Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki. No commercial profit taken.

Warning AU, OOC, cliché, shonen-ai (if you see it that way). Kesamaan ide harap dimaklumi.

a/n beberapa hal yang tidak saya sampaikan di chapter pertama: cerita ini adalah republish—dulu, ketika akun saya masih menggunakan dat. lost. panda sebagai penname, kira-kira dua tahun lalu, saya pernah mem-publish cerita ini di sini. Tapi saya hapus ssetelah masuk chapter 3 karena belum tau bagaimana cara menulis endingnya. Kini, atas permintaan salah satu teman, saya publish kembali cerita ini dengan perubahan minor dalam EyD, namun plot-nya tetap utuh seperti dulu. Dan sekarang, saya siap menulis ending cerita ini. OuO)b

kenapa saya nggak bilang dari awal? Karena saya pikir, nggak akan ada yang notis. Dua tahun adalah waktu yang lama buat saya hehe. tapi, ternyata ada beberapa pembaca yang sepertinya notis—entah beneran punya saya atau bukan. Jadi, saya pikir, mungkin saya perlu menjelaskan di sini. Saya ngeri kalo perihal komentar "kayak pernah baca" ini berujung sepet-sepetan plagiat, karena saya nulis sendiri. X"D

jika memang ada fanfiksi lain yang berplot seperti ini, mungkin ini dikarenakan premis yang mainstream. Makanya di warning saya cantumkan; kesamaan ide, harap dimaklumi #sungkem

Terima kasih banyak atas perhatiannya OuO


Prelude

by alleira

#2


"Kau yakin tidak mau pulang naik mobil patroli, Aomine?"

Aomine memutar mata ke atas, jengah. Tak heran, sudah sepuluh kali (bukan berarti Aomine benar-benar menghitung) dia mendengar Wakamatsu, rekannya, terus menanyakan hal tersebut. Jika seseorang mendapat 100 yen dari langit setiap kali bertanya, Aomine yakin saat ini Wakamatsu sudah punya cukup banyak uang untuk membeli dua burger daging ukuran besar.

"Duh, aku bosan menjawab pertanyaanmu. Bisa kau berhenti bertanya mulai dari sekarang?"

Wakamatsu merengut tanda tak senang. "Heh, yang benar saja. Jarang-jarang kau menolak tawaran naik mobil."

Sebenarnya, memang tidak pernah. Saat waktu patroli habis, Aomine selalu pulang dengan menumpang mobil patroli setidaknya sampai halte. Membiarkan Wakamatsu sendirian ke kantor untuk mengembalikan mobil patroli sambil di sepanjang jalan terus mengeluh tentang betapa sial nasibnya, harus bertugas dengan orang malas macam Aomine.

Makanya, waktu Aomine tiba-tiba saja menyuruhnya pulang tanpa dirinya, Wakamatsu mau tak mau mengerutkan kening. Apa cuaca dingin sudah membuat otak Aomine berkarat?

Aomine Daiki tidak mendengarkan Wakamatsu. Ia melangkah ke mobil patroli, membuka pintu penumpang yang ada di depan lalu merunduk untuk mengambil mantel cokelat miliknya yang tersampir di sandaran kursi.

Meski tidak pernah membaca ramalan cuaca di koran pagi, kulit-kulit di tubuh Aomine cukup peka untuk bisa merasakan perubahan udara di sekitarnya. Suhu sepanjang hari ini semakin menurun. Dia hanya berharap salju belum akan turun malam nanti.

"Baiklah kalau kau benar-benar tidak akan naik mobil malam ini." Wakamatsu berkata dengan nada yang biasa orang-orang pakai ketika mereka malas memaksa kehendak orang lain. Faktanya, Wakamatsu juga tidak terlalu peduli dengan pemuda itu. Dia justru senang karena mobil terasa jauh lebih lega tanpa Aomine.

"Ya, ya. Sekarang, cepat pergi, sana." Aomine, yang kini telah mengenakan mantel, mengibaskan tangan. Menyuruh Wakamatsu agar segera hengkang dari hadapannya.

Hal ini tentu saja membuat Wakamatsu tersinggung. "Tidak perlu mengusir, aku juga mau pergi. Brengsek!"

Dengan bersungut, Wakamatsu segera masuk ke dalam mobil patroli dan menyalakan mesin.

Di antara mereka berdua, Wakamatsu mungkin yang paling tidak suka jika harus berpatroli di musim begini. Malam-malam dingin bulan Desember harusnya dihabiskan bersama keluarga atau teman-teman. Berkumpul di dekat perapian, mengobrol, main poker, dan bukannya terjebak dalam jadwal patroli bersama rekan yang menyebalkan. Suara berisik yang keluar terus-menerus dari radio pemanggil di dalam mobil makin membuat Wakamatsu gila.

