempuan seperti ini di antara dua puluh anak perempuan tetangga kita.

Karena tidak ingin pandangannya terlepas dari wajah cantik itu, Sehun mempercepat langkahnya. Kini posisi mereka hamper sejajar, hanya dipisahkan oleh lebar jalan. Tapi ia tidak berniat menghampiri dan berkenalan dengannya karena jarak mereka dengan gedung sekolah terlalu dekat. Ia hanya berharap perempuan yang mengenakan seragam SMP itu adalah peserta masa orientasi di sekolah yang sama dengannya.

"Semoga belok kanan…, belok kanan…, belok knan…," doanya dalam hati sewaktu perempuan itu semakin mendekati persimpangan terakhir arah gedung sekolahnya. Tak lama kemudian, doa Sehun terkabulkan.

- Always, Luhan -

Gerimis turun dengan lembut dan membasahi jalanan pagi ini. Lampu-lampu di sepanjang jalan dekat sekolah masih menyala saat Sehun tiba di sana. Walau kemarin ia sempat melihatnya beberapa kali saat menjalani masa orientasi, tapi ia tak ingin mengawali hari tanpa memandang wajah cantik itu terlebih dahulu.

Kali ini Sehun telah memilih posisi yang menurutnya strategis. Ia berdiri di dekat ticket box taman hiburan sambil berlindung di balik payung hitamnya. Dengan begitu, ia berharap dapat melihat dari arah depan saat perempuan itu melintas.

Namanya Xi Luhan, begitu kata temanku yang sekelas dengannya. Nama yang begitu cantik. Mungkin ayahnya yang pengusaha keramik asal Beijing itu tahu kalau anak perempuannya akan tumbuh secantik ini.

Pagi itu detik-detik terasa pergi begitu lambat. Paling lambat dalam sejarah kehidupan Oh Sehun. Tapi ia akan tetap sabar menunggu.

Lampu-lampu jalan mulai meredup saat perempuan yang dinanti akhirnya muncul di tikungan jalan. Waktu Luhan melangkah memasuki jalan tersebut, Sehun dapat mendengar jantungnya berdegup tidak menentu. Telapak tangannya terasa licin oleh keringat. Hanya satu kata yang dapat menggambarkan isi hatinya saat ini–bahagia.

Sehun memuaskan diri mengagumi kecantikan wajah Luhan, seperti seorang anak kecil yang memandangi mainan baru di etalase took. Baginya, perempuan itu adalah perempuan paling cantik yang ada di muka bumi.

Sama dengan kemarin, jarak mereka hanya beberapa meter saja. Tapi, tiba-tiba ada sesuatu yang terjadi di luar perkiraan Sehun. Perempuan itu menoleh ke arahnya saat posisi mereka hamper sejajar. Cepat-cepat ia tutupi wajahnya dengan payung. Yang lebih membuatnya terkejut, perempuan itu menyeberang jalan– saja keberadaannya di jalan itu mengundang kecurigaan Luhan, piker Sehun.

Sehun tidak mau berkenalan dengan perempuan itu dalam kondisi seperti ini : bercelana pendek SMP dengan bulu kaki yang terlihat lebat, wajah bersembunyi di balik payung hitam dan tertangkap basah sedang memperhatikannya. Tetapi derap langkah kaki iu semakin terdengar kuat.

- Always, Luhan –

Keesokan harinya, Sehun mengenakan seragam barunya–seragam SMA. Ia sudah bertekad akan berkenalan dengan Luhan., berteman dengannya dan mengenalkan perempuan itu pada ibunya tercinta.

Tapi karena pagi itu tidak diantar ke sekolah, ia terlambat tiba. Setengah jam ia terlambat dan petugas piket tidak mengijinkannya masuk. Semangatnya yang menggebu kini tinggal seperempat. Dengan lemas, Sehun memilih membaca komik di kantin luar sekolahnya untuk menghabiskan waktu.

- Always, Luhan –

Bel istirahat berbunyi. Luhan berjalan keluar menuju gerbang sekolah. Dia berjalan menuju kantin yang ada di seberang sekolahnya. di sana penuh sesak dengan orang-orang, yang sebagian besar adalah senior Luhan. Kepalang tanggung, ia nekat masuk. Beberapa laki-laki melirik genit ke arahnya. Tapi Luhan sudah terbiasa karena hampir semua teman SMP-nya adalah laki-laki.

