[REMAKE] A Romantic Story About Serena by Santhy Agatha

Genre :: Romance, hurt

Cast :: Oh Sehun, Xi Luhan, Kim Jongin and others. [HUNHAN]

Rated :: M

.

Disclaimer : gil me-remake novel favorit gil, cerita aslinya kalian bisa baca novel A Romantic About Serena (Santhy Agatha). So, cerita ini bukan milik gil, gil hanya me-remake oke?jangan nuduh gil plagiat ya. Oh iya ini re-post ya, soalnya yang itu tuh/? Gatau kemana ilang-_,-

.

YAOI. Typo(s). M-Preg.


1


"Terima kasih sudah hadir di hidupku, terima kasih sudah mengajari aku mencintai dengan begitu dalam, terima kasih sudah menyentuh hatiku yang gelap dan jahat sehingga bisa merasakan indahnya mencintai seseorang, dan yang terpenting terima kasih sudah mau mencintaiku."

[Oh Sehun]


Luhan menarik nafas dalam sebelum membuka pintu itu, pintu besar kokoh yang terlihat mewah dan berkuasa seakan mencerminkan apa yang menunggu dibaliknya. Sambil menenangkan debar jantungnya dibukanya pintu itu, dan ketika menyadari tangannya berkeringat, Luhan tersenyum kecut.

Seperti akan mendapatkan hukum mati saja, desisnya dalam hati.

Ketika masuk Luhan menyadari ruangan itu sangat luas. Suasana dalam ruangan itu sungguh elegan, dengan penataan ruang dari disainer terkenal dan perabotan kelas tinggi yang khusus dipesan di ruangan ini. Temperaturnya dibuat senyaman mungkin dan samar-samar tercium aroma cendana yang menyenangkan. Semua ada di ruangan ini sungguh menyenangkan. Ups! Salah, semua menyenangkan kecuali satu hal, dan satu hal itu adalah sosok dingin yang duduk tegak dibalik meja dengan keangkuhan yang mencerminkan seolah-olah dirinyalah pusat dunia.

Lalu tatapannya itu, sangat mengerikan. Mata biru itu menatapnya dengan kadar kebencian yang begitu kental.

Luhan membasahi bibirnya dengan gugup, dan menunggu, dan terus menunggu. Tetapi lelaki itu hanya diam menatapnya, mempertahankan keheningan di antara mereka. Luhan mengangkat dagunya dan melempar tatapan. "Well, aku sudah disini, sekarang apalagi?" kepada lelaki itu.

Si mata biru mengerutkan alisnya gusar melihat tingkah berani Luhan, mulutnya menipis.

"Kudengar kau menyebabkan kekacauan proyek ini."

Akhirnya. Luhan menghembuskan napas setengah lega setengah panik mendengar kalimat pembuka laki-laki itu.

"Saya hanya mencoba menyelamatkan keadaan." Sebenarnya Luhan tidak mau kedengaran begitu kurang ajar, tapi tatapan meremehkan laki-laki itu mau tak mau mengeluarkan sisi defensif dari dirinya.

"Menyelamatkan keadaan katamu?" lelaki itu tampak begitu murka mendapat jawaban Luhan. "Kau mengusir klien terpenting kita, dan mempermalukannya di depan umum, dan kau bilang untuk menyelamatkan keadaan?"

Luhan membalas tatapan garang itu dengan tatapan tak kalah garang. "Orang yang anda bilang klien terpenting kita itu, merayu dan meraba salah satu SPG kita di tengah-tengah pameran tersebut, apakah menurut anda, saya, sebagai supervisor hanya boleh diam saja dan tidak membelanya?"

Tatapan mata meremehkan dari mata biru itu benar-benar membuat Luhan sebal.

"Kau bekerja disini sebagai supervisor dan supervisor bertugas menjaga hubungan baik dengan klien potensial, bukan mengusirnya." Jawab lelaki itu tenang.

"Jadi menurut anda saya harus melupakan moralitas hanya demi keuntungan perusahaan semata?"

"Moralitas selamanya tidak akan mendapatkan keuntungan dalam hal apapun." Si mata biru mengangkat bahu dengan bosan.

