xxxxxxx
Disclaimer : semua char kepunyaan JK Rowling.
Pairing : Harry/Draco. Tom/Draco, and sedikiiiit Harry/Tom
Rating : NC-21
Happy Reading o(^^o)(o^^)o
HDHDHDHDHDHDHD
Dua minggu kemudian, liburan musim panas.
11.25 AM. Aqua Swimming Pool.
Dua hari yang lalu Tom mengajak Harry untuk berenang bersama dengannya, dan tentu saja Harry setuju. Mereka janjian untuk bertemu di depan pintu masuk. Tom sangat senang, akhirnya ia punya waktu berduaan dengan Harry! Mereka dapat main air bersama, berenang bersama dan yang pstinya ia dapat melihat tubuh indah Harry dengan puas!
Tetapi...
Semua mimpi indahnya sirna begitu melihat Harry datang bersama si brengsek Draco. sialan!
Tom ingin sekali muntah saat mendengar percakapan kedua orang itu. Ia dan Harry sudah berganti memakai celana renang, sedangkan Draco masih memakai celana pendek dan jaket.
" Kau yakin tidak mau berenang?" tanya Harry sambil menyibakkan poni Draco, saat ini mereka sedang di tepi kolam renang.
Draco menggelengkan kepalanya. " Kalian saja. Aku tidak tahan dengan sinar mataharinya. Dan karena sudah lama sekali tidak berenang, aku jadi tidak bisa berenang. Aku akan duduk sambil mengawasi kalian saja. Selamat bersenang-senang ya. Tom, jaga si Potter ini, kau tahu kan kalau dia sudah berenang bagaimana? Akan lupa waktu dan lain-lain." Ia melipat kedua tangannya sambil menyeringai ke arah Harry.
Kalau begitu, mengapa kau ikut, sialan? gerutu Tom jengkel. Ia memaksakan tersenyum merespon perkataan Draco.
Harry memberikan pandangan khawatir, " Kau tidak apa-apa? Kau tidak sakit, kan?"
" Yah, aku tidak apa-apa. Sudah, sana. Shoo! Shoo!" Draco mencubit hidung Harry sambil tertawa. Harry mengeluarkan lidahnya kemudian loncat kedalam kolam renang setelah memeriksa Draco sekali lagi, ia sedikit kecewa karena Draco tidak berenang bersamanya. Draco duduk di bawah payung besar kemudian bertopang dagu dan mulai membaca buku yang kemarin baru saja ia beli.
Lumayan banyak orang yang ada di kolam renang. Mungkin karena liburan musim panas sudah mulai sejak dua minggu yang lalu. Sesuai rencana, mereka bertiga sudah menyelesaikan semua tugasnya di satu minggu pertama. Awalnya Harry malas-malasan, tetapi karena Draco bilang kalau ia akan menginap di rumahnya sampai semua tugasnya selesai, Harry langsung bersemangat. Ia mengajak Tom untuk menginap juga, tetapi Tom menolaknya. Lebih baik ia tidur dari rumah, daripada harus satu kamar dengan Draco dan melihat mereka bermesraan seperti orang tolol.
" Tom, ayo kita lomba renang! Yang kalah harus mentraktir makan nanti!" tantang Harry bersemangat sambil menyengir lebar.
Dada Tom berdegup kencang. Mukanya sangat merah. Ia merasa sangat senang sekali! Semoga saja Harry tidak sadar kalau mukanya merah karena malu. " Er..boleh saja. Siap-siap saja kau mentraktirku, Harry."
Harry tertawa kemudian mereka berada di posisi mereka masing-masing. Kolam renangnya berbentuk lingkaran dan sangat luas, ketinggiannya tiga meter.
" Siap ya! Satu! Dua! Tiga!" dan mereka mulai berenang. Titik finisnya yaitu di tepi seberang. Kira-kira panjangnya lima meter.
Tom mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia sangat ingin sekali menang. Jika ia menang, Harry pasti akan memuji nya! Pikirannya kini terfokus untuk menang. Dan saat ia menyentuh dinding kolam, ia berteriak " aku menang!" penuh gembira, tetapi ia tidak melihat Harry disampingnya. Tom merasa panik. Ia takut Harry tenggelam atau kenapa karena di kolam tidak ada tanda-tanda keberadaan Harry, ia melihat kesekeliling.
