Previous Chapter
CUP
Mata biru Naruto melebar saat pipinya dikecup oleh Hinata. Tak pernah sebelumnya gadis itu mengambil inisiatif duluan untuk mencium Naruto. Ini pertama kalinya bagi Hinata.
"Arigatou, Naruto-kun," ujar Hinata lalu mendorong Naruto keluar dari kamar. Dia menutup pintu dengan bantingan kencang. Dari luar, Naruto bisa tahu jika gadis manis itu tengah merona.
"Dasar, Nona Bulat Bakso," gumamnya sambil menyentuh pipi kanannya.
Sementara di dalam kamar, Hinata sibuk menenangkan jantungnya yang menggila. "Ya, Kami-sama. Naruto-kun hampir menciumku," gumamnya seraya melompat girang. "Apa dia merasakan apa yang kurasakan? Apa Naruto-kun juga mencintaiku?" Hinata mulai berspekulasi sendiri. "Semoga itu benar, Kami-sama."
Hinata menyunggingkan senyum lebar seraya mengambil setelan terbaiknya. "Aku pasti bisa!" semangatnya tanpa batas.
...
Naruto milik Masashi Kishimoto-sensei
Those are Precious milik Ozellie Ozel
Rate : Teen
Pairing : NaruHina
Genre : Hurt / Comfort, Drama
Warning : Gajeness, OOC, Sinetronisme, Gak Sesuai EYD, Boring, Typos
…
YOU HAVE BEEN WARNED
JUST FUCK OFF, IF YOU DON'T LIKE THIS STORY, PAIR, AND ANYTHING ABOUT IT
…
Those are Precious
Chapter 2: Si Surai Merah
...
Happy Reading
…
Sepatu hak tinggi yang menghentak-hentak lantai menarik perhatian para karyawan dan karyawati di kantor pusat Sabaku Inc. Mereka bahkan tak segan melempar pelototan pada sang gadis cantik yang berlari dengan semangat. Surai indigo yang digelung rapi dengan atasan blouse merah marun dan rok span hitam sangat kontras dengan kulit mulusnya yang putih. Sesekali dia mengangkat ujung roknya agar langkah kakinya tak terhalang.
"Astaga, aku harus cepat sampai," gumam Hinata seraya melepas sepatu hak tingginya dan berlari kencang menuju lift. Aksinya yang terlihat heroik membuat para karyawan dan karyawati terkikik. Jarang sekali ada hiburan di pagi hari seperti ini. Dia menarik napas dengan susah payah saat telah sampai di depan lift. Sambil membungkukkan badannya, Hinata mencoba untuk menetralkan organ pernapasannya yang dipacu paksa. "Astaga ... lelah sekali," gumamnya lalu berjongkok di depan lift. Dia sama sekali tak menyadari apabila setiap pergerakannnya disaksikan oleh pria jangkung bersurai merah. Pria itu terlihat datar saja ketika Hinata tampak menarik perhatian para pekerja di Sabaku Inc.
'Apa dia tak punya malu?' pikir pria itu tanpa melepas pandangannya dari Hinata.
"Huft, jadi haus," gumam Hinata seraya berdiri. Meskipun kakinya sudah keram, dia tetap memaksakan diri untuk bangkit. Mata mutiaranya melirik ke atas pintu lift yang menunjukkan angka 25. "Apa kantor sebesar ini hanya punya satu lift?" gumam Hinata seraya mendecak kesal. Dia menoleh ke samping dan mendapati seorang pria jangkung dengan kulit putihnya yang mencolok, sedang menatap lurus ke arah lift.
Hinata meneliti penampilan lelaki itu. Setelan rapi, sepatu mengkilap, bersih, dan dia membawa map, sudah bisa dipastikan jika di calon sekretaris yang jadi saingan Hinata. "Jangan terlalu tegang!" ujar Hinata pada pria itu. Kata-katanya sukses menarik perhatian sang pria bersurai merah. "Kau pasti mau ikut tes wawancara, kan?"
Pria bersurai merah itu tidak menjawab. Bibirnya terkatup rapat-rapat. Dia malah menatap Hinata dalam-dalam seolah ingin memakannya. Menyadari bahwa dia diabaikan, Hinata langsung mengerucutkan bibirnya. "Sombong sekali," gumamnya seraya menoleh ke arah lain. Dia terlanjur bad mood saat melihat si pria merah itu.
