The Destiny

Summary:: Takdir yang harus Kyuhyun dan Sungmin lalui kini tengah mempermainkan mereka. Kehidupan dan cinta mereka yang seharusnya berakhir bahagia, kini telah diubah menjadi hal yang sangat rumit. Tugas berat bagi cupid Leeteuk dan cupid Kangin yang harus diselesaikan dengan tuntas.

Pair:: Kyumin, Zhoury, Kangteuk and other

Rated:: T

Genre:: Romance, sedikit Humor

Annyeong~ Author balik lagi~ Sepertinya FF yang satu ini kurang memuaskan ya? Author usahain memuaskan deh.. ^^

Oh ya, author bingung menentukan marga pemeran-pemeran di FF ini, jadi anggap saja orang tua Sungmin dan Kyuhyun bermarga Lee dan Cho.

Wookie! Kita mulai..

Enjoy~ ^^

~#~#~#~#~#~#~#~#~

"Minnie-ah, jaga dirimu baik-baik ya. Belajarlah dengan sungguh-sungguh disana, dan jaga adikmu baik-baik ya. Dan jangan lupa beri kabar jika kau sudah sampai di Canada. Dan jangan lupa juga sampaikan salam appa dan eomma untuk Henry." Kata eomma Sungmin yang dikenal dengan nama Jaejoong seraya menahan air matanya.

"Ne, jaga dirimu baik-baik, Minnie-ah." Ujar appa Sungmin, Yunho.

"Ne, eomma, appa. Eomma, jangan menangis dong. Eomma kan namja, malu dong kalau nangis seperti ini." Sungmin mengusap mata Jaejoong pelan dan tersenyum manis kearah eommanya itu.

"Appa juga harus jaga eomma dan diri appa sendiri ya, jangan sampai kecapekan kerja. Ne, aku berangkat dulu, sampai jumpa." Setelah memeluk eomma dan appanya, Sungmin pun berjalan memasuki area penerbangan.

~#~#~#~#~#~

"Kyu, jaga kesehatan dan rajinlah belajar ya. Jadi anak yang baik ya." Appa Kyuhyun yang bernama Hangeng mengusap kepala Kyuhyun pelan. "Ne, jangan merepotkan keluarga Zhoumi ya." Ujar Heechul, eomma Kyuhyun. "Ne, eomma, appa. Tidak belajar pun aku sudah pintar." Ujar Kyuhyun bangga.

"Huh, dasar sombong. Kau bisa pintar juga karena keturunan dari eommamu ini." Balas Heechul. "Ani. Kyu bisa pintar karena turunan dari appanya." Ujar Hangeng sambil menunjuk dirinya sendiri. "Hah, sudah, sudah. Aku berangkat dulu appa, eomma. Annyeong."

"Eehh, Kyu tunggu! Kau yakin bisa pergi sendiri? Kau ini kan masih kecil. Eomma tidak tega membiarkanmu pergi sendiri. Bagaimana kalau kau diculik saat sampai dibandara? Setelah diculik, lalu kau dimutilasi dan dimasak menjadi sup? Aisshh! Eomma tidak sanggup membiarkanmu pergi sendirian." Heechul mencengkram bahu Kyuhyun, seolah tidak membiarkan Kyuhyun pergi.

Sedangkan Kyuhyun dan Hangeng sweatdrop mendengar kata-kata berlebihan dari Heechul. "Kenapa eomma berkata seperti itu? Eomma ingin aku benar-benar diculik dan akan dimasak menjadi sup?" tanya Kyuhyun. "Tentu saja tidak, bodoh!" Heechul memukul pelan kepala Kyuhyun.

"Sudahlah, Chullie. Kyu pasti bisa pergi sendiri kok. Lagian dia hanya perlu masuk dan duduk di pesawat lalu turun dan menunggu jemputan dari Zhoumi." Ujar Hangeng yang berusaha melepaskan cengkraman Heechul pada Kyuhyun agar Kyuhyun segera berangkat.

