Author note : saya punya Kingdom Hearts I, II dan chain of memory (kaset Pe'es nya maksud saya...). Tapi Kingdom Hearts Series yang kita cintai dan sumber inspirasi tulisan saya adalah properti sah milik Square Enix dan Disney.
Juga, title Alice Human Sacrifice adalah salah satu lagu terkenal yang dinyanyikan para vocaloid, saya hanya numpang judul saja karena merasa temanya mirip. Mwahahahaha! *ditabok baskom.
Warning: Shonen Ai dan penggambaran karakter yang OOC. Setting AU.
Plot I: The Teary Fallentine
"Sampai tibanya hari dimana kau akan kubawa ke Wonderland, Alice ku..."
Sepasang mata aquamarine spontan terbuka, menandakan bahwa si pemilik harus terbangun dengan tiba-tiba dari tidurnya.
'Lagi-lagi mimpi itu...'
Pemuda itu mendesah pelan, lalu dengan mata yang belum sepenuhnya terbebas dari kantuk, melirik ke arah jam yang tergantung di dinding kamarnya yang dominan oleh warna abu-abu.
Jam 06.34. Agaknya masih ada waktu kebih dari satu jam baginya untuk mempersiapkan diri sebelum kelas pertama nya hari itu.
Setelah meregangkan sendi-sendinya yang kaku, pemuda itu bangun dan berjalan menuju kamar mandi satu-satunya di apartemen yang dia sewa saat ini. Dengan air dingin, dia membasuh wajahnya untuk menghilangkan sisa kantuk, tak peduli bahwa air ikut membasahi rambut perak sebahunya.
Pemuda itu menatap cermin yang berada di atas wastafel dan mendapati sepasang mata aquamarine yang dingin dan hampa akan perasaan tengah menatap padanya dari balik cermin. Wajah yang dibingkai oleh surai perak itupun terlihat sedikit lesu oleh rasa penat dan lelah.
Agaknya kesibukannya akhir-akhir ini telah menyita banyak waktu, energi dan durasi tidurnya sehari-hari.
Hal tersebut dibuktikan dengan uapan panjang yang keluar dari mulut pemuda itu beberapa detik kemudian.
"Tch" Pemuda itu mendecakan lidahnya sebal. "Gak mungkin kalau balik tidur sekarang..." Gumamnya sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal diikuti dengan menyeka wajahnya yang basah oleh air.
Mata aquamarine nya kembali bertemu dengan jam dinding yang tergantung di kamarnya dan berusaha nenimbang-nimbang kesempatannya untuk memejamkan matanya barang sebentar.
"Mungkin akan sempat kalau aku tidur sebentar di kampus..." Gumamnya lagi sambil mulai mengaduk-aduk tumpukan pakaian yang banyak berserakan di lantai kamarnya.
Setelah mengenakan setelan kaos berwarna putih berlengan pendek yang ditutupi oleh vest berwarna kuning juga celana jeans biru diikuti oleh sneaker putih yang setia selalu bersamanya.
Merasa sudah siap, pemuda itu berjalan menuju pintu apartemennya setelah sebelumnya memastikan bahwa tak ada satupun barang yang tertinggal.
Juga setelah memastikan bahwa tak ada pesan yang masuk ke teleponnya yang mungkin perlu dia ketahui.
"Kurasa sudah semuanya..." Pemuda itu lagi-lagi bergumam pada dirinya untuk yang ketiga kalinya pagi itu. Walaupun begitu, mata aquamarine nya berdiam lebih lama menatap telepon nya yang terletak di dapur apartementnya.
'Mungkin dia akan menghubungi ku nanti malam...'
Memastikan bahwa pintu apartementnya telah yakin terkunci aman, pemuda itu mulai beranjak pergi meninggalkan kediamannya saat ini...
"Oi, Riku!"
Kalau saja seseorang tak memanggil namanya saat itu.
Riku POV
"Oi, Riku!"