TING
Pintu lift terbuka. Dengan langkah cepat Hinata menyenggol lengan si pria berambut merah yang hendak memasuki lift tersebut. Tak peduli jika tingkahnya dianggap kekanakan, yang penting dia sudah puas membuat bibir lelaki itu ditekuk. Hinata hendak menekan tombol sepuluh, dimana tempat sesi wawancara akan diselenggarakan. Hanya saja dia tidak menemukan tombol yang dimaksud. Yang ada malah dari angka 1, 25, 26, dan 27.
"Kenapa tidak ada lantai 10?" pikir Hinata heran.
Pria bersurai merah itu mendengus lalu menekan tombol 27. Dia berdiri dengan ketenangan dan tak mempedulikan si cantik indigo yang terlihat gelisah. Sembari bersandar di sudut lift dia memandangi gerak-gerik resah si gadis bersurai indigo tersebut. Tas jinjing hitam yang dibawanya tampak menggembung. 'Dia seperti membawa bom saja,' gerutu si surai merah dalam hati.
"A-ano ... bukannya sesi wawancara kita ada di lantai sepuluh, ya?" Hinata mendongak agar bisa melihat wajah sang pria bersurai merah. Bukannya mendapat jawaban, pria itu malah menaikkan sudut bibirnya. Dia terkesan mengejek Hinata. "Hei, kau tuli, ya?"
Perjalanan mereka tampak mulus dan tak ada satu pun yang memasuki lift tersebut. Maka dari itu, tak butuh waktu hingga dua menit, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Sesampainya di lantai dua puluh tujuh, si surai merah keluar dari lift. Hinata yang tak tahu apa pun langsung saja mengikuti pria itu. Sayangnya, si surai merah tak mempedulikan apa pun yang diutarakan Hinata.
"Hei, kau benar-benar tahu dimana tempat wawancaranya, kan? Lantai ini sepi sekali," ujar Hinata sembari mempercepat langkahnya agar menyamai langkah si pria jangkung. "Apa kita saja yang baru sampai, ya?" tanyanya tanpa lelah meskipun tak ditanggapi oleh pria bersurai merah.
Hanya terdengar suara langkah kaki Hinata bersama pantofel mengkilap milik si surai merah. Karpet merah yang membentang dari sudut ke sudut benar-benar menarik perhatian Hinata. "Serasa disambut!" kikik Hinata sembari menengadah. Dia tampak serius mengamati lukisan-lukisan bermotif abstrak. Sangking seriusnya, dia bahkan tidak tahu sekarang sudah berada dimana.
Kemudian mereka melewati sebuah meja tinggi yang memiliki papan nama di atasnya, Secretary, yang tampak rapi dan bersih. "Hei, bukankah meja ini akan jadi milik kita?" Hinata tersenyum lebar seraya menyenggol lengan si lelaki surai merah. Tingkahnya sok akrab, namun si pria tidak menanggapi sama sekali.
Pintu yang terbuat dari kayu jati menjadi satu-satunya pintu disana. Pria bersurai merah itu tampak santai saja menyentuh daun pintu tersebut. Padahal di pintu tersebut ada papan nama warna emas bertuliskan PresDir's Room. Mata amethyst Hinata membulat. Dia menarik tangan si lelaki bermata hijau saat akan membuka pintu. "Kau gila! Ini ruangan PresDir!" pekik Hinata sambil mendorong dengan kasar si pria surai merah.
"Lalu?"
Mata Hinata membulat ketika melihat respon datar pria itu. "Kau tidak takut? Nanti penilaian PresDir padamu akan menurun jika melihat kelancanganmu!" tukas Hinata lalu menarik paksa si pria surai merah. Tanpa mempedulikan geram kemarahan si surai merah, Hinata menyeretnya sekuat tenaga. Dia membawanya ke lift dan menekan tombol agar pintu lift terbuka. " Seharusnya kita di lantai sepuluh!" ujar Hinata.