"Aisshh, baiklah. Segera hubungi eomma kalau kau sudah sampai di China, ya"

"Ne, kalian jagalah diri baik-baik. Annyeong!" Setelah cipika-cipiki dengan eomma dan appanya, Kyuhyun pun berjalan sambil menyeret kopernya kedalam area penerbangan.

#Canada#

"Ukh, si mochi ada dimana sih? Kok gak ketemu dari tadi." Gumam Sungmin seraya celingak-celinguk untuk mencari seorang bocah berumur 11 tahun, Henry, namdongsaeng Sungmin.

Sungmin telah sampai di bandara Canada dan sedang menunggu Henry yang berjanji akan menjemputnya.

"Lee Sungmin, Lee Sungmin, Lee Sungmin! 3 seribu, 3 seri- eh salah, Lee Sungmin dari Seoul." Seru Henry lantang.

"Mochi!" panggil Sungmin, ia langsung berjalan cepat kearah dongsaengnya itu.

"Mochi! Aigoo~ Kau sudah banyak berubah. Semakin mirip mochi saja, hihihi." Sungmin mencubit-cubit kecil pipi Henry, gemas dengan dongsaengnya yang semakin tembem itu.

"Mmm, kau Lee Sungmin?" tanya Henry memastikan.

"Ya! Hanya berpisah selama 7 tahun saja kau sudah melupakan hyungmu yang paling tampan ini." Ujar Sungmin. "Tampan? Tampan dilihat darimana? Kita berdua itu tidak ada yang mirip dengan wajah appa, yang ada kita tuh mirip wajah eomma makanya jadi unyu-unyu dan manis begini. Haahh~ Andai saja wajahku ini mirip dengan appa, aku pasti jadi namja tertampan di Seoul." Ujar Henry yang lebih mirip dengan curhat.

"Kalau aku sih terima-terima saja. Sudahlah, ayo antar aku ke rumahmu. Kau masih tinggal dengan Park ahjumma?" tanya Sungmin sambil berjalan mengikuti langah Henry yang berjalan didepannya.

"Tentu saja, kalau aku tidak tinggal dengan ahjumma lalu aku tinggal dengan siapa? Aku kan masih kecil, tidak mungkin kan kalau mencari nafkah dan membiayai hidup sendiri. Hyung ini aneh." Jawab Henry yang masih terus berjalan tanpa menoleh kearah hyungnya.

"Lalu sekarang kita mau kemana? Pulangnya naik apa?" Tanya Sungmin saat mereka sudah keluar dari area bandara.

"Naik papan seluncur. Naik mobil dong, hyung. Park ahjumma yang akan mengantar kita pulang, Park ahjussi sedang ada rapat dikantornya, jadi tidak bisa mengantar kita." Jawab Henry.

Henry berhenti tepat disamping sebuah mobil mewah. "Ini mobil ahjumma, ayo naik." Henry lalu membuka pintu mobil dan mempersilahkan hyungnya naik ke jok depan. "Annyeong, ahjumma." Sapa Sungmin pada seorang namja yang dipanggil dengan sebutan Park ahjumma. Park ahjumma adalah namdongsaeng kandung dari Jaejoong, eomma Sungmin dan Henry.

"Annyeong, Minnie-ah. Aigoo~ Kau sudah besar, ya. Sekarang umurmu berapa?" tanya Park ahjumma yang bernama Park Junsu.

"Umurku 14 tahun, ahjumma." Jawab Sungmin sopan. "Oh, kau masih ingat dengan Changmin?"

Sungmin mengerutkan alisnya, sepertinya ia lupa dengan seseorang yang bernama Changmin itu.

"Changmin? Nuguya?"

"Hyung lupa? Changmin itu anak dari Park ahjumma dan ahjussi, sepupu kita. Ituloh, Changmin yang matanya akan berbinar jika sudah berhadapan dengan makanan." Kata Henry yang berusaha untuk memancing ingatan Sungmin.

"Sudah 7 tahun berlalu, jelas saja Minnie lupa." Junsu tertawa kecil melihat Sungmin yang berusaha keras memutar otaknya untuk mengingat seseorang yang bernama Changmin itu.

"Changmin? Aisshh, sepertinya aku tidak bisa mengingatnya sebelum melihat wajahnya."