" Kau punya urusan dengannya, hah?" seru seseorang. Dan Tom dapat langsung mengenali suara itu. itu adalah suara Harry dan ia terdengar sangat kesal. Ia melihat ke tepi seberang dimana Harry sedang menarik kerah baju seseorang. Draco berada di belakang Harry sambil menarik tangan Harry yang satunya lagi. Karena penasaran dengan apa yang terjadi, Tom berenang ke arah sana.
Orang yang Harry tarik kerah bajunya adalah seorang lelaki berambut gimbal dan memakai kemeja model hawaiian dan celana jins pendek. Lelaki itu tampak ketakutan, ia berusaha melepaskan tangan kei dari kerah kemejanya. " maafkan aku. Aku tidak tahu. Maafkan aku!"
" brengsek! Jangan minta maaf kepadaku, minta maaf kepadanya!" Harry terlihat sangat marah, urat-urat di keingnya mulai kelihatan.
" aku tidak apa-apa, Harry. sudahlah. Dilihat banyak orang. Sungguh aku tidak apa-apa." ujar Draco pelan sambil mengeraskan pegangannya di lengan Harry, secara tidak langsung meminta Harry agar melepaskan orang lelaki itu. Ia tidak ingin menjadi tontonan orang-orang. Tubuh Draco basah kuyup.
Harry menatap Draco dari ujung kepala sampai ujung kakinya, mengecek kalau ia benar tidak apa-apa kemudian menatap lelaki itu dengan pandangan benci. Harry melepaskan kerah lelaki itu dengan terpaksa sambil membuang napas berat," Berterima kasihlah kepadanya. Dan jangan sampai aku melihatmu lagi."
Lelaki itu kembali meminta maaf kepada Draco dan Draco tersenyum memaafkannya. Kemudian ia pergi lari terbirit-birit. Sebagian pengunjung kolam yang dekat dengan mereka, menonton kejadian itu dengan diam dan masih ada beberapa orang yang masih melihat ke arah mereka. Hary tidak peduli dengan pandangan orang, ia sangat cemas dengan Draco. Untungnya saat berlomba tadi Harry sempat memeriksa si lelaki bermata abu-abu kebiruan itu.
Lelaki yang tadi memaksa Draco untuk menemaninya berenang, dan ia tidak menerima jawaban tidak dari Draco. Tanpa ba-bi-bu, ia langsung menarik tangan Draco dan menariknya masuk ke dalam kolam renang. Karena panik Draco tidak dapat menahan tubuhnya dan akhirnya ia masuk ke dalam kolam renang. Wajahnya menjadi pucat. Dan bukannya mengangkat Draco kembali ke atas, lelaki itu malah tertawa melihat kepanikan Draco. Dan disitulah harry marah besar. Harry langsung berenang menghampiri Draco dan mengangkat Draco ke atas. Setelah itu ia menarik paksa lelaki itu. itulah awal ceritanya.
Tom naik ke atas dan menghampiri pasangan itu. Harry memegang kepala Draco dengan kedua tangannya, menyelipkan poni yang menghalangi muka pucat Draco ke belakang telinganya. memeriksa Draco apakah ia baik-baik saja. si pirang hanya tersenyum lemas sambil berkali-kali mengatakan 'tidak apa-apa', dalam hati ia sedikit senang dengan sifat protektifnya Harry.
Tom mengepalkan kedua tangannya dengan keras. Ia sangat iri dengan Draco. Ia ingin sekali mendapatkan perhatian dari Harry. Ia ingin sekali Draco lenyap dari bumi ini dan semua perhatian harry menjadi miliknya. Ia ingin merasakan sentuhan dari tangan Harry, ia ingin Harry cemas kepadanya, khawatir kepadanya, protektif kepadanya. ia ingin Harry!
" Ah, maaf ya Tom tadi aku meninggalkanmu. Sorry, kalau kau mau berenang, duluan saja. Aku ingin menemani Draco sebentar." dan Harry kembali memeriksa Draco.
