Narusasu Family © hedictator

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

Warning(s): AU, OOC (maybe Sasuke, a lil bit, or maybe… much), surrogacy, miss-typing, drama banget dan segala kekurangan lainnya.

.

NARUSASU

.

Rated: Sementara T, soon to beM (nggak janji) LOL

If you don't like it? So, don't force yourself to read it.


.

.

.

"Naruto! Disini!" Sakura berseru saat melihat pasangan Uzumaki masuk ke dalam café. Naruto menoleh ke asal suara dan melambai ke Sakura. Sasuke? Dia hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa, hanya mengekor Naruto di belakang.

"Yo, Sakura. Maaf membuatmu menunggu. Tuan muda Sasuke butuh persiapan lama untuk menuju kesini." Naruto menghampiri Sakura, mencium pipinya sebagai sapaan, kemudian duduk di hadapan Sakura.

Sasuke melakukan hal yang sama, ia tidak ambil pusing dengan apa yang baru dikatakan suaminya, terserah dialah mau berkata apa.

"Kalian pergi bareng?".

"Tidak, dia bawa mobil sendiri." Naruto yang menjawab.

"So, ini kalian masih ajang tanya-tanya saja, kan? Soalnya aku belum membawa dokumen dan surat perjanjiannya." Naruto menangguk.

Sasuke duduk di sebelah Naruto, tangannya melambai memanggil pelayan.

"Kau sudah menjelaskannya padaku. Sekarang coba jelaskan ke Naruto. Kalau aku yang jelaskan, aku takut salah informasi." Seorang pelayan datang ke arah mereka, menanyakan pesanan kemudian mencatat pesanan Sasuke, dan untuk Naruto, Sasuke sudah hapal betul apa yang di sukai suaminya, green tea latte dan black coffee untuknya.

"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan Naruto?"

"Aku juga bingung ingin bertanya apa. Kalau begitu, siapa yang akan menjadi ibu titipannya?"

"Mengenai itu, kami sudah memiliki list siapa-siapa saja wanita yang mendaftar menjadi ibu titipan. Sebelumnya, kalian harus tau terlebih dahulu. Proses ini tidaklah gratis. Kalian akan melakukan perjanjian dengan wanita tersebut dan harus memberikan imbalan yang kalian sepakati bersama. Dan tentunya itu dalam bentuk materi, dengan kata lain uang. Untuk kami sendiri, tidak ada. Hanya saja kalian harus membayar untuk obat pemicu ovulasi, pemeriksaan ultrasonografi dan tentunya untuk melakukan check-up yang pastinya dikenakan biaya yang tidak murah." Sakura mengaduk-aduk americanonya sambil menjelaskan.

"Kalau masalah uang, kau tidak usah khawatir. Itu biar aku saja yang urus." Ia melirik Sasuke, Sasuke sih tidak masalah. Toh lelaki yang di sebelahnya ini suaminya, yah wajar-wajar saja sih.

"Tapi, Sakura, ini legal kan?" Sasuke tiba-tiba buka suara.

"Yup, bersyukurlah pemerintahan Kanada sudah melegalkan praktik ini. Di beberapa Negara, contoh Indonesia dan Malaysia bahkan Jepang sendiri, mereka tidak melegalkan praktik Surrogacy ini."

"Dan tidak ada seks, kan? Kalau ada, aku batal melakukan proses ini." Ujar Naruto tegas.

"Nope. Di dunia kedokteran kami menyebutnya Fertilisasi in Virto, ini sebuah teknik pembuahan di mana sel telur dibuahi di luar tubuh wanita. Sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan akan dibiakkan di dalam lemari pengeram kemudian diimplantasikan ke dalam rahim ibu titipan. So tidak ada seks. Kau tenang saja Naruto. I know so well that your dick is devoted to your lovely Sasuke." Sasuke menyeringai kecil dengan mata yang menyipit. Sesekali menggoda Naruto tak apakan?

"SAKURA!" Kedua berseru, kaget sekali dengan omongan vulgar dokter cantik di hadapan mereka. Sakura tidak peduli, ia malah tertawa melihat reaksi keduanya.

