:.Momiji chapter 2~

"Kau lama sekali Sakurai, aku sudah menunggumu sejak 30 menit yang lalu." Dengan suara beratnya pria bersurai navyblue itu mengajukan kalimat protes terhadap pemuda dengan postur tubuh yang lebih pendek darinya yang memiliki surai rambut berwarna coklat muda.

"Ma-Maaf, Aomine-san!" Jawab pemuda surai coklat muda itu sembari menundukkan kepalanya.

"Hah...sudah ku bilang bukan, jangan terlalu sopan. Kita sudah berpacaran selama 2 tahun, Sakurai." Protes pemuda bersurai navyblue itu lagi, namun kali ini ia sambil menghela nafasnya.

"U-Um, baiklah, Aomine...kun?" Jawab Sakurai sambil melihat Aomine dengan paras wajahnya yang memancarkan pertanyaan 'apakah aku boleh menggunakan kun?'. Aomine pun mengangguk dan menghela nafasnya tanda ia mengerti maksud dari paras wajah 'pacar'nya itu.

:.Momiji

"Aomine...cchi?"

Kise terhenyak melihat orang yang ia sukai kini tengah bersama dengan pemuda lain. Timbul banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada pemuda yang bernama Sakurai itu, seperti siapa kau? Apa hubunganmu dengan Aominecchi? Kenapa kau begitu akrab dengannya? Kenapa kau memeluknya? Kenapa kau bersamanya? Sebenarnya kau itu siapa? Pertanyaan-pertanyaan itu terus terngiang-ngiang dalam kepala Kise. Ia pun segera berlari menuju Aomine lalu menggapai tangannya.

"Aomi—"

"Huh? Kau, siapa?" Belum sempat Kise menyempurnakan nama panggilan Aomine, panggilannya telah dipotong oleh orang yang ingin dipanggilnya itu sambil menunjukkan wajah bingung dan aku sama sekali tak mengenalmu.

"Eh?" Sontak itu membuta Kise kaget. Ia terdiam ntah kenapa dunia menjadi hening, ia tak dapat mendengarkan apapun, tatapannya kosong. Hanya ada satu hal yang ada dipikirannya sekarang Aomine tak mengenal dirinya.

"Kenalanmu, Aomine-kun?" Tanya Sakurai.

"Hah? Bukan. Aku bahkan sama sekali tak mengenalnya. Mungkin salah orang? Sudahlah, ayo. Sebentar lagi filmnya akan dimulai dan aku suka menunggu lama gara-gara kau." Jawab Aomine cuek samharibil menarik tangan Sakurai pelan mengajaknya beranjak dari sana dan pergi menonton film yang tiketnya sudah mereka pesan tempo hari.

Kise tak bergeming dari tempatnya, ia masih tak percaya. Dunia masih hening, ia masih tak dapat mendengarkan apa-apa. Matanya terasa panas, pandangannya mulai kabur disebabkan oleh airmatanya yang berontak ingin keluar dan mengalir ke pipinya. Aomine-cchi tak mengenalku? Ah, semuanya telah berakhir, pikirnya.

"Ha...haha...ha...hiks..." Kise pun menertawakan hidupnya dengan tawa putus asa nya. Senyuman getir pun menghiasi parasnya yang cantik ditambah dengan airmatanya yang tak mau kalah dan ikut andil dalam menghiasi parasnya itu.

.:Momiji

Hari demi hari berlalu, sudah sebulan semenjak Kise datang ke Tokyo dan melihat kejadian yang bahkan sama sekali tak ingin ia ingat. Namun apa daya sesekali kejadian itu selalu muncul dalam buah tidurnya. Kini ia sudah mendapat pekerjaan yang layak baginya, pekerjaan yang mengharuskan dirinya membuat segala macam ekspresi seperti sedih, walaupun ia tak sedih— ya ia seorang model. Kise tidaklah begitu bodoh, ia sadar bahwa tinggal di Tokyo akan sangatlah sulit jika ia tak mempunyai pekerjaan. Ia memanfaatkan parasnya yang cantik dan karisma yang ia miliki untuk terjun ke dunia permodelan dan ya yang dilakukannya itu sangatlah menguntungkan baginya, ia dibanjiri banyak pemotretan hingga syuting untuk iklan. Hidup Kise kini berbeda, tak ada lagi yang mengucilkan nya karena ia 'omega' ia mendapat banyak teman sekarang.

