Hi, Arisa is here. Terima kasih untuk siapa pun yang meninggalkan review dan memberi dukungan kepada saya untuk melanjutkan chapter ini. Sebagai tanda rasa terima kasih, inilah chapter dua.
Azure'czar : saya akan mengupload beberapa fanfic riere yang saya buat jika sudah selesai satu chapter, doakan saya...
Adelia-chan: saya masih bingung apa yang akan saya lakukan pada Mikasa. Apakah nantinya ia akan suka pada Eren atau mendukung Eren dan ayahnya, hm... tolong sarannya...
Siapa: semoga saya dapat membuat karakter Mikasa yang lucu yang sesuai harapan anda...
Hiddlestoner: untuk ibunya Mikasa, bisa dilihat di chapter ini Rivaille jadi uke? Hm... kita liat nanti...
Warning : 1) typo. Berdasarkan pengalaman saya sering melakukan typo pada fanfic yang saya buat. 2) Boy x boy 3) saya merasa tokoh Rivaille di sini sedikit OOC, jadi maafkan saya...
Disclaimer : I own nothing.
Chapter two : Lehrer
"Rivaille-kuun!" suara teriakan seorang siswi dari pinggir lapangan membuat seluruh siswa yang berada di lapangan menoleh ke sumber suara, termasuk Eren. Dari lapangan, ia melihat seorang perempuan berambut pirang dan bertubuh pendek sedang melambaikan tangannya. Tak lama, ia melihat Rivaille menghampiri perempuan tersebut.
"Hei, Connie..." Eren berbisik pada teman sekelasnya yang berdiri di sampingnya. "kau tahu siapa perempuan itu?"
"Maksudmu siswi yang memanggil Rivaille-senpai? kau tak tahu siapa perempuan itu? ia Petra! Apa kau tak kenal siapa dia?" tanya Connie tak percaya dan dijawab Eren dengan gelengan kepala. "ia teman masa kecil Rivaille-senpai! mereka serasi ya?! Rivaille-senpai yang tegas dan Petra yang lembut, banyak yang mengira mereka sepasang kekasih loh."
Tanpa sadar, Eren menggerutu sambil mengepalkan tangannya. "Kekasih Rivaille-senpai itu aku!"
"He? kau bicara sesuatu?"
"Ah, tidak, tidak apa-apa..."
X
Eren masih berdiri mematung di hadapan Rivaille yang masih menggendong Mikasa. Dada Eren semakin sakit melihat mereka berdua, rasanya ia ingin pergi saja dan menangis sepuasnya. Tapi badan Eren kaku tak bisa bergerak. Berbicara pun sulit. Mata Eren terus melihat Rivaille, berharap Rivaille akan melihatnya juga. Senpai, tolong bilang ini bohong.
"Huwa! Mikasa!kau semakin cantik saja!" suara Hanji yang keras dapat Eren dengar dari telinga kanannya.
"Hanji-san, selamat malam." sapa Mikasa ramah.
"Wah, kau sopan sekali! Beruntung kau mewarisi sikap Petra, bukan Rivaille!"
Petra?
"He? apa maksudmu?!" protes Rivaille yang kemudian melirik Eren untuk melihat reaksi adik kelasnya.
"Petra?" Eren merasa nada bicaranya bergetar saat ia berusaha berbicara.
"Ah, kau tidak tahu? Mikasa adalah anak dari Rivaille dan Petra!" dada Eren semakin sakit mendengarnya. Kali ini bukan hanya dada, kepala Eren juga berdenyut hebat.
Mereka serasi ya!, suara Connie saat mereka masih SMA terdengar di dalam kepala Eren. "Begitukah? haha, rasanya malu karena hanya aku yang tidak tahu." Eren menundukkan kepalanya sambil mengelus punggung lehernya, menutupi kesedihannya.