Satu-satunya hal menggembirakan dari bulan Desember adalah Natal yang semakin dekat. Itu artinya, ada begitu banyak keriaan di kota. Para pemilik toko seperti berlomba menarik atensi pembeli dengan membuat tempat usaha mereka tampak lebih cantik. Hiasan-hiasan ramai dipasang.

Ketika malam datang, seisi kota penuh cahaya warna-warni dari lampu-lampu kecil. Persis seperti sebuah parade. Setidaknya, suasana kota yang terang-benderang membuat suasana hati Wakamatsu sedikit lebih baik.

Aomine memasukkan tangannya ke saku mantel ketika mobil patroli yang dikendarai Wakamatsu pergi meninggalkannya. Lampu merah-biru yang terpasang di atas mobil itu berkedip-kedip membelah gulita. Dia terdiam. Ada keheningan aneh yang menghampiri sesaat setelah mobil itu menghilang.

Aomine berjalan goyah ke arah lobi hotel, tempat ia dan Wakamatsu tadi sempat berada. Manajer hotel beberapa jam lalu menekan nomor polisi pada tombol-tombol telpon, secara otomatis membuat Aomine dan Wakamatsu yang tengah berpatroli segera meluncur ke lokasi dan memeriksa seorang tamu yang dituduh mencuri.

Untungnya, tadi itu sama sekali bukan kasus pencurian. Tidak lebih dari sekedar salah paham.

Aomine sendiri tidak begitu paham (dan peduli) dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi dia diam saja ketika Wakamatsu menyuruh kedua belah pihak untuk berdamai. Garis-garis di wajah Wakamatsu saat itu membentuk sebuah rengutan galak, seolah mengancam akan memasukkan mereka semua ke penjara jika tak menuruti kata-katanya. Dan, kira-kira, begitulah semua masalah berakhir.

Diam-diam Aomine bersyukur. Wakamatsu melakukan tindakan yang tepat. Setidaknya, dia jadi tidak perlu repot membawa orang-orang itu ke kantor untuk diperiksa.

Tugas patroli malam ini sudah cukup membuatnya malas. Ia tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika dapat tugas tambahan.

Udara menggigit yang datang bersama bulan Desember memang biasanya membuat agresifitas seseorang berkurang. Pada beberapa orang, efeknya cenderung membuat malas beraktifitas. Hal ini terjadi pula pada Aomine.

Seperti kebanyakan orang, yang Aomine idam-idamkan saat ini adalah waktu istirahat sempurna; di mana cuma ada dia, secangkir coklat atau kopi panas, selimut tebal, dan penghangat ruangan. Sayang, hari ini dia harus menunda kesenangannya selama beberapa saat karena sesuatu hal.

Aomine berhenti melangkah setelah berada di lobi. Ia termenung beberapa saat di sana. Tangannya masih menelusup di mantel, mengais kehangatan. Ia sedikit membungkukkan punggung ke depan, seolah ada beban besar menggelayut di sana.

Setelah beberapa lama, ia menoleh ke arah meja resepsionis. Mata Aomine penuh dengan binar kebimbangan ketika benaknya kembali merangkai sosok yang tadi, secara kebetulan, tertangkap melalui sudut matanya; pemuda tinggi dengan rambut kuning terang dan bola-bola mata cerah seperti matahari—apakah itu dia?

Aomine tahu, orang itu bukan satu-satunya yang terlahir dengan rambut pirang dan mata mirip emas. Ada ribuan (bahkan mungkin jutaan) orang lain, yang tersebar di bumi, yang juga memiliki ciri-ciri seperti itu. Dia juga tidak menampik fakta telah berulang kali mendapati orang yang salah. Tapi, apa salahnya memastikan sekali lagi?

Lagipula, Aomine sudah memutuskan: Kali ini, jika lagi-lagi dia menemukan orang yang salah, maka ia akan mulai berhenti mencari. Menyerah. Empat tahun bukan waktu yang sebentar.

Dengan itu, sempurna sudah kebulatan tekad Aomine. Ini adalah kali terakhir ia memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk tetap mencari (dan berharap).

Jika ia salah, maka ini sudah berakhir. Tamat. Dia tak akan pernah lagi mencoba.

Aomine akan membiarkan orang itu terkubur bersama tumpukan memoar miliknya. Menyaksikannya berubah usang, rusak, hingga akhirnya hancur jadi serpih seiring berjalannya waktu. Terlupakan begitu saja.