Siang ini Kise mendapat tawaran pemotretan majalah fashion, ia dengar ia tak sendirian dalam pemotretan kali ini. Ia akan ditemani seseorang dan ia belum tau siapa orang itu. Kise hanya berharap kalau orang itu enak diajak kerjasama saja. Waktu menunjukkan pukul 12:30 siang, 45 menit lagi pemotretan akan segera dimulai. Dengan terburu-buru Kise meninggalkan apartemennya dan tak lupa juga menguncinya. Sesampainya disana, Kise disambut ramah dengan staf-staf juga make up artis yang selalu merias wajahnya.

"Konnichiwa Kise-kun!" sapa salah satu staf.

"Ah, Konnichiwa-ssu! Semoga semua proses pemotretan hari ini lancar ya semuanya!" Jawab Kise dengan senyuman lebarnya.

"Um!" Jawab seluruh staf.

"Ngomong-ngomong, apakah yang menjadi partner ku hari ini sudah datang? Aku ingin menyapanya-ssu!"

"Belum, Kise-kun. Mungkin beberapa menit lagi dia akan segera datang."

"Permisi..." pemuda pemilik surai coklat muda memasuki studio dengan logat tubuh yang menunjukkan bahwa ia sedang gugup.

"Ah, itu dia. Selamat datang Sakurai-kun!"

Eh? Sa...kurai? pikir Kise. Ia memperhatikan pemuda itu, ia yakin ia pernah melihat pemuda itu disuatu tempat. Ia begitu kenal dengan siluetnya. Ah, ya aku mengingatnya, pikir Kise. Dadanya berdenyut, memori yang tak ingin ia ingat kembali terputar dengan sendirinya didalam kepala si model. Ya, dia pacar dari seorang bocah yang pernah membuat janji dengan Kise dan bahkan belum menepatinya sampai sekarang. Ia pacar dari Aomine Daiki, Sakurai Ryo.

:.Momiji

"Ini dia partnermu Kise-kun, dia Sakurai Ryo." Kalimat yang keluar dari mulut salah satu staf mencoba mengenalkan Kise dengan model pria— juga pacar dari Aomine Daiki yang bernama Sakurai. Sayangnya tak mendapat respon dari orang yang diharapkan agar memberi respon. Kise terlalu asik bermain-main didalam memori yang terputar dengan sendiri dikepalanya hingga membuat telinganya tak dapat menyerap kalimat dari staf tersebut.

"Kise-kun?" Lagi, staf itu mencoba menarik Kise keluar dalam alam bawah sadarnya.

"Kise-san?" Kini si surai coklat muda pun turut buka suara.

"Ah, maaf-ssu! Aku sedang memikirkan sesuatu barusan, hehe." Kise pun tersadar setelah 'pacar Aomine' buka suara dan ia pun menjawab panggilan pemuda itu dengan cengenges nya. "Mohon kerjasamanya,Sakurai-kun!" Kise melontarkan senyum terbaiknya, mencoba menutupi semua kesedihan yang ia dapat setiap kali melihat pemuda bernama Sakurai itu. Bagaimana pun juga ia seorang model profesional, ia tak ingin menyangkut pautkan masalah pribadi— yang bahkan pemuda bernama Sakurai itu tak sadar bahwa ia lah masalah itu. Lagipula, berakting sudah menjadi makanan sehari-hari, pikir Kise.

"Aku juga, mohon kerjasamanya, Kise-san." Jawab Sakurai dengan sedikit semburat merah menghiasi pipinya tanda ia sedikit terpesona juga kagum dengan paras cantik yang dimiliki seorang Kise Ryouta.

"Ayo kita mulai sesi shoot nya." Titah salah satu staf.

:.Momiji

60 menit berlalu, tampak kedua pria model itu sedikit kelelahan tengah duduk sembari meneguk ocha dingin yang disuguhkan oleh staf-staf yang menangani mereka. Kise tampak tersenyum juga ramah seperti biasa sembari berbincang dengan Sakurai. Ia benar-benar dapat menutup dengan sempurna kesedihan juga luka dengan topeng kebahagian yang transparan. Mungkin Kise memang memiliki bakat berakting yang alami? Ya, mungkin saja.

"Dua hari lagi kita akan ke distrik Shibuya. Kita akan melakukan sesi shoot disana." Kalimat yang keluar dari salah satu manajer memotong perbincangan antara Kise dan Sakurai.

"Shibuya?" Tanya Kise untuk memastikan.

