Chapter 2: Short Tour in Mineral Town
Jack membuka pintu dan keluar dari rumah. Dihirupnya udara pagi yang begitu menyegarkan. Kemarin memang sangat melelahkan karena membereskan rumah sendirian. Tapi, itu akan terbayar nantinya, 'kan.
Brown menggonggong kecil melihat majikannya sudah bangun. Jack pun melangkah ke kandang anjing miliknya itu. Dikeluarkannya makanan anjing dari tas punggungnya dan meletakkannya di mangkuk tempat makanan anjingnya. Brown langsung memakannya dengan lahap. Jack cuma bisa melihatnya sambil tersenyum dan mengelus pelan kepalanya.
"Pagi, Jack." Terdengar suara Thomas.
Jack menengok ke belakang dan melihat Thomas sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya. "Pagi, Pak Walikota," sapanya sambil berjalan menghampiri Thomas.
Thomas memandang rumah Jack. "Sudah terlihat bersih, ya. Kau melakukannya sendiri?"
"Ya, siapa lagi," jawab Jack. "Memang agak repot, tapi akhirnya bersih juga."
Thomas mengangguk-angguk.
"Oh, ya. Ada apa Anda datang kemari?" tanya Jack.
"Aku cuma ingin mengajakmu berkeliling Mineral Town," jawab Thomas. "Sebelumnya kau belum pernah melihat Mineral Town secara keseluruhan, 'kan? Apa kau mau?"
"Hmm... Ya, aku memang belum pernah melihat Mineral Town secara keseluruhan, apalagi sekarang sudah 10 tahun berlalu," sahut Jack. "Baiklah, aku mau."
"Baguslah... Mari kita pergi."
Jack dan Thomas pun mulai keluar dari Jack's Farm. Sebelum pergi, Brown diminta untuk tetap di kebun saja. Entah anak anjing itu mengerti atau tidak. Tapi, kelihatannya dia mengerti karena langsung pergi berlari keliling kebun seolah mengatakan dirinya akan tetap di kebun selama Jack pergi.
Thomas berhenti berjalan, diikuti oleh Jack, tepat di persimpangan jalan yang ada di samping perkebunan Jack. "Kalau kau melewati jalan ini kau akan menemukan Poultry Farm, tempat penjualan ayam beserta pakannya," jelasnya.
Lalu, mereka menuruni tangga dan berhenti di depan rumah pandai besi, Saibara Shop.
"Ini adalah tempat di mana kau bisa meng-upgrade peralatan pertanianmu atau meminta dibuatkan peralatan apapun yang menggunakan logam. Si pandai besi yang tinggal di sini begitu ahli dalam mengolah logam," jelas Thomas.
"Oh," sahut Jack. "Kebetulan peralatan milik kakekku sudah agak rusak. Kurasa aku akan memperbaikinya dulu di sini."
Mereka melanjutkan ke rumah yang ada di sebelah. Terdapat kebun anggur di samping rumah tersebut, tapi tidak ada anggurnya karena memang bukan musimnya.
"Ini kilang anggur, Aja Winery. Wine dan jus anggur di tempat ini merupakan yang paling bagus di sini. Saat panen anggur nanti biasanya suka dibutuhkan pekerja untuk membantu panen. Kau bisa ikut membantu bila kau mau," jelas Thomas.
Jack cuma mengangguk mengerti.
Selanjutnya mereka berjalan ke perumahan yang ada di persimpangan jalan. Ada beberapa rumah yang berjejer di sana.
"Ini adalah Perpustakaan," kata Thomas sambil menunjuk rumah kedua. "Di sini kau bisa menemukan banyak informasi tentang berkebun atau apapun yang kau ingin ketahui tentang Mineral Town lebih jauh. Semuanya ada di sini."
Jack mengangguk saja. Dilihatnya rumah yang pertama yang berdempetan dengan Perpustakaan. Kelihatannya itu adalah rumah si penjaga perpustakaan, pikirnya. Lalu, dia melihat rumah satu lagi yang bersebelahan dengan Perpustakaan. Menurutnya itu rumah penduduk lokal.
