Yorobun... Aku balik lagi.. Semoga kalian merindukanku.. *guak mungkeeenn* hehe..

Enjoy ya FF abual ini.. Walaupun abual kubuat dengan sepenuh hati loh.. Ampe melimpah2 hatinya.. hehe..

Oiya, di FF ini ceritanyah uke itu bisa hamil kayak perempuan, jadi kalo ada uke hamil di FF ini mah dokternya kagak heran lagi, soalnya udah lumrah gitu.. Ini FF M-Preg pertama sayah, jadi kalo jelegg bin abual bin gajehh bin lebai atau apalah pendapatmuh tentang ini, ya terserah deh.. Sekali lagi aku ingetin DONT LIKE DONT READ. No bashing, no war, aku cinta damai dan aku bukan teroris *?* Enjoy ya.. Aku capek bikin disclaimer, soalnya kan kalian udah maklum aja kalo Lee Sungmin punya saya.. *oke, oke, saya becanda. Mohon hentikan kegiatan mengasah pisau anda*

Enjoyy...


"My heart still doesn't change.. Please come back to me.."

E-mail itu datang lagi. Dari orang yang sama. Yunho lagi. Aku memejamkan mataku, kembali merasakan sakit menusuk-nusuk hatiku. Sakit di setiap jantungku memompakan darah keluar lewat arteri, begitupun saat darah itu masuk kembali ke jantung lewat vena.

Sakit kenapa? Sakit karena aku juga mencintainya, karena aku harus berusaha mengabaikan hatiku yang susah payah memanggil-manggil namanya. Aku tau itu, tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa agar aku bisa bersamanya. Karena dia tidak pantas memilikiku. He doesn't even deserve me. Dan aku benci kenyataan pahit itu.

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, memeluk kedua kakiku hingga lututku hampir bersentuhan dengan dada. Sejujurnya aku bosan dengan kegiatan seperti ini, tiap hari menangis, menangis, menangis lagi. Kenapa sebagai laki-laki aku sangat lemah? Aku bahkan tidak bisa untuk sekedar membela diriku sendiri. Pantas saja Jung Yunho membenciku.

Aku benar-benar masih ingat kejadian yang membuatku meninggalkan Yunho. Kejadian itu sudah mencoret nama Yunho selamanya dari hati seorang Kim Jaejoong. Selamanya.

=7 bulan setelah pernikahan=

Aku sudah benar-benar berhenti bekerja, aku tidak ingin memperuncing situasi dengan Yunho. Seperti biasanya, malam ini Yunho pulang larut dan aku menungguinya sambil menonton televisi. Dia akan sangat murka bila aku tidak melakukan hal ini. Sudah hampir jam setengah dua tapi dia masih belum datang juga. Aku mulai mengantuk dan perlahan kurebahkan badanku di sofa sampai akhirnya mataku terpejam.

Tiba-tiba satu sentakan keras mengagetkanku, aku bahkan belum sempat tertidur sepenuhnya. Jung Yunho, suamiku itu sekarang sedang memandangiku dengan tatapan yang mengerikan, seperti akan membunuhku. Berkali-kali aku menelan ludah karena ketakutan, dan aku yakin dengan melihatku begini dia semakin merasa menang atasku.

"Kenapa ummaku bisa tau apa saja yang aku lakukan padamu? Bukannya aku pernah bilang, jangan sampai ada keluarga kita yang tau, atau kau sendiri yang akan merasakan akibatnya. KAU TIDAK INGAT ITU JAE?"

"Aku.. aku.. aku tidak memberitau siapa-siapa, Yun.. Aku.." Yunho melepaskan cengkramannya dari tanganku lalu duduk di sofa. Aku hanya bisa menatapnya heran, kenapa dia tidak memukulku seperti biasanya?

"Kau ingin aku memperlakukanmu seperti istri kan Jae? Itu kan yang kau bilang pada ummaku?" aku tertegun. Suara Yunho melembut, dan.. ada perasaan aneh menyeruak di hatiku, sedikit harapan seperti muncul di jalan yang tengah kulalui bersamanya.

Mertuaku memang datang ke rumah ini tadi pagi tanpa memberitau terlebih dahulu. Dia bilang dia ingin melihat kondisi rumah tangga putranya satu-satunya, dan tentunya aku yang dia sayangi bagaikan anak kandung sendiri. Tapi yang dia dapati bukanlah seperti yang dia harapkan. Dia mendapatiku dengan lebam di wajah, lingkaran hitam di sekeliling mata, dan pipi yang semakin tirus. Tanpa harus diberitaupun mertuaku itu sudah tau apa yang terjadi padaku. Bagaimanapun dialah yang paling tau siapa Jung Yunho, seperti apa perangainya, bagaimana caranya melampiaskan emosi. Tanpa harus berceritapun mertuaku itu sudah tau kalau Yunho-lah yang menyebabkan kondisiku se-menyedihkan ini.

