Classical As Usual

Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rated : T

Main Pair : SasuSaku

Special thanks to : Annabel with her soft-voice in Anamnesis

WARNING : AU, OOC, Little bit of Crime, Not to bashing and typo(s)

Happy Listening-

.

.

.

-music makes you think differently

Pukul 3 pagi. Sasuke terbangun dari tidurnya dan berjalan pelan melewati kamar mandi dalam ruangan yang biasanya ia capai saat ia terbangun di dini hari seperti ini. Tidak ada alasan masuk kamar mandi baginya saat ini. Rambut hitamnya yang mencuat belakang kini berantakan karena tidurnya yang cukup nyenyak. Setidaknya, untuk ukuran seorang artis besar.

Ia membuka kulkas, melihat isinya lalu mengambil sebotol jus tomat. Ia menuangkannya ke dalam gelas putih tinggi yang bertuliskan namanya dari dalam rak piring gantung di atas wastafel dapurnya.

Matanya masih setengah terbuka, kesadarannya juga belum terkumpul sepenuhnya. Ia meminum jus tomat itu, lalu duduk dengan santai di atas kursi meja makan. Ia menatap bosan sekelilingnya. Dapur apartemennya tak pernah berubah semenjak setahun lalu.

"Ehm." Ia berdeham memastikan suaranya tidak serak. Ia meminum jus tomatnya lagi, lalu meletakkan setengah cangkir jus itu di atas meja berdampingan dengan roti yang disimpannya di kulkas –hei, kenapa bisa ada disini? "Pasti kerjaan Itachi. Dasar dia itu."

Itachi memang memiliki kebiasaan untuk meletakkan roti di atas meja untuk bekalnya di dini hari. Itachi memang selalu bangun pagi, berbeda dengan Sasuke yang harus dibangunkan terlebih dahulu.

Uchiha bersaudara memulai karir mereka 5 bulan lalu, hampir setengah tahun. Itachi Uchiha, sang Uchiha sulung, memilih menggesek senar biola berdampingan dengan adiknya yang memilih menarikan jemarinya di atas tuts-tuts piano.

Sempurna, bukan, perpaduan musik klasik mereka? Oh, tentu saja mereka masih punya kekurangan. Ada satu kekurangan yang belum bisa mereka tutup sekarang ini.

Mereka masih butuh suara penyanyi klasikal yang lemah lembut untuk membuat musik mereka lebih istimewa lagi.

oOo

Hari beranjak pagi. Gadis gulali yang tadi malam tertidur di sofa kini terbangun dengan tubuh acak-acakan. Ia memeriksa tas yang ia bawa, 2 tas sekaligus, lalu tersenyum kecil. Ia menaruh jaket dan hoodienya di atas kursi, lalu berjalan menuju dapur hanya dengan tank top dan celana jins hitam yang masih dipakainya.

Ia berjalan menuju dapur dan meneliti ukiran yang jelas terlihat di salah satu pintu rak gantung di atas dapurnya. Ia tersenyum lirih sebelum mengambil cangkir di dalamnya.

Haruno Sakura. Sakura di musim semi.

Ia mengambil air mineral dari dispenser dan meminumnya, semalam membuatnya kehabisan banyak sekali cairan entah itu dari pengaruh obat-obatan itu atau kegiatan berat yang dilakukannya semalaman suntuk.

"Ugh." Ia mengeluh kesakitan saat kepalanya terasa berdenyut, tak begitu kencang namun berulang-ulang, membuatnya pening serasa diinjak-injak kawanan gajah. Ia menoleh ke jam dinding yang terpasang di dinding dapurnya. "Masih jam segini…"

Ia keluar dari dapur, lalu duduk di sofa dengan roti yang ia ambil sembarang di atas meja makan tadi. Ia menyalakan tv, namun tak terlalu fokus menonton.

"Beritanya monoton," keluh Sakura. Ia menatap tv dengan bosan, lalu meraba-raba meja kaca di dekat sofa merahnya yang berdering. Ada telepon.

Master is calling…

"Halo? Dengan Haruno Sakura."

oOo

Sasuke merenggangkan otot-ototnya. Pukul 9 pagi dan ia baru terbangun dari tidur keduanya tadi malam. Ia ditemukan tertidur di meja makan dengan jus tomat yang tumpah, membuatnya harus membersihkan meja dan pakaiannya lalu mandi. Ia memilih untuk membersihkan meja terlebih dahulu baru mandi.