"He? benarkah? aku pikir kau lah yang pertama kali tahu karena kau yang paling dekat dengan Rivaille." kalimat Hanji membuat Rivaille membuang mukanya, menghindari kontak dengan mata Eren, dan Eren semakin menundukkan kepalanya.
"Ng... aku pulang dulu ya. Aku kembali kemari hanya untuk mengantarkan Mikasa. Dah.." masih berusaha menundukkan wajahnya, Eren berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.
"Hei, Eren, kau tak mau makan dulu?" masih belum membaca suasana canggung di sekitarnya, Hanji bertanya dengan semangat.
"Tidak, senpai, aku masih kenyang. Dah, semoga kita bisa bertemu lagi..."
"Dadah paman." Eren mendengar suara Mikasa dari belakang. Meski tidak bisa melihat wajah Mikasa, tapi suara Mikasa membuat Eren sedikit tersenyum.
"Dah..." kali ini Eren mendengar suara Hanji.
"Hati-hati di jalan." sekarang Eren mendengar suara Rivaille. Eren tersenyum sedih mendengarnya lalu keluar dari restoran. Dan dengan langkah cepat ia meninggalkan restoran.
"Ng..." air mata yang sudah Eren tahan daritadi mulai menetes saat Eren keluar dari restauran. Orang-orang di sekitarnya memandang Eren dengan tatapan bingung. Eren tidak bisa melihat reaksi orang-orang di sekitarnya karena kepalanya terus tertunduk, membuat ia tak bisa melihat ke depan. Air mata semakin banyak yang keluar dari mata Eren. Saat sadar ia sudah memasuki taman, ia mencari bangku taman yang kosong dan duduk.
Kau tak boleh menangis, Eren. Kau tak boleh menangis, Eren. Kau tak boleh menangis, bagaikan mantra, Eren mengucapkan kalimat itu berkali-kali. Meski sepertinya mantra tersebut tidak berhasil karena air mata masih mengalir di wajahnya.
Kenangan semasa SMA bersama Rivaille perlahan muncul. Saat pertama kali Eren menyatakan suka, saat mereka pertama kali bergandengan tangan, saat mereka berciuman di bawah meja, atau saat mereka bersatu untuk pertama kalinya di kamar tidur Rivaille. Eren rindu dengan semua itu. ia ingin Rivaille kembali menggandeng tangannya, menciumi dahinya, atau hanya menyandarkan kepala di pundaknya. Namun saat melihat Mikasa, ia sadar itu tidak akan pernah terjadi lagi. Kenangan tidak akan terulang kembali.
"Hei, kawan." saat sudah mulai tenang, Eren merasa ada yang menghampirinya. Eren yang saat itu masih menundukkan kepala melihat seseorang dengan menggunakan sepatu olahraga berdiri di hadapannya. Saat Eren mendongak, ia melihat seorang pemuda bertubuh tinggi berambut cokelat muda sedang tersenyum kepadanya. "Sendirian kah?"
Eren menganguk. "Kenapa?"
"Mau bermalam denganku? sepertinya hanya kita berdua di taman ini yang belum menikmati malam." Kata pemuda itu sambil melihat sekitar, membuat Eren juga melihat sekitarnya. Eren sedikit kaget saat melihat banyak pasangan laki-laki yang sedang bersenang-senang di taman ini. Kebanyakan dari mereka melakukannya di balik semak-semak. Eren berfikir sejenak. Ia tidak pernah melakukan hubungan dengan laki-laki lain setelah Rivaille meninggalkannya. Karena Eren masih berharap ada kesempatan.
Tapi hari ini ia sadar kesempatan yang ia tunggu-tunggu sudah tidak ada. "Ayo, tapi aku tak mau melakukannya di sini."
"Hm.. kau punya uang untuk menyewakan kamar?"
"Ada, asal kau janji kau akan membuatku lupa dengan semua masalah hari ini dan kau harus janji kau bisa membuatku menikmatinya." Pemuda itu tersenyum mendengarnya.