Lemah sekali sih! Apa enaknya jika selalu bersama orang yang penyakitan? Tidak bebas. Merusak kesenangan orang saja. lebih bagus kalau ia cepat-cepat mati saja kan? jadi kau tidak dibuat repot olehnya. Huh! Coba saja kalau tadi Harry tidak melihat kejadian itu, mungkin saja si brengsek itu sudah mati tenggelam. Pikir Tom kesal.
Hah!
Lagi-lagi Tom berpikiran seperti itu. 'tidak boleh Tom, Draco Malfoy adalah sahabatmu, sahabatmu.. dia adalah SAHABAT mu..' ulang Tom dalam hati.
Tetapi.. kalau ia sahabatku, mengapa ia tega membuatku sakit? Mengapa ia merebut Harry dariku?
" Aku tidak apa-apa, Potter! Sungguh. Kau berenang saja. Sorry aku merusak lomba kalian." ucapan Draco menarik perhatian Tom dari pikirannya.
" it's alright. Kau baik-baik saja kan?" Tom memuji dirinya sendiri karena berhasil memperlihatkan rasa khawatirnya kepada hotaru. " Harry, lebih baik kau temani dia."
" Oh please! Aku ini bukan barang pecah belah, sungguh aku tidak apa-apa. Sana kalian berenang. Aku ingin membeli minuman dulu dan ingin mengeringkan rambutku. Bye." dan Draco pergi untuk membeli minuman. 'yaah mungkin sedikit mengesalkan kalau ia terlalu protektif' pikir Draco saat berjalan.
Harry menengok ke arah Tom kemudian menantangnya untuk berlomba kembali dan dengan senang hati Tom menanggapi tantangan pemuda bermata hijau emerald itu.
Hari yang dikira Tom Riddle akan indah ternyata menjadi hari yang buruk. Harry hanya berenang disekitar situ saja, tidak ingin jauh-jauh dari Draco. Kemudian saat pulang, ia harus melihat pemandangan yang benar-benar membuatnya sakit hati. Ia melihat Harry dan Draco berciuman dengan sangat mesra di dalam tempat ganti baju (saat itu hanya ada mereka bertiga saja). Ciuman Harry penuh dengan rasa protektif. Ciuman itu terlihat sangat panas dan penuh dengan rasa nafsu. Kalau Tom tidak berdehem, ia yakin mereka akan melewati batas karena saat itu tangan Harry sudah masuk ke dalam celana pendek Draco.
Dan saat pulangpun, pasangan itu bergandengan tangan dan Tom harus melihat pemandangan 'indah' itu dari belakang mereka. Hati Tom sangat sakit sekali, ia ingin sekali menangis, berteriak keras, mencaci maki Draco, tetapi semua itu tidak mungkin ia lakukan, ia tidak ingin Harry membencinya.. Hari ini, Harry hanya memandang ia satu kali, sisanya seluruh pandangan Harry hanya tertuju kepada Draco. Kepada si brengsek Draco Malfoy itu. Mengapa ia harus mengalami hal yang menyakitkan seperti ini? Apa si brengsek Malfoy itu sengaja ikut untuk memamerkan kemesraan mereka? Yaa.. pasti itu alasannnya mengapa ia ikut. Ia pasti tahu perasaan nya kepada Harry, oleh karena itu selama ini ia selalu mengganggu nya kalau sedang berduaan dengan Harry. ia ingin memperlihatkan bahwa Harry hanya melihat Draco bukan dirinya. Hm.. jadi begitu.. tunggu saja pembalasanku, Draco Malfoy. Tak lama lagi kau akan merasakan bagaimana sakitnya hatiku. Tom tersenyum licik saat memikirkan hal itu.
Draco menengok kebelakang dan melepaskan tangan Harry. " Tom, wajahmu pucat. Apa kau sakit?" tanyanya khawatir sambil menempelkan tangannya ke kening Tom. " hm..tidak panas..kau sudah makan? Apa mau makan dulu?"
Tom tersenyum manis, " Kau memang perhatian sekali, Dray. Aku tidak apa-apa kok. Hanya sedikit pusing saja."
" kau yakin?"
" Ya. Begitu sampai ke rumah, aku akan langsung tidur. Mungkin karena panas juga."