"Aigoo~ Hyung ini masih muda tapi sudah pikun. Eomma pasti akan stress kalau tahu bahwa anak tertuanya ini sudah pikun." Ucap Henry asal.

"Ya! Enak saja, aku tidak pikun, tahu! Ahjumma, yang tinggal dirumah ahjumma ada berapa orang?" Sungmin mengalihkan perhatiannya dari Henry ke Junsu yang sedang fokus dengan acar menyetirnya.

"Umm, jika ditambah dengan Minnie maka dirumah ada 5 orang." Jawab Junsu.

"Oh, mianhae kalau Minnie hanya menambah kepadatan penduduk di Canada dan rumah ahjussi. Kalau saja Minnie tidak nakal saat berada di Seoul, Minnie pasti tidak akan merepotkan ahjumma dan ahjussi."

"Hahaha. Kau ini lucu sekali, Minnie-ah. Ani, kau tidak merepotkan kok. Pasti dirumah akan semakin ramai, lalu Henry dan Changmin pasti tidak akan kesepian lagi. Ya 'kan, Henry?" Junsu menoleh sekilas ke jok belakangnya, tempat dimana Henry duduk, lalu kembali fokus ke jalanan.

"Ne, aku dan Changmin hyung pasti tidak akan kesepian lagi." Sungmin hanya tersenyum. 'Mungkin tinggal disini bukanlah hal yang buruk.' Pikir Sungmin.

"Oh ya, ahjumma bisa tolong hubungi eomma dan katakan kalau Minnie sudah sampai di Canada? Aku takut eomma dan appa akan khawatir jika tidak memberi kabar pada mereka." Junsu tersenyum seraya mengangguk. "Ne, ahjumma akan menghubungi appa dan eomma kalian."

"Gomawo, ahjumma." Sungmin tersenyum puas lalu kembali memandangi jalanan kota dari dalam mobil.

"Nah, sudah sampai. Ayo turun, tas dan koper Minnie biar ahjumma yang bawa masuk. Kalian masuklah duluan." Henry segera memasukkan PSP yang sedaritadi ia pegang kedalam sakunya dan turun dari mobil. Sungmin juga turun dari mobil setelah sebelumnya melihat sekilas rumah yang akan ia tempati.

Rumah yang besar namun berkesan klasik dan desain rumahnya juga tidak terlalu mencolok atau bisa dibilang rumah mewah namun terkesan sederhana.

"Rumah ahjumma bagus." Ujar Sungmiin sambil mengikuti langkah Henry memasuki rumah itu. "Dan nyaman." Tambah Henry.

"Lalu, bagaimana dengan rumah kita? Ada yang berubah?" tanya Henry ketika mereka sampai diruang tamu yang ada dirumah itu. Seingat Henry, dulu rumahnya yang ada di Seoul itu bergaya klasik juga, hampir mirip dengan rumah Junsu yang ada di Canada ini.

"Ya, sedikit perubahan. Kapan-kapan kau pulanglah ke Seoul, appa dan eomma sudah sangat merindukanmu. Oh ya, mereka juga menitipkan salam untukmu, eomma dan appa bilang kau harus jaga kesehatan." Sungmin mendudukkan dirinya disofa yang ada diruang tamu itu.

"Ne, aku akan selalu jaga kesehatan kok. Aahhh~ Aku juga sangat merindukan appa dan eomma, bagaimana kabar mereka, hyung?" Henry juga mendudukkan dirinya disofa, disamping hyungnya.

"Mereka baik-baik saja kok. Oh ya, ahjumma kok belum masu-"

"Sungminnie hyung?" panggil seseorang yang memotong perkataan Sungmin. Sungmin yang merasa dipanggil pun segera menoleh kearah suara itu.

Sungmin merasa tidak asing dengan wajah seseorang yang berumur 12 tahun itu. Saat otak dan ingatan Sungmin selesai dari prosesnya, ia langsung melebarkan matanya. Sepertinya baru mengingat sesuatu yang penting.

"Ah! Changminnie!" seru Sungmin yang langsung melompat kearah Changmin dan merangkul pundak namja yang lebih muda darinya itu.

