"Noona!", panggil lelaki kecil itu pada Soyoung.
"D-Dino? Kenapa kau disini?", Jawab Soyoung kaget.
Dino menunjuk ke arah Jun, "Dia siapa? Apa dia penggemarmu lagi? Apa dia mengganggumu?"
"Hah?", Jun menatap Dino bingung.
"A-Ani! Dia bukan penggemarku. Aku baru saja mengenalnya tadi, saat membeli es krim!", Seru Soyoung berusaha memberikan penjelasan.
Dino mendecakkan lidahnya, "Jinja? Bagaimana kalau ternyata dia adalah fansmu? Kau tahu kan terakhir kali ada seseorang mengejarmu sampai appa terpaksa membeli gembok besar di pagar rumah agar orang itu tidak mengejar Noona masuk ke dalam".
Sooyoung merengut, "Ara. Kau tak perlu membahas itu, Dino-ya. Lagipula, orang itu sudah pindah ke Canada, jadi kau tak perlu mengungkitnya lagi".
"Noona?", gumam Jun seolah baru menyadari sesuatu, "Dia adikmu?"
Dino langsung menjerit senang, "KAU PASTI BUKAN PENGGEMARNYA! AH, MENYENANGKAN SEKALI!"
"eoh?", baik Jun dan Soyoung sama-sama menyerengit bingung.
"Kau pasti bukan penggemarnya Noonaku, kan? Selama ini, fans selalu mendekati jika melihatku. Lalu dengan mengesalkannya akan sok kenal padaku. Tapi tentu saja agar ia bisa mendekati Noona. Dasar sunbaenim menyebalkan. Mereka semua mengenalku begitu saja. Padahal, aku tak pernah mengenalkan diri pada mereka. Kau pasti bukan penggemar noona, kan? Kau tidak mengenalku", Dino terus mengomel dan berakhir dengan menanyakan kepastian tanpa diminta.
"Eh? Eum, iya, aku bukan penggemarnya", gumam Jun. Kepala Jun sedikit berdebat kali ini, berusaha menghilangkan pikiran judge yang mengatakan kalau Dino ini memiliki semacam brother complex atau sejenisnya.
Soyoung memukul kepala adiknya, "Ku bilang juga apa".
Dino terkekeh, "Jeosonghamnida", katanya sambil menundukkan kepalanya sedikit pada Jun.
Jun mengangguk, "Tak apa. Omong-omong, aku Jun"
"Dino, eum? Hyung? Kau hyung kan?", tanya Dino sedikit ragu.
"Mungkin. Aku kelahiran tahun 96"
"Aku 98. Kau seumuran dengan Noonaku. Hehehe"
Soyoung menatap Jun kaget, "Kau line 96?!"
"Waeyo?"
"A-ani. Kupikir kau line 95"
"Apa aku nampak setua itu?"
"Tidak juga. Kau hanya nampak lebih dewasa"
Jun tersenyum kecil, memancing sebuah semburat merah muncul di pipi Soyoung.
Oh, dan jangan lupakan juga debaran jantung Soyoung yang mendadak berpacu saat Jun melempar senyum ke arahnya.
Bukan apa-apa. Senyum Wen Junhui terlalu mengesankan untuk Soyoung lihat.
"Omong-omong, hyung. Kau sekolah dimana?"
"Eum, aku lupa nama sekolahnya..", jawab Jun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kau baru pindah ke Korea?", tanya Soyoung setelah menstabilkan debar di dadanya.
Jun mengangguk, "Iya. Setelah ayahku meninggal dua bulan lalu, aku pindah kesini. Disini ada perusahaan orangtuaku yang nantinya harus kuurus saat sudah lulus sekolah"
"Oh, maaf", Soyoung nampak menyesal karna sudah mengungkit kematian ayah Jun.
Jun kali ini menggeleng lembut, "Tidak apa".
Meski begitu, entah kenapa, Soyoung merasa Jun sedang menyembunyikan sesuatu dengan ekspresi wajahnya.
.
.
.
.
.
.
"Soyoung-ah!", panggil sebuah suara dari pintu kelas.
"Yak! Hyun Ae! Kenapa kau harus berteriak begitu sih?! Aku kan bisa mendengarmu!"
Hyun Ae tertawa, "mian. Tapi kau tahukan, kelas ini tak ubahnya seperti pasar. Terlalu ramai! Menyebalkan!", jawab Hyun Ae sedikit berteriak.
"Ada apa?", tanya Soyoung berusaha mengalihkan kembali ke topic kenapa-Hyun Ae-memanggilnya-tadi.
