Sebelumnya dalam THE KING:
Bendera hitam dengan lambang kepala seorang raja lengkap dengan mahkotanya berwarna emas. Dibelakang lambang tersebut ada dua buah tulang yang membentuk huruf x sebagai ciri umum seorang bajak laut. Naruto menatap hormat bendera bajak lautnya, bendera dengan lambang hasil karyanya sendiri, Raja.
Naruto menamai nama bajak lautnya dengan KING no Kaizoku (Bajak Laut KING).
Setelah itu ia lalu menatap kedepan, menatap luasnya lautan, menatap sesuatu yang akan menjadi saksi bisu sejarah perjalanannya. "Dunia. . . Naruto telah merangkak ke permukaan. . . untuk menjadi Raja dari segala Raja!"
THE KING
Arc I: Penyelamatan Desa Mustard
Chapter 2: Sampai di Pulau
"~Huhuum. . . huum. . .~" Naruto bersenandung ria sambil mengemudikan kapal kecilnya. Sesekali ia melihat lautan dengan teleskop miliknya, siapa tahu ada pulau terdekat yang dapat Naruto singgahi.
"Hemm. . . masih belum terlihat satu pulau pun," gumam Naruto melihat lautan yang berada didepannya menggunakan teleskop. "Lebih baik aku makan dulu." Lanjutnya lagi.
Naruto sudah satu hari berlayar dilautan dan belum menemukan satu pun pulau yang dapat ia singgahi, Naruto memutuskan masuk kedalam kapal dan membiarkan kemudi, hari ini langitnya cerah dan angin berhembus cukup kencang. Jadi tidak ada yang harus dikhawatirkan.
Krieett!
Naruto membuka pintu lalu menutupnya kembali. Hal yang ia lihat adalah sebuah ruangan berukuran tidak terlalu luas, terdapat sebuah meja berbentuk persegi panjang dengan dua kursi panjang sebagai pelengkapnya, meja itu terletak di sebelah kiri Naruto. Disebelah kanannya terdapat sebuah perabotan memasak, singkatnya ruangan ini adalah dapur, dengan aksesoris dua jendela dibagian depan samping kanan dan kiri pintu serta dua buah lentera sebagai penerangannya.
"Hmm. . . sebelum makan lebih baik aku periksa persediaanku dulu," gumam Naruto lalu berjalan kedepan menuju sebuah pintu.
Krieett!
Kini, Naruto memasuki ruangan yang lain. Didepannya terdapat sebuah tangga yang menurun, tangga tersebut tidak panjang, hanya ada beberapa anak tangga saja. Diruangan itu terdapat lima buah tempat tidur lengkap dengan kasur dan bantalnya. Terdapat dua buah lemari yang berukuran sedang untuk menyimpan pakaian. Dan sebuah meja kecil serta satu kursi untuk tempat duduk, diruangan itu juga terdapat rak buku namun tidak ada satu pun buku yang terpajang dirak tersebut. Sebagai sentuhan terakhir, terdapat dua buah jendela berbentuk bulat yang masing-masing berada di samping kanan dan kiri ruangan tersebut. Dan jangan lupa, lentera adalah hal yang paling utama dalam sebuah ruangan.
Naruto kembali berjalan menuju pintu yang terletak diseberang,
Krieett!
Dan Naruto telah sampai diruangan yang ia tuju. Sebuah gudang tempat menyimpan barang dengan ukuran sebesar luas kapalnya. Gudang ini terletak dibawah kapal, oleh karena itu ukuran gudang ini luasnya sama seperti luas kapal. Jika dapur terletak dibagian atas kapal atau lebih tepatnya permukaan kapal, maka ruangan tidur terletak diantara permukaan kapal dan bawah kapal. Dan terakhir gudan terletak dibawah kapal. Itulah susunan ruangan yang kapal Naruto miliki. Satu hal lagi, kamar mandi terletak diruangan kamar tidur.
"Huh, gelapnya. . ." ucap Naruto karena tidak melihat apa pun. Gudang kapal Naruto tidak memiliki jendela. Naruto lalu menyalakan dua buah lentera yang terpajang di samping kanan dan kiri pintu, kini ia dapat melihat apa saja isi gudang kapalnya.