"Akhirnya hyung ingat juga." Ujar Henry.

"Lupa? Kau melupakanku, hyung?" tanya Changmin dengan tampang tidak percaya. "Iya tuh, daritadi aku sudah berusaha mengingatkan ingatannya yang karatan itu tentangmu, tapi Minnie hyung tetap saja tidak bisa mengingatmu." Jawab Henry santai tanpa menghiraukan deathglare yang dilemparkan oleh hyungnya itu.

"Kukira kau tidak akan pernah melupakanku, padahal aku ini kan sepupu dekat sekaligus sahabatmu, hyung."

"Hehehe, mian. Soalnya kita berpisah sudah cukup lama sih. Bagaimana kabarmu, Changminnie? Baik saja kan?"

"Yup! Seperti yang hyung lihat saat ini."

Dan perbincangan antara Sungmin, Changmin dan Henry pun terus berlanjut.

.

.

.

# China #

Saat ini Kyuhyun telah sampai diChina dan sedang menunggu sepupunya untuk menjemputnya. "Ukh, si Zhoumi itu kok lama sekali sih datangnya? Apa dia lupa menjemputku?" Kyuhyun mulai gelisah karena terlalu lama menunggu sepupunya itu.

"Ck, bagaimana kalau yang dikatakan eomma itu benar? Karena kelamaan menunggu Zhoumi disini, tiba-tiba ada yang menculikku lalu memutilasi aku, lalu memasakku menjadi sup. Aisshh! Ani, ani! Mana mungkin itu terjadi." Gumam Kyuhyun sambil menghela nafasnya.

'Hiiyy! Kenapa semua orang yang lewat disini memandangku dengan pandangan aneh?' pikir Kyuhyun yang mulai risih dengan pandangan orang-orang yang kebetulan lewat didekat Kyuhyun

Tentu saja mereka memandang Kyuhyun dengan pandangan aneh, mereka semua mengira Kyuhyun adalah seorang anak kecil yang terpisah dari ibunya.

'Jangan bilang kalau mereka mendangiku begitu karena ingin menculikku.' Pikir Kyuhyun. tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pelan pundak Kyuhyun dari belakang.

"Huwaaa! Ampuuun! Jangan culik aku! Aku belum siap untuk dijadikan sup daging!" seru Kyuhyun sambil jongkok dan menutup kedua telinganya. Orang-orang yang berlalu lalang disana pun memberikan tatapan tajam pada orang yang menepuk pundak Kyuhyun tadi.

"Hei! I-ini aku, Kyu. Zhoumi." Ujar seseorang itu yang ternyata adalah Zhoumi. Kyuhyun yang mendengar kalau itu adalah Zhoumi pun langsung berdiri dan membalikkan badannnya mengahadap kearah Zhoumi.

"Ya! Kau mengagetkanku saja!" seru Kyuhyun kesal sambil memukul pelan lengan namja yang lebih tua dan lebih tinggi darinya itu. "Hehehe, mianhae. Tapi justru kau yang membuatku kaget. Kenapa kau mengataiku penculik? Gara-gara kau berkata seperti itu, semua orang jadi menatapku dengan tatapan menusuk, tau!" kali ini gantian Zhoumi yang kesal.

"Mana kutahu kalau itu kau, kukira kau itu penculik. Ck, ini semua gara-gara perkataan eomma. Kalau saja dia tidak berkata seperti itu, aku pasti tidak akan berpikiran seperti itu."

"Hee? Memangnya eommamu berkata apa?" tanya Zhoumi penasaran. "Aniyo, ayo antarkan aku kerumahmu. Aku sudah sangat lelah. Ahjumma dan ahjussi ada dirumah kan?" tanya Kyuhyun sambil berjalan mengikuti langkah Zhoumi yang ada didepannya.

"Eomma ada dirumah dan appa sedang ada dikantor, katanya sih ada tamu istimewah dari Jepang." Jawab Zhoumi. "Ohh, lalu kita pulang dengan apa?"

"Eomma sedang menunggu didepan bandara, eomma mengendarai mobil."

