CHAPTER SEBELUMNYA
Aku berjalan untuk pulang ke rumah. Aku mau rileks se-rileks rileksnya. Lama-lama aku jadi makin bener-bener benci dengan dunia yang membedakan antara normal dan tak normal ini.
Saat sedang berjalan, tiba-tiba…
BRUUKK
Aku tertabrak oleh seorang laki-laki.
"Heh, jalan yang bener dong! Punya mata nggak sih?" bentakku. Laki-laki itu hanya tertunduk lalu tetap berjalan dengan lunglai.
"HEI! Bilang maaf dulu padaku!" bentakku lagi. Dia tidak mendengarkanku. Tiba-tiba dia memegang tembok dengan tangan kanannya. Lalu dia pegang kepalanya dengan tangan kirinya. Kemudian…
GUBRAK
Tubuhnya jatuh ke tanah.
LOVE IS ABNORMAL
AUTHOR : Miko Yuuki
CAST: SasuSaku, Ino, Sai, dll
RATE : T semi M (sedikit unsur yaoi)
GENRE : Romance, friendship
DISCLAIMER : MASASHI KISHIMOTO.
WARNING: Alur muter2, TYPO, OOC, AU, gak sesuai EYD!?
Eh, lho? Dia pingsan? Emang aku apain dia sampai dia pingsan kayak gitu? Masa cuman gara-gara aku tabrak aja dia langsung pingsan?
"Heh kau, bangun! Jangan pingsan di sini," kataku sambil menendang tubuhnya pelan. Tetap tidak bereaksi. Aih, aku tidak ingin bertanggung jawab nih. Aku harus cari bantuan.
"HEI, SESEORANG! TOLONG!" teriakku. Aku terus berteriak mencari pertolongan, tapi tidak ada orang di sini -_-
Aku bawa ke rumah sakit? Bokek nih. Ada identitasnya nggak ya? Aku periksa saku celananya. Kagak ada? Uang juga nggak ada lagi. Apa aku tinggalin aja? Masa aku harus gotong cowok ini ke rumah aku? Aku agak alergi megang cowok nih. Tinggalin aja deh.
Aku lanjutkan langkah kakiku. Tapi semakin menjauh, perasaanku malah makin tidak enak. Aku lihat kembali cowok itu. Aish, masa aku harus bawa ke rumah aku sih? Bawa nggak ya? Kayaknya sih mending aku bawa dulu. Tapi aku kurang suka cowok. Sakura! Pilih mana? Bawa dia atau merasa berdosa sampai kau gila karena memikirkannya. Eeeerrrr….
Arrggghh shit…!
Sepertinya jawabanku jatuh ke pilihan yang pertama -,-
Aku dekati laki-laki itu. Aku telan ludahku gugup. Sampai rumah nanti, aku akan mandi kembang tujuh rupa, pake luluran 1 botol, plus kasih cairan anti kuman di air mandiku.
Aku angkat tubuh bagian atasnya. Lalu aku letakan lengan kirinya di bahuku. Gila, beraaat…! Tinggi pula. Cih!
"Hei kamu cowok sialan,setelah apa yang telah aku lakukan ini, kau akan berhutang budi seumur hidup denganku," gumamku. Dengan susah payah aku memanggil taksi sambil menggopoh laki-laki ini.
Dan saat di taksi, si pak supir terus mencuri pandang ke arahku sambil cekikikan sendiri. Pasti ini gara-gara cowok ini ada di pangkuanku.
Mungkin dia heran, kenapa bisa ada orang "mabuk berat" siang-siang begini. Aku juga bingung, kenapa cowok ini tiba-tiba pingsan? Apa dia punya penyakit jantung dan terlalu kaget karena aku tabrak? Tapi dia megang kepala, bukan dada.
Masa dia migrant terus pingsan? Atau jangan-jangan vertigo? Atau stroke? Ah, bodo. Ntar aja aku tanya.
Sampai di rumah, aku kembali harus bersusah payah menggopohnya. Dan lebih sialan lagi, aku harus angkat dia ke lantai dua. Di lantai satu kan Bonheurbakery, toko kue ku. Merepotkan saja.
Aku tidurkan dia di sofaku. Kemudian aku tutupi sebagian tubuhnya dengan selimut. Udah ah, aku mau mandi dulu. Seperti janjiku, aku mau mensucikan diri dari aura nista dia. Aku ambil sabun untuk berendam, lulur dan cairan antiseptikku. Secepat kilat aku berlari masuk kamar mandi.
Empat puluh lima menit aku habiskan untuk membersihkan diri. Aku keluar kamar mandi dengan menggunakan celana bermuda hitam dan kaos kuning. Handukku aku letakan di atas kepala. Aku menoleh ke sofa tempat aku meletakan cowok itu. Eh, mana cowok itu?
Aku lihat ke sekitar. Itu dia! Dia sudah sadar toh. Aku lihat wajahnya tanpa ekspresi melihat foto-foto yang aku pajang. Tanganya dia angkat hendak menyentuh salah satu foto. Aku cepat-cepat berlari mendekatinya.
"Jangan sentuh foto ini," bentakku sambil menutup foto itu. Foto Ino. Laki-laki itu sontak kaget dan menarik tangannya. Dia mundur beberapa langkah karena takut dan bingung. 'Kenapa aku bisa ada di sini?' Pasti itu yang dia pikirkan.
