The King's Incarnation

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Ichiei Ishibumi. Saya hanya meminjam karakter kepemilikan beliau tanpa berniat mendapatkan keuntungan materi sekalipun. Begitu pula dengan para karakter lain yang saya pinjam. Semuanya pemilik Owner-nya masing-masing.

Presented By : The Red Saber-Mordred

Rating : M (For Safe)

Pair : (Misteri)

Genre : Action, Fantasy, Supernatural, Romance.

Warning : Typo, OOC, HumanNaru!, Bahasa tidak Baku, Alternative Reality, and Etc.

.

.

Opening Theme : supercell - My Dearest

Chapter 2

.

[ Bagian I ]

Malam di kota Kuoh adalah suatu ketika kegelapan dan kesunyian saling berdekap dengan senyap. Waktu dimana langit biru berubah menjadi hitam dan berbaur di antara kerlap-kerlip cahaya bintang serta dan tiada taranya ialah sinar rembulan yang menerangi setiap sudut kegelapan kota.

Malam di kota Kuoh adalah ketika dimana semilir angin berhembus mengitari jalan-jalan yang kesepian. Pintu-pintu rumah tertutup, jendela-jendela terkunci dan seisi rumah hanya di isi oleh kegelapan dan kesunyian merajalela yang teramat sangat.

Namun diantara gelap dan sunyinya area di kota Kuoh, terdapat satu gedung apartemen yang masih menunjukan tanda-tanda akan adanya kegiatan. Lampu masih terlihat terang menyala di balik tirai gorden putih yang menutupi kaca jendela bercat putih senada.

Jika di lihat dari dalam apartemen tersebut, terdapat dua insan berbeda gender yang saling duduk berdampingan di sebuah sofa putih dengan lantai dibalut oleh karpet persegi dengan warna biru bercorak merahnya bunga mawar. Di depannya pun berdiri sebuah meja persegi panjang yang terbuat dari kaca tipis dengan beberapa camilan dan remote TV yang tersusun dengan kesan berantakan.

Naruto & Hitagi; dua buah nama yang tertera di sebuah foto berbingkai tertempel di bagian dindingnya yang bercat warna putih. Di foto tersebut nampak kedua insan dengan tinggi badan yang hanya sedikit lebih tinggi sang pria, keduanya tengah saling berdampingan dengan latar tempat di sebuah kebun binatang dengan tulisan 'zoo' di bagian pojok kiri atas. Senyum cerah dan hangat terpatri di wajah kedua insan yang berbahagia bagaikan sendok dan garpu makan. Saling melengkapi, saling menjaga hingga mungkin orang-orang akan menyangka jikalau mereka adalah sepasang kekasih yang berbahagia.

Tidak! Itu tidaklah benar...

Mereka hanya sepasang kakak dan adik yang saling mengasihi dan saling melengkapi kekurangan masing-masing. Seperti tradisi dalam keluarga, dimana sang kakak harus menjaga dan menyayangi adiknya dengan sepenuh hati serta sang adik yang akan selalu menghormati dan mengasihi kakaknya dengan sepenuh hati pula.

Namun meskipun begitu, mereka hanya sebatas kakak dan adik walaupun tidak sedarah...

Haup..

"Ne.. Naru, apakah terasa enak?"

Ucap sang wanita bersurai purple tergerai panjang, iris birunya menyiratkan rasa cemas dengan alis yang menurun ke bawah, bibir merahnya di gigit bagian bawah dengan kesan yang nampak mengharapkan sesuatu, atau sebuah pendapat. Senjougahara Hitagi, itu adalah nama wanita rupawan yang dalam sekian tahun ini di anggap dan dipanggil oleh pemuda di sebelahnya dengan sebutan 'onee-chan'.

Di tangan kiri Hitagi terdapat sebuah mangkok putih dengan di hiasi oleh berbagai polesan bunga yang nampak kontras dengan warna putih dari mangkok tersebut. Berbagai macam buah yang di cincang kotak-kotak kecil bercampur menjadi satu dengan susu dan sirup yang dihidangkan dengan sebuah es batu kotak-kotak pula. Sedangkan tangan kanan dari wanita itu terdapat sebuah sendok logam yang mengkilap di terpa cahaya lampu ruangan tempat dia dan Naruto sedang berduduk santai.

Es Buah..

Ini adalah jenis makanan yang lazim di hidangkan ketika musim panas ataupun di siang hari. Namun, bagaimana jika es ini di hidangkan di malam-malam sunyi seperti ini. Apalagi hanya dengan di temani oleh satu-satunya insan yang ada. Belum lagi, jika kedua insan ini saling duduk bersebelahan dengan sebuah Televisi yang menyala di hadapan mereka.

Bukankah ini yang dimaksudkan dengan situasi di mana detak jantung manusia berpacu lebih cepat dari biasa, disertai pula dengan berbagai ilusi mawar yang mewarnai imajinasi mereka.

Yah... Situasi ini biasanya di sebut sebagai keromantisan.

"Umm.. Ini enak kok, sama seperti biasanya," Balas Naruto dengan menyunggingkan sebuah senyuman tipis. Karena menurut Naruto; segala sesuatu yang di buat oleh onee-channya adalah yang terbaik dari segala yang terbaik. "Kau benar-benar akan menjadi istri yang sempurna nantinya, onee-chan." Lanjut pemuda bersurai pirang itu, tidak lupa dengan disertai eye smile yang terpatri di wajah tampannya.

