Pagi hari di hari Kamis, satu hari menjelang hari H dari seorang clien dari Cassiopeia wedding organizer "Dreams, are meant to be true". Seperti mottonya, Cassiopeia wedding organizer menginginkan mimpi para kliennya akan pernikahan impian bisa terwujud. Gedung lima lantai yg didominasi warna broken white dan gold terlihat cukup sibuk. Ada satu truk yg terparkir, terlihat sedang menurunkan beberapa bahan makanan untuk keperluan katering. Changmin, berada disana untuk memastikan semua hal tepat jumlahnya, hitungannya, daan kebersihannya. Ia mengontrol para pekerja menurunkan barang-barang hingga masuk ke gudang penyimpanan.
Cuaca hari itu cukup hangat. Si pria bertubuh paling tinggi diantara keempat sahabatnya itu sedikit melirik ke arah gedung-gedung bertingkat kota New York. Ia melihat sekeliling. Ia menyukai hal ini. Maksudnya melihat bayangan-bayangan para pencakar langit yg diterpa cahaya matahari pagi. Di kejauhan ia melihat Jaejoong jalan tergopoh-gopoh. Changmin tersenyum melihat hyungnya karena sebentar lagi pasti akan ada…"Satu laté dan donut glaze biasa. Makanlah." Ujar Jaejoong tanpa basa-basi. Ia sudah tahu betul menu sarapan Changmin, dan Changmin tahu betul jika hyungnya tidak mungkin salah atau bahkan lupa. Jaejoong menggunakan transportasi subway setiap hari menuju dan pulang dari tempat kerjanya. Jadi setiap pagi ia akan mampir sebentar untuk membeli kopi untuknya dan Changmin. Terkadang donut atau bagel untuk sarapan. Tidak ada waktu untuk memasak.
"Terima kasih, hyung!" seru Changmin sambil mengunyah donut gula pemberian Jaejoong.
"Ya." Sahut Jaejoong singkat.
"I love you, hyung!" Jaejoong hanya mengacungkan jempolnya. Tidak lama ponsel Changmin bergetar, menunjukkan ada pesan masuk. Ia merogoh sakunya. Sambil menyeruput kopi laténya, ia membaca perlahan. Raut wajahnya berubah.
"Aku meeting dan akan pulang terlambat. Jemput aku jam 7 nanti dikantor. Jangan terlambat."
Changmin hanya membalas singkat, "Ya." Sebagai jawaban dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
….
Gedung sederhana dengan tanda "CASSIOPEIA" itu terlihat sangat simple. Lantai 1 digunakan sebagai lobby, ruang pertemuan, dan ruang konsultasi untuk para klien tentang konsep pernikahan mereka. Berarti, ruangan Kim Junsu ada disana. Pria berwajah imut-imut kedatangan kliennya yg akan melangsungkan resepsi dalam tiga hari lagi. Sebenernya tidak perlu datang lagi untuk konsultasi, tapi mungkin karena kepribadian Junsu yg bersahabat, para klien sengaja datang untuk mengobrol singkat.
"Aku sudah tidak sabar lagi. Oh my God, inilah weekend terakhirku sebagai seorang gadis." Ujar sang klien. Dengan ekspresi penuh semangat dan tatapannya yg mengawang sesuatu.
"Ya, Caren. Kau akan segera menjadi nyonya. Setelah itu kau akan menjadi ibu. Kemudian melihat anak-anakmu tumbuh dewasa dan menikah juga sepertimu." Ujar Junsu sambil tersenyum.
"ahh, tidak secepat itu Junsu."
"Kehidupan itu cepat sekali. Hanya terkadang manusia terlena."
"By the way, aku sangat menyukai semuanya. Kerja kalian luar biasa. Aku suka sekali konsep undangannya, konsepnya, and all the flowers, but mostly adalah gaun pernikahanku. Jaejoong hebat. Ia jenius. Oh….sungguh aku gemetaran." Jaejoong memang hebat. Tangannya begitu luar biasa. Otaknya begitu brilliant. Ia seperti seorang pembaca pikiran yg mampu membaca pikiran tentang apa yg diinginkan kliennya.
Sang klien pun beranjak dari ruangan. Meninggalkan Junsu sendirian. Ia berfikir untuk ke ruangan Jaejoo g sebentar. Ia kadang penasaran dengan apa yg dibuat hyungnya. Walau ia tahu, ketika ia masuk kedalam ruangan Jaejoong, si pria cantik itu akan cuek sekali padanya. Ia hanya berbicara ketika ditanya. Sementara tangannya sibuk, dan mulutnya juga sibuk memberikan instruksi pada para asistennya.
