The Way of Destined
A story by Fuu
All character © Masashi Kishimoto
Chapter 1
.
.
.
Happy reading guys!
.
.
.
Sejak pagi langit memang seperti tidak mengizinkan matahari untuk bertugas. Awan mendung yang semula hanya menggelapkan bumi kini mulai mengeluarkan tetesan air. Orang-orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Entah itu dipinggiran toko ataupun sebuah tempat yang memiliki atap untuk sekedar berlindung dari rintikkan hujan yang mulai menderas. Padahal belum waktunya musim penghujan datang.
Sakura siap untuk turun dari sebuah angkot yang membawanya. Dengan tas yang berubah fungsi menjadi payung ia berlari menembus hujan. Tujuannya kini sebuah warung yang terdapat didekat pohon sana. Atapnya yang terbuat dari asbes yang menutupi trotoar bisa digunakannya untuk tempat singgah sementara. Sekolah Sakura sudah terlihat didepan mata. Tapi tidak mungkin ia berlari kesana sekarang juga.
Sakura berhenti tepat didepan warung yang kini dipenuhi orang-orang berseragam batik biru. Mengibaskan air yang sedikit menggenang diatas tas sekolah miliknya. Disini ada beberapa laki-laki dan dua perempuan yang tengah asyik mengobrol sambil membeli jajanan yang dipajang, seakan tidak mempedulikan hujan yang menghentikan mereka untuk mencapai gerbang sekolah. Bahkan suara obrolan mereka tak kalah kencang dengan derasnya suara rintik hujan. Hal itu yang membuat Sakura kini melimpir ke ujung depan warung, berniat untuk sedikit menjauh.
Tempat ini dipenuhi oleh kakak kelas. Karena memang yang Sakura tau ini adalah warung tempat kakak kelas menongkrong jika waktu sekolah telah usai. Jadi ia tidak begitu heran melihat mereka akrab dengan sang pemilik warung.
Dua menit terlewati dengan percuma. Sakura tampak gelisah dalam diamnya. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lewat. Matanya lagi-lagi melirik arloji yang melingkar dilengan. Lalu kembali mengarahkan bola matanya keatas untuk melihat seberapa derasnya hujan. Ada sebersit niat ingin menerobos agar bisa masuk kedalam sekolah juga menghindari kakak kelas yang masih asyik mengobrol. Rasanya ia begitu risih berada diantara kakak kelas ini. Meski mereka seakan tidak mempedulikan. Langit juga sepertinya masih belum mau menghentikan rintik derasnya.
"Mau nekat nembus hujan?"
Sakura menoleh ketika sebuah suara terdengar diantara derasnya rintik hujan. Sedikit menatap seseorang yang berdiri satu langkah darinya, kemudian melirik ke sisi kiri orang itu. Takut-takut orang itu berbicara pada yang lain.
"Anak kelas sepuluh, ya?"
Pertanyaan terdengar kembali saat Sakura memutuskan untuk menghiraukan. Kepalanya juga mau tidak mau kembali menoleh agar bisa melihat apa benar orang itu berbicara dengannya.
"Saya, kak?" Tanya Sakura pada akhirnya dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Orang itu sedikit tertawa, hingga tiga garis dimasing-masing belah pipinya terlihat. "Bukan, dek. Setan."
Sakura tidak tau harus bereaksi seperti apa. Ia hanya menampilkan ekspresi senyum malunya dihadapan laki-laki dengan tangan terlipat di dada itu.
"Kamu sepuluh berapa?"
Sakura meluruskan kepala. Matanya menatap tetes hujan yang mengalir lewat genting. "Dua, kak."
"Yang walasnya sensei Kurenai itu, ya."
Sebenarnya itu adalah pernyataan, namun yang terdengar ditelinga Sakura justru sebuah pertanyaan. "Iya."
"Saya juga dulu walasnya dia, dek." Sakura menoleh. Ia tidak tau harus merespon bagaimana, sejujurnya ia tidak suka dikeadaan seperti ini.
"Dulu emang walas kelas berapa?"
"Sama. Sepuluh Dua."
Kepala Sakura mengangguk singkat. Setelah obrolan singkat tersebut, tidak ada lagi percakapan yang dibangun. Sakura memilih kembali memandang hujan yang perlahan mulai menurunkan intensitasnya. Ia, sih, berharap kakak disampingnya ini mengobrol lagi dengan teman-temannya.
"Dek, kamu—"
Sakura menoleh lagi, namun ucapan kakak kelas itu berhenti saat teman-temannya menghampiri. Menepuk pundaknya hingga menimbulkan bunyi.
"Modus mulu, lu." Tatapan teman kakak kelas itu beralih pada Sakura. "Dek, modus dia, dek. Jangan mau."
"Wei! Apaan si." Kakak kelas tersebut membalas dengan diikuti dorongan pelan. Seakan menjauhkan badan temannya darinya.
