WARNING: Gaje, OOC, ga nyambung, typos, AU, All humans, de el el

DISCLAIMER:

Rumiko Takahashi-sensei owns InuYasha


Author's note: Ini fanfic pertama saya yang saya usahain bakal jadi multichapter :'D semoga aja nyambung dan ga ngebosenin yak. Makasih buat yang mau baca, pengisian kotak review betul-betul direkomendasikan lho ^^

Summary: Kagome terpaksa harus menjadi 'budak' Inuyasha demi mempertanggungjawabkan akibat perbuatannya sendiri. Tapi, apa alasan Inuyasha melakukan itu? Bukankah ia menginginkan Kagome untuk berhenti memperdulikannya?


"Slavery"


Untuk kesekian kalinya Inuyasha termangu. Ia sandarkan tubuhnya di bangku panjang dekat bukit belakang sekolah. Sepasang permata emas itu tak hentinya menekuri sebuah kalung dengan bandul manik mungil yang seharusnya sudah lama ia berikan kepada seseorang.

Pada Kikyo—

"Aku sudah tak membutuhkannya lagi!" dengus Inuyasha diiringi angin sepoi yang berdesir. Menyibak poninya pelan. Ia genggam kalung itu erat-erat, lantas melontarkannya jauh-jauh. Nafasnya menghembus cepat. Tatapannya menerawang. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi selain melepaskan Kikyo.

"Aku hanya menganggapmu sebagai adik saja, atau murid. Ya, kau tahu..."

"Adik? Jadi, selama ini kau hanya melihatku sebagai adik?"

"...ya."

"Kikyo, aku ini menyukaimu. Tak bisakah kau mengerti sedikit? Aku—aku mencintaimu!"

"Inuyasha, kau yang harusnya mengerti perasaanmu sendiri. Kau sebenarnya hanya menginginkanku. Bukan mencintaiku—"

"Kikyo!"

"Dengar baik-baik... kau masih terlalu muda. Usiamu saja masih enam belas tahun—sebaiknya kau pahami dulu perasaanmu itu. Aku yakin, kelak kau akan menemukan cinta sejatimu."

"Cinta sejati, huh?" Inuyasha menyunggingkan senyuman miring.

Mungkin inilah waktu yang tepat baginya untuk bersikap lebih dewasa. Untuk bisa menerima segala hal yang tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan. Hidup tak selalu sejalan dengan apa yang kita mau. Dan kini Inuyasha harus menelaah baik-baik makna di balik filsafah itu.

Lantas lelaki berambut perak itu bangkit dan segera pergi meninggalkan bukit hijau tersebut. Bukit yang selama ini selalu setia menjadi saksi bisu bagi setiap peristiwa-peristiwa yang merundung hidupnya.

"Ah, rasanya bodoh sekali. Seenaknya saja mereka menyuruh-nyuruhku untuk memindahkan tanaman-tanaman itu ke pot." Gerutu Kagome sebal. "Mereka pikir aku tukang kebun ap... gyaaaa—" Belum sempat ia menyelesaikan omelannya, satu tungkai langsingnya tersandung batu besar yang tertimbun mantap di dalam bukit itu.

"Itai..." Ringis Kagome masih dalam posisi tertelungkup. Buru-buru ia mengangkat kepala, namun seketika juga sepasang mata bulatnya menangkap secercah kilau di antara rumput-rumput hijau di hadapannya. Tangannya dengan gesit menggapai benda kemilau itu. "Ka-kalung?"

Gadis itu mengangkat benda tersebut tinggi-tinggi. Membiarkan cahaya matahari menimpanya, membuat kalung berbandul manik itu semakin terlihat cemerlang. "Cantik sekali." Gumamnya terkesima. Entah bisikan darimana yang Kagome dapat, anehnya tanpa sadar ia malah memasangkan benda itu ke lehernya sendiri. Melingkar sedemikian cantiknya. Gadis itu mengulas senyum tipis. "Mungkin nasibku tidak sial-sial amat hari ini. Bodoh sekali orang yang sudah membuang benda secantik ini." ujar Kagome kepada diri sendiri lalu segera beringsut ke arah barisan tanaman perdu di sisi bukit hijau belakang sekolah ini.

-oOo-


.

"Wow, kau membelinya di mana? Cantik sekali, Kagome—"

"Ahaha aku menemukannya di bukit belakang sekolah, kok. Sayang kalau tidak dipakai." Ujar Kagome memamerkan benda yang tengah menghias lehernya itu.

Lamat-lamat Inuyasha melangkah masuk ke kelas. Awalnya tak ada yang menarik perhatiannya. Hingga pada akhirnya, sepasang iris emas itu tertuju pada benda yang tak asing lagi baginya. Rahangnya mengeras. Tangannya terkepal begitu kokoh. Batinnya seketika bergemuruh. Dengan gontai ia menghampiri Kagome yang terlihat masih tertawa ria bersama teman-temannya di bangku.

"Dari mana kau dapatkan benda itu?" tanya Inuyasha dengan tatapan menikam.

