Uchiha Pharmaceutical Laboratories. Sebuah perusahaan farmasi terbesar di Jepang siapa yang tidak mengetahuinya? Perusahaan dengan bangunan tinggi nan megah yang paling mencolok di tengah kota selain Hokage Hills- sebuah monumen ukiran wajah para pediri kota Konoha di batuan pegunungan Konoha.

Sasuke memantapkan hati melangkah memasuki kantornya. Para pegawai yang bertugas di hari itu nampak memandang sang CEO dengan wajah memerah. Entah karena terpesona atau menahan tawa, yang jelas sekarang Sasuke mengenakan pakaian formalnya seperti biasa hanya saja di dadanya sekarang 'bersemayam' sang anak yang terus memeluk lehernya bagaikan koala. Hadirnya sang Uchiha mini di kantor tak ayal membuat pegawai wanita disana sukses menjerit tertahan melihat keimutannya.

"Ohayou gozaimasu, Uchiha-sama." Sasuke mengangguk membalas pegawainya yang berbaris menyambutnya.

"Bagaimana agendanya? Kakak iparku sudah datang?" tanyanya kepada Suigetsu yang baru saja muncul dari dalam kantor.

"Semuanya sudah disiapkan. Asisten Kyuubi-san bilang, dalam tiga puluh menit mereka akan sampai disini."

"Baiklah kalau begitu."

"Dada dada..." Menma melambaikan tangannya kearah Suigetsu yang masih terdiam di area lobby.

"K-kawaii sugiru." gumamnya dengan pipi memerah.

HOT DADDY

NARUTO by Masashi Kishimoto-sensei

Story by Kuroi Sora18

Rated : T

Genre : Family / Humor

Main Cast :

Uchiha Sasuke

Uzumaki Naruto

Menma

Summary :

Sequel kehidupan Uchiha Family setelah insiden 'CHEILITIS'. Sasuke terpaksa ditinggal Naruto untuk mengurus Menma sendirian. "Bagaimana jika Menma merindukanmu?"/"Huwee...Huwee..."/"Aarghh, lidahku melepuh!"

WARNING!!!

Twoshoot

Fic ini mengandung konten Yaoi/BL/Shounen-ai, typo berserakan, cerita gaje, absurd, maybe OOC dll. Bagi yang alergi dengan konten fic ini, silahkan dengan damai author persilahkan untuk klik menu BACK di layar masing-masing. No flame! Tidak suka jangan baca!

HOT DADDY

Bagian 2

.

Sasuke mati-matian menahan rasa kesalnya hari ini. Hari ini adalah hari libur sangat paling tidak damai sekali baginya.

"Uwuwuwuwu...apa kabarmu, Manma-chan?"

Setelah satu jam Sasuke menunggu, akhirnya Kyuubi Namikaze- kakak iparnya yang sangat kejam menampakan eksistensinya. Berjalan riang menuju Menma yang duduk di kursi bayinya dan menggendongnya dengan senyum sumringah.

"Dadada uu uu~"

"Uwaah, kawaii ne~ Manma!"

TWITCH!

"Namanya Menma! Uchiha Menma! Jangan seenaknya saja mengubah nama anak orang!"

"Iya, iya! Hari ini kau sewot sekali sih? Sou darou, Manma?"

"Um um um." Menma mengangguk mengiyakan. Hari ini memang ayahnya jadi lebih moody dari yang biasanya. Mungkin karena dia stress akibat hari liburnya terus-terusan diganggu.

Menyerah dengan kengeyelan kakak iparnya membuat Sasuke hanya mengerang frustasi. Bagaimana bisa dia menunggu Kyuubi selama hampir satu jam dan orang yang dia tunggu malah sejak tadi malah sibuk dengan Menma alih-alih membahas agenda mereka hari ini. Dalam hidupnya setelah menunggu kepekaan Naruto dengan perasaannya, menunggu Kyuubi adalah hal yang membuatnya sangat kesal setengah mati. Bagaimana bisa makhluk dengan surai merah itu bersantai-santai sementara Sasuke berencana mengakhiri meeting kali ini dengan sekejap -kalau bisa.

"Jadi bagaimana dengan meeting-nya?"

Manik ruby Kyuubi memandang risih Sasuke yang duduk di depannya.