"Sasuke." Itachi menepuk bahu Sasuke dari belakang. "Hari ini kata Konan-san ada jadwal manggung." Sasuke memutar kedua bola matanya bosan.

"Aku sudah tahu. Setelah manggung juga ada konferensi pers, kan?" Itachi mengangguk. "Sudah kuduga." Itachi memandangnya heran.

"Hei, apa maksudmu sudah kau duga?" Sasuke menyeringai sedikit lalu berbalik meninggalkan kakaknya yang masih memiringkan kepala dengan heran. Ia lalu kembali menegakkan kepalanya dan tersenyum kecil. "Adikku sudah besar ternyata." Sasuke yang ingin beranjak ke kamar mandi menghentikan aktifitasnya sejenak, lalu berbalik dan menatap Itachi bosan.

"Apa hubungannya besar dengan penafsiran sudah kuduga itu, Itachi?" tanya Sasuke. Itachi tertawa kecil.

"Nothing. Mandilah dulu, Little Bro. Kau bau." Sasuke menimpuknya dengan pakaian kotor bekas jus tomat, lalu beralih ke kamar mandi sedangkan Itachi menggerutu pelan lalu tersenyum lagi.

Telepon berbunyi.

"Baiklah." Ia beranjak menuju ruang tamu, tempat telepon rumah tersambung. Ia mengangkat gagang telepon perlahan. "Halo? Dengan kediaman Uchiha."

"Ini aku, Itachi. Kau kemana saja, sih?" Suara di seberang telepon kini membuat Itachi mengangguk maklum lalu menggaruk tengkuknya.

"Err, sori, Konan-san. Aku baru bangun. Sasuke juga baru bangun." Terdengar dengusan berat dari seberang. "Ano, Konan-san, manggungnya nanti bisa diundur gak?"

"Apa?" tanya Konan mengklarifikasi dengan nada terkejut. "Kau pasti bercanda! Waktu kalian untuk beristirahat tinggal 3 jam lagi. Aku sudah berbicara dengan penyelenggara acara, dan kalian harus datang 3 jam lagi. Mengerti?"

Itachi menutup teleponnya dengan bosan, mengacuhkan managernya yang mungkin meraung-raung setelah dirinya memutuskan telepon dengan managernya sendiri. Ia menghela napas berat sebelum menuju sofa dan menonton tv.

Sasuke lewat sejenak dari kamar mandi dengan telanjang dada, membuat Itachi memukulnya dengan bantal sofa yang empuk.

"Hei! Apa yang kau lakukan, baka!" Sasuke menggerutu.

"Membuatmu sadar. Kau itu harusnya pakai baju dulu, Little Bro!" Sasuke mendengus tak suka. "Aku tak suka kau mendengus seperti itu."

"Terserahlah." Ia memutar kedua bola mata gelapnya bosan lalu berjalan menuju kamarnya. "Oh iya, Itachi, hari ini ada berita apa saja?" Itachi menoleh sebentar.

"Monoton, Sasuke. Hanya tentang politik dan hukum dan ekonomi dan apalah itu. Membosankan." Itachi menguap. "Sebenarnya aku masih ngantuk."

"Tidur saja, baka. Apa susahnya, sih?" Sasuke memasuki kamar dengan suara debaman pintu, diikuti kekehan geli Itachi.

"Habisnya, bagaimana aku tidur kalau kau selalu datang mengendap-endap ke dapur untuk meminum jus tomat? Ckck, pantas saja jus tomat selalu habis setiap 3 hari."

oOo

"Sakura." Sakura menoleh. Ia berjalan semakin pelan mendengar suara keibuan yang keluar di sebelahnya. Ia tolehkan wajahnya, bertemu pandang dengan sahabatnya yang tersenyum kecil ke arahnya. "Kemarin sukses?"

Sakura mengangkat bahu. "Yah, begitulah." Sahabatnya itu berdecak. "Semalam kau dimana, sih? Sudah kutelepon tapi tak pernah kau angkat."

"Aku lagi sibuk." Sakura mendengus mengerti dengan arti kata 'sibuk' milik sahabatnya tersebut. "Ayolah, kau paham, kan?" Ia berjalan mendahului Sakura yang kini menuju taman dengan dandanan biasa.