"Ya, rumah Kise-kun di Meguro kan?" Tanya manajer. "Cukup jauh juga jika kau pulang. Dan sesi shootnya akan dilakukan pagi." Jelas manajer dengan nada yang menunjukkan bahwa ia khawatir jika Kise nantinya datang terlambat.

"Tak apa-ssu, aku akan berusaha untuk tidak terlambat." Kise berusaha meyakinkan sang manajer.

"Um, bagaimana...kalau Kise-san menginap di rumahku saja? Kebetulan aku tinggal disana." Jelas Sakurai sambil memberikan saran untuk masalah kecil yang tengah mereka hadapi.

"Boleh juga saranmu, Sakurai-kun! Jadi, bagaimana Kise-kun?" Jawab manajer sambil menunggu jawaban dari Kise.

Kise berpikir keras, jika dibilang ia ingin menolak—ya, ia sangat ingin menolaknya. Kenapa? Tentu kalian sudah tau. Namun, tak ada jalan lain. Jika ia kembali ke apartemennya, kemungkinan besar ia tak akan sampai tepat waktu nantinya. Akhirnya Kise pun mengalah dengan egonya, mau tak mau ia harus mau. Lagipula, ia sudah terbiasa dengan segala kesedihan juga luka yang ia alami. Dan ini bukanlah pertama kali baginya, waktu kecil ia juga mendapatkan itu semua dan mungkin lebih parah? Ya aku akan menerimanya, pikir Kise.

"Um, boleh juga-ssu! Terima kasih Sakurai-san!" Dan lagi, ia melontarkan senyum terbaiknya untuk menutupi ke-engganannya. Kise Ryouta, kau adalah pembohong besar juga aktor yang sangat luar biasa.

Klek.Sakurai menekan gagang pintu apartemennya kebawah sembari mendorongnya kedalam. "Silakan, Kise-san." Sakurai mempersilakan Kise memasuki kediamannya itu.

"Permisi.." Kise pun yang telah dipersilakan langsung memasuki kediaman pemuda surai coklat muda itu, menuju ruang yang dipenuhi oleh furnitur yang ia yakini iitu adalah ruang tamunya.

"Kise-san mau minum apa?" Tawar Sakurai.

"Teh saja-ssu." Jawab Kise pelan. Anah panah matanya kini tengah fkus melihat jajaran foto disana. Apa yang membuat Kise Ryouta begitu memerhatikan foto itu? Ya, disana ada paras Aomine Daiki. Dada Kise kembali berdenyut—sakit, Kise hanya bisa tersenyum miris melihat foto itu. Dapatkah kau perhatikan? Manik madu itu kehilangan cahaya untuk yang kesekiankalinya.

Sakurai kembali dari dapurnya dengan membawa teh hangat yang akan ia suguhkan untuk Kise. Meletakkan gelas itu diatas meja dengan kepulan asap yang keluar dari cangkir menandakan teh itu masih panas.

"Nee.. Sakurai-san. Sudah berapa lama kau berpacaran dengan pemuda difoto itu-ssu?" Kise melempar pertanyaan kepada surai coklat muda, ia tau itu bukan urusannya dan lagi ia baru saja bertemu—maksudnya berbincang dengan Sakurai. Tapi, tetap saja ia sangat ingin mengetahuinya.

"Hm? Kami baru berpacaran baru sampai 2 tahun." Jawab Sakurai dengan wajahnya yang sedikit memerah.

Baru? Itu sudah cukup lama—dibanding pertemuannya bersama Aomine beberapa tahun lalu, Pikir Kise.

"Apakah kau benar-benar mencintainya?" Lagi, Kise menanyakan sesuatu yang aneh—seperti menunjukkan ia mengenal Aomine dan ia adalah kekasihnya yang tengah cemburu karena Aomine selingkuh dari dirinya.

"Iya, aku sangat mencintainya." Jawab Sakurai. Namun kini jawabannya tidak bersamaan dengan semburat merah yang selalu menghiasi wajahnya setiap kali ia berbicara tentang pacarnya itu, tetapi justru keheranan juga keingintahuan. "Kise-san, apakah kau menge—"

Dingdong..., belum sempat Sakurai menyelesaikan pertanyaan yang akan ia lontarkan pada Kise, bel pintu apartemennya terlanjur berbunyi dan memotong pertanyaannya. "Sebentar.." Teriak Sakurai untuk memberitahukan siapapun yang ada diluar sekarang ia tengah berjalan menuju pintu untuk membukakannya. Saat jarak dirinya dan pintu apartemennya hanya sekitar limabelas sentimeter ia pun membukakan pintu untuk orang yang ada diluar itu.