"Apa sih, kau mengganggu reuniku dengan keponakan tercintaku tahu! Ngomong-ngomong soal Manma-"

"Menma."

"-kenapa kau membawanya ke kantor? Naru kemana?"

"Ke Uzushio. Tou-san sedang sakit dan dia sedang menjenguknya kesana. Kenapa kau tanya kepadaku sih? Harusnya kau sudah tahu kalau Tou-san sedang sakit!" jawab Sasuke dengan nada judes.

"Eeh?! Mana kutahu kalau keluargaku saja tidak ada menghubungiku?"

"Makanya jangan sibuk dengan aniki saja!"

"Kenapa Keriput juga ikut di bawa-bawa?!"

"Atau mungkin mereka dengan diam-diam mencoreng namamu dari kartu keluarga. Yah, siapa yang mau mempunyai anak yang slebor nan galak sepertimu."

"N-nani?!"

"Sudahlah lupakan saja! Aku mengorbankan hari liburku bukan untuk berdebat denganmu. Jadi bisa kita mulai saja meeting hari ini?"

"Ternyata kau takut dengan ancamanku ya? Nyatanya kau tetap datang dan menungguku selama tiga puluh menit-"

"Satu jam! Aku menunggumu satu jam!" koreksi Sasuke dengan wajah angker. Dan Kyuubi hanya menghendikan bahunya sambil menunjukan seringai mengejeknya. "Aku hanya tidak ingin proyek ini gagal karena kecerobohanmu."

"Ya ya ya...tadi itu aku mampir untuk sarapan dulu, makanya jadi telat. Lagi pula tidak mungkin mengalihkan proyek itu ke perusahaan lain karena Tou-san yang menjadi pimpinannya. Kau lupa jika aku masih menjadi wakilnya saja?! Jadi santai saja~"

"Terserah!" ujar Sasuke sembari merotasi kedua bola matanya. "Yang jelas aku ingin meeting ini cepat selesai dan aku bisa menikmati hari liburku dengan damai."

"Heeeh~" Kyuubi menyeringai sambil menatap Sasuke dengan tatapan aneh.

.

.

.

.

.

"Kuso!"

Sepanjang jalan pulang, kira-kira kata itulah yang paling sering Sasuke keluarkan. Meeting yang akan dia agendakan selesai pukul 12 siang nyatanya sampai harus memakan waktu hampir 3 jam hanya karena Kyuubi mempermasalahkan Suigetsu yang lupa tidak menyiapkan salinan dokumennya dan selebihnya dia harus menahan mati-matian untuk tidak melempar vas bunga di tengah meja kepada kakak iparnya yang terus-terusan mengulur waktu dengan bermain bersama Menma. Mimpi buruk apa hingga Sasuke harus dianugerahi kakak ipar semenyebalkan itu? Sasuke jadi curiga jangan-jangan pria berambut jagung yang tadi meeting bersamanya itu hanya orang gila yang mengaku-ngaku menjadi si sulung Namikaze. Entahlah. Sasuke benci memikirkannya.

"Hah~" Sasuke menghela napas berat. Hari ini terlalu melelahkan untuknya. Dia memandang kearah Menma yang tertidur jok belakang dan jam tangannya secara bergantian. Jam 3 sore. Sasuke harus sedikit bersabar lagi.

"Ah aku lapar. Sepertinya aku harus mampir ke super market untuk membeli sesuatu."

Dan Sasuke pun memutuskan untuk pergi ke super market sebelum dirinya pulang kerumah. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk bisa sampai ke super market dengan menaiki mobil.

Sepanjang masa belanjanya, Sasuke harus menahan rasa malunya ketika berpuluh pasang mata nampak memandanganya aneh. Apa lagi banyaknya ibu-ibu yang terkikik geli saat melihatnya kebingungan di depan rak tempat menjual segala macam merek popok. Dia memutuskan untuk mampir membeli popok setelah dia ingat insiden tadi pagi. Apalagi jika sampai Naruto tahu dia lupa membelikan Menma stok popok. Dia yakin istri lelakinya itu akan berbaik hati menendangnya keluar kamar dan dia akan berakhir tidur di sofa dengan hati nestapa.

"Are, Sasuke?"

Sasuke menoleh dengan wajah sebal saat konsentrasinya mendadak buyar saat suara seseorang mengintrupsinya yang jelas-jelas sedang khusyuk memilih-milih popok.

