BROKEN FAITH
..:: By panda2515 ::..
..:: Genre : Crime, Friendship ::..
..:: Length : Chaptered ::..
..:: Cast : All Super Junior 13+2, and other cast ::..
..:: Rated : T ::..
Warning : AU (Alternative Universe), OOC (Out Of Character), thypo(s)
Disclaimer : Tokoh yang ada dalam cerita ini milik Tuhan YME dan mereka sendiri, author cuma minjem nama aja. Alurnya… jangan dijiplak emplissss…(?)#PLAAAK!
~"~Have a nice reading^^~"~
Chapter 2 : The 14th Player
Lagi-lagi, Heechul harus menemani Leeteuk seharian untuk mencari anggota I.R.I.S. entahlah… Dia tidak terlalu peduli apa yang harus dikerjakannya. Yang penting adalah mendapatkan uang walau dia harus keluar dari Kyung Hee tadi pagi. Dengan berat hati, dia keluar dari universitas yang telah menelan banyak uangnya.
"Em… kita akan ke mana sekarang?" Jujur saja, Heechul masih takut bertanya pada Leeteuk karena kejadian yang—you know what.
"Kita akan pergi ke sebuah kontrakan di pinggir Seoul." Leeteuk menjawab pertanyaan Heechul singkat.
Mendadak suasana menjadi sepi di antara mereka. Leeteuk berusaha beristirahat dengan memejamkan mata, sedangkan Heechul melamun melihat pemandangan di balik kaca bus.
"Kau tidak perlu takut untuk berbicara denganku dan panggil saja aku Leeteuk hyung, mengerti?" Kata-kata Leeteuk membuat lamunan Heechul buyar. Dia mengangguk dengan canggung.
"Ne."
.
.
.
.
.
Di sebuah kamar sewaan
"Fufufu…" Seorang lelaki berkacamata minus dengan bingkai hitam itu tengah menatap layar laptop kesayangan miliknya. Tangannya dengan lincah menari di atas keyboard. Sesekali tangannya mencari letak gelas susu coklatnya.
"Kekeke…" terdengar suara kekehan kecil dari mulutnya. "Setelah aku berhasil meretas bank tersebut aku akan mendapat banyak uang lalu menjadi kaya raya!" Teriaknya senang sudah membayangkan banyaknya uang yang akan didapatkannya nanti.
TING!
Sebuah e-mail masuk ke akun miliknya. Dengan cepat, ia membukanya.
From : Hwang Jisuk
Terima kasih telah meretas bank tersebut, Snow. Maaf, ayahku tidak menyisakan sepertiganya untukmu sesuai janji. Aku sangat sedih karena ternyata kau bisa dibodohi :( hahaha… Sekali lagi, terima kasih.
KRETEK!
"MATI KAU HWANG JISUK!" Kibum—hacker tersebut terlihat marah karena telah dipermainkan. Jikalau otak jenius miliknya tidak terpikirkan ide, mungkin gelas dipinggirnya telah pecah dengan tangannya.
"Kita lihat apa yang bisa kau lakukan dengan ini, Hwang Jisuk. Kekeke…" Kibum tertawa seolah dia adalah seorang pemeran antagonis dalam film. Sorot matanya menajam dan bergerak liar menatap layar laptop. Dia menyeringai puas saat pekerjaanya selesai. Kini, ia berhasil mendapat dua kali lebih banyak uang daripada yang ia retas dari bank. "Habislah uangmu!"
Ia meregangkan otot tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya ke kursi nyamannya. Kakinya mendorong kursi yang didudukinya, sehingga kursi itu berhenti di depan kulkas kecil. Mengingat tempat tinggalnya yang memang kecil.
Tangannya menggapai sebotol susu coklat lalu menuangkannya ke dalam gelas secukupnya. Kali ini dia bangkit dari tempat duduk untuk membuat ramen yang bisa mengganjal rasa laparnya.
Selalu begini. Setiap hari, ah tidak! Tapi beberapa tahun terakhir ini, Kibum tidak pernah keluar dari kamarnya. Setiap hari, dia hanya makan 3 bungkus ramen dan menghabiskan 2 botol besar susu coklat, mengutak-atik kekasihnya—laptop, lalu tidur untuk mengakhiri harinya. Alasannya untuk tidak keluar karena menurutnya, di luar terlalu banyak kejahatan di luar sana yang membuat dirinya bosan untuk pergi. Akhirnya, dia memutuskan untuk tinggal di sebuah kamar kecil berukuran 4x5 meter yang disewannya..
