Tak ada yang salah dengan kembang api dan tahun baru.
"Aku minta maaf, Naruto." Pria itu mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir. Telepon ada dalam genggamannya.
Suara kembang api yang saling bersautan sama dengan yang lainnya menjadi latar belakang percakapan via telepon milik mereka. Kebetulan, tiga puluh meter dari rumahnya ada pesta kembang api yang sedang berlangsungーperayaan tahunan setiap menjelang tahun baru.
Karena yang salah adalah Uchiha Sasuke.
Sasuke bergumam,
"Aku pamit."
.
.
.
Title: Contradiction
Genre: psychology, drama, hurt comfort
Rate: T (might change to M for later chapters)
Language: Indonesian
Warning: Yaoi, AU, might be OOC, and other stuffs
Disclaimer: Naruto belongs to Masashi Kishimoto
.
Don't like? Don't read!
.
.
.
.
.
Sudah dua tahun lamanya sejak terakhir kali Sasuke menghubungi Naruto via telepon. Saat itu keadaan sedang kacau balaunya. Orang tuanya menangkap basah dirinya yang menyukai sesama jenis. Di waktu yang bersamaan, kakaknya Uchiha Itachi, mengalami kecelakaan mobil yang mengakibatkan kakinya lumpuh total.
Sasuke stress berat waktu itu. Bahkan dia sempat beberapa kali kepikiran ingin bunuh diri karena berpikir itu semua salahnya. Kalau saja dia 'sehat' dan tak jadi beban pikiran kakaknya; kalau saja Sasuke tak bertengkar perihal kebebasan untuk mencintai siapapun dengan kakaknya waktu itu, hal seperti ini pasti tak akan terjadi.
Setidaknya Itachi tak akan lumpuh. Setidaknya beban pikiran Sasuke tak akan sebanyak ini. Setidaknya keinginan untuk mengakhiri hidup tak akan sampai terlintas di pikiran si bungsu Uchiha itu.
Tetapi apa bisa dikata? Nasi sudah jadi bubur. Itachi sudah terlanjur kehilangan fungsi atas kedua kakinya. Dan Sasuke sudah terlanjur kehilangan akal sehatnya.
Dia hancur.
Pil tidur sudah bukan jadi hal yang asing lagi setiap malam menjelang. Satu kali sehari di hari biasa dan dua kali di hari-hari khusus seperti hari ini.
"Tes, tes... ehem! Ugh, Sasuke? Apa ini benar kau?"
Voicemail yang baru disadarinya ada setelah beberapa hari tidak pulang ke rumah menjadi kejutan tersendiri baginya di pagi hari. Pertama, karena ini pertama kalinya dia mendapat voicemail masuk lagi setelah dua tahun putus kontak dengan dunia luarーlebih tepatnya dengan keluarga dan kawan-kawannya lamanya. Kedua, karena suara si pengirim lebih dari familiar untuk Sasuke kenali.
"Uhm.. bagaimana kabarmu sekarang? Kau baik? Ngomong-ngomong, ini aku, Naruto! Jangan bilang kau sudah lupa?"
Ya, itu Naruto. Kawan baiknya dulu. Pria yang dicintainya. Penyakitnya.
Mana mungkin aku lupa, idiot, umpat Sasuke dalam hati.
Nyatanya, Sasuke memang berusaha melupakan Narutoーmeski dia selalu gagal berapa kali pun mencobaーkarena muak terus-menerus dipandang aneh oleh keluarga dan lingkungan sekitarnya.
"Pokoknya, aku datang hari Jumat ini! Bersiaplah menyambutku!"
TING TONG
Bel rumah berbunyi persis setelah Naruto mengumumkan kedatangannya via pesan suara. Shit! Sasuke baru ingat ini hari Jumat!
Sasuke bergegas lari menuju pintu apartment-nya hanya untuk memastikan itu Naruto apa bukan. Persetan dengan penampilannya sekarang. Rambut habis bangun tidur dan wajah bekas hangover-nya tadi malam bukanlah hal terpenting yang harus dikhawatirkannya sekarang.
Naruto mengintip dari lubang kecil berselimut kaca tebal yang tersedia di depan pintu apartment-nya Uchiha Sasukeーseolah dia akan menemukan sesuatu di sana. Dia takut-takut jugaーtakut salah kenal apartment dan berakhir dimarahi habis-habisan oleh pemiliknya.
"Sasuke? Kau di dalam?" Interphone yang dipasang di dekat pintu didekatkan ke mulut agar orang rumah bisa tahu siapa gerangan yang tengah berkunjung.
