Disclaimer : EXO punya agensi mereka, diri mereka, dan orang tua mereka masing masing.

Pair : KrisLu.

Genre : Romance, Fantasy.

Rating : M karena tema dan bahasa, tidak sampai beradegan NC.

Warning : Yaoi, crack-pair, membahas makhluk mitologi.

+Nimfa+

Luhan berdiri di bawah kucuran air, ternyata dia masih Luhan yang sama dengan dirinya dua tahun yang lalu. Saat itu Kris yang menemukannya dan membuatnya jadi seperti ini, tapi dia tidak bisa membenci sang mucikari, mungkin inilah yang disebut cinta?

Pikirannya melayang pada nimfa saat tetesan air itu diharapkannya dapat menghapuskan dosa dosanya, setidaknya rasa berdosanya. Nimfa itu Kris, menurutnya, walaupun mitologi bilang kalau nimfa adalah wanita cantik, tapi Kris adalah nimfa untuknya. Nimfa itu memikat dengan keindahannya, dan bagi siapa yang tertarik dia tidak akan bisa kembali lagi, nimfa akan menculiknya. Lihatlah Luhan saat ini, dia di sini, setelah Kris menculiknya dari kehidupannya yang dulu, yang terlantung lantung di negeri orang, dan saat ini Luhan tidak bisa menemukan jalan untuk kembali pada kehidupannya yang dulu dan meninggalkan Kris, mungkin ini juga yang disebut cinta?

+Nimfa+

Apa sebenarnya nimfa itu? Kris tidak terlalu percaya bahwa makhluk seperti itu ada di dunia ini, tapi apa lagi yang dapat membuat Kai menghilang seperti ini. Dia telah mengerahkan anak buahnya yang lebih hebat dari kepolisian untuk melacaknya dan mereka tetap tidak menemukan petunjuk apapun, dan pada akhir minggu kedua dia menyerah.

Dan mungkin imbas dari rasa putus asa itu adalah terganggunya kewarasannya, dan dia mulai mempercayai bahwa sebenarnya nimfa itu ada di dunia, Kris merasa dia mulai gila.

Suara langkah kecil terdengar di telinganya, tapi matanya masih tetap fokus pada monitor.

"Duizhang, kau sedang apa?" Itu Luhan, suaranya menyapa pendengaran Kris yang sedari tidak difungsikan karena dia terlalu fokus pada pengelihatannya, suara itu terdengar sangat merdu, mungkin ini bisa disebut cinta?"

Tangan Luhan bertumpu pada bahunya. "Mencari tahu soal nimfa?" Dia melirik Luhan yang memandangnya. "Siapa tahu aku bisa menemukan cara untuk menemukan Kai."

"Kenapa Kai terus?" Tanya Luhan. Jawaban sebenarnya adalah karena Kai adalah tambang emas-nya, penghasil uang untuknya, tapi Kris tidak setega itu untuk mengatakannya di depan Luhan, itu sama saja dengan mengatakan kalau dia hanya butuh tubuh mereka untuk dijual.

"Karena aku membutuhkannya." Hanya itu jawabannya, kalimat yang ambigu tapi sangat cocok untuk menjawab pertanyaan Luhan. "Dan bukankah kau merindukannya?" Dia menarik Luhan untuk duduk di pangkuannya, Luhan hanya tersenyum kecil, itu terlalu manis untuk Kris walaupun apa yang Luhan lakukan adalah hal biasa, mungkin ini juga disebut cinta?

"Xiao Lu." Panggilnya.

"Ya." Ya Tuhan, ini mengingatkannya pada kejadian dulu, dua tahun yang lalu, waktu itu dia yang menarik Luhan dari nasib yang lebih buruk dari keadaannya sekarang, saat dulu dia sedang membutuhkan orang untuk dijadikan apa yang mungkin disebut orang kupu kupu.

"Nimfa itu apa sebenarnya?"