Ada beberapa yang tertawa. Ada beberapa juga yang mengatakan hal yang sama seperti teman kakak kelas tersebut. Sakura merasa malu detik itu juga. Baru kali ini ia terlibat percakapan dengan kakak kelas setelah sekolah kurang lebih satu tahun. Rasanya sangat risih. Bukannya Sakura tidak pandai bergaul. Hanya saja, kebanyakan kakak kelas disini adalah lelaki. Dua orang diantaranya perempuan, dan ketika tidak sengaja Sakura bersitatap, sepertinya salah satu dari mereka tidak suka. Entahlah, atau memang hanya perasaannya saja.
Gerombolan kakak kelas itu perlahan menjauh meninggalkannya saat hujan telah menjadi rintik kecil. Menyisahkan Sakura yang mulai mengambil langkah pertama. Gerbang sekolah masih terbuka. Itu adalah hal yang sangat jarang terjadi jika saja hujan tidak turun seperti hari ini. Mungkin karenanya pak satpam menoleransi gerbang untuk dibuka sampai batas waktu tertentu.
Sakura memberi senyum pada pak satpam yang dilewatinya. Melangkah kecil saat genangan air ditemui dilapangan. Suasana masih sedikit ramai. Entah itu ada yang sedang duduk didepan kelas, atau mengobrol dibalik jendela. Beberapa kelas juga masih mengeluar masukkan murid-muridnya. Namun ada juga beberapa yang pintunya sudah tertutup, mungkin sensei yang mengajar sudah datang.
Kelas Sakura terdapat dilantai dua. Sesekali ia mengarahkan pandangannya kesana. Pintu kelas sepertinya masih terbuka. Tetapi tidak ada yang berkeliaran disekitar. Maka dari itu Sakura mempercepat langkahnya. Berharap sensei Ibiki yang pagi ini mengajar belum datang.
Saat langkahnya baru mencapai anak tangga, ia melihat dua orang teman sekelasnya. Seketika Sakura menghentikan jalan dan bertanya. "Udah ada sensei?"
"Belum" jawab salah satunya yang Sakura kenal dengan nama Fuu. Sakura menghembuskan napas lega. Merasa sangat bersyukur karena sensei Ibiki belum datang. Melihat bagaimana teman-teman sebelumnya terkena hukuman karena terlambat, sepanjang menunggu hujan mereda tadi ia sebenarnya sudah sangat pasrah dengan keadaan.
Sara yang berdiri disisi Fuu memenggerakkan kedua kakinya tidak beraturan. "Sakura duluan. Udah kebelet." Gadis itu berjalan kembali sambil menarik lengan Fuu.
Sakura pun melanjutkan jalannya. Tentu dengan langkah yang lebih ringan.
.
.
.
Ketukan terdengar beberapa kali pada siang itu. Mebuki yang tengah memasak air untuk membuat susu didapur menyahut kala orang yang mengetuk pintunya memberi salam. Sebelum menghampiri tamu yang datang ia terlebih dahulu mematikan kompor. Berjaga agar tidak terjadi suatu hal yang tidak diinginkan jika ditinggal begitu saja. Sambil berlari kecil Mebuki kembali menjawab salam yang dilontarkan oleh sang tamu.
Saat pintu dibuka. Terlihat dua sosok orang dibaliknya. Senyum Mebuki tidak meluntur meski tamu yang datang tidak dikenalnya. Sepasang pria dan wanita itu dipersilahkan masuk kemudian duduk disofa yang tersedia.
"Iya, ada apa, ya?" tanya Mebuki tidak mengerti. Menatap bergantian pria serta wanita yang kini duduk dikursi seberang.
"Ini benar dengan rumah Bapak Kizashi?"
Mebuki sedikit menurunkan sudut bibir kala mendengar nama itu.
"Sebenarnya tujuan kami kesini hanya untuk melihat-lihat rumah ini saja." pria itu menjeda. "Oh iya, sampai lupa. Sebelumnya perkenalkan nama saya Hidan, dan ini istri saya."
Mebuki menerima jabatan tangan sepasang suami istri tersebut. "Mebuki."
Tidak tau mengapa firasat Mebuki sangat tidak baik saat ini. Dua orang dihadapannya ini membuat Mebuki sedikit takut dengan kedatangannya. Mungkin karena Mereka menyebut nama Kizashi. Mebuki sudah pasti akan berpikiran buruk jika semua berkaitan dengan suaminya itu.
"Saya pikir kalian sudah tidak tinggal disini. Maka dari itu saya mengajak istri saya untuk melihat-lihat dulu sebelum merenovasinya."
Mebuki menyatukan kedua alisnya. "Merenovasi? Maksudnya apa, ya? Saya gak mengerti." Mebuki menyambung tawa kecil diakhir kalimat.
