Setelah hampir setengah jam, akhirnya Yoongi kembali ke ruang klub.. Tanpa Jimin.

"Yoongi? Mana Jimin?" Hoseok menatap Yoongi dengan tatapan heran sekaligus penasaran, memikirkan apa yang mereka berdua lakukan diluar.

Yoongi hanya menjawab dengan menaikkan kedua bahunya, tanda tak tahu― sekaligus tak peduli. Kemudian Yoongi langsung meraih smartphonenya yang tergeletak di lantai, karena tadi ia menjatuhkannya tanpa sengaja dan meninggalkannya begitu saja.

"Hm?" Taehyung merogoh saku celananya untuk mengambil smartphonenya yang bergetar-getar. Ia menghernyitkan dahinya saat membaca pesan yang dikirim Jimin.

Aku pulang duluan.

.

.

.

Demi apapun yang terjadi, Jimin hanya ingin istirahat sekarang. Setibanya di apartemennya, ia langsung membaringkan tubuhnya di sofa. Sesekali Jimin meraba wajahnya yang lebam dan bengkak― Yang benar saja, Yoongi menolak mentah-mentah penawarannya dan malah menghajarnya habis-habisan. Tapi yang mengejutkannya, Yoongi justru mengangkut tubuhnya yang terkulai di lantai, kemudian menggotong tubuhnya dan membawanya menuju klinik sekolah. Setelah menyerahkannya pada penjaga klinik, Yoongi langsung pergi menginanggalkannya. Dan setelah ia merasa lebih baik karena sudah diobati, Jimin memutuskan untuk segera pulang.

Ah, seandainya saja Yoongi yang mengobatinya.

Hm.

.

"Jim, kau harus segera datang ke kafe!"

Jimin langsung mengenali pemilik suara cempreng terdengar dari sambungan teleponnya. Ia melirik kearah smartphonenya dan membaca ulang tulisan yang tertera, "Hoseok". Ah, betapa gigihnya sahabatnya itu. Padahal Jimin sengaja mengabaikan puluhan panggilan masuk dari Taehyung, dan kini ia berhasil membuat Jimin menjawab panggilannya melalui smartphone Hoseok.

"Hoseok-hyung bersamamu?"

"Eh.. Yah, justru malah dia yang mengajakku kesini. Ayolah, Jim, kau juga harus bergabung dengan kami. Ada banyak yang ingin kusampaikan padamu. Oh, ya. Kau harus―"

"Aku akan segera datang." Jimin kemudian langsung memutuskan sambungan telepon agar sahabat cerewetnya tak terus-terusan ngoceh. Kan, kasihan Hoseok-hyung kalau pulsanya sampai habis. Hm.

Hanya mengenakan kaus berwarna hitam polos dan celana jeans pendek, Jimin langsung meraih kunci motornya dan bergegas menuju kafe langganannya.

.

.

.

Jimin langsung menemukan sahabatnya bersama Hoseok yang tengah bercakap-cakap di depan pintu kafe, dengan sebuah bingkisan yang dipegang oleh Hoseok.

Jimin melangkah mendekati Taehyung dan Hoseok yang masih asik mengobrol hingga tak menyadari keberadaan Jimin, hingga akhirnya dehaman Jimin membuat mereka melirik kearah sumber suara.

"Jim, ayo cepat!"

Jimin hanya menatap Taehyung dengan tatapan heran, ketika sahabatnya malah langsung masuk kedalam kafe disusul dengan Hoseok. Memangnya ada apa? Menyuruhnya untuk cepat? Yang lebih membuat Jimin heran adalah, mereka tidak menempatkan diri di salah satu meja, justru langkah Taehyung menuntun menaiki tangga, dan berdiri di depan sebuah pintu.

"Tae, tunggu dulu. Untuk apa kita kemari?" Taehyung menarik tangan Taehyung yang hendak membuka kenop pintu.

