Konnichiwa minna! Shu-chan is now back on stage! XD (gaje)
Chapter 2 is here! Updatenya kelamaan ya? Karena ada sekitar 4-5 hari Shu nggak bisa ngetik fic, dan dilanjutkan dengan membuat atribut MOS yang super duper gila selama 2 hari. Gomen... Tapi aku tetap berusaha menyelesaikannya secepatnya lho...
mind of vic: Disini aka nada cerita detail tentang Syaoran dan Fay lho ^^
Phoebe Yuu: Makasih buat pujiannya... Sesuai saranmu, di chapter ini aku nggak membuat bentuk skenario.
Buat yang lain, R&R please... ^^
xXx_xXx
Chronicle Of The Different Times
By: Shu Aliciel
Chapter Two: Truth About The Future
Disclaimer: TRC semuanya punya CLAMP
xXx_xXx
"Apa aku...suka pada Syaoran?" Ia melamun sebentar, lalu tersadar dan memukul pelan kedua pipinya.
"Yang benar saja, Sakura. Kau tidak begitu lama mengenalnya. Kau tidak mungkin suka padanya... Atau mungkin... Tidak, tidak! Tapi tidak ada hal yang tak mungkin 'kan? Atau itu salah? Uwaaa! Aku kacau!" Ucapnya pada diri sendiri sambil mengacak-acak rambutnya.
Jepit rambut yang dibelikan Syaoran untuknya. Ia melihat lagi benda itu lalu mengeluarkannya dari cover-nya. Sakura kini berada di depan cermin, mencoba memasang jepit rambut itu.
"Sakura, makan malam sudah siap. Cepatlah turun." Terdengar suara ayah Sakura yang berada di lantai bawah. Sakura pun cepat-cepat keluar kamar. Tetapi setelah memegang kenop pada pintu, ia berjalan lagi ke arah cermin.
"Memang terlihat sangat cantik." Gumamnya. Ia pun keluar dari kamar dan menghampiri ayah dan kakaknya yang sudah duduk di meja makan, menunggunya.
o0o
Keesokan harinya entah kenapa Sakura datang cepat ke sekolah. Adalah sebuah hal yang aneh ketika ia datang sebelum Tomoyo.
"Sakura-chan... Maaf, maaf, maafkan aku soal kemarin ya!" Ucap Tomoyo di depan Sakura sambil mengatupkan kedua tangan di depan wajahnya.
"Sudahlah, Tomoyo. Tidak apa-apa kok... Kita bisa pergi lain kali..."
"Tapi tetap saja aku merasa tidak enak...padamu dan juga Syaoran."
"Sudah kubilang tidak apa-apa. Syaoran juga pasti mengerti." Ucap Sakura agar temannya itu tidak terlalu merasa bersalah. Tomoyo menunduk dan memasang wajah menyesal. Sakura tersenyum ke arahnya.
"Oh iya, kemarin aku membeli ini. Satu untukmu, dan satu untukku." Sakura memberikan gantungan handphone yang ia beli kemarin. Gantungan handphone dengan hiasan manic-manik. Warna pink untuk Sakura, dan ungu untuk Tomoyo.
"Wah, ini bagus sekali. Terima kasih! Apa kau membelinya bersamaan dengan jepit rambut itu? Bentuknya cantik sekali lho." Ucap Tomoyo, sadar bahwa baru hari ini ia melihat Sakura memakai jepit rambut.
"Eh, ini..." Jawab Sakura dengan suara yang sangat kecil. Tomoyo memandangi wajah Sakura dengan heran karena tiba-tiba ia tersipu-sipu.
Tomoyo menyadari seseorang masuk ke dalam kelas. Syaoran. Langsung saja ia menyapa.
"Selamat pagi. Syaoran."
"Selamat pagi, Tomoyo. Sakura juga."
"Pa...pagi..."
Syaoran langsung saja duduk di kursinya tanpa menyadari wajah blushing Sakura.
"Syaoran, maafkan aku soal kemarin, ya. Aku janji kapan-kapan kita pergi bertiga."