"Yo.., aku bawa bir." Pemuda dengan suara berat dan kemalas-malasan dan tubuhnya yang eksotis itu tengah berdiri di depan pintu Sakura sembari menenteng kantong plastik putih berisikan beberapa kaleng bir.

"Aomine-kun." Sakurai pun tersenyum.

Pria dengan surai kuning keemasan yang tengah menyeruput teh nya yang sudah hangat itu bergidik kaget setelah menyerap suara temannya memanggil nama seseorang yang sangat ia kenal. Ia meletakkan kembali cangkirnya keatas meja, ia gugup, panik, khawatir, dan ingin menangis. Apa yang harus aku lakukan nanti saat bertemu Aomine? Bagaimana jika topeng transparan yang aku kenakan hampir seharian ini terlepas? Aku takut, pikir Kise.

"Huh? Ada tamu?" Tanya pemuda gangguro terhadap pacarnya setelah ia melihat sepatu Kise tersusun rapi diatas rak sepatu.

"Ah, iya. Dia teman kerjaku dan dia akan menginap hari ini." Jawab Sakurai sambil tersenyum.

"heeh.." Jawab Aomine cuek dan terdengar sedikit intonasi kecewa disana, bagaimana tidak? Ia tak dapat melakukan 'ini itu' dengan tersayangnya malam ini.

"Ayo masuk." Sakurai mempersilakan Aomine untuk masuk. Yang dipersilakan pun langsung masuk tanpa basa basi dan menuju ruang tamu.

:.Momiji

Manik madu bertemu dengan manik navy, Kise diam terpaku, dadanya terasa sesak dan sakit, ia ingin menangis. Namun, disaat yang bersamaan ia senang dan ingin tertsenyum. Apakah dewi fortuna tengah mempermainkan ku sekarang? Pikir Kise.

Manik navy itu memperhatikan manik madu dengan tajam, ia mempunyai perasaan aneh dihatinya. Namun ia tak mengerti perasaan apa itu—karena ia terlalu bodoh. Ya, mungkin saja. "Uh? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Akhirnya pemuda gangguro itu buka suara.

"Eh? Belum-ssu. Aku..., Kise Ryouta." Untuk kesekiankalinya Kise Ryouta kembali berbohong. Suaranya terdengar sedikit bergetar, ia takut buliran-buliran air akan membasahi pipinya. Tapi ntah kenapa ia berhasil menahannya. Kise Ryouta adalah seorang masokis.

"Oh, aku Aomine. Aomine Daiki." Jawab Aomine dengan intonasi malasnya itu.

"Etto..., salam kenal Aomine-san." Kise melontarkan senyum termanisnya.

Saat melihat senyuman Kise, dada Aomine berdenyut. Sepotong memori pun terputar dalam kepalanya. Ia seperti telah melihat senyuman itu beribu-ribu kali namun ia lupa. Sepotong memori itu seperti memaksa otak Aomine bekerja keras untuk mengingatnya namun tak berhasil. Bau pohon maple, batin Aomine. Aomine sangat yakin bahwa ia tak pernah membelikan Sakurai—pacarnya itu parfum maple. Tapi kenapa bau ini sangat tak asing, pikirnya.

"Aomine-san?" Panggil si surai kuning berhasil membuyarkan lamunan-lamunan Aomine.

"Um." Jawab Aomine singkat. "Oi, Sakurai mari minum bir ini bersama." Aomine kembali memberikan perhatiannya kepada Sakurai.

Dua botol bir telah mereka habiskan—tidak dengan Kise, ia tak ingin minum bir bukan karena ia tak bisa tapi karena ia takut mabuk, jika ia mabuk ia akan meracau tak jelas dan bisa saja ia meracau tentang janji yang dibuat Aomine dan tentu Kise enggan merusak hubungan orang hanya karena racauannya saat ia mabuk—Sakurai pun sudah terlihat tak sadarkan diri. Aomine pun menggendong kekasihnya itu, membawanya kedalam kamar sementara Kise menunggu diluar sembari menatap gelas kosong yang tengah ia genggam.

"Kise." Panggil Aomine. Namun orang yang dipanggil tak merespon, sepertinya ia tak menyadari hawa kehadiran Aomine yang telah kembali dari kamar kekasihya itu.

"Oi, Kise!" Sekali lagi panggilnya.

"Ah, iya-ssu?" Kise kembali dari lamunannya.

