Seorang pemuda cantik menjurus manis, tengah berjalan dengan wajah datar tak berekspresi dikoridor sekolahnya. Langkah kaki ringan itu membawanya menuju kesebuah ruangan yang terletak di pojok belakang lingkungan sekolah. Para siswa yang melihat sosoknya memundurkan langkah teratur dengan sorot mata dan ekspresi luar biasa ketakutan. Bak melihat sebuah penampakan monster mengerikan.

Sedang si manis tak peduli.

Masa bodoh dengan orang-orang disekitarnya. Dia hanya ingin sampai diruangan yang ia inginkan segera.

Hingga langkah santainya berakhir didepan sebuah ruangan yang bertuliskan Gudang. Ia buka pintu itu pelan. Suara decit pintu terbuka langsung menggema memekakan telinga siapapun yang mendengarnya. Namun sekali lagi, si manis ini tak peduli.

Pintu itu langsung tertutup keras ketika ia menendangnya. Kemudian, langkahkan kakinya yang perlahan menuju keseorang siswa lain yang tengah duduk terikat di pojok ruangan. Dengan mulut terlakban dan kedua mata memerah mendelik padanya. Bahkan setetes air mata telah menuruni deras pipinya.

Dan yah, pemuda manis itu tetap tak peduli. Bahkan sedikit hatinya sama sekali tak merasa kasihan melihat sosok terikat didepannya.

"Mhhhmm.. mhhmm.."

"Ck, diamlah." Teriaknya emosi. Membuat si pemuda berjengit sembari menampakan sorot ketakutan yang sangat ketara.

Si manis berjalan semakin dekat. Dan ketika si pemuda yang terikat berada di jangkauannya, tangan kanan berbalutkan sarung tangan berwarna Dark Purpel itu menarik paksa lakban yang masih menempel di mulut pemuda didepannya. Membuat ringisan kesakitan si pemuda terdengan di telinganya.

"Nah, sekarang mari kita selesaikan." Ujar si manis datar. Sang pemuda menggeleng-gelengkan kepalanya cepat dengan tatapan memohon.

"K.. ku mohon.. lepaskan aku.." lirih sang pemuda. Si manis nampak tak peduli. Ia lebih memilih untuk menarik sebuah kursi disudut gudang. Menempatkannya tepat dihadapan sang pemuda. Mendaratkan pantat berisinya pada permukaan keras kursi itu hingga terdengar bunyi decitan yang menandakan jika kursi itu memang sudah tak sekokoh dulu.

Si manis menatap pemuda itu sembari menunjukan sebuah seringaian yang akan membuat orang didepannya bergetar ketakutan. Meskipun jika dilihat lebih teliti lagi, seringaian itu bukannya membuat si pemilik nampak menakutkan. Tetapi justru nampak manis dan cantik.

"Huh? Enak sekali kau asal minta dilepaskan.-" Jeda sejenak. Si manis menyalakan sebatang nikotin yang baru saja ia ambil dari saku seragam sekolah yang dikenakannya.

Ia hirup dalam-dalam asap penuh penyakit itu. Kemudian menghembuskannya tepat didepan wajah sipemuda. Pemuda itu langsung terbatuk-batuk ketika bau menyengat dari asap rokok menusuk-nusuk indra penciumannya.

"-Kau tau, membawamu tanpa ada mulut yang bocor ke ruang guru itu susah. Seenaknya saja minta dilepaskan. Tch." Lanjutnya.

Sang pemuda meneguk salivanya susah payah. matanya serasa panas karena menahan air mata yang siap lolos dari sudut-sudut matanya. Hei, dia itu laki-laki. Mana mungkin menangis.

"Fang aku mohon. Sebenarnya kenapa kau menyekapku?" Ujar nya parau.

Fang -si manis- menginjak putung rokoknya yang masih setengah. Kemudian memungutnya lagi dan memasukannya kedalam sebuah plastik kecil. Kemudian ia masukan putung yang sudah terinjak dan dibungkus plastik itu kekantongnya.

Karena bagaimana pun, ada peraturan di sekolahnya jika para siswa dilarang merokok diarea sekolah. Bisa gawat kalau ada seseorang yang menemukan putung rokoknya.

Fang menatap datar sosok pemuda -yang penampilangnya luar biasa berantakan. Dengan dua kancing teratas yang terlepas, baju yang sebelumnya licin menjadi kusut, kotor, dan jangan lupakan rambut yang acak-acakan.

Fang mendengus keras. Ia berdiri dari kursi yang didudukinya dan langsung menendang kursi itu. Hingga membuat si kursi yang tak berdosa berguling beberapa kali dilantai. Kemudian ia melirik tajam kearah si pemuda tanpa menundukan tubuhnya. membuat tubuh si pemuda langsung bergetar ketakutan menatap betapa tajamnya padangan yang dilayangkan padanya.

"Kau tau benarkan apa salahmu. Penyebar rumor sampah." Ujar Fang dingin. Pemuda itu menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Ti.. tidak Fang."

