Disclaimer: EXO are belongs to themselves.

Summary: Kisah persaudaraan dan persahabatan yang manis. Namun, berbalut luka dan berbayang dendam tersembunyi.

WARNING: Typo(s) | OOC | a little bit Yaoi | DLDR!


PRAANGG!

Piring yang dipegang Shixeun terselip dari tangan kirinya, pecah di dalam wastafel. Xiumin berhenti mengiris dagingnya, menoleh kaget ke arah mereka berdua.

Shixeun jatuh terduduk di lantai, tangannya yang masih penuh sabun menekan kedua sisi kepalanya dengan mata tertutup rapat. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, mendesis menahan sakit.

Chen langsung berjongkok di hadapannya, memegang kedua lengan anak itu dengan sorot cemas. "Shixeun, gwaenchana? Shixeun!"

"Seperti.. migraine, ge… tapi lebih buruk," gumam Shixeun, belum membuka matanya.

Chen berdiri, mengambil tisu di samping wastafel dan membasahinya sedikit dengan air. Ia berjongkok lagi, menekan-nekan tisu tersebut pada kening Shixeun.

Xiumin memberikan tisu lain pada Chen, menunjuk kedua tangan Shixeun yang masih tersisa sabun. Koki tersebut agak berlari menuju 'pos'-nya lagi, karena sedang menggoreng daging.

Perlahan Shixeun membuka matanya dan menurunkan kedua tangan dari sisi kepalanya. Ia menerima uluran tisu dari Chen, menggumamkan terima kasih dan membersihkan kedua tangannya. Chen memintanya berdiri, karena tak baik duduk di atas lantai dingin terlalu lama. Ia membantu adiknya itu bangun, lantas mendudukkannya ke atas sebuah kursi.

Chen dengan cepat menuang teh hangat dari termos, memberikannya pada Shixeun. Pada saat itu Luhan masuk ke dapur, terkejut melihat raut pucat Shixeun dan sorot cemas Chen.

"Apa yang terjadi?" Tanya Luhan langsung menghampiri keduanya.

Shixeun mendongak, menatap Luhan sejenak, lantas kembali menghirup tehnya. "Tidak apa-apa, Luhan-ge, hanya pusing sedikit. Maaf Chenchen-ge, merepotkan," anak itu berpaling pada Chen yang masih berdiri di sampingnya.

"Kau duduk saja disitu, oke? Tidak boleh menyentuh pekerjaanku lagi," timpal Chen sewot. Ia berbalik, kembali menuju wastafel, dan melanjutkan mencuci piring serta gelas-gelas kotor.

Luhan menepuk pundak Shixeun sambil tersenyum, lantas kembali melangkah mendekati Xiumin, menyiapkan sayuran, nasi, daging, minyak sayur, dan telur. Ia tadi sempat keluar sebentar karena dipanggil Kai dan kini siap beraksi dengan penggorengannya lagi, menyelesaikan pesanan pelanggan yang sempat tertunda.

Shixeun menyeruput teh hangatnya perlahan. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja makan, menyandarkan kepalanya di atas kedua lengan yang ia tumpukan di atas meja. Kedua matanya terpejam dan bibirnya bergerak terbata.

"Se.. Sehun… Oh.. Sehun…" Gumamnya lirih, tanpa didengar siapa pun, mengingat dapur pada saat itu sangat bising sekali dengan suara-suara spatula dan wajan berdentingan.

Samar-samar ia mendengar suara-suara.

"Kurasa ia harus istirahat di apartemen kalian, Lu."

Bunyi minyak sayur panas yang baru saja dimasuki bumbu memotong percakapan.

"Tak ada yang menjaganya di apartemen, kita semua ada di sini, kan?"

"Tapi masa ia harus beristirahat seperti itu?"

"Ahh, nanti akan kubersihkan gudang yang sudah tak terpakai di belakang dapur dan akan kutempatkan sebuah tempat tidur untuknya.."

"Ia bisa beristirahat di dalam mobil, daripada di ruangan dapur penuh asap dan bunyi-bunyian seperti ini."

"Aku tidak suka di dalam mobil, ge," akhirnya Shixeun mendongak, membuka matanya. "Aku suka di sini, ramai. Kalian tidak usah khawatir."

Luhan meliriknya sebentar, kedua tangannya sibuk memegang pegangan wajan dan mengaduk-aduk isi di dalamnya dengan spatula. "Untuk hari ini saja, Shixeun."