Melihat senyuman serta ucapan yang di suguhkan oleh Naruto, mau tidak mau membuat pipi Hitagi terasa memanas bagaikan lelehan magma gunung berapi. Dia bahkan tidak bisa mengucapkan bait-bait kata dengan normal, intinya dia tergagap.

"B-b-baka! b-baka! baka!"

Pipi Hitagi memerah dengan rona sehat yang digantikan merah delima. Kepalanya bahkan mengeluarkan ilusi uap panas yang mengebu-ngebu. Serta sebuah sendok di tangan kanannya yang digunakan sebagai alat untuk memukul kepala kuning Naruto.

"Itte.. Onee-chan, sakit tau!" Ujar Naruto dengan suara yang dibuat bagaikan anak kecil yang merajuk. Walaupun sebenarnya pukulan dari onee-channya itu hanyalah sentuhan ringan baginya, akan tetapi rengekan tadi hanyalah sebagai kosa-kata yang membuat kenyamanan dalam hubungan 'kekeluargaan' mereka.

"Iya.. Naru maaf, habisnya kau sih bilang onee-chan mu ini akan menjadi istri yang sempurna, yah artinya kau mendoakan onee-chan agar cepat menikah bukan? Supaya kau bisa cepat menjauh dari ku." Ucap Hitagi dengan cicitan kecil di akhir kalimatnya. Raut wajahnya pun bahkan berubah menjadi sendu yang membuat Naruto mau tidak mau menjawab dengan cepat agar kakaknya tidak salah paham.

"Bukannya begitu, hanya saja, bukankah jika onee-chan sudah mendapati suami yang pantas jauh akan lebih baik." Tukas Naruto dengan safir birunya menatap dalam ke manik safir kepunyaan Hitagi.

Hitagi tersenyum tipis, kemudian menyimpan sejenak mangkok dan sendok di atas meja lalu menyandarkan kepalanya ke bahu si pirang untuk mencari sebuah kehangatan. "Aku tidak membutuhkan yang lain, yang ku butuhkan saat ini dan sampai kapanpun hanyalah Naruto saja.."

Naruto terdiam dengan wajah termenung mendengar perkataan onee-channya barusan, entah ini adalah hal baik atau buruk bagi kedua pihak. Karena Naruto tahu jika identitasnya tidak lama lagi akan terbongkar di dunia Supernatural. Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga. Begitulah dengan Naruto, dia tetap tidak akan bisa bersembunyi dari takdir yang telah mengikatnya bukan sebagai manusia biasa. Jika saja Hitagi tetap berisikeras bersama dirinya, tentu akan menimbulkan bahaya yang teramat sangat pada satu-satunya insan yang dia kasihi.

...Walaupun Naruto juga mengakui bahwa, dia juga ingin selalu bersama dengan onee-channya. Dia tidak ingin jauh, dia hanya ingin membahagiakan onee-channya dengan segenap kemampuan yang dia bisa. Setidaknya sampai sang onee-chan menemukan pria yang cocok untuk menjaganya...

Walaupun di sisi hati Naruto, dia tidak akan bisa merelakan Hitagi dengan yang lain...

Tidak akan pernah bisa!

Namun, iris mata Naruto mengecil ketika Hitagi kembali mengeluarkan suara yang lembut di sertai listrik yang langsung padam meninggalkan jejak gelap gulita di sepanjang cakrawala mata memandang. Disertai pula kedua tangan Hitagi yang memeluk pinggangnya dengan erat, seakan dirinya adalah guling kesukaan dari Hitagi.

"Naru... apa kau tau alasan sebenarnya aku mengadopsi mu?"

"..."

"Itu karena, aku akan menjadi tempatmu tertawa dan menangis. Tempatmu bersedih dan berbahagia. Aku akan menjadi tempatmu untuk pulang, yang akan tempatmu berteduh dari derasnya dera badai yang menerpa... karena aku... Karena aku...

..umm karena aku yang akan menjadi rumah bagimu."

Naruto hanya diam tak membalas perkataan dari Hitagi, dia mencoba meresap dan memaknai setiap susunan kata dan huruf yang di ucapkan oleh wanita bersurai purple tersebut. Gelapnya ruangan dipadu oleh hembusan angin malam melalui jendela terbuka yang menerpa ke arahnya tidak membuat sang pemuda pemilik marga Namikaze itu kedinginan.

Hanya kehangatan yang dia rasakan. Hatinya terasa membara bagaikan kobaran api unggun yang terus meninggi dan memanas di setiap detiknya. Setiap ucapan dari Hitagi begitu mengenai bagian dirinya yang terdalam. Sekarang dia tau jikalau Hitagi benar-benar merupakan seseorang yang sangat.. sangat berarti baginya, dia sudah lama menyadari hal ini namun mengingat dia yang bukan manusia biasa tentu bukanlah hal yang mudah.

Dia tidak ingin Hitagi orang yang dia kasihi terkena imbasnya...

Tapi sekarang dia telah membuat keputusan. Dia akan tetap menjaga Hitagi [ Onee-channya ] sampai kapanpun dan dimanapun dia berada. Bahkan bila deru badai pasir yang menerpa, kokohnya tebing tinggi yang menghalangi jalannya.