"Shikamaru?" - dan anaknya Shikadai yang kini tengah memeluk leher ayahnya bagaikan koala besar.

Jadilah sekarang dua bapak-bapak muda sedang duduk syantik sambil menikmati kopi di sebuah kafe tak jauh dari tempat belanja mereka. Nampak dua bocah saling bercengkrama di sisi meja yang lain sementara para bapak muda kita sedang mengutarakan keluh kesahnya.

"Aku tidak menyangka bertemu denganmu disini." ujar Shikamaru memulai pembicaraan. "Ohisashiburi." sapanya begitu sang Uchiha selesai dengan seruputan pertama kopi yang dipesannya.

"Hn. Ohisashiburi." jawabnya pendek. "Sejak kapan kau datang ke Konoha?"

"Dua hari yang lalu. Orang tuaku ribut menyuruhku cepat pulang karena mereka rindu dengan cucu mereka. Mendokusai." jawab Shikamaru diakhiri dengan trademark-nya.

"Kau pulang sendiri?" tanya Sasuke dengan sebelah alis terangkat. Pasalnya dia tidak melihat sosok 'pecinta anjing sahabat karib Naruto semasa SMU' bersama dengan Shikamaru.

Shikamaru menghela napasnya dengan berat. Manik kelamnya menatap sosok Shikadai yang baru saja genap berusia dua tahun- anak dari hasil pernikahan terdahulunya bersama Temari yang kini telah meninggal dunia.

"Kiba sedang repot mengurusi bisnis pet shop-nya yang baru saja buka cabang di Suna. Jadi dia tidak ikut. Kau sendiri?"

"Naruto sedang pulang ke Uzushio. Ayahnya masuk rumah sakit dan meninggalkanku bersama Menma."

Shikamaru nyaris saja tertawa ketika dia melihat wajah kecewa sahabat masa kecilnya.

"Kenapa kau tidak ikut bersamanya?"

Sasuke mendengus. Dia bersidekap dan menyenderkan punggung tegapnya di sandaran kursi dengan wajah kesal.

"Naruto melarangku ikut ke rumah sakit karena dia khawatir jika Menma akan terserang penyakit. Guh! Diriku bahkan yakin jika anak itu lebih sehat dari siapa pun."

"Yah, mau bagaimana lagi. Lagi pula kau kan memang sedang libur. Jadi Naruto pasti sangat mengandalkanmu."

Sasuke mendengus keras. Cih, Shikamaru tidak tahu saja Sasuke bahkan tidak bisa membedakan mana popok bagian depan dan belakang. Dia memang Si Payah Nomor Wahid dalam mengurus bayi.

"Kurasa aku harus cepat pulang. Aku harus memandikan Menma sebelum jam enam sore."

Shikamaru menyangga dagunya sembari tersenyum mengejek.

"Nampaknya kau jadi sosok ayah yang baik kali ini."

Entah itu pujian atau ejekan, Sasuke tak begitu memikirkannya.

"Cih, seperti kau tidak saja."

Dan Sasuke pun berlalu meninggalkan sosok Shikamaru berdua bersama Shikadai.

"Ahh... sepertinya aku juga harus memandikamu." ujar Shikamaru saat melihat anaknya yang wajahnya belepotan remah biskuit.

.

.

.

.

.

Sementara itu di Uzushio, Naruto nampak sedang duduk di samping ranjang Minato sembari mengupaskan apel untuknya.

"Apa tidak masalah meninggalkan Sasuke mengurus Menma sendiri?" tanya Minato dengan wajah khawatir. Mengingat betapa tidak kompeten menantunya yang satu itu dalam mengurus bayi yang bahkan belum genap satu tahun, mau tidak mau dia jadi merasa khawatir juga.

"Daijoubu!Daijoubu!" ujar Naruto sembari melambaikan tangannya di depan dada. "Dia memang payah, tapi kurasa dia bisa menjaga Menma dengan baik. Paling tidak dia bisa menggantikan popok Menma."

Asal Naruto tahu, Sasuke bahkan tidak bisa membedakan mana popok bagian depan dan mana popok bagian belakang.

"Sayang sekali ya mereka tidak ikut. Padahal aku kangen sekali dengan Menma."