"Baiklah." jawab pemuda itu lalu menarik badan Eren dan memegang pinggang Eren. "Deal." Bisik pemuda itu di telinga kanan Eren.
X
Eren bodoh, adalah kalimat yang pertama kali Eren katakan saat ia terbangun dengan tanpa pakaian sehelai pun di ruangan yang tak ia kenal. Setelah ia mengingat kejadian semalam, Eren tak henti-henti mengutuk dirinya sendiri. "Kau sudah janji kau tidak akan berhubungan dengan siapapun lagi, kau sudah janji kau sudah tidak akan tergoda lagi." Eren memarahi diirinya sendiri sambil mengancingkan kemeja yang akan ia pakai untuk bekerja. Tak lama, telfon genggam Eren berbunyi, dan Eren melihat Irvin, nama kepala sekolah tempat ia mengajar dari layar telfon. "Bagus, karena kebodohanmu kau terlambat dan atasanmu mulai menelfonmu, Eren." Eren masih belum selesai memarahi dirinya. "Halo."
"Jeager." Eren dapat mendengar suara berat Irvin dari seberang telfon.
"Pagi pak, maaf saya telat. Saya tahu saya salah, sekarang saya..." Eren meminta maaf sebelum Irvin mulai berkomentar.
"Huh? Aku menelfonmu bukan karena itu. sekarang masih jam tujuh, masih ada satu jam sebelum masuk, kau belum terlambat." Kalimat Irvin membuat Eren segera melihat jam tangannya dan benar, sekarang masih jam tujuh. Eren belum terlambat.
"Maaf, saya tak memperhatikan jam dengan benar." kata Eren dengan wajah yang memerah kaarena malu. "Kalau saya tidak telat, ada apa Bapak menelfon saya?" tanya Eren yang akhirnya sadar kepala sekolahnya mrnelfonnya bukan karena ia telat.
"Saya tahu ini belum terlambat, tapi bisakah kau ke sekolah sekarang? saya butuh bantuanmu."
"Sekarang? bisa pak. Mungkin sekitar setengah jam saya sudah sampai di sekolah."
"Benarkah? baiklah, lebih cepat kau datang lebih baik, Jeager."
"Baik pak!" setelah mendengar Irvin menuntup telfonnya, Eren menghela nafas lega. Pikirannya sedang kacau sekarang. Pertemuan dengan Rivaille, pertemuannya dengan Mikasa, kejadian semalam, membuat Eren merasa ia sedang tidak beruntung sekarang. Tak heran ia sedang berkonsentrasi saat Irvin menelfonnya. "Yosh, lebih baik aku segera kesana sebelum Irvin menasehartiku panjang lebar." Eren kemudian mengambil jas kerjanya yang ada di kursi, kemudian langsung keluar kamar tanpa memerhatikan ada selembar kertas kecil di atas meja kamar.
Setelah lulus dari kuliah, Eren bekerja di sebuah SD yang letaknya tak jauh dari apartemennya. Connie, sahabat ia saat SMA yang menawarkan pekerjaan sebagai guru SD pada Eren. Eren yang menyukai anak-anak, namun tak bisa memilikinya karena ia tak bisa menikahi perempuan dan ia tak bisa mengadopsi anak karena tak bisa mengurus seharian, menerima tawaran Connie menjadi guru SD dimana ia bisa memiliki anak tanpa harus menikah. Awalnya berat bagi Eren untuk mengurusi anak-anak, tapi lama kelamaan ia menikmatinya. Kesibukan membuat ia lupa akan kenangan tentang Rivaille yang ingin ia lupakan setelah ia lulus kuliah.
"Pemberhentian berikutnya..." suara mesin kereta membuat Eren yang sedari tadi bersandar di dekat pintu masuk kereta berdiri sambil menunggu pintu kereta terbuka. Entah kenapa ia merasa langkah kakinya berat untuk melangkah menuju sekolah, perasaannya tidak enak. Namun saat ia ingat wajah Irvin jika marah, ia paksakan kakinya untuk berjalan.