"Kalau penilaian PresDir menurun terhadapku, bukankah sainganmu akan berkurang?" tanya pria itu dengan suara datar. Tampaknya dia tidak lagi mempermasalahkan keadaan dimana dia dipaksa untuk memasuki lift. Toh, juga tujuan dia sebenarnya adalah lantai sepuluh.
Hinata menggelengkan kepalanya. "Aku tidak senang jika sainganku berkurang," ujarnya sambil menarik paksa pria itu untuk masuk ke lift. "Lagipula suaramu jangan terlalu datar seperti itu! Wajahmu juga jangan terlalu kaku! Setidaknya senyumlah, supaya PresDir Sabaku menerimamu," katanya. Dengan lancang, Hinata berjinjit dan menarik ujung bibir pria itu. "Nah, pertahankan senyummu itu!" Hinata menepuk-nepuk dada sang pria surai merah. Sambil mengacungkan jempol kanan, dia menyunggingkan senyum lebar.
Baru dua detik si pria berkulit putih menyunggingkan senyumnya karena paksaan Hinata, sudut-sudut bibirnya langsung ngilu. Maklum saja, otot-otot di mulutnya jarang digunakan selain untuk berbicara dan makan. Dan kembalilah bibir si surai merah berbentuk garis datar. Pintu lift tertutup seketika dan membawa mereka ke lantai dasar. Pria bersurai merah itu masih mengamati tingkah si gadis lavender tersebut. Gadis berambut indigo itu tampak menyisir surai bagian atas dengan jemarinya agar tetap rapi. "Kau ... tak pernah melihat rupa PresDir Sabaku?" tanya si surai merah tiba-tiba sambil menepis tangan Hinata yang masih mencengkeram lengannya.
Hinata mengerucutkan bibir saat merasakan tangannya ditepis kasar. "Itu dia masalahnya!" ujarnya lantang. "Tousanku adalah Kabag Keuangan disini. Tetapi aku lupa menanyakan ciri-ciri PresDir Sabaku." Jawaban gadis itu tak serta merta membuat bola mata hijau si surai merah melebar. Malah sebaliknya, dia terlihat biasa saja.
TING
Pintu lift terbuka dan mereka telah kembali ke lantai satu. Hinata keluar dari lift dan tak lupa tangannya masih menggenggam si surai merah. Kepala Hinata celingak-celinguk ke segala arah. Dia sedang mencari bantuan pada para pekerja disini. Perhatiannya terfokus pada seorang wanita berambut hitam yang digelung rapi. Wanita yang sedang mengenakan seragam biru-biru khas petugas kebersihan sedang membungkuk disana. "Kita tanya saja pada Baasan itu!"
Lagi-lagi Hinata menarik paksa pergelangan tangan si pria bersurai merah dengan semangat. Dia berjalan cepat menuju seorang petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai di dekat pintu darurat. "Baasan, Baasan!" teriak Hinata tanpa melepaskan genggamannya pada lengan si surai merah.
Sontak saja si petugas kebersihan terkejut. Mata coklatnya lebih terkejut lagi melihat kehadiran pria bersurai merah. "O-Ohayou gozaimasu, PresDir," sapa si petugas kebersihan seraya membungkuk hormat.
Hinata terkikik sambil mengibaskan tangannya. "Hei, kami ini masih calon sekretaris PresDir. Jangan sekaku itu, Baasan," ujarnya lalu melirik si surai merah. Sepertinya si gadis lavender ini tidak mendengar dengan jelas bahwa sang petugas kebersihan memanggil si surai merah dengan sebutan PresDir. "Ai!" Dahi si surai merah mengernyit saat mendengar seruan Hinata padanya. "Jangan sombong begitu. Tersenyumlah!"
Si surai merah memutar bola matanya bosan. Tingkah si lavender benar-benar membuatnya heran. Apa memang dia selalu bersikap sok kenal pada semua orang? "Diamlah!" tukas si surai merah dengan ketus. Dia menepis pergelangan tangannya yang dikekang Hinata lalu berbalik. Dia hendak meninggalkan Hinata dan berjalan menuju lift.