"Tentu saja. Lain kali kita ke taman bermain saja." Ucap Syaoran, dan dibalas oleh anggukan Tomoyo.
"Sakura, kau kenapa? Dari tadi menunduk dan diam saja."
"Eh, tidak, tidak apa-apa."
Tomoyo melihat pada Sakura, keheranan. Sakura bersikap tak seperti biasanya. Diam sambil menunduk dan terkadang wajahnya menjadi merah.
'Apa kemarin terjadi sesuatu?' Pikir Tomoyo dalam hati.
Salah satu murid di kelas itu memanggil Tomoyo untuk meminta bantuannya.
"Tomoyo, bisakah kau membantuku sebentar?"
"Ya, ada apa?" Tomoyo pun berjalan menuju meja anak itu untuk membantunya. Meninggalkan Sakura dan Syaoran.
"Jepit rambut itu, kau memakainya?"
"Ah, iya." Jawab Sakura tersipu.
"Terlihat sangat bagus ketika kau memakainya." Ucapan Syaoran barusan membuat wajah Sakura makin memerah. Perasaannya bercampur antara senang dan malu.
"Ng...terima kasih..." Syaoran meresponnya dengan sebuah senyum.
o0o
Sekarang Sakura berada di rumah Syaoran, tanpa Tomoyo. Ia membantu anak yang tadi meminta pertolongannya. Anak itu minta diajarkan membuat kue agar bisa memberikannya saat ulang tahun pacarnya. Tomoyo yang baik tentu saja bersedia membantunya.
"Ng...Syaoran." Ucap Sakura sambil memegang cangkir tehnya.
"Ya, ada apa?"
"Apa kau tak terganggu aku sering datang ke sini?"
Syaoran berpikir sebentar.
"Hmm... Tidak kok. Malah aku senang kau sering menemaniku." Jawab Syaoran, tersenyum. Sakura senang, namun pikirannya jadi buyar. Cangkir teh terlepas dari tangannya dan mengenai roknya.
"Auhh!"
"Sakura, tidak apa-apa?" Syaoran bangkit dan menghampiri Sakura.
"Ya. Tapi sekarang rokku basah."
"Akan kuambikan lap. Tunggu sebentar ya." Syaoran berdiri dan berjalan masuk, namun Sakura mencegahnya.
"Tidak usah. Aku ambil sendiri saja."
"Benarkah? Lapnya ada di dapur. Kau tinggal jalan ke situ, belok ke kanan, lalu berjalanlah lurus, dan belok ke kanan Lagi. Aku akan membereskan yang tumpah di sini." Ucapnya menunjukkan arah pada Sakura.
"Baiklah." Sakura pun berjalan ke arah yang ditunjuk oleh Syaoran.
Setelah berbelok kanan satu kali, ia berjalan lurus menuju belokan selanjutnya. Namun ia berhenti di depan sebuah kamar yang pintunya terbuka. Di dalam kamar itu terdapat tabung kaca yang selalu dijaga oleh Fay.
'Mungkin ini kamar Fay?' Pikirnya. Menyadari Fay tidak ada, ia pun masuk menuju ke tabung kaca tersebut. Jujur, ia penasaran dengan kunci yang berada di dalam tabung itu. Ia lalu duduk dan mengangkat benda itu dengan kedua tangannya dan memperhatikan benda tersebut.
'Apa ada yang special dengan kunci ini?' pikirnya karena Sakura melihatnya hanya sebagai kunci antik biasa. Tiba-tiba saja kunci itu bercahaya dan melayang di dalam tabung. Karena kaget, ia melepaskan tabung itu dari genggamannya. Tabung itu akan pecah jika saja ia tidak berusaha mengambilnya kembali.
Pelan-pelan ia letakkan lagi benda itu. Sakura pun bangkit dan berjalan mundur ke belakang, takut sesuatu terjadi pada benda itu.
'Ke...kenapa benda itu tiba-tiba...'
"Sakura-chan?"
Sakura dikagetkan oleh suara yang berasal dari arah belakangnya. Sakura menoleh. Entah sejak kapan Fay berdiri di sana.