Aku membalikan badan untuk melihat siapa yang telah memanggilku, dan mendapati seorang pemuda dengan rambut merah membara dan mata berwarna hijau emerald tengah berjalan ke arah ku sambil menyengir gembira. Yang membuatku heran adalah, bagaimana seseorang dapat begitu gembira di pagi hari...
"Ada apa, Axel?"
Entah kenapa wajahnya terlihat sedikit kecewa saat mendengar pertanyaan ku tadi. Mungkin karena aku menggunakan nada yang luar biasa malas dan bosan untuk menanggapinya sapaannya barusan.
Aku mengenal pemuda yang menyapaku barusan dengan nama Axel, pemuda yang tinggal di kamar apartemen bernomor 18, kamar yang terpisah tiga nomor dari milikku.
Kuakui kalau kami tidak terlalu akrab, karena aku bahkan sama sekali tak mengetahui apa profesinya saat ini. Akan tetapi, bagaimanapun juga sebagai tetangga, tetap saja ada saat dimana kami harus saling membantu atau menutupi kekurangan satu sama lain.
Seperi saat ini.
"Duh...". Axel memutar kedua manik emeraldnya sambil kembali nyengir. "Memang menyapa orang di pagi hari itu butuh alasan ya?"
Aku menghela nafasku. Mengetahui sifat Axel, entah mengapa aku dapat merasakan bahwa aku akan dan harus berhenti agak lama untuk meladeninya.
"Kau mau apa?" Tanyaku sekali lagi, dengan nada yang lebih bersahabat tentu saja.
"Nah, gitu dong... kan jadi lebih enak ngomongnya..." Dan kata-kata itu disambung dengan tepukan agak kasar di pundakku.
Aku hanya mengangkat sebelah alisku, memberinya tanda untuk melanjutkan apapun yang ingin dikatakannya tadi.
"Ya... sebenarnya sih..." Kulihat Axel mulai memegang bagian belakang lehernya, gestur yang kuketahui sebagai tanda kalau dia sedang tegang atau... malu. "Well... katakan saja aku tak sengaja membakar pipa air di kamar apartementku..."
"Kau membakar apa?"
"Yah kau tahulah... pipa air,itu loh... alat untuk mengalirkan air dari satu tempat ke tempat lai-"
Aku memotong kata-kata pemuda berambut merah di hadapanku sebelum dia sempat menyelesaikannya. Dia pikir aku tidak tahu apa, benda yang disebut dengan pipa air.
Aku bertanya hanya karena aku ingin memastikan bahwa aku tak salah dengar saja.
"Bagaimana bisa kau membakar pipa air? Tunggu, itu tidak penting... apa hubungannya dengan ku kalau begitu?"
Aku bertanya dengan tidak percaya sekaligus sedikit terkejut. Yang sudah pasti tergambar jelas di raut wajahku, karena kulihat Axel kembali mengeluarkan cengiran riang gembiranya.
"Riku, Riku, Riku..." Dia mengatakan namaku sambil mendecakan lidahnya. "Kau itu benar-benar tidak peka ya... pantas saja single melulu..." Lanjutnya dibuat-buat.
Dapat kurasakan alisku berkedut mendengar perkataan Axel barusan. Dia pikir dia siapa, berkomentar tentang kehidupan sosial ku seperti itu.
"Lalu?"
"Riku! Kalau pipa ku terbakar-"
"Kau bakar maksudmu?"
"Hush! Aku sedang berbicara di sini." Dia berdehem sebentar untuk efek dramatis. "Kalau pipaku kubakar, maka pipaku tak bisa dapakai. Kalau pipaku tak bisa dipakai sudah pasti tak ada air. Tak ada air berarti aku tak bisa membersihkan diriku."
Benar-benar orang ini. Tanpa dia mengtakannya pun, aku sudah mengerti apa maksud dia yang sesungguhnya.