"Eh?" Kagome kembali menyentuh lehernya. "Maksudmu kalung ini? Aku menemukannya di bukit belakang sekolah." Ucap gadis itu ala kadarnya.

"Berikan padaku!" tukas Inuyasha seraya merampas kalung itu dengan begitu kasar, membuat kulit leher Kagome terlihat memerah.

"Apa-apaan kau?! Kembalikan!" pekik Kagome berang, berusaha merebut kembali kalung itu dari tangan Inuyasha. "Itu sudah jadi milikku! Kau sudah membuangnya, dan itu artinya kalung itu bukan milikmu lagi!" bentak perempuan bersurai kelam itu semakin jengkel. Namun, Inuyasha tetap bersikukuh untuk tidak menyerahkan benda itu kepada Kagome.

Kedua murid itu kini menjadi pusat perhatian kelas. Sementara, Kagome dan Inuyasha tetap terlihat teguh saling memperebutkan perhiasan itu.

"AHHHHH!" Inuyasha tiba-tiba memekik, membuat Kagome berhasil mengalihkan kalung itu kembali ke genggamannya. Dengan nafas sedikit tersengal, gadis itu melirik geram dan pergi begitu saja.

"Dasar perempuan sialan!" umpat Inuyasha dengan raut meringis. Ia raih jarinya yang terlihat membengkak. "Ukh—dia itu manusia atau bukan sih?!" Tak sudahnya ia mendengus geram. Baru kali ini ia merasa sangat jengkel hanya gara-gara seorang perempuan berkaki pendek.

'Berani berurusan denganku, ya? Lihat saja, akan kubuat dirinya menjadi budakku!' batin Inuyasha yang serentak mengganas, tersulut api penuh dendam.

"Kau kenapa, Inuyasha?" tanya Miroku mengawasi wajah sahabatnya itu.

"Lihat ini!" Laki-laki bersurai perak itu memamerkan telunjuknya yang memerah. "Dia menggigit jariku!"

Melihat itu, tawa Miroku malah terpecah. "Kau juga, sih. Maunya bertengkar dengan perempuan." Ledeknya diiringi tawa anak-anak lain yang terdengar riuh rendah.

-oOo-


.

Mendadak Kagome menghentikan langkahnya. Tangannya terangkat—menunjukkan sebuah kalung yang masih berada di genggamannya. Wajahnya seketika berubah sendu.

"Apa aku tadi sudah keterlaluan, ya?" gumamnya penuh penyesalan. "Padahal ini memang kalung miliknya—tapi, ah salahnya juga! Seeenaknya berbuat kasar seperti itu padaku." Tukasnya dengan nada yang semakin naik. "Kalau saja dia meminta baik-baik, pasti sudah kuberikan—"

"Oi, kaki pendek!"

Kagome terdiam sejenak. Mendapati seseorang yang dengan pongahnya berjalan di sepanjang koridor. "Mau apa kau? Ingin membalas dendam?"

Inuyasha tertawa sarkastik. "Kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!"

"Bertanggung jawab apa? Jelas-jelas aku hanya membela diri..."

"Membela diri dengan menggigit jari orang, huh? Kau ini manusia atau bukan?" Inuyasha mengangkat jarinya yang terlihat bengkak. "Jika ini infeksi, kau yang akan kulaporkan pada..."

"Ah!" Buru-buru Kagome melesat ke arah Inuyasha. "Baiklah, baiklah. Ini aku kembalikan padamu." Katanya seraya menyerahkan kalung tersebut. "Kumohon, jangan laporkan pada siapa-siapa, ya?"

"Kau pikir dengan menyerahkan benda ini kau bisa bebas?"

"Baiklah—akan kuobati juga..."

"Itu tidak cukup! Kau juga harus menjadi pembantuku hingga luka ini sembuh. Mengerjakan PR, mengumpulkan tugas, menghadiri rapat-rapat ekskul yang membosankan, dan..."

"Apa?! Tidak! Itu tidak adil! Aku hanya menggigitmu sedikit dan kau malah menyuruhku mengerjakan tugas yang tidak-tidak—"

"Terserah. Dilaporkan lalu kena skors atau menuruti segala perintahku. Itu pilihanmu..."

"Ah, bagaimana bisa—" Sial. Inuyasha memang benar-benar sudah tahu titik kelemahan Kagome. Gadis itu memang sangat takut jika dipanggil oleh kepala sekolah atau konselor atau apapun karena masalah yang diperbuatnya. Seketika ia tundukkan kepalanya. "Baiklah... aku pilih pilihan kedua." Sahutnya lesu.

"Hahah! Mulai sekarang kau jadi budakku!" ujar Inuyasha tertawa dengan penuh kepuasan. Sementara Kagome hanya bisa terkulai, memikirkan nasib untuk ke depannya nanti.

"Hn?" Sesshomaru turut menghentikan lajunya mendapati Kikyo yang tiba-tiba terdiam di tengah-tengah koridor seberang. "Ada apa, Kikyo?"