"A...ku... Sedang mencari di mana dapur, tetapi nampaknya aku tersesat..."
'Di rumah sekecil ini?' Ucap Fay dalam hati. Tapi tak ia katakan karena tak ingin membuat Sakura merasa tersinggung.
"Oh... Kau tinggal belok ke arah sini. Di sanalah dapurnya."
"Terima kasih." Sakura pun cepat-cepat pergi, tidak ingin membuat Fay curiga.
_SYAORAN POV_
Aku menyadari suara langkah kaki dari arah belakangku.
"Kau sudah selesai, Sakura?"
"Ya, begitulah" Jawabnya. Akupun mengobrol dengannya, gadis yang tak pernah membuatku bosan dan menarik perhatianku, bahkan sejak pertama aku melihatnya.
Perbincangan kami pun selesai. Sakura sudah dalam perjalanan ke rumahnya. Dari tadi ia bersikap agak aneh. Sering menjadi ahak gugup ketika bicara denganku. Mungkinkah lama-lama ia agak bosan dan tak suka padaku?
Kubuang pemikiran itu jauh-jauh. Entah mengapa aku benar-benar tak ingin dibenci olehnya. Aku pun mengangkat beberapa cangkir bekas teh dan berjalan ke arah dapur.
"Syaoran." Fay memanggilku dari dalam kamarnya yang terbuka. Akupun menoleh. Ia memegang tabung kaca itu dengan satu tangannya.
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu." Tanpa menjawab, aku pergi menuju dapur. Meletakkan benda-benda yang tadi kubawa dan kembali menghampiri Fay. Aku tak masuk, melainkan hanya berdiri di depan pintu menatap Fay.
"Ini tentang Sakura-chan...dan kunci ini." Mendengar itu akupun masuk dan duduk di depan Fay yang sedang duduk bersandar pada dinding. Memangnya apa hubungan Sakura dan kunci itu?
"Kunci ini bereaksi padanya." Aku kaget mendengarnya. Aku tak sanggup berkata-kata.
"Kau yakin?" Ucapku ragu pada omongan Fay.
"Aku melihatnya sendiri. Ketika ia mencari letak dapur. Dia masuk ke kamar ini dan menyentuh tabung kacanya. Ia tak tahu aku ada di sana. Aku melihat ada cahaya dari dalam tabung itu. Kunci itu bercahaya." Jelas Fay padaku.
"Tapi apakah mungkin? Sakura-chan adalah..."
"Ini sesuatu yang pernah dikatakan Yukito-san. Kunci itu akan bereaksi pada kekuatan yang sama dengannya. Dengan kata lain, pembuat kunci itu sendiri."
Sakura adalah pembuat kunci itu? Itu tidak mungkin!
"Pembuat kunci ini adalah orang yang bernama Clow Reed. Sakura mungkin sudah tidak ada ketika orang itu terlahir." Ucapku mencoba berkelit.
"Kenapa kau tak percaya juga? Kunci ini tak pernah bereaksi pada siapapun juga. Yukito-san bilang kunci ini hanya bereaksi pada pembuatnya, dan sekarang ia bereaksi pada Sakura." Balas Fay setengah berteriak padaku.
"Jadi, kau mengatakan bahwa Sakura bisa menolong kita...kita semua?"
"Karena hal itu memang tidak mustahil 'kan?"
Akupun diam. Memikirkan semua yang dikatakan oleh Fay sebelum akhirnya aku bicara lagi.
"Fuuh...lucu ya?"
"Apanya?" Ucap Fay bingung dengan omonganku.
"Susah payah kita mencari pemilik kunci ini hingga kita tersudut dan dikirim ke sini. Tapi ternyata kita malah menemukannya disini... Takdir yang lucu sekali."
"Kita malah menemukannya di sini. Tempat yang berbeda. Atau harus kubilang masa yang berbeda?"
o0o
_SAKURA POV_
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Aku masuk ke kamarku setelah makan malam. Sekarang aku sedang berbicara dengan Tomoyo melalui telepon.