Junsu menapaki langkahnya sambil berlari kecil menuju lantai tiga yang penuh warna. Jaejoong suka warna-warna. Seluruh dinding di lantai itu memiliki konsep. Terkadang Jaejoong merogoh uang pribadinya untuk merombak ulang cat dinding atau wallpaper disana. Junsu berdiri disisi pintu ruangan Jaejoong yg terbuka sebagian. Ia menyandarkan bahunya disisi pintu. Mengamati Jaejoong yg sedang merapikan gaun pengantin sang klien bersama tiga asistennya. Semua asistennya wanita, dua diantaranya masih gadis dan seorang ibu. Entah apa sebenarnya, Jaejoong terlihat lebih bersinar disitu. Pantas saja sang boss, Yunho, naksir padanya. Bukankah banyak wanita cantik atau pria cantik laainnya dikota New York yang bisa ia kencani. Saking cintanya Jung Yunho pada Jaejoong, mereka belum pernah menyentuh Jaejoong sedikitpun. Begitu pikir Junsu.
Ia melangkah masuk dan mengamati gaun pesanan Caren, si klien yg sangat super excited itu. Gaun putih bersih tanpa lengan dengan bagian punggung yang terbuka. Gaun ini simpel, ada tambahan flower crown dari bunga peony dan dedaunan kecil2 yg Junsu tidak tahu apa namanya. Seperti yg Caren minta, bohemian style. Sederhana, namun unik. Sang pria akan mengenakan baju kemeja putih biasa, tanpa vest atau coat. Celana hitam. Tapi kemeja putih itu tidak di design biasa oleh Jaejoong. Di bagian kerah ada tertulis inisial kedua mempelai, "C & T" Caren dan Tom. Ada juga empat pasang pakaian untuk para bridesmaid dan best men. Tom dan Caren sama-sama menyukai warna orange, jadi pakaian para pengapit dibuat senada orange dan disesuaikan dengan warna senja sore yg akan menjadi momen pemberkatan mereka.
"Junsu-yah."
"Hey, hyung."
"Kau sedang tidak ada tamu yang berkunjung?" tanya Jaejoong sambil mengecek sentuhan terakhir dan mengatakan "perfect."
"Hyung, boleh aku bertanya?"
"Apa?" tanya Jaejoong sambil menuju sofa empuk berwarna maroon dan merebahkan tubuhnya.
"Aku lihat kau dan Yunho hyung tidak sedang dalam komunikasi yg baik akhir-akhir ini." Jaejoong mendesah pelan. "Tampaknya begitu?" tanya Jaejoong bernada ingin meyakinkan Junsu.
"Ya…sepertinya sih."
"Aku hanya sedang lelah, Junsu-yah." Jawab Jaejoong sambil memijit keningnya perlahan.
"Hyung katakan padaku." Jaejoong terdiam. Ia menatap ke langit-langit. Keheningan tercipta. Jika ko disinya sudah seperti itu, maka Junsu pun tidak akan menuntut jawaban lagi.
"Ia ingin pulang ke Korea."
"Lalu?"
"Ia ingin membawaku dan dikenalkan kepada keluarganya." Junsu terlihat bingung.
"Bukankah itu bagus hyung? Berarti ia serius padamu."
"Entah kenapa aku takut."
"Waeyo?"
"Orang tua Yunho mungkin tidak tahu jika anaknya gay. Dan pasangan gay adalah sangat benar-benar tabu. Sebenarnya aku takut jika aku sedih…" Jaejoong menggeser tubuhnya sedikit, "lagipula ia tidak pernah mau jujur terhadap dirinya sendiri bahwa kami saling mencintai."
"Maksudmu ia menyembunyikan hubungan kalian?"
"ya….tidak…..ah entahlah Su-ie. Ia tidak pernah menggandeng tanganku selain digedung ini. Atau di apartmenku. Mungkin Chrissy juga tidak tahu siapa aku sebenarnya dalam kehidupan ayahnya. Jadi aku takut. Terlalu takut untuk semua ini."
Junsu meraih pundak Jaejoong dan mengusapnya. Ia paham betul apa yg sedang terjadi.
"Kau harus bicara pada Yunho-hyung. Siapa tahu ini Cuma perasaan sepihak."