"Aku sangat paham." Ia menyusul Yamanaka Ino yang mulai berjalan menjauh darinya. Langkahnya sedikit terbata. "Hei, aku masih capek, bodoh!"

"Dunia ini keras, Sakura! Nikmati saja!" Ino adalah teman satu apartemennya, meski semalam Ino tak pulang karena suatu pekerjaan yang membuatnya sibuk. Sakura maklum akan hal itu, dan sudah biasa melihat Ino yang membawa banyak sekali uang sepulangnya. "Kau rindu padaku, Sakura?"

"Kau baru 2 hari meninggalkan rumah, untuk apa aku rindu." Ino berdecak. "Ayolah, kau kekanakan sekali." Ino kini menyamakan langkah mereka.

Mereka berjalan menuju bangku taman yang kosong. Sakura duduk terlebih dahulu, lalu Ino duduk dengan sedikit menghempaskan tubuhnya. Ia memandang sekitar.

"Semalam kau ditelepon master tidak?" tanya Ino. Sakura menoleh.

"Aku baru dapat teleponnya tadi pagi." Ino mengangguk mengerti. "Dasar master itu, pekerjaannya kan baru dimulai 3 hari lagi."

"Benar sekali." Ia menjentikkan jarinya. "Bagaimana kalau kita berbelanja dulu saja, Sakura? Mumpung masih ada 3 hari lagi." Sakura tampak menimbang sebentar, lalu mengangguk dan mengikuti langkah Ino menuju komplek butik di dekat taman.

"Hei, aku malas kalau beli baju-baju begi-" "Ikuti saja, Sakura. Wanita harus tampak cantik."

Sakura mendengus saat ucapannya dipotong. "Sayangnya aku masih gadis, berbeda denganmu yang sudah jadi wanita." Ino terkekeh kecil sebelum masuk ke salah satu butik dengan menyeret Sakura yang menatapnya kesal. "Buru-buru sekali, sih, kau ini."

"Habisnya koleksi terbatas, Sakura." Ia berhenti, menatap manekin dengan maha karya yang membuat kedua irisnya menyirat bahagia. "Sakura, kita beli sepasang!" Sakura menatapnya heran.

"Hei, ini efisien bukan? Jas kecil dengan banyak saku lalu baju yang sempurna ini… Oh Tuhan, ini maha karya! Ayo, Sakura! Ini tidak terlalu murah, kok!" Ino berjalan menuju salah satu gadis pelayan yang berjaga di sekitar mereka. "Baju di manekin itu ada sepasang lain warna tidak?"

"A-Ada." Ino tersenyum manis. "Mau saya ambilkan?" Ino mengangguk, lalu pegawai itu pergi menuju gudang di dekat tempat ganti baju. Ino melihat-lihat gaun lain sementara Sakura masih mengamati manekin di hadapannya. Pakaian itu memang elegan dan efisien, tepat untuk pekerjaannya namun ia masih memikirkan Ino.

"Nih, gimana Sakura? Mau dicoba dulu?" Ino sudah datang dengan membawa sepasang pakaian-maha-karya di kedua tangannya. Sakura ingin menolak dengan halus, namun langsung didorong Ino menuju fitting room. Tak lupa, ia melemparkan pakaian itu ke dada Sakura lalu menutup fitting room itu. Kini, hanya ada Sakura sendirian disana dengan tubuh membelakangi cermin.

"Ugh, terpaksa." Ia tersenyum menyemangati dirinya sendiri, lalu melihat pantulan dirinya sendiri di depan cermin. "Hei, manis, sudah berapa lama kita belum bertemu lagi?" Ia memperhatikan sekitarnya, tak ada kamera pengintai. Ia lalu memeriksa cermin dengan menempelkan ujung jari kukunya ke depan cermin, lalu mengangguk sambil tersenyum.

Ia mulai berganti baju, lalu ada gedoran dari pintu. Ia mempercepat proses berganti pakaiannya, lalu melihat pantulan tubuhnya di depan cermin. Tubuhnya yang ramping nampak sempurna dengan pakaian-maha-karya itu.

