Gak ada ide bikin judul...
Ini lagi niat aja makanya bisa bikin chapter 2 dgn cepet... chapter 3 nya gak tau deh kapan... :P
Sebenernya ak merasa ini cerita agak aneh, tapi... ya sudahlah ya...
Makasih buat semua yang udah ngereview, sekarang ak kasih balesanny ^_^
To y0u : Dalem mimpi kali ak mau bikin 8059... (/gg)
Ya... Ini chapter juga pendek sih... Ak males bikin chapter panjang-panjang... :P
To Rst : Naisbnya bisa dilihat dengan segera di chapter ini... Baca aja...^_^
To mayumikarinzLoveWorld : Yaay (ikut"an... :P) OC-ny sih udah ditentuin dr awal, tp belom muncul... Sabar aja deh...^_^
To Su Zuna Ame : Bukan, sepanjang hidup gak bakal ak pernah buat 8059... (Sebagai penggemar berat Yamamoto, cara pandangnya Yamamoto bolehnya sama ak doang. Gak boleh sama yang laen -PLAKK-) Sm kayak yang udah ak bilang, OC-ny belom muncul... Jadi sabar aja...^_^
Warning: Character Death Gak niat...
Disclaimer: KHR milik Amano Akira, OC milik author walaupun belom muncul...
Ch.2 What the?
- Pemakaman Yamamoto -
Rumah Makam Namimori
Hari itu, hujan turun dengan derasnya. Tidak akan ada yang menyangka bahwa Yamamoto akan meninggal di usia yang sangat muda karena sebuah kecelakaan maut.
Tsuna, Gokudera, dan para guardian yang lainnya datang, termasuk Hibari. Seluruh teman-teman sekelasnya, teman-teman klub baseball beserta managernya ikut melayat hari itu. Ayahnya juga tantu saja datang.
Teman-teman sekelasnya terutama anak-anak perempuan menangisi kepergiannya. Yang lain hanya bisa terdiam melihat jasadnya yang sebentar lagi akan dikubur. Tsuna dan Gokudera pun hanya bisa terdiam di salah satu sisi rumah makam tersebut. Ayahnya terlihat menangis tepat di sebelah peti matinya.
Kepergiannya membawa kesedihan bagi semua orang.
Setelah upacara penghormatan terakhir, peti mati itu pun dibawa untuk dikuburkan. Dan ia dimakamkan tepat di sebelah makam ibunya.
Hari itu, hujan tidak berhenti sampai sore hari...
Keesokan harinya
Sekolah Namimori
Keadaan terlihat sangat berbeda tanpa Yamamoto di sana. Ia yang biasanya membawa keceriaan bagi kelasnya sekarang sudah tiada. Di atas mejanya hanya ada sebuah pot bunga kecil yang menghiasi.
Tsuna berjalan memasuki kelasnya, Gokudera terlihat sudah duduk di bangkunya sendiri dan segera menyapa Tsuna.
"Selamat pagi, juudaime!"
Gokudera berusaha untuk lebih bersemangat, tapi dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa ia tidak bersemangat hari ini. Begitu pula dengan Tsuna, tetapi ia masih berusaha untuk tersenyum.
"Selamat pagi, Gokudera-kun."
...
TRRIIINNGGGG
Bel pelajaran berbunyi, Tsuna pun duduk ke bangkunya sendiri. Seorang guru memasuki ruangan kelas tersebut dan pelajaran pun dimulai.
Tidak terasa, waktu sudah siang. Sudah jam pulang sekolah dan para murid bergegas untuk pulang ke rumah masing-masing.
Seperti biasa Tsuna pulang bersama Gokudera, hanya saja kali ini Yamamoto tidak bersama mereka.
Keadaan mereka saat itu sangat canggung. Mereka belum terbiasa dengan keadaan seperti itu. Berdua saja tanpa Yamamoto sahabat mereka.
Hampir sepanjang perjalanan mereka tidak berkata apapun.
Tiba-tiba Gokudera membuka pembicaraan.
"Juudaime, sore ini bolehkah aku berkunjung ke rumah juudaime?"
"Eh, kenapa, Gokudera-kun?" tanya Tsuna kembali.
"Ada yang ingin kubicarakan, juudaime."
"Tentu saja boleh, Gokudera-kun."
Tidak terasa mereka sudah sampai di depan rumah Tsuna.
"Baiklah, nanti jam 4 sore aku akan datang, sampai jumpa juudaime."
Setelah itu, Gokudera mengucapkan salam ke Tsuna dan berjalan ke rumahnya sendiri.
Jam 4 sore
Ting... tong...
Bel di rumah Tsuna berbunyi. Di depannya, tangan kananya yang setia, Gokudera sudah menunggu di depan pintu.