"Tadi kami membuat Chocolate Mousse Cake, aku akan membawanya ke sekolah besok."
"Jadi kalian membuat dua kue?" Ucapku dengan sangat girang. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana kelezatan kue tersebut
"Ya."
"Aku ingin cepat-cepat memakannya! Habisnya kau tak pernah membuat makanan yang tidak enak"
"Hihi... Baguslah kalau kau suka makanan yang kubuat. Oh ya, Sakura..."
"Apa?"
"Boleh tidak aku bertanya sesuatu?"
"Silahkan saja."
"Tentang kau dan Syaoran, apa ada sesuatu?"
Setelah ia mengucapkan kalimat tersebut, aku menjadi sangat gugup.
"Me...mangnya kenapa?" Ucapku agak terbata
"Kalau tentang hal yang berhubungan dengan Syaoran, akhir-akhir ini sikapmu agak..." Akupun menyela dengan cepat.
"Tidak kok. Biasa saja."
"Sakura, apa kau menyukai Syaoran?"
Suka pada Syaoran. Aku kaget dia berkata begitu. Apa itu hanya sebuah tebakan jitu atau memang Tomoyo bisa membaca pikiran orang?
"Aku...mulai berpikir kau adalah seorang peramal."
"Maksudmu?" Tanyanya bingung.
"Yaaah..."
"Eh? Jadi benar ya? Aku tadi Cuma menebak lho..." Jawabnya dari seberang telepon. Aku bisa membayangkan Tomoyo tersenyum di sana.
"Ya. Tebakan jitu."
"Jadi, apa kau mau menyatakannya?"
Pertanyaan barusan membuatku diam dan berpikir. Kalau dinyatakan, berarti Syaoran akan jadi pacarku?
"Belum tahu..." Jawabku jujur karena aku memang tidak tahu.
"Ooh...kalau kau mau menyatakannya, aku akan mendukungmu lho."
"Terima kasih, Tomoyo..."
o0o
_NORMAL POV_
"Pagi, Sakura-chan... Hampir terlambat lagi?" Ucap Syaoran yang sedang berdiri di dekat pintu kepada Sakura. Sakura membuka pintu dengan kasar karena ia kira ia akan terlambat lagi.
"Selamat pagi... Ya, seperti biasa. Kau sedang apa?"
"Hari ini giliranku piket. Baru saja aku mau mengganti air di vas bunga ini." Jawab Syaoran yang saat itu memang memegang sebuah vas bunga dengan kedua tangannya.
"Oh, kalau begitu sebaiknya kau cepat. Nampaknya sebentar lagi bel berbunyi."
"Ya."
Sakura melihat Syaoran hingga ia menghilang dibalik pintu kelas. Ia pun melanjutkan berjalan menuju bangkunya.
"Selamat pagi."
"Pagi, Sakura." Tomoyo dan seorang murid kelas yang ia ajak bicara menjawab salam Sakura. Setelah itu, Sakura duduk dan diikuti dengan Tomoyo di sampingnya. Tidak lama kemudian bel sekolah berbunyi.
Sebelum guru masuk ke kelas, keadaan kelas agak gaduh. Terdengar seseorang membuka pintu kelas dan semuanya langsung terdiam. Mereka mengira itu adalah guru mereka, namun ternyata Syaoran yang masuk membawa pot bunga yang airnya sudah diganti.
" Yaaah..."
"Ternyata hanya kau, Syaoran."
"Huuh.. Kau membuat kaget saja."
Begitulah ucapan-ucapan yang diserukan oleh seisi kelas. Syaoran merespon mereka dengan tersenyum sambil sedikit tertawa.
"Haha. Maaf mengecewakan kalian, teman-teman."
o0o
"Sakura, bisa kau ikut denganku sebentar?"
"Eh?" Kata-kata itu diucapkan Sakura dan Tomoyo bersamaan sebagai ekspresi kaget mereka.