Hidan juga ikut menyatukan kedua alisnya, bingung. Menoleh spontan ke arah sang istri. "Saya berniat akan merenovasi rumah ini dulu sebelum nantinya dikontrakkan." jelasnya lagi.
"Tapi ini rumah saya, pak. Kenapa bapak mau mengontrakkan rumah saya? Aduh, saya kurang paham." Mebuki menjawab dengan spontan. Ekspresinya menunjukkan sedikit ketidaksukaan.
"Satu bulan lalu, Pak Kizashi menjual rumah ini pada saya. Saya pikir ibu sudah tau."
Tubuh Mebuki menegang dengan spontan kala mendengarnya. Rasa sesak seakan memenuhi ruang dalam paru-parunya. Apa yang baru saja ia dengar? Bagaimana bisa? Kizashi saja tidak pernah pulang semenjak pertengkaran dua bulan lalu.
"Men—menjual gimana, pak? Jelas-jelas sertifikat rumah ini ada di saya." jelas Mebuki tidak mau kalah dengan suara yang sedikit bergetar.
Hidan meneliti ekspresi wajah Mebuki. Seakan mencari kebohongan diantara mimik wajah itu. Jujur, ia sendiri juga bingung. Satu bulan lalu seorang lelaki yang dikenal bernama Kizashi datang ke rumahnya. Membawa surat-surat rumah untuk dijual karena alasan sangat membutuhkan uang untuk keperluan keluarga. Hidan yang memang kebetulan sedang mencari tanah untuk dibeli kedatangan Kizashi dengan menawarkan rumahnya. Awalnya Hidan tidak mau, karena jumlahnya terlampau tinggi. Namun Kizashi bersedia menurunkannya jika Hidan jadi untuk membeli rumah ini. Lalu dari sana lah sertifikat rumah ini berpindah tangan.
"Tunggu sebentar ya bu."
Hidan bangkit dari duduknya, mengambil sesuatu yang mungkin akan membuat Mebuki percaya akan hal ini. Ia keluar menuju mobil. Mengambil berkas yang memang baru saja balik nama pagi itu. Kemudian masuk kembali dan menaruh berkas itu diatas meja.
"Ini, surat rumah ini, bu. Bisa dilihat." Hidan mendorong berkas dengan map merah itu ke depan Mebuki.
Dengan bergetar Mebuki mengambilnya. Membuka perlahan map yang berisikan surat-surat itu. Ia tercengang. Sesak bertambah memenuhi ruang di dadanya. Mebuki berusaha kuat menahan air mata agar tidak tumpah. Ia berdiri secepat kilat. Berlari menuju kamar dengan perasaan hancur. Ia ingin membuktikan bahwa semua itu tidak benar. Ia ingin membuktikan bahwa surat-surat rumah ini benar-benar ada ditangannya.
Tapi kenyataan memang sepahit itu. Tidak ada apapun didalam laci lemari kamarnya. Semua berkas rumah dan tanah telah hilang. Mebuki menjatuhkan tubuhnya saat itu juga. Air mata perlahan keluar dari balik bola matanya. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Dimana ia harus tinggal? Bagaimana caranya berbicara pada anak-anaknya?
Isakan kecil mulai terdengar bersamaan dengan langkah kaki yang mendekat. Itu Sakura, disusul dengan Tatsumi dan Manami yang baru saja keluar kamar. Sakura menghampiri Mebuki yang duduk bersender pada lemari. Buliran air mata membuat sungai kecil di kedua belah pipi wanita paruh baya itu. "Ibu..."
"Kenapa, ibu?" Sakura sangat takut melihat ibunya menangis seperti ini. "Ibu kenapa? Bicara sama Sakura. Orang diluar siapa? Kenapa ibu menangis kayak gini? Mereka apain ibu?" Sakura mengguncang pelan pundak Mebuki, namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut wanita paruh baya itu.
Sakura benar-benar bingung sekaligus takut. Terakhir kali ia melihat Mebuki seperti ini saat bertengkar dengan ayahnya. Itu pun beberapa bulan yang lalu. Pikirnya mungkin sang ayah kembali membuat ulah, tetapi tidak ada jejak Kizashi disini.
Sakura berdiri, berniat bertanya langsung pada dua orang didepan atas apa yang terjadi pada ibunya. Tas yang masih tersampir kini dilemparnya asal. Jika memang benar itu karena sang ayah, mungkin Sakura akan sangat membencinya mulai saat ini.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanpa basa basi lagi Sakura langsung bertanya. Tatapannya menyiratkan ketidaksukaan. Hal itu yang mendorong Hidan menyerahkan berkas yang masih terbuka ke hadapan Sakura.
"Ini sertifikat rumah kamu yang sudah balik nama. Ayahmu sudah menjualnya pada kami."
.
.
.
TBC
Thanks for reading ^^
Kritik dan saran diterima demi kenyamanan bersama.