Naruto menoleh dan mendapati ibunya membawa teh untuknya.

"Mou, aku tidak mau ambil resiko Kaa-san! Anak kecil itu tidak boleh diajak ke rumah sakit."

"Uhh, paling tidak kan kau bisa menyuruh mereka menunggu di kediaman utama saja. Kita tinggalkan saja kakek tua ini disini dan aku bisa bermain bersamanya."

Minato yang mendengarnya hanya bisa meringis prihatin.

"Hidoi na..."

"Lain kali pasti aku ajak. Sekarang yang terpenting Tou-san harus segera pulih. Lagi pula kenapa Tou-san bisa sakit seperti ini sih?"

"Aku hanya sedikit kelelahan saja."

"Tou-san jangan memaksakan diri bekerja terlalu keras begitu. Akukan jadi khawatir! Serahkan saja pekerjaan kantor kepada Kyuu-niisan."

Minato hanya bisa menggaruk pipinya canggung.

"Maaf telah membuatmu datang jauh-jauh dari Konoha."

"Dengar apa kata anakmu! Kau seharusnya pensiun saja anata!"

"Aku ini kan belum setua yang kalian kira."

Naruto menghela nafas. Ngomong-ngomong soal Sasuke dan Menma, kira-kira mereka sedang apa ya?

Uchiha Manshion

Sasuke memijit pangkal hidungnya dengan keras. Pusing tiba-tiba menderanya kala di hadapkan dengan anaknya yang kini merangkak kesana kemari- tak mau dimandikan.

"Menma, ayo mandi!"

Untuk kesekian kalinya Sasuke memanggil Menma untuk mengajaknya mandi. Dia cukup dibuat jengkel ketika Sasuke sibuk menyiapkan air hangat untuk Menma, dia mendapati Menma tengah bermain tanah bersama anjing milik tetangganya yang kerap datang ke manshion mereka.

"Dada da da da!" (Aku mau mandi bersama Mommy!)

Dahi Sasuke nampak mengkerut. Dia tidak mengerti dengan apa yang Menma omelkan.

"Berhenti merajuk! Kalau kau tidak mau mandi, aku yang akan jadi korbannya!"

Sasuke berdiri angkuh menatap putranya yang duduk di bawahnya. Mengeluarkan aura intimidasinya yang paling kuat agar sang anak takluk olehnya.

Menma membuang mukanya. Seolah aura intimidasi sang ayah sama sekali tidak mempan kepadanya.

"Dada da da! Bwuuu!" (Tidak mau!)

Menma menggembungkan pipinya. Dia mulai merangkak menjauhi Sasuke. Sasuke yang mulai tidak sabaran itu pun bergerak maju mengejar sang anak yang merangkak menjauhinya dengan semangat. Namun sayang seribu sayang tanpa di duga, dari pada tangannya menggapai Menma terlebih dahulu, ternyata wajah rupawannya lah yang terburu-buru bercumbu dengan lantai kayu di rumahnya di ikuti bunyi 'PRANGG' yang memekakan telinga. Sasuke mengeram kesakitan. Dia bangkit dan mendelik kejam kearah bola mainan milik Menma -yang dituding sebagai pelaku bercumbunya wajah aristokat Sasuke dengan lantai kayu. Wajahnya seketika berubah horror saat mengetahui bahwa vas bunga keramik cantik kesayangan istrinya pecah berhamburan di lantai.

"Menma..."

Aura ungu kehitaman pekat nampak keluar dari tubuh Sasuke. Bisa dipastikan dia sedang dalam mode setan yang akhirnya sukses membuat Menma menciut di sudut ruangan. Inikah kekuatan sebenarnya setan yang berhasil menaklukan Kitsune no Akuma alias Mommy-nya?

.

.

.

Sasuke merebahkan diri di kasur dengan terburu-buru. Badannya pegal luar biasa jika ditanya. Dia tidak bisa membayangkan jika dia harus mengalami hal seperti ini setiap hari. Istrinya memang luar binasa! Dirinya memang hebat dalam menentukan pendamping hidup. Sasuke mesem-mesem tidak jelas. Dia nampaknya sedang membanggakan hal yang sebenarnya tidak perlu dibanggakan.

