Catatan Perjalanan Nikki

Hello Nikki © Game Dreamer MY

Rating T

General (slight Humor)

Warning: Sedikit berbau bestial lmao jk, Oneshot atau drabble, kemungkinan bakal terus diapdet seiring munculnya ide-ide sepanjang ngegame, random.

.

.

.

19th Map: Zurich, Switzerland. Task 247.

Cheese Fondue

.

.

.

"Cheese fondue~ Cheese fondue~ Cheese Fon—"

"Iya, iya, Nikki. Aku paham tapi bisa kan ngga bersikap kekanakkan?" Nina memijit dahi. Dan makin memijit melihat anak lelaki lainnya, ikut mengangkat kepalan tangan sambil meneriakkan hal yang sama. Tidak—Brown jelas tidak akan melakukan hal sekonyol itu. Walaupun masuk dalam kategori bujang polos, tapi Brown masih punya sisi jantan yang tak mungkin ia lunturkan hanya karena semangkuk keju.

Ya—laki-laki yang dimaksud kali ini bukanlah si santa klaus rupawan, melainkan anggota baru di grup jalan-jalan Nini (Nina-Nikki), orang yang mengaku sebagai detektif tenar dan kini tengah menghadapi kasus hilangnya seorang pangeran dari negeri antah berantah.

Laki-laki yang (jelas) berdiri di belakang Nikki, yang setengah wajahnya tertutupi oleh bahu Nikki–karena yah, tinggi badan yang sesungguhnya tak mumpuni.

"Cheese fondue!"

"BERISIK BANGET SIH JADI LAKI-LAKI!" Momo yang tidak tahan akhirnya ikut nyembur—melompat-lompat di atas meja makan dengan wajah penuh lipatan. Mengabaikan fakta bahwa sesungguhnya teriakan Polo—si detektif cilik—tak lebih besar dari milik Nikki.

"CHEESE FONDUE! CHEESE FONDUE!"

Alih-alih bungkam, Polo malah mengeraskan suaranya—seolah menantang Momo yang memang sejak awal terlihat seperti rival kecilnya (entah rival dalam segi apa). Kalau bukan karena Nina dan pukulan monsternya di atas meja, sudah bisa dipastikan Polo takkan berhenti berteriak hanya untuk memancing Momo yang kelaparan.

"Oke, sudah cukup dingin kepalanya?" Nina dengan kontrol emosi yang sempurna kembali mengambil suara, "Kalau sudah paham dengan konsep diam, kita bisa pesan makanan seka—"

"Nikki bajumu tampak bagus hari ini."

"Mm? Makasih Polo~"

Uh oh. Serangan pertama sudah dilancarkan bahkan sebelum Nina sanggup berkedip. Gadis berambut hitam sepunggung memutar bola mata. Walau tak terlihat mendeklarasikan diri dengan suara, tapi gerak-gerik Polo memang terlihat memancarkan ketertarikan kuat pada Nikki yang notabene-nya tidak peka. Momo yang bukan manusia saja bahkan paham kalau Polo sering mengusilinya karena Nikki selalu memanjakan Momo seperti menggendong atau menyuapinya saat makan—

Padahal tolong, Momo bahkan tak tergolong spesies homo—walaupun mereka semua sesama mahluk vertebrata, tapi tetap saja ada perbedaan yang signifikan, yang membuat Polo terlihat berlebihan jika alasannya 'memusuhi' si kecil Momo hanya karena cemburu.

"Roknya juga bagus."

"Terimakasih~"

"Aku suka topimu Nikki."

"Hu-uh? Aku juga suka topi model beret~"

"Terus jaketnya—"

"Halo—basa basinya masih lama?" Momo menginjak-injak meja dengan kaki mungilnya yang gemas, "Makanan takkan cepat sampai kalau kalian masih terus berbincang nih!"

"Ah iya baiklah~ Aku juga sudah tidak sabar untuk mencicipi cheese fondue."

"Tsk."

Momo yakin sekali telinganya tak salah dengar ketika Polo mendecak di sebelah Nikki persis. Di sebelah—tunggu, sejak kapan posisi duduknya jadi persis di sebelah Nikki? Apakah Brown yang aslinya sudah lebih dulu menempati posisi mengalah karena diusir si devil Polo?

"Enaknya—Polo dan Momo akrab ya." Suara lainnya menyambut, masih dengan objek pandang yang tak berganti.

"GEHH? Kau jangan iri sama hal yang tidak perlu dong!"

"Tidak, aku tidak iri. Lagipula—dari sini aku dapat pemandangan bokong Momo yang fluffy~"

Oke, Momo tarik lagi praduganya. Kalau bukan karena murni idiot, Brown pasti ada maunya. Dan yang saat ini ia lakukan merupakan gabungan dari perbuatan idiot yang ada maunya. Ya Tuhan, Momo berdoa dalam hati. Jangan sampai ia kehilangan akal sehat karena dimodusin manusia secara tentatif. Amin.