Dia tidak akan peduli.. Karena ini adalah janjinya sampai kapanpun.

Dia sadar jikalau dia memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi onee-channya, oleh karena itu dia tau, dia tau bahwa harus bagaimana cara menggunakan dan memanfatkan kekuatannya ini.

Dengan cara... Melindungi Hitagi sebagai adik yang berguna sampai kapanpun, dan hal ini tentu mengacu pada rasa terima kasih yang dia ungkapkan atas semua yang Hitagi berikan padanya.

...Dimanapun dan sampai kapanpun, bahkan jika matahari tak mengeluarkan kilau cahayanya lagi...

"Arigatou Onee-chan." Ucap Naruto seraya memeluk hangat onee-channya dengan sangat lembut bagaikan buih-buih air dalam lautan. Disertai pula oleh listrik yang sempat padam dengan ajaibnya kembali menyala memperlihatkan kedua insan yang saling berdekap mesra.

Malam yang begitu damai bersatu dengan indah-nya kebersamaan.

[ Bagian II ]

Dua orang pria dengan pakaian yang bisa dikatakan jauh dari kata modern tengah berdiri dan saling berhadapan di depan sebuah kuil. Tanah tempat mereka berpijak mengeluarkan retakan-retakan kecil sebagai tanda bahwa tanah ini sedang dilanda kekeringan, di sertai pula dengan pepohonan yang mengelilinginya nampak menjatuhkan dedaunan yang layu.

Salah satu pria memiliki rambut pirang dengan armor emas yang terpasang di setiap inci tubuhnya terkecuali kepala. Sedangkan yang satunya tadi memiliki perawakan manusia bersurai hijau panjang dengan tubuh tinggi tegap, namun tak begitu berotot bahkan dia terlihat dengan kesan elegan.

Pria bersurai hijau memandang pria pirang dengan tatapan lembut yang tersirat ketegasan di dalamnya. Sedangkan pria pirang tersebut membalas tatapan itu dengan tatapan sombong dan arogan.

"Kau sudah terlalu berlebihan Gilgamesh (1), kembalilah kepada jalan para dewa dan tinggalkanlah sifat arogan yang membuat rakyatmu begitu sengsara bagaikan anak panah dan burung pipit." Kata pria hijau tersebut dengan tenang.

Pria pirang bernama Gilgamesh itu menatap garang ke arah pria hijau. "Kau dan para dewa mu itu tidak berhak untuk mengaturku, Enkidu (2). Aku adalah aku, dan sebagai seorang raja, aku tidak akan pernah menuruti kemauan kalian," dia menarik sebilah pedang bergagang emas yang tergantung di pinggang kirinya, "Aku adalah Gilgamesh, aku adalah raja, dewa dari para manusia bahkan dewa dari para dewa-mu itu sekalipun!"

Menggeleng pelan, pria hijau bernama Enkidu tersebut juga menarik bilah pedangnya. "Gilgamesh, aku sudah lama memperhatikan mu, kau dulu adalah seorang remaja yang begitu polos serta mencintai para dewa, kau dulu merupakan calon raja yang ideal nan ramah yang begitu di cintai rakyat mu," Enkidu maju selangkah dengan pedangnya yang terhunus kedepan, "Tapi mengapa yang kulihat sekarang kau adalah raja yang mempraktekkan ideologi absolutisme, penindasan, paksaan, pungutan dan kemunduran dari rakyatmu demi kepentingan pribadi. Aku ingin bertanya sebagai utusan dari Dewa guna menghukummu, apa yang terjadi padamu wahai raja Uruk yang perkasa."

Gilgamesh menaikan sudut bibirnya, menyeringai sesaat. "Ini adalah aturanku, aku terlahir dengan takdir yang telah mengikatku sebagai anak dari ayahanda raja Lugalbanda yang memerintah Sumeria dan putra kesayangan dari Dewi Rimat-Ninsun," Dia maju dengan menggesekan pedangnya pada tanah tandus tempatnya berpijak, mengeluarkan suara khas dengan tatapan membunuh dari iris merah darahnya, "Aku adalah manusia dan sekaligus seorang dewa, aku mempunyai tujuan ku sendiri, apa yang kau dan para dewa-mu lihat, tidak sebanding dengan cakrawala yang terlihat dari bola mataku." Kata Gilgamesh dengan menghentikan langkah kakinya, sehingga jarak antara dia dan Enkidu hanya terpaut sekitar 5 meter.

-o0o-

Kringg.. Kringg..

"Unggh."

Di dalam sebuah kamar berukuran sedang, terlihat seorang remaja yang memiliki surai pirang emas tengah tertidur dengan damai sebelum akhirnya dia melenguh di sertai kelopak matanya terbuka secara perlahan-lahan memperlihatkan bola mata yang menyerupai batu safir jernih tengah memandang ngantuk ke arah jam alarm yang berada di samping kanan tepat pada meja berwarna coklat.