TING DONG!
"Hmph!" Kibum terkejut dan tak sengaja menumpuhkan ramen yang hangat, pedas, lezat dan berharga –menurutnya–.
"Ck," dia berdecak kesal lalu membuka pintu.
"Aku sudah bilang untuk mengantarkan ramen setiap hari Sab—" Kata-katanya terpotong melihat orang yang berada di depan pintu kamarnya.
"Tu…" sambungnya, "Siapa kalian?" tanyanya heran kepada 2 orang yang datang, yaitu Leeteuk dan Heechul. Tidak ada yang pernah mengunjunginya selain orang yang membawa ramen dan susu botol untuknya.
Dengan seenaknya, Leeteuk masuk dan tak sengaja menumpahkan ramen Kibum.
"Sialan," bisik Kibum.
"Sedang menjalankan tugas, Kibum?" Pupil Kibum seakan-akan mengecil mendengar Leeteuk menyebut namanya.
"I-ini… bukan apa-apa!" Kibum menghalangi layar laptop dengan tubuhnya.
"Sudahlah… aku sudah tahu siapa kau." Leeteuk kemudian melihat-lihat kamar Kibum sekilas.
"Kalau begitu bunuh aku sekarang juga!" Kibum berteriak dalam hati.
"Aku tak menyangka kau tinggal di sini. Kau sebenarnya punya banyak potensi."
"Siapa kalian?" tanya Kibum merasa jengkel dengan kehadiran 2 orang yang tak diundangnya.
"Park Leeteuk dan ini Kim Heechul. Bergabunglah dengan kami," ajak Leeteuk.
"Hei… apa benar bocah ini yang suruh kau cari?" celetuk Heechul.
"Waktumu sebentar lagi, Kim Heechul" batin Kibum. Dia sudah bosan dipanggil bocah ratusan kali.
"Kau akan mendapat beberapa ribu dolar jika bergabung, bocah."
PRAAAAANG!
Mulutnya menganga seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Leeteuk. "Ribu… dolar?"
"Aku bahkan keluar dari Kyung Hee demi mendapatkannya." Heechul berbisik tepat di telinga Kibum.
"Benarkah?" Heechul mengangguk menimpali pertanyaan Kibum.
"Untuk pergi keluar tentu tidak masalah, 'kan?" tanya Leeteuk.
Mata Kibum membesar mendengar perkataan Leeteuk, "K-kkk… keluar?"
"Hei, itu bukan permasalahan yang rumit bukan begitu, bocah?" Heechul melirik Kibum menimbulkan reaksi aneh. Tubuhnya sedikit gemetar dengan wajah pucat dan keringat dingin yang tampak jelas keluar dari pelipisnya.
"Kibum-ah, gwaenchanayo?" Heechul bertanya khawatir melihat reaksi aneh Kibum.
BRUUUUUK!
Tubuh Kibum ambruk seketika.
"Keluar? Mana mungkin aku bisa keluar…" ia berujar lirih sambil menatap lantai.
Leeteuk menyamakan posisinya dengan Kibum, "Dunia luar tidak seburuk yang kau bayangkan."
"Aku berjanji setelah tugas ini selesai, aku akan menunjukan dunia luar yang lebih cerah. Kau tidak bisa terus hidup seperti ini." Tatapan Leeteuk menjadi lembut saat Kibum mendongak. Ingatan Kibum tiba-tiba mengingat sebuah mimpi yang sering muncul, yaitu dimana seorang perempuan mengatakan hal yang sama seperti Leeteuk.
'Kau tidak bisa terus hidup seperti ini.'
"Ya, dunia luar tidak terlalu buruk. Hanya masalah yang disebabkan manusia yang memperburuknya." Kata-kata terakhir Heechul membuat Leeteuk melotot ke arahnya.
"E-eh… ya, maksudku itu hanya kemungkinan kecil terjadi."
"Bagaimana?" tanya Leeteuk.
"Benarkah bukan ide yang buruk untuk keluar? Tapi… aku juga tidak dapat mengurung diri seperti ini."
"Bagaimana?" Leeteuk bertanya kembali.
"Aku rasa… itu tidak terlalu buruk." Leeteuk tersenyum mendengar jawaban Kibum. Dia mengacak sedikit rambut Kibum lalu berdiri.