Draco sebenarnya tidak percaya dengan jawaban Tom, tetapi akhirnya ia mengangguk. " hey Tommy, Dragon akan menginap di rumahku. Kau mau ikut juga?" ajak Harry sambil mengalungkan lengannya ke bahu Draco dan dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah tampannya itu.
" Tampaknya tidak.. sorry..ada yang harus kulakukan." tolak Tom sambil tersenyum meminta maaf.
"...baiklah. tidak apa. Hanya saja..akhir-akhir ini aku merasa jauh denganmu. Atau mungkin hanya perasaanku saja ya?" sekilas Harry terlihat kecewa, tetapi ia langsung menutupinya dengan menyengir lebar, ia rindu dengan sahabatnya ini.
" Hahaha hanya perasaanmu saja. Lagipula aku tidak ingin mengganggu kalian berdua." Tom tersenyum nakal sambil menyikut pelan perut Draco. Kini rona merah menghiasi kedua pipi Draco.
" Bwahahaha. Kau memang sahabat yang pengertian!" puji Harry setengah bercanda sambil menepuk-tepuk kepala rambut hitam Tom yang masih belum kering. " Tapi aku berharap kalau kau ikut. Kita sudah lama tidak bermain bertiga, baru hari ini saja kan?"
Dan mereka pun pulang dengan canda tawa. Tom merasa jijik dengan dirinya sendiri. Dengan sikapnya yang pura-pura bahagia dan mendukung hubungan mereka. Tak apalah, biarkan mereka bahagia, tak lama lagi Harry akan menjadi miliknya seorang.
Ya..tak akan lama lagi..
HDHDHDHDHDHDHDHDHDHDHD
Beberapa hari kemudian, rumah Harry..
" Yakin kau tidak apa-apa sendirian? Mau aku temani?" tanya Harry sambil memindahkan handphonenya ke telinga sebelah kanannya dan tangan kirinya memutar tombol volume radio, mengecilkan suaranya.
" Ya, tidak apa-apa. Tadi tiba-tiba saja ada pesan kalau panitia acara disuruh kumpul di sekolah. Mungkin aku akan sampai malam." jawab Draco dari seberang sana. Harry dapat mendengar suara bising kendaraan.
" Kenapa kau ijin tidak ikut dulu? Sekarang sudah jam lima. Lagipula, mengapa mendadak sekali? Aku temani ya." Harry mengambil kaus dari lemari bajunya, siap-siap pergi.
" Tidak usah, Potter. Aku juga tidak tahu. Mungkin darurat. Aku akan membawakan cemilan untukmu nanti. Sekarang aku akan naik kereta. Nanti kukabari lagi ya."
" Begitu rapat selesai kau telefon aku ya. Nanti akan kujemput." Ntah mengapa dari kemarin, perasaan Harry sangat tidak enak. Apa mungkin karena dari kemarin ia bermimpi buruk. Di dalam mimpinya, ia memanggil-manggil nama Draco tetapi tidak ada jawaban, ia berusaha mencari Draco kesana dan kemari tetapi tidak ketemu juga. Ia meneriakkan nama Draco sampai tenggorokannya sakit, tetapi tetap saja tidak ada jawaban, hanya keheningan lah yang menjawab panggilannya.
" Terima kasih, Harry. aku sangat menyayangimu. "
" Aku juga, dragon. Aku juga." Dan harry mematikan handphone nya dengan perasaan ragu.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengannya.
HDHDHDHDHDHDHDHDHDHDHD
Ada untungnya juga menjadi murid kepercayaan guru-guru,pikir Draco. Ia mendapatkan kunci cadangan dari wali kelasnya. Semua kunci pintu sekolahnya. Ia tiba di sekolah pada pukul enam kurang dua puluh menit. Langit mulai gelap dan Draco merasa sedikit takut. Semoga saja ia tidak telat datang ke rapatnya.
Saat di depan gerbang sekolahnya, ia merasa ada yang aneh. Selain dirinya, ada juga murid yang memegang kunci cadangan, yaitu ketua panitia acara, Ron Weasley. Daaan kalau Weasley sudah datang, mengapa gerbangnya masih terkunci? Apa belum ada orang yang datang?