Pukul setemgah delapan Eren sudah berdiri di depan pintu gerbang tempat ia bekerja. Sesuai janji ia tidak telat datang. Dengan segera ia masuk ke dalam sekolah, berjalan menuju ruang guru hingga Crista, salah satu guru di sekolah menyapanya. "Pagi, Eren-sensei. Irvin-sensei mencarimu dan menunggumu di ruang kerjanya." kata Crista sambil tersenyum ramah.
"Begitukah? terima kasih, Crista-chan." Eren membalas sapaan Crista lalu merubah arah ia berjalan, yang tadinya menuju ruang guru kini menuju ruang kepala sekolah. Crista hanya tersenyum kecil saat mendengar teman semasa ia kuliah tetap memanggilnya seperti biasa meskioun kini mereka berdua sudah menjadi guru. Selama perjalanan menuju ruang kepala sekolah, banyak murid yang menyapa Eren dan Eren selalu membalas sapaan mereka. Tak lupa Eren mengingatkan mereka jika ada yang berlarian di koridor.
"Jangan berlarian di koridor!" Eren mengingatkan sekelompok anak laki-laki yang berlari melewatinya.
"Tapi, tadi kami bertemu dengan murid baru yang cantik, sensei! kami tak sabar ingin memberi tahu yang lain!" sahut anak laki-laki yang mempunyai perban kecil di hidungnya.
"Tetap saja tak boleh! kalian tidak berlari di koridor atau tidak boleh berkenalan dengan murid baru, pilih yang mana?" tanya Eren tegas.
"... tidak berlari di koridor!" jawab mereka kompak membuat Eren tersenyum.
"Bagus!" saat anak-anak berjalan meninggalkannya, Eren kembali melanjutkan perjalanannya. Dan tak lama, ia berdiri di depan pintu ruang kerja Irvin. Eren mengambil nafas panjang sebelum akhirnya ia mengetuk pintu.
"Masuk." saat suara Irvin terdengar dari dalam, Eren membuka pintu.
"Permi..." nafas Eren sejenak berhenti saat di dalam ruangan ia melihat seorang anak perempuan yang tangan kanannya digandeng oleh ayahnya yang sedang melihat Eren membuka pintu. Ayah dari anak perempuan itu pensaran dengan apa yang dilihat anaknya. Dan saat ia melihat Eren, nafas ayah dari anak itu juga terhenti untuk sesaat.
"Oh, Eren, syukurlah kau sudah datang. " masih berdiri terpaku melihat orang yang ada di hadapannya, Eren dapat mendengar suara Irvin menghampirinya. "Sepupuku baru pindah dari luar negeri dan anaknya akan bersekolah disini. Bisa kau bantu dia?" Eren sadar Irvin sudah berdiri di sampingnya, tapi mata Eren masih terpaku melihat orang yang berdiri di hadapannya. "Mikasa, kemari, ini Eren yang akan jadi gurumu."
Anak perempuan itu melepaskan gandengan ayahnya dan berjalan dengan riang menuju Eren. "Halo paman, kita bertemu lagi." sapa anak perempuan itu ramah sambil tersenyum pada Eren. Eren tak membalas sapaan Mikasa karena ia merasa ia tak bisa bersuara, dadanya sesak.
"Hai, Eren, kita bertemu lagi." Di hadapannya Rivaille menyapanya sambil tersenyum.
Aku ingin menghilang, doanya dalam hati.
Hei, kita bertemu lagi. Dan inilah chapter dua! Saya harap chapter kali ini tidak mengecewakan anda. Saya menulis ini setelah saya selesai menjalani ospek dan uts pertama saya di kuliah. Maaf jika chapter selanjutnya update nya lama, karena masih ada satu fanfic lain yang harus saya kerjakan dan saya tak tahu tugas kuliah masih bisa membuat saya menulis fanfic atau tidak.
Meski chapter ini tidadk sesuai dengan harapan anda, tapi R&R please.