Tak berapa lama kemudian, pintu dibuka, memperlihatkan seorang Uchiha Sasuke dengan senyum yang sedikit dipaksa dan wajah baru bangun tidurnya. Kemeja putih kusut yang tak sempat digantinya tadi malam masih tergantung di tubuhnya, tak dikancing sehingga memperlihatkan otot-otot perutnya Sasuke.
"Oh. Hai?"
###
"Wow! Apartment-mu keren sekali!" Naruto heboh memandang ke sana-sini. Kamar mandinya dimasuki, dapurnya dipijaki, laci-laci mejanya dibukai semua, persis seperti orang narok yang tak pernah lihat rumah. "Wow! Kau bahkan punya televisi LED! Boleh aku nyalahkan?"
"Lakukan sesukamu," Sasuke mempersilahkan. "Ngomong-ngomong, Naruto, kenapa kau kemari?"
Naruto berhenti mengganti-ganti saluran televisi setelah ditanyai topik sensitif oleh Sasuke. Dia membeku di tempat.
"Kenapa? Tidak boleh?" Akhirnya buka suara juga setelah tahu harus membalas apa. "Kita bukan kawan lagi?"
Sasuke mengalihkan pandangannya ke arah lainーsedikit banyak merasa bersalah sampai membuat Naruto berpikir demikian.
"Bukan begitu. Kau tahu, 'kan, ini bukan Tokyo. Tidak ada hal yang menarik di sini." Tangan kanannya menggosok-gosok belakang lehernya, tanda kalau dia bingung harus menjawab apa bagusnya.
"Heh." Naruto menyeringai, kembali lagi dengan kegiatannya menekan-nekan remote televisi sebesar lima-puluh-lima inch itu. "Siapa yang peduli ini Tokyo atau bukan? Aku ke sini karena ada kau."
Seketika, wajah Sasuke langsung memerah. Dari mana si idiot ini belajar menggoda orang?, pikirnya.
"Iya, tapi untuk apa?" Sasuke berusaha mempertahankan kewarasannya.
Naruto mendecak kesal. "Aku baru tahu kalau mengunjungi teman juga butuh alasan," katanya.
Diam-diam, diliriknya mantap sahabat baiknya ituーkalau tidak bisa disebut sahabat baik lagiーdi belakang. Sasuke yang duduk di atas ranjangnya hanya menatap ke sembarang arahーmungkin bingung harus menjawab apa demi melanjutkan percakapan basa-basi mereka.
"Aku ke sini untuk menjadi teman baiknya Uchiha Sasuke lagi. Puas?" Naruto menjawab.
Sasuke mati kutu. Tidak tahu harus bereaksi bagaimanaーwalau sebenarnya dia senang Naruto masih tetap seperti dulu, Sasuke hanya memilih diam dengan segala kecanggungannya. Demi Tuhan, kenapa harus sekarang setelah akhirnya dia memutuskan untuk menyerah? Kenapa harus sekarang setelah bertahun-tahun upayanya melupakan pria itu?
Sasuke menghela napas, mungkin lelah dengan segala kejutan dalam hidupnyaー
"Kapan kita tidak menjadi teman baik, Naruto?"
ーatau lelah terus-menerus terjebak dalam friendzone tiada akhir dengan Uzumaki Narutoー
"Pulanglah kalau sudah tidak ada urusan lagi."
ーatau mungkin lelah dengan kenyataan bahwa tidak ada yang berubah dari dirinya bahkan setelah dua tahun berpisah dari pria berambut pirang itu. Rasa sukanya masih samaーbahkan mungkin berkali lipat bertambah setelah Naruto datang kembali, orientasi seksualnya, penyakitnya, semuanya masih saja sama dan tidak ada yang berubah. Sasuke muak.
Sasuke memutuskan bangkit, tidak tahan setelah baru saja mengusir sahabat baiknya itu dari sana. Ke mana saja boleh asal tidak seruangan dengan Uzumaki Naruto adalah prinsipnya ketika dia merasa bersalah kepada anak semata-wayangnya Tuan dan Nyonya Uzumaki itu.
###
Kurang lebih ada setengah jam lamanya Sasuke memandangi layar ponselnya yang tak kunjung berbunyi. Diteguknya kembali sake dalam cawan kecil di tangannya dan dipandanginya lagi layarnya, tuang lagi sake-nya, teguk lagi, pandang lagi. Entah sudah berapa botol habis disantapnya dan ponselnya belum juga berbunyi.
"Sedang menunggu panggilan?" Jugo, pria yang dikenalnya di bar itu buka suara juga setelah sekian lama menatapi Sasuke yang tak berhenti minum.