Dengan ragu-ragu Draco membuka pintu gerbangnya kemudian masuk setelah menutup kembali gerbang sekolahnya. Rasanya sedikit menakutkan datang ke sekolah seorang diri. Ia sempat menyesal telah menolak ajakan Harry untuk menemaninya. Dan lagi..selain gerbang sekolah, pintu sekolahpun masih terkunci rapat. Di dalamnya tidak ada tanda-tanda kalau ada orang di dalam. Lampu sekolah juga mati.
Draco mengecek kembali pesannya apa betul-betul hari ini ada rapat. Pesan itu dikirim dengan nomor yang belum tersimpan di handphonenya.
Malfoy, cepat datang ke sekolah. Ada rapat mengenai acara nanti. Kami tunggu di ruang acara. Sekarang.
Weasley.
Hm.. mungkin saja ada beberapa yang sudah sudah datang, tetapi karena Weasley belum datang, mereka menyusul ke rumah Weasley. Karena ia juga memegang kunci. Lebih baik aku masuk duluan saja. pikir Draco sambil membuka pintu sekolah. Setelah masuk, ia langsung cepat-cepat lari ke ruang acara.
Sesampainya di ruang acara, ia langsung menyalakan lampu. Sambil menunggu yang lain, ia membaca buku yang belum sempat ia selesaikan. Buku mengenai seorang psikopat. Harry selalu marah kalau ia menghabiskan waktunya dengan membaca. Jadi akhir-akhir ini Draco tidak sempat membaca karena selalu bersama Harry. Cute. Cemburu dengan buku.Pikir Draco sinis.
Buku itu menceritakan tentang seorang psikopat yang selalu menculik gadis-gadis muda untuk dibunuh. Gadis-gadis muda yang terlihat putus asa dan bosan dengan kehidupan mereka. Sebelum dibunuh, ia memperkosa gadis-gadis itu atau menyiksanya secara perlahan-lahan sampai mati. Padahal, dalam kesehariannya si psikopat itu adalah orang yang terkenal baik hati. Ia membuka toko bunga di kotanya. Selalu membantu orang yang sedang kesusahan dan tidak pernah pelit. Wajahnya selalu penuh dengan senyuman dan mataya selalu memberikan tatapan yang hangat, bahkan ia tidak sampai hati untuk membunuh seekor semut sekalipun. Oleh karena itu, ia tidak pernah tertangkap. Tetangga-tetangganya atau temanya-temannya ada yang mencurigainya.
Pertama-tama, psikopat itu menarik perhatian si gadis dengan cara pura-pura kasian atau peduli padanya, mendengarkan curhatan si gadis, membelikan apa saja yang si gadis mau, initnya membuat gadis itu nyamand na percaya kepadanya. Dan begitu si gadis percaya, dengan lembut ia mengajak gadis itu ke rumahnya dan berjanji kalau semua baik-baik saja. Dan nyatanya, di rumahnya, si gadis itu dibius obat lumpuh, mulutnya disumal dengan sesuatu, jadi orang-orang tidak akan ada yang bisa mendengar teriakan si gadis.
Si psikopat membuka baju si gadis dengan paksa. Kemudian memuji-muji tentang keindahan tubuh si gadis itu. Menjilati seluruh tubuhnya, memberikan kepuasan kepada si gadis. Dan begitu si gadis terbuai dengan kenikmatan yang diberikan si psikopat, si psikopat itu mengganti lidahnya dengan sebilah pisau. Kini, yang menjilati tubuh indah gadis itu bukanlah lidah si psikopat, melainkan sebilah pisau yang sangat tajam. Si gadis berteriak kesakitan dan meminta tolong. Bukannya kasihan, si psikopat semakin senang mendengarkan teriakan si gadis. Dengan pelan ia menguliti lengan kiri si gadis. Dengan pelan ia menusukkan pisau itu berkali-kali ke perut si gadis. Karena lumpuh, si gadis tidak bisa pergi kemana-mana. Air mata membanjiri wajah si gadis, ia sangat ketakutan dan kesakitan. Bola matanya terbalik kebelakangan sakit sakitnya. Kulit lengannya dengan paksa dirobek oleh si psikopat.