"Naik mobil? Kalau tadi kau naik mobil kesini, kenapa jemputnya telat?"

"Mianhae, tadi jalanan macet. Kajja!"

.

.

Skip Time~ Pagi harinya~

#Canada#

Sapphire High School

_Sungmin POV_

Saat ini sedang jam istirahat dan aku sedang duduk dikantin bersama dongsaengku dan sepupuku, Henry dan Changmin. Kulihat Henry makan dengan tenang dan sejahtera, beda dengan Changmin yang makan dengan lahap dan sudah menghabiskan sekitar 3 piring spaghetti, wow!

Sedangkan aku hanya meminum sejenis minuman -yang entah apa namanya- sambil memandang sekelilingku. Siswa-siswi yang sedang bercanda gurau sepertinya sangat bahagia bersekolah disini.

Memang sedikit susah belajar di Canada karena bahasa internasional yang harus aku pakai untuk mengakrabkan diri dengan teman-teman baruku.

Sekolah ini merupakan salah satu sekolah terbaik yang ada di Canada dan merupakan sekolah yang paling banyak diminati para siswa maupun siswi. Jika sudah dikatakan paling banyak diminati berarti sekolah ini memiliki jumlah murid yang banyak, bukan?

Ya. Kuakui, sekolah ini sangatlah ramai dan siswa-siswinya pun sangat mudah akrab dengan orang baru sepertiku. Tapi entah perasaanku saja atau apa, aku merasa sekolah ini sangatlah membosankan. Bukan, bukan berarti aku tidak punya teman atau sekolah ini membosankan, tapi justru sebaliknya.

Sekolah ini sangatlah menyenangkan seperti yang dikatakan dongsaeng dan sepupuku, dan dalam waktu yang singkat aku sudah mendapatkan banyak teman yang menyenangkan untuk diajak berbincang.

Tapi tidak tahu kenapa aku merasa sedikit hampa. Kesepian mungkin? Ya, aku merasa kesepian dan juga… kehilangan seseorang. Aku merindukan seseorang. Seseorang yang selalu membuat suasana disekolahku yang dulu terasa ramai.

Seseorang? Tapi siapa? 'Dia' kah seseorang itu? Sepertinya bukan, aku tidak akan pernah merindukan 'dia'. Hanya buang-buang tenaga saja untuk merindukan dan merasa kehilangan seorang Cho gila itu.

Ingat Sungmin, dia itu musuhmu. Kau tidak boleh memikirkannya. Mulai sekarang, kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.

Mungkin aku hanya merasa merindukan eomma dan appa. Selama ini 'kan aku tidak pernah berpisah dari mereka, jelas saja aku merindukan mereka.

"Haaahhh~" Entah sudah ke berapa kalinya aku menghela nafas hari ini, ada sesuatu yang mengganjal perasaanku. Rasanya sangat tidak nyaman.

"Hyung kenapa sih? Kok daritadi menghela nafas terus? Bosan?" Oke, sekarang aku tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan dari Henry.

"Hhh, ani. Aku hanya merasa merindukan seseorang saja, rasanya sangat sepi." Akhirnya aku memutuskan untuk mengatakan perasaan yang mengganjal ini.

_Sungmin POV End_

"Sepi? Hyung kesepian karena meninggalkan sesuatu yang penting yang selama ini selalu menemani hyung saat di Seoul, ya?" Tanya Changmin yang mengalihkan perhatiannya sejenak dari makanannya itu.

"Hee?" Henry mengangkat sebelah alisnya, tidak mengerti. "Sesuatu yang penting? Tapi sepertinya semua barang-barang pinkku sudah kubawa kok." Ujar Sungmin sambil mengingat-ingat barang pink yang ia bawa ke Canada.

"Bukan itu, hyung." Ucap Changmin sambil mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya. "Lalu? Sesuatu yang penting itu ya hanya barang-barang pinkku."

"Maksudku, mungkin hyung meninggalkan pacar hyung yang ada di Seoul makanya hyung merasa kesepian." Changmin kembali memasukkan sesuap spaghetti ke dalam mulutnya.