"Hei!" teriak Hinata seraya mengejar si surai merah. Lagi-lagi hentakan sepatu hak tingginya menggema di sepanjang koridor sepi ini. "Kau sombong sekali! Kita butuh informasi untuk naik ke lantai sepuluh," ujarnya seraya memukul punggung Gaara pelan. "Menyebalkan!" ledeknya.
Si surai merah mendecak kesal saat Hinata bersikap seenaknya. "Jangan menggangguku!" larangnya dengan ekspresi muram.
Hinata menyipitkan matanya. Ini adalah ciri-ciri jika dia sudah dilanda kekesalan. "Kau itu pasti pelamar dari luar kota, makanya sombong begitu!" tuduhnya tak berdasar. Dia menatap si surai merah dengan sorot marah dan tangannya bersidekap. "Dengar baik-baik, dua puluh menit lagi sesi wawancara akan dimulai. Jika kita tidak sampai disana, bisa-bisa kita didiskualifikasi!" Caranya berbicara persis seperti seorang ibu yang memarahi anaknya.
"Jadi maumu apa?" tanya si surai merah dengan intonasi datar.
Hinata memejamkan matanya. Hal itu sengaja dia lakukan agar emosinya bisa diredam. "Tak ada cara lain, kita harus menggunakan tangga darurat."
Mata hijau si surai merah membulat seketika. "Kau bilang apa?" tanyanya dengan intonasi tinggi.
"Ayolah! Kita tak punya waktu lagi!"
Si surai merah mendecak kesal saat Hinata menarik tangannya menuju pintu darurat. Bisa tidak, gadis ini bertingkah normal? Melihat jumlah anak tangga saja dia sudah mau pingsan, apa gadis ini tidak ada rasa penat sama sekali? Namun dia tak sempat berpikir apa pun lagi karena si cantik lavender sudah menaiki tangga dengan semangat empat lima.
Seharusnya pria beriris hijau itu tidak perlu mengikuti kemauan sang gadis. Dengan dia yang mengikuti kemauan si lavender ini, sama saja jika dia bersikap dungu. Hanya saja ada hal yang membuatnya untuk tetap bersikukuh berada disana. Semangat dan keramahan si lavender cantik membuatnya terpukau. Dengan langkah cepat dia mengikuti Hinata yang mendahuluinya.
Posisi Hinata yang berada di depannya membuat mata hijau si surai merah tak bisa diam. Apalagi saat betis ramping dan mulus terpampang langsung di depan wajahnya. Bokong sintal gadis itu pun turut menjadi objek sasaran matanya saat ini.
'Sial! Kenapa aku memikirkan hal seperti itu!' gerutu si surai merah dalam hati. Dahinya mengernyit saat langkah si gadis telah berhenti. Secara refleks saja si surai merah ikut berhenti.
"Lelah sekali," gerutu Hinata sembari melepas sepatu hak tingginya. Dia melirik si surai merah yang tampak santai saja. "Untung saja ini sudah di lantai sepuluh." Mereka berjalan menuju pintu darurat dan keluar dari sana. Hinata berjalan cepat menuju kerumunan para pelamar yang akan mengikuti sesi wawancara tersebut.
"Nona Hyuga," Hinata melirik ke kanan saat melihat siapa yang memanggilnya. Senyumnya mengembang saat wanita cantik berwajah oriental sedang melambaikan tangan padanya. "Ah ... Tayuya-san," sapanya.
Wanita cantik bersurai merah itu mendekat pada Hinata. "Kau sudah memberikan bukti kelulusanmu di sesi tes tertulis pada petugas?" tanyanya sambil menunjukkan kartu tanda pengenal yang tergantung di lehernya.
Hinata menyunggingkan senyum lebar seraya merogoh isi tas jinjingnya yang lumayan besar. Alisnya mengernyit saat tangannya tak juga mendapatkan benda yang dimaksud. "Astaga! Dimana surat kelulusanku!" pekiknya menarik perhatian orang banyak. Wajah Hinata terlihat gusar. Benda yang dicarinya tak kunjung ditemukan. "Bagaimana ini?" keluhnya sembari berjongkok di lantai. Dia meletakkan tas jinjingnya di lantai. Tak peduli jika para pelamar dan pekerja menatapnya heran.
