proudly present :

An EXO Fanfiction

Ugly Love

Main Cast : Oh Sehun, Kim Jongin

Remake dari novel yang berjudul sama karya Colleen Hoover

Alih Bahasa : Shandy Tan

Credit : bacanovelonline

.

Happy Reading!

.

Oh Sehun.

Enam tahun sebelumnya…

Aku membuka pintu kantor tata usaha sambil membawa daftar presensi ke meja sekretaris. Sebelum aku berbalik dan kembali berjalan ke kelas, sekretaris menghentikanku dengan mengajukan pertanyaan. "Kau masuk kelas Inggris senior yang diajar Mr. Park, bukan, Sehun?"

"Yap," aku menyahut pertanyaan Mrs. Hwang. "Ingin kubawakan sesuatu untuknya?"

Telepon di meja Mrs. Hwang berdering, dan dia mengangguk sambil mengangkat gagang telepon. Dia menutup corong bicara dengan tangan. "Tunggu kira-kira satu dua menit lagi," katanya sambil mengangguk ke kantor kepala sekolah. "Kita mendapat murid perempuan baru, dia juga masuk kelas Mr. Park. Aku ingin kau mengantarnya ke kelas."

Aku mengangguk, lalu mengenyakkan tubuh di kursi dekat pintu. Aku mengedarkan pandang ke kantor tata usaha dan menyadari selama tiga tahun di SMA, ini pertama kalinya aku duduk di kursi kantor tata usaha. Berarti aku sukses melewati empat tahun tanpa diminta menghadap ke kantor.

Ibuku pasti bangga mengetahui hal itu, meskipun itu membuatku sedikit kecewa pada diri sendiri. Mendapat hukuman sesuatu yang seharusnya dialami setiap murid laki-laki di SMA, paling sedikit satu kali. Tetapi, aku masih memiliki sisa tahun seniorku untuk merasakan pengalaman itu, jadi masih ada harapan.

Aku mengeluarkan ponsel dari saku, dalam hati berharap Mrs. Hwang melihat dan memutuskan untuk menampar wajahku dengan surat berisi hukuman. Ketika aku mendongak padanya, Mrs. Hwang masih berbicara di telepon, tapi tatapan kami bertemu. Dia hanya tersenyum dan kembali melanjutkan tugasnya sebagai sekretaris.

Aku menggeleng-geleng kecewa lalu membuka ponsel untuk mengirim pesan pada Ian. Tak butuh banyak usaha untuk membuat gembira orang di tempat ini, karena tidak pernah terjadi hal baru.

.

Aku : Hari ini. Ada murid cewek baru mendaftar di kelas senior.

Chen : Hot tidak?

Aku : Belum ketemu. Sebentar lagi menemaninya ke kelas.

Chen : Ambil fotonya kalau hot.

Aku : Siap. BTW, tahun ini berapa kali kau kena setrap?

Ian : Dua kali. Kenapa? Kau berbuat apa?

.

Dua kali? Yeah, aku memang perlu memberontak sebelum lulus. Setidaknya, tahun ini aku harus terlambat mengumpulkan tugas sekolah.

Menyedihkan memang.

Pintu kantor kepala sekolah kemudian terbuka, kututup ponsel dan kuselipkan ke dalam saku. Kemudian aku mendongak.

Dan aku tidak pernah mau menurunkan tatapan lagi.

"Sehun akan mengantarmu ke kelas Mr. Park, Luhan." Mrs. Hwang menunjuk ke arahku, dan gadis bernama Luhan itu mulai berjalan menghampiriku.

Seketika aku menyadari keberadaan kakiku dan ketidakmampuannya untuk berdiri.

Bibirku lupa caranya berbicara.

Tanganku lupa caranya mengulur untuk memperkenalkan orang yang menjadi tempatnya menempel.

Jantungku lupa caranya menunggu dan berkenalan dengan seorang gadis, sebelum memulai mencakar-cakar dadaku, seperti yang dilakukannya sekarang, untuk keluar dan menemuinya.

Luhan.

Luhan.

Luhan, Luhan, Luhan.

Dia laksana puisi.

Bagaikan prosa, surat cinta, dan lirik lagu, yang mengalir menuruni tengah-tengah halaman.