"Mwo? Hyung sudah punya pacar?" Tanya Henry. "Aisshh, kalian ini masih kecil tapi sudah pandai bicara tentang pacar-pacaran. Aku tidak punya pacar kok." Sungmin menyeruput minumannya yang tidak tahu kenapa semakin diminum rasanya semakin aneh.

"Halaahh~ Jujur saja, hyung~" Goda Changmin. "Changmin hyung, mungkin saja Minnie hyung hanya rindu dengan eomma dan appa. Minnie hyung kan juga masih kecil, mana mungkin bisa punya pacar." Kata Henry dengan polosnya.

"Bisa saja 'kan? Buktinya anak kelas sebelah sudah banyak yang pacar-pacaran. Ckckck, anak jaman sekarang, kecil-kecil sudah pacaran." Ujar Changmiin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Min, memangnya kau bukan anak jaman sekarang?" tanya Sungmin.

"Oh iya." Jawab Changmin tenang seraya kembali menyantap makanan kesayangannya. "Hyung sudah makan berapa piring spaghetti?" tanya Henry pada Changmin yang sedang asyik dengan spaghettinya. "Aku saja yang hanya makan satu piring sudah sangat kenyang." Lanjut Henry.

"Entahlah, mungkin yang sudah 4 piring." Changmin membalikkan sendok dan garpu yang tadi ia pakai, pertanda bahwa ia sudah selesai makan. "Yosshh! Kurasa acara makan-makannya sudah selesai, sebentar lagi jam istirahat akan selesai." Ujar Changmin seraya berdiri dari bangkunya.

"Sudah mau kembali kekelas?" tanya Sungmin yang juga ikut berdiri, Henry juga berdiri dari bangkunya.

"Yup! Pelajaran berikutnya adalah pelajaran si guru killer. Kalau sampai terlambat masuk kekelas, aku bisa dicekik olehnya." Jawab Changmin sambil berjalan santai menuju kelasnya yang diikuti oleh Henry dari belakang.

Henry membalikkan badannya hendak menyuruh Sungmin untuk berjalan lebih cepat. Tapi ia mengurungkan niatnya saat melihat Sungmin berjalan dengan lesu dan dengan tatapan kosong, ia hanya berdiri menunggu Sungmin menghampirinya.

"Hyung kenapa? Ada masalah? Tidak suka bersekolah disini?" tanya Henry yang kembali berjalan saat Sungmin sudah berjalan disampingnya. Sedangkan Changmin, ia sudah memasuki kelasnya.

"Ani, hyung suka kok sekolah disini. Gwaenchana, tidak usah khawatir." Sungmin mengacak pelan rambur bocah berumur 11 tahun itu. "Yakin?"

"Ne." Sungmin mengangguk sambil menunjukkan senyumnya untuk meyakinkan dongsaengnya.

"Masuklah." Ujar Sungmin saat mereka sudah sampai didepan kelas Henry.

"Ne, hyung juga kembali kekelas ya." Setelah mengatakan itu, Henry pun masuk kedalam kelasnya.

'Haahhh~ Sepertinya aku harus membiasakan diri dengan suasan seperti ini.' Pikir Sungmin yang sedang berjalan pelan menuju kelasnya.

"Benar-benar berpisah. Jarak mereka berdua sangat jauh, aku tidak yakin kali ini mereka bisa bersama." Ujar seorang malaikat dengan sayap hitam pekat yang sedang memandang kearah Sungmin. "Ani, aku tidak sanggup melihat mereka berpisah lagi. Cukup 2 kali saja mereka menderita dan terpisah terus, jangan ada yang ketiga kalinya. Mereka harus bersatu, Kangin-ah." Kata seorang malaikat dengan sayap putih bersih, Leeteuk.

"Tugas kita kali ini lebih berat dari yang sebelumnya." Ucap Kangin seraya mengembangkan sayapnya, siap untuk terbang. Leeteuk juga ikut mngembangkan sayapnya. "Ya, aku akan berusaha keras demi mereka berdua." Lalu kedua malaikat itupun terbang meninggalkan Sungmin yang sudah masuk kedalam kelasnya.

.

.

.