Cukup sudah! Luhan menarik napas dalam-dalam.

"Kalau begitu saya tidak mau bekerja di perusahaan yang tidak bermoral, paling cepat nanti siang anda akan mendapatkan surat pengunduran diri dari saya."

Sejenak suasana menjadi begitu hening, dan kalau pun si mata biru itu kaget dengan hasil keputusan Luhan, dia berhasil menyembunyikannya dengan baik karena ekspresinya tidak dapat ditebak, dia hanya memandang Luhan dengan ekspresi menilai.

Suasana terasa semakin hening, dan Luhan menunggu. Ketegangan terasa bagaikan senar yang ditarik kencang, siap untuk putus.

Lalu, sebuah senyuman muncul di sudut bibir lelaki itu, walaupun begitu, sinar matanya tampak begitu kejam.

"Tidak semudah itu Xi Luhan, mungkin saya adalah pemimpin tertinggi sekaligus pemilik perusahaan ini, tapi bukan berati saya tidak mengetahui setiap detail terkecil pegawai di sini."

Lelaki itu menatap dengan tajam sebelum menjatuhkan bom-nya.

"Kau memiliki pinjaman yang belum selesai pada perusahaan ini senilai 40 juta, katakan sekarang Xi Luhan, apakah kau bisa melunasi pinjaman itu dengan tunai sekarang juga? Kalau ya, saya dengan senang hati meluluskan permohonan pengunduran dirimu."

Wajah Luhan benar-benar pucat pasi, dalam kemarahan tadi, sama sekali tidak terpikirkan tentang pinjaman itu. Dan si mata biru tadi menanyakan apakah dia bisa membayar pinjaman secara tunai? Tanpa sadar Luhan mengernyit seolah kesakitan, Ya Tuhan, itu tidak mungkin, bahkan sekarang dia dalam kekalutan besar dan membuktikan lebih banyak uang untuk-, cepat-cepat dihapusnya pikiran itu sebelum melayang begitu jauh.

Si mata biru mengendus menghina melihat kebekuan Luhan.

"Oke, saya asumsikan tidak dapat membayar tunai pinjaman itu, meskipun saya sedikit bertanya-tanya kenapa pria seperti anda bisa menghabiskan uang sebanyak itu, tapi toh itu bukan urusan saya."

Senyum di sudut bibir lelaki itu langsung menghilang dan tatapannya berubah menjadi dingin.

"Jadi selama kau masih berhutang dengan perusahaan ini dan belum bisa menyelesaikan kewajibanmu, jangan seenaknya mengira kau bisa mengundurkan diri dari perusahaan ini. Hanya sayalah yang bisa memutuskan apakah kau layak dipertahankan atau disingkirkan, jadi kembalilah bekerja dan singkirkan moralitasmu yang munafik itu."

Luhan menatap lelaki itu dengan kebencian yang meluap-luap.

"Hanya pinjaman itu yang menahan saya di sini, dan jika saya berhasil melunasi pinjaman itu, saya akan langsung angkat kaki dari perusahaan ini. Sekarang mohon ijin permisi, saya akan kembali bekerja."


Sehun menatap pintu yang tertutup dengan agak keras di depannya. Dia menunggu beberapa saat, lalu mendesah sambil melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik, dengan letih dia bersandar kembali di kursi sambil memejamkan mata.

Bukan salah pria itu jika sekarang tubuhnya terasa panas, tidak. Bukan cuma panas, kau sekarang benar-benar terbakar man!

"Xi Luhan."

Sehun menggumankan nama itu bagaikan mantra, lalu matanya membuka dengan penuh perhitungan.

Well, jangan harap kau bisa semudah itu pergi dari sini, karena aku tidak akan membiarkanmu pergi, Luhan, gumamnya dalam hati.

Sehun mengingat saat pertama kali melihat Luhan, biasanya dia tak pernah memperhatikan pria, Sehun dikenal sebagai kekasih yang sangat dingin. Dia selalu berjaga jarak tidak membiarkan siapapun terlalu dekat.

