Huwaaa aku terharu karena banyak yang review.. Hiks (-) gak nyangka bakal dapet 27 review. Biasanya dibawah 15 review. Hiks.. Terimakasih semua *bow* Sejujurnya, aku selalu deg-deg-an tiap baca review dari kalian.. Memikirkan, kira-kira banyak yang suka gak ya? Begitu^^.

Dan sebagai ucapan terimakasih ku pada kalian semua, aku buat sekuel Little Boy.. *Yey!* sekali lagi terimakasih sudah mendukungku.. #terharu_lagi.. Happy Reading All \\(^_^)/ Semoga tidak mengecewakan ya!^^

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

Pairing : Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga

.

Warning : OOC (maybe). Typo(s). DLDR. (semi) Canon/Fanon.

.

.

This Fanfiction Special to :

CintyaCleadizzlibratheea/Hyacinth Uchiha/CallistaLia/ArcansGirl/Uchihaxhinata/Wiendzbica732/GeminisayankSayank/OnyxDarkBlue/BettyarindaCB/Nurul851/CahyaUchiha/Aindri961/UzumakiNaMa/DewiNatalia/EgaEXOkpopers/EireneSicaloverss/Sushimakipark/Kanayla/Birubiruchan/LinevyHimechan/Ko/Guest/AyShiSoraChan/Dechan/Sucirachma5/KimotoYuuhi/NeMakiLucisCaelum/Lightning69/SaiaShiki/SantiRevinty/EuikoKatayanagi/Hazelleen/KeiFuyumi/

.

.

.

OoOoO

Hinata tengah memasak ketika Sasuke memasuki wilayah dapur dengan kusanagi yang masih setia di pinggangnya. Pemuda Uchiha itu memeluk Hinata, membuat wanita itu memekik terkejut.

"Sasuke-kun, kau sudah pulang?" Tanya Hinata lembut.

Sasuke mengangguk sambil mengusap perut Hinata yang sudah semakin membesar.

"Kenapa tidak memberi salam?" Tegur Hinata.

"Tadaima, Hime." Ucap Sasuke seraya menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Hinata.

"Okaeri Sasuke-kun."

Sasuke memutar tubuh Hinata agar berhadapan dengannya. Kemudian berlutut di hadapan perut Hinata.

"Tadaima anak Ayah!" Ucap Sasuke sambil mencium perut Hinata.

Hinata tersenyum hangat sambil mengelus surai Sasuke. "Okaeri Ayah!"

Sasuke mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Hinata yang tengah tersenyum dari bawah. Kemudian ia kembali menyejajarkan tinggi badannya dengan Hinata.

CHU~

Sasuke mengecup bibir Hinata sekilas. Ia ingat jika di rumah ini ada penghuni baru, oleh karena itu ia tidak mau penghuni baru itu melihat kemesraannya dengan Hinata. Membicarakan tentang penghuni baru, dimana Sousuke?

Dahi Sasuke berkerut ketika tidak mendapati Sousuke, "dimana Sou?"

"Aku menyuruhnya untuk mandi, mungkin sekarang dia ada di kamarnya." Jawab Hinata yang kembali berkutat dengan masakannya.

"Ayah!"

Suara panggilan terdengar dari arah pintu. Sasuke menoleh dan mendapati Sousuke berjalan menghampirinya, kemudian memeluknya.

"Hei.. Kau sudah mandi?" Tanya Sasuke basa-basi.

Sousuke mengangguk.

"Kalau begitu Ayah mandi dulu. Setelah itu kita makan malam bersama, hm?"

Sousuke kembali mengangguk, lalu melepaskan pelukannya pada Sasuke. Kemudian memandang Sasuke yang kini sudah hilang di balik dinding dengan tersenyum.

.

.

.

"Jadi, bagaimana sekolahmu? Apa ada hal yang menarik?" Tanya Sasuke.

"Sekarang aku sedang berlatih bertarung menggunakan kunai, Ayah." Jawab Sousuke senang. Ya. Sousuke sudah masuk Akademi sejak 4 bulan yang lalu.