Shixeun mengangguk. Ia meminum tehnya sekali lagi, kemudian Xiumin mengambil kue di dalam kulkas, menempatkannya di atas piring dan menyajikannya di hadapan Shixeun. "Habiskan, kubuat dengan sedikit campuran jahe, bisa menghangatkan tubuhmu. Sebentar lagi setelah masakanku selesai, akan kubuatkan Ke Jia Xiao Chao spesial untukmu."

"Ke Jia– apa?" Shixeun menatap Xiumin, mengernyitkan dahi.

Xiumin tersenyum. "Tunggu saja, kau tak akan menyesal."

Shixeun mengangguk saja. "Kutunggu, hyung."

Luhan menoleh ke arah Xiumin dengan raut kecewa. "Ahh, padahal aku mau membuatkannya Beijing Fried Rice untuk menu makan malamnya nanti."

Shixeun tersenyum geli. "Aku bisa menghabiskan dua-duanya."

Chen tertawa kecil, berbalik sebentar dari wastafelnya. "Percayalah Shixeun, jika kau mampu menghabiskan separuh saja Ke Jia Xiao Chao punya Xiumin-hyung, kau memecahkan rekor di antara kami, belum lagi Beijing Fried Rice-nya Luhan-gege."

Shixeun tersenyum simpul, mengalihkan pandangan pada Luhan dan Xiumin yang masih sibuk memasak.

"Kalau begitu buatkan aku masing-masing seperempat porsi Ke Jia– entah apa tadi dan Beijing Fried Rice saja. Masing-masing SEPEREMPAT," tekan Shixeun sungguh-sungguh.

Xiumin tertawa. "Dia pintar, ya, Luhan."

Luhan menatap Xiumin, tersenyum lebar.

"Xie xie, gege… dan hyung," Shixeun kelihatan senang, lantas mulai mencicipi kue hasil karya Xiumin, tidak bersuara lagi.


Osaka, Japan, 04.00 PM

Suho baru saja menyiapkan teh hijau untuk dirinya dan sahabatnya, Kris Wu. Kris menyeruput teh hijau itu dengan tenang, sedangkan Suho mendudukkan dirinya di samping Kris.

"Jadi sekarang dia berada di Korea?" Tanya Kris Wu dengan suara baritone-nya, membaca informasi yang didapatkan Suho dari file di hadapannya. Ia meraih sebuah foto agak blur yang menunjukkan seorang anak laki-laki dengan jaket hitam dan ranselnya mengantri di ruang imigrasi negara.

"Ya, Kris. Dia berangkat dari Osaka, naik kereta Express jurusan Hanshin, kemudian diteruskan dengan naik pesawat menuju Incheon di Kansai International Airport. Passport-nya terdeteksi di sana," jelas Kim Joonmyeon atau Suho.

Kris Wu mengangguk dengan ekspresi datar. "Hari ini juga, pesan tiket ke Seoul. Aku ingin paling lambat satu minggu lagi anak bandel itu sudah ada tepat di depanku."

"Arraseo, Kris." Sahut Suho, lantas berdiri, melangkah keluar.

.

"Anak itu merepotkanku saja," dengus Suho begitu ia sudah kembali ke kamarnya, mendudukkan dirinya di atas kasur king size miliknya.

Zhang Yixing, sekretaris pribadinya, tersenyum simpul di depannya. Laki-laki itu tetap focus pada Apple MacBook di hadapannya.

"Tapi hasil kerja saya memuaskan Kris Wu, bukan?" katanya, sesekali melihat ke arah Suho dengan sorot menggoda.

"Hasil kerja kerasku," ralat Suho, tersenyum simpul. "Aku yang memberimu perintah, kau lakukan perintahku, dan semua yang kau laporkan sudah menjadi hasil kerjaku."

"Ah, lupakan saja," Zhang Yixing kelihatan terganggu. "Kurang menyenangkan jika kau pergi tanpaku." Lanjutnya.

Suho tertawa, "Kau lupa kau bicara pada siapa, tuan Zhang?"

"Aku bicara pada calon suamiku."

"Aku masih belum menentukan pilihan. Kita bersenang-senang dulu sajalah.."

Zhang Yixing cemberut. "Bersenang-senang? Sudah 2 tahun kita saling mengenal, itu belum cukup bagimu? Setelah menikah kita masih bisa bersenang-senang."

"Pria sepertiku sangat mudah mendapatkan wanita atau pria mana saja, Yixing. Apa yang membuatmu berpikir kau cukup spesial di mataku? Sudahlah.. kau tahu bagaimana aku."