"Oh, astaga! Aku belum memberi tahu, ya? Oh, ini salahmu karena mematikan teleponnya tiba-tiba." Gerutu Taehyung yang kemudian disambung oleh Hoseok yang menjawab pertanyaan Jimin.

"Kemarin Yoona-nuna ulang tahun." Penjelasan singkat Hoseok menjelaskan semuanya. Jimin dan Taehyung sangat mengenal kafe ini, mereka juga mengenal para waiter dan waitress, bahkan mereka juga mengenal pemilik kafe ini, Min Yoona. Tapi Hoseok? Siapa sangka ternyata sunbaenimnya ini juga mengenal Yoona. Padahal, sesering apapun Jimin mengunjungi kafe ini, dia tidak ingat ia pernah melihat Hoseok di tempat yang sama sebelumnya.

Tanpa aba-aba, Taehyung membuka kenop pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu, "Saengil chukha hamnida~!"

Yang dicari malah tidak ada di dalam ruangan pribadinya. Namun justru yang membuat Jimin kaget, adalah siapa yang berada di dalam ruangan tersebut. Seseorang yang menghajar Jimin dua kali, Yoongi.

Yoongi tak kalah kaget, saat melihat sosok Jimin yang berdiri disamping Taehyung.

"Eh? Yoongi, Yoona-nuna mana?" Pertanyaan Hoseok akhirnya mencairkan suasana.

"Di kamar mandi." Yoongi mendengus dan mengalihkan pandangannya dari Jimin. Yoongi yang sepertinya sudah tahu rencana Hoseok dan yang lainnya justru nampak tidak kaget dengan kedatangan mereka, kecuali Jimin.

"Ah.. Kejutannya kurang meriah nih.." Taehyung sedikit menunduk dan memasang raut wajah kecewa.

Beberapa detik setelah itu, sosok yang dicari-cari akhirnya keluar dari kamar mandi yang berada di dalam ruangan itu juga. "Loh? Hoseok? Tae? Jimin?" Sedikit bingung dengan ruangan pribadinya kini dipenuhi oleh wajah yang dikenalinya.

"Saengil chukha hamnida, nuna~" Taehyung dan Hoseok berucap serentak, disusul oleh Jimin yang mengucapkannya dengan ragu-ragu.

"Astaga~ Kalian mengingatnya~" Yoona meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipinya dan tersenyum tulus.

"Maaf telat, nuna. Oh ya, ini hadiah dari kami." Hoseok menyerahkan bingkisan yang sedari tadi dipegangnya kepada Yoona dan langsung diterima oleh Yoona dengan semangat.

"Boleh kubuka? Boleh kubuka?"

Hoseok dan Taehyung menjawab dengan anggukan. Sementara Jimin masih mematung. Antara ia yang tak tahu perencanaan perayaan ulang tahun yang tiba-tiba ini, dan mengapa Yoongi bisa berada di ruangan pribadi Yoona. Ia tak bisa menjawab seluruh tanda tanya yang ada di benaknya, justru semakin dipikirkan, semakin membuatnya kebingungan.

.

Sementara Yoona masih sibuk dengan kado hanbok yang dibawa Hoseok, Jimin mencuri kesempatan untuk berbisik pada Taehyung, "Kau harus menjelaskan sesuatu, Tae."

"Oh ya. Aku belum bilang kalau Yoongi-hyung itu adiknya Yoona-nuna?"

"Serius?" Mata Jimin membulat dengan sempurna, membuat wajahnya terliha lucu. Kaget, tentu saja. Tapi kalau diperhatikan, wajah Yoona dengan Yoongi memang mirip, yah walaupun perbedaan sangat terlihat jelas diantara mereka berdua. Yoongi dengan wajahnya yang imut dan tubuhnya yang mungil, sedangkan Yoona dengan wajahnya yang terkesan dewasa dan lekuk tubuhnya yang.. Yah, tubuh ideal seorang wanita.

Kembali dengan Jimin yang kemudian menatap Yoongi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan Yoongi yang menyadari bahwa dirinya tengah ditatap secara intens oleh dongsaengnya, membuatnya menjadi risih. "Apa?!"