"Kalau dari yang aku baca nimfa adalah makhluk legendaris yang berwujud mereka bisa dikatakan peri, atau bidadari yang tinggal di alam bebas. Nimfa adalah roh alam yang merupakan perwujudan dari alam itu sendiri. Katanya adalah gadis cantik yang senang bernyanyi dan menari, tapi aku berharap nimfa bukan hanya berwujud seorang gadis." Luhan menatap mata Kris dalam. Dan kalau nimfa bukan seorang gadis, Kris pastilah seorang nimfa, Luhan selalu merasa begitu sejak pertama bertemu dengan Kris, mungkin itulah yang namanya cinta?

"Dasar gay." Kata Kris, Luhan sendiri hanya tertawa.

"Memangnya kau itu apa?"

Luhan memandang lekat lekat wajah Kris. "Bagiku kau adalah nimfa." Katanya, dia memeluk Kris erat setelahnya.

"Kenapa?" Tanya Kris, yang juga melingkarkan lengannya di tubuh Luhan.

"Nimfa itu indah, mereka memikat dan akan menculik siapapun yang terpikat pada mereka." Kata Luhan.

"Seperti dirimu, rasanya aku selalu ingin mengikutimu sejak kita pertama bertemu."

"Itu hanya karena aku yang menyelamatkanmu, itu sudah dua tahun yang lalu, Xiao Lu."

Luhan hanya tersenyum, pertemuan pertamanya dengan Kris adalah sebuah aksi pemerkosaan, dimana dia yang menjadi korban dan Kris yang menyelamatkannya.

"Terima kasih sudah mengizinkanku mengikutimu dua tahun ini." Kata Luhan, tubuhnya bergetar mengingat apa yang dia lakukan selama dua tahun ini, menjual apa yang seharusnya tidak dijual.

"Aku mencintaimu, kalau bukan karena uang aku tidak akan ada di sini dalam keadaan seperti ini, aku ingin pertemuan yang manis denganmu, ingin keadaan yang lebih terhormat untuk mencintaimu, aku… aku…" Luhan mulai menangis, dia masih tetap Luhan yang dulu.

Kris meletakan telunjuknya di depan bibir Luhan, menyuruhnya berhenti bicara. "Kau ingin berhenti?" Tanyanya.

Luhan jadi menangis di bahu Kris, kalau saja uang bukanlah hal sepenting itu di dunia, mungkin dia sudah lama bersama Kris dan menyerahkan dirinya seutuhnya hanya pada Kris. Uang itu iblis yang dengan mudah memutar dunia, membuat dia harus menyerahkan dirinya hanya untuk hidup.

"Tapi nanti aku tidak bisa bertemu kau lagi."

"Luhan, Luhan." Suara Kris saat ini justru terdengar menyayat hati saat memanggil namanya, tangannya di pipi Luhan terasa panas membakar, perlahan menghapus airmata Luhan, panasnya seperti dapat membakar semua dosanya.

"Apa kau tidak pernah merasakan perasaanku? Atau memang perasaanku tidak sampai padamu?" Tanyanya, dia mengelus pipi Luhan, kulitnya terasa dingin di tangannya.

Luhan terdiam. "Apa kau tidak merasa apa yang aku lakukan di awal adalah bentuk cintaku padamu?" Awal yang mana? Awal saat Kris menyelamatkannya, atau awal saat dia menjadi orang yang paling pertama di dunia ini yang menyentuh Luhan?

"Aku mencintaimu, itulah alasan kenapa aku tidak menjual kali pertamamu." Kris perlahan mencium Luhan, dengan lembut menyapukan bibirnya di atas bibir Luhan, airmata Luhan mengalir melalui wajah Kris sebelum jatuh ke bawah.

"Seperti apapun dirimu aku akan selalu mecintaimu." Katanya lagi, menyudahi ciumannya dengan Luhan.

"Aku ingin berhenti, Kris. Aku tidak ingin dilarang untuk yang satu ini, kau harus jadi aku untuk tahu rasanya." Luhan masihlah Luhan dua tahun yang lalu, tidakkah dia manis? Tidakkah dia masih polos? Bagaimana tubuhnya bergetar saat ini mengingatkan Kris saat dulu tubuh Luhan juga bergetar dalam pelukannya seperti ini.

"Aku tidak pernah melakukannya dengan orang lain seperti aku melakukannya denganmu, aku selalu berharap akan melakukannya lagi denganmu." Kris mengelus punggungnya.

"Kau tidak melakukannya dengan Sehun atau Kai?"

