"Kau," kata Tazaki, "sedang apa, sih?"
Kaminaga tidak langsung menjawab, malah mengeratkan kedua lengannya di pundak Tazaki. Bukannya pemuda itu tidak pernah memeluknya sih, tapi selama ini, hal itu selalu dilakukan dengan cara yang mirip anak kecil sedang mau bermanja-manja atau dekapan lebar ala beruang. Kadang juga ia menyelipkan lengan ke pinggang Tazaki dari samping lalu diam seribu bahasa atau mencerocos soal cinta yang tidak berbalas. Tapi sekarang, dengan posisi berhadapan hingga pipi mereka bersentuhan, Kaminaga menyadarkan tubuh padanya; Tazaki merasa bahkan untuk ukuran sahabat yang sebegitu akrab, ini masih agak—terlalu—mesra, tidak sih?
"Aku sedang memelukmu."
"Seakan itu bisa kurang jelas saja," Tazaki terkekeh, "tapi kenapa?"
"Apa aku harus punya alasan?"
"Yah, tidak sih, tapi tidak seperti biasanya kau begini." Ia akhirnya balik memeluk. "Kalau memang ada sesuatu, cerita saja, aku tetap mau mendengarkan kok bahkan kalau ini masih soal Miyo—ugh!"
"Siapa?" Ia hampir bisa melihat Kaminaga menyengir di balik punggungnya begitu pemuda itu melonggarkan pelukannya lagi. "Tidak kenal."
Ia mengembuskan napas, kalau keadaannya begini terus, salah-salah ia bisa tidak sengaja tercekik oleh Kaminaga sampai mati. Tazaki tidak akan bisa membenci Kaminaga sih, tapi kalau boleh, ia mau cara meninggalkan dunia yang sedikit lebih elite. Hampir tanpa berpikir, ia menggerakan tangannya naik-turun di punggung sahabatnya, mengusapnya dengan lembut. Matanya sendiri, berpindah dari piring-piring bekas pai apel yang terlupakan di dasar wastafel ke luar jendela, terkagum pada sinar surya yang menyusup masuk hingga menimpa sebagian karpet kamarnya, membuatnya hampir percaya kalau hari itu bukan hanya terang, tapi juga hangat.
Atau mungkin memang sungguhan hangat, selama ada Kaminaga yang melekap padanya, dan hatinya sendiri berlelehan perasaan girang. Lebih dari lima bulan sudah berlalu sejak ia berterus terang akan perasannya pada pemuda itu, dan selama itu pula ia tidak pernah mendapat jawaban apa-apa. Mungkin Kaminaga masih berusaha mengartikan perasaannya sendiri, mungkin ia masih terlalu mencintai Miyoshi, atau mungkin ia memang tidak melihat Tazaki dengan cara yang sama dan ingin hubungan mereka tetap platonik. Yang mana pun, Tazaki masih tidak suka mendesak, jadi dibiarkannya saja hari-hari mereka berlalu seperti biasa, toh tidak ada ruginya juga kalau keduanya tidak berpacaran. Memang agak makan hati sih, tapi begitu saja lebih baik daripada merusak pertemanan.
"Sepertinya aku mulai keram," Tazaki berkata, menghentikan gerak tangannya di punggung Kaminaga, "mau sampai kapan di posisi begini?"
"Sampai aku paham."
"Apanya?"
"Perasaanku sendiri," Kaminaga memundurkan tubuh bagian atasnya, tapi masih mempertahankan tangannya di pundak Tazaki, "aku memelukmu begini buat semacam eksperimen. Untuk melihat apakah aku doki-doki. Kalau iya, kemungkinan besar aku menyukaimu balik." Diakhirinya kalimat itu dengan senyuman lima jari, tapi mendadak Tazaki ditimpa rasa frustrasi.
"Kaminaga…," ia memijit batang hidung, berusaha meredam letupan-letupan sial yang mendadak muncul dalam dadanya, "kau mau membuatku gagal jantung, ya?"
"Terima kasih, aku tahu kok aku setampan itu."
Tawa Tazaki keluar dalam batuk-batuk. Sahabatnya ikut tertawa, riang dan kekanakan seakan tanpa dosa, padahal butuh seluruh kendali diri Tazaki untuk tidak memajukan kepala dan menciumnya di sana saat itu juga.
Apakah tadi ia merasakan seperti apa detak jantung Kaminaga, ia sudah tidak ingat, benaknya terlalu sibuk berusaha mengalihkan perhatian dari wajah sahabatnya yang berseri, mencari-cari alasan kenapa ia bisa sampai jatuh cinta.