Manik onyx miliknya menatap kearah Menma yang sedang tertidur pulas di sampingnya. Tangannya menepuk-nepuk pantat Menma yang dengan lembut. Tidak peduli dengan popok Menma yang lagi-lagi tertukar antara bagian depan dan bagian belakang.

"Cepatlah besar, menikah dan punyalah kehidupan sendiri agar aku bisa menghabiskan sisa hidupku bersama Mommy."

Sasuke tersenyum penuh maksud. Bahkan dia sampai membayangkan menghabiskan sisa hidupnya dengan berkeliling dunia bersama istri tercinta tanpa gangguan Menma tentunya. Fufufufu~ itu hal paling membahagiakan yang pernah dipikirkan olehnya.

Diliriknya jam beker di meja nakas yang sudah menunjukan pukul 6 sore. Itu artinya Naruto akan segera sampai. Seharian tak bertemu istrinya entah kenapa dia jadi rindu sekali. Setelah Naruto sampai nanti, dia akan menyambutnya dengan penuh suka cita dan mungkin saja mereka akan berakhir melakukan hal yanh menyenangkan setelah itu. Duh, rasanya tidak sabar!

Drrrrttt...Ddrrrttt...

Suara getar ponselnya mau tak mau membuyarkan lamunan bahagia Sasuke yang sudah sampai ke awang-awang. Dia melihat layar ponselnya dan mendapati nama 'My Honey-dobe' menghubunginya. Panjang umur, baru juga dipikirkan istrinya malah menelfon.

'Moshi-moshi, Sasuke?' suara Naruto terdengar dari sambungan telfonnya. Ahh rindunya~

"Hn." jawabnya singkat. "Sudah sampai mana?" tanyanya begitu sang istri tak juga berbicara. Sayup-sayup Sasuke bisa mendengar suara ibu mertuanya mengerang kesakitan.

'Sepertinya aku tidak bisa pulang hari ini.'

"Eh?"

'Iya. Aku harus merawat kedua orang tuaku. Tadi siang Kaa-san tiba-tiba pingsan karena dia kelelahan menjaga Tou-san.'

"Yang benar saj- mmaksudku, dimana kakakmu? Dia harusnya menggantikanmu menjaga mereka kan?" nada bicara Sasuke mulai agak meninggi.

'Oi, kau lupa jika dia harus mengurusi perusahaan? Jadi aku yang harus menjaga kedua orang tuaku.'

"Ya tapi bagaimana dengan Menma?"

'Kurasa dia akan baik-baik saja bersamamu.'

Tidak baik! Tidak baik! Ini mimpi buruk namanya.

"Aku juga harus ke kantor besok."

'Aku sudah menelfon Ino-chan jika dia bisa meng-handle Menma selagi kau berada di kantor. Jadi jangan mencoba-coba cari alasan!'

Sasuke mulai pusing.

"Y-ya tapi..."

'Ooh~ kau tidak mau?!'

GLUK!

Sasuke menelan ludah kering. Jika dia melawan kehendak istrinya, bisa dipastikan dia akan berakhir tidur di sofa selama-lamanya.

"Baiklah. Lalu kapan kau akan kembali?"

'Lusa kurasa.'

"APAAAAAA?!!"

"HUWEEEEEEE!!!"

'BAKA TEME, APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA ANAKKU?!'

Suara Naruto mengaum bagai singa kelaparan kala mendengar suara Menma menangis melalui sambungan teleponnya.

"Aku tidak melakukan apa pun! Cup cup cup Menma sayang~ nang ning nung ni nang ning nung~"

"HUWEEEEE!!!"

'TUNGGU SAJA SAMPAI AKU KEMBALI TEME! AKAN KU GUNDULI RAMBUT PANTAT AYAMMU, BODOH!'

.

.

.

.

.

.

O.W.A.R.I

Author's Note:

Akhirnya bisa saya selesaikan juga twoshootnya! Meskipun saya rasa endingnya jauh dari apa yang saya harapkan. Terima kasih bagi kalian semua yang sudah menyempatkan diri membaca fic absurd dari saya. Saya harap ini mampu menghibur kalian. Saya sangat berterima kasih dengan segala respon kalian, maaf saya tidak bisa membalasnya satu persatu karena keterbatasan waktu. Mungkin sekian dari saya,ada salah kata saya mohon maaf sebesar-besarnya.

...Kuroi Sora18 log out...