Si psikopat itu tertawa dan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. gadis itu kembali menjerit saat si psikopat itu menusuk puting kanannya dengan pisau. Pisau itu menancap sampai tulangnya. Rasanya sangat sakit sekali. Sayangnya tidak akan ada yang bisa mendengar jeritannya, jeritan kesakitannya.
" Sst, kau akan baik-baik saja, sayang. Semuanya akan baik-baik saja." ujar si psikopat lembut. Kemudian ia menjilati wajah si gadis. Tubuh si gadis gemetaran karena takut dan menahan rasa sakit. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Jeritan si gadis semakin kencang saat si psikopat memotong salah satu payudaranya. Darah menghiasi wajah si psikopat itu.
Dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya, si psikopat berkata " kau sangat cantik sekali..benar-benar indah.." kemudian si psikopat mengangkat kembali pisau nya tinggi-tinggi, salah satu tangan nya membuka mata kanan si gadis lebar-lebar.
" ja.. jangan!" si gadis itu memohon. si psikopat tidak memperdulikannya. " JANGAAAAN! KYAAAAAAAAAAAA!"
BRAK!
Tiba-tiba saja pintu yang tadi sengaja Draco buka kini tertutup dengan keras. ia terpenjat kaget. Jantungnya serasa mau copot. Ia benar-benar terkejut. Dada Draco berdegup kencang. Ia benar-benar tenggelam dalam cerita itu dan dapat merasakan ketakutannya si gadis.
Draco melihat keluar dan langit sudah gelap. Ia melihat jam tangannya nya dan jarum panjangnya berada di angka tujuh. Tak terasa hampir satu jam ia sudah berada di sini. Ia melihat kesekitar dan belum ada satupun yang datang. Sedikit kesal dan khawatir mengapa yang lain belum datang, takutnya ada apa-apa, Draco menelepon Weasley.
" Ron Weasley here..." jawab seseorang dari sana dengan nada malas.
" Weasley! Kau dimana? Aku sudah datang dari satu jam yang lalu!" balas Draco kesal.
" Aku dirumah. Memangnya kita buat janji ya, Malfoy? Hahaha kalau Harry tahu, aku bisa dihajar sampai babak belur olehnya." Weasley tertawa dengan leluconnya sendiri.
" Haha. Sangat lucu." balas Draco datar sambil memutar kedua bola matanya. " Kau tadi mengirim pesan kepadaku.. well.. bukan dengan nomormu tapi. Kau bilang ada rapat, jadi aku datang DAN sudah satu jam aku menunggu."
" Aku tidak mengirirm pesan apapun kepadamu. Dan kita akan rapat bukan hari ini, tapi lusa." jelas Weasley sedikit bingung. " Kau yakin itu dariku?"
" well.. yeah, dibawahnya ada namamu. Kau benar-benar tidak mengirim pesan kepadaku?" Draco mulai bingung.
" Sungguh. Mungkin saja itu orang jahil? Atau..yaah mungkin saja orang jahil. Sorry., aku jadi merasa bersalah." Draco dapat merasakan Weasley sedang menyengir minta maaf di sana.
" Kau memang pantas disalahkan, Weasley. Well..mungkin saja itu orang jahil. Tapi keterlaluan sekali, aku sampai jauh-jauh datang ke sekolah."
" Lebih baik kau pulang sekarang, Malfoy."
" Tentu saja. haaah.. satu jamku terbuang sia-sia."
" Hahaha. Well, hati-hati dan tenang saja, aku akan memberitahukanmu jika ada perubahan."
" Ya. Terima kasih, Weasley."
" Anytime. Dah."
Setelah memutuskan telefon dari Weasley, Draco langsung bergegas pulang. Ia tidak kuat berlama-lama seorang diri di sekolahnya. Tengkuknya terasa dingin dan perasaannya mulai tidak enak. Ia merasa ada seseorang yang memperhatikannya. Setelah mematikan lampu dan mengunci ruang acara, ia cepat-cepat berlari ke pintu sekolah. Ia merasa takut gara-gara tadi membaca cerita tentang psikopat itu.