Dia lalu menjulurkan tangan kanannya meraba-raba ke arah jam alarm tersebut, kemudian mematikan jam alarm yang teramat mengganggu tidur damainya. Raut wajah kantuknya menatap ke arah jam yang memperlihatkan sederet angka tersusun rapi bertuliskan [ 06.45 ]. Dia masih terlihat tenang walaupun sudah mengetahi pukul berapa sekarang, dengan menggosok kedua matanya menggunakan punggung telapak tangan, kemudian berusaha bangkit dari kasurnya lalu berjalan pelan ke arah kamar mandi yang tidak jauh dari tempat tidurnya tersebut.

Byyuurr...

Remaja pirang tersebut membasuh wajahnya dengan air dingin yang mengalir dari westafel, setelah merasa cukup dia mengusap wajah basahnya menggunakan handuk putih yang menggantung di depan, lalu menatap ke arah cermin yang memantulkan bayangan dari dirinya sendiri. Wajah tanpa lemak agak kecoklatan terlihat bersih dengan permata biru yang terpasang pada kedua matanya, perut yang memperlihatkan roti sobek dengan dada bidang terpampang jelas di cermin.

Namikaze Naruto menatap pantulan dirinya dengan wajah yang mengernyit bingung. "Ahh.. Mimpi tentang raja itu lagi, tapi kali ini terasa berbeda dari yang biasa. Sekarang aku sudah tau awal dari pertemuan antara kedua sahabat itu," Ucap Naruto kemudian kembali membasahi wajahnya dengan air dingin, "Sebenarnya apa yang sedang Kami-sama rencanakan dengan membuatku bermimpi tentang raja dari sejarah tertua di dunia, Epic of Gilgamesh (3)."

Bicara tentang Gilgamesh, Naruto sebenarnya sudah mencari informasi dari segala sumber yang ada. Terutama dari puisi kuno yang menceritakan tentang seorang raja bernama Gilgamesh beserta prestasi yang pernah di raih semasa kekuasaannya.

Siapa yang tidak mengenal sejarah dari King of Heroes, Gilgamesh, yang sejarah serta kisahnya tertulis pada puisi epik tertua di dunia, Epic of Gilgamesh.

Dimana dalam kisah kepahlawanan itu menceritakan tentang seorang raja bernama Gilgamesh, anak dari raja yang memerintah Uruk, Lugalbanda dan Dewi Rimat-Ninsun. Dia memerintah Uruk, Sumeria, ibukota dari kemaharajaan Mesopotamia kuno di era sebelum masehi. Dia memiliki independen yang tinggi, menjadi 2/3 Dewa dan 1/3 manusia, dan dikisahkan tidak ada seorangpun yang bisa bertarung setara dengan dia. Gilgamesh adalah seorang raja yang memiliki divinity tinggi yang percaya bahwa dia takkan pernah terkalahkan. Dia dikatakan bukan hanya sebagai legenda, dikatakan bahwa dia benar-benar ada dan memerintah selama Dinasti Sumeria berdiri 5000 tahun yang lalu. Dia adalah raja pahlawan [ King of Heroes ] yang kisahnya tertulis pada puisi epik tertua di dunia, Epic of Gilgamesh, yang mana dalam puisi itu menggambarkan Gilgamesh sebagai pahlawan, ditakdirkan untuk menjadi raja dan mencapai prestasi besar yang di dorong oleh takdirnya, serta menghadapi tantangan bersama dengan sahabatnya, Enkidu.

Bah, tapi menurut Naruto yang dia dapat dari mimpinya, gambaran watak Gilgamesh itu ibaratkan buah durian yang kematangan. Karena dari segi pandangannya, Gilgamesh merupakan seorang raja yang arogan walaupun kadang kala dia melakukan sesuatu yang mulia untuk rakyatnya, namun pada akhirnya dia harus hancur karena ke-aroganannya sendiri. Sama seperti buah durian, yang mana jikalau buah itu matang maka akan menjadi sangat enak dan juga manis, namun, jika sudah kematangan maka yang terjadi adalah seringkali terdapat kerusakan internal pada buah durian itu sendiri, sebagai contoh, ditemukannya ulat dari durian yang membusuk ataupun bolong di karenakan dimakan oleh tupai.

"Naruto! Apa kau sudah bangun?!"

Hitagi memanggil Naruto dari luar tepat di depan pintu kamar remaja yang telah menjadi adiknya itu dengan riang. Dia terlihat menggunakan pakaian memasak ala koki dengan ciri khas warna putih, surai purple-nya dia ikat kebelakang dengan topi koki putih bertengger di pucuk kepalanya, tidak lupa juga dengan sebuah celemek yang tersemat padanya disertai pula jemari lentiknya tengah memegang sebuah sendok masak berukuran lumayan besar.

"Iya, aku sudah bangun, tapi jangan masuk dulu, soalnya aku masih berada di kamar mandi." Sahut Naruto dari dalam kamar yang masih bisa di tangkap oleh indera pendengar Hitagi.

Hitagi tersenyum tipis. "Kalau begitu cepatlah, aku sudah memasakan sarapan untuk kita." Kata Hitagi dengan riang, dia kemudian meninggalkan pintu kamar Naruto dengan senyuman hangat.

Di lain tempat, terlihatlah Naruto yang sedang tersenyum tipis. Dia tentu akan segera menyelesaikan ritual paginya, dengan begitu dia akan bisa memakan masakan yang menurutnya masakan terenak yang pernah dia makan. Menyampingkan tentang maksud dari mimpi yang baru saja di alaminya, dia kemudian melanjutkan ritual mandinya dengan tenang.