"Ia tidak mau bicara padaku, Su-ie…."Jaejoong terisak, "Aku lebih baik dipukul, dan masalahnya selesai, daripada aku didiamkan terus seperti ini. Aku tidak tahu lagi." Jaejong pun menangis. Tanpa mereka sadari, Jung Yunho berada di sisi luar ruangan itu, mendengar percakapan mereka. Dadanya terasa sangat sakit.
…...
Changmin melajukan mobilnya cukup kencang malam itu. Pukul tujuh lebih lima belas menit. Sang pacar memintanya untuk menjemputnya pukul tujuh tepat. Namun pekerjaan membuatnya teelambat. Ia tahu apa yg akan ia hadapi nanti. Tepat didepan sebuah gedung perkantoran, yg jaraknya hanya 10 menit dari gedung Cassiopeia, telah berdiri seorang perempuan cantik. Wajahnya terlihat lelah dan bosan. Ia menenteng tasnya sambil membawa map disisi tangan kanannya. Tibalah Changmin disana dan tidak berani menatap wajah sang kekasih. Mia Zhang, kekasih Changmin yg sudah dipacari selama enam bulan ink adalah wanita karir. Ia hidup mandiri, jauh dari negara asalnya. Ia pandai, tegas, disiplin. Itu yg membuat Changmin menyukainya. Namun emosionalnya tidak bisa dibendung.
"Mia, masuklah." Pinta Changmin.
"Tidak." Jawabnya tegas. Ayolah….dalam benak Changmin. Ia benci perdebatan ini. Ini sudah malam dan ia sudah sangat lelah.
"Mia, honey. Ayo pulang."
"Kenapa kau terlambat?"
"Aku sedang sibuk sekali, honey. Aku pikir kau tahu itu."
"Aku pikir juga kau akan tahu jika aku menunggu lama disini. Aku berdiri. Dengan sepatu hak tinggi."
"Siapa yg suruh kau memakai hak tinggi ?" mata Mia terbelalak atas ucapan Changmin.
"Hey tiang listrik! Kau datang terlambat dan kau marah-marah? Aku yg seharusnya memarahimu.!"
"Perempuan itu aneh. Sudah tahu bikin capek, malah tetap dipakai. Huh!"
"Changmin-ahhhh! Aku benci kau!"
"Kau pulang saja sendiri." Ujar Changmin. Mia membatu mendengar ucapan Changmin. Ia merengutkan dahinya. Mereka terdiam. Mia akhirnya membuka sendiri pintu mobilnya dan Changmin masih berada diluar.
"Changmin-ah!" terdengar teriakan dari dalam mobil.
"Kenapa?! Ada kecoa terbang?"
"Changmin-ah ayo pulang! Sekarang!" dan akhirnya Changmin masuk ke mobil, dan mereka meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Sesampainya mereka di sebuah apartement Mia, Mia segera melepaskan sabuk pengaman. Tangan Changmkn menahannya.
"Tunggu." Changmin meraih tangan Mia, kemudian ia mengecup keningnya. "Selamat malam, lekas tidur ya." Ujar Changmin. Mia tersenyum, "Selamat malam, honey. Hati-hati dijalan." Kata Mia sambil mengusap pipi Chanhmin.
…...
Jung Yunho sedang membereskan piring-piring bekas makan malam, sementara putrinya tampak sudah tertidur. Ia menatap ke arah jendela. Hujan. Ia mendesah pelan, kemudian beranjak menuju kamar tidur putrinya. Didapatinya sang daddy's princesss sudah tertidur dan lupa merapikan buku-bukunya. Yunho ambil buku-buku itu lalu segera memasukkan ke dalam tas sekolah sang anak yg bergambar unicorn. Ia tahu, karena sang anak biasanya sudah pasti merapikan buku pelajaran untuk keesokan harinya. Ia mengusap wajah cantik sang anak. Mengamatinya dengan cermat. Mengusap anak rambut disekitar dahinya. Memperhatikan kulit tangannya hingga ke jari-jemari dan ia mendapati sang anak lupa memotong kuku. Ia menggelengkan kepalanya dan segera mengambil gunting kuku untuk merapikan kuku-kuku tangan sang anak. Setelah semuanya beres, ia pastikan seragam sekolah sang anak sudah siap dipakai besok pagi. Yunho mematikan lampu kamar Chrissy dan menuju sofa ruang tamu. Ia harus bicara pada Jaejoong segera, pikirnya. Ia coba menghubungi nomor ponsel Jaejoong yg ia simpan sebagai my honey bunny dalam kontaknya. Tidak aktif. Sunyi senyap. Bagaikan malam yg terdiam karena terbuai hujan malam itu.