Kalau ditanya, apakah Sehun gay? Jawabannya ya.

Luhan, pria itu sudah dua tahun bekerja sebagai supervisor lapangan di sini, yang Sehun bahkan belum pernah bertemu dengannya.

Ya tentu saja! Sehun mengendus.

Seorang CEO tidak ada urusannya dengan supervisor lapangan.

Entah nasib sial apa yang menghinggapinya ketika pertama kali dia bertemu dengan Luhan, ketika itu dia sedang menjamu tamu penting di lokasi yang berdekatan dengan proyek pemasaran yang sedang berlangsung, maka secara implusif diputuskannya untuk mampir. Manajer pameran langsung tergopoh-gopoh menyambutnya.

Lalu pria itu muncul.

Dengan tubuh mungil, pakaian kerja, Luhan jelas-jelas kalah jika dibandingkan dengan pacar-pacarnya yang berasal dari kelas atas. Tapi tubuh Sehun bagaikan disadarkan ketika melihat Luhan, dan ketika mereka bersalaman, tangannya bagaikan disengat listrik, gairah langsung meletup dari ujung kepala sampai ke kakinya begitu menggebu-gebu sampai membuat kepalanya pening.

Kenyataan bahwa Luhan sama sekali tidak memperhatikannya kecuali sebagai bos sama sekali tidak membantu.

Sehun menyadari dia mulai terobsesi terhadap Luhan, dimanapun dia berada, kapanpun ia ada, dia selalu mencari pria itu. Tak mau seharipun dilewatinya tanpa menyempatkan diri melihat Luhan, hingga seolah-olah pria itu merupakan eksistensi kehidupannya. Bahkan demi hal itu, sekarang dia mendapati dirinya mulai memanipulasi beberapa proyek yang sedapat mungkin melibatkan divisi Luhan semata-mata agar dia bisa sering melihat Luhan.

Mungkin ini kegilaan sesaat, atau mungkin alamiah. Sehun pernah membaca bahwa ada orang-orang tertentu yang memang dapat membuatmu sangat bergairah, entah karena hormon, aroma atau yang lain-lainya, mungkin Luhan salah satu diantaranya.

Ini hanya masalah nafsu, dan akan segera hilang begitu nafsu ini dipuaskan, gumam Sehun dalam hati.

Dengan dahi dikerut dipandanginya laporan pinjaman karyawan di mejanya.

Yah sepertinya ini akan sangat mudah, melihat besarnya pinjaman Luhan, pasti pria ini suka menghamburkan uang atau mempunyai hutang yang amat sangat banyak. Dengan sedikit pengeluaran ekstra pasti sangat mudah menarik pria itu ke ranjang, dan setelah dia dipuaskan, pasti akan lega sekali bisa lepas dari obsesi yang menyiksa ini.


"Bagaimana kondisinya noona?"

Luhan baru saja sampai, di luar hujan deras sekali, dan air menetes-netes di rambutnya.

Perawat – yang dipanggil noona itu memandanginya dengan penuh kasih, sudah 2 tahun dia mengenal Luhan.

"Kondisinya baik-baik saja Luhan. Tekanan darahnya normal dan detak jantungnya stabil, itu bagus, dia begitu tenang seharian ini, dia tidak mengalami serangan, jadi tidak perlu merasa kesakitan."

"Dia tidak mengalami serangan?" mata Luhan melebar bahagia. "Terima kasih Jessica noona, kalau begitu aku akan melihatnya dulu."

Luhan memasukin ruangan putih sederhana itu, dipandangnya ranjang yang menjadi pusat di ruangan itu. Di atas ranjang terbaring sosok yang lemah, tubuhnya terhubung dengan selang yang terjalin ke mesin-mesin.

Luhan duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan yang terhubung dengan jarum infus, sebuah cincin emas melingkar di jarinya, lelaki ini adalah Jongin, tunangannya yang terbaring koma sejak lebih dari dua tahun yang lalu.

"Apa kabarmu sayang?" gumamnya penuh perasaan.

Sosok itu tetap diam dan ruangan terasa hening, hanya suara mesin-mesin pemonitor detak jantung dan desisan alat pengatur oksigen yang terdengar.