Kikyo segera tersadar lalu tertawa kecil. "Tidak—" sahutnya. Namun pikirannya masih terpusat pada kedua murid yang barusan ia dapati berduaan di koridor ujung sana. "Tidak apa-apa. Hey, kau ada kelas kan hari ini?" tanyanya.

Sesshomaru mengangguk. "Yah—dua jam bersama anak-anak kelas dua belas."

"Aku juga harus mengurus ekstrakurikuler memanah untuk para murid baru. Semangat untuk kelas kendo-mu ya!" Pungkas Kikyo kemudian kembali melangkah mendahului Sesshomaru.

-oOo-


.

TAKK!

"Yatta..."

"Bagus sekali. Kemampuan dalam memfokuskan sasaran benar-benar sudah meningkat, Kagome!"

"Te-terima kasih, Kikyo-sensei." Ujar Kagome bersemu merah. Baru kali ini guru memanahnya itu terlihat memujinya begitu tulus. Biasanya, Kikyo adalah tipikal guru perfeksionis yang sangat tidak suka memanjakan muridnya dengan pujian-pujian.

Sejurus kemudian suara ponsel terdengar berderit. "Oh, ternyata punyaku. Tunggu sebentar, Kikyo-sensei." Cepat-cepat Kagome meraih ponselnya dari saku seragam. Semburat wajahnya terlihat ditekuk tatkala menatap nama yang tertera di layar. "Ya, mau apa lagi?!"

"Kau ini kemana saja?! Ini sudah hampir jam dua belas. Belikan aku makan siang, aku tunggu kau di bukit belakang sekolah!" suara di seberang terdengar begitu cerewet seolah tak ingin membiarkan Kagome menjawab.

"Tapi, aku..."

Tut tut tut...

"Hey, dengarkan aku dulu!" teriak gadis itu jengkel. "Tch—semaunya saja!" sungut Kagome dengan tangan meremas ponsel.

"Ada apa, Kagome?" tanya Kikyo seraya merapikan busur-busur panah yang terlihat berserak di atas meja.

"Itu, anu... barusan—"

"Inuyasha?"

"Eh?"

Kikyo tertawa. "Kau lupa menonaktifkan loudspeaker-mu tadi, Kagome. Jadi aku bisa mendengar suaranya."

Mendengar jawaban itu Kagome hanya bisa tertawa. Tawa yang terlihat kaku dan dibuat-buat. Tiba-tiba saja batinnya merasa tidak enak.

"Kalau kau ada urusan, tak apa. Lagipula kelas memanah sudah hampir selesai, jadi kau bisa pergi." Tutur Kikyo.

Awalnya Kagome ragu—namun sekejap suara berisik Inuyasha kembali menggantung di kedua gendang telinganya. "Terima kasih banyak, Kikyo-sensei." Ujarnya sembari membungkukkan tubuhnya dan berlari ke arah luar lapangan tempat latihan memanah.

Kikyo terus mengamati kepergian Kagome. Ia hembus nafasnya yang terasa berat. Kedua sudut bibirnya terangkat sedikit. "Kagome, kuharap kau bisa membantu Inuyasha untuk memahaminya." Bisiknya seolah gadis enam belas tahun itu mampu mendengarnya dari jauh.

Sementara itu Kagome terus berlari. Degup jantungnya seolah ikut berpacu di antara lajunya yang cepat. Ia rasakan sesuatu yang aneh di dalam sekat batinnya.

"Kikyo-sensei..." lirihnya. Benaknya kembali memutar ulang kejadian dua malam yang lalu. Di mana gurunya itu mendekap seorang pria lain. Sesshomaru...

Lagi-lagi rasa sakitnya kembali mengeruak, mengingat tatapan dingin milik Inuyasha kala itu. Matanya seketika terasa panas. "Ah aku ini sedang memikirkan apa, sih? Bodoh!" ujarnya kembali mempercepat langkahnya.

Inuyasha menyukai Kikyo.

"Kau sedang menyukai seseorang atau tidak, itu sama sekali bukan urusanku. Aku tidak peduli. Jadi—berhenti memperdulikanku."

"Aku. Benar. Benar. Tidak. Mengerti!" tukas Kagome tiba-tiba. "Bagaimana bisa dia menyuruhku berhenti memperdulikannya, sementara dia sendiri selalu menyusahkanku seperti ini?"

Kagome menghela nafas. "Dasar, sudah SMA saja perilakunya malah persis seperti anak TK!"

Meskipun mengumpat seperti itu, tanpa disadari—bibirnya mengulas selengkung senyum manis. Entah... mungkin memang. Memang Kagome menyukai Inuyasha.

Tapi, tak ada alasan baginya untuk segera mengatakannya. Mungkin itu hanya sekedar perasaan emosi semata. Atau—

Memang betul ia menyukainya?


-To Be Continued-


Plisss saya butuh komentar anda semua :'3 jadi mohon kritik dan sarannya, apakah fanfic ini patut dilanjutkan atau cukup ngegantung di sini aja :''D arigato gozaimashita~