Mereka berdua lanjut lagi ke tempat berikut. Saat mereka melewati rumah ketiga, seorang nenek keluar dari rumah tersebut.
"Oh, Thomas. Selamat pagi," sapanya.
Jack dan Thomas berbalik.
"Oh, selamat pagi, Ellen," sapa Thomas.
"Apakah itu pemuda yang kau maksud akan mengolah perkebunan di sana itu?" tanya si nenek yang dipanggil Ellen itu.
"Ya, namanya adalah Jack," jawab Thomas. "Jack, perkenalkan, ini Ellen. Dulu dia adalah seorang perawat. Dia sekarang tinggal bersama cucunya," ucapnya pada Jack.
Jack membungkukkan badannya. "Senang bertemu dengan Anda, Nenek Ellen."
"Senang juga bertemu denganmu," sahut Ellen. "Kau pemuda yang sopan dan ramah, ya," pujinya.
"Ah, biasa saja," kata Jack tersipu malu sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kami permisi dulu, ya, Ellen," pamit Thomas. "Masih ada beberapa tempat yang harus kami kunjungi dulu."
"Oh, begitu. Kalau begitu sampai jumpa lagi, Thomas dan ng... Jack."
Mendengar namanya agak lama disebut, Jack beranggapan kalau Ellen sudah pikun. Yah, namanya juga manula. Dirinya pun pasti akan begitu nantinya bila tua nanti. Tapi, semoga saja dia tidak menjadi orang yang pelupa saat ini.
Setelah pamitan dengan Ellen, Jack dan Thomas kembali berjalan ke rumah di sebelahnya.
"Ini adalah rumahku. Aku tinggal bersama anakku, Harris si polisi dan seorang fotografer, Kano. Bila kau butuh bantuan datang saja ke rumahku. Mungkin aku dapat membantumu," jelas Thomas.
"Tentu saja, Pak Walikota," sahut Jack.
Perjalanan terus dilanjutkan ke tempat berikut di dekat pertigaan jalan. Rumah selanjutnya terlihat cukup besar bila dibandingkan dengan rumah sebelumnya. Modelnya pun agak berbeda.
"Ini Supermarket, tempat di mana kau bisa membeli berbagai bibit untuk setiap musimnya. Di sini juga menjual beberapa keperluan lainnya," jelas Thomas.
"Ternyata Suermarket. Pantas terlihat beda," kata Jack.
Mereka kemudian berjalan ke rumah yang ada di sebelahnya lagi. Terdapat papan dengan tulisan yang cukup besar bertuliskan "Klinik". Sudah pasti tui tempat berobat.
"Kalau kau sakit, datang saja ke Klinik ini. Tapi, kuharap kau tidak terlalu memaksakan diri dalam bekerja," kata Thomas cemas.
"Ya, aku akan selalu menjaga kondisiku," sahut Jack.
"Kalau kau lurus saja, di sana ada gereja. Pasturnya agak aneh, tapi dia orang yang baik," kata Thomas sambil menunjuk.
Terlihat ada bangunan besar di sana. Tapi mendengar kalau pasturnya agak aneh, Jack jadi merasa tidak ada niat untuk ke sana.
"Ayo, lanjut lagi," ajak Thomas.
Mereka berdua kembali berjalan ke jalan persimpangan. Dari jauh saja terlihat bangunan yang sangat besar. Mungkin yang paling besar di antara semua bangunan yang ada di Mineral Town. Jack agak kagum melihatnya.
"Ini adalah tempat penginapan sekaligus restoran, Inn. Makanan di sini sangat enak. Banyak yang datang berkunjung untuk sekedar istirahat atau berkumpul. Aku juga sering datang ke sini," kata Thomas.
"Besar sekali," kagum Jack, memandang bangunan Inn.
Selanjutnya mereka mendatangi sebuah lapangan besar yang berada di tengah-tengah desa. Kelihatannya tempat itu adalah alun-alun.
"Ini Rose Square. Tempat ini biasanya digunakan untuk acara festival," kata Thomas.
Jack memandang alun-alun itu. Terdapat pola melingkar seperti mawar pada lantainya. Pantas diberi nama "Rose Square".