"Bersiaplah, bocah." Senyum mengembang di wajah Leeteuk dan Heechul lalu mereka kompak ber-high five-ria.
"Em… ano… bisakah kalian tidak memanggilku dengan sebutan 'bocah'? Itu sangat mengganggu."
"Eh, tentu saja!"
.
.
.
.
.
Tiba waktunya untuk keluar untuk Kibum. Ia tampak menghembuskan napas dalam ketika keluar. Kini, ia dapat merasakan sinar matahari membelai kulitnya. Namun, sinar matahari malah terlihat mengganggunya. Mengingat hari ini terasa panas di Seoul.
"Panas…" keluhnya saat ia harus berkeringat ketika pertama kali keluar. Dia tampak mengipas-ngipaskan tangannya di depan wajahnya.
"Sebentar lagi busnya sampai," ujar Leeteuk agar Kibum tidak terus mengeluh.
"Ah, itu dia!" pekik Heechul yang langsung naik.
"Ayo, kita naik!" ajak Leeteuk. Mereka duduk bertiga di jajaran bangku keempat.
Ketika di dalam bus, Kibum melihat pemandangan luar yang sangat ramai. Ia memandang takjub pemandangan tersebut. Sepertinya, dirinya terlalu lama bahkan sangat lama mengurung diri. Ia bagaikan kura-kura yang terus berada dalam cangkangnya.
SEEEETT!
Bus tiba-tiba berhenti membuatnya sedikit kaget. Matanya mengarah pada sebuah taman bermain yang ternyata tidak jauh dari tempat tinggalnya. Dia menatap dengan tatapan menerawang. Tanpa sadar, jarinya mengetuk kaca bus.
"Anak-anak di taman bermain sana tampak senang," pikirnya. Lalu pandangannya sekarang mengarah pada Leeteuk. "Orang ini yang membawaku keluar. Membawaku melihat dunia yang telah lama tak kulihat."
.
.
.
.
.
Keesokan harinya, pukul 10.00, di rumah Leeteuk
''Leeteuk HYUUUUUNG! I'M COMING!'' Mungkin ini yang membuat Leeteuk jengkel terhadap Heechul. Belum apa-apa, dia sudah berteriak di rumahnya.
TING! DONG! TING! DONG! TING! DONG!
Heechul memencet tombolnya beberapa kali. Sampai...
CTREEEK!
Leeteuk membuka pintunya. ''Iyaaa... Berisik kau! Silahkan masuk, Kim Heechul.''
''Hehehe... Maaf.'' Heechul hanya nyengir lalu duduk di kursi ruang tamu.
''Eh, yang lain belum ke sini, ya? Kursinya banyak sekali.'' Terdapat sekitar 14 kursi di ruang tamu yang cukup besar tersebut. Heechul tak yakin semuanya akan datang.
TING DONG!
Bel berbunyi. Leeteuk bergegas menuju pintu lalu membukanya.
''Annyeong haseyo.'' Rupanya, Sungmin, Donghae, Eunhyuk, dan Yesung yang datang pertama. Leeteuk mempersilahkan mereka masuk. Mereka duduk di kursi yang telah disediakan Leeteuk.
''Kukira kalian tidak akan datang,'' ujar Leeteuk.
''Ya, kami datang setelah perbuatan anehmu dan ini pistol pesananmu, Tuan." Sungmin menyerahkan tas gitar yang dibawanya lalu mengambil tempat duduk.
"Ehm… ini pizza-nya." Eunhyuk menaruh pizza pesanan Leeteuk di meja berbentuk oval yang panjang dan besar tersebut.
"Waaaah… pizzaaaaa!" Donghae tampak kegirangan melihat pizza lezat di depannya. Sungmin yang masih punya sopan santun memukul sedikit tangannya. Ia akhirnya kembali duduk dan mengurungkan niatnya untuk memakan pizza.
Leeteuk terkekeh melihat kelakuan Eunhyuk, Donghae, dan Sungmin, "Itu hanya pancingan. Kalian berbincang-bincang saja dulu. Aku akan ke atas sebentar." Leeteuk kemudian berlalu menaiki tangga dengan sedikit berlari.
''Aku penasaran untuk apa dia menyuruh kita datang ke sini?'' Sungmin mengira-ngira tujuan Leeteuk. Pertemuan mereka kemarin membuat Sungmin menganggap Leeteuk adalah seseorang yang menarik. Heechul yang mengetahui tujuan sebenarnya hanya diam dan menunggu siapa yang akan datang lagi.