Luhan mengecup cincin di jari lelaki itu, ingatannya menerawang kembali masa dua tahun lalu dimana hidupnya yang indah dan bahagia berubah menjadi tragedi.

Saat persiapan pernikahan mereka, Jongin sudah cukup mapan dan sangat mencintai Luhan, dan Jongin tidak mempunyai keluarga, lelaki itu dibesarkan di panti asuhan lalu berjuang mandiri hingga bisa menjadi pengacara handal yang cukup sukses.

"Aku sebatang kara di dunia ini sebelum bertemu denganmu." Begitu ucapan syukur Jongin dulu ketika Luhan menerima lamarannya. Luhan begitu bahagia waktu itu, dia begitu dicintai dan kedua orang tuanya begitu mendukungnya, sebagai anak tunggal orang tuanya memang sedikit protektif padanya dibandingkan orang tua lainnya, tapi mereka bisa melihat ketulusan hati Jongin dan menerima Jongin dengan tangan terbuka.

Lalu pagi yang penuh tragedi terjadilah, Luhan sedang menyiapkan pernikahan mereka yang tinggal satu bulan lagi. Ketika itu Jongin menelpon, karena Luhan meminta tolong padanya untuk menjemput orang tua Luhan di bandara.

Sebenarnya merupakan tugas Luhan menjemput mereka, tetapi karena supir keluarga sedang cuti, Luhan meminta bantuan Jongin. Jongin tidak pernah merasakan mempunyai orang tua, jadi dia sangat menyayangi kedua orang tua Luhan, begitu pula sebaliknnya, jadi, tugas sepele menjemput orang tua di bandara sangat menyenagkan baginya.

"Kau tahu, aku tidak sabar bertemu mereka. Aku merindukan mereka."

Lelaki itu tersenyum lalu menutup telepon setelah mengucapkan satu-satunya janji yang tidak bisa ditepatinya.

"Aku janji, segera setelah dekat dengan tempatmu, aku akan menelponmu, jadi kau bisa siap-siap di depan, bye calon pengantinku, saranghae."

Itulah saat terakhir kali Jongin menelponnya.

Sama sekali tidak ada firasat hari itu, sama sekali tidak ada pertanda bahwa pagi itu akan menjadi mimpi paling buruk dalam hidupnya, dan telepon itulah awal dari reretan bencana.

Yang menelponnya kemudian bukanlah Jongin yang dicintainya, melainkan petugas rumah sakit. Mobil yang dikendarai Jongin menjadi salah satu korban tabrakan beruntun, Ayahnya meninggal di tempat, ibunya dalam kondisi kritis dan Jongin sudah tak sadarkan diri karena benturan keras di kepalanya.

Luhan menjalani semuanya seorang diri, hari itu dia bergerak bagai robot mengurusi makam ayahnya sekaligus khawatir kondisi ibu dan tunangannya, tak ada waktu untuk menangis, dan kemudian keesokan harinya ibunya meninggal menyusul ayahnya, Luhan menanggung kepedihan memakamkan kedua orang tuanya dalam dua hari berturut-turut seorang diri, lalu malam itu, ketika dokter memutuskan bahwa Jongin mengalami koma yang tidak diketahui kapan akan sadar, ketegaran Luhan runtuhlah sudah, semua kepedihan bertubi-tubi menerjangnya sudah tidak dapat ditanggungnya lagi, dia pingsan dan ketika sadar dia hanya bisa menangis.

Lalu suster Jessica datang, seorang perawat yang sangat keibuan. Suster itulah yang membantu Luhan agar tidak terpuruk, yang membuatnya sadar bahwa dialah satu-satunya yang dimiliki Jongin untuk membantunya bertahan hidup.

Dengan cepat Luhan bangkit, menyadari bahwa dia sendiri yang harus berjuang demi Jongin, lelaki yang sangat dia cintai. Dia mengetahui bahwa biaya perawatan Jongin tidak murah, Luhan segera bergerak cepat, dijual rumah keluarganya dan dikumpulkan semua aset yang dimilikinya lalu pindah ke tempat flat kecil, lalu dia pindah pekerjaan dengan gaji yang lebih bagus.