Kaki Jimin melangkah mendekati Yoongi yang tengah duduk di bangku meja kerja Yoona. "Hyung, aku berjanji tidak akan menyebarkan hobi cosplaymu. Lagipula, itu privasi, kan?"

"Hobi? Hobi apa katamu? Cosplay? Jangan membuatku menghajarmu lagi." Desis Yoongi dengan tatapan tajam kearah Jimin. Agak lega, karena Jimin berjanji akan menutup mulut― Walaupun ia tetap harus waspada terhadap dongsaengnya, Yoongi bersumpah jika sewaktu-waktu Jimin mengingkari janjinya, ia akan segera mematahkan leher Jimin.

.

Perayaan ulang tahun Yoona kemudian dilanjutkan dengan pesta soju, ide ini dicetuskan oleh Taehyung. Benar-benar Taehyung, memanfaatkan keadaan dengan kesempatan minum soju gratis.

Setelah berjam-jam sibuk dengan botol-botol soju yang mulai berserakan diatas meja, bahkan hingga beberapa menggelinding jatuh ke lantai, membuat Jimin melupakan Yoongi begitu saja. Tanpa ia sadari, ternyata Yoongi juga bergabung dalam pesta soju tersebut, dan sudah kehilangan kesadarannya, padahal ia belum menghabiskan satu botol.

"Aigo.. Aku seharusnya tak membiarkan Yoongi ikut pesta soju. Ia terlalu mudah mabuk." Gumam Yoona, penyelenggara pesta soju yang tidak ikut meminum soju sama sekali― kemudian ia membelai pipi adiknya yang sudah tersungkur tak sadarkan diri.

Jimin yang kebetulan berada di dekat Yoona mendengarkan gumamannya dan menyadari kalau Yoongi sudah ambruk duluan. "Sebaiknya Yoongi-hyung diistirahatkan saja dulu." Sahut Jimin kemudian.

"Ah, kalau begitu, bisakah kau mengantar Yoongi pulang? Aku ragu meminta tolong pada Hoseok dan Taehyung." Kekeh Yoona yang menatap Hoseok dan Taehyung yang sedang berlomba menghabiskan soju paling banyak. Setelah ini, mereka pasti akan mabuk berat. Kebalikan dari Yoongi, walaupun Jimin sudah menghabiskan beberapa botol soju, namun ia tetap terjaga. Jadi, Jimin adalah pilihan yang tepat untuk dipercayakan Yoona saat ini.

Yang kemudian Jimin menyanggupi permintaan Yoona dan menyerahkan kunci motornya pada Yoona, "Aku akan megantarnya naik taxi. Aku titip sepeda motorku malam ini, ya?"

Setelah itu, Jimin mengendong tubuh Yoongi di punggungnya dan memberhentikan salah satu taxi yang kebetulan lewat. Jimin membaringkan tubuh Yoongi yang sudah terlelap di bangku penumpang di belakang, sementara Jimin duduk di bangku penumpang di sebelah bangku supir.

Ketika kemudian Jimin menyadari.. Ia lupa meminta alamat rumah Yoongi.

.

.

.

Tak ada pilihan lain kan?

Akhirnya Jimin membawa Yoongi ke apartemennya dan membaringkannya diatas ranjang di kamarnya sesegera mungkin. Jimin duduk di bangku meja belajar yang berada di sebelah ranjangnya, menatap wajah Yoongi yang tengah tertidur pulas. Sosok Yoongi yang terlelap, dengan wajah polosnya, begitu off-guard. Sangat berbeda dengan Yoongi yang menghajarnya di kafe ataupun Yoongi yang menghajarnya di luar ruang klub. Kedua kelopak matanya yang terpejam kini tak memancarkan sinar dari manik coklat sayunya. Surai mintnya berantakan, begitu pula dengan kemejanya yang basah terkena tumpahan soju. Dan bibir tipisnya yang sedikit basah, hingga ke dagu. Jimin jadi berpikir, seliar apa pemuda ini minum soju?