''Hai...''
''Eh, siapa yang bicara?'' Donghae mencari sumber suara. Padahal tidak ada satupun yang berbicara.
''Yak! Jangan menakut-nakutiku Lee Donghae!'' protes Sungmin.
''Aku tidak menakut-nakutimu!''
''Ini aku.'' Tiba-tiba handphone orang tersebut mengeluarkan suara.
''E-eh... k-k kau rupanya...'' Donghae bicara tergagap-gagap.
''Ne... Choneun Kim Yesung imnida.'' Yesung tidak mengeluarkan suara. Suara tersebut ternyata keluar dari handphone-nya.
''Wooaaahh... Handphone-mu canggih sekali,'' puji Sungmin.
''Ne...''
''Kukira tadi hantu,'' ujar Donghae dengan watadosnya.
"Kau terlalu banyak menonton film horor sepertinya," ujar Eunhyuk.
Pukul 10.00
"Banyak sekali yang datang." Kibum melihat ke bawah dari tangga. Leeteuk menyuruhnya untuk tinggal bersamanya. Alasannya demi keselamatan Kibum tapi sebenarnya dia takut Kibum tidak datang.
"Aku bingung…" Heechul tiba-tiba sudah berada di samping Kibum.
Kim Heechul
Mahasiswa yang kehidupan tenangnya selama 1 tahun terganggu oleh kedatangan Leeteuk. Wajahnya yang—ehm… cantik membuatnya mahir menyamar seperti seorang wanita. Namun, sifatnya cuek dan sedikit sombong di hadapan orang baru.
"Kenapa?" Kibum menatapnya dengan serius.
"Kenapa harus aku? Ya, kau tahu masih banyak orang di luar sana yang mungkin lebih hebat dariku." Rasa penasaran Heechul akhirnya dicurahkan pada Kibum.
"Itu kelemahanmu." Kibum tiba-tiba tersenyum misterius. "Kau menilai orang dari penampilan mereka, bukan dari apa yang mereka katakan dan perbuat."
Kim Kibum
Seorang NEET (Not in Education, Employment, or Training) yang mengurung dirinya selama beberapa tahun terakhir. Seorang peretas yang tidak diketahui identitasnya.
"Kau mau minum?" Yesung menyodorkan minuman pada Donghae. Dengan cepat ia menggeleng.
Kim Jong Woon (Yesung)
Si tangan dingin yang seperti Shindong, namun dia lebih ahli dalam membuat bahan peledak. Tidak pernah berbicara dan mengandalkan ponselnya sebagai alat komunikasi. Kekuatan rahasia lainnya adalah… dapat membuat orang membatu.
"Dia menyeramkan," bisik Donghae pada Sungmin.
Lee Donghae
Pedagang barang-barang ilegal. Senjata, berlian, dan perhiasan mewah dapat didapatkannya dengan mudah. Sangat mengetahui seluk beluk black market.
"Berpikirlah positif, ikan asin! Atau aku akan menghabisimu."
Pletak!
"Adaaw!" Donghae meringis ketika jitakan maut Sungmin mendarat di kepalanya.
Lee Sungmin
Ahli beladiri yang kekuatannya tidak diketahui atau malah diremehkan karena badannya yang kecil dengan wajah yang imut. Pernah bekerja sebagai wartawan namun dipecat karena tertangkap basah mencari informasi dengan melakukan spionase di rumah seorang pejabat.
"Hohoho… pizza ini sangat enak. Ternyata orang itu tahu tentang seleraku." Pizza yang ada di piring Sungmin kini telah menghilang ke dalam perut Shindong.
"Oh, noooo! My pizza! Akan kuhajar kau gendut!"
"Aaaaaah!" tubuh Shindong terjatuh karena dorongan Sungmin.
Shin Dong Hee (Shindong)
Si tangan ajaib yang bisa membuat alat-alat canggih yang selalu menyibukkan dirinya di lab. Barang-barangnya tidak dijual dengan bebas. Hanya dia yang menjualnya untuk kepentingan diri sendiri.
"Ya! Berhenti bertengkar!" Kangin berusaha melerai pertarungan Shindong dan Sungmin yang sudah dipastikan Sungmin akan menang karena tubuh Shindong telah dikuncinya.