Tsuna pun bergegas membuka pintu dan menyuruh Gokudera masuk. Mereka berdua berjalan menuju kamar Tsuna, mereka duduk di sebelah meja yang biasamereka gunakan untuk belajar bersama dengan Yamamoto.
5 menit berlalu, tetapi mereka berdua masih saja tidak ada yang memulai pembicaraan.
Tiba-tiba, Gokudera berdiri dan bersujud di hadapan Tsuna.
"Maafkan aku, juudaime!"
Dengan penyesalan yang sangat dalam ia meminta maaf. Tsuna kaget melihat Gokudera yang tiba-tiba bersujud, walaupun kejadian seperti itu sudah sering tetapi ia tidak pernah melihat Gokudera seserius ini.
"A... ada apa, Gokudera-kun?"
"Sebenarnya akulah yang telah menyebabkan kematiannya."
"Eh...?"
Di sebuah jalan di namimori, terlihat seseorang berdiri di pinggir jalan.
Orang tersebut terlihat jelas seperti arwah. Tubuhnya tembus pandang, benda di sebelahnya dapat dilihat melalui sisi tubuhnya yang satu lagi.
Orang itu adalah Yamamoto, ya... Yamamoto yang sudah menjadi arwah...
-Yamamoto's POV-
Aku membuka mataku perlahan-lahan.
'Hmm... Di mana ini? Kenapa aku bisa ada di sini?'
Aku berusaha untuk mengingat apa yang terjadi sebelumnya. tetapi, aku tidak dapat mengingat apapun.
yang dapat kuingat hanyalah terakhir kali aku dalam perjalanan pulang dari sekolah dan setelah itu...
Setelah itu, aku tidak dapat mengingat apapun...
Seberapa keras pun aku berusaha untuk mengingatnya, tetap saja aku tidak dapat mengingatnya.
Aku melihat sekitarku, tidak ada yang aneh. Lalu aku melihat ke arah tanganku, entah kenapa tanganku juga tubuhku tembus pandang (?).
Apa yang sebenarnya terjadi? Aku tidak bisa mengingat apapun dan sekarang aku melihat tanganku serta tubuhku tembus pandang.
Hmm... Aku berusaha untuk berpikir rasional, tetapi aku tetap saja tidak dapat menyimpulkan apapun.
'Mungkin Tsuna mengetahuinya, lebih baik aku menanyakannya kepadanya sekarang.'
-End Of Yamamoto's POV-
Yamamoto pun bergegas pergi ke rumah Tsuna, tanpa menyadari dan tanpa mengingat apa yang telah terjadi sebelumnya. (Satu kata : Lemot =.=a)
Ia berjalan terus menyusuri jalan, tidak ada orang yang sepertinya melihatnya dan tidak ada orang pula yang menyadari keberadaannya.
Saat melewati sekolah Namimori, Yamamoto sempat menengok sebentar ke arah lapangan baseball. Tetapi setelah itu ia segera kembali bergegas.
Ia pun tiba di rumah Tsuna, masih belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Yamamoto berusaha untuk memencet bel rumah Tsuna, tetapi tubuhnya menembus bel tersebut.
Yamamoto tampak kaget, tidak lama ia kembali mencoba dan hasilnya sama saja.
'Aneh, kenapa aku tidak dapat menyentuh bel tersebut?'
Yamamoto kembali berpikir sejenak, lalu ia mengarahkan tangannya ke pintu rumah Tsuna. Hasilnya, dengan sukses tangannya menembus pintu tersebut.
Ia kembali menarik tangannya dan berhenti sejenak. Setelah itu, ia berjalan tanpa ragu ke arah pintu dan tentu saja ia tembus.
'Apakah aku bermimpi? Apa ini hanya ilusi?'
Apapun itu, Yamamoto tetap berjalan menuju lantai 2 tempat kamar Tsuna berada.
Kamar Tsuna
"Sebenarnya akulah yang menyebabkan kematiannya." Gokudera terlihat bersujud tepat di depan Tsuna.
"Eh...? Apa yang sebenarnya terjadi, Gokudera-kun?"
"Sebenarnya waktu itu..."
"Yo! Tsuna, Gokudera!"
Yamamoto masuk dengan menembus pintu kamar Tsuna, setelah melihat Tsuna dan Gokudera ada di sana tanpa ragu Yamamoto langusng menyapa mereka dengan senyumannya yang biasa.
Tsuna dan Gokudera mendengar suara tersebut langsing menghadap ke arah pintu dan membatu di tempat.
"Eh, ada apa?" Yamamoto yang bingung melihat mereka berdua membatu segera kembali mengajukan pertanyaan.
"Ha..."
"?"
"HANTU!" Tsuna dan Gokudera berteriak bersamaan dengan suara yang penuh dengan -ehem- TOA.
End Of Chapter 2
R&R^_^
Saran, kritik, dan flame pun diperbolehkan... =w=