"Hmm. . . baiklah, aku akan awali dari persediaan makanan," ucap Naruto lalu berjalan ke sisi kanan gudang tempat menyimpan bahan-bahan makanan. Naruto sudah mengelompokkan barang-barang sesuai jenisnya, mulai dari air, bahan makanan, sampai peralatan sudah ia tata rapih.
"Satu box berisi 20 ikan? Check! Satu box berisi 5 kilogram daging ayam? Check! Satu box berisi 3 kilogram daging sapi? Check! Satu box berisi 25 ramen cup? Check! Satu box berisi sayur-mayur? Check! Satu box besar berisi buah-buahan yang terdiri dari apel, jeruk, dan semangka? Check! Dan terakhir, satu box berisi rempah-rempah, ada bawang merah, bawang putih, daun bawang, kunyit, cengkeh, pala, jahe, cabai, gula, garam, lada, dan masih banyak lagi? Check! Yosh, semua sudah komplit," ucap Naruto. Ia berfikir bahan makanan ini akan bertahan setidaknya sekitar satu bulan.
Naruto lalu berjalan ke sisi kiri, disana terdapat 10 tong besar, "Sekarang aku akan memeriksa persediaan air," ucapnya lalu membuka satu per satu tong yang ada didepannya. "Yosh, sembilan tong berisi air penuh dan satu tong hanya berisi setengah air."
"Sekarang peralatan kapal," Naruto lalu berjalan ketengah gudang, "Alat memancing yang terdiri dari 3 buah pancingan, 5 buah tombak, dan satu jaring besar? check! Hmm. . . hanya segitu saja peralatan yang kupunya, sebaiknya aku harus membeli persenjataan setelah berlabuh dipulau."
"Yosh! Tinggal mengecek persediaan uang," Naruto lalu berjalan menuju ujung gudang, disana terdapat dua buah pintu. Naruto membuat dua buah ruangan khusus untuk menyimpan uang dan harta karun yang ia akan peroleh. Naruto lalu membuka salah satu pintu yang merupakan sebuah ruangan kecil untuk menyimpan uang, "Yosh, aku masih memiliki uang sebesar 2.000.000 Berry."
Dirasa persediaan sudah komplit dan banyak, Naruto memutuskan untuk kembali ke dapur dengan membawa box-box yang berisis daging dan ikan. Rencananya Naruto akan memasukan box-box itu kedalam lemari yang dipenuhi es batu, ini berguna untuk memperpanjang daya simpan makanan agar tidak cepat basi maupun buruk.
Kapal yang Naruto miliki tidak memiliki listrik, maka dari itu ia menggunakan lentera dan lilin sebagai penerangan.
Setelah sampai didapur dan memasukan box-box makanan kedalam lemari es, Naruto segera memasak makanan untuk ia makan sendiri karena sudah lapar.
"Huaaahh~ kenyang kenyang kenyang. . ." Naruto menepuk-nepuk perutnya yang sedikit membesar karena kelebihan pemasukan. Naruto cukup mahir dalam urusan masak-memasak, dulu ia sering membantu ibunya memasak pesanan pelanggan. Yah meskipun pasakannya tidak seenak pasakan seorang koki, tapi ini cukup sebagai bekal mengarungi lautan.
Naruto lalu mengambil peta dan sebuah kertas beserta pulpen yang terletak di kamar, setelah itu Naruto lalu duduk kembali dimeja makan. "Hmm. . . jika perhitunganku benar maka sebentar lagi akan ada sebuah pulau yang terlihat," gumam Naruto sambil melihat peta. Ia sedikit menyunggingkan senyuman, "Yosh, saatnya membuat desain untuk pedangku."
Naruto segera membuat desain pedang menggunakan pulpen dikertas yang tadi ia ambil, setelah beberapa menit menggambar akhirnya desain pedang Naruto sudah jadi. Ia lalu menyimpan kertas itu dikantong belakang lalu pergi keluar menuju stir kemudi.
Krieett!
Tap! Tap! Tap!
"Hmm. . . sepertinya tempat kemudi stir harus direnovasi, bisa-bisa nanti navigator-ku akan kepanasan dan lelah karena berdiri terus," gumam Naruto sambil melihat tempat kemudi stir kapalnya. "Sudah diputuskan, aku akan merenovasi kapal ini di pulau selanjutnya." Ucap Naruto lagi.
