Haloo minna-san! Putri ini fansnya Pak Harmanto guru kesayanganku hahahaha *apa hubungannya?* oh iya minna-san gara-gara fic ini saya punya banyak penggemar! Oooh senangnya! *dusta belaka* ada 23 inbox di fb-ku pada minta kelanjutan fic ini dan juga iklan axis. Padahal axis gak nayangin lagi tuh kakek-kakek sama orang muda gila *hahahaha*
Okay…okay fic ini saya lanjut aja deh….. selamat membaca!
The Story Is Made By Putri Hinata Uzumaki
Wakil dan Ketua Kelas
Desclaimer © Masashi Kishimoto
Rating: T
Warning: OOC, Typo, AU.
Pairing: NaruHina. Ada yang mau pairing lain?
"Haduhh kaki sialan!" Aku menggerutu sambil meremas selimut putih yang kusibakkan saat sadar tadi. Haduh! Sebenarnya apa yang terjadi sih? Seingatku…..
FlashBack
"Hina-chaaaan… kamu ini kenapa sih? Kok gugup gitu?" Tanya Naruto sok imut sembari mendekatkan wajahnya pada wajahku. Sedangkan aku hanya mematung menatap wajah berkulit tan itu mulai mendekat. Apa sih yang ada di fikiran orang ini?
"Jangan gugup donk wakilku…. Ayo kita senang-senang. Mumpung disini sepi. Lagi pula, Kurenai-sensei sudah pergi. Dan meninggalkan setumpuk tugas yang begitu banyak. Juga begini kita kan bisa buat refresing" kulihat wajah Narjuki ini menyeringai sinis. Perlahan tangan kanannya terangkat menuju wajahku. Jantungku berdetak cepat, aku merasa takut sekali. Dan semuanya hitam…..pekat
Flasback off
Dan yang kutahu sekarang aku terbaring di ruang kesehatan sendirian. Padahal aku belum belajar buat ulangan fisika. WHAAATTT? Ulangan fisika tuh habis istirahat pertama. Panik! Satu kata yang menggambarkan perasaan dan keadaanku saat ini. Aku menengok kanan-kiri, mencari keberadaan jam dinding atau semacamnya. Dan pandangan mataku tertuju pada jam dinding berwarna putih keemasan. Jarum pendeknya menunjuk ke angka 10 sedangkan jarum panjangnya menunjuk ke angka 3. Aku terkejut! Jadi aku sudah pingsan berapa jam?
Terus ku tatap jam dinding itu dengan penuh amarah. Tatapan tajam yang menusuk. Kubayangkan sosok Naruto yang sedang meringkuk kesakitan karena tatapan mata ntajamku ini. Rasakan! Gara-gara kau kakiku sakit. Gara-gara kau aku tidak bisa ikut ulangan fisika. Dan yang terakhir pasti gara-gara kau, KAU MENGGENDONGKU KE RUANG KESEHATAN!
"PRAAANNNKKK" kulihat jam dinding itu pecah –karena tatapan tajamku-. Aku menepuk jidatku sendiri, menyesali kebodohanku. "Aduh….pastii Shizune-san marah besar".
END HINATA PoV
"Jadi, jika yang di cari adalah luasnya. Sedangkan yang diketahui hanya kelilingnya, ini dia rumusnya" Terang seorang guru berjenggot tebal dan bau rokok itu dan melingkari apa yang tadi ia tulis di papan putih itu menggunakan spidol. Setelah itu, Guru itu –Asuma- memandangi anak muridnya satu persatu. Ada yang antusias mencatat rumus-rumus yang ditulisnya tadi dipapan tulis, ada yang memandangi papan tulis dengan tatapan sumringah dan ada juga yang memandangnya dengan tatapan malas dan hampir ketiduran. Asuma hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"KRIIIIINNNNGGG" bel pergantian jam berbunyi anak-anak mulai membereskan buku-buku matematika mereka dan mengeluarkan buku untuk pelajaran selanjutnya.
"Ya anak-anak. Halaman 113 untuk PR, Selamat siang" Asuma pamit dan langsung keluar dari kelas. Tidak lama kemudian, seorang bocah laki-laki masuk kedalam kelas. Suasana kelas ramai kembali
"Naruto-senpai di panggil Kabuto-sensei" Kata Bocah itu .Naruto yang mendengar namanya disebut langsung menengok.
"Disuruh apa?"
"Nggak tau senpai"
Lalu Naruto berdiri dari tempat duduknya dan langsung melesat keluar kelas bersama bocah tadi.
.
.
.
Kembali ke Hinata yang masih menunduk sedih. Memikirkan kejadian hari ini yang membuatnya sial gara-gara si NARJUKI rambut duren. Aaarrrgghh! Hinata menjambak rambutnya dan menoleh ke arah pintu dan pada saat yang sama, si Narjuki rambut duren melewati pintu itu. Sempat terlihat si Narjuki rambut duren memandang ke arah Hinata dan tersenyum –atau malah dibisa dibilang hampir tertawa- melihat rambut Hinata yang acak-acakan. Dan justru malah membuat Hinata bertambah sebal. Dan langsung membenamkan kepalanya diantara bantal putih di ruang kesehatan itu. "awas nanti kau saat pulang sekolah" terdengar bisikan menakutkan dari arah bantal putih itu. Hiiiiy
.
.
.
.
"Ada apa Kabuto-sensei?" tanya Naruto saat sudah sampai di ruang guru
"Untuk nanti saya gak bisa mengajar kelas kamu. Suruh aja anak-anak mengerjakan halaman 12 LKS ya!" Perintah Kabuto-sensei yang sedang berkutat dengan setumpuk buku dimejanya "Saya lagi banyak tugas nih. Ribet. Tolong yah Naruto" lanjtnya lagi
"Baik sensei" Kata Naruto tegas sambil tersenyum. "Nanti LKS-nya saya dan Hinata mengumpulkannya di meja Sensei" lanjut Naruto lagi. Lalu dengan cepat dia berlalri keluar dari ruang guru. Melewati koridor ruang guru, ruang BK , dan yang terakhir melewati ruang kesehatan. Saat ruang kesehatan itu sudah ia lewati, sedikit melambatkan kakinya dan berbalik. Sekedar ingin mengetahui keadaan wakilnya itu. Naruto mengintip di kaca pintu. Melihat badan Hinata tengkurap dan bantal putih menutupi kepala gadis itu. Naruto tidak tega melihat keadaan Hinata seperti itu. Lalu ia membuka pintu ruang kesehatan lalu masuk kedalam ruangan itu. Perlahan ia berjalan menuju ranjang Hinata. Setelah sampai, disentuhnya bantal itu. Tidak ada respon dari Hinata. Dicobanya mengangat bantal itu. Setelah bantal putih itu tidak lagi menutupi kepala Hinata. Lalu diangkatnya badan ramping itu. Naruto membetulkan posisi pingsan errr tidur Hinata, supaya tidak kesulitan bernafas, dengan membetulkannya ke posisi orang tidur. Kemudian ditutupinya badan berseragam itu dengan selimut bermotif garis-garis horisontal berwarna biru. Dibelainya rambut indigo panjang Hinata seraya membisikan sesuatu kata yang tidak bisa didengar oleh author *PLAAAK*
-TBC-
Wadawww! Apa yang saya buat ini? Pendek banget! Huhuhu T.T
Soalnya jari saya keseleo nih gara-gara salah megang gelas (?)
Review donk! Masa reviewnya Cuma 8? Kalian kejaaam *digebuk*
Jangan FLAME oke!
Insya Allah saya update kilat…..