Hinata menggigit bibir bawahnya. Apa yang dicarinya tak kunjung ditemukan. Dengan tak sabar, dia membalikkan tasnya dan menumpahkan keseluruhan isinya. Bedak, lipstik, eyeliner, mascara, blush on, sisir, map, dua buah buku psikologi, dan satu novel kesayangannya, Pride and Prejudice.
"Untuk apa kau membawa buku sebanyak ini?" tanya wanita bersurai merah yang dipanggil Tayuya itu. Dia tampak heran ketika melihat isi tas jinjing Hinata adalah benda-benda yang tidak penting dan tidak seharusnya dibawa. Malah surat keterangan kelulusan sesi tes tertulis tidak dibawa Hinata. Padahal benda itu sangatlah penting. Meskipun hanya berupa sebuah kertas, namun benda itu adalah sambungan dari nyawa seorang pengangguran baru sepertinya. "Ini semua tidak penting!"
Hinata mengernyitkan alisnya. "Lalu aku harus bagaimana? Kalau aku sampai tak diterima, bisa-bisa Tousan mengusirku dari rumah," keluhnya sembari mengecek ulang isi tasnya. Namun benda yanh dia cari tidak diemukan juga.
Tayuya menghela napas panjang. Dia mengulurkan tangan kanan dan membantu Hinata untuk berdiri. "Jujur saja pada petugas. Katakan jika suratmu hilang atau ketinggalan," ujarnya sembari menarik tangan Hinata menuju meja petugas yang terletak di dekat pintu masuk. "Aku nomor tujuh. Kalau tidak salah ada sepuluh orang yang lulus sesi pertama dan sepertinya tinggal kau saja yang belum mendapatkan nomor antrean," jelasnya rinci.
Hinata menelan ludahnya dengan susah payah. "Aku takut. Nanti kalau aku didiskualifikasi bagaimana?" tanyanya sembari menggenggam jemari Tayuya. "Aku sampai bergetar begini."
Tayuya terkikik ketika merasakan kulit Hinata yang berkeringat dingin. "Kau belum mencoba, Hinata," ujarnya.
Hinata menggigit bibir bawahnya. Dia tampak terpikir oleh sesuatu. "Eh, tadi si Ai dimana?" tanyanya seraya berjinjit dan mencoba untuk mencari si surai merah di antara kerumunan para pelamar.
"Di suasana genting seperti ini kau sempat-sempatnya mencari orang lain. Pikirkan dirimu dulu, kau saja tidak tahu apa diterima atau tidak," gerutu Tayuya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia memilih untuk duduk di sofa yang terletak di depan ruangan sembari menunggu persiapan untuk sesi wawancara selesai.
Sementara Hinata memilih untuk meminta kejelasan apakah dia bisa melakukan sesi ini meski tak membawa surat kelulusan atau tidak. Dia mendatangi meja pengawas yang tampak sepi. Dua wanita yang sedang bercengkerama disana terlihat tidak terlalu mempedulikan apa yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar mereka.
Si gadis cantik menarik napas sedalam-dalamnya. Dia benar-benar menyiapkan mental baja hanya untuk menanyakan hal sekecil itu. Namun apa yang akan menjadi jawabanlah yang membuat diri Hinata setakut ini. "A-ano..." Suara Hinata menciut saat dua orang yang asyik mengobrol itu mendadak diam. Mereka terlihat tidak suka saat Hinata mengganggu kesenangan mereka.
"Apa?" tukas salah satu dari mereka. Si wanita bersurai merah menatap sinis pada Hinata. "Kau pelamar, ya?" tanyanya datar. Dia mengambil satu-satunya yang tersisa dari kartu tanda pengenal yang tergeletak di atas meja. "Hinata Hyuga?" Dia melirik Hinata dengan pandangan bingung. Teman mengobrolnya pun ikut mengernyitkan alis.
"Y-ya?" Hinata berusaha menghilangkan kegugupannya. 'Semoga dia melupakan soal surat kelulusan,' harapnya dalam hati.
Wanita itu menyerahkan kartu tanda pengenal kepada Hinata. Namun ketika Hinata ingin menerimanya, wanita itu kembali menariknya. "Bukti kelulusan?" tanyanya datar.