"Ba-Bagaimana?" tanya Sakura agak gugup. Ia memang jarang membeli pakaian, namun baru kali ini ia dibelikan pakaian. Yah, tidak ada bedanya, namun tetap saja ada yang mengganjal dalam hatinya. Ino yang berdiri di depannya menatapnya intens dari atas ke bawah, lalu mengangguk sambil tersenyum senang.

"Cocok sekali, Sakura! Baiklah, kita ambil sepasang!" Ino juga memakai pakaian yang sama dengan Sakura, hanya dengan warna yang lebih cerah. Sakura memakai pakaian berwarna cokelat gelap sedangkan milik Ino seperti cokelat kekuningan cerah. Mereka melepaskan pakaian masing-masing di dalam fitting room yang berbeda, lalu Sakura merunduk malu.

"Aku… Aku bayar sendiri saja, Ino." Sakura mendongak, melihat wajah kesal Ino.

"Aku sudah janji membayar sepasang ini untuk kita berdua." Ino melenggang pergi. "Tenang, Sakura. Tadi malam aku dapat banyak."

"Baiklah kalau itu maumu." Sakura mengikuti langkah Ino menuju kasir, namun Ino menyuruhnya untuk menunggu di depan toko. Ia mengangguk menuruti Ino, lalu menunggu di depan etalase toko.

Ia melirik ke arah taman, lalu permata hijaunya membulat tak percaya sebelum akhirnya memasuki toko itu lagi.

"Gawat! Ino, ada hal gawat!"

oOo

Sasuke menapaki kakinya ke arah taman, menghilangkan jenuhnya menemani sang kakak ke toko anjing. Ia menjauhi toko anjing dengan langkah yang cepat agar tidak ketahuan kakaknya. Penampilannya yang uringan nampak keren bagi semua fansnya yang mengerubuninya, namun tak lama kemudian langsung memberi jalan pada Sasuke yang memandang mereka tajam.

Ia duduk di bangku taman dengan kaki yang ia tekuk 90 derajat, lalu membuka laptop hitamnya yang ia sampirkan di bawah ketiaknya sambil berlari tadi. Bunyi kunyahan permen karet dan suara bersentuhan jari-jarinya dengan keyboard menemani suasana taman yang riuh rendah.

Ia memperhatikan sekeliling, lalu melihat ke arah butik tempat biasanya kakaknya membeli pakaian dengan ibunya.

"Tch, menjijikkan." Ia kembali konsentrasi, lalu telepon berdering.

Ia mengangkatnya, lalu terdengar suara dari seberang. "Halo? Dengan Sasuke?" Sasuke bergumam. "Ah, ini aku! Kau tidak lupa aku, kan?"

Sasuke memutar kedua bola matanya bosan. "Hn." Ia menutup laptopnya. "Kau mau apa?"

"Aku akan kembali ke Konoha, Sasuke!" Ia berkata dengan semangat. "Dan kita akan cari vokalis baru yang cocok untukmu!"

Napas Sasuke berhenti sesaat.

To Be Continued

.

.

.

AN : Yak, ini kedua kalinya aku semangat ngerjain multi-chap #lirik2 PB yang masih ngadet. Okei, balas review.

celubba : Alo Sitar-syaaan~ Woyadong kalo ketebak gak mungkin bagus ficnya #jedor. Hayo, bener gak tuh tebakannya? Yah, tergantung dari niatku nerusin ini fic #jedor. Pulsaku abis, Sitaaar~ #rengek2 #digetok. Okei, thanks for revia!

Aihara Aya : Wah makasih ^^" Nah, soal isi tas itu (aku kasih clue) isinya pekerjaan Sakura. Nanti di seterusnya bakal dikasih tau kok pekerjaan Sakura itu sebenernya apa. Nah, organisasinya lagi dipikirin #jdoeng. Waa, kayaknya yang cowok lebih sadis #jleb. Ehm, pairnya ada SasuSaku minor banget ItaSaku. Mungkin ItaSaku kubuat hubungan kakak-adik ipar #ehem. Okey, thanks for review!

kece badai untung gak angin topan(?) : Kayaknya gue tau ini siapa dibalik topeng khukhukhu. Teneng nanti dibuatin, tapi gua ga bisa sms eloh krn pulsa gueh (bahasa Wendy : ON) Nahloh, fangirl Itachi ternyata. Hehe, thanks buat reviewnyo~

Yap, tuliskan unek-unek kalian di kolom di bawah ini!