"Apa Ayah mau melatihku?" Kata Sousuke berharap.

"Baiklah. Kebetulan besok Ayah libur, jadi besok pagi kita berlatih."

"Yey!" Sousuke memekik senang.

Mereka masih berada di ruang makan. Sasuke dan Sousuke sedang asik berbincang sementara Hinata sibuk membersihkan peralatan makannya.

"Sekarang kau pergilah tidur." Samar-samar Hinata mendengar Sasuke menyuruh Sousuke untuk pergi tidur. Tak berapa lama, ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.

"Jangan kelelahan Hinata. Sebentar lagi kau akan melahirkan." Kata Sasuke mengingatkan.

Hinata tersenyum tipis, "aku tidak kelelahan, Sasuke-kun."

Sasuke meraih peralatan makan yang ada di tangan Hinata, kemudian mencuci kedua tangan Hinata yang penuh busa, "kau pergilah ke kamar. Aku akan melanjutkan ini."

Hinata menggeleng, "sebentar lagi sudah selesai. Biarkan aku menyelesaikannya, hm?"

"Hinata!"

"Baiklah.. Tapi izinkan aku untuk menemanimu disini." Ujar Hinata sedikit keras kepala.

"Kau ini keras kepala ya!" Sasuke membenturkan kepalanya ke kening Hinata pelan, sangat pelan. Hinata hanya bisa mengerucutkan bibirnya sambil mengusap keningnya yang berbenturan dengan kepala Sasuke.

OoOoO

PRANG

PRANG

Suara dentingan kunai terdengar saat Sasuke dan Sousuke mengadu kunai mereka. Sousuke terus menyerang Sasuke, sedangkan Sasuke memutuskan untuk bertahan. Mereka berlatih di halaman belakang kediaman Uchiha yang sangat luas.

Tidak jauh dari mereka, Hinata duduk di sebuah ayunan kayu sambil memperhatikan keduanya. Mereka telah berlatih selama hampir 3 jam, namun belum juga beristirahat sampai sekarang.

"Kau masih terlalu lemah. Ayo! Serang Ayah sekuat tenaga!"

PRANG

"Bagus! Terus seperti itu!"

Sesekali suara Sasuke terdengar ketika memberikan arahan pada Sousuke. Butir-butir keringat mengucur dengan deras di kening dan leher mereka, terutama Sousuke.

"A-aku lelah Ayah.." Cicit Sousuke sambil terus menyerang Sasuke.

Sasuke berhenti. Mereka berdua terlihat tengah mengatur nafas sebaik mungkin.

"Baiklah. Kita istirahat dulu."

Sasuke dan Sousuke pun menghampiri Hinata yang terlihat tengah bersantai. Sousuke memilih untuk duduk di dekat Hinata sedangkan Sasuke masih setia untuk berdiri. Hinata tersenyum menyambut keduanya sambil memberikan sebotol air pada mereka.

"Beristirahatlah. Ibu akan mengambil makanan di dalam." Hinata pun beranjak dari duduknya.

TAP

Belum sampai melangkah, seorang ninja tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka. Ninja Konoha tentunya.

"Maaf mengganggu waktu libur Anda, Uchiha-san. Tetapi Tuan Hokage meminta Anda untuk pergi menemuinya sekarang."

Kedua alis Sasuke bertaut, begitu pula Hinata. "Tuan Hokage? Memangnya ada apa?"

"Aku tidak begitu tahu, Uchiha-san." Jawab Ninja itu.

"Baiklah. Aku akan kesana."

Ninja itu mengangguk, kemudian dalam sekejap mata ia menghilang dari tengah-tengah keluarga Uchiha. Sasuke beralih pada Sousuke yang kini memandang Sasuke bingung.

"Ayah harus pergi, lain kali kita berlatih lagi, ya?"

Sousuke mengangguk patuh. Lalu Sasuke mendekati Hinata. "Aku pergi, hm?"