Dari jauh, ia melihat ada orang yang berdiri di depan pintu sekolah. Karena gelap, ia tidak dapat dengan jelas siapa orang itu. Ia menyesal tidak menyalakan lampu koridor tadi. Dengan menggunakan cahaya dari handphonenya Draco berusaha melihat siapa orang itu. Perlahan-lahan ia maju dengan memicingkan matanya. Hitam. Gelap. Orang itu masih saja diam di depan pintu sekolah.
Rasa takut menguasai Draco. tubuhnya gemetaran. Cerita yang tadi ia baca kini memenuhi pikirannya. Tidak biasanya ia ketakutan seperti ini. dan biasanya ia tidak terpengaruh dengan cerita yang ia baca.
" Siapa disitu?" tanya Draco dengan suara sedikit serak karena ketakutan.
Tidak ada jawaban dari orang itu. Draco maju selangkah demi selangkah sambil meraba-raba dinding sekolahnya. Di dekat-dekat sini, seingatnya ada tombol untuk menyalakan lampu. Tangannya bergetar. " Hey..siapa disitu?" setelah melangkah lebih maju, ia dapat merasakan tonjolan di dinding. Jaraknya lumayan dekat dengan pintu masuk. Dan orang itu masih tetep diam dan berdiri di situ. Rasa takut dan penasaran bercampur menjadi satu. Draco menekan tombol bulat bagian kanan. Dan langsung saja lampu koridor menyala. Menerangi semuanya. Pandangannya agak kabur. Matanya sedikit sakit karena cahya lampu yang tiba-tiba menerangi matanya.
Draco mengedipkan matanya dan pandangannya kembali jelas seperti biasa. Kini ia dapat melihat orang itu dengan jelas. Orang itu memakai pakaian serba hitam dan memakai topeng badut yang sedang tersenyum. Dan di tangan kanan orang itu ada sebilah pisau yang lumayan panjang dan memantulkan cahaya lampu. Ia tidak tahu kalau orang itu melihatnya atau tidak. Bentuk mata di topeng itu sangat sipit, mata seorang badut yang sedang tersenyum lebar.
"!" Draco mundur selangkah demi selangkah sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Orang itu masih diam saja tidak bergerak sedikitpun. ia melirik pintu keluar yang berada di belakang orang itu. ia ingin berlari kesana, tetapi takut orang itu tiba-tiba menerjamnya. Bagaimana ini? Draco serasa ingin menangis. ia ingin menelefon Harry.
Atau...
Ia bisa kabur lewat jendela! Dengan pelan Draco berbalik, setiap langkah yang ia lakukan, detakan jantungnya semakin besar, bagaikan bom waktu yang sudah siap meledak. Ia terus berdoa semoga saja ia dapat pulang dengan selamat sampai rumah. Ia tidak mengerti dengan hal yang terjadi sekarang. Apa semua ini sudah direncanakan? Apa memang ada yang jahil kepadanya? atau kejutan? Tetapi hari ini ia sedang tidak berulang tahun. Saat Draco berhasil dekat dengan jendela dan berusaha untuk membuka kuncinya, dan tiba-tiba saja handphone nya berbunyi. Karena kaget dan spontan, ia menjatuhkan handphonenya. Dengan cepat ia menunduk untuk mengambil handphonya, saat ia menunduk, ia merasakan ada yang menghalangi cahaya lampu. Dan saat ia mengangkat kepalanya, orang itu kini berada tepat di depan Draco. ia kembali menjatuhkan handphonennya yang masih terus berdering. Matanya terbuka lebar.
Badut yang sedang tersenyum lebar kini tepat berada di depan wajahnya. Bukannya lega, Draco semakin ketakutan. Wajah badut itu sangat menyeramkan walaupun sedang tersenyum. Ia berusaha mundur, tetapi sudah tidak bisa. Dibelakangnya kaca jendela. ia sudah tidak bisa lari kemana-mana karena tangan kiri si badut menghalangi Draco untuk lari dan tangan kanannya yang sudah siap-siap menerjamnya kalau ia bergerak sedikitpun.
" Si...siapa kau?" tanya Draco dengan suara bergetar. Wajahnya semakin pucat dan keringat menetes dari pelipisnya.