-o0o-

Di sebuah ruangan dengan nuansa sayur-sayuran beserta perabotan rumah tangga yang bergelantungan pada tempatnya, terdapat dua insan yang sedang menikmati sarapan pagi dengan nikmat. Dimana kedua insan dengan usia terpaut lumayan jauh itu sedang sarapan dengan masakan yang bisa di bilang sederhana, yaitu masakan kare.

Wanita bersurai purple yang berstatus sebagai kakak mulai menyendok nasi kare pada sendok di tangan kanannya kemudian mengarahkan pada Naruto dengan senyuman hangat terpatri di wajah cantiknya.

"Ne Naru.. Aaaa."

"Eh?"

Naruto yang sedikit terkejut hanya menurut lalu membuka mulutnya dengan menunggu suapan dari kakak perempuannya tersebut. Dia menyambut suapan itu dengan senang, ketika suapan itu telah sampai di mulutnya dengan lahap dia mengunyah dan menelan nasi kare itu dengan nikmat.

"Ummh.. Enak, kau memang yang terbaik, onee-chan." Kata Naruto, dia juga menyendok nasi kare di piringnya ke sendok makan dengan tujuan kakaknya sebagai target suapan. Dapat dia lihat sedikit rona merah terlihat dari pipi kakaknya tersebut.

Kegiatan ini seolah menjadi rutinitas dari mereka dua ketika sedang sarapan. Karena hampir setiap pagi, keduanya makan dengan cara saling menyuapi. Ufufuf~ sungguh keluarga yang begitu indah.

Setelah merasa cukup dengan sarapannya, Hitagi berniat mengatakan sesuatu pada Naruto, dia yang sedang terlihat gugup membuat Naruto memandang dirinya dengan penasaran.

"Onee-chan, apa ada sesuatu yang hendak kau katakan." Tanya Naruto dengan satu alis terangkat.

Hitagi menoleh ke arah lain. "Ini kan hari libur? B-bagaimana kalau kau mengajak onee-chan mu ini jalan-jalan, l-lagi pula aku butuh refreshing setelah bekerja sepekan penuh." Tukas Hitagi dengan sedikit gugup, rona merahpun kembali terlihat di wajah mulusnya.

Tersenyum, Naruto kemudian mengangkat tangan kanannya dan mengelus pucuk kepala Hitagi hingga membuat wanita itu merasa nyaman.

Bukannya tidak sopan, hanya saja Hitagi itu sangat senang jika dia di beginikan oleh Naruto.

"Tentu saja, lagipula ini hari libur, bahkan jika kau mau ke bulanpun aku siap menjadi sayapmu." Kata Naruto tersenyum tipis.

"B-benarkah. Tapi apaan dengan sayap itu." Balas Hitagi dengan hatinya yang berteriak merdeka.

"Hihihi bercanda, tapi tentu saja!, lagipula hari ini akan ada konser artis idola nee-chan di alun-alun kota." Ucap Naruto dengan mengeluarkan cengiran khasnya, yang mampu membuat gunung es meleleh hanya karena senyuman tersebut, begitu pula dengan Hitagi yang sudah tidak mampu menyembunyikan rasa senang sekaligus rona merah mawarnya. Ilusi bunga mekar jelas terlihat di belakang wanita tersebut.

Hari yang menyenangkan akan segera tiba, namun bisa juga menjadi hari yang begitu buruk.

[ Bagian III ]

Di sebuah ruangan berlantai porselin putih dengan berbagai uap panas yang menyelimuti terdapat empat orang gadis yang tengah mandi berendam dengan nikmat. Begitu menikmati rasa nyaman dan hangat yang di dapat dari air hangat tersebut. Aroma harum tercium semerbak hingga ke ubun-ubun. Gadis-gadis muda itu menarik napas pelan dan menghembuskan dengan lega. Tubuh yang licin dan mengkilap tertutup oleh busa-busa dari sabun cair yang berada di pojokan kolam air panas itu.

Seorang gadis muda dengan body yang tidak wajar disertai oppai oversize, surai merah darahnya basah akibat terkena air hangat dari tempatnya berendam, dia terlihat bingung dengan wajah yang menyiratkan haus akan rasa penasaran. Hal tersebut tentu membuat beberapa gadis lain yang melihatnya mengernyit bingung, terutama gadis bertubuh kecil dengan surai hitam sebahu, dia nampak mendekati gadis merah yang sedang murung tersebut.

Mereka sebenarnya bukanlah seorang gadis manis dan cantik biasa, karena mereka adalah sekumpulan Iblis yang memang memiliki tubuh seperti halnya manusia biasa.

"Apa yang membuat dirimu terlihat begitu bingung, Rias?" Tanya gadis surai hitam sebahu itu, dia bertanya sesekali membasuh tubuh mungilnya dengan air hangat tempatnya berendam, "Bukankah seharusnya kau senang karena telah berhasil mendapatkan Hyoudou Issei?" Lanjutnya dengan menaikan sebelah alis bingung.

Gadis merah yang di panggil dengan nama Rias itu menoleh. "Ah Sona kau memang sahabat terbaikku, kau bahkan langsung tau kalau aku sedang dilanda kebingungan," Rias kembali memandang kedepan dengan raut wajah yang membuat Sona yang memang pada saat ini tidak mengenakan kacamata kembali menaikan sebelah alisnya. "Aku hanya penasaran Sona." Lanjut Rias.