Luhan, Luhan, Luhan.

Kuulang namanya berkali kali di kepalaku, karena aku yakin itulah nama gadis berikutnya yang membuatku jatuh cinta.

Aku berdiri tiba-tiba. Berjalan ke arahnya.

Aku mungkin tersenyum, pura-pura tidak terpesona oleh mata hijau yang kuharap suatu hari nanti tersenyum hanya untukku. Atau rambut semerah jantungku yang kelihatannya tak pernah diutak-atik sejak Tuhan menciptakannya secara khusus sambil memikirkan dia.

Aku bicara padanya.

Aku memberitahunya namaku Sehun.

Aku mengajaknya agar mengikutiku dan aku akan menunjukkan jalan ke kelas Mr. Park.

Aku menatapnya lekat-lekat karena dia belum berbicara, tapi anggukannya hal paling menyenangkan yang pernah dikatakan seorang gadis padaku.

Aku bertanya dari mana asalnya, dan dia menjawab Arizona.

"Phoenix," katanya lebih spesifik.

Aku tidak bertanya alasannya pindah ke California, tapi aku memberitahunya ayahku sering pergi berbisnis ke Phoenix karena memiliki beberapa gedung di kota itu.

Luhan tersenyum.

Aku memberitahunya aku belum pernah ke Phoenix, tapi suatu hari nanti aku ingin ke sana.

Luhan tersenyum lagi.

Sepertinya dia berkata Phoenix kota menyenangkan, tapi sulit bagiku memahami kata-katanya ketika yang kudengar di kepalaku hanya namanya.

Luhan.

Aku akan jatuh cinta padamu, Luhan.

Senyumannya membuatku ingin terus mengoceh, jadi aku mengajukan pertanyaan lagi ketika kami melewati kelas Mr. Park.

Kami terus berjalan.

Luhan terus berbicara, karena aku terus mengajukan pertanyaan.

Dia mengangguk sedikit.

Dia menjawab sedikit.

Dia menyanyi sedikit.

Setidaknya, dia terdengar seperti menyanyi.

Kami tiba di ujung lorong, persis ketika dia mengucapkan sesuatu yang sepertinya harapan bahwa dia akan menyukai sekolah ini karena dia belum siap pindah dari Phoenix.

Dia tidak terlihat gembira karena harus pindah.

Tapi dia tidak tahu betapa gembiranya hatiku karena dia pindah kemari.

"Di mana kelas Mr. Park?" tanyanya.

Kupandangi lekat-lekat bibir yang baru mengucapkan pertanyaan itu. Bibir Luhan tidak simetris. Bibir atasnya lebih tipis daripada bibir bawah, tapi orang takkan tahu jika dia tidak berbicara. Ketika kata demi kata terucap dari sana, aku bertanya-tanya mengapa kata-kata terdengar lebih merdu jika keluar dari bibirnya daripada dari bibir orang lain.

Lalu matanya. Tidak mungkin mata Luhan tidak melihat dunia dengan lebih cantik dan lebih damai daripada semua mata orang lain.

Aku menatapnya beberapa detik lagi; setelah itu menunjuk ke belakang dan memberitahu kelas Mr. Park sudah lewat.

Rona merah muda di pipi Luhan semakin merah, seolah pengakuanku memengaruhi perasaannya seperti dia memengaruhi perasaanku.

Aku tersenyum lagi.

Aku mengangguk ke arah kelas Mr. Park.

Kami pun berjalan ke arah itu.

Luhan.

Kau akan jatuh cinta padaku, Luhan.

Aku membukakan pintu untuknya dan memberitahu Mr. Park bahwa Luhan murid baru di sekolah ini. Aku juga ingin menambahkan, untuk semua murid laki-laki di kelas ini, Luhan bukan milik mereka.

Luhan milikku.

Tapi, aku tidak berkata apa-apa.

Tidak perlu, karena satu-satunya yang perlu menyadari bahwa aku menginginkan Luhan adalah Luhan.

Dia menatapku dan tersenyum lagi, duduk di satu-satunya kursi kosong, di seberang kelas.

Matanya memberitahuku bahwa dia tahu dirinya milikku.

Hanya masalah waktu.