Momo tidak yakin apakah doanya akan sampai dengan cepat. Karena pilihan duduk yang Momo dapatkan saat ini ibarat ranjau tanpa celah—jika Momo duduk menghadap Nikki, maka ia akan sering bertemu wajah dengan Polo yang menyebalkan, namun jika ia memunggungi Nikki, maka ekspresi Brown yang jauh-jauh lebih menyebalkan akan sukses menghantui dan mengurangi selera makannya yang sedang tinggi.

"Haaa."

Momo menghela napas. Antara barat atau timur, pada akhirnya Momo memilih utara.

Dan entah sejak kapan tulisan ini jadi berpusat pada Momo—yang bahkan tak lebih besar dari ukuran bola sepak.

Setengah jam cheese fondue yang di pesan datang. Momo hanya bisa terbaring mengetahui restoran yang mereka singgahi tak menyediakan menu berbau ikan samasekali—bahkan sup dengan kaldu ikan pun tak ada.

"Nina jahat sekali memilih restoran ini hhuhuhu—" tubuh telanjang Momo terkapar di atas telapak tangan Nikki yang bersarang di meja sebagai penopang. Diam-diam Polo menarik buntut Momo dan menjauhkan tubuhnya dari tangan Nikki.

"Jangan salahkan aku—sebagai kakak aku hanya menuruti kemauan Nikki yang ingin cheese fondue."

"Tapi kan kau bisa pilih restoran lain yang menyediakan cheese fondue dan ikan hhuhuhu."

"Duh. Aku tak punya waktu untuk berpikir lebih kompleks. Sori."

"Kau samasekali ngga sori, Nina! Aku tahu kau sengaja memilih restoran ini karena kau masih dendam soal baju Nikki yang bolong gara-gara aku kan?!"

"Sudah-sudah—" Nikki mengambil piring kecil dan menuangkan sedikit cheese fondue di atasnya, "Momo coba dong, rasanya juga seenak ikan kok~"

"NIKKI BOHONG."

"Baiklah, baiklah—rasanya tidak selezat ikan tapi masih enak kok~"

"Hiks."

Masih dalam kondisi yang patah hati, Momo mulai merangkak mendekati piring layaknya musafir yang terdampar di padang sahara dan menemukan oase. Pelan-pelan ia julurkan lidahnya untuk mengecap rasa keju yang masih dipertanyakan.

"…"

"Bagaimana? Enak?"

Pertanyaan Nikki tak perlu dijawab karena dari gelagat yang ditunjukkan oleh Momo setelahnya sudah cukup menjelaskan. Buntut panjang si putih bergoyang dan Momo semakin mendekatkan wajahnya pada piring, menjilat cheese fondue tak pandang situasi.

"Huh. Move on-nya cepat amat." Nina berkomentar tapi tak diindahkan.

"Pelan-pelan Momo, nanti saus kejunya menempel di bulumu." Nikki mengangkat tubuh Momo sedikit, mengusap daerah leher yang ternodai dengan sapu tangannya, membuat Momo mendengkur keenakkan.

"Miaww—"

Polo yang sejak awal memerhatikan hanya bisa terdiam, lalu sengaja menumpahkan sendok saus kejunya di atas dagu.

"Nikki—kejuku juga tumpah." Dan berseru dengan wajah polos.

"Oh—hati-hati, Polo."

Dan Nikki hanya menanggapi singkat. Tanpa inten buruk, atau kesengajaan, fokus Nikki kembali pada Momo yang masih asik menghabiskan cheese fondue-nya.

Polo membatu.

Momo terkekeh dalam hati. Sadar eksistensinya cukup membuat Polo panas di tengah cuaca dingin.

"Hihihihi—tung, kok geli hihihi Nikki!" Momo baru saja menyadari bahwa Nikki sudah tak bermain dengan tubuhnya lagi dan kini sibuk menyantap cheese fondue-nya sendiri.

"Mm? kenapa Momo?"

Sebaris kalimat ringan dan wajah yang sibuk mengunyah membuat Momo sukses memandang Nikki dengan horror. Seraya membelalak.

Keringatnya bercucuran tidak menyenangkan. Patah-patah Momo menoleh, mencari siapa si pemilik tangan yang saat ini sibuk mencubiti bokongnya tanpa rasa bersalah—

Dan wajah sinterklas kesenangan didapatnya.

"MIAWWW! JANGAN PEGANG-PEGANG SEMBARANGAN!"

Momo terpental keras karena skinship yang tak bisa ditolerir—membuatnya nyemplung dengan cantiks di mangkuk cheese fondue Nikki, yang bahkan baru disuap tiga sendok oleh pemiliknya.

"….M-Maaf miaw. M-m-maaf—"

Lutut Momo tak bisa berhenti untuk bergetar hebat.

Hari itu tidak ada yang tahu bagaimana wajah Nikki yang terdiam karena tak ada satupun yang berani menatapnya.

.

.

.

.

.

Das Ende

A/N: Yay, kemunculan Polo di Swiss bikin grup Nikki makin fix rusuh wkwk! Suka, suka banget plot game Nikki sejauh ini huhuhu!