Bahu Hinata melemas seketika itu juga. Dia sudah menduga bahwa wanita ini tak akan mungkin melupakan soal bukti kelulusan. "S-sebenarnya ... surat ke..."
"Tinggal, kan?" sela wanita itu dengan raut remeh. Temannya yang sedari tadi memandangi Hinata malah ikut tertawa mengejek. "Kalau begitu jangan harap ada sesi wawancara untukmu." Dengan cepat dia mencoret nama Hinata dari daftar nama pelamar yang lulus di sesi sebelumnya. Hal tersebut berhasil memancing emosi Hinata.
"Aku memang benar-benar lulus. Kalian pikir aku berbohong?" Hinata menatap nyalang pada dua wanita itu. Namun bukannya menyadari kecongkakannya, dua wanita itu malah mengabaikan Hinata dan kembali bercengkerama. Mereka berbagi cerita tanpa menganggap kehadiran Hinata yang berdiri di hadapan mereka. "Hei ... para wanita cantik!" sapa Hinata dengan senyum dipaksa. Dia mengepalkan kedua telapak tangannya. Giginya bergemeletuk, pertanda bahwa Hinata menahan emosi di dadanya.
"Kau bergabung dengan mereka," Si wanita bersurai merah mengendikkan bahunya ke arah dua orang wanita yang sedang duduk di dekat lift. "Mereka juga sama denganmu."
Hinata mendecak kesal seraya memukul kuat meja yang ada di hadapannya. Sudah lelah dia menaiki tangga hanya untuk sampai ke lantai sepuluh dan sekarang pun dia tidak diperbolehkan untuk mengikuti sesi wawancara. Ini tidak berperikemanusiaan! "Kalian tidak bisa menyuruhku untuk mundur begitu saja. Memang kalian bosnya?" Intonasi Hinata meninggi.
Wanita bersurai merah mendengus geli. Dia melayangkan tatapan tajam pada mata mutiara Hinata seraya berdiri. "Lihat dirimu sendiri!" Dia menunjuk wajah Hinata dengan telunjuknya. "Kau ingin jadi sekretaris PresDir, tetapi benda sekecil itu pun tidak kau bawa? Apa menurut otak dangkalmu, kau layak dijadikan sekretaris PresDir?" Suaranya terdengar meninggi. Orang-orang di sekitar mereka ikut mengerubungi meja petugas.
"Kenapa juga ada peraturan seperti itu?" Hinata menatap nyalang si wanita surai merah. "Seharusnya mereka memberitahu sebelumnya. Lagipula aku memang benar-benar lulus, jadi untuk apa kalian mempersulit seperti ini?"
Wanita bersurai merah itu menelan ludah dengan susah payah. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa wanita cantik yang ada di hadapannya ini terlihat manis dan lembut sekilas, namun aslinya garang juga. "Kalau begitu terimalah kekalahanmu dan keluar dari sini juga sekarang!"
Bisik-bisik para pelamar terdengar hingga ke telinga Hinata. Dia sungguh merasa kurang nyaman apabila dijadikan bahan pembicaraan seperti ini. Dengan lapang dada, Hinata memilih untuk mengalah dan pergi dari sana. Namun di kesempatan terakhir, dia memberi tatapan sengit pada si surai merah yang juga membalas tatapannya.
Dengan ekspresi marah tak tertahankan, Hinata pergi meninggalkan lantai sepuluh. Dia berjalan menuju tangga darurat dan menuruni anak tangga hingga ke lantai dasar. Di sepanjang perjalanan dia merutuki kebodohan dan kesialannya hari ini. Entah dosa apa yang dia perbuat hingga dirundung malapetaka di pagi hari. Padahal saat bangun tidur tadi, orang pertama yang dia temui adalah sang pangeran pujaan hati. Lalu, kenapa masih juga sial?
Hinata menghentak-hentakkan kakinya ke lantai kuat-kuat hingga menimbulkan suara berisik yang menyakitkan telinga. Namun gadis berusia dua puluh tahun itu sama sekali tak peduli. Yang penting kemarahannya bisa tersalurkan meskipun dengan cara seperti itu.