Luhan menggeleng. "Walaupun kau bilang aku pasti pernah melakukannya dengan mereka, tapi apa yang aku katakan pada Sehun kemarin hanya main main."

Kris mencium Luhan lagi, memberi kecupan yang dengan cepat menjalar di sekujur tubuh Luhan, seperti menghapus jejak dari semua orang yang pernah menyentuhnya.

"Jangan jadi murahan, kau tidak seperti itu, Lu."

"Maaf."

"Jangan minta maaf." Kris menciumnya lagi, dia terlalu banyak mencium saat ini, tapi tidak masalah selama itu Luhan.

"Bisakah kau hapus dosaku?"

+Nimfa+

"…"

"Maaf, tapi Luhan tidak bisa dipanggil."

Kris menutup sambungan teleponnya, memandang Luhan yang tertidur dengan damai di pelukannya, apa yang dia rasakan saat ini?

Perlahan dia membuka mata, seakan mengatakan bahwa dia mendengar apa yang Kris bicarakan.

"Kata katamu selalu ambigu, aku yakin nanti dia akan bertanya padamu kapan dia bisa memanggilku." Kata Luhan, dia tidak merapatkan pelukannya pada Kris, dia tidak bertingkah haus sentuhan seperti biasanya.

Kris tertawa, dia mengacak rambut Luhan. "Ini semacam etika kerja, mungkin."

"Terima kasih, Kris." Kata Luhan, dia menggerakan tangannya mengelus wajah Kris dengan sentuhan yang jauh lebih lembut dari yang selama ini dia lakukan.

"Karena kau masih mengizinkanku untuk ada di sampingmu." Kris tersenyum.

"Aku seutuhnya milikmu, Luhan. Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu."

+Nimfa+

Bagaimanakah cara untuk menemukan orang yang diculik nimfa? Kris menengadah, menatap langit langit café dimana dia biasa berkumpul dengan Luhan, Sehun, dan Kai. Kris juga merasakan dosanya, menjual orang terutama orang yang dia cintai, tidakkah itu menyakitkan?

Bagaimanakah cara untuk menemukan orang yang diculik nimfa? Sepertinya tidak ada. Kalau dia saja merasa berdosa, bukankah Kai merasa lebih berdosa lagi, mungkin itulah alasan kenapa dia pergi. Dia duduk di sebelah Sehun saat ini.

"Kurasa ini sudah cukup." Kata Sehun, Kris memandangnya penuh tanda Tanya.

Sehun menatapnya langsung di mata, tatapan yang penuh rasa terima kasih. "utangku sudah lunas, kan?"

"Itu bukan hutangmu, Sehun."

"Hutang orang tua berarti hutang anaknya juga, Duizhang." Kris tertegun.

"Aku lebih baik begini daripada menjual organ dalam, terima kasih sudah membantuku." Dia tersenyum pahit. Kris mengecek data keuangan organisasi bawah tanahnya, hutang keluarga Oh sudah terlunasi bahkan si bungsu Oh ini justru punya beberapa tumpukan uang dalam organisasinya.

"Kalau hutangmu sudah lunas, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Kris.

"Aku ingin berhenti." Jawab Sehun tegas.

"Bagaimana kau akan menghidupi dirimu?" Tanya Kris.

"Entahlah, mungkin aku akan jadi parasit lagi di rumah, lalu kembali berhutang padamu."

Kris terdiam, pada dasarnya manusia menginginkkan kehidupan yang baik untuk dirinya, begitu pula Luhan, juga Kai dan saat ini Sehun.

"Jangan ragu untuk menghubungiku kalau kau butuh sesuatu, Sehun."

"Terima kasih, Kris."

Dari orang orang di sekitarnya yang menginginkan kebaikan, diapun jadi ingin berhenti saja jadi mucikari, tapi selain mereka ada banyak kupu kupu yang bergantung padanya, dia merasa tidak enak juga pada mereka.

Bagaimana cara untuk menemukan orang yang diculik nimfa? Kris sudah tidak mau memikirkannya lagi, saat ini dia hanya bisa berdoa semoga Kai, dimanapun dia berada dan bersama siapapun dia, juga akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

+FIN+