Ketika Aomine sibuk dengan pikirannya—entah ini ulah alam bawah sadarnya, atau justru tangan-tangan takdir malam ini sedang ingin mempermainkannya— tiba-tiba saja sekeping kecil memori—yang seharusnya sudah sejak lama hancur— justru menyembul ke permukaan. Dan tanpa Aomine sadari, tiba-tiba saja bibirnya mengembangkan seulas senyum kecil.

Kenangan itu berasal jauh dari masa kecilnya. Berisi lapangan basket tak terawat dan sesosok anak laki-laki—yang tubuhnya kurus dan berambut pirang seperti biji jagung. Bulu mata dia lentik seperti anak perempuan, sementara kedua irisnya mengimitasi warna mentari. Bibir itu merentangkan cengiran panjang, yang membuat sosoknya terlihat makin cerah dan menyilaukan. Persis seperti matahari.

"Ayo, pulang, Aominecchi!"

Tangan Aomine mengepal di dalam mantel. Erat, sampai buku-buku jarinya memutih. Dia sedang menciptakan jangkarnya sendiri. Dia mencoba bertahan pada sebuah hal solid yang mampu menjangkar agar kesadarannya tetap berada di dunia nyata, bukannya di masa lalu.

Mengingat masa-masa itu selalu membuat hatinya dipenuhi rasa hangat dan sakit di waktu bersamaan. Karena itulah, Aomine tidak menyukainya. Tapi dia juga tidak membencinya.

Bersama satu napas yang ia buang keras-keras, Aomine menegakkan tubuh. Mata royal blue-nya masih menatap ke satu tempat di meja resepsionis. Bayang si pirang itu masih terbentuk di sudut mata Aomine, jelas dan belum mau menghilang. Dia mendesah dalam hati. Rasa risau membuat kedua bahunya berat.

Kaukah itu, Kise...?


Kise menunggu pintu lift di hadapannya terbuka. Empat jam berlalu semenjak ia menginjakkan kaki di hotel ini. Kini, dia sudah selesai dengan pekerjaannya.

Wanita yang datang bersama Kise masih berada di atas ranjang berukuran besar dalam kamar sewaan mereka. Masih tanpa pakaian, dan masih mengejar napas. Kise meninggalkannya begitu saja tanpa merasa harus menunggunya pulih. Toh, bayarannya sudah ia dapat.

Suara denting lift membuat Kise menegakkan kepala dan mendapati pintu lift telah terbuka. Kosong. Tentu saja. Memangnya sekarang sudah jam berapa? Sekalipun hotel ini buka dua puluh empat jam, tetap saja orang-orang dan mobilitasnya lebih banyak terlihat di waktu siang. Tanpa firasat, Kise masuk begitu saja ke dalam lift. Dia menekan tombol ke lobi. Lift itu pun bergerak turun.

Seraya memperhatikan angka-angka di layar dekat tombol berganti satu-satu, Kise memasukkan tangan kanan ke saku celana. Dia menaikkan alis saat jemarinya menemukan sesuatu. Sekeping koin.

Kise sebenarnya tidak tahu sejak kapan benda itu berada di sana, tapi dia memutuskan untuk tidak terlalu banyak berpikir dan memilih memainkan benda itu. Dilemparnya koin berwarna keperakan itu ke udara. Hap. Kise menangkapnya lagi sebelum jatuh ke lantai.

Ketika lift berdenting sekali lagi, pertanda telah sampai di lantai tujuan, Kise segera keluar dari sana. Tangannya masih bermain dengan koin. Lempar. Tangkap. Lempar lagi. Tangkap lagi. Lempar sekali lagi—

"AH!"

Kise tak kuasa menahan pekikan saat koin itu lolos dari tangannya, menggelinding di lantai hotel yang licin sebelum akhirnya berhenti akibat menabrak sepatu hitam milik seseorang yang duduk di bangku lobi.

Refleks yang aktif membawa Kise setengah berlari ke sana. Wajahnya terlihat malu bercampur menyesal.

"Ah, maafkan aku Tuan—" nada apologetik Kise berhenti di tengah jalan, berganti dengan rasa terkejut ketika orang asing itu mengangkat wajah yang tadinya tertunduk. Bola-bola mata keemasan milik Kise membulat tanpa diminta. Waktu terasa membeku dan orang-orang di sekitar seperti berhenti bergerak begitu saja saat mata royal blue tajam itu menetap di mata Kise.

"... Aominecchi?"

.

.

.

tbc


kritik dan saran yang membangun amat sangat dinanti.

salam,

alleira