Sakura menambahkan lagi, "Oh ya, aku punya soft copy dokumen wanita yang bersedia menjadi ibu titipan. Aku akan kirim ke e-mailmu sekarang." Sakura mengambil ponsel pintarnya di dalam tasnya dan mulai mengotak-atik isinya.

Naruto mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menunggu pesan masuk dari Sakura. Selagi proses kirim e-mail berlangsung, seorang pelayan datang, membawakan pesanan Sasuke dan Naruto.

Dokumen sudah masuk ke e-mail Naruto. Naruto membuka dokumen dari Sakura tersebut dan kemudian memberikan ponselnya kepada Sasuke.

"Kenapa?" Sasuke menghentikan seruputan pada gelas kopinya.

"Kamu saja yang pilih siapa wanita terbaik, nanti aku akan cek setelah kamu memilih. Aku tahu pilihanmu tak pernah salah."

Sasuke agak tersanjung mendengar perkataan suaminya. Tapi sedikit saja. Wajahnya saja tetap datar, tapi di hatinya dia sempat merasa senang.

Ada lima dokumen yang menampilkan lima foto wanita dengan profil mereka. Sasuke memperhatikan dengan baik-baik. Kelima wanita tersebut berkebangsaan Kanada. Tapi dua di antaranya memiliki kebangsaan Jepang sebelum berpindah menjadi Kanada. Ini semua menentukan masa depannya dan Naruto. Jadi, ia harus teliti.

"Bagaimana dengan ini?" Sasuke menyodorkan kembali ponselnya ke Naruto, layar ponselnya menampilnya seorang wanita dengan rambut indigo sebahu dan mata violet. Naruto mengambil ponselnya dan membaca profil dari wanita tersebut.

Hyuga Hinata. Berkebangsaan Kanada. Lahir di Tokyo, 28 Agustus 1990. Belum menikah. Memiliki usaha toko bunga dan info lainnya.

"Kau yakin dengan pilihanmu?" Naruto melirik ke arah Sasuke. Sasuke menaikkan alisnya.

"Bukannya kau percaya dengan pilihanku?" Sakura yang sedari tadi memperhatikan, tersenyum kecil mengetahui Sasuke bisa ngambek juga.

"Bukan, bukan begitu sayang. Aku percaya kok. Aku ingin double check saja."

Naruto melirik Sakura yang ada di hadapannya kemudian ia berujar, "apakah ini berarti, wanita tersebut akan menjadi ibu dari anak kami?"

Sakura tersenyum, "Dalam kasus ini, jika pasangannya adalah pria dan wanita, tidak. Walaupun secara biologis ibu titipan itu adalah ibunya. Oleh karena itulah dilakukan perjanjian, Naruto. Mempertegas apa-apa saja yang perlu dipertegas, baik dari kedua pasangan dan ibu titipan itu sendiri."

Sakura meminum kopinya sedikit sebelum kembali melanjutkan, "Dan, kalau kasusnya adalah dua pria, maka mau tidak mau, dia menjadi ibu anak tersebut. Dan yah, kau bisa membuat wanita itu tidak ikut campur setelahnya, jika itu yang kalian inginkan dan buat dalam surat perjanjian nanti."

Sasuke sangat fokus mendengarkan, untuk informasi barusan, ia baru tau. Dia tidak terpikir menanyakan itu kepada Sakura waktu itu.

"Lalu, sperma siapa yang akan digunakan? Sperma kami berdua?"

Lagi-lagi pertanyaan yang belum di tanyakan Sasuke. Nice job, my beloved husband.

"No. Hanya satu, dari kalian berdua. So, kalian sudah menetapkan? Soal sperma siapa yang akan membuahi?"

Sasuke dan Naruto saling pandang. Sasuke berdahem pelan, "tentu saja Naruto. Aku ingin punya anak dari Naruto, bukan dari sperma milikku." Sakura mengangguk mengiyakan, ia rekam di ingatannya. Sempat kaget juga, cara Sasuke mengatakan dan pemilihan katanya, sangat tidak Sasuke sekali.