Sesampainya di lantai dasar, Hinata melangkah keluar dari kantor. Bahkan kakinya yang terasa pegal tidak lagi dia rasakan. Semua sudah dialihkan ke perasaan marahnya pada si wanita surai merah. Teringat akan surai merah, Hinata jadi kepikiran dengan si pria bersurai merah yang dia panggil dengan sebutan 'Ai'. Hal itu bukan tanpa alasan, pria berwajah bak papan triplek itu memiliki tato berlafazkan 'Ai' di dahinya. Jadi, bukan salah Hinata apabila dia memanggil pria itu dengan sebutan 'Ai'.
"Apa dia membawa bukti kelulusan juga?" tanya Hinata pada dirinya sendiri. Dia melewati tiga buah lift yang berjejer di pintu masuk. Seketika itu juga alis rapi Hinata mengernyit. 'Jangan-jangan lift ini bisa ke lantai sepuluh?' batinnya bertanya-tanya. Hinata menghentikan langkahnya di depan pintu lift. Bolak-balik para karyawan dan karyawati keluar masuk dari sana. Hell, Hinata benar-benar merasa ditipu.
Si lavender cantik mendekati seorang wanita muda yang sedang membuang sesuatu ke tempat sampah di dekat pintu lift. "Sumimasen," sapa Hinata ramah. "Kenapa lift yang ada disana tidak bisa ke lantai sepuluh?" tanyanya seraya menuju lift di samping meja resepsionis.
Reaksi pertama yang ditunjukkan wanita bergigi kawat itu adalah senyum lebar. "Itu lift yang dibuat khusus PresDir dan Kabag," ujarnya sambil menahan tawa. "Lagipula untuk apa para petinggi mengunjungi lantai sepuluh? Asal Nona tahu, ya ..." Wanita muda itu menyelipkan helaian rambutnya di belakang daun telinganya. "Dari lantai dua hingga dua puluh empat, PresDir tak pernah mengunjungi."
Mendengar jawaban itu, Hinata mengangguk. "Pantas saja tadi aku tidak bisa ke lantai sepukuh dari lift itu," ujarnya sembari menghela napas lelah. "Gara-gara bingung, aku jadi naik tangga darurat."
Wanita muda itu tersenyum geli. "Seharusnya Nona tanya pada pekerja disini," ujarnya seraya menepuk-nepuk kedua tangannya yang sedikit kotor.
"Uhm ..." Lagi-lagi Hinata mengangguk. "Ya sudahlah," ujarnya sambil mengibaskan tangannya. "Toh aku sudah sampai disini."
Wanita muda itu menyunggingkan senyum kecil. "Kalau begitu saya permisi dulu."
"Hai'." Hinata melangkah keluar dari gedung Sabaku Inc. Dia berjalan menuju halte dan hendak kembali ke rumah saja. Seketika itu juga dia teringat pada sosok ayah yang benar-benar ingin agar Hinata mendapatkan posisi di perusahaan Sabaku Inc. Apalagi Hinata adalah seorang pengangguran dan lulusan yang sesuai dengan gelar yang diterima Hinata.
"Tousan pasti kecewa," gumam Hinata seraya menutup matanya dengan kedua telapak tangannya. Dia jongkok di pinggir jalan, dan tak peduli jika banyak orang yang melihatnya menangis. Bahu gadis itu bergetar dan suara tangisannya kian memilu. "Hiks hiks... gomenasai, Tousan!" Hinata terisak-isak.
"Kalau Sabaku Inc tak menerimamu, kau bisa bekerja di Uzumaki Corporation."
Kepala Hinata mendongak saat suara seseorang yang sangat dia kenal menyusup ke indra pendengarannya. Wajah memerah gadis itu semakin merah karena seorang pria pujaan hatinya berjongkok di hadapannya. Tangan besar nan hangat Naruto menggenggam bahu Hinata seraya meremas pelan. "Naruto-kun," gumam Hinata seraya menahan isakan tangisnya.
"Dasar cengeng!" ledek Naruto sembari mengusap kedua pipi Hinata dengan ibu jarinya. "Aku sudah pernah bilang, bukan, kalau kau tak boleh menangis jika tidak ada aku di sampingmu."