"Kau pikir aku bodoh. Kau yang menyebarkan rumor jika aku berkencan dengan Ying." Sang pemuda kembali menggeleng. Kali ini lebih kuat.

"Tidak. Bukan aku. Aku.. aku hanya mendapatkan sebuah foto dari seseorang yang memintaku untuk mengatakan kalau kau dan Ying berkencan. Dia mengancamku. Sungguh.."

Buagh..

Si pemuda langsung jatuh tersungkur dengan kursi yang mengikatnya, ketika Fang memukul telak pipi kanannya. Rasa nyeri langsung merambati wajah bagian kanannya. Bahkan rasa asin dan bau anyir langsung menyeruak dan membuatnya sadar jika ujung bibirnya berdarah.

"Pembual. Cuih.." Fang meludah tepat di wajah pemuda yang tersungkur didepannya. Ia berjalan mendekat. Ingin hati menendang perut si pemuda, suara gebrakan pintu yang terbuka keras membuat Fang mengalihkan perhatiannya.

Dan didepannya, berdiri dengan nafas terengah-engah dan berpegangan pada rangkai pintu. seorang pemuda dengan rambut Dark Brown nampak menatapnya sayu. Efek kelelahan mungkin.

"Fang berhenti." Ujarnya sembari berjalan mendekat kearah Fang. Tanpa babibu lagi, ia segera menaring pergelangan tangan mungil Fang dan menyeret Fang pergi keluar dari gudang. Mengabaikan teriakan protes dan umpatan kotor yang dilayangkan Fang untuknya.

Ketika ada dua orang siswa yang menatap kearah dirinya dan Fang, ia langsung memerintahkan dua siswa itu untuk melepaskan seseorang di gudang. Tentu dengan ancaman "tutup mulutmu atau mati.". Dan dua siswa itu hanya mengangguk kaku sebagai jawaban. Dan langsung berlari menuju ke gudang.

"Sai, lepaskan tanganku woi."

"Ck, diam atau ku bungkam paksa mulutmu." Dan entah kenapa semua teriakan dan pergerakan Fang untuk meloloskan diri lenyap begitu saja. Menyisakan Fang yang berjalan menurut dengan pergelangan tangan yang digenggam erat.

XoX

Seorang pemuda tampan nampak berjalan tenang di koridor sebuah kampus. Ia memiliki rambut berwarna Dark Brown dengan sebuah topi dino dibalik berwarna jingga yang menutupinya. Membuat hanya sedikit rambutnya yang telihat. Tubuh tegapnya terbalut sebuah jaket berwarna jingga dengan sedikit aksen hitam dan kuning.

Sebuah senyum indah akan muncul diwajahnya ketika beberapa orang yang mengetahuinya menyapa. Seolah-olah senyum itu bagaikan jawaban atas sapaan yang mereka lontarkan.

Sampai akhirnya, langkah kaki santainya membawa ia memasuki kantin yang berada di gedung fakultas tata boga. Ketika baru selangkah ia masuk, semua pasang mata langsung terarah kepadanya dengan sorot memuja.

Yeah, namanya Boboiboy. Digadang-gadang sebagai Prince kampus dari fakultas bisnis.

Punya postur tubuh tegap tinggi bak model, wajah tampan bak dewa yunani, sorot mata setajam elang namun hangat disaat yang bersamaan, friendly, dan banyak sisi-sisi positif lainnya yang membuat Boboiboy memang pantas menyandang gelar pangeran.

Sebenarnya, bukan suatu hal yang aneh jika melihat Boboiboy berjalan di gedung fakultas tata boga. Karena memang Boboiboy mempunyai sahabat yang masuk di jurusan tata boga. Dan dia adalah...

"Boboiboy.."

"Oh, Gopal."

Ya. Dia adalah Gopal. Pemuda tinggi bertubuh tegap dengan masa otot luar biasa kekar, membuat pemuda yang masa kecilnya memiliko tubuh gempal berlemak, menjadi terlihat luar biasa keren. Dengan warna kulit tan khas orang Asia Tenggara, membuat Gopal nampak lebih tampan dari masa kanak-kanaknya.

Boboiboy berjalan perlahan menghampiri sang sahabat yang mendudukan tubuhnya di salah satu kursi kantin. Ia lalu ikut mendudukan dirinya didepan Gopal yang tengah memakan sebuah biskuit. Dan Boboiboy hafal betul dengan bentuk biskuit yang dimakan Gopal.

"Oh, bukankah itu biskuit Yaya?" tanya Boboiboy.

"Ho'oh. Dia sudah bisa membuat biskuit yang enak. Tidak seperti dulu." Jawab Gopal sembari masih memakan biskuit di tangannya. Boboiboy hanya tertawa mendengar ucapan Gopal.

"Hahaha.. Terbaik."

To Be Continue

wuu.. fast up. gak tau lagi greget aja buat fast up ini ff. semoga tak mengecewakan. sekian, RnR pwease..*pasang puppy eyes*

see you next chap~