"Nih. Jangan melakukan hal yang tidak-tidak." Ucapku sambil menyodorkan kunci apartemenku padanya, yang tentu saja diterimanya dengan luar biasa senang hati.
"Thanks, Riku." Ucapnya gembira sambil sedikit menimang-nimang kunciku di tangannya. "Akan kupastikan apartemenmu aman, dan begitu aku selesai menggunakan kamar mandimu, aku akan segera keluar."
"Baguslah kalau begitu."Aku pun mulai beranjak pergi meninggalkan apartemen ku. Setelah aku meninggalkan sebuah peringatan padanya tentu saja.
"Dengar, Axel pastikan kau-"
"Tak membakar apapun. Baik sengaja ataupun tidak. Aku tahu. Tenang saja, temanku yang baik."
Aku menggelengkan kepalaku, membuat beberapa helai perak yang telah kusisir rapi jatuh menutupi pandanganku.
"Bukan hanya itu. Pastikan juga kau tak membuka pesan apapun, seandainya ada satu yang masuk ke teleponku, mengerti?"
"Oke,oke... aku takkan menyentuh teleponmu..." Dia mengankat jari telinjuknya dan meletakan di atas alisnya yang tipis. "Got it memorized?"
"Terserah. Pastikan saja kau menjauhi masalah dan teleponku selama berada di apartemenku, mengerti?"
Axel mengangkat kedua ibu jarinya ke arahku, sebelum akhirnya dia kembali masuk ke kamar apartemennya sendiri. Tak diragukan lagi untuk mengambil barang-barang keperluannya sebelum 'mengungsi' ke apartemenku.
Terkadang aku sendiri bingung, kenapa aku dapat semudah itu menyerahkan kunci apartemenku pada seseorang. Apalagi pada seseorang yang latar belakangnya tak terlalu kukenal.
Aku kembali melanjutkan perjalananku tadi yang sempat tertunda karena adanya gangguan (baca: Axel) dan menuju ke arah tangga yang terletak di sisi timur bangunan apartemen ini.
Sepanjang perjalananku di tangga, aku sama sekali tak menemui siapapun bahkan bisa dikatakan bahwa aku adalah satu-satunya orang yang menggunakan tangga tersebut.
Orang-orang yangg tinggal di apartemen ini memang kebanyakan lebih memilih untuk menggunakan fasilitas yang lebih praktis seperti lift, apalagi bagi mereka yang tinggal di lantai tiga keatas.
Tapi berbeda dengan mereka, aku yang tinggal di lantai tertinggi di apartemen ini, yaitu lantai tujuh, entah mengapa lebih memilih menggunakan tangga. Selain lebih sehat, disini aku juga tak perlu bertemu banyak orang seperti apabila aku menggunakan lift.
Tanpa terasa aku sudah berada di lobi lantai satu apartemen. Kulihat banyak orang yang berlalu lalang keluar masuk bangunan ini baik yang kukenal maupun tidak. Mungkin lebih banyak tidaknya.
Dari Second Distric tempat apartemenku berada, aku berjalan menuju kampusku, Transford University yang terletak di First District kota Traverse Town.
Sebenarnya selain berjalan kaki, aku bisa saja menaiki bis atau kereta untuk menghemat waktu ataupun tenaga. Tapi seperti tadi, kurasa menggunakan kakimu itu lebih praktis.
Juga siapa tahu, bisa mengusir rasa penat yang sejak tadi terus menerus berputar di kepalaku.
Aku berjalan menelusuri jalanan utama Traverse Town, kota tempat ku tinggal saat ini. Sambil menyuapkan sebuah roti daging yang sempat kubeli tadi ke mulutku, sebagai pengganti sarapan, aku berjalan di tengah riuhnya orang-orang yang sibuk di pagi hari itu.
Jalanan utama yang menghubungkan ketiga distrik utama Traverse Town ini merupakan salah satu ikon kebanggaan kota yang sering muncul apabila di brosur-brosur rekomendasi tempat wisata.