"Apa yang membuat sahabat sekaligus rival-ku ini menjadi penasaran heeh." Ucap Sona dengan sedikit menggoda si surai merah.

Rias mengerucutkan bibirnya, "Mou.. Sona," Rias kemudian mengambil sebuah botol sabun cair di depannya, lalu menuangkan cairan pembersih tersebut dan menggosokan sabun cair ke setiap lekuk tubuh polosnya itu, "Aku hanya penasaran dengan sebuah aura sacred gear yang berbeda dari Issei sebelum kami mereinkarnasi pemuda itu." Tukas Rias yang membuat Sona sedikit tertarik dengan topik yang dibicarakan oleh Rias.

"Lalu apa kau berhasil mengetahui identitas pemilik sacred gear itu?" Tanya Sona yang hanya dibalas gelengan pelan oleh Rias.

"Itulah masalahnya, bahkan Koneko pun tidak bisa merasakan kembali aura itu ketika kami sampai di tempat pembunuhan Issei." Ucap Rias dengan menggigit bibir bawahnya pelan.

Dia tidak mengerti ini.

Karena, mau bagaimana pun, Koneko yang termasuk salah satu gabungandari ras Nekomata dan Iblis, yang mana sebelumnya dia adalah ras Nekomata asli sebelum kemudian di reinkarnasi oleh Rias Gremory menjadi budak iblisnya. Membuat gadis mungil bersurai putih perak itu secara tidak sah merupakan hybrid antara iblis dan Nekomata.

Ras Nekomata dipercayai memiliki sensorik yang sangat peka dan juga sensitif, yang mana mereka juga di berkahi oleh kekuatan yang berasal dari alam yang di kenal dengan nama energi Senjutsu, sehingga membuat mereka begitu berbahaya serta menakutkan. Saat ini dikatakan bahwa hanya sedikit dari ras nekomata yang tersisa, bahkan dikatakan hampir musnah. Entah hal apa yang membuat ras tersebut menjadi terancam kepunahannya.

"Hmm, ini begitu sulit Rias, bahkan Koneko yang merupakan dari ras Nekomata pun tidak bisa merasakannya, aku bahkan hampir tidak mempercayai hal ini," Ucap Sona dengan memijat dagunya pelan. "Lalu bagaimana dengan pertunanganmu, apa kau masih berisikeras untuk menolaknya?" Tanya Sona kemudian, dapat dia lihat raut wajah Rias berubah menjadi sebal.

"Sona jangan mulai lagi deh, karena itulah aku mereinkarnasi kohaii manisku pemilik sacred gear dengan aura naga itu," Balas Rias, dia kemudian teringat satu hal, yang mana ingatan itu mengacu pada keinginan Sona untuk mengubah seseorang menjadi budak iblisnya, "Lalu bagaimana dengan mu, apakah kau memang yakin untuk mengubah si Namikaze itu menjadi budak iblismu?" Tanya Rias dengan wajah penasaran.

Wajah Sona Sitri berubah menjadi suram seketika, ilusi awan gelap terlihat di atas kepalanya.

"Ah entahlah Rias, dia terlihat seperti berusaha menjauh dariku, bahkan kami hanya bisa berkomunikasi dengan limit waktu 5 menit saja." Ujar Sona tersenyum kecut.

Rias tertawa kecil menanggapi ucapan dari Sona, dengan cepat dia mengelus lembut punggung dari sahabatnya sebentar. "Sabar, ini ujian. Lagipula apa istimewanya pemuda Namikaze itu, dia bahkan tidak memiliki aura sacred gear sedikitpun, bahkan Koneko pun juga mengatakan demikian." Kata Rias memandang heran ke arah sahabatnya tersebut.

Sona menaikan sudut bibirnya yang teramat jarang dia lakukan. "Ternyata kau sudah lupa yah, ehem, supaya kau ingat, Namikaze Naruto itu merupakan juara Taekwondo sampai ke tingkat nasional, dia bahkan sempat mewakili SMP Kuoh pada saat kelas 8. Dia juga seseorang yang sangat ahli dalam kenjutsu, apa kau masih ingat saat dia berhasil mengalahkan Yuuto Kiba dengan beberapa gerakan simple beberapa bulan yang lalu," Kata Sona, dia berhenti sebentar dengan meneguk ludah membasahi tenggorokannya yang mengering, "Aku memiliki beberapa opsi yang tepat untuk pengrekrutan dari Namikaze Naruto, Taekwondo-nya bisa berealisasi dengan bidak benteng, sedangkan keahlian berpedangnya cocok dengan bidak Knight."

Rias memperlihatkan senyum misterius yang membuat Sona berkata waspada. Dia tau kalau sahabatnya tersebut sangatlah tamak dan juga licik. Dia bahkan menghallalkan segala cara demi mencapai tujuannya, seperti rencana terbunuhnya Issei oleh malaikat jatuh itu juga salah satu dari kelicikan gadis iblis dari kebangsawanan Gremory itu.

"Kau jangan berani menyentuhnya Rias, yang ini adalah bagianku, kau tentu sudah cukup dengan pemilik sacred gear naga itu!" Tukas Sona yang membuat Rias hanya cekikikan geli.

