Libya, 07.42 P.M. 29 Oktober 1942
"O'Connor, Langley, dan Davis! Kalian sudah siap?"
"Kami siap memulai serangan, Kapten!"
"Pengalih perhatian sudah siap, konfirmasi pergerakan armada tank Jerman!"
"Tank terlihat sudah meninggalkan pangkalan! Kami memulai serangan! Keluar!"
"Semoga beruntung, nak!", pesanku kepada 3 prajurit pemberani itu
Mereka bertugas menginfiltrasi pangkalan Jerman yang dijaga puluhan sarang senapan mesin. Untuk membantu mereka, Divisi kami sudah menyiapkan satu kompi sebagai pengalih perhatian, kompi ini akan menyerang dari arah depan setelah tank meninggalkan pangkalan untuk rencana ofensif mereka malam ini. Kami harus menyelesaikan misi kami dalam tempo 4 jam. Seluruh misi kami tergantung pada mereka bertiga.
"Mulailah menembak!", aku berteriak kepada kompi terbaik dari divisi lapis baja ketujuh Inggris ini
Satu demi satu senapan meletus, disambut dengan rentetan tembakan dari puluhan MG42 yang tersedia di sepanjang garis pertahanan mereka. Senapan mesin dengan daya tembakan terbaik selama ini menyapu semua prajurit Inggris yang terlihat, aku tidak bisa diam begitu saja.
"MacGregor, ambil Bren itu, berikan tembakan bantuan dari bukit batu itu!"
"Baik, Pak tua!"
Aku mulai mengambil Lee-Enfield milikku dan mulai menembaki satu per satu awak senapan mesin Jerman yang kulihat. Satu per satu sarang senapan mesin mulai berhenti menembak karena awaknya yang tewas tertembak. Aku melihat mereka bertiga masih dalam kontak tembak dengan puluhan prajurit Jerman yang menghadang. Dengan senjata Thompson dan pelatihan setara prajurit SAS, kupikir prajurit Afrikakorps bukan tandingan mereka. Tandingan mereka adalah SS Jerman.
"Sayap kanan! Maju! Lompati kawat berduri itu dan panjat tembok itu! Bantu tiga orang kawanmu!"
"Siap, pak! Ayo semuanya! Bergerak!"
"Peleton kedua! Terus tekan pasukan Jerman! Lindungi gerakan peleton ketiga!", teriakku
"Berikan para Jerman sialan itu neraka, anak-anak!"
"Peleton pertama! Keluar dari parit itu! Ikut aku ke pintu masuk utama pangkalan mereka! Mari kita sambut tiga pahlawan kita!"
.
.
.
.
.
Kami mendengar banyak ledakan dari bunker terakhir yang harus mereka amankan. Apakah mereka akan selamat? Tapi kurasa aku melihat keajaiban dalam pertempuran ini, mereka bertiga keluar dari kepulan asap yang memenuhi seluruh lorong beton itu. Aku menembaki perwira Jerman yang menunggu mereka dengan MP40 di ujung lorong.
"Mati kau, cucu Hitler!", kataku
Mereka keluar dengan selamat, tapi sepertinya O'Connor terluka sedikit.
"Selamat di Afrika, orang Inggris! Ada yang bisa kubantu?", kataku
"Kau tahu dimana Hitler tinggal, Pak Tua?", kata Davis
"Kau salah tempat, kita menuju tempat tinggal si rubah gurun, nak!"
"Begitu? Tetap saja orang Jerman menyebalkan. Ayo kita habisi mereka!"
"Davis! Ambil dinamit ini! Ledakkan gudang amunisi mereka!"
"Akan kulakukan!", kata Davis
"Kalian berdua! Lindungi Davis! Aku akan menghancurkan persediaan bahan bakar mereka!"
Davis benar-benar seorang pemberani, ia melompat ke setiap bunker tempat perbekalan musuh disimpan. Bahkan ditengah-tengah baku tembak seperti ini. Dua orang itu, Paul O'Connor dan John Langley, mereka juga hebat, mereka adalah contoh dari patriot terbaik yang dimiliki negara ini. Kupikir mereka pantas mendapatkan Victoria Cross.