Zhang Yixing menutup laptopnya, agak keras dari biasanya. Suho berdiri dari duduknya, mendekati sang sekretaris pribadi, yang juga merupakan kekasihnya nomor ke-sekian yang sering dikencaninya. Terutama, jika Suho butuh teman laki-laki untuk menghiburnya dari kepenatan kerja. Ia menundukkan badan di belakang laki-laki 21 tahun tersebut, merangkul kedua lengannya di depan leher Yixing, mengecup bibirnya dari samping.

Yixing memalingkan muka, melepaskan kedua tangan Suho, lantas langsung berdiri dari duduknya, meraih laptopnya. Suho tertawa kecil. "Tipikal Yixing. Meski begitu kau tetap saja menungguku, ya kan sayang?"

Pintu kamar Suho ditutup dengan keras, menandakan kepergian sekretarisnya. Suho mengangkat bahu, meraih ponselnya di atas meja. Ia menghela napas panjang begitu membuka phonebook dan sampai pada nomor yang biasa digunakan adik kesayangannya.

Suho kembali mencoba menghubungi nomor tersebut, berharap keajaiban datang padanya sore ini. Beberapa detik kemudian, ia hampir saja membanting ponselnya sesaat setelah ia mendengar bunyi suara operator yang sama, yang memberi informasi bahwa nomor ponsel yang ditujuinya tidak bisa dihubungi.


Songpa-gu, Seoul, South Korea, 08.00 PM

Kedua mata Shixeun membulat kaget, menatap Luhan di hadapannya, tak percaya. "Untukku, ge?" tanyanya dengan napas tertahan.

Luhan tersenyum kalem. "Ne, untukmu. Ini nomornya," laki-laki bersuara lembut tersebut mangangsurkan sebuah ponsel beserta simcard pada Shixeun.

Shixeun menerimanya, matanya berkedip takjub menerima hadiah yang tak disangka-sangkanya itu. "Ahh.. xie xie, gege. Ini kan iPhone.." gumamnya pelan.

"Kau tak suka?" Luhan duduk di sebelahnya, mengamati Shixeun langsung mengoperasikan ponsel pemberiannya. Kelihatannya anak itu sudah terbiasa dengan ponsel seri itu. Tak ada keraguan ketika jari-jarinya menggerakkan layar, memeriksa setting-nya langsung.

"Tentu saja aku suka! Tapi kan, ini terlalu banyak untukku, ge," Shixeun berpaling ke arah Luhan, menatapnya sungkan.

"Sebenarnya itu dari Chen. Dia tidak ada waktu untuk membelinya langsung karena kuliahnya padat sekali dan memintaku mencarikan satu untukmu," Luhan tersenyum, mengelus kepala Shixeun. Baekhyun benar, rambut coklat anak ini memang halus. Diam-diam ia penasaran juga sampo apa yang dipakai Shixeun.

"Ge," panggil Shixeun menyadarkannya dari lamunan bodoh tentang sampo.

"Ya?" Luhan mengerjapkan matanya imut, kembali fokus pada adiknya.

"Aku belum juga dua minggu tinggal bersama kalian. Kenapa kalian baik sekali padaku?" tanyanya lirih. "Ini ponsel mahal, ge. Aku masih belum bisa menebus biaya rumah sakit yang kalian keluarkan untukku dan sekarang–"

"Terimalah, Shixeun. Itu bukti kami peduli padamu. Tidak usah berpikir macam-macam. Ingat kata dokter, kau harus rileks agar ingatanmu cepat kembali," Luhan menggenggam kedua tangan Shixeun, mempererat pegangannya pada ponsel yang beberapa saat tadi sepertinya ingin dikembalikan anak itu padanya.

Mendengar kata 'ingatan', Shixeun langsung menundukkan kepalanya. Rautnya berubah, antara sedih dan gundah. Luhan melihat perubahan itu.

"Hei, jangan terlalu dipikirkan, oke?" Luhan melepas pegangan tangannya, menepuk bahu anak itu pelan.

"Aku sudah ingat sedikit, ge," gumam Shixeun, tak sadar memainkan ponsel di tangannya dengan sorot kosong.

"Apa yang kau ingat?" Tanya Luhan hati-hati. Entah kenapa jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.

"Nama asliku," kata Shixeun, ada ragu dalam nada suaranya. Ia menoleh, menatap Luhan.

"Kau ingin memberitahukannya padaku?" Luhan tidak memutuskan kontak matanya dari mata adiknya. Ia tak bisa melepaskan ini sekarang. Ia perlu tahu. Ia HARUS tahu.

"Se…" Shixeun berdehem, mengalihkan pandangannya ke arah TV LCD di depan mereka yang dari tadi menampilkan acara masak-memasak tanpa mereka perhatikan benar-benar.