"Hihihi kau tidak asik Sona, maa.. baiklah, tapi jika dia menolakmu aku akan dengan senang hati memungutnya menjadi bagian dari peerage-ku ufufuf~" Ujar Rias lalu menyelam ke dalam air kolam menjauhi Sona yang masih setia dengan wajah datarnya.

Tanpa mereka ketahui, sang predator yang sesungguhnya tak lama lagi akan menampakan wujudnya. Tujuannya bukan untuk memangsa yang lemah, namun justru menjaga sesuatu dari tajamnya jarum peniti di antara sisi gelap dunia ini.

[ Bagian IV ]

Hari yang menyenangkan untuk sepasang kakak-adik, Senjougahara Hitagi dan Namikaze Naruto. Berkeliling sana-sini layaknya pasangan merpati putih yang terbang di udara melintasi langit biru. Berbelanja pakaian ataupun makanan dan minuman sebagai pelepas dahaga sejenak. Tawa riang selalu terlukis dalam wajah mereka berdua, yang mana ekspresi itu menyiratkan bahwa mereka benar-benar menikmati hari ini.

Kota Kuoh sebenarnya bukanlah kota yang sangat luas dan juga besar. Kota ini masih kecil jika di bandingkan dengan kota-kota besar di Jepang, seperti Tokyo dan Kyōto. Namun pesona hiburan yang di sajikan tidak kalah jauh dibanding kota-kota besar itu, contohnya saja seperti hari ini yang mana alun-alun kota Kuoh terisi penuh oleh berbagai insan yang sedang menonton acara musikal berupa konser dari artis-artis ternama di Jepang. Bunyi lantunan musik dan teriakan dari para fans cukup terdengar nyaring di sana.

Namun, sepertinya hal itu tidak berlaku bagi kedua insan berbeda gender yang sedang duduk di bangku taman di kota Kuoh. Di belakang mereka terdapat sebuah kolam ikan kecil berbentuk bulat dengan sebuah air mancur di tengahnya, bunyi percikan air seolah menjadi musik orkestra sebagai musik relaksasi penyegar penat.

Tak terasa hari yang tadinya masih terlihat cerah dan terasa panas kini digantikan dengan langit senja yang memancarkan warna jingga.

Sang pria yang sebenarnya adalah Naruto terlihat menggunakan kameja putih dengan jaket kasual hitam yang dibiarkan terbuka, di sertai pula dengan celana jeans hitam panjang dengan sepatu kets putih. Sedangkan si wanita yang tidak lain adalah Hitagi mengenakan sebuah baju blus berwarna coklat yang terbuat dari sutra,memiliki detail yang feminim seperti dasi, pita pada leher, lipatan-lipatan, emborideri atau kancing-kancing dekoratif. Untuk bawahan dia tidak ambil pusing, dengan rok panjang selutut berwarna biru terlihat kontras dengan baju sudah membuatnya terlihat menawan. Belum lagi rambut purple-nya dibiarkan tergerai panjang hingga ke pinggul disertai sebuah tas kecil tersemat di pundak membuat wanita berusia 26 tahun itu terlihat seperti remaja 18-tahunan.

"Umm.. Apa nee-chan cukup puas untuk hari ini?" Tanya Naruto dengan melirik ke arah Hitagi. Di tangannya terdapat sebuah gelas transparan dengan isi air es berwarna jingga dengan sedotan putih panjang yang ujungnya bertengger pada sudut bibir pemuda itu.

"Ummu.. Sepertinya begitu Naru, bisa dibilang sangaaaat puas." Balas Hitagi dengan riang, senyum ceria selalu mengembang di wajah cantik nan ayu-nya.

Naruto tersenyum senang, ternyata kakaknya itu memang menikmati hari yang terasa singkat ini. Sejujurnya, mereka sudah sangat jarang mendapat jadwal kosong karena selalu terisi oleh kegiatan sekolah sang adik ataupun kesibukan dari pekerjaan sang kakak. Rasanya, ingin mereka hentikan waktu sesaat guna menikmati hari damai ini.

Namun, air tak semuanya jernih, langit tak selamanya biru, dimana ada gula disitu ada semut. Dimana ada sebuah kebaikan yang diselimuti kehangatan, disitu ada kejahataan nan gelap yang mengintai.

Naruto yang merasakan hawa yang tidak mengenakan bersikap waspada secara sembunyi-sembunyi agar tidak di curigai oleh kakaknya. Suasana taman saat ini sedang sepi, sunyi dan senyap, yang mana hal itu tentu membut makhluk supernatural akan leluasa melakukan sebuah tindakan.

Naruto dapat melihat sebuah barrier tipis terpasang dengan diameter 20 meter di depannya, langit yang tadinya berwarna jingga berubah menjadi gelap dan kelam secara perlahan-lahan.

Naruto meneguk ludahnya sendiri. 'Sial, padahal di sini masih ada onee-chan, aku tidak mungkin memperlihatkan sesuatu yang mustahil bagi manusia biasa sepertinya, bisa saja onee-chan menjadi shock setelah melihatnya,' Ucap batin Naruto, dia menyimpan gelas transparan di depannya kemudian menoleh ke arah Hitagi yang tidak menyadari situasi saat ini, 'Maaf onee-chan, sepertinya aku akan berlaku kasar padamu.'