"Kau tak mengantuk?"

"Tidak-ssu, aku belum mengantuk. Memangnya kenapa Aomine-san?" Tanya si pirang.

"Kalau begitu, temani aku sampai bir ini habis." Pinta Aomine sambil menunjukkan botol bir dengan volume airnya yang tinggal setengah.

"Eh?" Kise tampak terkejut dengan pinta Aomine.

"Bagaimana, mau tidak?" Tanya Aomine dengan nada malasnya yang khas itu.

"B-Baik-ssu!"

:.Momiji

Hening mencekam. Tak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Kise tau ini sangatlah canggung, namun ia tak memiliki topik pembicaran. Tak mungkinkan ia menanyakan Aomine-cchi apakah kau tak ingat dengan janji kita? Kise yakin jika ia melontarkan kalimat itu ke Aomine sekarang ia yakin seratus persen Aomine akan menganggapnya orang aneh.

Suara detik jam memecah keheningan. Kise memperhatikan Aomine, sedangkan orang yang diperhatikan tau bahwa seseorang tengah memerhatikannya, sontak membuat pria tan itu manikkan sebelah alisnya tanda ia bertanya 'kenapa?'. Kise pun hanya cengengesan seperti orang bodoh untuk meresponnya. Sejujurnya mata Kise mulai terasa berat, ia sudah menguap sekitar tiga kali, namun ia enggan meninggalkan Aomine tidur. Terlihat mulut pria bersurai navy itu terbuka lebar bertukar udara, menguap tanda dirinya mulai mengantuk. Ia pun mulai melipat kedua tangannya diatas meja dengan tujuan sebagai alas kepalanya yang mulai ia turunkan. Matanya pun perlahan tertutup dengan rapat, ia pun tertidur dengan pulas.

Pria bersurai emas itu masih memerhatikan pemuda tan didepannya yang sudah masuk ke alam mimpi itu. Ia mulai memberanikan dirinya untuk membuka suara. "Aomine-cchi." Dengan getaran, kalimat yang keluar dari mulut Kise bersamaan airmata yang mengalir dipipinya—akhirnya Kise Ryouta menangis. "Apa kau benar-benar melupakanku? Kenapa?" Masih dengan suaranya yang bergetar, tangan Kise bergerak menggapai surai navy mengelusnya lembut. "Aku sangat merindukan mu, Aomine-cchi. Aku juga selalu menunggumu seperti yang kau suruh, tapi kenapa kau tak menjemputku? Walaupun aku sudah menunggu seperti anak baik? Aku bahkan tak pernah berpacaran dengan siapa pun, kau bilang aku hanya milikmu jadi aku tak boleh berpacaran dengan siapa pun. Tapi mengapa kau tak kunjung menjemputku? Kenapa Aomine-cchi?" Kise Ryouta menangis sejadi-jadinya di depan Aomine yang tengah tertidur pulas itu. ia tau Aomine tak akan pernah mendengarnya, namun ia berharap ia dapat menjadi lega setelah mengatakan semua perasaan yang telah ia pendam selama ini di depan orang yang telah menyakitinya itu. "Apakah aku telah melakukan hal yang buruk sehingga kau tak mau menjemputku? Apakah aku telah menyakitimu sehingga kau melupakan janji yang kita buat? Apakah aku kurang baik untuk mu sekarang sehingga kau dimiliki orang lain? Jawab aku Aomine-cchi, aku mohon...jawab aku." Airmata Kise tak menunjukkan tanda ia ingin berhenti. Pertanyaan demi pertanyaan yang ia lontarkan semakin terasa berat begitu juga getaran suaranya yang menunjukkan hatiya benar-benar sakit, apa yang salah dari dirinya sehingga membuat Aomine melupakan janji yang begitu berati baginya? Kise hanya bisa menahan dan menangis.

"Nee, Aomine-cchi. Walaupun kau melupakan semuanya. Aku tetap mencintaimu dan menunggumu-ssu." Kise memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya agar leboh dekat dengan wajah Aomine. semakin dekat sehingga ia dapat mendengar nafas Aomine. Lalu ia memejamkan matanya sembari mendekatkan bibirnya ke pucuk kepala Aomine. Ia memberika kecupan ringan namun penuh arti—bahwa ia masih sangat mencintai pemuda tan itu.