"Berjuanglah untuk bertahan Jongin, karena aku akan berjuang untukmu." Tekad Luhan dalam hati waktu itu.

Namun sekarang lebih dari dua tahun berlalu, seluruh aset yang dimiliki Luhan sudah habis, bahkan dia sudah menaggung hutang pada perusahaan untuk menutup biaya perawatan Jongin, dan tunangannya tercinta masih belum sadar juga.

"Kau tahu tadi pagi aku bertengkar dengan bosku." Luhan memulai kebiasaannya, mengobrol satu arah dengan Jongin, menceritakan kehidupan sehari harinya pada Jongin. "Matanya biru dan dia sangat menyebalkan, dan kau tahu?dia sama sekali tak menghargai moralitas, kau pasti akan bertengkar hebat dengannya karena sebagai pengacara kau sangat menjunjung moralitas."

Luhan terkekeh membayangkan hal itu, lalu merebahkan di ranjang sambil mengamati wajah Jongin. "Aku merindukanmu tahu, sudah lama aku tidak mendengar suaramu, sampai kapan kau mau tidur terus? Awas ya, jangan salahkan aku kalau suatu saat kau memanggilku di tempat ramai dan aku tidak mengenali suaramu."

Di luar pintu, suster Jessica yang mendengar percakapan itu menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kata. Betapa tegarnya pria itu, betapa hebatnya dia, selama dua tahun dia berjuang dan belum mendapatkan jawaban, tapi semangatnya sama sekali tidak pernah surut.

Selama hampir dua jam Luhan bercakap-cakap searah dengan Jongin, lalu ketika suster Jessica mengingatkan bahwa waktu sudah menunjukan jam 9 malam, Luhan bangkit dari duduknya, dikecupnya dahi Jongin penuh kasih sayang.

"Sudah dulu ya, aku akan pulang dan tidur, besok aku akan kesini menengokmu lagi, aku mencintaimu Jongin ie."

Luhan lalu menemui suster Jessica yang menunggunya diluar, suster itu menyerahkan kantong plastik pada Luhan.

"Ini makanan untukmu, kau tadi buru-buru kesini karena hujan, kau pasti belum sempat makan malam."

"Terima kasih noona."

"Wajahmu pucat, kau pasti kecapekan, jangan terlalu memaksakan diri, Lu."

Luhan menarik napas letih tapi tetap mencoba tersenyum riang.

"Aku harus terus bekerja noona, apalagi sudah hampir tanggal lima."

Tanggal lima adalah tanggal rutin Luhan harus melunasi biaya perawatan Jongin yang makin membengkak setiap bulannya.

Suster Jessica memandang Luhan dengan hati-hati.

"Kau tahu, ada beberapa cara yang lebih ringan, dokter memperbolehkan Jongin dirawat di rumah."

"Tidak." Luhan memandang Suster Jessica dengan ngeri. "Jongin sering mengalami serangan, aku tidak mau Jongin kenapa-kenapa, di sini adalah tempat Jongin akan mengalami penanganan yang paling tepat, dan aku akan berjuang berapapun biayanya."

Suster Jessica memandang Luhan dengan penuh kasih sayang, menyadari betapa keras kepalanya Luhan jika sudah punya kemauan.

"Ya sudah, pulang dan istirahatlah, jangan lupa makan, dan ingat Luhan kalau kau kekurangan uang, aku punya simpanan uang yang-"

Luhan memeluk suster Jessica dengan penuh kasih sayang.

"Anda tahu noona, bantuan noona sudah cukup selama ini, saya tidak tahu bagaimana lagi saya harus berterima kasih."