"Hei, Sasuke. Jangan minum lagi. Kalau kau sebegitu inginnya ditelpon, biar aku saja yang telpon." Wanita berambut merah di samping kanannya ikut menimbrung.
"Jangan dekat-dekat. Sasuke bisa ketularan gatalnya," balas Suigetsu, bartender malam itu sekaligus teman dari wanita berambut merah itu, Karin.
Sebelah sepatunya Karin langsung dilempar melayang persis mengenai wajah Suigetsu.
"Aw! Kau ini wanita apa bukan?"
"Salah sendiri siapa suruh mencari gara-gara?!"
"Sekali gatal tetap gatal. Beli obat gatal sana, biar gatalnya hilang!"
Karin menggeram, siap mencakarkan kuku-kukunya ke wajah Suigetsu kapan saja.
"Kalian berdua bisa diam tidak?" Sasuke akhirnya buka suara juga setelah sekian lama hanya menatap layar ponselnya yang masih tetap hitam. Dia menghela napas. "Dia bilang dia ingin jadi temanku lagi. Tapi menghubungiku saja tidak," komentarnya.
Suigetsu dan Karin sama-sama mengernyit tidak mengerti akan topik pembicaraan yang tiba-tiba berganti.
"Err… siapa?" tanya Suigetsu hati-hati.
Kali ini giliran Jugo yang menghela napas.
"Kau mabuk, Sasuke. Ayo pulang." Ditariknya tangan Sasuke, berencana membawanya pulang. Tetapi Sasuke menolak bangkitーmenarik balik tangannya dari pria bertubuh kekar itu.
"Aku tidak mau pulang kalau ada dia," katanya.
Suigetsu mengernyit lebih dalam lagi, sama sekali tidak mengerti dengan topik pembicaraannya Sasuke.
"Makanya siapa? Siapa yang tidak menelponmu? Siapa yang ada di rumahmu? Bicara jangan setengah-setengah, Sasuke! Bikin sakit kepala!" Suigetsu komentar.
Seketika itu juga, sebuah kepalan tangan seberat barbel besi melayang tepat di wajahnya. Itu Karinーsiapa lagi kalau bukan dia.
"Jangan. Berkata. Kasar. Pada. Suamiku." Satu tangan mencengkram kerah bajunya Suigetsu. Tangan lainnya dikepalkan, siap untuk dilayangkan kapan saja kalau Suigetsu berani macam-macam.
"Ck. Gatal."
Amarah Karin semakin menjadi-jadi melihat Suigetsu yang tidak ada kapoknya memanggil dia gatal. Dia bersumpah, tinjunya pasti sudah melayang tepat di wajahnya Suigetsu sekali lagi kalau saja Jugo tidak mengintrupsi.
"Kalau begitu, ke rumahku saja bagaimana?" tawar Jugo.
Sasuke tidak berkomentar apapun.
###
Di perjalanan, Sasuke hanya menatap lurus keluar pintu jendela. Sesekali dia mencuri pandang, menatap layar ponselnya yang tak kunjung berubah warnaーmasih tetap hitam, pertanda tidak ada notifikasi apa pun yang masuk. Sedangkan, di lain sisi, Jugo ragu untuk bertanyaーtakut menyinggung luka lama, pikirnya.
"Kau yakin ingin menginap di rumahku?" Jugo membuka suara, memutuskan untuk memecahkan keheningan yang ada.
"Kenapa tidak? Ini bukan kali pertama aku menginap," jawab Sasuke santai.
"Kau benar. Tapi kau tahu, 'kan? Aku bisa saja berbuat sesuatu padamu." Jugo melirik, penasaran dengan reaksi seorang Uchiha Sasuke perihal dirinya.
"Aku tidak peduli. Toh aku juga menikmatinya."
Hening beberapa saat sebelum akhirnya Jugo membalas lagi,
"Tapi kau bilang kau ingin sembuh?"
Giliran Sasuke yang terdiam. Memang. Memang dia ingin sembuh. Tetapi terkadang, dia merasa itu percuma. Terkadang batinnya menolak, pikirannya mengadu lelah tentang segala pengobatan ini. Terkadang Uchiha Sasuke berpikir, mungkin penyakit ini tidak ada obatnya; mungkin dia tidak akan pernah sembuh; mungkin lagi, ini bukan penyakit, melainkan kutukan. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya? Kedatangannya Naruto dalam hidupnya juga tidak pernah diprediksinyaーbaik itu dulu maupun sekarang. Siapa tahu Uchiha Sasuke akan mati sekarang, di tempat ini, karena percobaan bunuh diri?