Naruto memanggil Hitagi dengan suara lembut, "Onee-chan, maafkan aku." Tukas Naruto dengan pelan yang membuat Hitagi menoleh serta menaikan sebelah alisnya bingung.

"Apa yang kau katakan tad-..."

Belum sempat Hitagi bertanya, sebuah pukulan yang bisa dibilang cukup keras di bagian tengkuk membuat kesadaran wanita itu hilang secara perlahan-lahan. Naruto sebagai pelaku hanya bisa diam dengan menggigit bibir bawahnya keras, sejujurnya dia tidak tega memperlakukan kakaknya itu dengan keras seperti hal barusan. Namun, ibarat kata; Bagaikan memakan buah simalakama, yaitu dia diberikan dua buah pilihan yang sulit, yang mana dia harus membiarkan onee-channya mengetahui sisi lain dari dunia ini atau membuat onee-channya tidak sadarkan diri agar terhindar dari berbagai situasi yang merepotkan di kemudian hari, walaupun dengan sedikit resiko dia harus menyakiti orang yang paling ingin dia lindungi di dunia ini.

Namun dia harus berpikir jernih, melakukan sesuatu tanpa berpikir itu bagaikan makan tanpa mengunyah. Dimana dia salah dalam menentukan keputusan maka dia akan jatuh ke dalam lorong terjauh.

Setelah membaringkan tubuh Hitagi dengan selembut mungkin, setelah itu Naruto dengan perlahan berdiri tegak, iris matanya menajam seperti silet, tangannya terkepal hingga menyerupai gumpalan bola tenis.

"Aku harap senpai yang di sana segera keluar, kalian sudah cukup lama men-stalking aku dan onee-chan, dan juga untuk khusus untuk da-tenshi yang ada di sana, sepertinya kita pernah bertemu heeh." Ucap Naruto dengan lantang, dapat dia lihat salah satu siswi di sekolah beserta beberapa orang lainnya keluar dari semak belukar dengan sebagian dedaunan yang menempel di rambut.

"Sudah ku duga!"

Sedangkan seseorang yang berada tidak jauh dari Naruto terlihat menyeringai kecil. Wajah seramnya semakin menampilkankan kesan menakutkan dengan beberapa asap keluar melalui hidung.

Naruto berucap. "Iblis dan juga malaikat jatuh, heeh, kalian akan menyesal telah menggagu kesenanganku bersama onee-chan."

.

.

And Cut...

.

.

Info :

(1). Gilgamesh merupakan tokoh pahlawan yang tertulis di puisi tertua di dunia, Epic of Gilgamesh. Namun dalam fic ini, chara Gilgamesh saya ambil dari anime Fate Series.

(2). Enkidu merupakan sahabat dari Gilgamesh, di dalam Epic of Gilgamesh diceritakan bahwa Enkidu merupakan satu-satunya makhluk yang setara dengan Gilgamesh, bahkan di dalam Nasuverse diceritakan jikalau Gilgamesh harus menghabiskan seluruh senjata dari gudang dimensionalnya guna melawan Enkidu. Untuk perawakan, dia memiliki surai hijau panjang dengan setelan baju meneyerupai jubah putih.

(3). Epic of Gilgamesh, sebuah puisi epik dari Mesopotamia dan merupakan salah satu di antara karya sastra paling awal yang dikenal. Sebagai rangkaian legenda dan puisi Sumeria tentang raja Uruk dan pahlawan msitis Gilgamesh, yang dianggap sebagai penguasa pada millennium ketiga SM, dikumpulkan hingga menjadi sebuah puisi Akkadia yang panjang di kemudian hari, dengan versi terlengkap yang masih ada sekarang dilestarikan dalam lempengan-lempengan tanah liat dalam koleksi perpustakaan raja Asyurbanipal dari Asyur pada abad ke-7 SM.

A/N :

Alhamdulillah akhirnya up juga ehehe. Gimana kabarnya senpai, semoga baik-baik saja okay. Bagi yang nanya kenapa saya mengupdate fic ini daripada The Yellow Knight, maa, saya ngestug di pertengahan chapter, maaf soalnya lagi usaha. Lagipula, mengetik fic yang ini saya rasa lebih menyenangkan dari pada Yellow Knight. Untuk target sih, saya rasa ikutin alurnya aja.

Umm, maafkan jika saya membuat Chara Hitagi terlihat OOC, itu hanyalah sebagai pelengkap cerita semata. Oh ya, sebenarnya fic ini juga terinspirasi dari fic berjudul Break the Limit of Your Imagination. Tapi tidak kesuluruhannya kok, hanya romance antara kakak dan adik saja.

Oke maaf jika bumbu romance-nya masih nggak kerasa, wajar masih usaha ehehe. Oke hanya itu saja, jikalau ada Typo yang bikin sakit mata saya mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya, manusia adalah gudangnya tempat salah, jadi harap di maklumi.

Bagi yang Fav, Foll, Rev ataupun cuma yang lewat doang saya ucapkan banyak terima kasih.

Satu lagi. Saya masih belum bilangkan kalau pairnya Naruto itu Hitagi, itu belum tentu senpai, ikutin alurnya aja.

Mordred Out..