Disisi lain, Naruto yang mendengar pernyataan gamblang dan sedikit vulgar dari Sasuke, merasa sedikit malu mendengarnya, ia tidak terbiasa mendengar Sasuke berkata seperti itu. Lain konteks kalau mereka sedang di ranjang.

Setelahnya, Naruto kembali fokus ke Sakura, "Sakura, dia tidak memberikan alasan kenapa dia ingin menjadi ibu titipan disini? Kenapa? Aku agak sedikit curiga juga, dengan dirinya yang bekerja sebagai pemilik toko bunga dan belum menikah. Apa dia sedang butuh uang?"

Sakura mengelus pinggiran gelas kopinya, "untuk itu, aku belum bisa memastikannya. Ada baiknya kalian bertanya lebih saat nanti bertemu dengannya. Aku akan membuat janji, kalian berdua bisanya kapan?"

"Aku bisa kapan saja. Coba tanya Naruto, dia selalu sibuk. Hari ini saja dia batalkan janjinya dengan klien demi bertemu denganmu Sakura."

"Bukan demi bertemu denganku, Sasuke. Tapi demi memenuhi keinginanmu." Sakura mengkoreksi. Naruto menggerling ke arah Sakura. Setuju berat dengan pernyataan barusan. Pukulan kecil di hadiahkan Sasuke di bahu Naruto.

Naruto mengecek jadwal di ponselnya, kapan dia bisa free. "Sepertinya sabtu siang aku bisa."

Sakura menjentikkan jarinya,"Fix. Sabtu kalau begitu. Jam dua siang. Disini. Nanti aku akan menghubungi Hyuga Hinata." Ia membuat reminder di ponselnya.

"Sebelum kita akhiri pertemuan kita, aku ingin bertanya sesuatu. Ini serius dan mungkin topik yang akan sangat sensitif."

Kenapa sangat sensitif, karena Sakura mengenal Naruto dan Sasuke itu bukan kemarin sore, tapi sudah dari jaman SMA. Dia tau semua hal yang terjadi dengan mereka dan keluarga mereka. Bahkan, Sakura yang memberikan mereka ide untuk pindah ke Kanada.

Naruto dan Sasuke diam mendengarkan. Naruto sempat melirik ke Sasuke, ingin tau rahut wajah seperti apa yang Sasuke buat. Ternyata, ia tampak tenang.

"Bagaimana dengan keluarga kalian di Jepang? I mean, yeah I know, it's not my business and that is nothing to do with the conditions, about your family agreement, and that's not the part of the requirements also, but yeah, I just curious want to know. "

Naruto hendak buka suara sebelum di ambil alih oleh Sasuke. Tapi, Sasuke keburu memotong dan melanjutkan perkataannya.

"I mean, those children, they need to know their roots. But, yeah, it's all your decisions. I can't say much." Sakura memanggil pelayan untuk meminta bill. Pelayan tersebut segera mengantarkan bill dan Sakura langsung membayarnya.

"Okay, sampai jumpa hari sabtu. Aku duluan yah, aku masih ada shift di rumah sakit." Ia mencium pipi kedua pria itu bergantian dan say goodbye ke Kakashi yang sibuk mengontrol pegawainya di balik counter.

"How is it, Sasuke?"

Sasuke hanya diam, matanya menatap dalam pada cairan hitam dalam gelas di hadapannya. Naruto memutuskan untuk tidak bertanya lagi, ia menarik kepala Sasuke ke sisinya dan mencium puncak kepalanya.

"It's okay, semua akan baik-baik saja. Masalah itu, kita pikirkan nanti saja."

"Apa menurutmu aku mengambil keputusan yang salah, tentang ingin memiliki anak ini?"

Naruto tersenyum kecil, ia mencuri kecupan kecil di bibir suaminya, "tentu tidak, sayang. Aku senang dengan idemu. Tidak ada yang pernah salah dengan idemu, bahkan dengan kita pindah, mengganti kewarganegaraan dan menikah di Kanada. Aku mensyukuri segalanya. Tidak ada yang perlu di sesali." Sasuke hanya mengangguk, ia memeluk Naruto.