Selama beberapa tahun terakhir ini Naruto selalu berlatih cara menggunakan kakuatannya sampai maksimal, disamping itu ia juga membuat kapalnya dengan cara menyicil. Setelah tabungannya cukup ia langsung membeli perlengkapan membuat kapal beserta materialnya lalu dikerjakan sendiri.
Naruto dapat menggunakan kekuatannya dengan baik, ia menamai kekuatannya dengan telekinesis. Dengan kekuatannya memungkinkan Naruto mengendalikan apa pun yang ada disekitarnya. Tidak hanya itu, Naruto juga dapat membuat tubuhnya terbang dan tidak terikat dengan hukum gravitasi.
Kekuatan yang hebat, pikirnya.
Naruto lalu melihat lautan didepannya menggunakan teleskop, "Akhirnya aku melihat pulau juga," Naruto melihat pulau tidak jauh didepannya, sekitar lima kilometer dari kapalnya. "Yosh, kecepatan penuh menuju pulau didepan!"
-Sebuah Pulau di Lautan East Blue-
Sekitar 20 menit akhirnya Naruto sampai di pulau pertamanya, ia lalu menggulung layar dan menghentikan kapal tidak jauh dari pantai, Naruto lalu menurunkan jangkar agar kapalnya tidak terseret ombak.
Naruto turun dari kapal dan berjalan menuju pantai, "Hmm. . . pulau ini cukup besar, sebaiknya aku masuk kedalam pulau ini, siapa tahu ada desa." Gumamnya sambil mengedarkan pandangan kesegala penjuru pulau yang dipenuhi hutan lebat, ia lalu kembali berjalan memasuki pulau lebih dalam.
Tak sampai 10 menit berjalan, Naruto melihat sebuah pemukiman. Terdapat sebuah tugu yang terukirkan nama dari pemukiman itu, "Hmm. . . jadi nama pemukiman ini Mustard Village," Naruto menggumam sendiri. Tak mau membuang waktu, ia segera memasuki desa itu, tujuan pertamanya adalah tempat pembuatan pedang.
Tap! Tap! Tap!
Dalam perjalanan, ia melihat-lihat pemandangan desa ini, desa yang Naruto singgahi merupakan pemukiman yang tidak terlalu padat, terdapat beberapa sawah dan perkebunan. Naruto yang tidak tahu tempat pembuatan pedang dimana segera berindisiatif untuk bertanya pada orang lain. "Ano. . . apa anda tahu dimana tempat pembuatan pedang?" tanya Naruto pada seorang pejalan kaki yang ia temui.
Orang yang merasa ditanya pun menoleh, "Oh, kau jalan saja menuju pebukitan yang ada disana, dibukit itu terdapat tempat pembuatan pedang," Jawab pejalan kaki tersebut sambil menunjuk bukit yang berada didepan.
"Aku mengerti, terima kasih."
"Tak masalah." Setelah mengetahui tempat pembuatan pedang, Naruto segera bergegas kesana.
Sekitar 30 menit Naruto berjalan akhirnya ia telah sampai di tempat pembuatan pedang. Sedikit menguras tenaga ketika ia menaiki bukit yang lumayan curam dengan jalanan yang sudah tidak utuh karena tertimbun tanah.
"Jadi disini ya. . ." gumamnya. Naruto lalu segera menemui pemilik dari tempat pembuatan pedang itu. Kebetulan ia melihat seseorang sedang menempa pedang, Naruto segera mendekatinya.
"Permisi, apa anda pemilik tempat pembuatan pedang ini?" tanya Naruto dengan sopan.
Yang ditanya menghentikan kegiatan menempa pedangnya lalu menoleh kearah Naruto, "Ya itu benar. Ada apa kemari? Apa kau ingin aku buatkan pedang?"
"Tepat sekali," ucap Naruto lalu merogoh kantung belakang, ia mengambil secarik kertas lalu memberikannya pada orang tersebut.
"Hmm. . ." gumam orang itu sambil melihat kertas yang diberikan Naruto. "Aku bisa saja membuat pedang yang kau minta. Tapi, jika desainnya seperti ini maka akan memerlukan waktu yang cukup lama." Jelasnya.
"Kira-kira berapa lama waktu tercepat untuk membuat pedang yang kuminta?"
"Hmm, jika tidak ada kendala saat proses pembuatannya maka sekitar 1 bulan lebih,"
Naruto sedikit kaget, "Apa tidak bisa dipercepat paman?"
"Tidak bisa, itu adalah waktu tercepat!"