Setelah memesan bibimbap dan segelas teh, ia kebingungan mencari meja kosaong. Butuh beberapa detik baginya untuk melihat seorang laki-lakiyang sedang makan sambil membaca buku di pojok kantin. Salah satu tempat duduk di mejanya tidak terisi. Luhan pun menghampirinya.

"Sunbae, apa kursi ini kosong? Bolehkah aku duduk di sini?" sapa Luhan sekedar basa-basi. Belum sempat laki-laki itu menjawab, ia langsung duduk.

Laki-laki itu tampak tidak peduli melihat Luhan tiba-tiba menghampiri tempatnya. Tidak ada sapaan gombal atau lirikan genit. Dengan wajah tanpa ekspresi,ia hanya menatap Luhan beberapa saat. Kemudian pandangannya beredar, seperti sedang mencari seseorang. "Aku sih tidak keberatan," ujarnya. "Tapi… takut juga kalau pacar Kakak lihat kamu duduk di bangku favoritnya."

Mendengar itu, Luhan malah tertawa mengejek. "Penakut sekali, sih. Emangnya ini bangku punya dia." Begitulah Luhan. "Kakak kelas berapa?" lanjutnya sambil melahap potongan bibimbap.

"Kelas tiga. Kamu anak kelas satu, ya?" tebak laki-laki itu dengan mata kembali ke buku. Ia masih saja tidak bereaksi apa-apa setelah mendengar jawaban Luhan yang seenaknya.

Luhan mengangguk. "Kok tahu?"

"Seragam kamu bau famatex."

"Enak aja. Eh, kakak lagi baca apa?" Tanya Luhan nyerocos. Kebiasaan lamanya kambuh.

"Komik," jawab lelaki itu sambil menunjukkan bukunya.

Sekali lagi Luhan tertawa, "Bacaannya kok kayak gitu?" Tanya Luhan heran. Kini ia sudah lupa dengan makanannya. Luhan lebih tertarik untuk mencermati lelaki berambut lurus sedahi yang duduk di depannya itu. Baru kali ini melihat ada laki-laki baca komik serial cantik. Apalagi dia anak kelas tiga SMA.

Tak lama, bel sekolah tanda masuk terdengar bordering. Tapi keduanya tampak tidak hendak beranjak dari tempatnya.

"Kenapa makanannya tidak segera dihabiskan? Sudah waktunya masuk kelas, tuh!"

"Bolos saja, ah…," jawab Luhan enteng. "Kakak sendiri kenapa tidak masuk?"

"Sudah bolos sejak pagi. Tidak diijinkan masuk sama piket sialan itu, karena telat setengah jam."

Mereka pun kemudian mengobrol cukup lama. Sekali waktu Luhan sempat bertanya, "Pacar Kakak sekolah di sini juga?"

Lelaki itu hanya terseyum mendengar pertanyaannya. Tidak, lebih tepatnya seperti sedang menhan tawa. Kemudian lelaki itu memasukkan komik yang sejak tadi tersimpan di atas meja ke dalam tas ranselnya dan mencondongkan badannya mendekati Luhan. Sebuah bisikan panjang lebar keluar dari mulutnya. "Iya… dia masih kelas satu, sama denganmu. Orangnya cantik sekali, tapi galaknya minta ampun kalau lagi ngambek. Matanya bulat seperti mata rusa. Rambutnya hitam. Panjang digerai, jarang diikat. Kalau sedang tersenyum, matanya berbinar-binar. Kulitnya putih mulus. Badannya aduhai seksi, tapi itulah kelebihan dia."

Luhan terkejut. Bukan karena jawabannya yang panjang lebar, tapi karena lelaki yang duduk di depan mejanya itu sedang membicarakan dirinya. Setelah berpikir sejenak, ia ingin menguji lelaki itu sekali lagi, "Nama pacar Kakak siapa?"

"Luhan," jawab lelalki itu bersamaan dengan terdengarnya bel pulang sekolah.

Lelaki ini jelas-jelas sedang mempermainkanku. Tapi bagaimana dia tahu?

"Aku harus kembali ke kelas. Tasku masih ada di sana. Oh iya, kita belum berkenalan. Nama kakak siapa?" Tanya Luhan santun sambil bangkit dari kursinya.

"Panggil saja… Sehun Oppa," jawab lelaki itu dengan gaya seorang kakak kelas yang bijak. "Namamu?"

"Namaku Lulu," bohong Luhan. "Salam ya, untuk Luhan."

.

.

TBC

mind to review? dont be a silent reader, please! :)