Tak hanya indah dengan desain bangunannya yang khas, namun dengan adanya plaza, jajaran toko, restoran, tempat terjangkau untuk anak muda berkumpul dan hang-out juga berbagai fasilitas yang lengkap, membuat jalanan ini tak pernah sepi pengunjung.
Dan ini bahkan masih di pagi hari. Di malan hari, jalanan ini tentu akan jauh lebih ramai dan padat dari pada sekarang.
Berbagai fasilitas yang kusebutkan tadi termasuk sebuah LCD raksasa yang terletak di salah satu bangunan yang berdiri di tempat ini. Layarnya yang lebar dan letaknya yang strategis mampu menyediakan hiburan tersendiri bagi para pengguna jalanan.
LCD yang rutin menyala 24 jam penuh itu terlihat tengah menayangkan acara berita di pagi hari ini seperti biasanya. Terlihat seorang wanita tengah membacakan berita tentang peningkatan kasus hilangnya orang yang dilaporkan hilang di layar raksasa itu.
"Dan itulah berita terakhir yang kami dapatkan dari para narasumber. Hingga saat ini penyebab hilangnya orang-orang tersebut masih belum dapat diketahui." Pembawa berita dengan rambut pendek berwarna biru itu mengakhiri laporannya dan melanjutkan ke berita selanjutnya.
"Hari ini, tanggal 14 Februari 2051, kita memperingati terjadinya tragedi Teary Fallentine yang merenggut tak kurang dari tujuh ribu jiwa penduduk kota Hollow Bastion sepuluh tahun yang lalu."
Teary Fallentine.
Bencana besar yang terjadi sepuluh tahun lalu di Hollow Bastion dan meluluh lantakan kota itu hingga nyaris rata dengan tanah.
Membunuh nyaris seluruh penduduk kota itu dan hanya menyisakan tak lebih dari dua puluh persen dari mereka untuk selamat. Termasuk aku.
Sepuluh tahun lalu, aku yang tak tahu apa-apa akan merayakan ulang tahunku dengan mengunjungi Radiant Garden yang disebut surga dunia itu bersama ibuku. Di tengah hari yang indah tersebut, tragedi menyedihkan itu terjadi.
Dalam hitungan detik kota yang dipenuhi taman bunga dan bangunan yang indah itu telah hancur dan hanya menyisakan puing-puing, membawa beribu-ribu nyawa penduduk yang tak bersalah bersamanya.
Tanggal 14 Februari 2041. Sebuah kota indah bernama Radiant Garden telah sirna dan berganti menjadi reruntuhan sarat kepedihan bernama Hollow Bastion pada sebuah tanggal yang diperingati sebagai hari kasih sayang.
Pada tanggal itu pula lah, aku harus kehilangan seseorang yang sangat berarti bagiku.
'For those who fell together with the tears, in the day of love. Teary Fallentine.'
Bahwa setelah hari itu, hari Valentine bukanlah hari untuk menyerahkan coklat tanda cinta pada orang yang kau sayang, tetapi untuk mempersembahkan bunga guna mengiringi mereka yang telah pergi.
"Satu dekade setelah peristiwa ini terlewati pun, para penyelidik masih tak dapat menemukan penyebab terjadinya tragedi ini. Semua hipotesis terkait bencana alam,aksi terorisme ataupun serangan militerpun tak dapat manjadi titik terang untuk memecahkan misteri peristiwa tersebut."
Aku mendengar pembawa berita itu kembali melanjutkan pembacaan beritanya dengan wajah serius khas pembawa berita pada umumnya, dengan mata birunya yang dipenuhi ketegasan tak peduli semenyayat hati apakah berita yang harus dibacakannya saat ini.
"Dan untuk menghormati mereka yang telah pergi, marilah kita bersama mengheningkan cipta sejenak. Mendoakan ketenangan jiwa-jiwa mereka yang telah pergi meninggalkan kita"
Kulihat pembawa berita wanita itu menutup matanya dan menunduk sejenak, diikuti oleh orang-orang yang tadinya berlalu lalang di sekitarku. Mereka menghentikan langkahnya sejenak untuk menundukan kepala dalam berkabung.