Setelahnya mereka beranjak, membayar langsung ke kasir sekalian pamit dengan Kakashi.

Mereka pulang dengan mobil berbeda, Naruto masih harus kembali ke kantor untuk urusan kerjaannya dan Sasuke pulang sendiri dengan mobilnya.

Di perjalanan ia tak begitu fokus mengendarai, semua tentang anak dan ibu titipan ini, tidak kalah membuatnya kepikiran di bandingkan diingatkan kembali tentang keluarganya di Jepang. Ia memutuskan untuk tak memikirkannya dulu selagi ia berkendara. Ia tidak ingin besok masuk koran karena kecelakaan akibat keteledorannya.

Sesampai di apartemen atau sebut saja rumah, yang sudah mereka tinggali berdua selama empat tahun sejak kepindahan mereka ke Kanada, Sasuke tanpa mengganti pakaiannya, ia menghempaskan begitu saja badannya di tempat tidur, tidak tau kenapa ia merasa sangat lelah. Wajahnya kembali sedih jika mengingat keluarganya. Satu tetes air mata mengalir dari matanya, ia mengusapnya cepat. Tiba-tiba ia rindu dengan suaminya, padahal tadi baru saja jumpa.

To : Naruto

Subject: -

Cepat pulang, aku tiba-tiba ingin memelukmu.

Sasuke menatap layar ponselnya sejenak, dia memang sangat melankolis kalau mengekspresikan sesuatu melalui tulisan. Tema novel yang ia buat juga isinya seperti itu sih. Melancholic and tear-jerking stories that have no mercy to your fragile heart.

Send.

Beberapa saat kemudian suaminya membalas. Cepat juga dia.

From : Naruto

Subject: -

Kenapa kau terdengar seperti istri yang sedang ngidam Sasuke? Hahaha, tahan sebentar yah sayang. Suamimu tercinta sedang mencari uang banyak untuk calon anak kita. Fufufu :*

Bodoh. Sasuke tahu memang Naruto bodoh tapi dia sangatlah manis. Sasuke tersenyum kecil, sejenak Naruto bisa membuatnya melupakan kesedihannya tadi.

To : Naruto

Subject: -

I do love you.

Send. Sasuke tak perlu menunggu balasannya. Ia sudah tahu apa yang akan di ketik Naruto. Ia campakkan ponselnya ke sebelah, kemudian mencari posisinya nyaman untuk tidur. Ia terlalu mengantuk untuk melanjutkan naskah novelnya dan untuk makan malam, iya rasa Naruto akan makan di luar. Jadi, Sasuke perlahan menutup matanya, mencari pelarian ke alam mimpi.

Everything is gonna be okay.

.

.

.

End of chapter two.


Author's note: Hola, akhirnya bisa update. Lelah hati ini, entah kenapa. Ah sudahlah, w malah curcol. Sepertinya untuk di awal-awal chapter, nggak bisa di bilang end sih yah, ah nggak ngerti, aku ngomong apa, aku dimana, aku siapaa… (I die).

Terima kasih sebelumnya kepada para reader yang sudah memberikan review, fave dan follownya. Grazie!

Yasudah, silahkan tinggalkan (again) cinta a.k.a review kalian di kolom review, saya senang kalau ada yang koreksi tulisan saya, karena saya butuh itu (cry). Soalnya mata saya minus, tapi saya tidak pakai kacamata (keras kepala) dan saya amat sangat yakin, seberapa kali juga ngedit-ngedit ini cerita, pasti akan ada typo atau diksi-diksi yang tak pas. Oleh karena itu saya minta bantuan untuk reviewer sekalian, koreksi saja saya. Saya relaaa….

Untuk chapter selanjutnya, mungkin akan tunggu seminggu karena ada tugas kuliah yang nambah-nambah terus, gadak habis-habisnya, atau mungkin, kalau saya dapat 30 reviews, saya akan update minggu depan (grin) (smirk) (dibunuh) (in which I die….)