"Se…?" pancing Luhan, menyabarkan diri.

Shixeun menunduk lagi, terdiam.

Luhan hampir hilang sabar. Ia angkat dagu adiknya, agar memaksanya untuk melihat matanya lagi. "Se… siapa?"

"Maukah gege berjanji padaku? Setelah aku mengatakan namaku, jangan bawa aku ke kantor polisi dan menyerahkanku pada mereka, meninggalkanku di sana, yaksok?" Ucap Shixeun cepat, agar terbata.

"Se siapa?" Luhan melepas pegangannya pada dagu Shixeun, menatapnya tajam.

"Berjanjilah padaku!" tuntut Shixeun keras kepala.

"Aku tak bisa berjanji jika aku belum yakin apa kau terlibat dalam suatu tindak kejahatan lalu melarikan diri!" teriak Luhan, habis sudah sabarnya. Ia memang yang paling frustasi menghadapi kemungkinan-kemungkinan seperti ini dan dan malam ini ia tak mampu lagi menyembunyikan kekhawatirannya.

"Aku tidak melakukan kejahatan apa pun! Aku bahkan dirampok, hampir dibunuh di sudut gang jika Luhan-gege dan Chen-gege tidak datang dan menolongku!" Shixeun juga ikut berteriak, hidungnya memerah. Kesal juga dia dengan dugaan Luhan.

"Se.. siapa?" kejar Luhan dengan suara rendah kini.

Shixeun berdiri dari duduknya, menghadap ke arah Luhan. "SEHUN! OH SEHUN! Silahkan cek di berita kriminal apakah ada seorang mahasiswa 17 tahun yang terlibat perdagangan narkoba atau baru saja membunuh orang!"

Luhan berdiri dari duduknya, tersenyum samar. "Hmm, Oh Sehun? Jadi umurmu 17 tahun dan kau seorang mahasiswa? Kau cukup banyak mengingat, Sehun-ah."

Anak itu, Shixeun, atau dalam hal ini Oh Sehun, merasa kecolongan, karena tadi ia hanya berniat menyebut nama aslinya pada Luhan. Ia menghembuskan napas keras-keras.

"Apalagi yang kau ingat? Kau ingat dirimu adalah mahasiswa, pasti kau ingat kau kuliah di mana. Lalu kau ingat juga umurmu, pasti kau ingat di mana kau tinggal sekarang. Atau, ini yang paling penting… alasan kenapa kau keluyuran di jalanan kota Seoul di pagi dini hari?" kejar Luhan, melipat kedua tangannya di depan dada, menatapnya penuh perhatian. Senyumnya sudah lenyap, yang tersisa dari kedua matanya yang bening hanyalah sorot prihatin untuk Sehun.

Sehun menunduk lagi, menggigit bibir bawahnya. "Aku – "

"Duduklah. Kita masih punya banyak waktu sebelum aku harus berangkat ke Luo-Chen. Kai belum meneleponku, berarti keadaan di sana masih terkendali."

Sehun menghempaskan diri di atas sofa, menangkupkan kedua telapak tangannya di depan hidung dan mulutnya, memejamkan matanya sambil menghela napas panjang.

Luhan ikut duduk di sampingnya, menunggu.

"Tiap kali aku dapat serangan sakit kepala, aku mulai ingat kembali siapa diriku," gumam Sehun, belum membuka matanya, seperti sedang berbicara sendiri.

Luhan diam, tidak berniat memotong atau menyahut.

"Namaku Oh Sehun dan aku tidak berasal dari sini. Aku datang dari Osaka, Jepang."

.

.

.

TBC


Balasan review :

snoopies: Hahaha di chapt ini ingatan Sehun udah kembali kok, walau hanya sedikit-sedikit.-. Thanks udah mampir, yaa '-')/

fangirl-shipper: Ini lanjutannya. Semoga suka yaaa. Thanks udah mampir '-')/

enchris.727: Ne, anak baru itu Sehun. Alasan kenapa Sehun berkeliaran tengah malem, itu bakal diceritain di chapter depan (lagi) hehehe .-. Thanks udah mampir yaaaa '-')/

Kazuma B'tomat: Jadi chingu juga pernah baca novel itu? Hahaha saya juga berusaha supaya FF ini ga sama dengan cerita aslinya. Thanks udah mampir yaaaaa '-')/


THANKS FOR READING MY FANFIC, PARA READERS DAN SIDERS(?)~

Review lagi, yaa? ^^

.

Best regards,

- Zhang Amy -