"Aniyo.. Aku tidak pernah bilang begitu.." aku memang tidak pernah mengadukan apa-apa. Selama sejam penuh mertuaku di sini, dan ajaibnya kami tidak mengatakan apapun. Mertuaku itu sepertinya sibuk dengan pikirannya sendiri, sibuk menganalisa apa yang sebenarnya pernah terjadi di rumah ini dengan melihat situasi sekitar, mirip seorang detektif.

Yunho menengadah menatapku yang masih berdiri. Dia lalu menarik tanganku dengan kasar sampai aku terduduk di sebelahnya.

"Kau dapat apa yang kau mau, Jae.. Aku akan memberikanmu apa yang kau minta. Tapi jangan salahkan aku kalau caraku tidak sama dengan cara yang kau harapkan.." perasaanku mulai tidak enak. Nada sedingin es itu terasa sangat menghantuiku, sampai membuat berdiri bulu kudukku.

Dengan satu gerakan cepat Yunho merengkuh kepalaku lalu menekan bibirnya ke bibirku. Bukan gerakan yang lembut, tapi lumatan yang kasar dan perih. Dia mabuk berat, aku bisa merasakan alkohol dari bibirnya. Semakin lama semakin sakit dan tekanannya semakin kuat. Aku mencoba sekuat tenaga untuk lepas dari Yunho, tapi lalu aku sadar kalau kekuatannya bukanlah tandinganku. Aku menyerah, aku membiarkannya melakukan apapun yang ingin dia lakukan pada tubuhku. Toh aku sudah terbiasa dengan rasa sakit di tubuh maupun di hatiku. And that night, I lost my virginity for him. He 'rapes' me. With no love at all. Sakit, dalam artian yang sebenarnya, sampai di akhirnya aku kehilangan kesadaranku.

=3 weeks later=

Aku membuka mataku, rasanya lemas. Aku pingsan lagi untuk ke sekian kalinya. Beberapa minggu belakangan ini aku merasa tidak punya tenaga melakukan apapun. Ah, padahal sebentar lagi Yunho pulang dan aku belum memasak apapun untuk makan malamnya. Sudah jam berapa ya? Yang jelas ini sudah malam, entah berapa lama aku pingsan di lantai kamar.

Aku mencoba untuk duduk, lalu perlahan-lahan mencoba berdiri. Yunho tidak boleh melihatku seperti ini, karena kalau dia melihatnya dia akan semakin benci padaku yang selemah ini.

"JAE!" ah, mimpi buruk datang lagi. Memang setelah kejadian tiga minggu yang lalu Yunho sudah jarang memukuliku. Bahkan berkali-kali aku mendapatinya sedang menatapku dengan penuh selidik. Apa sih yang sebenarnya dia pikirkan?

Yunho membuka pintu kamar lalu berdiri di pintu. Dia menatapku sebentar, mungkin dia takjub melihatku yang seberantakan ini.

"Jae, aku lapar." Katanya. Nada suara meminta tolong, aku senang mendengar itu darinya. Aku tersenyum sekilas lalu segera menuju ke dapur. Namun sebelum tiba di dapur, aku sudah tidak kuat lagi berjalan. Rasanya badanku lemas, tidak punya tenaga sedikitpun. Aku membiarkan tubuhku jatuh ke lantai, hanya tinggal menunggu kesadaranku hilang saja. Tapi aku berahan. Tidak ada yang akan menolongku, jadi aku tidak boleh pingsan lagi.

Aku memejamkan mataku meskipun aku masih sadar. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, kalau Yunho melihatku seperti ini entah apa yang akan dia perbuat. Membiarkanku? Atau malah sekalian saja membunuhku.

Tiba-tiba aku merasakan kepalaku diangkat dan disandarkan diatas sesuatu. Aku tau ini Yunho, aku hapal aroma tubuhnya. Dia meletakkan kepalaku di pahanya.

"Jae!" dia menepuk-nepuk pipiku pelan. Aku ingin sekali membuka mataku tapi aku tidak bisa.

"Mi.. mianhae yo Yun.. Aku.. aku lelah sekali.." tiba-tiba aku merasakan sakit di perutku, sakit sekali serasa dihantam benda yang beratnya berkilo-kilo. "Nggh..." aku mengerang lemah saat merasakan sesuatu mengalir di kakiku. Aku tau apa itu, bau anyir darah, dan itu mulai menakutiku. Aku kenapa?