Naruto sedikit berfikir, oke waktu 1 bulan lebih bukanlah waktu yang singkat. Tapi, jika dipikir-pikir tidak ada ruginya juga menetap di desa ini selama sebulan lebih karena Naruto juga berencana untuk sedikit merenovasi kapal miliknya di pulau ini. "Baiklah aku setuju, kira-kira berapa biaya yang harus kubayar?"
"Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, aku ingin bertanya. Material seperti apa yang ingin kau jadikan pedangmu?"
"Pastinya material terkuat yang paman miliki," jawab Naruto mantab.
"Baiklah, aku memiliki material terkuat yaitu serat karbon hitam," ucap paman tersebut sambil menunjuk material yang diucapkannya.
Naruto mengikuti arah terlunjuk, ia lalu melihat sebuah benda hitam berbentuk seperti batu tidak beraturan. "Itu indah dan terlihat kuat paman, baiklah aku ingin membuat pedang dengan material tersebut."
"Aku bisa saja membuatnya tapi, apa kau mempunyai uang yang cukup?" tanya paman itu sambil memincingkan matanya.
"Memangnya berapa uang yang harus kusiapkan?" tanya balik Naruto.
"Total keseluruhannya adalah 500.000.000 Berry." Ucap paman itu.
Naruto seketika kaget mendengar seberapa besar uang yang perlu ia siapkan, "Oy paman! Apa kau bercanda! uang sebesar itu dapat dari mana! Tolong dikurangin ya? Aku hanya punya uang 2 juta berry," ucap Naruto setengah berteriak karena kekagetannya.
"Tidak bisa, jika kau tidak memiliki uang yang cukup lebih baik pergi saja dari sini! atau kau beli saja pedang yang murah di toko senjata!" paman tersebut balik membentak Naruto.
"Cih," Naruto mendecih kesal, ia lalu merebut kertas miliknya dan pergi menuruni bukit menuju pemukiman.
-Preparation Bar, Desa Mustard-
Sebuah bar yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil ini menjadi tempat Naruto beristirahat untuk sementara. Ditemani oleh segelas jus jeruk dan beberapa potong kue menjadi teman Naruto. Oh tidak, lebih tepatnya menjadi tempat pelampiasan rasa kekesalan Naruto.
"Cih sial, bagaimana aku mendapatkan uang sebanyak itu?" Naruto bertanya pada dirinya sendiri dengan kesal sambil memakan kuenya dengan cepat.
Ia sedang berfikir bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak 500 juta berry dalam waktu singkat. Namun itu serasa mustahil dilakukan. Pertama, Naruto bukan seorang pengusaha atau bangsawan yang kaya raya, kedua ia hanyalah pendatang baru dilautan ini, dan yang terakhir adalah Naruto bukan orang yang pandai dalam hal keuangan.
"Grrr," Naruto frustasi sambil menjambak rambut pirangnya sendiri.
"Ada apa denganmu anak muda? Kau terlihat sedang kesal," tanya seseorang.
Naruto mendongkak dan melihat siapa yang bertanya, ia tahu kalau itu adalah pemilik bar ini.
"Tidak apa-apa paman, aku hanya frustasi karena memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang yang banyak dalam waktu singkat," jawab Naruto jujur.
"Memangnya untuk apa?"
"Untuk membuat pedang yang kuat dan bagus, tapi biayanya sangat mahal dan aku tak dapat memenuhi itu."
"Hmm. . . begitu. Aku mempunyai saran, lebih baik kau menjadi Bounty Hunter (Pemburu Hadiah)," usul sang pemilik bar.
Naruto menaikkan sebelah alisnya pertanda bingung, "Bounty Hunter? Tidak tidak tidak! asal kau tahu paman, aku ini adalah seorang bajak laut."
"Kau seorang bajak laut?" tanya bingung pemilik bar itu, "Lalu dimana teman-teman sesama bajak lautmu?"
Naruto sedikit tersentak, ia lalu membuang pandangan kesegala arah. "Err eto eto. . . aku masih belum punya teman, hehehehe. Tapi suatu saat aku pasti memiliki kru ku sendiri!"
"Yah terserah kau saja anak muda, yang penting aku sudah memberi saran padamu." Ucap acuh pemilik bar itu lalu meninggalkan Naruto sendirian karena ada pelanggan yang datang dan harus dilayani dengan baik.