#China#

SJM High School

"Ukkhh, pelajaran tadi benar-benar membuatku pusing." Keluh Kyuhyun saat ia dan Zhoumi menduduki salah satu meja makan yang ada di kantin.

"Hahaha, kau hanya belum terbiasa." Jawab Zhoumi yang sedang melihat daftar menu makanan yang ada di kantin itu.

"Belum terbiasa? Bahasa yang ia pakai untuk menjelaskan pelajaran saja aku tidak mengerti, bagaimana aku bisa terbiasa?" Kyuhyun menghela nafasnya saat mengingat saat pelajaran Kimia yang sedang berlangsung. Pelajaran yang dijelaskan oleh gurunya sama sekali tidak masuk ke otaknya.

Kyuhyun hanya mengerti beberapa kalimat saja yang dikatakan oleh gurunya tadi, karena dulu Kyuhyun pernah belajar bahasa Mandarin dengan ayahnya yang berketurunan China. Untung saja Zhoumi bisa berbahasa Korea, sehingga memudahkan Kyuhyun untuk berkomunikasi dengannya.

"Kau mau makan apa, Kyu?" tanya Zhoumi sambil menyerahkan daftar menu yang tadi ia pegang pada Kyuhyun.

Kyuhyun menerima daftar menu itu, namun sedetik kemudian ia mengembalikkan kertas daftar menu itu pada Zhoumi. "Aku tidak mengerti dengan tulisan itu." Kata Kyuhyun.

"Oh iya, aku lupa. Aku bacakan saja ya menu makanannya."

"Tidak perlu, aku ikut apa yang kau makan saja." Jawab Kyuhyun. "Baiklah." Zhoumi berdiri dan berjalan menjauh untuk memesan makanan.

'Huuhh~ Membosankan. Padahal dikantin ini sangat ramai, tapi kenapa aku merasa sangat kesepian, ya?' pikir Kyuhyun.

Kyuhyun menelungkupkan kepalanya dimeja. "Aku merindukanmu." Gumam Kyuhyun pelan, namun sedetik kemudian ia langsung mengangkat kepalanya dengan wajah terkejut.

'Apa yang kukatakan tadi? Merindukannya? A-aku tidak mungkin merindukan si kelinci menyebalkan itu 'kan? Aisshh, aku sudah gila!' Kyuhyun mengacak-acak rambutnya dengan kasar.

"Hei, anak kecil! Kenapa mengacak-acak rambutmu seperti orang gila saja?" tanya Zhoumi sambil memukul pelan kepala Kyuhyun setelah sebelumnya meletakkan makanan mereka dimeja.

"Aku tidak gila, Mi. dan lagi, siapa yang anak kecil?" tanya Kyuhyun dengan wajah kesal. "Kau. Kau masih kecil, Kyu." Jawab Zhoumi sambil memakan makanannya.

"Kau masih kecil. Kau hanya 2 tahun lebih tua dariku, berarti kau juga masih kecil." Kata Kyuhyun yang hendak memakan makanannya.

Tapi saat ia menyadari perkataannya barusan, ia meletakkan kembali sendok yang ia pegang tadi. '2 tahun lebih tua dariku? Bukannya 'dia' juga 2 tahun lebih tua dariku?' pikir Kyuhyun.

Namun sesaat kemudian ia langsung menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran itu dan kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda tadi.

'Aku tidak mungkin merindukannya, dia itu musuhku. Aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.'

~TBC~

Author merasa FF ini kurang seru, tapi yasudahlah. Author bocorin sedikit tentang chap depan mau nggak? *Kedip-kedip mata*

Mulai chap depan sudah menceritakan tentang beberapa tahun kemudian setelah mereka pindah dari Seoul, berarti mereka sudah besar dong.

~ Shywona489, Unykyuminmin, Aniya1004, Lee HyeSang, gaeming eternalove, Rima KyuMin, Kazama Yume, kangkyumi, Sung Hye Ah, Chinatsu Kajitani Teukkie, Chikyumin, amniminry, Evilkyu Vee.

Gomawo buat reviewnya. ^^

Oke, akhir kata.

Review, please.. ^^ Gomawo..

m(_ _)m