:.Momiji

Cahaya matahari masuk melalui jendela menyebabkan pemuda surai navy merasa terganggu dengan sinar itu. Perlahan ia membuka matanya, mengerjapkannya perlahan mencoba beradaptasi dengan sinar yang begitu silau. Setelah matanya mampu beradaptasi dengan sinar matahari lalu mata itu melihat sekeliling menulusuri letak jam, namun ia terhenti saat manik navy itu terfokus dengan pemuda surai emas yang tengah tidur pulas dihadapannya dengan sinar matari yang menyinari surainya juga kulit wajahnya yang putih seperti porselen sehingga membuatnya begitu cantik . Deg, lagi-lagi dada Aomine terasa berdenyut. Apa ini? Pikirnya. Tiba-tiba potongan memori yang ada didalam kepalanya terputar kembali menunjukkan seorang bocah seperti berumur 7 tahun tengah berdiri didepan pohon maple sembari tersenyum kearahnya, namun ia tak dapat melihat begitu jelas wajah bocah itu tetapi yang ia ketahui bahwa bocah itu memiliki senyum yang begitu manis.

"Eh?" Aomine menopang kepalanya dengan tangan kanannya. Ia bingung sebenarnya siapa bocah yang selalu muncul dalam memori dikepalanya itu saat ia melihat Kise. Ia tak mengerti, memori-memori itu seperti puzzle yang ingin membuat Aomine memecahkannya lalu mengingat sesuatu.

"Aomine-kun?"

"Ha?" Panggilan lembut dan sedikit ada nada khawatir dari pemuda bersurai coklat meyadarkan Aomine.

"Kau, tak apa?" Sakurai yang baru saja keuar dari kamarnya langsung menghampiri Aomine lalu ia pun duduk disamping Aomine—ingin memastikkan kalau yang tersayangnya itu baik-baik saja.

"Aku tak apa." Melihat pacarnya yang khawatir, Aomine pun langsung mendekap Sakurai.

"U-umm..Aomine-kun, a-ada Kise-kun disini." Wajah Sakurai tampak memerah didekapan Aomine.

"Huh? Apa peduliku? Lagi pula ia sedang tak sadarkan dirinya." Jawab Aomine cuek.

"Ta-Tapi.."

Kise dapat mendengar sedikit kegaduhan yang membawanya kembali dari alam mimpinya. Ia membuka matanya pelahan, lalu mengusapnya pelan sembari mencari sumber keributan sampai saat maniknya membulat menangkap Aomine dan Sakurai yang tengah berpelukkan dengan mesranya. Kise yakin, tuhan sangat senang mempermainkan perasaannya. Perih, hatinya seperti ditusuk oleh besi panas. Ia sangat ingin menancapkan bilah pisau kejantungnya sekarang juga. Ia ingin mengahiri semua rasa sakit ini sekarang juga.

Sakurai tampak begitu menikmati dekapan hangat yang diberikan Aomine. Jujur saja, ia sangat menginginkan hal ini terjadi semalam, namun karena ada Kise jadi ia tak bisa. Tetapi ia tidak berpikir bahwa Kise itu pengganggu, tidak sama sekali. Saat ia ingin memejamkan matanya, ia tak sengaja melirik Kise yang dari tadi tengah memerhatikan dirinya dan Aomine. Sontak membuat dirinya mendorong Aomine agar pelukkan itu terlepas. Dengan wajah merah padamnya ia menatap Kise dengan tatapan merasa bersalah. Namun Kise hanya membalas tatapan itu dengan senyumannya yang mengatakan 'tak apa'—tentu itu tidaklah tak apa-apa, jelas kau kenapa-napa, Kise Ryouta.

Melihat Sakurai yang tiba-tiba menolak dirinya membuat Aomine sedikit kesal dan menghela nafas kasar.

"Sakurai, bagaimana kalau hari ini kita berdua ke taman?" Ajak Aomine. Sejujurnya ia kesal karena dirinya dan Sakurai tak dapat menghabiskan waktu berdua karena Kise yang tiba-tiba menginap di rumah pacarnya itu.

"Berdua? Tapi Kise-kun ?"

"Hah? Apa peduliku?" Jawab Aomine cuek.

Lagi, dada Kise terasa sakit saat mendengar jawaban dingin dari Aomine.

"Tak apa Sakurai-kun, aku di rumah saja." Jawabnya sembari tersenyum simpul.

"Tidak, Kise-kun harus ikut. Jika tidak, aku juga tidak akan pergi." Sakurai menegaskan kalimatnya sembari menatap Aomine tajam.

"Eh?" Kise melihat mereka.

TBC~