Naruto kembali berfikir saran yang diberikan pemilik bar. Ini hanya sementara, menjadi bounty hunter hanya sementara. Menurutnya tidak buruk juga, sekarang Naruto sudah putuskan akan menjadi bounty hunter untuk sementara sampai ia dapat mengumpulkan uang sebanyak 500 juta berry. "Yosh paman!" panggil Naruto, "Kurasa aku akan mengikuti saranmu, apa kau punya poster buronan?"
Yang dipanggil Naruto menoleh, "Ada, itu disana." Ucap paman tersebut sambil menunjuk sebuah kotak yang berisi beberapa lembar kertas buronan.
Naruto mengangguk lalu berjalan pergi untuk mengambil semua lembaran kertas buronan yang ada didalam kotak. Naruto telah menghitung berapa banyak lembaran, totalnya ada 20 lembar kertas buronan. Dari nilai bounty terendah yaitu 100.000 Berry sampai 18.000.000 berry. "Jika hanya segini saja masih kurang," gumam Naruto.
Tuk!
Naruto sedikit tersentak saat sebuah tangan besar memegang bahu kanannya. Ia menoleh kebelakang untuk melihat siapa yang memegang bahunya barusan. "Oh paman, kukira siapa."
"Bagaimana anak muda?"
"Yah sepertinya aku akan memburu mereka semua, meskipun jika ditotalkan uang yang akan kudapat masih sangat jauh dari kata cukup untuk biaya membuat pedang," jawab Naruto.
"Ka-kau serius akan memburu mereka semua?" tanya paman itu tergagap, mungkin ia merasa ragu dan khawatir pada Naruto.
"Tentu saja! Memangnya ada apa? Paman terlihat ketakutan."
"Jelas aku merasa seperti itu. Asal kau tahu saja anak muda, lihat ini." ucap paman itu lalu mengambil tiga poster buronan di tangan Naruto. "Tiga orang ini adalah orang-orang yang kuat, selama ini mereka terus mengacau di desa ini. Para Bounty Hunter yang pernah singgah dipulau ini untuk memburu mereka bertiga berahkir dengan mati mengenaskan!" terangnya.
Naruto yang mendengar penjelasan itu tidak terpengaruh sama sekali, malahan ia menyunggingkan seulas senyuman tipis. "Jadi mereka orang-orang yang kuat ya. . ." gumam Naruto sambil melihat tiga poster buronan yang dipegang oleh pemilik bar.
Poster buronan pertama. . .
WANTED
DEAD OR ALIVE
USANKSAI
12.000.000 Berry
Foto Usanksai yang Naruto lihat merupakan seorang pria dengan rambut pirang serta postur tubuh tidak atletis.
Poster buronan kedua. . .
WANTED
DEAD OR ALIVE
TOHENBOK
15.000.000 Berry
Foto Tohenbok yang Naruto lihat merupakan seorang pria bertubuh kekar, memiliki rambut berwarna cokelat rancung serta memakai kaca mata seperti kaca mata renang.
Poster buronan ketiga. . .
WANTED
DEAD OR ALIVE
DONTACOS
18.000.000 Berry
Foto Dontacos yang Naruto lihat merupakan seorang pria berumur cukup tua, memakai topi seperti mafia, memiliki janggut tebal dan brewokan. Poster buronan Dontacos merupakan poster buronan dengan nilai tertinggi. Naruto mengambil kesimpulan bahwa Dontacos adalah ketuanya.
"Oke, paman aku mengerti. Kalau begitu aku pergi dulu untuk memburu mereka semua." Ucap Naruto lalu beranjak pergi dari bar setelah membayar makanannya.
Saat hendak membuka pintu, Naruto dikagetkan oleh suara meriam dari luar,
Duarrrr!
"Apa itu?"
"Ada apa?"
"Apa yang terjadi?"
"Apakah mereka membuat ulah lagi?"
Naruto mendengar suara riuh dari para pengunjung bar yang terlihat ketakutan termasuk pemilik bar ini. Jika memang benar dugaan Naruto maka yang menembakkan meriam tadi adalah komplotan Dontacos, ini menjadi semakin mudah pikir Naruto.
Tanpa membuang waktu Naruto segera pergi keluar dan mencari tahu siapa pelakunya.