Ketika Kangin berusah melerai mereka, Eunhyuk diam-diam mencuri pizza Kangin lalu memakannya dengan lahap.
Lee Hyukjae (Eunhyuk)
Penembak jitu yang merupakan mantan kelompok geng mafia. Namun, dia keluar karena alasan yang tidak jelas. Sudah dilatih menembak –mungkin- sebelum ia bisa membaca.
Di ujung meja, Zhoumi tengah menatap adegan aneh yang membuatnya bingung. Pandangannya kemudian beralih pada pizza miliknya yang sudah dingin teracuhkan di piring.
Zhoumi
Mempunyai akses ke casino dan black market. Dia merupakan gudang informasi di dunia perdagangan ilegal. Mengenal orang-orang yang termasuk dalam daftar 'berbahaya'.
"Ck, babo!" Suara itu nyaris tak terdengar, namun telinga sensitif Kangin dapat mendengarnya dengan jelas.
"Hey, perhatikan dengan siapa kau bicara!" Kerah Kyuhyun telah dicengkram dengan tangan Kangin dengan kuat.
Kim Young Woon (Kangin)
Penjaga keamanan di sebuah desa kecil dulunya. Dijuluki "Neung Ryeok Ja" karena selalu menang jika berkaitan dengan otot. Walau bagaimanapun, rasa tolong menolongnya tinggi.
Cho Kyuhyun
Maniak game yang ahli dalam strategi. Pewaris perusahaan game keluarga Cho. Sayangnya, keegoisannya menjadi penghalangnya mendapat teman. Baginya, teman adalah sebuah kebohongan.
Tangan Kangin telah bersiap melayangkan tinjunya pada Kyuhyun, dan…
BUAAAAGH!
"Eh, kok tidak sakit?" tanya Kyuhyun.
"Ah… pipiku!"
Hangeng mencegah tinju Kangin mendarat pada Kyuhyun. Namun, dia harus merasa sakit karena dirinya yang menjadi korban Kangin.
Tan Hangeng
Menguasai martial arts dan seni bela diri lainnya. Sangat ahli tapi tidak mencolok. Walaupun dia menguasai banyak seni bela diri, dia tidak pernah memakainya dalam bertengkar. Sehingga, tidak banyak yang tahu tentang kekuatannya.
"Han gege, gwaenchanayo?" Ryeowook membantu Hangeng untuk berdiri, sedangkan Kangin diam membatu karena terkejut.
Kim Ryeowook
Seseorang yang bisa membaca pikiran orang lain hanya dengan menatap matanya. Walaupun itu terlihat menguntungkan, namun dia tidak suka dengan kemampuannya.
''Wah, sepertinya semuanya sudah berkumpul.'' Leeteuk memperhatikan kursi yang disediakannya sudah penuh –kecuali punyanya tentunya–.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang terus mengawasinya sejak tadi dengan hati-hati. Tangannya memegang sebuah pistol yang dapat menembus kulit siapa saja yang terkena olehnya. Matanya yang tajam memperhatikan gerak-gerik tiap orang di ruangan itu.
''Baiklah, aku akan to the point saja,'' ujar Leeteuk lalu duduk di kursinya. ''Aku mengundang kalian atas permintaan seseorang. Dia menyuruhku –atau lebih tepatnya memaksa– untuk mencari kalian. Dia memerintahkan kita untuk membersihkan para sampah-sampah di negara ini.''
"JANGAN BERGERAK!" Tiba-tiba seseorang muncul dari balik pintu dan mengarahkan pistolnya. Beberapa orang di ruangan itu terlihat kaget dan sebagiannya masih tenang.
"Siapa diantara kalian yang merupakan pelaku pembobolan di Sangamdong?" Orang itu bertanya dengan suara lantang.
"Ck, babo," bisik Kyuhyun. Orang yang memegang pistol itu –Siwon– langsung mengarahkan pistolnya kearah Kyuhyun. Semuanya langsung memberikan tatapan maut padanya seolah berkata, "Berhenti berkata bodoh atau kau akan mati!"
Choi Siwon
Kepala kepolisian Seoul yang selalu menyelesaikan kasusnya dengan baik. Ahli strategi dan juga seorang penembak jitu. Sifatnya sangat-amat-alim.
Yesung menatap Siwon lekat-lekat. Mata mereka tiba-tiba bertemu membuat Siwon terus menatapnya. Semuanya menatap aneh pada Siwon karena dia sekarang malah diam. Mata mereka kemudian beralih kepada Yesung yang terus ditatap Siwon.