"Ng...iya." Ucap Sakura, lalu mengikuti Syaoran, berjalan di belakangnya. Sebelum keluar dari kelas, Sakura sempat menoleh ke arah Tomoyo dan mendapati raut wajah gadis itu yang masih agak kebingungan tetapi setelah itu ia tersenyum ke arah Sakura.
Sakura pun keluar dari kelas dan mengikuti Syaoran yang tampaknya hendak membawanya ke atap sekolah. Syaoran membawa sebuah tas kecil berwarna biru di tangan kanannya. Sakura pun penasaran aka nisi tas tersebut.
Mereka berdua menaiki tangga. Syaoran membuka pintu terlebih dahulu, lalu berjalan keluar diikuti oleh Sakura. Syaoran pun berdiri memunggungi Sakura.
"Kau, tahu benda yang kubawa ini?" Ia pun berbalik, membuka tas biru itu dan mengeluarkan isinya.
"Itu..." Sakura kaget lantaran melihat benda itu adalah tabung kaca yang selalu dibawa oleh Fay. Kemarin ia membuatnya bercahaya. Sakura pun merasa takut karena mungkin ia merusak benda itu, dan Syaoran akan marah padanya.
"Kemarin kau menyentuh benda ini dan membuatnya bereaksi." Ucap Syaoran dengan mimik serius.
"Apakah...Fay melihatku?" Jawab Sakura takut-takut.
"Ya, benar. Ia melihatmu dan lalu menceritakannya padaku." Kali ini Syaoran mengucapkannya dengan tersenyum karena ia sama sekali tak bermaksud untuk membuat gadis itu takut dan merasa bersalah.
"Sekarang, Sakura..." Sakura menelan ludah, menanti kelanjutan dari kalimat tersebut.
_SAKURA POV_
"Sakura...aku...ingin minta maaf..."
Minta maaf? Soal apa? Rasanya ia tak pernah berbuat salah padaku.
"Aku sudah banyak berbohong padamu." Lanjutnya.
Ia terus membuatku bingung. Kali ini ia bilang banyak berbohong padaku, tetapi aku tak pernah sekalipun merasa dibohongi olehnya.
"Berbohong? Tentang apa?" Tanyaku meminta penjelasannya.
"Tentang semua yang kau ketahui mengenai diriku." Akupun terdiam tak dapat menjawab apapun.
Dia bohong padaku tentang semua yang kuketahui tentangnya? Kenapa?
"Maaf Sakura, aku punya alasan tersendiri..."
"Kalau begitu, ceritakan." Ucapku dingin.
"Kau membicarakannya denganku, itu artinya kau ingin menceritakan yang sebenarnya, 'kan?" Kulanjutkan kalimatku. Tapi yang kulihat Syaoran hanya menunduk dan terdiam.
"Aku harap kau menceritakannya, Syaoran. Karena kau adalah temanku yang berharga bagiku." Nada bicaraku melembut. Itu benar. Syaoran adalah teman berharga milikku. Bahkan mungkin lebih...
"Memang itulah rencanaku." Ucap Syaoran, tersenyum padaku.
"Tapi jangan sekarang. Waktu istirahat terlalu pendek." Lanjutnya
"Apakah ceritanya akan sangat panjang?"
"Ya, dan mungkin agak rumit. Dan aku mohon padamu, jangan ada orang lain yang mengetahuinya."
"Kalau begitu, saat pulang sekolah. Bisa kita bicarakan sambil berjalan pulang dan mampir di suatu tempat atau mungkin menunggu sekolah kosong. Bagaimana?" Kali ini akulah yang tersenyum. Aku tak ingin bersikap dingin pada Syaoran sekalipun ia berbuat salah kepadaku.
"Setuju..."
o0o
Sore hari, di sebuah taman. Ketika sore tiba taman ini menjadi sangat sepi karena biasanya hanya anak-anak kecil yang bermain disini. Sakura duduk di kursi taman ditemani Syaoran yang bersandar pada sebuah tiang lampu
"Dulu kubilang aku bukan berasal dari sini, dan tempat tinggalku di Korea. Kau masih ingat itu?" Sakura menjawabnya dengan sebuah anggukan, tanpa kata-kata.