"Oh! Apa kau sudah mengerjakan tugas saeng?"
"Tugas apa?"
"Sains?"
"Oh, yang itu. Sudah, kenapa?"
Bukannya menjawab, Hyun Ae malah mengeluarkan cengiran aegyonya.
"Aah~ kau mau melihat tugasku lagi?", tebak Soyoung.
"Hehe kau memang paling mengerti aku!", seru Hyun Ae memeluk sahabatnya.
'Tuk'
"Yak! Kenapa kau memukulku?!"
"Jung Hyun Ae, dengar. Kau ini kenapa? Kerjakan tugasmu sendiri! Lain kali, akan kubunuh kau jika terus seperti ini", omel Soyoung, meski begitu, tangannya terulur menyodorkan sebuah buku catatan pada Hyun Ae.
Gadis berambut pendek itu hanya menerima uluran Soyoung sambil terkekeh, sejurus kemudian, ia sudah sibuk menyalin tugas ke bukunya.
"Ssst! Saeng datang!"
Kelas langsung rusuh, beberapa siswa yang sedang duduk di meja langsung turun dan menempatkan diri serapi mungkin di bangkunya masing-masing, begitu juga dengan siswi yang sebelumnya sibuk mengobrol di meja guru. Untungnya, Soyoung dan Hyun Ae duduk di tempat yang berdekatan. Soyoung duduk tepat di bangku samping jendela, kursi disampingnya kosong. Dan Hyun Ae duduk didepan Soyoung, sebangku dengan lelaki bermata 10:10, Kwon Sonyoung.
"Selamat pagi", sapa Yoon Sseosangnim, siswa juga siswi di kelas serentak menjawab dengan tundukkan kepala, "Anak-anak, hari ini kalian mendapatkan siswa baru, pindahan dari Cina, Shenzen. Jun, masuklah.."
"Jun?", gumam Soyoung samar, "Bukan Jun yang itu kan? Bukan Jun yang kutemui di – ASTAGA!"
Seorang laki-laki masuk ke dalam kelas, di bahu kanannya tersampir sebuah tas ransel . Terkesan serampangan, tapi keren.
Keren bagi para siswi di kelas Soyoung, maksudnya.
Terbukti, begitu Jun melangkahkan kakinya masuk, suara jeritan dan bisikan-bisikan centil langsung mampir di telinga Soyoung, membuat gadis itu berdecak malas. Sementara sahabat yang duduk didepannya masih sibuk menyalin catatan tanpa memperhatikan sekitarnya yang mulai riuh.
"Anyeonghaseo, Wen Junhui imnida. Salam kenal"
"ada yang ingin kalian tanyakan?", tanya Saeng.
"Apa kau punya pacar?"
"Ha?", Soyoung mendelik.
Jun hanya tersenyum, yang dengan bodohnya, malah dibalas dengan jeritan dari si pencetus pertanyaan.
"Sudah. Lebih baik kau duduk di...", ucapan Saeng terputus saat melihat kursi di kelas hampir bisa dikatakan penuh.
"Kursi itu kosong", ucap Jun.
Tunggu. Tangannya menunjuk kemana?
"Ah benar. Kalau begitu kau duduk disana. Kau tidak keberatan jika ia duduk disampingmu kan, Im Soyoung?", tanya Saeng pada Soyoung.
Gadis itu mengangguk ragu, dan kemudian gumaman kecewa dari siswi lainnya mampir begitu saja di telinga Soyoung.
Yang Soyoung tahu, detik berikutnya, Jun sudah duduk tenang disampingnya.
"Apa aku perlu berkenalan lagi dengamu?"
Soyoung langsung tertawa kecil mendengarnya, "Kenapa kau tidak bilang kalau kau akan masuk Victory Art High School, sekolahku?"
Jun yang sudah mengarahkan pandangannya ke papan tulis menjawab sekenanya, "Bukannya aku sudah bilang kalau aku lupa?"
"Eum, iya juga..", Soyoung nampak kehabisan kata-kata.
"Omong-omong, perhatikan Saem"
"Ada apa memangnya?"
"Tidak ada apa-apa. Hanya saja Saem melihatmu sejak tadi, kurasa ia akan melemparmu dengan kapur sebentar lagi"
Soyoung langsung melempar pandangannya ke depan, dan benar saja, disana Yoon Saeng tengah menatapnya kesal.
"Apa sudah selesai bicaranya?", sindir Saeng.
Soyoung mengangguk takut, "J-jeosonghamnida, Sseosangnim".
"Sekarang buka buku sastramu"
"Y-ye..", Soyoung langsung membuka bukunya terburu-buru.