PROOOK! PROOOK! PROOOK!
Leeteuk bertepuk tangan, "Kerja bagus, Yesung."
Yesung yang disebut namanya hanya menunduk. Leeteuk berjalan menghampiri Siwon yang seolah mematung sekarang. Tangannya mengetuk pundak Siwon.
TOK! TOK! TOK!
"Tubuhnya mengeras." Semuanya menatap kepada Yesung meminta penjelasan. Bagaimana bisa dia melakukannya?
"Dia membuatnya membatu untuk beberapa jam," jelas Leeteuk menjawab pertanyaan semua orang. Ia membalikan badannya dan melanjutkan penjelasannya.
"Baiklah… kalian di sini merupakan anggota I.R.I.S. kita akan diberi tugas oleh seseorang dan…"
"Tunggu!" Kata-kata Leeteuk terputus oleh Sungmin. "Siapa orang itu? Kenapa harus kami? Dan apa tugasnya?" Sungmin seolah menanyakan yang ingin ditanyakan semua orang. Semuanya mengangguk setuju dan menatap Leeteuk meminta penjelasan.
"Untuk siapa yang menugaskan, saat ini akan dirahasiakan dulu. Kalian di sini bukan orang biasa, melainkan kalian memiliki kekuatan yang sebenarnya disembunyikan. Tugas kita adalah… membersihkan pengkhianat di negara ini," jelas Leeteuk. "Jadi… siapa yang bergabung?"
Hening…
Semuanya nampak berpikir dan ada juga yang terlihat ragu atau tidak siap menerima resiko jika bergabung. Sekarang, Leeteuk hanya bisa berharap mereka bergabung. Dengan begitu artinya dia menyelesaikan tugas keduanya dan tentunya yang pertama adalah mencari mereka.
"Sepertinya menarik, hehehe…" Ujung bibir Kangin terangkat keatas membuat sebuah lengkungan yang sulit diartikan.
"Baiklah kalau begitu… aku ikut!" Donghae mengangkat tangannya disusul dengan yang lain kecuali Heechul yang masih diam.
"Kim Heechul?" Leeteuk menatap Heechul yang tampak sedang berpikir keras.
"Huft… baiklah, aku ikut," ujar Heechul sedikit lemas.
"Bagus!" Semangat bagai terpancar dari Leeteuk. Diangkatnya tangannya yang dikepal ke udara dengan semangat bagai kobaran api dari punggungnya.
Seeet… Seet…
Tanpa diduga seseorang menarik ujung bajunya. Kepalanya menoleh dan dilihatnya seseorang tengah menatap lurus ke depan.
"Bagaimana dengannya?" Kibum menunjuk Siwon yang masih mematung.
"Mungkin dia akan jadi hiasan di depan rumah, hahaha…" Tawa Leeteuk terdengar kencang lalu dia berjalan ke lantai atas.
"Apa?" Eunhyuk menatap horor kepada Yesung lalu menelan ludah kecut.
"EOMMAAA! AKU TIDAK MAU JADI BATU!"
TBC
Hai, epribadeh Rei balik lagi :D
Ohya, makasih banget buat yang review chap kemarin^^ dan makasih juga buat siders yang udah baca. Ehem… ehem… ini dia balasan review chap 1
Lautan Biru : Kibum sama Henry mana? Tenang mereka ada di rumah Rei ._.#PLAAAK! Gak lah, tuh Kibum udah ada di chap ini tapi kyknya Henry bakal rada lama*mianhaeyo._.v* Update 10 hari apa ga terlalu lama kan?
arumfishy : Beneran ada FF yg sama kyk gini?! Judulnya apa? Authornya siapa? Apa chap ini sama juga? Kalau sama nanti bakal diubah dan author juga ga ada niat untuk plagiat kok beneran ._.v
princess dita : Makasih buat review nya, tapi kan diatasnya udah ada tulisan SJFF dan kalau kamu suka yang 1D kamu berarti salah alamat liat FF ini.
Guest : Makasih reviewnya. Kibum udah muncul tapi Henry bakal rada lama ._.v
A.b.13 : Review apa aja boleh dah dengan kritik atau saran yang membangun dan berbobot :D Kenapa bisa tau Rei lagi sakit ._.a Btw, makasih reviewnya.
Oke, sekarang silahkan review dengan kritik dan saran^^