"Sebenarnya aku bukan berasal dari Korea. Kau mungkin akan menganggap ini mustahil..."
"Kau tidak perlu ragu mengatakan semuanya, Syaoran. Karena aku akan mempercayai apa yang kau katakan sekarang." Ucap Sakura tegas. Syaoran terdiam agak lama.
"Aku datang dari masa depan." Sakura hampir mengingkari kata-katanya tadi yang menyatakan bahwa ia akan percaya pada apapun yang Syaoran katakan. Tapi bukannya ia tak percaya, ia hampir tertawa karena mengira itu lelucon. Namun Syaoran mengucapkannya dengan mimik serius.
"Yang kukatakan barusan adalah jujur, Sakura." Kali ini Sakura benar-benar kaget, membuat raut wajahnya menjadi serius.
"Mengapa kau...menceritakan ini padaku?"
"Karena kau harus mengetahuinya. Aku butuh kau untuk mengetahuinya."
"Kenapa?" Tanya Sakura singkat.
"Karena kau, Sakura. Mungkin berhubungan dengannya. Konflik yang terjadi di tempat asalku itu."
"Kalau begitu, ceritakanlah."
Syaoran menarik nafas panjang, lalu berpikir. Membiarkan suasana di sekitar mereka hening sejenak.
"Masa depan adalah tempat yang kacau, dimana orang-orangnya kekurangan sumber daya. Kabut tebal melingkupi langit seperti membatasi sinar matahari yang terpancar ke bumi, dan di beberapa tempat selalu turun hujan asam. Itulah tempat tinggalku." Syaoran menutup matanya, mencoba mengingat-ingat keadaan di sana, di masa depan tempat ia tinggal.
"Di tempat seperti itu, ada dua kekuatan yang dapat membuat manusia bertahan. Dua kekuatan itu adalah sihir dan teknologi. Sihir hanya bisa dilakukan oleh beberapa orang. Fay-san dapat melakukannya, tapi aku ada di golongan orang-orang yang tidak memiliki kekuatan sihir."
Syaoran menjelaskan dan Sakura mendengarkannya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia mencoba untuk mencermatinya.
"Pemerintahan masih berdiri di sana. Namun, mereka semua curang. Mereka tidak memikirkan rakyat, bahkan mungkin mereka ingin menghabisi kita satu-persatu. Mereka mengambil sumber daya kami tanpa menyisakan sedikitpun untuk kami. Kami selalu kalah karena mereka menyimpan benda-benda berteknologi tinggi yang tak kami punya."
Sakura miris mendengarnya, merasa kasihan dan bersyukur karena ia tak hidup di zaman seperti itu. Ia lebih beruntung dari orang-orang di sana.
"Kami membagi wilayah menjadi dua bagian dan ditengah kedua wilayah tersebut terdapat sebuah labirin yang katanya dibangun sendiri oleh penyihir bernama Clow Reed yang lahir 300 tahun sebelum konflik rakyat-pemerintah. Labirin itu terbuat dari tumbuhan, namun entah kenapa besar labirin itu tidak berubah selama 300 tahun." Ucap Syaoran sambil menerawang ke arah langit.
"Banyak orang yang telah mencoba masuk dan memecahkan jalur di dalam labirin tersebut, namun banyak dari mereka yang hilang dan tak kembali. Beberapa orang terbang dengan sihir dan mencoba membuat peta labirin tersebut, namun tidak ada yang dapat menyelesaikan peta tersebut, dan mereka bilang..."
Syaoran merasa bercerita terlalu panjang, ia pun berhenti sejenak untuk mengambil nafas, lalu melanjutkan ceritanya.
"Jalur di labirin itu selalu berubah-ubah. Pasti ada sihir yang bekerja di sana. Sihir yang tidak membiarkan seorangpun mengetahui apapun yang ada di labirin itu." Ucap Syaoran. Raut wajahnya terlihat seperti sedang berpikir.
"Sihir..." Sakura bergumam pada dirinya sendiri.