Mendadak, Sasuke mendapatkan ide gila; mengakhiri hidupnya. Hidup, 'kan memang selalu sebercanda itu. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Termasuk dirinya.
Sasuke langsung merebut setir dan membantingnya ke kiri. Dalam beberapa detik menegangkan itu, kecelakaan hampir saja terjadi. Untungnya Jugo sigap dan langsung menekan rem, membuat hanya lampu LED mobil bagian kirinya saja yang tertabrak pembatas jalan.
"KAU GILA?!" Jugo keluar dan membanting keras-keras pintu mobilnya. Perhatiannya tertuju pada sisi kiri mobilnya yangーsayangnyaーharus penyok akibat tabrakan tadi.
Puas mengecek, Jugo kembali masuk ke dalam mobilーtidak lupa sekali lagi membanting pintu mobilnya keras-keras sebagai tanda protes pada Sasuke.
"Kau mau kuantarkan sampai rumahmu atau kuturunkan di sini? Pilih," ucapnya dingin.
Sasuke tak peduli. "Ke rumahmu. Aku mau ke rumahmu."
Jugo mendecak kesal. Tidak biasanya dia kehilangan kesabarannya di depan Uchiha yang satu itu.
"Kau kira aku masih mau setelah apa yang baru saja kau lakukan tadi? Aku masih waras, Sasuke. Aku sayang nyawa," balasnya.
Sasuke menghela napas untuk kesekian kalinya hari itu, memutuskan untuk keluar daripada diantar pulang, dan melambaikan tangan.
"Hati-hati di jalan," katanya dengan wajah tak bersalah. "Ohーdan masalah mobilmu yang penyok, bilang saja kena berapa. Aku yang bayar."
Jugo mendecak lagi sebelum tancap gas pergi karena muak melihat wajah tak bersalahnya Sasuke. Manusia mana yang melambaikan tangan dengan wajah santai dan malah membahas harga mobil setelah baru saja hampir mati kalau dia bukan seorang psikopat? Ikut campur dalam kehidupannya Sasuke itu butuh adrenalin yang tinggi.
Tetapi lagi-lagi, Jugo tidak bisa. Dihentikannya mobilnya setelah agak jauh dari Sasuke dan diperhatikannya pria itu dari jauh melalui kaca spionnya; Sasuke yang berjalan balik arah. Mau kemana dia? Balik ke bar lagi?, tanyanya dalam hati.
Jugo mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kanannya dan memencet beberapa tombol nomorーmenghubungi seseorang.
Setelah beberapa lama, panggilannya akhirnya tersambung juga.
"Halo? Maaf sebelumnya, tapi aku tidak tahu siapa kau. Yang jelas, berkat dirimu Sasuke tidak mau pulang. Kalau kau masih peduli padanya, datang ke Susukino sekarang juga. Dia ada di jalan, mungkin sedang menuju ke Shot Bar* sekarang. Selamat mencari," dan pembicaraan diputuskan begitu saja oleh sepihak. Orang di seberang teleponnya bahkan belum sempat mengucapkan sepatah kata pun padanya. Jugo langsung ceplos tanpa memberikan jeda sedikit pun pada kalimatnya. Entahlah apakah orang yang diberitahu alamat dan bar tempat tujuan Sasuke itu ingat apa tidak. Jugo tidak peduli lagi. Dia sudah cukup baik mau repot-repot campur tangan dalam urusan Sasuke.
###
Sasuke terduduk lemas di pinggir jalan setelah habis memuntahkan seluruh isi perutnya. Berapa gelas dia minum tadi? Enam atau tujuh botol nihonshu** sepertinya ada. Kepalanya pusing bukan main. Sekelilingnya tampak berputar dan buyar tiap kali dia mencoba membuka mata. Intinya, dia mabuk berat.
"Hei, Nak, jangan tidur di sini. Pulanglah," kata pria penjaga love hotel dekat Sasuke duduk.
Sasuke tidak menggubris. Sudah ada kira-kira satu jam lamanya dia di sana dan kenapa harus sekarang dia diusir? Peduli setan. Sasuke mabuk dan orang mabuk tidak bisa mendengarkan kata orang.
"Hei, aku menyuruhmu pergi, brengsekー"
"Dia kawanku." Suara itu terdengar memburu, seolah pemilik suaranya habis berlari berpuluh-puluh menit lamanya. Setelah beberapa detik mengatur napasnya kembali, pria itu, Uzumaki Naruto, membuka suara lagi. "Jangan sentuh dia."
to be continued.
*) Shot Bar, singkatan untuk Street Shot Bar Lowland, salah satu nama bar terkenal di Sapporo.
**) nihonshu, salah satu jenis sake Jepang.