Hinata mengangguk, kemudian Sasuke mengecup kening Hinata sebelum pemuda itu hilang dari pandangannya.

OoOoO

Kakashi mengangkat kepalanya ketika Sasuke memasuki ruangannya, sudah ada Shikamaru, Sai dan Shino disana. Untuk sejenak ia menutup dokumen-dokumen yang ada di depannya.

"Kalian sudah berkumpul, jadi aku akan mengatakannya sekarang." Kakashi diam, memberi jeda. "Desa Nousugakure telah di serang oleh para bandit kelas S kemarin malam. Dan menurut informasi, bandit-bandit itu masih ada disana. Jadi, kalian habisi bandit itu secepatnya." Perintah Kakashi.

"Baik.."

Setelah penjelasan Kakashi dirasa sudah cukup jelas, mereka berempat pun pergi dari ruangan itu.

.

.

.

Hinata dan Sousuke melepas kepergian Sasuke di gerbang kediaman Uchiha. Sasuke menyentuh puncak kepala Sousuke dan memandang manik matanya lekat.

"Jaga Ibumu, ya? Jika sesuatu terjadi padanya, panggil bibi Sakura. Atau jika kau mampu, bawa Ibu ke Rumah Sakit." Tutur Sasuke.

Sousuke mengangguk, "baik Ayah."

Sasuke tersenyum tipis kemudian beralih pada Hinata. "Maaf, padahal hari ini hari liburku."

Hinata menggeleng, "tidak apa-apa. Jaga dirimu baik-baik, Sasuke-kun."

Sasuke mengangguk kemudian mencium kening Hinata. Lalu beralih pada anak-nya yang masih ada di dalam perut Hinata.

"Jadilah anak yang baik, ya? Kalau bisa, jangan lahir sebelum Ayah pulang, hm?" Kata Sasuke sembil mencium perut Hinata.

"Manisnya.."

Tiba-tiba suara Sai terdengar di belakang Sasuke. Sasuke mendengus ketika melihat senyum Sai yang menurutnya menjijikkan itu. Bagaimana Sai bisa ada di belakang Sasuke? Terlebih lagi di komplek yang dulunya milik Uchiha.

Yang dulunya komplek Uchiha kini telah dihuni oleh para Shinobi kelas A atau S. Terutama teman-teman Sasuke dan Hinata. Para guru mereka, kebanyakan juga bertempat tinggal di komplek itu. Shinobi biasa enggan untuk tinggal disana karena harga tanahnya yang mahal. Komplek itu kini dikenal dengan nama komplek Shinguru.

Hinata menyodorkan sebuah bekal yang dibungkus dengan kain berlambang kipas merah putih itu. "Bekal untukmu."

Sasuke tersenyum sambil meraih bungkusan itu, "terimakasih."

Kemudian Sasuke dan Sai pun pergi meninggalkan Hinata dan Sousuke, serta Ino dan baby Inojin yang tidak jauh dari mereka.

"Hinata-chan.. Berkunjunglah kerumahku. Aku membuat beberapa kue tadi." Ajak Ino.

"Benarkah? Aku juga membuat kue dari bunga Sakura. Apa kau ingin mencicipinya, Ino-chan?"

"Iya.. Kalau begitu, bawa ke rumahku ya?" Ujar Ino antusias.

"Sou-kun.. Bisakah kau ambil kue yang ada di atas meja makan? Dan antarkan kerumah bibi Ino. Tolong ya!" Pinta Hinata lembut.

Sousuke mengangguk lalu melesat lari ke dalam rumah. Hinata melangkahkan kakinya untuk mendekati Ino. Berjalan bersama ke kediaman Yamanaka.

OoOoO

TAP

TAP

TAP

Pijakkan kaki ke-empat Shinobi Konoha yang pergi menuju desa Nousugakure terdengar cepat. Mereka sudah hampir sampai ke tempat yang mereka tuju.