"O'Connor! Awas di kananmu!", tiba-tiba ada seorang prajurit Jerman menyerang O'Connor dengan bayonet, ia menusuk perut O'Connor hingga tewas.
Aku membalasnya dengan pukulan keras di wajahnya dengan popor senapan Lee-Enfieldku dan menarik Webley dari sabukku dan menembakinya. Aku mengambil Thompson milik O'Connor dan melindunginya dari prajurit Jerman yang mendekat.
"Langley, bawa dia ke Bren Carrier! Aku akan melindungimu! Mana Davis?", tanyaku
"Semua bunker sudah hancur, Kapten!", Davis tiba-tiba muncul dari belakang
"Kita akan membersihkan area ini! Setelah itu kita akan mengambil alih markas mereka dibalik pintu baja di bukit itu! Markas mereka menyimpan peta yang menunjukkan rencana serangan mereka selanjutnya! Kau bersama peleton pertama, lawan musuh di area kiri! Sersan Norman! Pergilah bersama peleton kedua!"
"Lalu dengan siapa aku pergi, kapten?", tanya MacGregor
"Kau ini kan anggota peleton pertama, bodoh!"
"Oh, maaf. Aku lupa", ia lalu pergi meninggalkanku
Setelah beberapa menit kontak tembak, akhirnya kami dapat mematahkan perlawanan dari pasukan Jerman yang bertahan. Kami menahan tiga orang prajurit Jerman yang menyerah.
"Semuanya berkumpul! Laporkan korban!"
"Peleton satu, tiga orang tewas, dan lima terluka, termasuk Letnan O'Connor"
"Peleton dua, tujuh orang tewas, tiga orang terluka"
"Tidak ada yang tewas dari peleton tiga, sepuluh orang luka parah"
"Aku terluka, ah, sial!", teriak MacGregor
"Apa lukamu, anak ingusan?"
"Aku ditinju oleh prajurit Jerman yang kau tahan barusan! Dasar bengal!", kata MacGregor
"Bocah konyol, ayo kita lanjutkan serangan ke bukit itu!"
"Kita tidak punya waktu untuk sebuah peta bodoh, Kapten!", teriak MacGregor
"Tutup mulutmu, prajurit! Peta itu bisa sangat berguna bagi pergerakan kita selanjutnya!"
.
.
.
Kami bergerak menuju bukit itu. Sepertinya tidak ada lagi pertahanan yang tersisa. Sisa pasukan Jerman itu berlindung di dalam bunker di dalam markas mereka.
"Davis! Ledakkan pintu baja itu!", teriakku
"Segera, kapten!"
"Semuanya cari tempat perlindungan! Skuad pertama peleton satu! Lempar granat ke dalam lorong segera setelah pintu itu terbuka!"
Davis memasang dinamit pada pintu itu. Kami yakin orang-orang Jerman dibalik pintu itu sudah gemetaran. Pintu itu sudah hancur, granat-granat pun dilempar masuk kedalam pintu itu. Granat-granat itu sudah meledak, dan kami mendengar suara beberapa orang terkena ledakan itu. Saatnya masuk...
"Davis dan MacGregor! Ikut aku! Peleton pertama awasi keadaan sekitar! Peleton kedua dan ketiga, kembalilah lebih dulu ke titik pertahanan! Kami akan segera menyusul!"
Kami mulai memasuki lorong markas mereka. Disini gelap, hanya ada beberapa lampu minyak yang ditaruh di atas tong minyak. Kami harus berhati-hati agar tidak terjebak.
"Dua cabang! Merapat! Musuh di dua sisi! Aku habisi yang kiri! Jatah kalian yang kanan!"