Badut itu memiringkan kepalanya kemudian menarik rambut pirang keperakan Draco dan membawanya jauh dari pintu masuk sekolah. Draco berusaha melepaskan tangan si badut itu dengan tangannya sendiri. Tetapi yang ada badut itu malah menyayat tangan Draco dengan pisau nya. Draco tidak mau kalah, menghiraukan rasa sakitnya, ia terus memberontak, memukuli wajah badut itu dengan tangannya yang satu lagi.
Tampaknya si badut itu kehilangan kesabaran, ia melepas tangannya kemudian memukul kepala Draco dengan ujung pisaunya dengan keras. Dengan satu pukulan, Draco langsung ambruk. Kepalanya sangat sakit dan sekarang penglihatannya sangat kabur. Ia tidak bisa melawan lagi. Dalam hati Ia berteriak menyuruh tubuhnya bergerak, tetapi sistem otaknya tidak bisa memberikan perintah kepada tubuhnya. Setelah melihat wajah tersenyum si badut, ia kehilangan kesadarannya.
Harry...aku ingin bertemu denganmu.
HDHDHDHDHDHDHDHD
Harry kesal sekaligus khawatir karena sedari tadi ia mencoba menghubungi Draco tetapi tidak bisa. Padahal nadanya tidak sibuk. Ia melihat jam di handphonenya. Sudah pukul delapan lewat lima. Draco belum memberikan kabar dan tidak mungkin kan jam segini mereka belum selesai rapat? Ia mencoba menghubungi Maeda. Semoga saja mereka masih rapat.
" Ya! Ron Weasley here..." jawab dari seberang sana dengan nada malas.
" Hey Ron, ini Harry, rapatnya belum selesai?" tanya Harry berharap Ron berkata ya.
" Rapat? Hari ini tidak ada rapat, Harry." jawaban Ron membuat perut Harry sakit, rasanya hati dan jantungnya lagsung jatuh ke bawah. Perasaannya semakin tidak enak.
" Jangan bercanda kau. Tadi Draco bilang kalau ada rapat hari ini, oleh karena itu ia ke sekolah. Ia berangkat kurang lebih jam lima. ada rapat kan?" tanya Harry mendesak.
" Tadi Malfoy juga menelefonku. Menanyakan ada rapat atau tidak. Dan aku bilang tidak."
" Dia menelfonmu kapan?"
" Er..kira-kira dua jam yang lalu. Dia bilang aku mengirimkan pesan padanya. Padahal tidak. Menurutku mungkin ada orang yang usil. Apa Malfoy belum pulang?" Ron terdengar khawatir.
" Ya, dia belum pulang. Apa dia tidak memberitahu siapa yang mengirimnya pesan?"
" Dia bilang, dia mendapatkan pesan atas namaku. Padahal aku tidak mengirim pesan apapun kepadanya. Mungkin saja ia sedang di jalan, kau tahu kan sekarang hari sabtu.. jalanan pasti ramai."
" Thanks, Ron."
" Hey! Har-!"
Dan Harry langsung memutuskan telefonnya. sambil menyambar jaketnya, ia berlari dari kamarnya menghiraukan panggilan dari ibunya.
Benar kan, perasaanku dari tadi tidak enak. sial! Mengapa aku tidak terus memaksanya agar ia mau aku temani? Mengapa aku tidak menyusulnya? Sial! Mengapa kau tidak mengangkat telefonku, Draco!
HDHDHDHDHDHDHDH
A/N : um.. gimana? Ga terlalu sadis kan ya? Minta review nya ya. Aku akan update kalau review nya min 10. Tapi kalo ga ampe 10 yaaah.. tetep ku update ko. Cuma penasaran aja, ada beberapa orang yang suka and baca cerita ku
CCloveRuki : makasiih. Baca teruus yaa. Iya! Terima kasih ya review and advice nya aku akan coba buat tambahin kata-kata kiasan coz agak susah . kalo ada kesalahan di chap in, jangan segan2 kasih tau ya :D
Kei : hehe iya, Draco manggil Harry tergantung sama mood nya. Kalau lagi biasa atau bt, dia pake 'Potter' tapi kalo lagi sedih, seneng dll dia pake 'Harry.
GacTheDestroyer : hihihihi.. cerita in mewakilkan perasaanku kalau ngeliat draco di depan mata mau diapain aja :D *kidding.
Dreizan : thanks! Baca terus yaaa