"Ini mengerikan," gumam Naruto. Hal yang pertama ia lihat saat keluar dari bar adalah sebuah bekas lintasan meriam. Lintasan itu bahkan sampai membekas dan melubangi tanah. Bangunan disekitar lintasan juga rubuh tak tersisa.
Pandangan Naruto mengikuti arah lintasan sampai ia melihat tidak jauh dari tempatnya ada sebuah gerombolan orang dengan sebuah meriam besar ditengahnya. "Jadi mereka yang melakukan ini,"
Naruto segera mendekati gerombolan itu, "Hei kalian! Apa kalian yang menyebabkan kekacauan ini?" tanya Naruto setengah berteriak.
Gerombolan itu yang semula acuh pada sekitarnya namun saat mendengar suara Naruto mereka semua menoleh. "Hei bocah? Apa maumu datang kemari?" tanya balik orang yang paling depan. Naruto cukup mengenali wajahnya, salah satu targetnya yaitu Usanksai. Tidak hannya Usanksai, Naruto melihat Tohenbok juga berdiri disamping Usanksai, namun ia tak dapat melihat Dontacos berada didalam gerombolan itu.
"Apa maumu katamu? Mauku adalah kalian semua! Usanksai dengan bounty 12 juta berry dan Tohenbok dengan bounty 15 juta berry serta pengikutnya dengan rata-rata bounty seratus ribu berry." Jawab Naruto sambil menunjuk gerombolan orang yang ada dihadapannya.
Mereka semua tersentak kaget dengan ucapan bocah pirang yang ada didepan, "Hoo. . . jadi kau adalah seorang Bounty Hunter ya? Ngahahaha asal kau tahu saja bocah, semua Bounty Hunter yang berniat memburu kita pada akhirnya mati mengenaskan. Apa kau mau seperti mereka?" kini giliran Tohenbok yang berbicara.
"Mati? Bounty Hunter? Jangan naïf kau Tohenbok! Aku bukanlah seorang Bounty Hunter seperti apa yang kau katakan. Aku adalah seorang bajak laut yang sedang mengincar hadiah. Dan mati? Maaf saja, aku tak berniat mati sebelum menggapai impianku." Ucap Naruto mantab.
"Kehehehehe, berbicaralah sepuasmu bocah pirang. Semuanya! Serang bocah itu!" Usanksai memerintah anak buahnya, begitu juga dengan Tohenbok.
Semua menyiapkan senapan ditangan siap untuk menembak mati Naruto termasuk meriam yang sudah diarahkan pada Naruto. Warga yang ketakutan hanya melihat peristiwa tersebut dari balik jendela rumah masing-masing sambil sesekali berdoa agar nyawa yang berani menantang komplotan Dontacos itu tidak mati.
Dua detik berikutnya, terdengar suara tembakan, satu. . . dua. . . tiga. . . empat. . . sampai tak terhingga. Dan pada akhirnya, bommm. . . meriam telah ditembakkan.
Naruto menutup kedua matanya, tidak lama kemudian ia kembali membuka mata. Sorot matanya kini berbeda, serta wajah yang menunjukan keseriusan.
[Telekinesis:]
Tubuh Naruto seketika diselimuti oleh aura berwarna kuning, ia lalu merentangkan tangan kanannya kedepan.
[Gravitation Nol]
Sring!
To Be Continued
AN: pertama-tama, mohon maaf atas kelamaan update-nya. Ada beberapa hal yang menjadi keterlambatan update. Pertama karena tugas sekolah yang menumpuk serta mulai mencari tempat untuk PKL (Praktek Kerja Lapangan), dan kedua sibuk main game online COC hehehehee, maklum baru naik th. Yah meskipun th kecil-kecilan.
Material serat karbon hitam, saya dapat inspirasi saat menonton film G.I. Joe: Retaliation.
Character seperti Usanksai, Tohenbok, dan Dontacos bukan OC (Over Character), mereka semua asli saya ambil dari anime One Piece. Meskipun aslinya mereka hanya diperlihatkan sebatas poster buronan saja. Poster buronan mereka muncul saat anime episode 20, tepatnya saat Johnny melemparkan kertas buronannya karena kesal.
Satu lagi, ada yang bisa kasih saran tentang nama kapal Naruto? Saya masih bingung menentukan nama yang bagus untuk kapal Naruto.
Belum bisa balas semua reviews. Tapi ada beberapa review yang sudah saya balas lewat PM.
Sampai bertemu kembali.
Zidane Lockhart