"Jaraknya sekitar 3 km lagi." Ucap Shino setelah diberitahu oleh para serangganya.

"Sebenarnya, bandit seperti apa mereka?" Tanya Sai entah pada siapa. Ia hanya berharap seseorang akan menjawab pertanyaannya.

"Mereka kriminal tingkat S yang berada di tingkat 5." Jawab Shikamaru. "Mereka terkenal karena mereka merampok desa-desa kecil yang kaya. Mereka bahkan tidak segan untuk membakar atau menghancurkan desa. Jika ada seorang wanita yang mereka sukai, mereka pun akan membawanya." Lanjutnya.

OoOoO

Sousuke memandang Hinata khawatir. Pasalnya sepanjang makan malam ini, Hinata selalu meringis seperti menahan sakit.

"Apa Ibu baik-baik saja?" Tanya Sousuke khawatir.

"Ibu baik-baik saja." Jawab Hinata disertai dengan senyum menenangkan. "Apa kau sudah selesai? Ibu akan mencucinya sekarang."

"Tidak!" Sousuke mencegah Hinata untuk mengambil piringnya. Membuat wanita itu heran. "Biar aku saja yang mencucinya. Ibu duduk saja disana."

"Apa kau bisa?" Tanya Hinata sedikit ragu.

Sousuke mengangguk, "Eum.. Percayalah padaku, Ibu." Katanya sambil tersenyum meyakinkan.

"Baiklah. Hati-hati ya!"

.

.

.

"Eungh.."

Hinata terdengar melenguh ketika merasakan pergerakan yang tidak biasa dari perutnya. Sousuke yang duduk di sampingnya pun merasa khawatir.

"Ibu.. Ada apa?"

"Sou, apa adikmu akan lahir?" Pertanyaan yang dilontarkan Hinata sontak membuat kedua mata hitam Sousuke membulat.

"Benarkah?! Kalau begitu aku akan memanggil bibi Sakura."

Tanpa persetujuan dari Hinata, Sousuke berlari keluar rumah menuju kediaman Uzumaki yang hanya terhalang dengan dinding batu.

OoOoO

Langkah kaki ke-empat Shinobi dari Konoha berhenti di ujung desa Nousugakure. Desa itu terlihat kacau walau masih ada beberapa bangunan yang berdiri kokoh.

"Dimana para penduduk?" Tanya Sasuke.

"Ku dengar dari Hokage penduduk desa Nousugakure memiliki tempat rahasia. Hanya para Hokage dan penduduk desa itu sendiri yang tahu. Tapi, para Hokage pun tidak tahu tempat rahasia itu dimana.."

"Shino.. Lacak dimana penduduk berada, sedangkan aku, Sasuke dan Sai akan mencari bandit-bandit itu." Kata Shikamaru.

Shino pun langsung mengeluarkan serangga-serangganya. Sedangkan Sasuke, Shikamaru dan Sai pergi mencari bandit-bandit yang mereka harap masih ada di desa itu.

Setelah beberapa menit mencari, ke-tiga Shinobi Konoha itu menemukan bandit-bandit yang mereka cari. Bandit-bandit itu sepertinya tengah berpesta di kedai Sake.

"HaHaHa... Ayo tambah lagi sakenya!."

"Dimana makananku?!"

Sesekali suara teriakan dan tawaan terdengar dari kedai itu. Sasuke mengaktifkan Sharingannya untuk melihat keadaan di dalam kedai tersebut dan ia melihat ada belasan bandit disana.

"Ada sekitar 19 orang disana. Dua diantaranya pegawai kedai." Ucap Sasuke.

Ketiganya pun memasuki kedai itu. Bandit-bandit yang melihat kedatangan mereka pun langsung menyerang.

PRANG

CRASH

TREK

Suara senjata yang beradu terdengar disertai suara sayatan yang memilukan dan berakhir dengan tumbangnya seseorang.

"AMATERASU!"