"Ya, sihir. Labirin itu sendiri terbuat dari sihir. Dan katanya di dalam labirin itu ada sebuah kekuatan yang sangat-sangat besar. Dan kunci ini dapat membukanya. Di duniaku terdapat dua kunci. Yang kunci yang ini adalah salah satunya...dan yang satu lagi berada di tangan para pemerintah."
"Dan kau bilang, aku mungkin berhubungan dengan hal-hal itu?" Sakura menanyakannya karena tadi Syaoran memang bilang bahwa dia memang harus tahu tentang hal ini.
"Ya...mungkin. Kunci ini hanya dapat digunakan oleh pemilik aslinya, dan kemarin kau membuatnya bereaksi 'kan?"
"Ya. Kunci itu bercahaya dan melayang di dalam tabung kaca." Jelasnya sambil berusaha mengingat kejadian itu.
"Kau mungkin pemilik dari kunci ini, Sakura." Kata-kata itu membuat Sakura yang tadinya menunduk kembali mengangkat kepalanya dan menatap wajah Syaoran.
"Tapi hal itu agak mustahil, karena...Kau tahu, ketika Clow Reed lahir kau mungkin sudah tidak ada." Lanjutnya lagi. Saoran terdiam cukup lama.
"Kunci ini adalah alasan mengapa aku datang kemari." Ucap Syaoran lagi, melihat ke arah kunci yang saat ini sedang dibicarakannya.
"Kami, dan juga para pemerintah tidak dapat menemukan pemilik kunci ini, yaitu reinkarnasi dari Clow Reed. Pemerintah berusaha merebut kunci yang kami miliki, mengantisipasi kemungkinan kami duluan yang menemukan orang yang tepat. Jadi kami tetap tak bisa berbuat apa-apa."
"Mereka...begitu licik." Sakura mengatakannya dengan nada tak suka, dan Syaoran enggan berkomentar apapun.
"Mereka terus mengejar kami, berusaha merebut kunci tersebut hingga akhirnya kami tersudut. Seseorang dari kami mengirimku dan Fay-an bersama dengan kunci ini agar tidak jatuh ke tangan mereka."
"Dan orang itu mengirim kalian ke sini?"
"Benar. Ke tempat yang benar-benar aman dan jauh dari mereka semua..."
Syaoran kembali diam, membiarkan desiran halus angin terdengar jelas di telinga mereka. Ia lalu berjalan mendekati Sakura.
"Sebaiknya kau pulang, Sakura." Hari memang sudah senja dan matahari sudah hampir menghilang.
"Tentu. Jika terlalu malam, ayahku mungkin khawatir." Sakura pun berdiri lalu berjalan memunggungi Syaoran.
"Syaoran..." Ucapnya. Ia pun berbalik mengadap Syaoran.
"Terima kasih, kau mau jujur mengatakannya padaku." Ia tersenyum dan Syaoran pun membalas senyumnya.
"Tapi, Sakura. Kumohon jangan ceritakan ini pada Tomoyo..."
"Baiklah. Jika itu yang kau minta."
Sakura sudah berjalan di depannya, namun Syaora tetap berdiri diam di tempatnya.
"Sekarang saja aku sudah membahayakanmu dengan menceritakan hal ini. Aku tak ingin membahayakan siapapun lagi." Ucapnya pelan. Sakura dapat mendengarnya mengatakan sesuatu, namun tidak terdengar jelas karena suaranya begitu kecil ditelan suara hembusan angin.
"Ng? Kau mengatakan sesuatu?" Ucap Sakura sambil menoleh ke arah belakangnya, ke arah Syaoran.
"Tidak. Mungkin kau hanya mendengar suara angin..."
"Kalau begitu, ayo cepat jalan. Jika berlama-lama di sini, kau bisa masuk angin." Sakura berlari ke arah Syaoran dan meraih tangannya.
"Ya, tentu..."
~To Be Continued~
Nah, bersambung lagi...!
Sudah jelas 'kan tentang Syaoran dan Fay?
Yang punya komentar-komentar, silahkan klik tulisan 'review' di bawah ini ya... ^^