Di tengah orang-orang yang sedang menyampaikan doanya ini, entah mengapa aku merasa kalau seseorang tengah mengamatiku.
Aku mengalihkan pandanganku ke kiri dan ke kanan dan berusaha mencari orang itu, namun untuk kesekian kalinya mataku menyapu pandangan di sekitarku, aku sama sekali tak menemukan seorang pun yang tengah menatap kearahku.
Perasaanku semakin terasa tak keruan ketika kulihat sebagian besar dari orang-orang di sekitarku terlalu sibuk dengan urusan mereka untuk mengamati pemuda biasa sepertiku.
Perasaan was-was karena diawasi ini makin menjadi, seolah si pelaku mulai bergerak mendekatiku. Walaupun setelah aku mencari ke sana kemari, aku masih belum menemukan orang itu.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk mengabaikan perasaan tersebut dan melanjutkan perjalanan ku yang sempat tertunda.
Saat aku berbalik dan mulai melangkahkan kaki ku itulah saat aku melihatnya.
Berdiri di seberang jalan tempatku berada, dengan jarak sekitar 10 meter terpisah oleh jalan raya yang ramai, seorang anak laki-laki dengan rambut coklat spiky yang ditutupi topi putih tengah tersenyum padaku.
Kakiku yang bahkan belum sempat melangkah, terhenti seketika saat mataku menatap matanya, yang bahkan di antara jarak yang membatasi kami, dapat kulihat dengan jelas berwarna biru bagai pantulan langit yang ditangkap oleh lautan.
Mata biru itu. Entah kenapa aku merasa familiar dan pernah melihatnya di suatu peristiwa. Peristiwa yang menghantui mimpiku untuk sekian lama.
Mata biru yang kulihat sepuluh tahun lalu di Radiant Garden.
Aku menyadari anak bermata biru itu membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, yang tentu saja mustahil untuk dapat kudengar mengingat jarak kami terpisah lebih dari sepuluh meter.
"Hei, tunggu!"
Demi mengetahui apa yang akan dia katakan, aku dengan sembarangan berlari menyebrangi jalan menuju ke arahnya. Tak menyadari bahwa lampu telah menyala hijau dan sebuah mobil sedan tengah melaju kencang ke arahku.
Suara klakson mobil yang nyaring dan rasa sakit di lenganku ketika seseorang menariknya dengan sangat kuat adalah sedikit dari hal yang dapat aku sadari.
Hal berikutnya yang aku tahu, aku telah terduduk di pinggir jalan tempatku berdiri tadi dengan seorang pria separuh baya menindih tubuhku.
"Apa kau sudah gila?!" Teriak pria yang menyelamatkanku itu geram sambil bangkit berdiri. "Masih muda sudah mau mati. Kau harus berterima kasih padaku!"
Mataku mengerjap berulang kali, berusaha memahami situasiku. Setelah beberapa detik dan aku mulai dapat berpikir dengan lebih jernih, barulah aku memahami bahwa aku nyaris dihantam oleh sebuah mobil, kalau saja pria di hadapnku ini tak menarikku tadi.
"Maafkan aku, Tuan... terima kasih telah menyelamatkanku."
Pria itu mendecakan lidahnya lalu bergegas pergi sambil menghisap sebatang rokoknya yang telah bengkok. Tak salah lagi, pasti terjatuh saat menyelamatkanku tadi.
Setelah pria itu menghilang dari pandanganku, aku kembali menatap tempat anak itu berdiri hanya untuk mendapati bahwa dia telah menghilang dari sana.
Aku menghela nafasku dengan berat dan melarikan tanganku ke rambutku, dan membuatnya berantakan seketika.
Ada apa denganku hari ini?