Sebuah api hitam bersarang di kepala seorang bandit yang akan menyerang Shikamaru dari belakang. Beruntung Sasuke melihatnya. Dan darah segar mengalir dari mata kiri sang pengguna Amaterasu.

.

.

.

Shino berlari mengikut serangga-serangga nya yang telah berhasil menemukan para penduduk desa. Serangga-serangga itu membawa Shino ke sebuah pohon besar yang berada di samping sebuah kuil pemujaan.

"Penduduk ada di dalam pohon ini?" Gumam Shino.

"Apa kalian tahu bagaimana caranya agar bisa masuk ke dalam pohon itu?" Tanya Shino pada serangga-serangga nya.

Serangga-serangga itu pun secara bersamaan terbang kedalam kuil lalu berkumpul di lantai yang ada di pojokan kuil.

Mengerti dengan apa yang serangga-serangganya lakukan, Shino pun membukanya dan melihat ada sebuah terowongan. Tanpa ragu Shino akhirnya masuk kedalam terowongan itu.

Penduduk desa Nousugakure terlihat ketakutan saat melihat Shino dan serangga-serangga nya berdiri di depan mereka. Dan Shino menyadari hal itu.

"Aku Shino, Shinobi dari Konoha. Aku datang untuk menolong kalian..."

OoOoO

Sasuke berlari di lorong Rumah Sakit dengan keadaan kacau. Setelah misinya di desa Nousugakure selesai, Ino yang saat itu tengah berada di gerbang komplek Shinguru mendekatinya dan mengatakan jika Hinata telah melahirkan. Beruntung saat itu ia sudah melapor pada Hokage. Ia pergi ke Rumah Sakit secepat yang ia bisa. Bahkan ia tidak mempedulikan penampilannya.

BRAK

Dibukanya sebuah pintu ruangan yang ia yakini ruangan dimana Hinata berada. Tepat seperti dugaannya. Hinata tengah berbaring di tempat tidur. Sousuke duduk di dekatnya.

"Ayah!"

Sousuke mendekati Sasuke dan memeluknya. Sasuke membelai rambut hitam bocah itu.

"Kau menjaga Ibu dengan baik, kan?" Tanya Sasuke.

Sousuke mengangguk, "Eum.. Aku khawatir saat Ibu akan melahirkan, tapi kekhawatiranku hilang saat melihat adik kecil."

"Sekarang kau pergi temui adik kecil, ya! Ayah ingin berbicara dengan Ibu." Pinta Sasuke.

Sousuke mengangguk kemudian pergi dari ruangan itu untuk melihat adik kecilnya seperti apa yang diminta oleh Sasuke.

Sasuke mendekati Hinata dengan langkah pelan setelah Sousuke meninggalkan ruangan itu. Ia duduk di tepi tempat tidur. Tanpa menunggu Hinata berhamburan kepelukannya.

"Sasuke-kun." Gumam Hinata lirih.

Sasuke menepuk punggung Hinata pelan, mencoba menenangkan wanitanya.

"Terimakasih telah berjuang, Hinata. Maaf, aku tidak bersamamu saat kau tengah berjuang." Sesal Sasuke sambil mendekap erat tubuh Hinata.

Hinata menggeleng, "tidak apa-apa. Melihatmu baik-baik saja itu sudah cukup untukku."

Sasuke melepaskan pelukan mereka kemudian tersenyum. Memandang istrinya penuh cinta. Tangannya terulur untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi Hinata.

"Jika kau baik-baik saja, aku pun akan baik-baik saja, Hinata." Tutur Sasuke.

"Apa kau terluka Sasuke-kun?" Tanya Hinata khawatir.

Pemuda itu menggeleng, "tidak.. Kau tahu kan aku ini laki-laki yang kuat. Tidak ada yang bisa melukaiku."

Hinata tersenyum mendengar penuturan Sasuke. Pemuda itu benar-benar memiliki kepercayaan diri yang tinggi.

"Aku akan pergi mengambil air." Ucap Hinata. Saat ia akan beranjak dari tempat tidur, Sasuke mencegahnya.