Pagi itu hujan deras sekali, Luhan menunggu di halte bus dengan panik, hujan deras yang menyebabkan macet parah, dan sampai sekarang bus yang dia tunggu tak kelihatan. Sementara itu hujan turun semakin deras hingga pandangan di depannya makin kabur, orang-orang mulai menyingkir karena halte itu tidak dapat lagi melindungi mereka dari terpaan hujan, dan Luhan masih berdiri mencengkram payungnya erat-erat, menahan tiupan angin yang makin kencang. Matanya bergantian melirik jam tangannya dan ujung jalan dengan harap-harap cemas, dia pasti akan terlambat hari ini, manajer lapangannya yang galak pasti akan marah besar karena pagi ini dia dijadwalkan meeting pagi dengannya, lelaki itu sangat tepat waktu dan tidak suka menunggu.

Tiba-tiba sebuah mercedes hitam legam yang sangat mewah meluncur mulus berhenti tepat di depan Luhan. Mulanya Luhan tidak menyadari kalau mobil itu berhenti untuknya karena perhatiannya terlalu terfokus pada ujung jalan, tetapi ketika pintu mobil itu mendadak terbuka, Luhan hampir terlonjak karena kaget.

"Masuklah."

Mulanya Luhan ingin mencaci-maki siapun pengemudi mobil itu yang dengan seenaknya mengira Luhan adalah 'pria gampangan' yang mudah dibawa, tetapi ketika Luhan merasa mengenali suara lelaki itu, dengan ragu ditundukannya kepalanya untuk memastikan bahwa pengemudi itu sesuai dengan dugaannya.

Mata biru yang tajam itu membalas tatapannya, yah kalo tidak bisa dibilang sedang sial, setidaknya dugaanya tidak salah.

"Ayo masuk, kau akan basah kuyup jika berdiri terus disitu, kita kan searah." Sehun agak berteriak mengalahkan derasnya suara hujan dan petir yang bersahut-sahutan.

Luhan masih berdiri ragu-ragu, perjalanan ke kantor jauh dan lama, Luhan merasa enggan dan tak tahu apa yang dibicarakan dengan lelaki itu sepanjang jalan, lagi pula... Luhan melirik cemas ke arah payungnya basah kuyup dan menetes-netes dan interior mobil itu sepertinya sangat bagus, jika kena air-

"Masuklah, Luhan! Aku tak peduli dengan payung basah itu. Kau akan membuat kita berdua terlambat, masuk, atau akan sendiri yang akan menyeretmu."

Suara geram Sehunlah yang menyadarkan Luhan dari keraguannya, dengan cepat dia memasuki pintu yang terbuka dan duduk di sebelah Sehun.

Satu detik setelah pintu tertutup, Luhan langsung menginjak gas dan menjalankan mobilnya, seolah takut Luhan berubah pikiran.

Sehun melirik sedikit pada Luhan yang memandang cemas pada payung yang meneteskan air di tangannya.

"Taruh saja di tempat di belakang, pengurus mobilku akan membersihkannya dan pasang sabuk pengamanmu."

Secara otomatis Luhan menoleh kebelakang dan menemukan wadah plastik slinder di tengah jok belakang, mungkin tempat koran atau semacamnya, tapi wadah itu kosong dan Luhan meletakan payung itu di sana, lebih baik dari pada payungnya meneteskan air membasahi kursi kulit yang mewah atau karpet tebal mobil ini.

Setelah memasang sabuk pengamannya, Luhan menyadari bahwa sudut mata Sehun melirik ke arahnya.

"Terima kasih sangjanim." Gumamnya demi menjaga kesopanan.

Sehun tersenyum miring.

"Pasti kau bingung apakah ini kesialan atau keberuntungan karena akulah yang memberimu tumpangan." Gumamnya tenang.

Luhan membuka mulut hendak membantah, tetapi akhirnya menutup mulut lagi. Tidak menyadari napas Sehun yang mendadak lebih cepat ketika memperhatikan gerakan mulutnya.

"Rumahmu di daerah sini ya?"

Suara Sehun entah kenapa menjadi serak sehingga secara otomatis Luhan menoleh ke arahnya, tetapi lelaki itu tidak sedang menatapnya melainkan memandang lurus ke depan.

"Iya, flat saya di daerah sini." Suaranya setengah melamun dan tersentak ketika Sehun mendadak menoleh kepadanya.

"Flat?" kenapa informasi itu sampai terlewatkan olehnya? "Kalau begitu dimana orang tuamu?"