Bukannya semakin tenang, Hinata malah meledakkan isak tangisnya. Bahkan para pejalan kaki menatap mereka dengan pandangan geli. Bagaimana bisa sosok cantik dan tampan seperti mereka bisa bersikap aneh di trotoar seperti itu? "Hhwwaa ... hiks hiks menjengkelkan!" teriak Hinata seraya memukul-mukul dada Naruto.
Dengan lembut Naruto merangkul Hinata dan mengelus-elus punggung gadis cantik itu. "Sstt ... tenanglah, Hinata-chan," bujuknya. Dia mengulurkan tangannya pada Hinata agar mereka sama-sama berdiri.
Hinata mengusap matanya seraya menerima uluran tangan Naruto. "Darimana kau tahu aku disini?" tanya Hinata sambil menahan senggukannya.
Naruto terdiam sejenak. Mata birunya melirik ke arah mobilnya yang terparkir di pinggir jalan. Ada seseorang yang sedang duduk manis di dalam mobil Ferarri La Ferarri warna silver miliknya. Seorang wanita bersurai pendek sebahu dengan poni menutup dahinya. Wanita berkulit putih itu tampak begitu serius mengamati pergerakan Naruto dan Hinata dari dalam mobil. "Kau pulang naik taksi saja, ya?" tawar Naruto sembari menyetop taksi yang kebetulan lewat di pinggir jalan. Naruto menarik pergelangan tangan Hinata seraya membuka pintu taksi. "Nanti kita bicara lagi, ya."
Hinata mengerucutkan bibirnya. "Aku mau pulang naik mobilmu," rengeknya sambil menahan lengan Naruto.
"Lain kali. Aku ada urusan, Hinata-chan," tolak Naruto halus.
Hinata mendecak kesal. "Ya, sudah. Tapi nanti malam datang ke rumah, ya," rengeknya lagi.
Mendengar nada manja Hinata, Naruto langsung mengecup pipi gadis itu. "Iya, Nona Cantik. Jaa!"
Hinata tersenyum manis. "Jaa, Naruto-kun," balasnya seraya menutup pintu taksi.
Sesaat setelah taksi telah lenyap dari netra Naruto, dia langsung berjalan cepat memasuki mobilnya.
"Dia teman ranjangmu juga?"
Naruto menatap datar pada sosok wanita berpakaian minim yang duduk nyaman di mobilnya. "Bukan urusanmu," sahutnya sinis.
Wanita itu menyunggingkan senyum cela. "Aku hanya bertanya saja, kok," sahutnya lalu mengelus paha Naruto. "Lagipula itu tidak penting. Yang penting adalah ..." Jemarinya mengelus-elus paha dalam Naruto dengan gerakan menggoda. "Sesi percintaan panas kita siang ini."
Naruto menyunggingkan seringaiannya. "Kuharap performamu tidak mengecewakan," ujarnya singkat. Mobil mewahnya memasuki underground park Hotel Kiyekoza yang berada tepat di samping gedung Sabaku Inc.
"Tentu saja, Master," sahut wanita bermata biru laut itu.
Naruto semakin melebarkan seringaiannya. "Kupegang kata-katamu, Kin."
...
TO BE CONTINUE
...
Holla ... Ozel kembali.
Terima kasih atas review kalian semua.
Betewe, Ozel sepertinya harus menjelaskan siapa-siapa aja chara yang dipakai, yaitu Naruto, Hinata, Gaara, Sakura, dan terakhir Toneri.
Tapi Sakura akan muncul di part pertengahan dan Toneri akan muncul di beberapa part terakhir.
Jadi, jangan heran jika banyak scene GaaHina disini. Tetapi Gaara bukan orang ketiga nantinya. Seperti yang mungkin kalian bisa simpulkan di versi OS-nya, yahh begitulah hubungan mereka.
Special thanks to:
Alpha Hime-chan, Min ChanX, Namsoyo, Yukiko otsutsuki, afika chia, nana anayi, tsukihime4869, yulippi, 161200-chan, Green Oshu, indrakun, Rameen, yuchize, sq
Terima kasih sudah menyediakan waktu luang kalian untuk membaca story ini.
Sampai jumpa di lain waktu.
Tuesday, fourth of April, two thousands and seventeen.
Sincerely,
Ozellie Ozel