"Biar aku yang ambil. Untuk apa?"

"Untuk membersihkan wajahmu." Kata Hinata disertai rona merah di pipinya ketika melihat mata Sasuke mengerling menggodanya.

"Kalau begitu kau tunggu disini. Aku akan mengambil air dan handuk." Ucap Sasuke kemudian pergi ke kamar mandi untuk mengambil sebaskom air. Lalu kembali kehadapan Hinata.

Hinata melihat Sasuke meletakkan baskom penuh air itu di meja yang dekat dengan tempat tidurnya. Tangannya terulur untuk mencelupkan handuk kedalam air kemudian memerasnya.

Dengan lembut ia menyapu darah yang -telah mengering- mengalir dari mata kiri Sasuke di pipinya. Sasuke memandang Hinata yang tengah membersihkan wajahnya dengan intens.

"Apa kau menggunakan Amaterasu?" Tanya Hinata memecah keheningan.

"Hn."

Hinata tampak gugup ketika Sasuke menatapnya dengan intens. Walaupun mereka telah menikah hampir 2 tahun, ia masih gugup jika Sasuke menatapnya begitu. Sasuke yang bisa merasakan kegugupan Hinata pun menyeringai.

"Apa kauㅡ..."

CHU~

Perkataan Hinata terhenti saat Sasuke menyingkirkan tangannya kemudian membungkam bibirnya dengan bibir pemuda itu. Memejamkan kedua mata mereka, menikmati pagutan mesra yang mereka buat. Saling menyalurkan perasaan yang ada didalam hati mereka.

"Hinaㅡ..."

"Hai Hinata-chan..."

PLETAK

"Aw!"

Sakura memukul kepala Naruto. Ia sudah menghentikan panggilannya saat menyadari apa yang tengah terjadi di ruangan itu namun dengan seenaknya Naruto justru memanggil Hinata dengan suara menggelegarnya.

Sepasang suami-isteri yang tengah berciuman mesra itu harus menghentikan aktivitas mereka saat merasakan kehadiran orang yang mengganggu mereka. Keduanya dengan kompak menatap kedua sosok dengan bayi berbeda usia di gendongan mereka yang masih berdiri di depan pintu itu dengan pandangan yang berbeda. Sasuke menatap keduanya dengan tatapan membunuh, sedangkan Hinata menatap keduanya dengan tatapan malu.

"Ck! Mau apa kalian kemari?" Tanya Sasuke kesal. Tentu saja. Acaranya terganggu dengan kedatangan dua pasangan berisik itu. Pasangan berisik? Ya itu menurut Sasuke.

"Aku mengantar anakmu, Sasuke-kun." Jawab Sakura.

Sasuke melunak. Anaknya? Ia melihat sesosok bayi di gendongan Sakura. Bayi yang berambut indigo dengan pipi yang memerah. Tangannya terulur untuk meraih bayi itu, namun dengan cepat Sakura menepis tangannya.

"Kenapa?!"

"Kau kotor Sasuke-kun. Apa kau tidak memperhatikan penampilanmu?" Sahut Sakura.

Sasuke memandang dirinya sendiri. Benar. Ia bahkan belum pulang ke rumah. Ia pun hanya bisa memperhatikan saat Sakura menyerahkan bayi itu pada Hinata. Hinata tersenyum melihat bayi nya yang tertidur pulas.

"Dimana Sousuke?" Tanya Hinata saat tidak mendapati Sousuke bersama mereka.

"Aku melihat Dan Gai membawa Sousuke pergi keluar Rumah Sakit." Jawab Naruto.

Hinata mengangguk mendengar jawaban Naruto. Ia dan Sasuke memandang bayi mereka dengan rona bahagia. Bayi itu tampak menggeliat pelan.

"Dia laki-laki... akan kau beri nama siapa Sasuke-kun?" Tanya Hinata sambil memandang Sasuke.

"Sanada.. Sanada Uchiha."

.

.

.

.

THE END