Normal POV
"Dan teori ini dibuktikan dengan..."
Dan sisa kata-kata Dosen itu sudah tak didengar lagi oleh Riku yang pikirannya tengah berkelana jauh dari tempatnya duduk saat ini.
Mata aquamarine nya tidak menatap slide show yang sedang diperlihatkan Sang Dosen di depan kelas, namun malah sibuk terpaku pada pemandangan di luar jendela ruangan kelasnya.
Agaknya peristiwa tadi pagi telah cukup untuk membuat pikirannya agak kacau.
Tidak hanya dia nyaris menjadi korban tabrak lari, tapi dia juga harus kehilangan jejak anak misterius itu.
Sebenarnya, sesaat setelah pria yang menyelamatkannya itu pergi, Riku segera bergegas menuju ke jalan tempat anak itu tadinya berdiri.
Akan tetapi pemuda berambut perak itu tak sama sekali tak dapat menemukan petunjuk ke mana anak itu tadi menghilang, bahkan setelah dia mencari di wilayah sekitar tempat tersebut.
Dan anehnya, tak ada seorangpun disana yang tahu atau bahkan menyadari keberadaan anak dengan mata biru itu saat dia bertanya.
Riku kembali menghela nafasnya untuk yang kesekian kali hari itu.
Sesuatu tentang anak itu mengganggunya. Bukan hanya karena dia memiliki mata yang sama dengan makhluk yang dilihatnya di Radiant Garden dulu, tapi karena suatu hal dari anak itu seolah memanggilnya untuk mendekat.
Mungkin karena itulah Riku begitu ingin mengetahui apa yang anak itu akan katakan padanya.
Mata aquamarine nya yang terlihat lelah itu mulai menjelajah, berharap untuk menghilangkan penat di kepalanya, yang entah kenapa setelah peristiwa itu, semakin menjadi-jadi.
Hamparan rumput yang hijau, pepohonan yang rimbun, juga sekumpulan mahasiswa yang tengah bercanda ria di bawah teduhnya pohon-pohon disana, adalah hal yang di tangkap oleh matanya saat dia menatap halaman luas Transford University.
Tak lupa pula sebuah menara jam tinggi yang menjadi ciri khas kampus terkenal itu. Tinggi menara itu sekitar tujuh puluh meter, membuat puncaknya yang dihiasi jam analog raksasa itu dapat terlihat dengan jelas dari jendela ruang kelasnya.
Di puncak menara itulah,sayup-sayup mata Riku dapat menangkap sebuah sosok yang sejak tadi terus mengganggu pikirannya.
Mata pemuda itu berulang kali mengerjap, seolah memastikan bahwa apa yang dilihatnya barusan bukanlah tipuan cahaya ataupun ilusi yang dibuat oleh pikirannya sendiri.
Sosok itu memiliki rambut coklat yang masih tersembunyi oleh topi pada akhirnya disadari pula oleh Riku, bahwa pakaian yang dikenakannya pun dominan oleh warna putih.
Menyadari bahwa yang dilihatnya adalah nyata, Riku sontak berdiri dari kursinya dan tak sengaja membuat semua alat tulisnya yang terletak di atas meja jatuh berserakan dengan suara yang keras.
Membuat mahasiswa dan dosen yang berada di ruangan itu memalingkan perhatian mereka karena kegaduhan yang dibuatnya barusan.
"Kau kenapa, Seravee?" Tanya Sang Dosen agak kesal karena kuliah nya harus terganggu oleh Riku yang mulai salah tingkah.
"Sensei, sebenarnya saya sakit perut. " Riku menjawab dengan tergesa-gesa karena tak ingin kehilangan jejak anak tadi."Jadi saya mohon izin untuk meninggalkan kelas lebih awal."
Dosennya itu menatap Riku dengan sedikit skeptis dari balik lensa kacamatanya, dan terlihat tengah mempertimbangkan permintaan mahasiswanya barusan.