"Orang tua saya sudah meninggal, saya hidup sendirian." Jawab Luhan otomatis. "sangjanim mungkin sebaiknya saya diturunkan agak jauh dari kantor, nanti saya berjalan kaki saja."

Sehun mengerutkan dahinya, tak suka ide itu.

"Kenapa harus begitu?"

"Tempat parkir khusus direksi kan sangat mencolok, saya tidak mau orang melihat saya turun dari mobil anda akan berpikiran yang tidak-tidak."

"Seperti kita melakukan sex yang hebat semalam dan pagi ini berangkat bersama-sama?"

Wajah Luhan memucat mendengar ucapan Sehun yang sangat vulgar itu.

"Dengar Tuan Luhan, kau dikenal sangat menjunjung moralitas di kantor, jadi orang tidak mungkin berpikiran yang tidak-tidak dengamu." Suara Sehun terdengar sinis dan mengejek. "Lagipula-" kali ini Sehun sengaja membiarkan tatapan matanya menelusuri Luhan dari ujung kecapa sampai ujung kaki. "Semua orang tahu siapa aku, semua orang tahu aku gay, dan tahu seperti apa pacarku, mereka tahu percis bahwa kau bahkan tidak masuk ke dalam kategori tipe pria kesukaanku, walaupun aku gay, aku tidak akan mungkin kan suka padamu, jadi gosip apa yang akan timbul?"

Detik itu juga Luhan menyadari bahwa dia tak akan pernah suka bosnya yang satu ini. Dengan geram Luhan menggertakan giginya lalu mengalihkan pandangannya ke jendela luar.

Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Ketika Sehun memarkir mobilnya di parkir direksi, Luhan segera turun dan mengucapkan terima kasih dengan kaku, lalu berlari kecil menembus hujan, meninggalkan Sehun yang masih di mobil.

Untuglah lobby sudah sepi, hanya petugas keamanan dan resepsionis yang ada di sana jadi tak perlu khawatir akan terjadi gosip. Tapi ketika Luhan melihat jam besar di lobby dia langsung mempercepat langkahnya, dia terlambat, manajernya pasti akan marah besar.

Ketika sampai di ruangnya rekannya menatapnya sambil mengangkat alis melihat penampilan Luhan yang acak-acakan dengan rambut dan baju setengah basah.

"Kwajangnim menunggumu, dia bilang kalau ka datang langsung saja ke ruangannya."

Luhan mengangguk, hanya mampir sebentar meletakan barang-barangnya dan langsung mengetuk pintu ruangan manajernya.

"Masuk." Gumam suara dari dalam.

Luhan melangkah masuk sambil membersiapkan dirinya untuk mendengarkan ocehan panjang lebar tentang kedisiplinan yang menjadi ciri khas bosnya itu.

"Saya mengerti kenapa kau terlambat Luhan, tadi CEO kita menelpon dan menjelaskan bahwa kau ikut mobilnya, yah saya tidak menyalahkanmu, cuaca sangat buruk pagi ini kan?"

Luhan hanya tertegun menatap senyum bosnya yang begitu lebar. Ternyata cuma sampai disitu arti kedisiplinan yang digembar-gemborkan kwajangnim, begitu kekuasaan berbicara, maka semua tak ada artinya lagi.

"Eh iya, tadi saya tak sengaja berpapasan dengan sangjanim ketika saya sedang menunggu bus dan sangjanim menawari saya tumpangan."

"Hebat Luhan, hebat. Ternyata insiden kecil kemarin yang menyebabkan sangjanim sendiri sampai turun tangan memanggilmu itu malah menguntungkan bagi devisi kita. Pempinan perusahaan tertinggi kita, bayangkan! Dia mengenalimu bahkan menawarimu tumpangan."