Yoongi sedikit mengeram ketika salah satu jemari Jimin mulai menyentuh bibirnya, membelainya dengan lembut. Astaga, bibir tipis nan lembut Yoongi terlihat begitu menggoda. Tak ada salahnya menyicipinya sedikit, kan? Hm.

Sesaat setelah Jimin menautkan bibirnya dengan bibr Yoongi, ia merasakan sensasi yang tidak dapat dijelaskannya. Jimin baru saja hanya sekedar menempelkan kedua bibir mereka, hingga akhirnya ia menginginkan lebih.

Jimin menetralkan bibir Yoongi yang masih terasa soju, dengan menjilatinya lembut dan mengulumnya. Entah sejak kapan, Jimin sudah menaikkan tubuhnya keatas ranjangnya, menindih tubuh Yoongi, dengan kedua lengan hingga sikunya menumpu di kiri dan kanan kepala Yoongi, agar ia tidak menimpa tubuh mungil yang tengah terlelap dengan pulasnya. Kecupan beralih ke salah satu pipi Yoongi. Kecupan yang diselingi dengan beberapa jilatan dan gigitan lembut, membuat Yoongi beberapa kali mengerang. Kemudian Jimin menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher Yoongi, memberi beberapa gigitan dan hisapan lembut, hingga menimbulkan bercak merah keunguan yang terlihat begitu kontras dengan warna kulit Yoongi yang seputih susu.

.

.

.

Yoongi membuka kelopak matanya dan menangkap suasana tempat tidur yang begitu asing baginya. Yang kemudian ia dibuat terkejut ketika ia berusaha mendudukkan dirinya, namun tiba-tiba sebuah tangan kekar meraih tubuhnya dan memeluknya dari samping. Yang lebih mengejutkannya lagi, ia menyadari bahwa pemilik tangan, adalah seorang Park Jimin, dan dengan keadaan mereka berdua yang berbaring diatas ranjang yang sama, tanpa berbalut selehai benangpun.

.

Sebuah tonjokan mendarat dengan indahnya di rahang kiri Jimin dan menimbulkan lebam di pipinya, yang sebelumnya sudah hampir sembuh. Seketika itu pula, Jimin terbangun dari tidur nyenyaknya sembari memegani pipinya yang berdenyut, dan langsung mendapatkan sosok Yoongi dengan wajahnya yang memerah, entah karena malu atau marah. Atau mungkin keduanya.

"APA YANG KAU LAKUKAN, BOCAH SIALAN?!" Yoongi mencengkram kedua pundak Jimin, membuat Jimin terduduk dari posisi berbaringnya, menahan diri agar tangannya tidak menghajar Jimin lagi.

Jimin yang kini terbangun dari tidur nyenyaknya menatap wajah Yoongi, seseorang yang sudah membuat tidurnya begitu nyenyak, dan membangunkannya dari tidurnya yang nyenyak secara tiba-tiba.

"Kenapa kau diam saja?!" Yoongi sudah menarik salah satu tangannya dan mengepalkan tangannya, sudah siap menghajar Jimin kapan saja.

Yoongi yang sudah kehabisan kesabarannya, meluncurkan kepalan tangannya, yang kemudian ditangkap oleh telapak tangan Jimin dengan sangat tepat. Jimin menatapnya dengan tatapan tajam yang tak pernah dilihat oleh Yoongi sebelumnya.

"Aku mungkin tidak bisa berbuat semauku di kafe ataupun di sekolah. Tapi kali ini, kau tidak bisa berbuat semaumu di kamarku." Seringaian Jimin membuat Yoongi bergidik ngeri, apalagi ketika setelahnya Jimin mendorong tubuhnya, hingga Yoongi terbaring lagi di ranjang, dengan Jimin yang menindihnya lagi.

"Bodoh, apa yang kau lakukan?!"

.

.

.

TBC