"Jae, palli irona.. Jangan menakutiku Jae! Aku.." Yunho terhenti. Aku sendiri juga takut, aku tidak bermaksud menakutinya. "Aish.. Jae! Kau berdarah.." aku tau Yun, aku tau.. Tolong lakukanlah sesuatu untuk mengurangi rasa sakitku ini..

"Sa..kit.. Tolong aku.. Yun.. mmhh.." Aku masih bisa merasakan Yunho membopongku, dan di dalam bopongannya aku merasa.. aman? Aku percaya padanya, percaya kalau dia akan menolongku. Aku menyerah atas rasa sakitku dan membiarkan kesadaranku menghilang perlahan-lahan.

=Author POV=

Yunho segera melajukan mobilnya ke rumah sakit. Entah kenapa dia khawatir melihat Jaejoong yang tidak ada bedanya dengan mayat. Pucat, lemah. Diam-diam ada rasa takut yang mengalir dalam dirinya. Dia menyetir dengan satu tangan sambil tangan yang lainnya menggenggam tangan Jaejoong yang dingin, sambil berusaha menghangatkannya.

"Jae.." setetes airmata jatuh di pipinya dan dia kaget karena itu. Jung Yunho, laki-laki yang tidak pernah meneteskan setetespun airmata kini menangisi orang yang bahkan tidak pernah dia anggap ada. Jung Yunho sekarang sedang menangisi Kim Jaejoong. Rasa takut menyelimutinya.

Setiba di rumah sakit Jaejoong segera ditangani di Unit Gawat Darurat. Yunho menunggunya di luar, sambil meremas-remas tangan kirinya dengan tangan kanannya, lalu sebaliknya. Setelah beberapa lama, dokter keluar dan meminta Yunho ke ruangannya.

"Seharusnya anda menjaga istri anda, Tn. Jung. Apa dia sering pingsan akhir-akhir ini?" tanya dokter itu. Yunho merasa pertanyaan itu menyudutkannya. Dia memang tidak pernah menjaga Jaejoong, bahkan menganggapnya ada saja dia tidak.

"Saya.. saya tidak tau, dok." Jawabnya sejujurnya.

"Tidak tau? Benar kan kalau dia adalah istri anda?" tanya dokter itu lagi. Yunho hanya mengangguk. "Jangan bilang kalau anda juga tidak tau akan kehamilannya."

Mata Yunho terbelalak, dia tidak percaya akan apa yang barusaja dia dengar. Kehamilan? Kehamilan apa? Jaejoong? Aish.. Apa maksud semuanya?

"Maksud dokter?"

"Dugaan saya benar. Anda tidak tau kalau istri anda sedang hamil? Baiklah, berarti sekarang anda sudah tau Tn. Jung. Saya harap anda menjaga istri anda karena kondisi kehamilannya sangat lemah. Dia bisa kehilangan bayinya kapan saja. Kalau bisa jangan sampai dia tertekan karena sesuatu, karena kondisi mental juga bisa mempengaruhi kandungan. Jaga pola makannya, jangan sampai dia kelelahan atau sampai pingsan berkali-kali. Kalau istri anda pingsan lagi, segera bawa ke rumah sakit. Anda memang harus memberikan perhatian ekstra padanya, demi calon bayi kalian..~~" Yunho tidak lagi mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter itu. Dia masih shock. Bagaimana bisa Jaejoong hamil? Bagaimana bisa? Sedangkan mereka tidak pernah tidur dalam satu kamar. Tidak mungkin.. Yunho menggelengkan kepalanya dan memasang seringai di bibirnya.

'Anak itu tidak mungkin anakku..'

Ti-Bi-Si


Okeeyy yorobun.. Ini lanjutannya, sengaja kubuat panjang.. hehe.. semoga kalian suka ya.. Oiya, maap yah, aku sama sekali gak bisa bikin adegan 'semut' atau 'lemon' atau apalah namanya ituh.. Aku sempet mikir juga sih, kalau seharusnya part yang di atas-atas itu seharusnya ada NC-nya. Tapi berhubung author baru kelas 3 SMA, aku gak bisa bikinnya. Mianhae yo..

Soo... Kasih review donk.. Sekalian kasih duit juga gak papa.. *matre* atau sekalian juuga kasih Lee Sungmin.. *maunya* atau Jaejoong? *mulai ngeyel, digampar* atau mm... mm.. Lee Donghae? Eh, Teukie aja deh.. Atau Nickhun? Atau... *ditendang ke ujung dunia, hipotermia di kutub utara, hilang si samudra antartika, eh.. tiba2 nongol di Korea.. Minta nikah deh ama Yesung oppa. Hehe* / Oke, /abaikan saja /