Aku ingin mengirim SMS pada Chen dan memberitahunya murid baru itu tidak hot. Aku ingin mengatakan pada Chen bahwa murid baru itu sepanas gunung berapi, tapi Chen pasti menertawakan hal itu.

Sebaliknya, aku malah diam-diam mengambil foto Luhan dari tempat dudukku.

Aku mengirim foto itu pada Chen disertai pesan berbunyi, "Dia akan mengandung semua bayiku."

Mr. Park memulai pelajaran.

Oh Sehun kini terobsesi.

.

Aku bertemu Luhan pada hari Senin.

Sekarang Jumat.

Aku belum mengobrol dengannya sejak hari kami bertemu. Aku tidak tahu mengapa. Kami satu kelas dalam tiga mata pelajaran. Setiap kali aku melihatnya, Luhan tersenyum padaku seolah ingin aku bicara padanya. Setiap kali berhasil memompa keberanian, aku kemudian membujuk diri agar mengurungkan niat.

Padahal biasanya aku percaya diri.

Lalu Luhan muncul.

Aku memberi diriku kesempatan hingga hari ini. Jika hari ini tidak juga berhasil menghimpun keberanian, aku akan memasrahkan satu-satunya kesempatanku dengan Luhan. Gadis seperti Luhan takkan lama tanpa pasangan.

Itu kalau dia belum punya pasangan.

Aku tak tahu kisah hidupnya atau apakah dia terikat dengan pemuda lain di Phoenix, hanya ada satu cara untuk mencari tahu.

Aku berdiri di sebelah loker Luhan, menunggunya. Dia keluar dari kelas dan tersenyum padaku. Aku menyapa "hai" ketika Luhan berjalan ke lokernya. Aku lagi-lagi melihat perubahan samar pada warna kulitnya. Aku suka pemandangan itu. Aku bertanya bagaimana minggu pertamanya.

Luhan menjawab baik-baik saja. Aku bertanya apakah dia sudah memiliki teman, Luhan mengedikkan bahu sambil menjawab, "Beberapa."

Aku mengendus aroma tubuhnya, dengan gerakan tidak kentara.

Tapi dia menyadari hal itu.

Jadi, kukatakan padanya bahwa dia wangi.

Dia menjawab, "Terima kasih."

Aku menekan bunyi jantungku yang menggedor-gedor gendang telinga. Aku melupakan lapisan air yang terbentuk di telapak tanganku. Aku menenggelamkan nama Luhan, padahal aku ingin mengucapkannya kuat-kuat, berulang kali. Aku mengenyahkan semua itu dan terus menatapnya ketika bertanya apakah dia mau keluar denganku.

Aku menghalau semua itu dan memberi Luhan kesempatan merespons, karena hanya itu yang kuinginkan.

Aku hanya menginginkan anggukan. Jawaban yang tak membutuhkan kata-kata.

Atau sekadar senyuman?

Tapi dia tidak mengangguk.

Dia sudah punya rencana malam ini.

Semua hal tadi kembali padaku dengan kekuatan sepuluh kali lipat, tumpah ruah seperti darah sementara aku bendungannya.

Debaran jantungku, telapak tangan yang berkeringat, nama Luhan, kegelisahan baru yang tidak pernah kutahu ternyata ada, membenamkan diri di dadaku. Semua itu mengambil alih dan terasa seolah membangun tembok di sekeliling Luhan.

"Tapi besok aku tidak sibuk," katanya, merobohkan tembok itu dengan kata-katanya.

Aku menyisihkan tempat untuk kata-kata itu. Tempat yang luas.

Aku membiarkan kata-kata itu menyerbuku. Aku menyerap kata-kata itu seperti spons. Aku memetik kata-kata itu di udara dan menelannya.

"Besok juga boleh," kataku. Aku mengeluarkan ponsel dari saku, tidak berusaha menyembunyikan senyum.

"Berapa nomormu? Aku akan meneleponmu."

Luhan memberitahuku nomornya.

Dia senang.

Dia senang.

Aku menyimpan nama dan nomor Luhan di ponselku, dan tahu nomor itu akan tersimpan di sana untuk waktu yang lama.

Dan aku akan menghubungi nomor itu.

Benar-benar sering menghubunginya.

.

End for This Chapter