Luhan merasa muak melihat kegirangan bosnya yang tak wajar itu, memang Sehun itu siapa? Memang dia CEO perusahaan ini dan merupakan pimpinan tertinggi perusahaan ini di Korea Selatan. Perusahaan mereka merupakan perusahaan terkenal dengan nama sama di Canada. Dan Sehun sebagai salah satu pemegang saham terbesar sekaligus CEO yang handal di salah satu perusahaan mereka di Canada, menawarkan diri untuk mengisi jabatan di Korea Selatan. Gosipnya lelaki itu menganggap bahwa memimpin cabang mereka di Korea Selatan dengan berbeda budaya dan segala keeksotisannya merupakan tantangan sendiri baginya. Tetapi lelaki itu kan manusia juga sama seperti mereka? Harusnya kwajangnim tidak perlu segirang itu.

"Kalau begitu saya ijin kembali sebentar untuk mengambil bahan meeting kita pagi ini." Gumam Luhan memotong kalimat bosnya yang masih berceloteh tidak jelas tentang kelebihan-kelebihan Oh Sehun dan betapa beruntungnya Luhan.

Ketika Luhan hampir melangkah pergi, bosnya seperti baru mengingat sesuatu.

"Oh iya Luhan, tadi sangjanim berpesan kalau ada barang milikmu yang tertinggal di mobilnya, dia ingin kau mengambilnya nanti jam 3 sore di ruangannya."


Hai adakah yang nunggu? Haha maaf ya ngaret banget. Maaf juga kalo typonya banyak banget .-. oh iya tgl 15 sept di RCTI ada EXO SHINee live in jakarta tapi malem banget-_-tapi gapapalah ya yang penting ada di tv wkwk((liat iklannya aja gue seneng banget)).

Untuk chapter depan mungkin akan secepatnya aku update, tapi ga janji loh ya hehe.

Q : Kenapa repost?

A : soalnya yang dulu itu ilang, aku gatau mungkin diapus sama ffn-_,-

Q : Endingnya hunhan apa kailu?

A : ikutin aja ceritanya terus, wkwk.

Q : kenapa ga GS aja?

A : soalnya aku maunya yaoi/? Yah aku galau pertama-tamanya juga mau yaoi atau GS, wehehehe.

Q : kalo Luhan hamil Sehun bisa berubah sifatnya?

A : kalo itu tanyakan pada Sehun/?

Q : Luhan kapan hamilnya?

A : setelah Kris ga tonggos lagi /loh wakaka

Q : kalau Luhan hamil, Jongin tau ga?

A : tau apa ngga ya... tau eh ngga deng eh tau deng eh ngga deng eh ikutin aja ceritanya yak:v

Q : unni line berapa?

A : aku aku aku aku masih muda cintahku...aku 99l tapi masih kelas 9 tapi jan ngira aku ga naek kelas loh ya wkwk aku ketuaan di tk-nya ini. Aku kena korban dewasa sebelum umur ini wakaka

Q : buat Luhan hamil ajaaa

A : iya cintaa

Q : tar Jongin sama dio ya?

A : maaf ya Jongin sama aku wkwk

;Big thanks;

to :

[AnjarW/ HunHanina/ lisnana1/ Bottom-Lu/ selukr/ Guest(1)/ exindira/ hyemi kim/ Akasia cheonsa/ DahsyatNyaff/ Pegasus/ Guest(2)/ kristinhuangxi. Hunhan/ sicafiramin/ Nona Niagara/ Guest(3)/ Junia. Angel. 58/ Gssldhti/ Luhan yeoja yepopo/ Female Luhan/ michyeosseo/ hunhanminute/ Guest(4)/ himekaruLI/ Guest(5)/ hunlovehan/ myhunhanbaby/ nisaramaidah28/ tchandra07. Tc/ wind. deerhan / Guest(6)/ Nona liani/ Hilo/ Guest(7)/ Almun/ Guest(8)/ Guest(9)/ Guest(10)/ fitry. sukma. 39/ Mrs ten –ten/ Guest(11)/ Suuper/ kaihunhan/ Lolipop/ Guest(12)/ HJ/ saY. You/ Nona Shion/ Ny oh/ Lulu Baby 1412/ Kitty gold/ Florest/ Caramell/ Bandana/ Star/ BabyHimmie]

Review lagi mau ga? /pasang muka unyu/g

.

Salam kasih dan cinta ayurigi