"Tembaklah orang itu, MacGregor! Jangan bilang kau tidak pernah menyelesaikan latihan menembak!", kata Davis
"Bersabarlah, Sersan! Aku bukan Lucky Luke!", kata MacGregor
Kontak tembak pertama kami di dalam lorong, tidak berlangsung lama. Hanya ada satu orang di lorong kiri, dan lorong itu buntu. Langkah selanjutnya adalah menghabisi tentara Jerman yang melindungi lorong kanan.
"Berikan aku tembakan perlindungan!", teriakku
"Baik!"
"Musuh sudah dihabisi, ayo bergerak!"
Ada bunker besar di dalam lorong ini, aku percaya inilah markas mereka. Kami memasuki lorong menurun, dan seperti bunker Jerman pada biasanya, lorong-lorong bunker mereka selalu dilindungi MG42...
"Tunggu disini, aku akan mencoba menembak operator senapan mesin itu", kataku
"Jangan mati disini, kapten. Kami akan merindukan kumismu", kata MacGregor
"Jangan berisik"
Aku belum terlihat, tapi ia terlihat sudah siap untuk kedatangan kami. Ia sudah mendengar cukup banyak tembakan tadi. Aku tidak boleh terlihat, atau kami akan mengalami kesulitan disini, sisa waktu 3 jam tidak akan cukup untuk menghentikan senapan mesin itu. Satu kesempatan, dan itu saja, tidak boleh gagal kali ini...
BANG!
Operator senapan mesin itu tertembak di kepala, ia sudah rubuh. Saatnya bergerak...
"Ayo maju! Cepat bergerak! Akan ada orang lagi yang menggantikan posisinya!"
"Maju menyerang, demi Pak tuaaa~", entah kenapa MacGregor sangat senang menghinaku
"Diamlah, bocah botak!"
Di dalam bunker itu masih ada beberapa perwira Jerman, mereka masih melawan, jadi kami tembak saja...
"Itu petanya! Ayo ambil dan lekas keluar dari sini!"
Kami mengambil peta itu. Masih ada prajurit Jerman yang hidup, tapi sudah terluka dan tidak mampu lagi untuk bertarung. Kami juga manusia, dan kami prajurit Inggris masih mematuhi isi Konvensi Jenewa. Biarlah dia hidup...
Tiba-tiba salah seorang anak buahku berteriak kepadaku...
"Kapten! Tank-tank Jerman yang keluar dari pangkalan tadi menyerang titik pertahanan kita!"
"Semuanya naik ke Bren Carrier! Misi kita sudah selesai disini!"
.
.
.
.
30 menit perjalanan menuju titik pertahanan dimana kami berangkat. Saat kami mulai mendekati lokasi pertahanan kami, kami sudah mendengar banyak ledakan, lalu kami tiba di tengah-tengah pertempuran sengit. Serbuan pasukan Jerman dilakukan dari semua arah. Mereka berencana mengepung kami dengan bantuan tank.
Kami bersyukur belum sempat meledakkan beberapa Flak 88 milik tentara Jerman yang ditinggalkan seminggu yang lalu, kami menggunakannya untuk melawan tank Jerman sekarang. Bren Carrier kami berhenti di tengah lapangan dimana kontak tembak berlangsung. Saat aku baru saja turun, tiba-tiba Bren Carrier kami meledak. Hancur lebur setelah menjadi sasaran tembak tank Jerman. Aku terjatuh, dan seseorang menarikku ke dalam parit perlindungan.
"Jones! Tarik Kapten Price! MacGregor! Panggil Pos Artileri dan minta bantuan Crusader dari Brigade Lapis Baja! Kita tidak akan bertahan hingga pagi dalam keadaan seperti ini!"
Aku mendengar teriakan itu, aku dalam keadaan setengah sadar dan masih pusing setelah terdorong oleh ledakan Bren Carrier tadi. Aku rasa aku hanya orang tua yang sudah lemah, tidak mampu lagi meladeni pertempuran besar seperti dulu dan bermain peran penting dalam sebuah pertempuran...
Bagaimana saudara-saudara sebangsa seperjuangan?
Kalau enak beritahu kawan, kalau gak enak beritahu kami #eh #piringbelingmelayang
Jangan lupa review! ^o^