"Terserah." Sang dosen berkata setelah diam selama beberapa detik. "Kau juga tidak mendengarkan kuliahku sejak tadi. Jadi apa bedanya, kau duduk disitu atau tidak."
Mata kiri Riku berkedut mendengar kata-kata Dosennya barusan. Tak menyangka bahwa beliau mengetahui dia telah melamun dan sama sekali tidak mendengar kuliahnya.
Namun tanpa berkata lebih, pemuda dengan rambut perak itu mulai mengemasi barang-barangnya dan berjalan menuju pintu ruangan itu, setelah tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Sang Dosen sebelum keluar.
Tanpa basa-basi lagi, Riku segera memacu kakinya untuk secepat mungkin, bahkan setelah diteriaki oleh seseorang untuk tidak berlari di dalam bangunan.
Melewati deretan kelas hingga menyebrangi halaman kampusnya yang bisa dibilang tidak sempit itu, Riku sama sekali tak mengurangi kecepatan larinya, membuktikan betapa kuatnya stamina tubuhnya yang kekar itu.
Hingga tiba di pintu masuk menara, pemuda itu berhenti sejenak untuk menatap tangga melingkar yang menuju ke puncak menara jam tersebut.
Bagian dalam menara yang hanya berisi satu ruangan pengawas, yang terlihat kosong, dan tangga melingkar yang melekat di dinding menara itu terlihat agak gelap karena minimnya cahaya yang masuk.
Satu-satunya tempat terang di menara tersebut adalah pintu menuju atap, yang terletak di ujung ratusan anak tangga karena tengah terbuka lebar.
Akan tetapi, seolah tidak terpengaruh oleh jumlah anak tangga yang jumlahnya ratusan atau minimnya cahaya demi alasan keamanan, Riku kembali membawa kakinya untuk berlari.
Anak tangga yang tiada habisnya dan dinding di sisinya yang tampak tanpa warna. Itulah yang saat ini memenuhi penglihatan Riku saat ini. Namun pemuda itu tak mempedulikannya.
Kakinya terus berlari menapaki satu per satu anak tangga tersebut, sementara fokus matanya tak lepas dari cahaya yang menjadi tujuannya saat ini.
'Sedikit lagi. Sedikit lagi aku akan bertemu dengan anak itu. Aku akan tahu siapa dia juga apa hubungannya dengan peristiwa itu.'
Langkah pemuda berambut silver itu pada akhirnya berhenti tepat di depan pintu tujuannya sambil berusaha menenangkan nafasnya yang memburu.
Dengan langkah kaki pelan pemuda itu berjalan, mendekati sosok yang tengah berdiri membelakanginya di bawah terang sinar matahari di seberang pintu tersebut.
Terangnya cahaya di sana sempat menyilaukan pandangan Riku, membuat nya harus memayungi matanya dengan telapak tangannya, tapi tetap tanpa memalingkan tatapannya dari anak itu sedikitpun.
Merasa bahwa seseorang tengah mendekat, anak berambut coklat itupun membalikan tubuhnya, memperlihatkan kedua bola mata birunya yang terlihat berkilau karena cahaya matahari. Bibirnya yang merah muda itu tertarik ke atas, dan tebuka untuk mengatakan sesuatu.
"Akhirnya aku bertemu denganmu, Riku..."
-Plot I: Teary Fallentine end-
Author note:
Akirhya saya berhasil mempublish chapter pertama fic ini, setelah meninggalkan sebuah prolog yang luar biasa gak jelas dan membingungkan... (^^ ).
Yah... seaneh-anehnya fic saya ini... saya berharap bisa mendapatkan respon dari para reader. Karena itulah tolong read and review agar kedepannya saya dapat memperbaiki apabila ada kesalahan dan agar dapat menjadi fic yang lebih baik.
Juga bagi para reader yang telah mereview, saya ucapkan terima kasih. dukung saya ya... hahahahaha! *plak!
Arigatou.
Furi Out!