Dan Hyun Ae kita masih acuh, tersibukkan dengan salinan tugasnya.
.
.
.
.
.
.
.
From : Jung Hyun Ae
Soyoung-ah! Terimakasih sudah menyelamatkanku di tugas sains tadi! Lain kali aku akan mentraktirmu sebagai bayarannya! Berhati-hatilah di jalan pulang ^^
Soyoung tersenyum kecil membaca pesan dari sahabatnya, saat ini, ia memang masih duduk di bis, sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya. Arah rumahnya dan rumah Hyun Ae memang berbeda, selain itu, Hyun Ae selalu diantar jemput saat berangkat dan pulang. Jadi, ya, tentu saja mereka tidak saling menunggu untuk pulang sekolah.
.
Tentu saja. Tapi lain kali, aku takkan menolongmu. Belajarlah lebih rajin!
.
Tulis Soyoung membalas pesan sahabatnya.
"Kau pulang naik bis juga?"
Soyoung mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.
"J-Jun..?"
"Iya, kenapa?"
"T-tidak apa.."
"Kau naik bis juga?", ulang Jun.
"Menurutmu?", jawab Soyoung mendelik agak kesal. Maksud Soyoung, bukankah sudah jelas terlihat bahwa ia naik bis? Kenapa juga ia harus menanyakannya?
"Naik bis"
Soyoung tak menanggapi jawaban Jun, "Kau tinggal dengan siapa di rumah?"
"Sendiri"
Lagi-lagi Soyoung melihat wajah Jun nampak sedikit mendung.
"Soyoung-ah!"
"Ray?"
Mata Jun beralih pada seorang gadis yang rambutnya, Demi Tuhan, Jun benar-benar tidak mengerti dengan tren masa kini. Rambut gadis itu diwarnai dengan, eum, warna merah, kuning, hijau, biru, dan sedikit sentuhan kecoklatan emas di beberapa bagian. Ia memakai tank top kebesaran warna biru, ditambah stelan celana dan rompi jeans yang, eum, sobek? Entah kata apa yang tepat untuk menggambarkan model pakaian itu. Ah, pokoknya, tomboyish sekali.
"Yo!", gadis yang dipanggil Ray tadi mengangkat tangannya dan membuka jemarinya lebar-lebar.
"Ka-kapan kau kembali? Ya Tuhan, sudah berapa lama aku tak melihatmu?"
"Sekitar, eum, tiga tahun?", jawab Ray tersenyum lebar, jemarinya mengacungkan angka tiga tinggi-tinggi.
Jun, yang kemudian nampak tak peduli, hanya terdiam dan memasang headphone di kepalanya. Berusaha mengabaikan keributan di sekitarnya.
"Kau sedang apa di Korea?"
Wajah Ray yang semula berseri, kini tampak sedikit redup, "Aku kembali, Soyoung-ah. Apa kau tidak bahagia untukku?"
"Kenapa kau naik bis sendirian?", Soyoung langsung mengalihkan pembicaraan tanpa menjawab pertanyaan Ray yang rasanya, agak sedikit...sarkasme.
"Tidak sendiri", gadis itu kembali tertawa, "Aku sedang menjemput seseorang"
"Seseorang? Jangan bilang kalau maksudmu adalah.."
"Nah, itu dia!"
Bis berhenti, membuka pintunya, dan sang supir mempersilahkan seseorang masuk. Seorang laki-laki bertubuh tinggi, gagah, dan terlebih lagi,... tampan.
Senyumnya menawan, ditambah dengan sedikit sentuhan warna biru di rambutnya yang membuatnya justru semakin terlihat lebih menghipnotis mata. Kulitnya kecoklatan, sangat manly. Jika ia seorang artis, pasti ia akan memiliki banyak fans. Dan itu semua cukup untuk membuat Soyoung tak mampu mengedikan matanya barang sekalipun. Terlebih lagi, orang itu adalah seseorang yang Soyoung kenal.
Tidak,
Lebih dari sekedar kenal. Tapi, itu dulu. Di masa lalu. Masa lalu yang tak ingin Soyoung ingat lagi barang sedikitpun.
"Mi-Mingyu?"
Lelaki itu tersenyum, "Lama tidak bertemu denganmu, Soyoung-ah"
Kali ini udara terasa menghilang dari sekitar Soyoung.
Baiklah, Jun yang ternyata mendaftar di sekolah yang sama dengannya sudah merupakan kejutan untuk Soyoung. Lalu sekarang apa? Masa lalu yang hilang dikembalikan begitu saja oleh Tuhan padanya.