"Hei, kau siapa? Kenapa kau bisa pingsan tadi?" tanyaku. Dia bingung. Diam. Namun tiba-tiba dia memegang kepalanya dan sedikit meringis kesakitan.
"Hei, ada apa?" tanyaku melembut. Dia malah melihatku ketakutan. Langkahnya terus saja mundur hingga sampai ke pojok. Wajahnya gelisah. Dia langsung meringkuk memeluk lututnya dengan tangan dan berusaha menahan sakit di kepala. Astaga, apa yang terjadi padanya? Siapa orang ini?
"Ayo sini, duduk dulu di sofa. Jangan duduk di situ," kataku sambil mengulurkan tanganku. Dia malah makin ketakutan. Oh ya! Meski aku agak alergi dengan cowok, tapi kalau saat melihat orang gelisah seperti ini, kadang aku tidak tega juga. Tapi tetap! AKU HARUS CUCI TANGAN LAGI!
"Ayolah, aku tidak akan menyakitimu. Ngomong-ngomong namamu siapa?" tanyaku. Aku yang tadinya berdiri, mengambil posisi jongkok di depannya. Dengan ragu-ragu dia menggelengkan kepala.
"Eh, maksudnya?" kataku bingung. Cowok itu tertunduk karena ragu. Bibirnya tampak ingin bergerak namun ragu.
"Eto…" itu sepatah kata yang baru cowok itu keluarkan. Aku sempat kaget saat mendengar suaranya. Suaranya…..merdu. Sepertinya aku ingin sekali mendengar suaranya yang indah itu. Eh, apa yang aku pikirkan tadi?
"Ada apa?"
"Aku tak tahu…" ucapnya lirih. HAH?
"Maksudmu?" kataku bingung.
"Aku tidak ingat…" ucapnya. DUUAARR!
"NANI?!" pekikku syok. "KAU TIDAK INGAT APA PUN?!" teriakku. Dia hanya menggeleng pelan. Aih, bagaimana ini? Kalau begini, dia akan jadi tanggung jawabku
"Heh, kau. Tak usah bercanda. Ini bukan 1 April tau!" bentakku. Dia tersentak kaget, lalu dia membenamkan kepalanya dalam pahanya.
"Gomen… a, a, aku tidak tau…" ucapnya lirih.
Hening…
Aku mulai luluh.
"Hei, sebenarnya apa yang terjadi?" kataku lembut. Tak ada gunanya marah-marahnya. Lebih baik selesaikan masalah pelan-pelan.
"A a aku… nggak ingat apa-apa…" katanya lirih. Aku hela napas. Terpaksa, dia akan jadi tanggung jawabku sekarang.
"Yakin, kau tak ingat apa pun?" tanyaku. Dia hanya mengangguk.
"Aku akan tinggal di mana?" ucapnya parau, seperti ingin menangis. Tapi dia tidak menangis, mengingat martabatnya sebagai laki-laki. "Kau siapa?" tanyanya.
"Perkenalkan. Namaku Haruno Sakura," kataku memperkenalkan diri. Oke, ini mungkin gila bagiku, tapi aku akan biarkan dia tinggal di rumahku. GLEG! Aku harap Tuhan memberikan balasan yang setimpal untukku! "Eemm… untuk sementara kau boleh tinggal di sini," kataku. Mata laki-laki itu langsung berbinar.
"Sungguh…?"
"Iya. Tapi, ada persyaratannya."
"Apa pun itu, akan aku lakukan," katanya mantap. Wow! Nasibnya benar-benar sedang di ujung tanduk.
"Jangan sekalipun menyentuhku!"
"Oke! Terima kasih telah memberi tumpangan. Aku harap Tuhan membalas semua kebaikanmu," ucapnya. Entah kenapa tapi setiap ucapannya bagai suara malaikat di telingaku.
"Heh, kau bersyukur aku masih mau menampungmu. Sebenarnya tadi aku sempat tidak ingin membawamu ke rumahku."
"Ya, kau satu-satunya yang aku kenal. Aku tidak mengerti kenapa ingatanku bisa hilang. Tapi untuk sementara, mau kah kau memberiku nama?" ucapnya. Nama? Huh, merepotkan saja.
"Hmm… marga aku kan Haruno, jadi marga kamu Haruno juga. Dan nama kamu? Udah deh Sasuke aja. Biarin deh namanya pasaran juga. Aku kurang jago bikin nama," ujarku asal.
"Haruno Sasuke?"
"Iya, sementara namamu Haruno Sasuke Oke. Dan nanti kalau ada yang bertanya siapa kamu, jawab saja kalau kamu itu sepupu jauhku. Mengerti?"
"Iya, terima kasih lagi." kata Sasuke. Dia benar-benar berbeda dengan tadi. Tampak begitu ceria.
"Sama-sama. Kau boleh tidur di kamar itu. Ini kuncinya," kataku sambil menyodorkan kunci kamar satu lagi.
"Terim…"
"Sudah, berhenti mengulang kata itu," potongku kesal. Akhirnya anak itu malah tinggal di rumahku. Apa jadinya ya hari-hariku nanti selama dia ada di sini? Tinggal bersama laki-laki yang jelas-jelas aku tidak suka pada kaum adam. Dan…
Ino…
Apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku…?
TBC
Mine to Review Please!?