"Bila kau lurus, kau akan menemukan pantai. Kalau ke kanan kau akan menemukan Yodel Ranch, tempat jual ternak. Bila ke kiri kau bisa langsung menemukan gereja," lanjut Thomas. "Kurasa segini saja yang bisa kujelaskan padamu. Mari kita kembali," ajaknya.
Jack danThomas lalu berjalan kembali ke Jack's Farm.
"Oh, ya. Pak Walikota, aku ingin tanya. Kenapa desa ini disebut Mineral Town?" tanya Jack. "'Town' itu 'kan berarti kota."
"Biarpun ini adalah sebuah desa, tapi rasa kekeluargaan di sini terasa sebanyak orang-orang di kota. Itu sebabnya desa ini diberi nama Mineral Town. Jadi, Bukan cuma alam yang begitu kaya yang terdapat di sini, tapi juga rasa kekeluargaan yang begitu besar di sini."
"Begitu...," sahut Jack mengerti. "Aku bisa merasakannya."
Brown masih terlihat sibuk berlari-lari mengejar kupu-kupu saat mereka tba.
"Berkelilinglah bila kau ada waktu, Jack," pesan Thomas. "Oh, aku sampai lupa. Di gunung ada Gotz si tukang kayu. Bila kau membutuhkan bantuannya untuk memperbaiki rumah atau kandangmu, datang saja padanya."
"Aku mengerti," sahut Jack.
"Kalau begitu aku permisi dulu. Semoga kau betah di sini. Sampai jumpa." Thomas kemudian berjalan pergi.
"Sampai jumpa," sahut Jack sambil melambaikan tangan.
Jack tidak menyangka kalau Mineral Town ternyata cukup luas juga. Habis sebelumnya dia cuma bermain di sekitar kebun kakeknya dan juga di gunung.
Setelah Thomas tidak lagi terlihat, Jack berniat masuk ke rumahnya. Tapi, seorang pria berbadan besar datang. Wajahnya agak terlihat garang.
"Hai," sapa pria itu.
"Hai juga," sapa Jack, agak terkejut dengan kedatangannya.
"Perkenalkan, aku Zack si pembeli. Aku yang akan membeli semua hasil kebunmu untuk dijual di kota. Aku tinggal di pantai," ujarnya, memperkenalkan diri. "Kau lihat kotak yang di sana itu," dia menunjuk kotak yang ada di samping rumah Jack. "Letakkan saja barang daganganmu di sana. Setiap jam 5 sore nanti aku akan datang memeriksanya dan membayarmu sesuai dengan harga setiap barang yang kau letakkan di sana. Tapi, aku tidak akan datang di hari minggu dan saat festival karena aku juga butuh istirahat. Hahaha..." Zack terdengar sedang bercanda. Ternyata dia juga punya selera humor. Tapi, kemudian wajahnya kembali normal. "Ha... baiklah, cuma itu yang ingin kukatakan padamu. Sampai jumpa." Dia pun berjalan pergi.
"Ya... sampai jumpa," sahut Jack masih dengan wajah cengo karena melihat kedatangan Zack itu. "Orang-orang di sini bermacam-macam, ya," gumamnya. "Tapi, ini belum semuanya kutemui. Bagaimana yang lainnya, ya?"
Welcome to My Fic! \(^O^)/
Terima kasih banyak bagi yang membaca fic-ku, baik yang juga mereview atau pun tidak. Terutama Domia Ryuugen Chelymystery karena telah repot-repot mereview. Terima kasih atas pujiannya ^^. Sebenarnya aku tidak berharap ceritaku direview. Yang penting ceritaku disukai.
Karena aku masih amatir, makanya fic ini terlihat kurang menarik. Maaf, ya, bila ceritanya memang terasa benar-benar mengikuti jalan cerita di game-nya. Karena prinsipnya memang begitu. Tapi, tidak semua event-nya sama, kok, dengan di game. Ada yang sedikit diubah. Cuma dikit. Hehe...
Biarpun chap awal dan yang ini pendek, tapi chap berikutnya cukup panjang (menurutku).
Sekali lagi terima kasih telah membaca ^^.
~Princess Fantasia~
